[Freelance] WILD (Chapter 1)

tiffany-1

Title : WILD [Chapter 1]

Author : Jung Hyun Ra & Park Hyun Ah (Collaboration)

Cast(s) : (For this chapter)

1. Do Kyungsoo (D.O) – EXO K

2. Seo Joohyun (Seohyun) – Girls` Generation

3. Choi Sooyoung – Girls` Generation

4. Tiffany Hwang – Girls` Generation

5. [New character]

Genre : Adventure, Action, Romance, Supranatural, (little bit) Mistery, Shounen – Ai (one couple)

Length : Chapters/ Series/ Episodes

Disclaimer : FF ini original MILIK 2 author setengah otak ikan, seperempat otak yadong, dan sisanya otak somplak author JUNG HYUN RAN & PARK HYUN AH. No Plagiarism! No Silent Readers! No Flame! Tinggalkan jejak kalian! Kesamaan nama, latar, kejadian, ini murni ketidaksengajaan kami. Sekali lagi, FF ini original MILIK Jung Hyun Ra & Park Hyun Ah

 

Backsound : K.Will – Love Blossom

No Plagiarism!

.

.

No Silent Readers!

.

.

.

.

WILD [Chapter 1]

.

.

Hyun Ra – Hyun Ah

.

.

          Seperti yang sudah direncanakan beberapa hari lalu, Tiffany, Seohyun, Kyungsoo, dan Sooyoung akan berlibur. Aneh memang. Coba pikirkan, di tengah musim salju yang dapat membekukan tulang ini, mereka akan pergi untuk Winter Vacation -setidaknya itu yang mereka katakan-. Bukankah lebih baik jika mereka ada di dalam rumah mendengarkan lagu klasik sembari mencicipi cokelat hangat khas rumahan? Berbekal izin dan kata, “Tiffany noona yang menanggung,” atau “Tiffany eonnie akan menjagaku, eomma.” di sinilah mereka sekarang.

Myeong – Gu Forest

     Hammer dengan warna hitam metalic milik Tiffany berhenti tepat di jantung hutan. Seturunnya mereka dari mobil, keempat orang itu langsung disambut dengan tebalnya salju dan dinginnya udara. Lupa? Haha– Winter Vacation, guys. W. I. N. T. E. R.

Mereka bergegas mencari letak yang strategis untuk berkemah.

“Astaga, noona. Ini dingin sekali, noona~” keluh Kyungsoo.

“Aigoo~ Kyungsoo-ah, jangan banyak mengeluh. Lagipula kau ini namja,” jawab Tiffany tegas.

               Kyungsoo mengerucutkan bibirnya sebal. Ia menghentakkan kakinya dan memilih untuk membantu Sooyoung mendirikan tenda. Seohyun terkekeh geli melihat adegan barusan. Ia berjalan ke arah Tiffany yang sedang mengeluarkan barang dari mobil.

“Hari sudah mulai gelap dan angin mulai berhembus. Sebaiknya aku bergegas mencari kayu bakar agar Kyungsoo bisa segera masak,” ujar Seohyun sembari melirik Kyungsoo yang merutuk perkataan Tiffany.

 “Kau yakin ingin mencari sendiri? Aku bisa meminta Sooyoung untuk membantumu,” jawab Tiffany.

“Tidak eonnie, aku tidak akan lama.” Seohyun mengambil tas dan melenggang masuk ke hutan lebih dalam.

***

   Langkah Seohyun terhenti sejenak ketika ia melihat segerombolan tupai di atas pohon. “Aigoo~ Neomu kyeopta! ” ia meraih kamera Canon keluaran terbaru nya dan mengaktifkannya. Ia mulai membidik satu per satu objek yang dilihatnya. Kakinya kembali berjalan setelah puas membidik objek – objek indah itu. Ia berhenti di bawah pohon cemara yang diselimuti salju yang tebal. Matanya tidak bisa berhenti merekam keindahan yang ia lihat. Ia melirik jam tangannya dan merebahkan tubuhnya di atas tunpukan salju.

“Pukul 17.00 dan beberapa bidikan lagi aku akan langsung pulang.”

          Kayu bakar yang ia pangku, ia letakkan di samping tubuhnya. Tangannya kembali meraih kamera yang ia kalungkan di lehernya. Setelah beberapa menit ia habiskan untuk membidik, ia berdiri dan mengangkat kayu – kayunya. Ia menekan tombol – tombol yang ada pada kameranya untuk melohat hasil bidikan terakhirnya.

Pada bidikan terakhirnya, ia melihat sosok hitam di antara pepohonan yang ia bidik.

Tubuhnya bergetar, kayu – kayu yang ia peluk jatuh berserakan begitu saja, wajahnya pun memucat dan ia mematung. Matanya setia menempel pada layar kameranya.

‘KREEK!’

Seohyun menoleh ke belakang. Hening. Tidak ada siapapun di belakangnya. Mata Seohyun bergerak liar mencari sosok di belakangnya.

‘KREEK!’

Seohyun menoleh ke depan dan membulatkan matanya.

“Annyeong haseyo, agasshi~”

***

   Sooyung menghentikan gerakannya melipat kantung tidur. Ia beranjak dari dalam tenda menuju keluar. Naluri sikshinnya mengatakan bahwa ia harus member asupan untuk perut karet -ekhem- nya.

     Dengan tergesa, ia menghampiri Kyungsoo dan mengguncang tubuh mungil Kyungsoo. Anakis memang.

“Kyungsoo~ Eonnie mu lapar, Kyungsoo~” rengak Sooyoung.

Kyungsoo bergidik sebentar, menaruh buku novelnya kemudian melempar Sooyoung dengan ranting kayu. Kyungsoo men deathglare Sooyoung.

“Aku juga lapar noona! Kalau mau cepat makan, maka carilah kayu!” jawab Kyungsoo malas. Sooyoung bergumam, ‘Namdongsaeng kurang ajar,’

          Tiffany yang sedari tadi memainkan gadget nya tiba – tiba tersentak kaget mendengar kata ‘kayu’. “Tunggu! Mana Seohyun? Apa dia sudah kembali dari mencari kayu?” tanya Tiffany khawatir.

“Ho? Jadi Seohyun mencari kayu?” tanya Sooyoung. Ia melirik kecil jam tangan hitam platinum nya, “Astaga, sudah pukul 17.26!”. Sooyoung menarik nafas kemudian mencoba tenang.

     “Baiklah, kita tunggu saja setengah jam lagi, baru setelah itu kita cari Seohyun.” ujar Sooyoung setelah dirinya berangsur tenang.

               Ketiganya pun memilih untuk menyiapkan barang – barang yang lain. Walaupun sebenarnya mereka sangat mengkhawatirkan Seohyun. Mereka mulai menyibukkan diri agar tidak terlalu memikirkan perihal Seohyun.

***

“Annyeong haseyo, agasshi~”

     Seohyun membulatkan matanaya. Ia dapat melihat paras seorang namja tampan yang menyambutnya dengan jarak 10 cm dari wajahnya. Seohyun berteriak, “KYAAAAAAA!!!”.

          Pria itu menutup telinganya segera dan menjauhkan diri. Seohyun mengambil kayu bakar terdekat dan melemparkan kayu bakar itu ke arah sang namja. “YAK! APPO!” rintih sang namja. Seohyun bangkit berdiri dan kembali mengambil kayu bakar yang berada di dekatnya. Seohyun menodongkan kayu tersebut ke arah mata sang namja.

 “S– S– Siapa kau?!” bentak Seohyun garang. Namja itu tersenyum dan menggenggam lembut todongan kayu Seohyun.

“Agasshi, apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah larut. Bagaimana bisa ada yeoja manis di hutan yang gelap ini?” tanya sang namja bermaksud menggoda.

“ITU TIDAK MENJAWAB PERTANYAANKU, BODOH!!” pekik Seohyun, “Jawab yang benar atau aku akan menusuk matamu dengan kayu ini!” ancam Seohyun. Pria itu terkekeh pelan melihat tingkah Seohyun.

“Kalau begitu, coba tusuk mataku.” pria itu mendekatkan wajahnya kembali. Tangannya maju dan menggenggam tangan Seohyun. Seohyun tertegun sejenak. Bagaimana bisa ada tangan sedingin ini? Namun sedetik kemudian, Seohyun kembali dikagetkan dengan tarikan tangan sang namja.

“Astaga agasshi~ Telapak tangan memiliki banyak goresan luka seperti ini kau diamkan saja?” lelaki itu memandang Seohyun heran. Sedangkan Seohyun masih diam tak bergeming. Ia masih tidak habis pikir dengan namja di hadapannya tersebut. Menyebalkan dan seenak jidatnya sendiri, itu pikir Seohyun.

          Melihat ekspresi aneh Seohyun -satu alis terangkat-, namja itu segera menarik Seohyun, kemudian menggenggam tangan Seohyun. Belum sempat Seohyun memberontak atau berkomentar, namja itu sudah menyahut duluan.

“Luhan. Xi Luhan. Itu namaku.”

***

   Suara perasan air memenuhi ruangan megah itu. Seohyun rasa, itu ruang tengah. Tapi itu salah, itu adalah kamar Luhan, namja sialan yang menyeret paksa Seohyun. Kamarnya luas, bahkan mungkin– Emm.. Berlebihan memang, tapi ini nyata, kalian bisa bermain futsal di sini, di kamar Luhan.

          Luhan berdeham kecil, membuat mata Seohyun menoleh pada wajah rupawan Luhan. “Apa?” tanya Seohyun kaku. Luhan menyesal. Tidak seharusnya ia menggoda Seohyun saat di hutan tadi. Akibatnya fatal, bung. Seohyun bungkam. Tidak pernah bicara. Sekalinya bicara, kata – katanya pendek dan pedas. Ah! Jangan lupakan pula matanya! Liar sekali. Dan juga sangat waspada.

     Luhan meneguk liurnya kasar. Yah, tadi saat di hutan, Seohyun memang takut dengan Luhan. Tapi Luhan rasa, keadaannya berbanding terbalik sekarang.

   Luhan mengambil air dan menyerahkan gelas nya pada Seohyun. Seohyun mendelik. “Kau ingin membunuhku secara perlahan dengan air berisi racun ini, hah?” tanya Seohyun.

Luhan tertegun, “Tidak ada racun dalam minuman itu,”. Seohyun memutar bola matanya, “Aku ingin pulang.” katanya. Ia bangkit berdiri dan memasang mantelnya lagi. Namun, Luhan buru – buru mencegahnya pergi. “Setidaknya biarkan aku mengobati telapakmu dulu, agasshi.” Luhan mendorong pelan tubuh Seohyun hingga kembali terduduk. Ia mengambil obat antiseptik dan mencucukkannya pada kapas. Seohyun meringis pada olesan di telapak tangannya. Dengan telaten, Luhan terus mengoleskan kapas ber antiseptik itu pada telapak Seohyun.

“Seharusnya tadi agasshi memakai sarung tangan agar tidak tergores permukaan kayu yang agasshi bawa tadi,” mulai Luhan.

“. . .”

“Agasshi, jeongmal mianhae. Aku tidak bermaksud mengganggumu saat di hutan tadi,” ucap Luhan lagi.

“. . .”

“Apalagi membuatmu ketakutan seperti tadi.” lanjut Luhan.

Seohyun menghela nafas panjang. Ia tersenyum kecil. “Tidak apa. Lupakan saja soal peristiwa di hutan tadi– Emm.. Luhan? Benar kan?” tanya Seohyun. Senyum Luhan terkembang seketika. Pipinya memanas dan merona dalam sekejap. “Ne, agasshi. Itu namaku. Bagaimana denganmu agasshi? Siapa namamu?” tanya Luhan bersemangat.

“Seo Joo Hyun. Kau bisa memanggilku Seohyun.” jawab Seohyun.

“Seohyun? Nama yang indah, aku suka.” jawab Luhan dengan senyum yang masih terpatri pada wajahnya.

     Seohyun merasakan pipinya merona. Luhan terkekeh dan kembali pada pekerjaannya yang tertunda, mengoles luka telapak Seohyun.

“Kau pasti begitu kesepian di sini.” ucap Seohyun memecah keheningan. Luhan menoleh. Sorot matanya menandakkan bahwa ia kebingungan dengan perkataan Seohyun barusan.

“Kau bercanda? Aku tidak sendiri di sini,” jawab Luhan santai. Seohyun mengangguk dan keduanya kembali terdiam. Luhan bangkit dari posisinya yang berjongkok. Ia meraih salah satu foto yang terpajang pada nakas di samping kasurnya. Tangannya terulur menyerahkan figura itu

pada Seohyun. Sesaat, Seohyun memandang Luhan tidak mengerti namun akhirnya Seohyun menerima saja apa yang Luhan ulurkan.

“Kami berempat.” ujar Luhan. Seohyun mengagguk kecil dan mengalihkan kedua pandangannya pada figura kayu berwarna cokelat dengan ukiran rumit itu. Di dalam foto itu, terdapat empat orang yang berdiri berdampingan.

Dari yang paling kiri, terlihat seorang namja tampan nan jangkung. Senyumnya lebar dan nampak– Baiklah, BODOH. Giginya -andaikan saja- seperti lampu sorot saat Tiffany eonnie pentas drama musikal. Putih dan terang sekali. Seohyun cepat – cepat mengalihkan pandangannya. Ia tidak kuat dengan silaunya gigi itu.

Kemudian, ada Luhan yang terlihat menggembungkan pipinya kesal karena namja bergigi lampu sorot itu nampak mengacak rambut Luhan.

Dan yang berikutnya adalah seorang yeoja. Dan yeoja itu– Astaga! Cantik sekali. Matanya indah. Tubuhnya bak model internasional. Surai panjangnya sedikit tertiup angin. Tapi yeoja itu tidak tersenyum. Tidak menampakkan ekspresi sedikitpun. Sinis sekali.

Seohyun hafal betul tipikal yeoja seperti yang ada dalam foto ini. Anggun dan sinis. Penuh aura suram, kecemburuan, dan dengki. Membayangkan yeoja ini ketika mengamuk saja sudah membuat Seohyun merinding.

Di samping yeoja itu, ada namja berkantung mata tebal dan hitam. Tatapannya tajam. Tapi ia tersenyum ramah. Manis dan menggemaskan sekali. Di tangan sang namja terdapat tongkat wushu yang digenggam dengan erat.

Seohyun heran sekali. Apakah sifat yeoja sinis ini tertukar dengan namja berkantung mata tebal nan hitam tersebut? Kenapa malah namja ini yang terlihat layaknya perempuan? Seohyun berpikir keras.

Seakan tahu apa yang Seohyun pikirkan, Luhan berucap, “Dia memang seperti itu. Sinis. Sangat menyebalkan pula.” tangan Luhan mengetuk – etuk gambar si yeoja sinis.

“Bagaimana dengan namja berkantung mata tebal dan hitam ini?” tanya Sohyun. Kentara sekali jika Seohyun gemas dengan namja itu.

“Ah, dia? Dia menyenangkan. Sangat menggemaskan. Tapi dia juga berbahaya. Kau lihat tongkat wushu itu?” tanya Luhan.

Seohyun mengangguk dan bergidik sejenak. Manis tapi berbahaya. Jangan macam – macam dengannya, Seohyun. Jangan macam – macam.

               Mata Seohyun melirik kecil jendela kayu kamar Luhan. Gelap. Bagaimana caranya Seohyun kembali ke lokasi kemahnya? Di luar juga bersalju. Ia kehilangan kayu bakarnya pula. Ponsel? Sebodoh amatlah!

     Luhan memperhatikan air muka Seohyun yang berubah drastis. Luhan nampak mengerti apa yang dipikirkan Seohyun. Luhan terkekeh.

“Kau mau pulang? Hahaha, ayo! Kuntar.” ujar Luhan. Seohyun nampak kaget. Tapi ia memilih untuk mengikuti apa yang ditawarkan Luhan. Luhan bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju ke samping perapian, meraih tas besarnya dan memasukkan kayu – kayu bakar ke dalamnya,

“Ini sebagai ganti aku merusakkan kayu – kayu mu, Seohyun-ah.”

***

          Ketiga orang itu -Tiffany, Sooyoung, Kyungsoo- sungguh merasa kelabakan. Pasalnya sudah sejak satu jam yang lalu Seohyun belum juga kembali. Kemudian tiga orang itu menoleh serentak ketika mendengar suara derap langkah kaki yang bergerak dari balik dedaunan hutan.

“Eonnie? Kyungsoo-ah?”

     Seohyun menampakkan diri dengan Luhan disampingnya. Tiffany berlari, melompat, dan menerjang tubuh Seohyun. Sementara itu, Sooyoung mendekat dan memukul punggung Seohyun pelan.

“Noona, kenapa baru kembali? Jangan buat kami khawatir, noona~” mata Kyungsoo berair.

   Seohyun tersenyum. Ia menggeret tangan Luhan, kemudian memperkenalkannya pada eonnie dan Kyungsoo nya. “Namanya Xi Luhan. Ia yang membantu ku pulang. Juga yang memberikan kita kayu bakar.” ujar Seohyun sembari menunjuk tas besar yang bertengger di punggung Luhan. Luhan tersenyum dan membungkuk hormat.

“Annyeong haseyo, jeoneun Xi Luhan imnida. Mannaseo bangapseummnida. Kalau kalian butuh bantuan atau ingin bermain ke rumahku, silahkan~”

.

.

.

.

.

-TBC-

 

A/N : Hai readers, Hyun Ra dan Hyun Ah di sini~ Ada yang rindu? Maaf updatenya lama, UAS nya ganggu banget-_-Buat readers yang belum baca PROLOG, mending BACA DULU. Daripada entar bingung sama ceritanya kan ya?

Oiya, buat yang namanya Fantasy Purple : Makasih eonnie kritikannya, hahaha. Oiya itu namjanya nggak Cuma D.O kok, tenang aja. Sekali lagi makasih comment nya eon.

Makasih juga buat semua readers yang udah baca WILD ya^^

17 thoughts on “[Freelance] WILD (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s