Right Beside Me — 4th Part : Meeting With Her Parents

20131127-220920

RIGHT BESIDE ME

Written by Vi || Starring SNSD Tiffany | EXO-K Chanyeol || Rated for Teen || Romance , Friendship, Life || Disclaimer : I just borrow the cast || Note : inspired by other ff, manga , anime, japanese drama, my imagination. Sorry for bad fanfic and story. Poster by g.lin at cafeposterart.wordpress.com.

Prolog | 1st Part | 2nd Part | 3rd part |

*****

Sesuai apa yang diucapkan oleh Sunny kemarin, ia dan seseorang tengah melangkah menuju rumah Tiffany perlahan, keduanya tak bersuara saking gugupnya karena ini kali pertamanya mereka mengunjungi rumah Tiffany –sampai masuk ke dalam.

Saat keduanya sampai di depan pagar rumah Tiffany yang terkesan mewah bagi mereka yang tinggal di daerah itu, mereka menghela nafas bersamaan lalu menekan bel rumah yang terletak di samping pagar.

TING TONG

“Ya !”

Suara gadis yang begitu nyaring terdengar dari dalam rumah tersebut, lalu iapun berjalan keluar dan membuka pintunya sambil membawa kunci pagar rumahnya. Gadis itu rupanya Tiffany. Sesaat , Tiffany terdiam, ia terkejut saat melihat siapa yang bersama Sunny. Park Chanyeol.

“Bagaimana bisa ia ikut kemari ?” batin Tiffany histeris. Diam-diam didalam hatinya ia kegirangan karena Chanyeol datang tapi saat melihat wajah Chanyeol, ia juga masih mengingat kejadian kemarin. Bukannya ia tak bisa memaafkan Chanyeol, ia hanya masih merasa kecewa dengan perlakuan Chanyeol kemarin.

“Sunny, kau tak bilang bahwa Chanyeol ikut datang !?” seru Tiffany terkejut. Sunny terkekeh sambil menunjukkan tanda ‘peace’ dijarinya. Tiffany pun mendengus kesal dan melanjutkan perjalanannya menuju pagar rumahnya.

Saat ia membuka pagar rumahnya , Chanyeol bertanya, “maaf soal kemarin, tapi tolong jangan marah padaku.” Tiffany terkejut mendengar pernyataan Chanyeol terlebih kini Chanyeol memasang wajah imutnya tepat di depan Tiffany. Tiffany tak bisa menahan diri untuk melihat ekspresi manis itu lebih lama lagi, maka ia mempercepat dirinya untuk membuka pagar dan buru-buru menyuruh keduanya masuk ke dalam rumah.

Ketika keduanya telah memasuki rumah yang kesannya mewah itu, keduanya disambut oleh dua orang yang sudah cukup berumur. Mereka tersenyum melihat keduanya.

“Apa kalian teman Tiffany ?” tanya mereka. Chanyeol dan Sunny mengangguk perlahan dan merekapun tersenyum, “kami orangtua Tiffany , tak kusangka Tiffany yang pendiam itu akhirnya bisa berteman dengan kalian ya.”

Chanyeol terbelalak saat tahu bahwa kedua orang paruh baya ini adalah orangtua dari Tiffany yang diam-diam disukainya. Baginya ini agak terlalu awal untuk dirinya bertemu dengan kedua orangtua Tiffany yang mungkin kelak akan menjadi mertuanya.

“Ah, k-kalau begitu .. Itu .. S-salam kenal ! Saya Park Chanyeol !” kata Chanyeol sambil membungkuk 90 derajat untuk memperlihatkan sisi sopan dirinya.

Pria dan wanita paruh baya itu tertawa kecil melihat Chanyeol , merekapun berkata, “jangan terlalu formal begitu. Bersikaplah senyaman mungkin.”

Chanyeol mendongakkan kepalanya yang menunduk itu untuk melihat keduanya kemudian ia menegakkan tubuhnya. Ia sangat bahagia karena Tiffany memiliki orangtua seramah ini.

Tiffany berjalan masuk sambil menutup pintu rumahnya rapat. Ia bisa melihat dari wajah kedua orangtuanya bahwa kedua orangtuanya itu senang dengan kedatangan teman-temannya , mereka melihat Chanyeol yang tampak sedang berbincang-bincang dengan mereka dengan wajah bahagia.

“Jadi, ada apa kalian datang kemari ?” tanya Tiffany. Jujur saja, sebenarnya semalam ia asal saja menyetujui kedatangan Sunny kemari karena merasa tidak enak tanpa tahu alasannya. Sunny yang harus bertanggung jawab atas pertanyaan Tiffany karena kedatangannya yang tidak jelas pun menjawab, “bolehkan kalau aku hanya ingin bermain saja ?”

“Oh tentu saja boleh, justru kami akan sangat senang kalau tahu bahwa Tiffany memiliki teman sebaik kalian,” jawab wanita paruh baya tersebut –ibu Tiffany. Tiffany mendengus kesal mendengar jawaban dari ibunya. Tiffany pun memotong pembicaraan antara Chanyeol dan ibunya lalu berkata, “sudahlah, ayo ke ruang tamu.”

Chanyeol pun membungkuk 90 derajat pada ibunya lalu berjalan mengikuti Tiffany ke ruang tamu, begitu pula dengan Sunny. Tiffany pun berjalan ke dapur untuk menyediakan teh hangat buat mereka bertiga. Sunny dan Chanyeol memandang rumah Tiffany takjub, mereka tak menyangka bahwa mereka yang tak seberapa akrab dengan Tiffany itu akhirnya bisa masuk ke dalam rumahnya dan bertemu dengan orangtuanya. Tentang bertemu dengan orangtua Tiffany, Chanyeol berusaha bersikap sebaik-baiknya di depan mereka agar mereka menganggap Chanyeol pasangan yang pantas untuk Tiffany kelaknya dan mungkin mereka mau saja menjodohkan Chanyeol dengan Tiffany. Chanyeol memang berlebihan soal itu.

Tiffany pun kembali sambil membawa nampan berisikan 3 gelas teh hangat yang barusan dibuatnya. Iapun meletakkannya perlahan ketika ia telah sampai di ruang tamu.

“Silahkan,” kata Tiffany sambil menempatkan tubuhnya di sofa. Chanyeol dan Sunny pun langsung meneguk teh mereka masing-masing dengan sigap.

“Tiffany, ibu dan ayahmu akan pergi-pergi sebentar. Jaga rumah ya !” seru ibunya sambil mengenakan sepatunya. Tiffany yang mendengar perintah ibunya lantas mengangguk taat.

“Tenang saja, Tiffany. Kau tak sendiri, kami akan menemanimu di rumah kok,” kata Sunny antusias. Tiffany tersenyum kecil kemudian mengangguk sekali lagi.

Setelah perbincangan tersebut dan setelah kedua orangtua Tiffany sudah keluar , suasana menjadi hening. Terlalu hening. Tak ada satupun dari mereka yang berniat memulai pembicaraan lagi. Hanya ada suara tegukan teh dari Chanyeol.

“Chanyeol,” bisik Sunny sambil sedikit menyenggol lengan lelaki jangkung itu. Chanyeol nyaris saja tersedak saat ia disenggol oleh Sunny. Iapun menatap Sunny tajam karena kesal dengan perbuatan gadis itu. Namun, Sunny memberi Chanyeol tatapan penuh arti seolah ingin memberitahu Chanyeol sesuatu lewat tatapan matanya. Sesaat kemudian, Chanyeol teringat apa maksud tatapan mata Sunny.

Chanyeol pun meletakkan gelas tehnya kemudian membenarkan posisi duduknya agar terkesan lebih sopan. Ia berdeham kecil. Lalu berkata, “Tiffany. Maafkan aku.. Atas kejadian kemarin.” Tiffany membulatkan matanya terkejut. Ia tak pernah berpikir bahwa Chanyeol akan meminta maaf padanya seperti ini.

“Aku tak pernah menyangka kau akan meminta maaf padaku soal kejadian kemarin. Kupikir kau tak tahu kalau aku merasa tidak enak dengan kalian berdua kemarin,” kata Tiffany malu-malu. Ia merasa agak gugup seperti dulu saat menghadapi Chanyeol.

Diam-diam , Tiffany dan Chanyeol berpikir hal yang sama. Mereka berdua senang karena sekarang mereka bisa menjadi teman dengan orang yang mereka suka dan selalu bersama mereka. Sunny yang melihat suasana romantis diantara merekapun menyenggol Chanyeol sekali lagi , ia juga menyiratkan pesannya pada Chanyeol pada kedua matanya saat menatap lelaki itu.

Chanyeol lagi-lagi mengerti maksud Sunny. Iapun berkata, “Tiffany, ada yang mau kukatakan padamu.” Tiffany dapat merasa wajahnya semakin memerah. Ia berteriak di dalam hatinya, “apa ia berniat menyatakan perasaannya ? Ah tidak mungkin ! Tidak mungkin ! Ini bukan drama !”

“S-silahkan katakan saja,” pinta Tiffany sambil menunduk malu. Sunny tertawa kecil melihat tingkah Tiffany yang kelabakan. Ia dapat menduga bahwa Tiffany memiliki perasaan yang sama pada Chanyeol seperti perasaan Chanyeol padanya.

“Aku .. Ingin .. Kau .. M-menjadi kekas–”

KRINNGGGGG

Ucapan Chanyeol terpotong saat suara telpon rumah Tiffany berdering. Tiffany berlari untuk mengangkatnya. Chanyeol menghela nafas kecewa, Sunny menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkan Chanyeol. Chanyeol berkata, “gagal.”

“Kau bisa mencobanya lain kali kan ? Tidak apa-apa, sementara ia masih belum diambil lelaki lain kau masih memiliki kesempatan,” kata Sunny sambil tertawa kecil melihat ekspresi Chanyeol yang nampak menyedihkan sekarang.

Tiffany pun berjalan kembali dan berkata, “jadi , apa yang ingin kau ucapkan tadi ?”

Chanyeol yang sudah kehilangan kumpulan keberanian yang sudah ia miliki tadi hanya bisa menggeleng lemah. Menyatakan perasaannya yang kuat itu memang tak semudah itu. Sunny memandang Chanyeol kesal karena ketika kesempatan sudah datang kembali ia malah tak mau menyatakan perasaannya.

Sunny menyenggol lengan Chanyeol kuat sehingga lelaki itu nampak kesal pada Sunny. Sunny pun menunjukkan isyarat lewat matanya sekali lagi. Chanyeol hanya bisa menggeleng lemah. Tiffany yang melihat interaksi diantara keduanya hanya bisa menghela nafas pelan. Keduanya nampak bisa mengerti satu sama lain dengan mudah hanya dengan melalui mata.

“Kalian mudah mengerti satu sama lain ya hanya dengan berbicara melewati isyarat mata saja,” kata Tiffany cemburu. Sunny dan Chanyeol tersentak kaget dan buru-buru mengelak. “Bukannya begitu. Ini karena kami sudah lama berteman,” kata Sunny. Sunny sudah sadar akan perasaan Tiffany pada Chanyeol hanya dengan melihat gerak-gerik Tiffany yang malu-malu hanya saat ia berhadapan dengan Chanyeol itu. Maka itu ia berusaha untuk tidak  merusak hubungan Tiffany dengan Chanyeol.

“Oh , begitukah.” Tersirat ketidak-sukaan di ucapan Tiffany. Sunny merasa bersalah pada pasangan ini. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia akan menjadi penghalang di hubungan mereka berdua. Ucapan Tiffany barusan menyiratkan kecemburuan selain ketidak-sukaan.

“I-iya , kami sudah hafal arti yang tersirat di mata kami,” kata Chanyeol menyela. Ia tak ingin Tiffany yang bahkan belum menjadi kekasihnya sudah salah paham dulu.

“Oh.” Suasana pun menjadi hening seketika sampai akhirnya Chanyeol memutuskan untuk pamit pulang bersama Sunny.

“Aku pulang dulu, maaf tak bisa menemanimu sampai orangtuamu pulang, kami permisi dulu,” kata Chanyeol sembari menggandeng Sunny. Tiffany melihat keintiman mereka berdua hanya bisa menahan rasa cemburunya.

*****

Sunny dan Chanyeol yang sudah diluar rumah Tiffany hanya bisa bertengkar tanpa menimbulkan keributan besar. Sunny menyalahkan Chanyeol yang tak bisa mengungkapkan perasaannya sementara Chanyeol membalas Sunny dengan mengatakan bahwa ia belum siap untuk mengungkapkannya secara tiba-tiba begitu.

“Kau tak sadar ? Tiffany menyukaimu, Chanyeol !” seru Sunny sambil berjalan menjauhi Chanyeol. Chanyeol menggeleng cepat, “darimana kau tahu ? Memangnya kau pernah bertanya padanya ?”

“Dari gerak-geriknya saja aku sudah bisa menebak perasaan Tiffany kepadamu !” bentak Sunny pada Chanyeol yang tak mau menggunakan kesempatan tadi. “Ia nyaris salah paham karenamu !” bentak Chanyeol.

“Siapa suruh tak segera mengungkapkan perasaanmu ?” elak Sunny lalu berlari pergi meninggalkan Chanyeol. Ia merasa sudah cukup dengan hal memuakkan soal perasaan Chanyeol pada Tiffany. Ia berniat membantunya namun Chanyeol malah menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikannya.

Chanyeol terdiam di tempat dimana ia dan Sunny bertengkar sambil memandang Sunny yang menjauh.

“Kalau ia sudah marah besar seperti itu sih, artinya aku harus berjuang sendirian untuk mengungkapkan perasaanku. Tapi aku tak mau mendengar penolakan darinya ! Bagaimana kalau aku ditolak ?” kata Chanyeol frustasi ia masih belum bisa percaya dengan perkataan Sunny soal Tiffany yang menyukainya.

“Hihihi ~” terdengar suara tawa-tawa kecil dari tikungan di dekat sebuah rumah mewah di jalanan tersebut. Ayah dan ibu Tiffany sudah kembali !

“Ah , kau Chanyeol kan ?” tanya ibunya Tiffany. Chanyeol kelabakan dan buru-buru mengangguk sembari membungkuk 90 derajat untuk menghormati mereka.

“Tiffany masih menjaga rumahnya kan ?” tanya ayahnya. Chanyeol mengangguk pelan. Keduanya tersenyum dan berkata, “sebenarnya, dari tadi saya ingin berterima kasih bahwa kau dan satu gadis lainnya sudah mau menjadi teman Tiffany. Tiffany selalu tertutup dan kurang mau bergaul dengan orang lain. Kami sendiri juga meragukannya kalau suatu hari nanti ia bisa menemukan pasangan hidupnya.”

Chanyeol dapat merasakan semburat merah menghiasi wajahnya ketika ibu dan ayah Tiffany menjelaskan mengenai Tiffany.

“A-aku bersedia kok menjadi pasangan hidup Tiffany,” kata Chanyeol sambil menunduk malu. Ayah dan ibu Tiffany terkejut mengenai pengungkapan Chanyeol. Mereka tersenyum melihat anak-anak muda zaman sekarang.

“Haha ~ Memang mudah kalau berkata begitu tapi kau harus tanya pada Tiffany dulu soal itu karena kami ingin Tiffany bahagia,” jelas ayahnya. Chanyeol mengangguk malu sambil tersenyum kikuk. “Iya aku tahu,” kata Chanyeol malu.

“Baik kami pergi dulu, sampai jumpa.”

Chanyeol mengangguk dan melambaikan tangannya pada kedua orangtua Tiffany. Ia hanya bisa menghembuskan nafas kecewa. Tak mungkin ada perjodohan karena kedua orangtuanya Tiffany sangat memikirkan kebahagiaan Tiffany.

“Apa aku akan bisa bersamanya ya suatu hari ? Dan apakah .. Sunny benar soal perasaan Tiffany padaku ?” pikir Chanyeol. Iapun berjalan pergi dari daerah rumah Tiffany menuju rumahnya.

*****

Tiffany yang tahu kedatangan kedua orangtuanya pun menyambut kepulangan mereka. “Selamat datang,” sapanya. Mereka berdua tersenyum sembari melepaskan sepatu mereka.

Kedua orangtuanya yang dapat melihat kemurungan di wajah Tiffany pun menanyakannya, “ada apa dengan ekspresi itu ? Mengapa kau murung ?”

Tiffany menggeleng dan memaksakan senyumannya. “Bukan apa-apa,” jawabnya. Ibu Tiffany berjalan kearah Tiffany lalu menggeleng, “senyuman palsu dilarang di rumah ini.” Tiffany pun mencibirkan bibirnya saat mendengar ucapan ibunya.

“Itu, aku ingin meminta pendapat ibu tentang hal ini,” kata Tiffany sambil memandang ibunya serius. Ibunya tersenyum lembut lalu mengajak Tiffany untuk duduk di sofa agar bisa mendiskusikan hal yang ingin didiskusikan Tiffany dengan nyaman.

“Apa itu ?”

Tiffany memulai penjelasannya. “Begini ..”

*****

Keesokan harinya, Chanyeol bangun pagi-pagi. Bangun pagi-pagi itu sungguh bukan keinginan Chanyeol namun ia tak enak dengan Sunny yang berusaha sebaik mungkin untuknya dan malah dibalas dengan pertengkaran kemarin olehnya , maka dari itu ia berniat meminta maaf sebelum Sunny sungguh-sungguh membencinya. Satu-satunya orang yang bisa membantu Chanyeol soal Tiffany sekarang adalah Sunny sebab kini kedua orangtuanya sedang keluar negeri dan kakak perempuannya bekerja di luar negeri pula.

“Apa ia mau memaafkanku ?” tanya Chanyeol pada dirinya sendiri.

Iapun berjalan menuju rumah Sunny pelan-pelan sampai akhirnya ia bertemu dengan Tiffany di tengah jalan karena kebetulan rumah Sunny dekat dengan Tiffany.

“Tiffany,” sapa Chanyeol sambil tersenyum , iapun dibalas dengan senyuman Tiffany padahal kemarin Tiffany nampak kesal padanya dan Tiffany juga jarang tersenyum padanya seceria ini.

“Pagi, Chanyeol,” sapa Tiffany dengan senyuman manis di wajahnya. Chanyeol dapat merasa semburat merah kini menghiasi wajahnya karena senyuman Tiffany yang cantik sekali.

“Pertama kalinya semenjak aku jatuh cinta pada Tiffany aku baru bisa melihat senyuman seceria ini di wajah Tiffany,” kata Chanyeol kagum akan senyuman Tiffany. Memang berlebihan, tapi itulah Chanyeol yang sedang jatuh cinta pada Tiffany.

“Aku pergi dulu ya !” seru Tiffany. Chanyeol menggeleng, “kau mau kemana ?” tanyanya.

“Aku mau lari pagi,” jawab Tiffany sambil lagi-lagi tersenyum. Chanyeol mengangguk mengerti lalu melambaikan tangannya untuk berpamitan.

Tiffany diam-diam tersenyum setelah meninggalkan Chanyeol, ia memikirkan ucapan ibunya kemarin sore setelah ia pulang.

“Begini .. Aku jatuh cinta pada seseorang, ibu. Dan , aku ingin membuatnya jatuh cinta padaku tetapi ia rasanya tertarik pada gadis lain. Apa ibu memiliki saran bagaimana aku bisa menarik hatinya ?”

“Ibu menarik ayah dengan senyuman ibu. Tapi kalau tipe lelaki yang kau sukai itu dingin belum tentu ia bisa tertarik , Tiffa–“

“Terima kasih , bu ! Akan kucoba besok !”

“Apa cara ini bisa berhasil ya ?” gumam Tiffany sambil tersenyum kecil.

To be continued

Mian gaje, aku lagi liburan jd bisa nyelesain bbrp ff chaptered ku ._. ,  pls komen ya !

24 thoughts on “Right Beside Me — 4th Part : Meeting With Her Parents

  1. Pingback: Right Beside Me — 5th Part : Misunderstanding | EXOShiDae Fanfiction

  2. Pingback: Right Beside Me — 6th Part : Confession Time | EXOShiDae Fanfiction

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s