G-A-M-E-O-V-E-R (Chapter 2)

JESSIE KIM

PROUDLY PRESENT

(poster by Ladyoong at HSG)

.

.

.

Gangnam District, 13th February, 2013

“Kau bisa melakukan tugas ini?”

“Apa maksudmu? Tentu saja aku bisa!” suara itu menjawab dengan nada yang naik satu oktaf.

Lawan bicaranya hanya menghela nafas, “tidak seharusnya kau menerima tugas ini. Tak ada untungnya untuk kita.”

“Tentu ada. Aku adalah agent. Kita. Dan tugas kita adalah menerima perintah untuk hal yang semacam ini.”

“Jangan bergurau! SSA sudah lama hancur! Kita bukan bagian dari mereka lagi!” suara meja yang digebrak terdengar memenuhi ruangan tersebut. Dan detik selanjutnya hanya terdengar deru nafas seseorang yang menahan amarah.

“Kita ada untuk membangun kembali SSA, you remember that, dude?”

Hening.

“Kau yakin bisa menemukan ‘mereka’?” kembali sebuah pertanyaan di lemparkan pada orang yang sama.

Sejujurnya, ia pun sendiri ragu untuk menemukan ‘mereka’. ‘Mereka’ adalah orang-orang terbaik yang tersisa dari mereka yang terbaik.  Kalian mengerti maksudku, kan?

“Entahlah, tapi akan kucoba. Itu satu-satunya cara, kan? Setelah itu aku akan melaksanakan misi yang selanjutnya bersama ‘mereka’.” Ia membenarkan letak dasi di lehernya, entah hanya dia, tapi udara disini terasa lebih panas, “berapa orang yang tersisa?”

Lawan bicaranya mengangsurkan sebuah foto dengan potret segerombolan orang dengan seragam yang tak asing bagi mereka tengah tersenyum kearah kamera. Lalu maniknya beralih kearah dua orang yang dilingkari oleh spidol merah—ia yakin temannya yang melakukannya—berdiri berdampingan dan tersenyum kearah kamera. “Hanya mereka yang bisa hidup dari kejadian tragis itu.”

“Kau punya informasi tentang mereka?”

“Sulit mencarinya, tapi aku tetap mendapatkannya.”

“Kau yakin itu bukan informasi palsu?” dan sebuah anggukan menjawab pertanyaan itu—mewakili jawaban tanpa suara dari si lawan bicara.

Hening kembali. Entah sudah hening yang keberapa kalinya tapi tak ada satupun dari kedua lelaki di ruangan itu yang merasa terusik dengan keheningan itu untuk sekali ini saja.

“Pastikan kau kembali dengan nyawa yang menempel di tubuhmu.”

“Hei,” sebuah seringai terukir di wajah tampan itu, “sejak kapan kau menjadi seperti bayi?”

“Ck. Sebentar saja berhenti mengejekku apa itu sulit, huh?!”

Sebuah tawa lepas muncul secara ringan dari bibir lelaki berseringai tadi—tawa yang tak muncul sejak mereka memulai topic pembicaraan ini, “kau tenang saja. Akan kupastikan ‘mereka’ akan mau bekerja sama dengan kita.”

Lelaki yang menjadi lawan bicaranya mengangguk menanggapi, berjalan kearah meja kopi di ruangan itu lalu menuangkan segelas untuknya, “dan membangun kembali SSA,” lalu menyeruputnya setengah sebelum melanjutkan kata-katanya,

“Lalu membunuh ‘orang-orang itu’,” lalu sebuah seringai menanggapi perkataannya dengan senang hati.

 

 

game-over

 

With Hyoyeon and Jessica as a main female cast

And two secret boys as a main cast too

Another story from me, hope you enjoy it

.

.

.

Asrama putri, Universitas Yonsei, Seoul. 10.00 am KST

Pening di kepalanya menghantamnya tanpa ampun saat ia mencoba untuk bangkit dari tempatnya berbaring saat ini—sebuah sofa krem yang tidak terlalu empuk tapi cukup nyaman. Setelah duduk ia membiasakan diri untuk mengenali lingkungan sekitar dengan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ada sebuah meja dengan dua gelas yang terisi setengah, remote tv—ia yakin itu remote dari tv di depannya—dan sekotak P3K yang belum di tutup sepenuhnya. Ia meraba luka di lengannya dan baru menyadari bahwa luka tersebut sudah terbalut dengan perban putih yang diberi obat merah.

Bagaimana mungkin orang ini mengobati luka akibat tembakan dengan hanya alat P3K biasa?

Tidak terlalu memusingkan hal tersebut, lelaki berkulit hitam itu memilih untuk bangkit dan melangkahkan kakinya—mencari tahu apapun tentang petunjuk di rumah itu.

Tak ada yang aneh, ruangan tempatnya berdiri terdiri dari sebuah sofa, tv, buppet kecil, dapur kecil di ujung ruangan dan ada sebuah telepon dinding yang menempel di tembok. Di sebelah telepon ada sebuah pintu yang tertutup. Ia berjalan kearah pintu tersebut dan sedikit membukanya. Ada sebuah lorong yang menghubungkan lagi pintu satu dengan pintu lainnya yang mempunyai bentuk sama dengan pintu yang ia pegang—yang membedakan hanya papan nomor yang berada di atas pintu. Ini asrama?

Baru saja ia hendak menutup pintu di depannya dan hendak berbalik saat tiba-tiba sebuah benda—yang ia rasa cukup tajam—menempel di lehernya, siap menggores pembuluh arteri dengan sayatan menyakitkan. Terpaku beberapa saat untuk mencerna apa yang terjadi, menyadari bahwa tak ada sedikitpun suara yang ia buat, dan tiba-tiba sebuah pisau berada di lehernya siap mengukir sebuah sayatan disana.

“Apa yang baru saja kau lakukan?” sebuah suara membuatnya melirik kearah samping dan mendapati seorang wanita dengan rambut coklat yang menodong pisau kearah lehernya. Matanya menatap tajam kearah dirinya.

Tak jauh dari situ ia mendengar langkah kaki santai yang mendekat kearah mereka berdua, “Jessie, dia masih sakit. Kau harus berhati-hati dengan pisau itu.” Suara seorang wanita yang terdengar lebih tenang mengalun.

Lelaki itu ingin memutar balik tubuhnya dan melihat siapa wanita itu saat ia merasakan pisau di lehernya menekan lebih dalam ketika ia hanya bergerak beberapa centi dari tempatnya. Sedikit rasa hangat mengalir dari lehernya. Pintarnya, seseorang yang dipanggil Jessie ini mengetahui dengan akurat dimana letak pembuluh arteri tanpa merabanya sedikitpun. How clever!

“Kau pikir apa yang dilakukan seseorang yang baru saja mengalami luka tembak tengah mengendap-ngendap di ruangan seperti mencari sesuatu, Hyo,” jawab Jessica masih dengan tangannya yang mengarahkan pisau ke leher lelaki di depannya yang berdiri menyampinginya.

“Jessie, please…” Hyoyeon kembali bersuara, “jika ada yang mendengar kita dan melihat apa yang terjadi, kita bisa berada dalam masalah,” lanjutnya dengan nada yang lebih tegas.

“Kau tak akan menggoreskan pisau itu di leherku.” Ucap lelaki itu ketika baru saja ia merasakan pisau di lehernya melonggar, kembali siaga seperti semula.

“Siapa yang bilang aku tidak akan melakukannya?”

“Aku—“

BRUK!

Rasa sakit kembali menjalari kepala lelaki tersebut saat ia rasakan seseorang memukul tengkuknya. Ia jatuh tersungkur dengan pandangan yang mengabur. Yang terakhir kali ia lihat adalah siluet dua orang wanita yang berdiri di hadapannya.

.

.

.

“Sudah kubilang, dia pasti terlibat dengan ‘orang-orang itu’, Hyo. Dia berbahaya!”

“Kita tak memiliki bukti, Jess. Dia mendapat luka tembak dari ‘orang-orang itu’ . Kau terlalu menganggapnya sulit.”

Suara-suara yang terdengar itu mengiringi lelaki tersebut dalam mencapai kesadarannya. Ia bisa mendengar suara-suara familiar yang baru saja ia dengar tadi tengah berdebat dan tidak berada jauh darinya.

Saat pandangannya kembali normal, ia bisa melihat dua orang wanita—yang satu berambut pirang dan yang lainnya berwarna coklat—yang berdiri tidak jauh darinya tengah berdebat satu sama lain. Mengernyitkan alis untuk mendapat penglihatan yang lebih baik, ia meneliti wajah kedua gadis tersebut dan tersenyum saat mengetahui sepertinya wajah-wajah mereka tidak asing. Oh God! How lucky he is!

Seseorang yang memiliki rambut pirang—yang ia tebak bernama Hyo—melirik kearahnya dan kemudian diikuti oleh temannya yang satu lagi—ia yakin yang bernama Jessie dan orang yang sama yang menodongkan pisau ke arah lehernya.

“Kau sudah bangun?” tanya Hyo meski bukan dengan nada yang lembut dan ramah. Jessica—atau Jessie—tetap melihat kearahnnya dengan pandangan yang tajam.

Lelaki berkulit hitam itu tak menjawab juga tapi juga tak merespon.

“Jawablah selagi mulutmu belum aku robek dan jahit. Seperti yang terjadi dengan lukamu.” Ucap Jessica dengan nada yang dingin. Entah mengapa, mengetahui bahwa lelaki ini terlibat dengan ‘orang-orang itu’ membuat hasrat yang dulu pernah muncul dan menguasainya kembali lagi dengan besar yang sama. Rasa ingin membunuh.

“Jessica, enough!”

Hening.

“Psssttt—“

Kedua gadis itu melirik kearah lelaki yang mereka ikat di sofa dengan kain.

“Psssttt—psstttsfufufufu,” terdengar suara cekikikan dari arah lelaki di hadapannya.

“Look, Hyo. I think he’s psycho.”

Hyoyeon mencoba mendekati lelaki yang masih cekikikan sambil memalingkan wajahnya kearah samping itu, “Excuse me, Mr. Apa ada badut disini?” jujur, Hyoyeon juga menjadi sedikit curiga dengan lelaki di hadapannya ini. Bukan karena alasan yang sama dengan Jessica, ia curiga lelaki ini sedikit tidak waras.

“Aku kira mereka yang berhasil hidup adalah orang-orang yang menyeramkan dengan codet di wajah mereka.” Ucap lelaki itu dengan seringai di wajahnya sambil menatap kearah dua gadis dihadapannya.

What? Mereka yang berhasil hidup? Oh, mungkin salah satu diantara Jessica atau Hyoyeon harus menelpon pihak rumah sakit jiwa sebentar lagi.

“Apa maksudmu kami harus punya codet di wajah kami, begitu?!” bentak Jessica dengan suara cemprengnya, bukan dingin. Terkadang gadis itu memang selalu salah tempat bila menyangkut suaranya.

“Tak kusangka kalian hanya mahasiswi. Dan coba aku tebak, ini…asrama, iyakan?”

“Ada masalah bila kami hanya mahasiswi?” Hyoyeon mencoba untuk menanggapi dengan kalimat sesabar mungkin. Mencoba menghindar dari emosi agar tak seperti sahabat di sampingnya. “dan apa maksudmu dengan ‘mereka yang berhasil hidup’?”

Lelaki itu kembali menampakan seringainya. Ia mengira bahwa ia akan menemukan orang-orang dengan baret di wajah mereka dan wajah yang sangar atau dua gadis yang berada di tempat prostitusi gelap menjalankan bisnis terlarang—mengingat mereka adalah orang-orang yang berhasil hidup.

Tapi ia malah menemukan dua gadis mahasiswi dengan wajah yang mirip dengan foto yang pernah sahabatnya berikan padanya untuk menjadi petunjuk ia menemukan dua gadis tersebut.

Meski begitu, ia tak boleh meremehkan keduanya. Meski terlihat sama seperti orang biasa, pasti dua gadis ini sangat berbeda dari orang-orang biasanya. Mengingat mereka adalah ‘orang-orang terbaik yang tersisa dari mereka yang terbaik’. Atau mungkin, inilah cara mereka menyamarkan identitas mereka. Lelaki tersebut kembali mengukir seringainya, memikirkan kemungkinan yang terakhir. How clever they are!

“Katakan pada kami, siapa kau sebenarnya?” tanya Hyoyeon. Kali ini dengan nada yang sedikit mengancam, Jessica masih setia mengarahkan tatapan tajam kearah lelaki tersebut.

Hening. Tak ada yang bersuara dari kedua pihak selama beberapa saat

“Hyo, kurasa lebih baik kita memberitahu pihak asrama. Biar mereka yang menangani dia.” Jessica masih tak mengalihkan pandangan tajamnya kepada lelaki itu ketika ia mengucapkan kata-katanya.

Hyoyeon mengangguk. Baru saja mereka berbalik dan berjalan kearah telepon dinding—untuk memberitahu pihak asrama—saat lelaki tersebut membuka mulutnya.

“Kim Jongin.”

Hyoyeon dan Jessica kembali melirikkan kepala mereka kearah lelaki itu dengan alis yang berkerut. “Kurasa kalian perlu tahu namaku, mengingat kita akan bekerja sama.”

Hyoyeon yang pertama barulah Jessica ketika mereka membalikkan badan dengan alis yang terangkat. Kerjasama?

“Aku tahu siapa kalian,” ucap Jongin sengaja memberi jeda di kalimatnya dengan seringai yang kemudian terukir, ia kembali melanjutkan, “Senang bertemu dengan kalian, 002 and 005.”

Dan kata-kata terakhir yang keluar dari bibir lelaki itu berhasil membuat kedua gadis tersebut terpaku dengan pandangan waspada yang mengarah kepadanya.

This is not good…

 TBC

 Hai!! Update lagi nih, maafkan karena sempet ngilang lamaaaaaa banget. Itu karena aku lagi hiatus hehe tapi sekarang karena liburan jadi akan aaku usahain buat update terus cerita. Oh ya untuk cerita yang ntar aku update, liat aja ya. Soalnya aku bakalan fokus untuk beberapa cerita dulu mengingat banyak bgt cerita yang aku buat(aku seneng bikinnya tapi suka males nerusinnya hehe) Last word, Read and Review dont forget about it :))

 

19 thoughts on “G-A-M-E-O-V-E-R (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s