[Freelance] My Three Idiots (Chapter 12)

Poster 5

My Three Idiots (Chapter 12)

Title            : My Three Idiot

Author        : Kam Ha Moon | @tslykam

Main Casts :    – Im Yoona

                        – Oh Sehun

                        – Lee Taemin

                        – Xi Luhan

                        – Kim Jongin / Kai

Other Casts :   – Krystal as Im Krystal/Yoona’s sister

                        – Minho as Im Minho/Yoona’s dad

                        – Kwon Yuri as Yoona’s mom

                        – and other SM artist

Genre         : Life, Sad, Friendship, Family, Romance

Rating        : G or maybe T

Length        : Multichapter

Disclaimer  : Semua casts milik SM dan orangtuanya masing-masing. Mohon maaf kalau ada kesamaan judul, cast, atau cerita. Cerita ini murni ide saya sendiri.

Note           : Annyeonghaseyo, Kam Ha Moon imnida. I’m newbie and this is my very first fanfiction. The main casts is my ultimate bias kkkk~ Sorry for bad poster. Hope you like it, Enjoy!

*jangan lupa komen chingu ^^

*bold flashback

My Three Idiots

.   .   .

Persahabatan, cinta, keluarga. Siapa yang harus mengalah?

 

Author pov

BRUK.. Yoona membuka pintu rumahnya keras dan dia benar-benar kaget melihat Taemin dan Appanya sedang beradu tatapan tanpa mengucapkan apa-apa.

Appa..” Yoona menghampiri Minho yang terlihat kesal saat itu.

Hyung..” sedangkan Sehun menghampiri Taemin yang terlihat sangat marah, Sehun takut Taemin akan melakukan hal yang tidak-tidak.

“Ada apa dengan kalian? Dan appa, kau kemana saja?” tanya Yoona pelan.

“Tak usah banyak tanya, apa benar Krystal sakit?” tanya Minho ketus.

Taemin terlihat geram saat itu, begitu juga dengan Sehun yang baru pertama kali mengetahui sifat Appa Yoona.

“Iya, dia dirumah sakit sekarang, aku pulang untuk mengambil beberapa baju” jawab Yoona diakhiri dengan helaan nafasnya.

“Hah! Kenapa anak itu selalu menyusahkan! Apa yang terjadi padanya hah?” tanya Minho sedikit berteriak.

Taemin dan Minho menatap Yoona dengan penuh tanda tanya, mereka menunggu jawaban dari Yoona sementara Sehun yang sudah mengetahui keadaan Krystal memilih untuk diam dan menundukan kepalanya.

“Krystal….aku tidak tau” jawab Yoona bohong lalu dia cepat-cepat menuju kamar sebelum air matanya memaksa untuk keluar lagi.

“Ya! Im Yoo-” teriak Minho.

Ahjussi!” potong Taemin.

Sehun mengangkat kepalanya, dia kaget dengan perilaku Taemin yang bisa dibilang tidak sopan.

“Jika kau masih memperdulikan Krystal, sekali lagi kuberitahu, dia berada dirumah sakit Seoul” ucap Taemin sangat dingin lalu pergi meninggalkan rumah Yoona.

Sehun masih berdiri ditempatnya, dia bingung harus melakukan apa, dia sama sekali tidak mengerti dengan keadaan disini, dia tidak mengerti kenapa Ayah Yoona begitu tidak peduli, dia tidak mengerti kenapa Taemin berperilaku tidak sopan kepada Ayah Yoona, dia benar-benar tidak mengerti keadaan tegang disini.

“Mmm permisi..” ucap Sehun pelan sambil sedikit membungkukan badannya, dia berniat untuk menyusul Yoona ke kamarnya.

“Tunggu” cegah Minho.

Ne?” tanya Sehun sambil menghentikan langkahnya.

“Siapa namamu?” tanya Minho singkat.

“Ah mianhamnida, Oh Sehun imnida. Anda tidak mengingat saya? Dulu saya sering bermain bersama Yoona Noona” jawab Sehun ramah.

“Saya hanya bertanya siapa namamu, tak perlu menjelaskan hal lainnya” ucap Minho singkat sambil berlalu meninggalkan Sehun yang mematung.

Sehun merasa sedikit kesal dan sakit hati, bagaimana bisa ada orang yang memperlakukannya seperti itu, kalau dia bukan Ayah Yoona maka Sehun tidak akan segan-segan untuk menghajarnya. Tapi Sehun sadar, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk marah, dia segera menaikki tangga untuk menyusul Yoona.

“Hiks hiks hiks” Sehun mendengar suara isak tangis dari arah sebuah kamar.

Noona….” ucap Sehun pelan sambil menghampiri Yoona yang sedang duduk ditempat tidurnya.

Noona.. jangan menangis aku mohon” ucap Sehun lagi sambil mendudukan dirinya disamping Yoona, Sehun baru sadar kalau sedari tadi Yoona memegang sebuah foto, foto keluarganya yang masih lengkap dengan wajah mereka yang terlihat bahagia.

“Sehunna kau tidak mengerti hiks” ucap Yoona disela tangisannya.

“Apa yang tidak aku mengerti? Aku mengerti segalanya Noona, aku juga merindukan keluargaku, Ayah dan Ibuku memang masih ada, tapi apakah mereka punya waktu untukku? Tidak Noona. Kau ingat? Aku tinggal di apartement sekarang, sendirian. Aku masih memiliki mereka tapi aku tetap merasa sendiri. Aku sama sepertimu Noona, tapi aku tidak pernah merasa sedih karena aku memiliki kalian, aku memiliki kau, Luhan hyung, Taemin hyung, teman lamaku Kai, aku masih memiliki Krystal, Chanyeol, Baekhyun dan teman-temanku yang lainnya, lalu untuk apa bersedih? Begitu juga dengan kau, kau masih memiliki kami Noona” ucap Sehun sambil menatap lurus kedepan tanpa menolehkan wajahnya pada Yoona.

“Tapi apakah kau punya salah satu anggota keluarga yang mengidap penyakit kanker otak?” tanya Yoona dingin.

Sehun menolehkan kepalanya pada Yoona.

Noona…aku bersumpah aku mengerti perasaanmu, aku juga menyayangi Krystal, aku juga ingin menangis Noona, tapi apakah itu membantu? Apakah itu membuat Krystal sehat? Tentu saja tidak, hanya menangis tidak akan mengubah apapun, kita perlu berusaha dan berdoa” ucap Sehun serak, karena sejujurnya Sehun juga sangat sedih dan dia memang termasuk anak yang cengeng.

“Tapi aku takut. Benar-benar takut Oh Sehun” ucap Yoona menutup wajah dengan kedua tangannya, dia menangis sekeras-kerasnya.

“Aku tau, menangislah sepuasnya, tapi untuk terakhir kalinya” ucap Sehun menarik Yoona kedalam pelukannya.

.                  .    .

Luhan masih diam memandang Krystal, tanpa dia sadari dia meneteskan air matanya, entahlah dia begitu sedih memikirkan hidup Krystal dan….Yoona tentu saja.

Luhan akhirnya memutuskan untuk berjalan keluar mencari sesuatu untuk dimakan atau setidaknya untuk menghangatkan tubuhnya. Tepat saat Luhan melangkahkan kakinya keluar pintu rumah sakit dia melihat Yoona baru saja turun dari mobil Sehun, dan Sehun merangkulnya lembut. Luhan merasa sangat bodoh saat itu, bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini dia merasa cemburu.

“Yoona-ya” panggil Luhan lembut.

Oppa…bagaimana keadaan Krystal?” tanya Yoona pelan sambil berjalan mendekati Luhan, diikuti dengan Sehun dibelakangnya.

“Dia baik-baik saja kok, dia sedang tidur sekarang dan kau bisa melihatnya. Aku akan mencari makanan hangat dulu, kalian berdua beristirahatlah didalam” ucap Luhan lembut sambil memegang lengan Yoona.

Yoona menghela nafasnya pelan. “Baiklah oppa” lalu berjalan gontai memasuki rumah sakit.

Sehun mengikuti Yoona namun sebelumnya Luhan menahan Sehun.

“Jaga dia ne, aku keluar sebentar”

Hyung, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa begini?” tanya Sehun.

“Dokter bilang penyakit ini menurun dari Ibu mereka, sudahlah nanti kita bicara lagi, kau masuk dulu temani dia” ucap Luhan sambil menepuk bahu Sehun.

“Huuh ne hyung” jawab Sehun pelan sambil berlari menyusul Yoona.

.                  .    .

Setelah beberapa jam tidur dirumah sakit tanpa terasa hari sudah menjelang pagi, sinar matahari berusaha menghangatkan ditengah tumpukan salju yang sangat tebal. Krystal masih tertidur damai diatas ranjangnya, belum ada tanda-tanda dia akan segera sadar. Yoona juga masih tertidur di bahu Sehun, sedangkan Sehun dan Luhan sejak semalam berusaha tetap bangun untuk menjaga Krystal dan Yoona.

“Sehun…Oh Sehun. Pulanglah” bisik Luhan sangat pelan pada Sehun yang mulai tertidur.

“Emmmm” Sehun hanya bergumam dan menatap lurus kedepan, sepertinya dia sangat mengantuk.

“Pulanglah dan tidur dirumah, jangan sampai kau juga sakit, sekarang satu-satunya waktu untuk istirahat, besok kita harus sekolah” ucap Luhan lagi.

“Lalu kau bagaimana hyung?” tanya Sehun masih dalam keadaan mengantuk.

“Aku masih kuat, nanti kalau kau sudah istirahat baru giliranku, sana pulanglah…bawa Yoona bersamamu” ucap Luhan sambil membereskan barang-barang.

“Eh? Bagaimana caranya hyung?” tanya Sehun yang masih ngelindur.

“Tentu saja bangunkan dia, masa kau mau menggendongnya?”

“Ah benaarr”

Noonaaa…” bisik Sehun pada Yoona yang masih sangat pulas.

Yoona membuka matanya pelan, begitu jelas lingkaran hitam dimatanya juga pipinya yang semakin kurus, belum lagi bibirnya yang terlihat sedikit pucat, sebenarnya mereka tidak tega membangunkan Yoona, tapi bagaimana pun juga Yoona harus tertidur ditempat yang nyaman.

Noona, pulanglah bersama Luhan hyung, kalian istirahat dulu biar aku yang jaga Krystal” ucap Sehun tiba-tiba.

“Lho? Sehun?” ucap Luhan heran.

“Tidak apa-apa hyung, kalian pulanglah, tadi aku cukup tertidur sedikit sedangkan kau belum sama sekali, jadi lebih baik kau yang istirahat” lanjut Sehun.

“Tidak. Aku tidak mau pulang” ucap Yoona pelan.

“Tapi Yoong..”

“Aku tidak apa-apa, aku sudah cukup tidur tadi, kalianlah yang pulang” potong Yoona.

“Hmm yasudah kalau begitu tidak usah ada yang pulang, aku beli makanan dulu” ucap Sehun terlihat sedikit kesal, mungkin karena dia lelah.

Baru saja Sehun pergi, tiba-tiba terdengar suara ketukan. Segera Luhan membuka pintu.

“Taem Kai” ucap Luhan sambil memperlebar pintunya.

“Bagaimana keadaan Krystal?” tanya Taemin sambil berjalan masuk dan menyimpan beberapa buah yang dia bawa.

“Dia masih belum bangun” jawab Luhan pelan sedangkan Kai hanya diam memperhatikan Yoona yang sedang merapikan baju Krystal.

“Aku harap dia segera sadar, aku…datang kesini untuk berpamitan” ucap Taemin sambil menundukan kepalanya.

Mendengar itu, Yoona yang sedari tadi diam langsung menolehkan kepalanya kearah Taemin, dengan pandangan lesu yang benar-benar terlihat sedih.

“Aku minta maaf pada kalian, aku akan sering mengunjungi kalian kok tenang saja” ucap Taemin lagi sambil memaksakan senyumnya.

“Tak bisakah kau menunda kepergianmu?” tanya Yoona akhirnya, dengan suaranya yang bergetar.

“Maaf Yoong…tapi ada sesuatu yang harus aku urus disana, dan eomma bilang itu sangat penting, tenang saja jika urusan itu sudah selesai aku akan langsung mengunjungi kalian” ucap Taemin lemah.

Yoona hanya diam, begitu juga dengan yang lainnya, mereka semua bingung harus melakukan atau bahkan membicarakan apa, mereka benar-benar kalut dalam fikiran mereka masing-masing.

“Luhan hyung, bisa temani aku keluar? Sehun mengirimku pesan katanya dia ingin aku dan hyung untuk menyusulnya” ucap Kai tiba-tiba. Sebenarnya Kai berbohong, Kai mengerti situasi ini, Kai tau Taemin membutuhkan waktu bersama Yoona untuk membicarakan sesuatu.

Ne kajja” ucap Luhan yang ternyata juga mengerti maksud Kai.

Setelah mereka pergi keadaan sangat hening, hanya terdengar suara isakan Yoona yang sangat pelan.

“Yoong…” Taemin berjalan pelan menghampiri Yoona yang sedang menunduk di sofa.

Mianhae. Aku tetap harus pergi hari ini” lanjut Taemin.

“Aku….akan sangat merindukanmu Taem” ucap Yoona disela tangisannya.

“Tentu saja, aku juga akan sangat-sangat merindukanmu Yoong. Aku tidak ingin pergi, tapi aku harus” ucap Taemin menarik Yoona kedalam pelukannya.

Yoona hanya menangis didalam pelukan Taemin, dia menumpahkan segala kesedihannya saat itu, karena dia tau kesempatan ini akan jarang dia temui lagi, dia memeluk Taemin erat, berharap setelah Taemin pergi nanti pelukan itu akan tetap ia rasakan.

“Berbahagialah Yoong. Kau adalah sebagian hidupku, jika kau ingin aku tetap bahagia, maka kau juga harus berbahagia, teruslah tersenyum seperti Yoonaku yang biasanya” ucap Taemin sambil meneteskan air matanya dengan suara yang bergetar.

“Bagaimana mungkin aku bisa selalu tersenyum tanpamu, siapa yang akan menemaniku saat aku sedih dimalam hari? Siapa yang akan datang kerumahku saat aku membutuhkan orang untuk menghiburku? Siapa yang bisa melakukan itu selain kau?” tanya Yoona sangat sangat pelan.

“Yoong dengarkan aku. Aku berjanji aku akan sering mengunjungimu, jika kau mempunyai masalah apapun ceritakan saja padaku Yoong, aku masih sama seperti aku yang dulu, hubungan kita juga masih sama, hanya sekarang jarak kita berubah menjadi sedikit lebih jauh dari biasanya, tapi itu tidak akan mengubah apapun. Aku tetap Taemin yang selalu menyayangi Im Yoona. Arraseo?” ucap Taemin panjang lebar.

Yoona melepaskan pelukannya.

“Aku mengerti. Berjanjilah untuk tetap menjadi Taemin yang kukenal. Jangan pernah lupakan aku Taem” ucap Yoona sambil memegang kedua pipi Taemin.

“Tidak akan pernah. Aku berjanji Yoong” ucap Taemin lalu menghapus pelan airmata Yoona, dia mengecup kening Yoona lembut lalu memeluknya sangat sangat erat berharap waktu akan berhenti saat itu juga.

Yoona akhirnya tersenyum, meskipun itu adalah senyum palsu, setidaknya Yoona ingin melihat kepergian Taemin dalam keadaan tersenyum. Taemin tiba-tiba bangkit dari duduknya lalu menghampiri ranjang Krystal. Dia memegang kepala Krystal pelan, mendekatkan wajahnya lalu berbisik.

“Im Krystal, kau bisa dengar? Ini aku, Taemin oppamu yang selalu menyayangimu walaupun kau cuek padaku hihi. Aku tidak tau apa yang kau idap dan aku memang tidak ingin tau, karena itu akan membuatku merasa sangat sedih. Aku tau kau adalah gadis yang kuat, sampai-sampai semua siswa namja takut padamu, benarkan? Hahaha” Taemin tertawa sebentar lalu melanjutkan “Iya benar, kau adalah gadis yang sangat kuat, maka dari itu bangunlah dan cepat sehat kembali, aku ingin melihatmu tersenyum seperti biasanya. Aku titip Yoona padamu, dan tentu saja aku titip Krystal juga padamu, kau mengerti? Berarti kau harus menjaga Yoona dan dirimu sendiri, untuk aku. Kau bisa? Tentu saja, kau adalah adikku yang paling kuat! Aku menyayangimuu, cepatlah sadar dan kita akan pergi ke namsan tower seperti saat kita kecil dulu. Berjanjilah padaku, saat aku datang ke Seoul lagi, kau akan menyambutku dibandara meskipun dengan wajahmu yang malas dan kesal. Arraseo? Sekali lagi, aku menyayangimu Krystal-ah” Taemin lalu mencium kening Krystal pelan, ia menghapus air matanya lalu kembali menghampiri Yoona.

“Baiklah Yoong. Aku pergi sekarang” ucap Taemin lemah.

“Jaga dirimu baik-baik Taem” ucap Yoona sambil berhambur kepelukan Taemin.

“Kau yang harus menjaga diri, ingat ceritakan apapun padaku ne? aku menyayangimu Yoong” ucap Taemin lagi dan lagi.

“Aku juga, sangat menyayangimu. Maaf jika aku tidak bisa mengantarmu ke bandara”

“Tidak apa-apa Yoong. Kai dan Sehun akan mengantarku” ucap Taemin sambil melepaskan pelukannya dan memamerkan senyuman terbaiknya.

Taemin berjalan keluar ruangan Krystal, sambil terus memegang erat tangan Yoona, dia merasa sangat berat untuk meninggalkan Yoona, terutama dalam keadaan seperti ini dia tau bahwa Yoona sangat membutuhkannya, tapi lagi-lagi dia terpaksa melakukan ini, karena sesuatu di Busan yang sedang menantinya.

“Pergilah Taem, hati-hati. Jaga dirimu baik-baik” ucap Yoona melepaskan tangannya, dia berusaha untuk terlihat tegar, agar Taemin juga pergi dengan hati yang tenang.

“Terimakasih Yoong” Taemin memasangkan sebuah gelang dengan gantungan kupu-kupu kecil sebagai hiasannya. Yoona terlihat sedikit kaget.

“Terimakasih untuk segala kebaikanmu, terimakasih untuk dirimu yang selalu membuatku bahagia, ini hanya kenang-kenangan kecil, jaga gelang ini baik-baik sebagaimana kau menjaga dirimu sendiri” lanjut Taemin lalu mencium kedua pipi Yoona.

Annyeong” Taemin lalu berjalan cepat menuju mobilnya, dia tau semakin lama dia melihat Yoona maka semakin berat untuk pergi.

Yoona hanya melihat mobil Taemin yang mulai menjauh, airmata sudah tidak dapat ia bendung lagi, dinginnya salju saat itu tidak mampu membekukan air matanya, dia terisak perlahan sambil memegang gelang yang sudah terpasang indah di pergelangan tangannya. Sesekali dia juga memegangi dadanya yang terasa sangat sakit. Lee Taemin, satu orang yang sangat dicintainya kini harus pergi meninggalkannya.

Taemin pov

Kini aku sudah sampai disebuah kedai bubble tea dikawasan Myeongdong, tempat dimana aku Sehun Luhan hyung dan Yoona sering membeli minuman penuh kenangan itu.

Hyung!” teriak Kai dari salah satu meja.

Aku berjalan pelan menghampiri mereka, aku sudah lihat mata Sehun yang memerah belum lagi wajah Luhan hyung yang terlihat kusut, hanya Kai yang terlihat biasa saja, karena kami memang sudah terbiasa hidup berpisah.

“Maaf jika aku lama” ucapku sambil duduk disebelah Kai. Dihadapanku Sehun dan Luhan hyung hanya menatapku sendu.

 “Kau..benar akan pergi? Sekarang juga?” tanya Luhan hyung sangat pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.

Ne hyung, aku terpaksa…suatu saat kalian akan tau apa alasanku yang sebenarnya” ucapku sambil menundukkan kepala.

Kai memegang bahuku pelan, dia tau permasalahannya. Dia menatapku seakan mengisyaratkan bahwa aku harus memberitahu sesuatu pada Sehun dan Luhan hyung.

Aku menghela nafasku pelan.

“Dan satu lagi…aku benar-benar tidak akan kembali” ucapku sambil tak terasa air mata ini jatuh dihadapan mereka, sejujurnya aku malu, tapi sudah terlanjur.

“Maksudmu apa hyung? Busan kan dekat” tanya Sehun yang menurutku terlihat sedikit gusar.

“Setelah beberapa bulan di Busan, aku akan pindah lagi” jawabku tanpa menatap mereka.

“Kemana?” tanya Luhan hyung singkat.

“Jepang” jawabku lebih singkat lagi.

Mereka terlihat kaget tapi syukurlah aku tidak melihat reaksi marah mereka, justru sepertinya Sehun terlihat ingin menangis.

“Lalu bagaimana dengan kita hyung?” tanya Sehun dengan suara yang bergetar.

“Kai akan menggantikan posisiku, lihatlah dia sangat mirip denganku, anggap saja dia itu aku” jawabku dengan nada yang kubuat sedikit ceria. Setidaknya agar suasana tidak secanggung ini, aku malu jika ada orang lain yang melihat kami mereka pasti akan heran melihat keempat namja sedang duduk bersama dengan mata yang memerah.

“Aku tidak sama denganmu dan tidak akan pernah bisa menjadi dirimu” ucap Kai yang sedari tadi diam.

“Sudahlah, ini tidak akan mengubah apapun, tidak perlu berdebat lagi. Lee Taemin, jika memang kau merahasiakan alasanmu maka kami terima. Tapi aku tunggu alasan itu secepatnya, karena sekarang kau terlihat pergi tanpa alasan dan itu membuatku sedikit marah. Tapi tak apa, seperti yang kau bilang lambat laun kami akan tau alasannya. Apapun yang akan kau lakukan nanti, kami merestuimu, jangan pernah lupakan kami karna kami pun tidak akan pernah melupakanmu, hiduplah dengan baik. Berhenti menjadi playboy dan jaga kesehatanmu” ucap Luhan hyung panjang lebar membuat air mataku benar-benar mengalir.

Gomawo hyung” ucapku sambil menunduk.

Sehun dan Luhan hyung menepuk-nepuk punggung dan tanganku.

“Kau hyung yang baik” ucap Sehun pelan.

Author pov

Kini Luhan sudah kembali kerumah sakit, sedangkan Kai dan Sehun pergi mengantar Taemin ke bandara.

“Sehunna, kudengar kau akan mengikuti tournament basket ya minggu ini?” tanya Taemin memecah keheningan didalam mobil, sedangkan Kai masih berkonsentrasi menyetir.

“Iya hyung, awalnya kau juga akan ikut kan? Tapi tidak jadi” ucap Sehun pelan.

“Hahaha mian. Tapi team kita adalah team yang sangat hebat, aku yakin kalian akan menang. Kapan kau pergi?” tanya Taemin.

“Hmmm mungkin lusa, kami harus meminta izin dulu besok, jika diizinkan maka lusa kami akan langsung pergi” jelas Sehun.

“Dimana?” tanya Kai.

“Daegu” jawab Sehun dan Taemin bersamaan.

Seketika keadaan hening kembali, hingga sampailah mereka di bandara.

Hyung…jaga dirimu baik-baik” ucap Kai sambil memeluk Taemin.

“Kau juga. Ingat pesanku ne” jawab Taemin sambil menepuk punggung Kai.

Arraseo” ucap Kai singkat lalu melepaskan pelukannya.

“Hey cengeng. Jaga dirimu baik-baik ne” ucap Taemin meninju pelan bahu Sehun.

“Kau yang harus jaga diri! Dan aku sudah tidak cengeng lagi!” ucap Sehun dengan matanya yang kemerahan.

“Hahaha arraseo. Sampai jumpa lagi” ucap Taemin memeluk Sehun singkat.

Taemin langsung berjalan menuju pintu keberangkatan, dia melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Begitu juga Kai dan Sehun dengan senyum mereka yang dipaksakan.

.                  .    .

Luhan dan Yoona sedang duduk ditaman rumah sakit, malam itu salju turun sangat banyak, tapi sama sekali tidak mengganggu sepasang manusia yang sedang sibuk dalam fikiran mereka masing-masing.

“Yoong pulanglah, besok kan kita harus sekolah” ucap Luhan sambil menyentuh pelan bahu Yoona.

“Lalu siapa yang akan menjaga Krystal?” tanya Yoona sambil menolehkan kepalanya.

“Biar aku yang tidur disini Yoong” jawab Luhan lembut.

“Tidak oppa, aku benar-benar tidak apa-apa. Sepertinya besok aku akan membolos, aku masih menunggu kabar bibi Seohyun yang katanya sedang sibuk, jika bibi Seohyun tidak sibuk dan bisa menjaga Krystal maka aku akan pergi sekolah” jawab Yoona sambil menggigil.

“Kau kedinginan, ayo masuk” ucap Luhan sambil merangkul Yoona lembut.

“Aku ingin disini oppa” ucap Yoona didalam rangkulan Luhan

Keadaan hening, keduanya masih dalam posisi saling merangkul.

“Aku ingin melihatmu tersenyum lagi Yoong” ucap Luhan tiba-tiba.

Yoona menolehkan kepalanya, menatap manik mata Luhan yang posisinya sangat dekat saat itu.

Tangan kiri Luhan perlahan menyentuh pipi Yoona sedangkan tangan kanannya masih merangkul bahu Yoona.

“Tersenyumlah kembali, aku merindukanmu” bisik Luhan sambil medekatkan wajahnya perlahan.

Chu~ bibir dingin mereka bersentuhan, Yoona memejamkan matanya, dia tidak menolak perlakuan Luhan.

Luhan mulai menggerakan bibirnya, berharap mendapatkan kehangatan ditengah salju yang dingin itu, Yoona meremas jaket Luhan pelan sampai tiba-tiba dia membuka matanya lalu mendorong Luhan.

Oppa…ini..tidak benar” ucap Yoona lalu berlari meninggalkan taman.

Luhan mengacak rambutnya, dia kaget, dia sendiri tidak mengerti kenapa dia melakukan hal itu disaat yang seperti ini, dia merasa sangat bodoh, rasa cintanya pada Yoona kini sudah sangat nyata dan dia baru menyadarinya. Luhan hanya menunduk dan menutup kedua matanya, berharap salju malam itu dapat mengubur segala kebodohannya.

TBC

Huah akhirnya beres juga. Makasih yaaa yang udah baca dari awal ^^ jangan lupa tetep kasih saran buat pairingnya ya hehe

@tslykam

62 thoughts on “[Freelance] My Three Idiots (Chapter 12)

  1. hampir satu bulan ga buka page ini ternyata aku ketinggalan bnyak cerita😦
    sebenernya apa alasan taemin pergi ke busan ? aku penasaran

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s