The Troublemaker

the troublemaker

 

The Troublemaker

written by Summer

Main Cast: EXO-M’s Tao as Huang Zhi Tao and SNSD’s Yuri as Kwon Yuri || Sub Cast : EXO-M’s Lay as Zhang Yixing || Genre: Romance, Life, and Fluff || Length: Oneshoot || Rating: PG-13 || Disclaimer: Inspired from Troublemaker by Olly Murs ||

[]

[]

You ain’t nothing but a troublemaker, girl

Harusnya ini bisa menjadi hari yang menyenangkan. Matahari bersinar cerah (hal yang sangat jarang kau temui di bawah langit kota London yang selalu suram), angin bertiup tenang (kau bisa mencium aroma karamel bercampur aroma rumput), dan lalu lintas yang tak terlalu padat. Tapi bagi Huang Zhi Tao semuanya berubah jadi menyebalkan, dan hal-hal menyebalkan membuat Huang Zhi Tao berubah menjadi makhluk mengerikan.

“ZHANG YI SHIT, JIKA DALAM SEPULUH MENIT AKU TIDAK MELIHAT KEPALA BODOHMU ADA DISINI, MAKA KUPASTIKAN KAU AKAN BERANGKAT KE KANTOR TANPA KEPALA BESOK ! ! !”

 

Huang Zhi Tao mematikan ponselnya keras-keras. Mukanya merah karena marah dan ponselnya sudah tergeletak sembarangan diatas meja. Ia menghembuskan nafas kasar sembari meluruskan kakinya. Ia menoleh sedikit dan langsung membuang muka pura-pura tak melihat. Brengsek, orang-orang sedang melihatnya sekarang !

Ia meneguk segelas air dingin (yang disediakan gratis di kafe ini) sampai habis. Sialan, suasana hatinya benar-benar buruk hari ini. Ini semua gara-gara kesialan yang melandanya secara berturut-turut selama seharian penuh.

Kesialan pertama. Huang Zhi Tao selalu memulai harinya dengan sarapan yang dibuat oleh Pak Clark –koki pribadi keluarganya- yang selalu menyajikan sarapan khas inggris seperti keluarga-keluarga konglomerat lainnya (sarapannya hanya secangkir earl grey dan sekerat daging).  Tapi pagi ini Zhi Tao tidak hanya memulai paginya dengan sarapan namun juga dengan ocehan ibunya tentang topik yang paling menyebalkan. Calon Istri. Dan Zhi Tao bersumpah dia benar-benar ingin berangkat berkerja tanpa sarapan jika harus mendengarkan ibunya yang terus bertanya mengapa di umurnya sekarang (bulan lalu dia berumur dua puluh tujuh tahun) ia masih belum punya calon istri dan mengancam akan langsung menjodohkan Zhi Tao saja.

Oh shit man, dia benar-benar benci topik ini.

Huang Zhi Tao melirik jam tangan Rolexnya emasnya yang berkilau terkena sinar lampu. Sudah sepuluh menit lebih sebelas detik. Ia melemaskan kepalanya yang kaku. Well, sepertinya Zhang Yixing benar-benar ingin kehilangan kepalanya hari ini.

Zhi Tao sedang berfikir jurus apa yang akan ia gunakan untuk menendang kepala Yixing nanti ( Ia sedang mempertimbangkan untuk memakai jurus tendangan kaki atau pukulan langsung ke kepala dengan tangan. Well, semua patut dicoba), ketika laki-laki itu datang. Zhang Yixing tidak datang sendirian. Laki-laki itu datang bersama seorang gadis cantik yang sedari tadi terus menempel bak belut dan berusaha mencium setiap inchi wajah Yixing yang bisa diraihnya.

Huang Zhi Tao baru ingat kalau Yixing adalah salah satu spesies playboy cap kadal paling menjijikan yang pernah ia kenal. Dan sayangnya Yixing adalah manager di perusahannya. Kalau saja Yixing tak punya kemampuan fantastis sebagai seorang manager, mungkin Zhi Tao sudah menendang bokongnya jauh-jauh hari.

“Hai bos !” sapa Yixing santai. Laki-laki itu menarik kursi yang ada tepat di depan Zhi Tao. Gadis yang dibawa oleh Yixing memilih untuk duduk di sampingnya dan masih mencoba mencium bibir Yixing yang sudah berwarna merah (Ini benar-benar keterlaluan, Zhi Tao hampir saja muntah karena jijik).

“Halo Yixing,” balas Tao tanpa emosi. Ia menatap Yixing tajam dan memberikan pesan ‘Segera singkirkan gadismu dari sini !’ tanpa suara.  Yixing membalasnya tanpa suara juga, ‘Biarkan saja. Dia tak akan mengganggu.’ Tapi pandangan terakhir Tao langsung membuat nyali Yixing menciut. ‘Suruh dia pergi atau kau mati !’

Gadis yang sedang mereka obrolkan tanpa suara itu sedang berusaha mengecup leher Yixing ketika Yixing berdehem untuk membuat gadis itu berhenti. “My Dear . . . “ Yixing berusaha menjauhkan wajah (lebih tepatnya bibir) gadis itu dari lehernya dan berkata, “kau bilang kau sedang ingin berbelanja ?”

Gadis itu tersenyum masam, merasa sebal karena kegiatannya terganggu. “Ya, tapi aku berencana untuk berbelanja bersamamu !” balasnya dengan suara lengkingan tinggi dan sanggup membuat Tao berjengit kaget.

Well, sayang sekali sepertinya rencana itu tidak akan berhasil,” ucap Yixing dengan senyum menawan andalannya. Gadis di sebelahnya berusaha untuk membantah namun Yixing lebih cepat. Playboy cap kadal itu mengecup bibir gadisnya pelan untuk membuatnya bungkam. “Kita akan bertemu  lagi nanti malam. Aku punya kejutan untukmu.”

Ekspresi  gadis itu masih marah, tapi ketika Yixing mengeluarkan kartu kreditnya (entah kartu kredit yang keberapa), mata gadis itu langsung berbinang senang. Ia memeluk Yixing dan berteriak kegirangan layaknya anak kecil. “Terimakasih sayang, kau benar-benar yang terbaik !” Suaranya masih melengking tinggi bahkan hampir mirip suara lumba-lumba (suara lumba-lumba bahkan lebih baik).

“Selamat bersenang-senang !” sahut Yixing riang dan gadis itu berlari menghilang di sudut jalan.

“Aku benar-benar ingin muntah.” Tao membuat ekspresi mengerikan. “Dia menjijikan.”

Yixing menolehkan kepalanya dan tersenyum lebar. “Well, aku tak peduli apakah dia menjijikan atau tidak asalkan dia penurut dan senang diajak ‘bermain’ aku tidak masalah,” balasnya enteng.

Zhi Tao memutar bola matanya bosan. Dia sudah terlalu hapal. Zhang Yixing, salah satu dari lima kandidat pegawai tertampan (ralat : terplayboy) di perusahaan dan pecinta gadis . Tipe yang bakal membuat jijik selama lima menit kedepan.

Well, jadi ada apa ?” tanya Yixing.

“Kau telat sebelas detik.”

Yixing berlagak mengerang. “Astaga Huang Zhi Tao, hanya sebelas detik saja. Apa dunia akan kiamat kalau aku terlambat sebelas detik ?”

“Tidak.”

Zhang Yixing menghembuskan nafas lega dan menyeringai, hampir ingin berkata sesuatu.

“Tapi kau akan kehilangan kepalamu saat pulang nanti,” imbuh Tao pendek.

“Wo-ho, calmdown man, kau bercanda kan ?” seru Yixing dengan gerak tangan ke depan.

“Aku serius.”

Zhang Yixing terhentak, hampir ketakutan. Huang Zhi Tao biasanya tak pernah main-main dengan ucapannya (Yixing pernah menganggap remeh dan hasilnya dia tidak masuk kantor selama tiga hari dan jangan tanyakan mengapa). Dia tipe laki-laki yang menakutkan dan jelas bukan tipe yang suka bermain dengan surga dunia.

Yixing tak bisa membayangkan bila ia benar-benar akan pulang ke rumah tanpa kepala. Dia adalah manager paling tampan dan paling diinginkan seantero London. Apakah orang sekeren dia harus pulang  dalam keadaan mengenaskan ? Uh, Yixing bergidik takut.

“Oke, oke aku minta maaf karena terlambat sebelas detik,” desis Yixing sebal. Ia merubah sikap duduknya menjadi lebih serius.” Jadi, apa masalahmu ?”

Tao menghembuskan nafas panjang, seolah-olah ia baru saja melalui hari yang berat. Dia meminum air putihnya hingga habis sebelum menjawab, “Hari ini benar-benar mengerikan-“

Well, menurutku tak ada yang lebih mengerikan daripada kau,” balas Yixing cepat dan langsung menciut begitu Tao melempar tatapan tajam membunuh. “Oke, lanjutkan.”

“Ibuku memintaku untuk segera mencari calon istri.” Tao mengucapkan dengan nada datar dan pelan seolah itu hal yang benar-benar mengganggunya.  “Dia bilang sudah saatnya aku punya keluarga sendiri.”

Yixing bergumam, “Dengan umur dua puluh tujuh tahun, dan jabatan sebagai direktur salah satu perusahaan Emerald Group, sepertinya pendapat  Nyonya Presdir tidak salah.”

Tao memutar bola matanya. “Ibuku berniat menjodohkanku jika aku tak segera mencari calon istri.”

Yixing meloncat dari kursinya. “Whoaa . . . benarkah ?” serunya antusias. Dia menyadari bahwa orang-orang sekarang mengamatinya, tapi bukan Yixing namanya kalau tidak cinta dengan perhatian. Ia malah menatap orang dan memberikan senyumnya yang paling menawan (biasanya gadis-gadis akan meleleh dengan senyuman itu, tapi menurut Tao senyuman Yixing mirip singa yang sedang sakit gigi).

“Diam bodoh !” desis Tao jengkel. Ia menutupi separuh wajahnya dari samping karena malu.

Yixing menyeringai meminta maaf. “Jadi, benarkah itu ? Nyonya Presdir akan mencari calon istri untukmu ?”

Tao hanya mengangguk malas. Dia baru saja akan bicara lagi namun Yixing lebih cepat. “Wah, aku tak bisa membayangkan seorang Huang Zhi Tao akan dijodohkan. Benar-benar hiburan yang menyenangkan !” ujarnya mengejek.

Tao menggeram pelan. Dia benar-benar bodoh karena harus menceritakan ini kepada Si Playboy Kadal. Dia lupa kalau Yixing suka melihatnya menderita. Salah satunya dengan melihat ia dijodohkan. Brengsek. Dia memilih untuk memainkan tisu yang ada di atas meja dan tak berusaha menjawab. Lebih tepatnya malas untuk menjawab.

“Ini benar-benar berita besar !” serunya antusias. “Setelah ini aku akan menemui ibumu, barangkali aku bisa membantu mencarikanmu calon istri yang cocok,” imbuhnya sembari mengedip genit. Dia berusaha membuat Tao kesal.

“Jika kau berencana membuatku menikah dengan salah satu penari stripper kenalanmu, maka lupakan saja !” bentak Tao kesal dan Yixing hanya tertawa keras.

Tao menatap tajam Yixing dan mengancam laki-laki itu tanpa suara. Dan itu berhasil ! Yixing menyadari itu dan memilih untuk tidak mengungkit lagi. Tao akan berubah menjadi macan yang mengerikan kalau kau main-main dengannya atau membuatnya marah. Kalau kesal ia bisa berubah menjadi burung elang. Tajam, dan bisa membunuhmu dengan tukikannya. Setidaknya itulah perumpamaan terbagus yang pernah Yixing buat (Yixing payah dalam mengartikan dan membuat perumpamaan).

Yixing memandang keluar kafe dan tak mendapati mobil mencolok milik Tao disana. Dia menoleh dan bertanya, “Dimana Porschemu ?” tanyanya bingung.

“Di bengkel.” Jawab Tao pendek, masih merasa malas.

Yixing mengerutkan keningnya tak mengerti. “Apa kau melakukan sesuatu hingga membuat mobilmu harus dibawa ke bengkel ?”

“Bukan aku.”

Yixing menaikkan alisnya. “Lalu ?”

Tao menarik nafas panjang dan mengacak rambutnya -yang ditata setengah berantakan yang keren- dengan frustasi. Seolah ia lelah dengan segala masalah yang baru saja ia alami. Dan kali ini Tao memutuskan untuk menceritakannya pada Yixing. Kesialan kedua yang ia alami hari ini.

Kesialan kedua yang dialami oleh Tao hari ini adalah kesialan paling menyebalkan yang pernah Tao rasakan. Kesialan itu bermula ketika dia akan berangkat ke kantor dengan Porschenya. Jalanan memang padat pada waktu itu. Semua orang sedang berusaha menuju ke tempat kerja, jadi jalanan penuh dengan mobil atau sepeda. Dia sedang berusaha menghilangkan badmoodnya dengan mendengarkan lagu-lagu Muse ketika seorang pengendara sepeda dengan sangat kurang ajar merusakkan spion mobilnya hingga hancur. Tao tidak bercanda. Pengendara sepeda itu –yang sangat beruntung merupakan seorang gadis – merusakkan spion mobilnya hingga patah dan tak berbentuk.

Tao tentu saja marah. Mana ada pemilik mobil yang tidak marah jika mobil kesayangannya dirusak ? Apalagi itu bukan mobil biasa. Itu Porsche. Tepatnya Porsche 911 Turbo warna merah mengkilat dengan nomor kendaraan yang dipesan khusus dan kecepatan yang bisa membuatmu melayang saking cepatnya. Itu bukan mobil yang biasa kau temui di jalanan dan merusak spion mobil itu –entah sengaja atau tidak- benar-benar bukan ide yang bagus.

Setidaknya Tao sudah berhasil memaksa gadis  itu untuk membayar ganti rugi meski pada akhirnya gadis  itu berkata bahwa ia tak membawa uang yang cukup untuk memberikan uang ganti rugi sekarang juga (Tao bahkan sangsi apakah gadis  benar-benar punya uang). Tapi Tao tak melepaskannya begitu saja. Ia sudah meminta kartu pengenal milik gadis  itu sebagai jaminan.

Well, setidaknya gadis  yang menyerempet mobilmu itu benar-benar pintar karena bisa memilih mobil mana yang spionnya harus ia hancurkan,” timpal Yixing sambil lalu seolah itu bukan hal besar.

“Haha. Sungguh lucu Zhang Yixing !” bentak Tao sebal. Tentu saja Tao menyayangi Porschenya (sesungguhnya laki-laki itu menyanyangi semua mobilnya).

“Oke, oke aku hanya bercanda,” ujar Yixing berusaha membuat Tao tenang. Ia mengambil buku menu yang sedari tadi tergeletak di atas meja yang sama sekali tak tersentuh. Berusaha membuat Tao melupakan kekesalannya, ia bergumam, “Omong-omong kau sudah pesan sesuatu ? Aku lapar sekali.”

Tao menggeleng.

Yixing mengangguk-anggukkan kepalanya saat memandangi buku menu sembari memutuskan mana yang harus ia pesan. Ia melambaikan tangannya, “Pelayan !” penggilnya dengan suara keras.

Seorang gadis pelayan -mengenakan kemeja putih, celana jeans dan celemek warna hitam- datang dengan sebuah nampan bundar. Rambutnya dikuncir tinggi-tinggi hingga menyisakan helain rambut yang terlalu pendek untuk dikuncir keatas. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan ?” Pelayan itu berusaha menjaga suaranya tetap tenang tapi entah mengapa Tao bisa mendengar nada suara bergetar meski ia tak melihat (Tao masih dalam posisinya memalingkan muka dan melihat jalanan).

“Ya, aku pesan seporsi fish and chips dan segelas coke.” Yixing menutup buku menunya dan membiarkan pelayan itu mencatat. Ia menendang kaki Tao yang masih sibuk melihat jalanan dan bertanya, “Kau mau pesan sesuatu ?”

Tao mendesah malas, “Creamy beef fetuccine dan segelas coke saja.” Gadis pelayan itu sedang menunduk untuk mencatat pesanan Tao ketika Tao menolehkan kepalanya. Dan Tao hampir saja terjungkal jatuh. Gadis itu. Itu gadis yang sama yang merusak spion mobilnya !

“Satu creamy beef fetuccine, satu fish and chips, dan dua coke. Ada lagi, Tuan ?” tanyanya sopan.

Yixing menggeleng dan tersenyum menawan seperti saat ia berusaha membuat gadis-gadis meleleh. “Itu saja. Terimakasih.”

Tao masih tercengang melihat gadis pelayan itu (dan pelayan itu sepertinya masih belum melihat wajah Tao) dan langsung mengerang jijik saat melihat kelakuan Yixing.

Gadis pelayan itu mengerjab-ngerjabkan matanya kaget saat melihat senyum-menawan-yang-sanggup-membuat-gadis-gadis-pingsan milik Yixing. Tapi ia langsung menggelengkan kepalanya seolah mengusir bayangan senyum Yixing seperti nyamuk dan berlalu pergi.

Yixing memalingkan muka dengan senyum kemenangan karena berhasil membuat gadis pelayan itu goyah. Namun saat melihat ekspresi wajah Tao yang menatapnya dengan ekspresi tidak percaya, ia bertanya, “Apa ?”

Sekali lagi Tao tak dapat menyembunyikan kejijikannya. Tapi ia malas membahasnya, jadi ia hanya mengayunkan tangannya pelan, “Lupakan saja.” Ia mencuri pandang untuk melihat gadis pelayan itu lagi. Pelayan itu kini sedang mengisi gelas-gelas kosong dengan coke dingin dari mesin. Tao mengerutkan keningnya.

Yixing melihat Tao aneh. Ia mengikuti arah pandang Tao yang sedang melihat gadis pelayan itu dan bertanya, “Kau menyukai pelayan itu ya ?”

Tao memutar bola matanya tapi masih belum melepaskan pandangan. “Kau ingat ceritaku tentang gadis yang menghancurkan spion mobilku ?”

Yixing mengangguk. “Yeah, kau memarahiku karena kubilang gadis itu sangat cerdas untuk tahu spion mobil mana yang harus ia hancurkan.”

Tao mendesis tak sabar. “Lupakan bagian itu.” Ia menatap Yixing, “Yang jelas kau masih ingat ceritaku. Nah, gadis yang menghancurkan spionku adalah gadis pelayan tadi.”

Yixing melongo. Mulutnya terbuka lebar sekali dan ia berteriak, “SERIOUSLY ?!!”

Tao langsung menyumpal mulut Yixing dengan gumpalan tisu yang berhasil ia tarik dari kotak. “DIAM BODOH !” desisnya dengan suara pelan. Matanya melirik dan mendapati bahwa orang-orang sedang memperhatikan mereka.

Yixing masih dengan mulut penuh tisu, marah-marah dan mengeluarkan makiannya -karena hampir tersedak- namun tak bisa berkata sepatah kata pun. Ia hanya bisa mengerang, berusaha memuntahkan tisu-tisu yang menempel di langit-langit mulutnya.

“Kau hampir membuatku mati, idiot !” kata Yixing setelah ia berhasil memuntahkan semua tisu dari dalam mulutnya. Ia mengelap mulutnya dengan sapu tangan untuk menghilangkan sisa tisu. Melupakan bahwa Huang Zhi Tao adalah direktur dan dia hanya seorang manager (secara tidak langsung Yixing adalah bawahan Tao), Yixing berhasil mengeluarkan umpatan pertamanya untuk Tao hari ini. Bravo !

Tao memutar bola matanya, memilih mengacuhkan Yixing dan sikapnya yang berlebihan. Dia menggerakkan kepalanya mengikuti arah gerak sang gadis pelayan (atau gadis yang juga merusak spion mobilnya). Dan dua detik kemudian, hal yang Tao pelajari dari pelayan itu adalah . . . She is a Troublemaker.

 BIG TROUBLEMAKER.

Gadis itu benar-benar pembuat masalah.

Dari lima belas menit yang Tao habiskan untuk mengamatinya, Tao sudah melihat berapa banyak masalah yang gadis pelayan itu buat. Masalah pertama, gadis pelayan itu salah menaruh pesanan di meja yang tepat. Tak lama kemudian, dia menjatuhkan nampannya yang berisi sepiring nachos dan tortilla serta dua gelas pepsi. Kalau dihitung-hitung dengan kesalahan-kesalahan kecil seperti tak sengaja menabrak orang, hampir menubruk seorang pelayan yang mengepel lantai, dan tak bisa membedakan mana saus tomat dan mana saus sambal. Beda antara bodoh dan ceroboh benar-benar tipis.

“Zhi Tao ! Huang Zhi Tao !” Yixing menjentik-jentikkan jarinya tepat di depan wajah Tao dengan frustasi.

Huang Zhi Tao yang sedari tadi sibuk dengan kegiatan mengamatinya, terlonjak kaget –hampir terjatuh dari kursi- dan bertanya dengan nada bingung. “Apa ? Ada apa ?”

“Kau sedang lihat ap-“ Yixing tak melanjutkan kata-katanya.  Ia melihat arah pandang Tao dan kemudian terkekeh pelan. “Man jujur saja, kau tertarik dengan pelayan itu ya ?” serunya dengan nada menggoda.

Tao yang masih setengah linglung langsung menggelengkan kepalanya cepat-cepat. “Tentu saja tidak !” serunya dengan nada terlalu keras daripada biasanya. Tapi hal itu malah membuat Yixing semakin tertawa penuh kemenangan.

Well, dia memang cukup cantik. Bentuk badannya juga bagus. Dia bisa saja jadi model kalau tidak jadi pelayan disini,” gumam Yixing dengan pandangan menilai.

Tao memutar bola matanya. Astaga,laki-laki playboy ini benar-benar salah arah. “Aku tak peduli dia cantik atau bentuk tubuhnya yang bagus, okay ?” ucap Tao ketus. “Aku memperhatikan hal yang lain.”

Yixing memiringkan kepalanya. “And what is that ?

The troubles that she makes,” ujar Tao tanpa emosi.

Is she ?” ucap Yixing memastikan.

Use your eyes,” desah Tao sebal.

Namun belum sempat Yixing memastika, gadis pelayan yang mereka ributkan sedari datang dengan membawa senampan penuh berisi pesanan Tao dan Yixing.

Yixing memundurkan tubuhnya sementara gadis pelayan itu menurunkan sepiring creamy beef fetuccine keatas meja. Entah karena Tao memang hari ini harus terus menerus terkena sial atau memang karena gadis itu selalu menarik masalah kemanapun dia berada, piring -yang penuh berisi krim, daging, serta pasta- tersenggol dan jatuh mengenai bagian depan jas mahal milik Huang Zhi Tao.

Well, ini berarti kiamat.

Semuanya seakan terjadi secara selambat. Seolah ada sesorang yang menekan mode kecepatan paling rendah. Piring itu tersenggol, jatuh mengenai jas Tao dan disaat bersamaan Yixing membulatkan matanya karena kaget (sejujurnya mulutnya juga membuka lebar-lebar), Tao memandangi jas mahalnya (yang sanggup membuatmu pingsan hanya karna melihat harganya), dan gadis pelayan itu terlihat linglung tak percaya.

“OH MY GOSH !

“ASTAGA !”

“YA TUHAN !”

Semua orang yang ada disana melihat kejadian itu dan mereka hanya bisa terpekik tak percaya dengan segala kosa kata yang mereka punya. Mereka bisa meprediksi bahwa gadis itu benar-benar akan tamat. BENAR-BENAR TAMAT.

“APA YANG BARUSAN KAU LAKUKAN, BODOH ?!”

Suara Huang Zhi Tao benar-benar menggelegar mengalahkan suara petir Dewa Zeus. Suara sekeras itu tak mungkin tak di dengar oleh orang-orang apalagi pemilik kafe yang ada di ruangannya. Semua orang terdiam tak sanggup berbicara.

“S-Saya benar-benar minta maaf, Tuan,” ujar gadis pelayan itu gugup. Dia menarik tisu di atas meja dengan asal-asalan dan berusaha membersihkan krim yang mengotori jas mahal milik Zhi Tao. Meski sebenarnya itu hal yang sia-sia. Krim makanan yang mengenai pakaian bukan hal yang gampang untuk dibersihkan.

“Berhenti.” Ucap Zhi Tao dengan suara pelan.

Namun sepertinya gadis pelayan itu tak mendengar. Dia masih  berusaha untuk membersihkan dan sibuk menggumamkan ucapan maaf.

“S-saya benar-benar tak sengaja, Tuan. Saya akan menggantinya. Saya-“

“KUBILANG BERHENTI !”

Seketika gadis pelayan itu menghentikan kegiatannya. Tangannya setengah menggantung di udara. Ia tersentak kaget dan kemudian merasa ketakutan. Bahkan orang-orang yang menontonmu mengkeret dan ingin mengerut sekecil mungkin saking takutnya. Namun tidak untuk Yixing. Entah kenapa disaat seperti ini ia bisa bersikap waras dan berlaku layaknya laki-laki berwibawa. “Cukup Zhi Tao.” Ucapnya penuh penekanan. Huang Zhi Tao menatapnya tak percaya karena managernya itu berani menghentikannya. “Kau membuat semua orang ketakutan,” imbuh Yixing lagi.

Beberapa menit kemudian semuanya seolah terhenti (bahkan pelayan yang ada di belakang meja pesan). Yang terdengar hanya suara deru nafas dan suara kendaraan yang berlalu lalang. Sampai akhirnya sang pemilik kafe datang. “Ada apa ini ?” serunya dengan suara berat dan kasar.

Tao melongokkan kepalanya dan melihat seorang laki-laki setengah baya gempal yang botak dan pendek dengan kemeja Hawaii motif tanaman tropis. Tao tak perlu menjawab karena bos pemilik kafe itu bertanya lagi. Tapi kali ini ia bertanya pada gadis pelayan itu. “Kwon Yuri, apa yang sedang terjadi ?”

Gadis pelayan itu berbalik takut-takut. Dengan suara bergetar ia mengaku, “S-saya tak sengaja menumpahkan makanan di pakaian pe-pembeli, Bos.”

Tak perlu dijelaskan panjang lebar. Sudah bisa ditebak, pemilik kafe itu marah besar karena merasa malu kepada semua orang termasuk Zhi Tao. Dia berkali-kali meminta maaf pada Tao dan berjanji akan mengganti kerugian dan memerintahkan gadis itu untuk masuk ke dalam ruangannya sekarang. Zhi Tao tak perlu untuk jadi orang jenius untuk tahu hal apa yang akan terjadi setelah ini.

Gadis pelayan itu dipecat.

Seorang gadis pelayan lain mengambil alih pekerjaan pelayan bernama Kwon Yuri tadi dan berusaha membuat suasana menjadi tenang kembali. Ia berjanji akan membawakan pesanan yang baru dan meminta pelayan lain untuk membersihkan lantai yang terkena krim.

“Apa ?” seru Tao masih kesal. Ia melihat Yixing mengamatinya terus dan itu membuatnya semakin ingin marah.

“Jangan terlalu emosional. Kau tak biasanya seperti ini,” ujar Yixing kalem. Laki-laki itu meneguk gelas cokenya yang penuh dengan embun es.

“Cerewet ! Suasana hatiku sedang buruk !” seru Tao marah-marah. Ia menusuk sepotong fish and chips milik Yixing tanpa izin dan mengunyahnya keras-keras. Ia masih kesal.

Yixing mengangkat bahu dan memilih untuk tak bicara. Ia meminum cokenya lagi dan memakan pesanannya. Menurutnya, sia-sia saja menasihati Tao yang sedang marah-marah. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Lebih baik nanti saja kalau Tao sudah tenang.

Huang Zhi Tao, meski di luar terlihat marah dan cuek, tapi sebenarnya khwatir juga. Ia jadi memikirkan bagaimana kalau gadis pelayan tadi benar-benar dipecat. Well, mencari pekerjaan di London itu tidak mudah. Apalagi untuk seorang gadis.

“Permisi, pesanan anda Tuan, creamy beef fetuccine.”

Zhi Tao menggerakkan kepalanya dan mendapati pelayan lain yang membawakan pesanannya. Pelayan itu tersenyum sopan dan hampir saja berbalik pergi kalau saja Tao tak menahannya. “Boleh aku bertanya sesuatu ?” ujarnya pelan.

Pelayan itu memasang ekspresi bingung, tapi tetap mengangguk. “Tentu saja.”

Zhi Tao terdiam sebentar berusaha memilih kata-kata yang tepat. “Pelayan tadi . . . apakah dia selalu seperti itu ?” tanyanya hati-hati.

“Maksud anda pelayan bernama Kwon Yuri tadi ?”

Tao ingat bahwa tadi pemilik kafe sepertinya memanggil gadis pelayan bermasalah itu dengan nama itu. “Ya, yang itu,” ucapnya cepat-cepat. Ia mengabaikan tatapan Yixing yang penasaran meski tetap diam.

“Ah itu, setahu saya, Yuri jarang sekali bersikap seceroboh itu. Tapi sepertinya dia ada masalah, karena akhir-akhir ini dia sering tidak fokus dengan pekerjaannya,” jelas pelayan itu dengan suara pelan.

“Masalah ?” Tao tak dapat mengontrol rasa penasarannya.

Pelayan itu mengangkat bahu. “Saya sendiri juga kurang tahu. Mungkin masalah dengan keluarga atau kekasihnya.”

Tao mengangguk-angguk paham. Dia menyadari bahwa pelayan itu menatapnya curiga karena bertanya-tanya tentang hal ini. Jadi ia mengeluarkan selembar uang dari dalam dompetnya dan menyelipkannya di tangan pelayan itu. “Terimakasih dan anggap saja ini tidak pernah terjadi,” ujarnya sembari tersenyum.

Pelayan itu awalnya membulatkan mata terkejut tapi kemudian memilih untuk tak banyak bertanya dan mengucapkan terimakasih sebelum pergi.

Huang Zhi Tao mengambil ponselnya dan berbicara dengan suara pelan. “Cari informasi mengenai Kwon Yuri selengkap mungkin dan kirimkan segera !” Setelah itu Zhi Tao menaruh ponselnya diatas meja dan memakan pesanannya dengan tenang seolah tak pernah terjadi apapun.

“Merasa tertarik ?”

Tao mengangkat wajahnya dan mendapati Yixing sedang menatapnya dengan bibir menyeringai. Ia mendengus keras dan makan lagi. “Bukan urusanmu !”

Yixing tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian raut wajahnya berubah serius. “O’ya Huang Zhi Tao,” ia menghentikan ucapannya.

“Apa ?” gumam Tao dengan mulut penuh makanan.

Yixing melemparkan sepotong fish and chips kedalam mulutnya. “Omong-omong apa yang terjadi dengan sekretarismu ? Kudengar kau memecatnya  ?”

Sektika Huang Zhi Tao menghentikan acara makannya dan menghembuskan nafas keras-keras. Dia malas membahas kesialannya yang ketiga.

                                                                                *************

Umurnya dua puluh empat tahun. Lulusan dari Universitas London dengan nilai cum laude, ibunya sudah meninggal , punya adik laki-laki dan perempuan. Dia harus menjadi tulang punggung keluarga karena ayahnya seorang pemabuk. Kekasihnya bernama Michael dan mereka hampir putus karena kekasihnya selingkuh dengan gadis  lain. Dan sekarang dia sedang mencari pekerjaan.

Lima menit yang lalu, Tao mendapatkan informasi itu dan jangan ragukan keakuratannya. Zhi Tao hanya membayar orang-orang yang berkompeten di bidangnya.  Kini Zhi Tao sedang berada di dalam mobilnya yang lain (mobil yang sama mahalnya dengan Porsche 911 Turbo miliknya). Ia teringat tadi sebelum ia pergi, Yixing menepuk bahunya dan berkata dengan nada paling menyebalkan, “Semoga beruntung.”

Brengsek.

Zhi Tao mengulum permen mintnya yang tinggal separuh. Ia mengintip dari kaca mata hitam yang ia pakai dan turun dari mobil. Pelayan (ralat : mantan pelayan. Dia sudah dipecat setengah jam yang lalu) bernama Kwon Yuri itu kini duduk di sebuah kursi panjang di tepi jalan. Yuri melepas tas selempang yang ia pakai dan mengurai rambutnya yang panjang. Dia duduk dengan kepala tertunduk. Benar-benar kasihan.

Entah mengapa itu membuat Zhi Tao merasa aneh. Ia tak mengerti kenapa sekarang ia ada disini, turun dari mobilnya, dan berjalan menghampiri gadis  itu. Zhi Tao tak tahu.

Ini pertengahan musim semi. Belum terlalu panas untuk musim panas dan tak terlalu dingin untuk musim dingin. Di musim semi, angin biasanya bertiup tak terlalu kencang, terkadang membawa wangi bunga dan aroma roti yang masih hangat. Apakah mungkin cuaca dan angin itu yang membuat Tao menjadi aneh ?

Zhi Tao duduk di samping gadis itu dengan gaya santai (sebenarnya ia berusaha untuk terlihat santai meski ia harus berusaha keras). Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. “Mau permen ?” tawarnya hati-hati.

Gadis itu terlihat kaget dan hampir mencelat dari kursinya. Bola matanya benar-benar terlihat takut tapi ia berusaha berani . Ia tersenyum sok tenang. “Tidak, terimakasih,” tolaknya sopan.

Zhi Tao membuka bungkus permen itu dan memakannya untuk dirinya sendiri. Mereka terdiam selama beberapa menit sebelum akhirnya Tao bertanya lagi, “Kau sepertinya banyak masalah ?”

Gadis itu tersenyum, sepertinya sekarang ia sudah tak terlalu takut. “Hidup tak mungkin tanpa masalah kan ?” ujarnya diplomatis.

Zhi Tao mengangguk dan menyeringai. “Benar. Hidup adalah masalah.” Ia terdiam sebentar untuk merubah posisinya. “Apa menghancurkan spion mobil mewah juga termasuk masalah ?”

Gadis itu hampir saja berkata iya, tapi kemudian ia menutup mulutnya sendiri dan berbalik. Ia memekik kaget dan hampir pingsan.

Itu pria yang sama dengan pria yang ia tabrak spion mobilnya.

Itu pria yang jasnya ia tak sengaja terkena ia tumpahi makanan.

Itu . . . .

Dan Kwon Yuri tak sanggup berbicara lagi.

“Kaget ?”

Gadis bernama Kwon Yuri itu tergagap dengan mulut membuka-menutup seperti ikan koi. “K-Kau ?!” serunya sembari menunjuk Zhi Tao.

Zhi Tao tertawa keras. “Ya, kenapa denganku ? Apa kau mengingat sesuatu ?”

Gadis itu menarik nafas panjang (mulutnya sudah tidak seperti ikan koi lagi dan tangannya sudah tak menunjuk Tao lagi, meski wajahnya masih pucat pasi). Ia memilih membuang muka dan menghindari tatapan Tao.

Tao tersenyum lebar, ia senang dengan ekpresi kaget yang gadis itu tampakkan. “Kalau dihitung-hitung, kau punya banyak hutang denganku, benarkan nona ?” Ia memiringkan kepalanya dan tersenyum kecil.

Jujur saja, Kwon Yuri jadi mengkeret dan takut, tapi ia tak boleh terlihat lemah. “Memang dan aku minta maaf atas semua hal yang merugikanmu.”

Well, maaf saja tak cukup kan ?” ucap Tao. “Bagaimana dengan ganti rugi ?”

Dalam hati gadis itu mengutuk habis-habisan nasibnya yang benar-benar sial. Ini yang sedari tadi ia takutkan. Masalah ganti rugi, dan itu berarti berkaitan dengan uang. Padahal ia sedang tak punya uang sama sekali. “Aku benar-benar menyesal, tapi tolong beri aku waktu untuk melunasinya.” Ia memohon dan menurunkan harga dirinya.

Zhi Tao menyeringai lebar. “Waktu ya ?” Dari sudut matanya saja Tao  bisa melihat bahwa gadis itu benar-benar mengharapkan ia berbelas kasih dengan memberinya waktu untuk membayar ganti rugi. Jujur saja, Zhi Tao sebenarnya tak pernah peduli dengan ganti rugi. Dia punya banyak uang dan uang sekecil itu tak berarti untuknya. Tapi karena ekpresi khawatir dan takut dari gadis itu sulit untuk dilewatkan,  maka ia terus berpura-pura. “Mungkin aku bi-“

Kwon Yuri tiba-tiba berdiri dengan sentakan keras dan berjalan maju ke depan. Tao yang sedang bicara langsung terdiam karena kaget dan ikut berdiri. Tao melihat gadis itu memandang ke satu arah tanpa berkedip sama sekali. Seolah pandangan matanya terkuci disana. Mau tak mau Zhi Tao memalingkan wajahnya untuk melihat.

Sepasang kekasih yang sedang berciuman.

Well, apakah ada sesuatu yang salah ? Bukankah di London biasa melihat orang-orang berciuman di tempat umum ? Itu sudah bukan hal yang aneh lagi. Tapi ketika Tao melihat ekspresi Yuri yang kosong namun matanya tergenang air, Zhi Tao jadi teringat sesuatu.

Kekasihnya bernama Michael dan mereka hampir putus karena kekasihnya selingkuh dengan gadis  lain.

“Ah jadi ini laki-laki bernama Michael ?” gumam Zhi Tao hampir tak terdengar. Jika dilihat-lihat dari samping (karena laki-laki bernama Michael itu masih berciuman dengan kekasihnya) tak ada yang menarik darinya. Kulitnya agak gelap seperti orang yang kerja di bengkel, tubuhnya besar namun penuh bulu seperti gorila dan wajahnya licik. Jelas bukan tipe orang yang disukai Zhi Tao dan ia tak mengerti kenapa gadis bernama Yuri itu bisa berpacaran dengan orang macam dia.

Zhi Tao berjalan mendekat. Ia bisa melihat bekas air mata yang gadis itu berusaha hilangkan. Dan entah mengapa itu membuat Zhi Tao marah. Ia marah kepada laki-laki brengsek bernama Michael itu dan ia marah kenapa harus melihat seorang gadis menangis.

Zhi Tao tak tahu apa yang sedang merasukinya hingga ia berani mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah gadis itu. Satu hal yang Tao sadari setelah itu adalah . . .

gadis itu membuatnya gila.

Yuri menyadari bahwa kini laki-laki yang duduk disebelahnya tadi sekarang sudah berdiri di sampingnya. Ia benar-benar malu. Ia tak mau terlihat lemah apalagi dengan menangis seperti ini. Ia adalah perempuan yang kuat. Ia sudah pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini. Jadi sembari berusaha menghampus sisa-sisa air matanya, ia separo berkata-separo tertawa dengan suara sengau. “Astaga, aku benar-benar konyol ya ?”

Awalnya Yuri berniat berbalik untuk pergi, tapi sesuatu menahannya. Lebih tepatnya ada satu tangan yang menahan pundaknya untuk pergi. Tentu saja ia terkejut. Ketika ia berusaha melepaskan diri, dua buah tangan menangkup wajahnya dan tiba-tiba semuanya terjadi begitu saja. Laki-laki itu, laki-laki yang spionnya ia rusak, laki-laki yang jas mahalnya kotor karena dirinya, dan laki-laki yang menawarinya permen, kini menciumnya di depan umum, di tepi jalan raya, dan tepat di depan mantan pacarnya.

Yuri membulatkan bola matanya ketika bibir itu bermain sebentar di bibirnya. Ia masih dalam keadaan mengambang antara sadar dan tidak. Ini memang bukan ciuman pertamanya, tapi ini pertama kalinya ia merasa hampir pingsang karena dicium seorang laki-laki. Dan ketika laki-laki itu melepaskan ciumannya, Yuri bisa mendengar perkataannya jelas sekali.

“Kalau kau ingin hutangmu lunas, jadilah sekretarisku.”

                                                                **************************

“Jadi apa yang terjadi dengan sekretarismu ?” tanya Yixing penasaran.

Tao mengunyah potongan jamurnya di dalam creamy beef fetuccinenya dan bergumam dengan malas. “Aku memecatnya.”

“Karena ?”

“Karena dia bodoh dan idiot,” sambar Tao kasar. “Dia bahkan tak bisa membedakan mana buku laporan dan mana buku notulen,” imbuhnya kesal. Ia marah-marah lagi sekarang.

“Bodoh dan idiot,” gumam Yixing sembari berfikir. “Kalau kuhitung-hitung, kau sudah memecat lima belas karyawan selama tiga bulan ini dan separuh diantaranya kau sebut bodoh dan idiot. Well, keren.”

Tao mendengus. “Aku tak menyangka kau benar-benar menghitung.”

Bibir Yixing mencebik. “Kau tahu, kau seperti sedang butuh calon istri dan bukannya sekretaris.” Ia bergumam lagi menambahkan, “Kau tahu, kalau kau terlalu perfeksionis tak akan ada orang yang tahan denganmu.”

Tao tak menggubris perkataan Yixing dan hanya berkomentar pendek. “Kalau aku bisa mencari sekretaris sekaligus calon istri, kenapa tidak ?”

Yixing terdiam dan kemudian memutar bola matanya. “Dasar bodoh.”

 

Trouble, troublemaker that’s your middle name

 

I know you’re no good but you’re stuck in my brain

 

                                                                                                FIN

 

Well, maafkan aku untuk oneshooot yang aneh ini. Ini pertama kalinya aku nulis ff dengan Tao dan Yuri sebagai pemeran utama. Tapi semoga ff ini bisa memuaskan reader semua ^ ^ Untuk yang nunggu full version dari Slipped part 6, akan dipost saat natal 😀

Have a nice holiday guys !

Love,

Summer

 

Advertisements

33 thoughts on “The Troublemaker

  1. Kenapa aku ngakak mulu ya baca ni Ff. Padahal gk ada yang lucu.. Sayang ya ujungnya gantung (atau emang aku kurang menghayati baca nya*yaelah bahasa gwh..)
    Overall ff keren bgt, nge feel and de el el.

    • Hahaha auranya dia hari itu lagi bawa sial sih wkwkwk apa bawa keberuntungan ya ? Habis itu dia kan ketemu Tao wkwkw XD

      Iya lupain ajaa, tapi jangan lupa kasih aku uang jajaan :3 *salah fokus*
      Makasiiih ^ ^

  2. kereeeen kok
    cerita simple yang ngena untuk di baca
    sifat teledor yuri dan emosian aneh dari tao membuat ff ini menarik untuk dibaca
    pokoknya bagus deh 🙂

    • Makasih lho buat komentarnya 😀

      Aku pikir yang komen bakal bilang ff ini aneh, soalnya aku agak ga pede sama ff ini 😦 tapi ternyata banyak yang bilang bagus termasuk kamu, makasih yaaa ^ ^

  3. Aigo~~ FF nya bagus bangeettt!! 🙂 bahasanya bagus/? karakter dan pemainnya cocok! 😀 coba dibikin sampe Yuri jadi calon istrinya Tao.. well… itu aja udah bagus banget! 😀

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s