[Freelance] Full Moon (Chapter 1)

fullmoon

Author : RYN

Length : Multichapter

Rating : PG 17

Cast :

@ Taeyeon SNSD

@ All EXO member

Other : find it by yourself

Genre : Romance, Fantasy, Comedy(?)

 

Special thanks to reader yang sudah mengirim poster buatannya.

Disclaimer : seluruh plot adalah milikku. Cast milik tuhan dan orang tua mereka.

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

Warning typo bertebaran di mana-mana~

Chapter 1

 

Dia akan datang…

Pasangan sejatimu akan datang..

Aroma tubuhnya menarik kalian…

Begitu mengusik hingga tak sanggup berpaling…

Kehadirannya menyempurnakan kalian…

 

***

Auwww~

Suara lolongan sayup-sayup terdengar memecah kesunyian. Malam makin mencekam, bulan purnama yang bersinar sangat terang di atas sana tampak sangat indah. siapapun yang melihat ke atas pasti sangat terpesona dengan keindahannya, bagaikan dewa dewi yang sengaja menjalin suatu maha karya yang sempurna. keberadaannya begitu kontras berbeda dengan kehidupan gelap di bawah yang makin meluas. Tak ada yang tahu di balik keindahan yang terpancar, bulan purnama mengandung suatu arti yang sangat sakral.

Hutan abadi. Begitulah orang-orang menyebutnya. Hutan rimba yang gelap gulita, tak ada seorangpun yang berani mengorbankan dirinya masuk kesana. Mitos mengatakan, hutan di huni oleh makhluk-makhluk mistis dan penyihir-penyihir jahat yang tidak menyukai kehadiran manusia. lebih dari itu, setiap bulan purnama, lolongan mengerikan selalu terdengar menggema di hampir seluruh penjuru hutan.

Sebuah kota kecil yang berada cukup jauh dari hutan itu, kini tampak seperti kota mati. dalam waktu semalam, suasana di sekitar menjadi begitu menakutkan. Banyak rumor yang tersebar, makhluk mengerikan akan muncul dari dalam hutan dan memangsa siapapun yang berani berjalan-jalan di malam hari saat bulan purnama. Ada yang mempercayainya, ada pula yang tidak. tentunya, ini hanyalah sepenggal rumor yang berkembang dari mitos yang ada. Di zaman modern, manusia hanya ingin mempercayai kisah nyata. Makhluk mistis dan para penyihir jahat hanyalah dongeng yang sering di bacakan orang tua kepada anak-anak mereka. hingga saat ini, mereka masih mempercayai hal itu. bukankah mempercayai sesuatu yang di lihat itu jauh lebih penting daripada mendengar sesuatu yang omong kosong? Jika mereka belum memiliki bukti nyata, rumor itu pun akan tetap menjadi rumor yang kebenarannya masih di pertanyakan.

Namun, buktinya, kota kecil yang telah ada sejak beberapa ratus tahun yang lalu selalu di rundung ketakutan setiap kali mendengar suara aneh itu dari dalam hutan. tidak ada yang berani kesana untuk memastikan, mereka lebih memilih tinggal dan menunggu. Akhirnya, perlahan-lahan keyakinan mereka mulai goyah, bahwa sosok yang menakutkan dari penunggu hutan abadi itu mungkin benar ada.

Auwww~

Suara itu lagi. seperti sedang memberi tanda satu sama lain karena detik berikutnya, lolongan itu terdengar saling menyahut. Suaranya makin menjauh dan akhirnya menghilang. Hutan itu kembali tenang. para penduduk kota sudah terbiasa mendengarnya, namun terkadang bulu kuduk mereka bergidik ngeri jika menerka-nerka binatang apa yang mengeluarkan suara semengerikan itu. atau yang tidak ingin mengambil resiko menambah ketakutannya, mereka memilih mengabaikannya.

Di dalam hutan, suara geraman yang terkesan marah dan tak sabaran sesekali terdengar di sertai dengan bunyi kaki yang bergerak cepat ke depan. Meninggalkan hembusan angin serta bunyi gemerisik daun-daun kering yang terpijak. Bukan dua, tapi empat kaki. Bukan satu, melainkan gerombolan binatang yang tengah berlari dengan kecepatan lebih dari binatang lain. mereka berlari hingga akhirnya berhenti di sebuah tempat. Di balik rimbunan pohon yang menjulang tinggi ke atas, di tengah hamparan rumput kering yang lapang, gerombolan binatang itu tampak beristrahat disana. nafas mereka tersengal-sengal, bukan karena lelah melainkan karena begitu bersemangat.

Satu, dua, tiga…semuanya berjumlah enam ekor. Kawanan serigala berukuran besar. Dua di antaranya sedikit lebih besar di banding empat lainnya. Ke enamnya memiliki warna berbeda-beda dengan warna mata yang juga berbeda.

‘kita mengalahkan mereka lagi.’ serigala dengan warna bulu hitam pekat berjalan ke sisi pohon. Moncongnya sedikit membuka, menampakkan seringaian khas tanda puas.

Belum ada yang menanggapinya. Ke limanya masih sibuk memilih tempat untuk beristrahat.

‘aku sudah menduganya.’ serigala dengan bulu berwarna coklat ke emasan menyahutinya dengan malas, terkesan tak tertarik. dia berhenti di bawah salah satu pohon yang cukup besar dan langsung merebahkan tubuhnya disana.

Serigala berbulu hitam tadi hanya mendengus kasar, tidak menyukai nada komentarnya.

‘seperti biasanya, Baekhyun hyung tidak pernah tertarik pada apapun.’ Kini serigala berwarna abu-abu yang berkomentar. Dia melirik sekilas ke sampingnya dan menyeringai sinis.

Baekhyun mengangkat kepalanya dan menggeram, menandakan dia sedang tidak ingin di ganggu apalagi dengan kalimat sinis itu. dia kemudian kembali meringkuk setengah lingkaran sambil bertumpu pada kedua tangannya. Ekornya mengibas menyentuh kepalanya, tapi itu tak membuatnya merasa terusik.

‘sama sepertinya.’ serigala hitam pekat itu mengangguk ke depannya, merujuk ke arah serigala dengan warna putih kecoklatan yang meringkuk tidak jauh dari mereka. sejak pertama mereka tiba di tempat itu, serigala itu langsung merebahkan tubuhnya disana. Mengangkat kepalanya pun tidak, seolah peduli dengan suasana berisik karena percakapan mereka. dia seperti larut dalam dunianya sendiri, memejamkan mata tapi tetap mendengar.

‘serigala pemalas.’

Serigala itu tetap tak bergeming meskipun mendengar suara ejekan itu dengan sangat jelas.

‘berhentilah mengganggunya Kai. kau sudah tahu Do tidak akan terpengaruh dengan ucapanmu.’ Serigala berbulu putih polos menegur.

Kai hanya mendengking kecil sebelum berbalik mencari tempat yang sedikit jauh dari mereka untuk merebahkan tubuhnya.

‘kurasa satu-satunya yang membuat mereka tertarik adalah saat bertemu dengan Mate, hyung.’ Serigala berwarna coklat hitam menyela. Dia sedikit terlonjak mendengar Baekhyun menggeram padanya.

‘sebaiknya kau diam sebelum aku memaksamu Chanyeol.’ desisnya.

Chanyeol hanya nyengir, memperlihatkan deretan giginya lalu berjalan menjauh darinya. dia tak ingin, begitu emosi saudaranya itu terpancing, tubuhnya menjadi sasaran. Meskipun ia sedikit lebih besar darinya, Baekhyun yang marah tetap saja menyeramkan dan terkadang, ia tak mampu mengalahkannya.

‘aku juga ingin segera bertemu dengan Mate.’ Kai tiba-tiba berujar. ‘jangan melihatku seperti itu hyung. Kau pasti juga menginginkan hal yang sama denganku.’ tambahnya ketika menyadari tatapan serigala putih itu padanya.

‘kita masih terlalu muda untuk itu Kai. kita tidak mungkin secepat itu menemukannya.’ Suho, serigala berbulu putih polos, yang juga merupakan saudara tertua mereka menanggapinya dengan helaan nafas panjang.

Kai membungkam ketika selesai mencerna maksud kalimat alpha-nya. Baekhyun membuka matanya. sesuatu yang menyangkut tentang Mate ini selalu mengusiknya. Sejak kakek menceritakan tentang Mate dan proses imprint pada mereka, dia menjadi sangat tertarik dan tak sabar ingin bertemu dengan seseorang yang telah di takdirkan untuknya selamanya itu. Do pun demikian. Dia tidak bergerak dari tempatnya, tapi siapapun tahu, dia juga mendengarkan pembicaraan mereka. setiap serigala seperti mereka memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap pasangan mereka, begitupun dengannya. hanya dengan membicarakannya saja sudah membuatnya berdebar-debar.

Suasana di antara mereka mendadak hening. Masing-masing berpikir dalam-dalam atas kalimat Suho sembari membayangkan seperti apa nanti wajah Mate mereka. Tidak ada yang salah dengan ucapan Suho, mereka memang masih terlalu muda. Emosi dan amarah mereka masih belum stabil. Jika nanti bertemu Mate secepat ini, bukan tidak mungkin mereka akan berakhir dengna melukainya.

‘hyung, apa menurutmu bertemu Mate dalam waktu dekat itu mustahil?’

Pertanyaan Chanyeol membuat beberapa pasang mata langsung mengarah padanya seolah dia baru saja mengatakan sesuatu yang aneh. Chanyeol tak peduli dan fokus menunggu jawaban Suho. Yang di tanya, terdiam sejenak.

‘sulit untuk memastikannya. Mate bukanlah sesuatu yang bisa kita temukan dengan mudah’ jawabnya hati-hati.

‘kakek mengatakan, kita akan tahu dia adalah Mate meski kita tak pernah melihatnya.’ Sehun menyela.

‘terima kasih telah mengingatkan.’ Baekhyun mengomentarinya dengan nada sinis. Sehun lebih memilih mengabaikannya. Baekhyun akan semakin menjengkelkan jika ia meladeninya.

‘so, bagaimana kita melakukannya?’ Kai penasaran. ‘penjelasan kakek terlalu bertele-tele. Kau tahu kakek tua itu agak menyebalkan.’ Tambahnya acuh.

‘jangan membicarakan kakek seperti itu!’ Suho langsung menegurnya.

‘itu fakta. Jangan bersikap seolah-olah kau tidak berpikiran yang sama denganku hyung.’ Kai menjawab dengan santai.

Suho menggeram.’perlu kau ketahui, aku tidak berpikir seperti itu!’

Kai menggerakkan kepalanya, seakan-akan mengejeknya lalu menatap lurus padanya. ‘baik. Sekarang, katakan padaku apa yang kau tangkap dari penjelasan kakek?’ tanyanya setengah mendesak. ‘mengenai Mate dan Imprint, aku sama sekali tidak mengerti!’

‘itu mudah.’ Baekhyun menyahut. ‘gunakan otakmu.’ ejeknya.

Kai menggeram. Kemarahannya tersulut. Dia menatap tajam ke arah Baekhyun. Baekhyun mengangkat kepalanya, ikut menantangnya.

‘jangan pikir aku takut padamu hyung.’ desisnya.

Baekhyun menyeringai, ‘dengan senang hati.’

Suho menggeleng-gelengkan kepalanya. Baekhyun dan Kai mulai saling menyerang, namun anehnya tidak ada seorang pun yang ingin melerai mereka. Do kembali memejamkan matanya, serigala berwarna putih kecoklatan itu merasa bosan dengan pemandangan yang setiap hari di lihatnya. Sehun dan Chanyeol hanya diam menikmati pertunjukan itu. terbiasa melihatnya, tidak membuat mereka berniat ingin memisahkan keduanya.

‘alright stop!’ Suho berseru keras, menghentikan keduanya. ‘that’s enough!’

Baekhyun dan Kai berhenti tapi mereka masih saling melemparkan tatapan tajam.

‘mungkinkah gadis yang menjadi Mate sama seperti kita?’ Chanyeol melirik Sehun. dia mengabaikan tiga pasang mata yang kembali memandanginya.

‘maksudmu serigala?’

Chanyeol menggeram pelan. ‘sopan sedikit terhadap hyungmu.’ Desisnya.

‘jangan memasang tampan kesalmu padaku.’ Sehun hanya memberinya tatapan dingin. ‘sana, tanya Suho hyung.’ dia menganggukkan kepalanya ke arah Suho yang memandangi mereka. ‘hyung tentu tahu karena dia mengerti penjelasan kakek.’ Tambahnya dengan kesan menyindir.

‘bagaimana kau bisa memanggil Suho dengan tambahan hyung sementara padaku tidak.’ gerutu Chanyeol. Kai mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti suara tawa mengejek membuat Chanyeol langsung menggeram padanya. 

Chanyeol mengurungkan niatnya ketika melihat wajah Suho yang dipenuhi aura tidak mengenakkan.

‘bagus sekali. kalian sekarang mengejekku.’ Ujar Suho sarkastik, menatap tajam Sehun sebelum menatap mereka satu persatu. ‘penjelasan kakek, bukankah kalian mendengarnya sendiri? kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu dengannya, jadi stop menanyakan sesuatu yang aku sendiri juga tak tahu jawabannya!’ serunya kesal.

‘well itu sangat membantu.’ Gumam Baekhyun sinis.

Suho memandangnya dengan geram. ‘kau tahu bukan, aku bisa mendengarmu dengan sangat jelas?’ dia tidak menyukai tanggapan Baekhyun yang seakan-akan menyudutkannya.

Baekhyun hanya memberinya pandangan kosong. Suho yang jengkel padanya tidak menyurukan keinginannya untuk tidak membalasnya. Menurutnya, Suho secara tidak langsung sudah menurunkan moodnya mengenai pembicaraan seputar Mate.

‘gunakan instingmu Baekhyun.’ dengus Suho kasar. ‘kau tidak bisa langsung mengatakan gadis yang kau temui adalah Mate-mu sementara kau sendiri tidak bisa mengenali aroma tubuhnya.’ jelasnya realistis.

Baekhyun terdiam. semuanya ikut diam. tidak ada yang berani atau berniat berkomentar setelah mendengar penjelasan alpha mereka.

‘aku..masih belum mengerti.’ Kai kelihatan frustasi.

‘sama denganku.’ Chanyeol bergumam. Frustasi sepertinya. ini penjelasan yang singkat tapi mereka masih belum memahaminya.

Do bangun dan duduk di tempatnya. sebelah kakinya terangkat ke atas, mengusap-usap kepalanya dengan cakarnya sementara Sehun berbaring melingkar di atas rumput, merebahkan kepalanya dengan malas di atas kedua tangannya. Suho mendengus pelan. tidak ada pilihan lain selain menjelaskan pada mereka bagaimana Mate dan proses Imprint itu berdasarkan penjelasan kakek beberapa hari yang lalu.

‘serigala seperti kita bisa mengenali Mate dengan menggunakan insting. Tapi itu bukanlah satu-satunya cara mengetahui Mate kita.’ Suho memulai penjelasannya. Dia berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sekiranya bisa mereka pahami. Semuanya mendengarkan dengan serius. meskipun mereka tahu tentang itu, tetap saja penjelasan Suho lebih baik dibandingkan kakek mereka. ‘kita bisa mengenalinya dengan aroma tubuhnya. setiap Mate memiliki aroma yang berbeda-beda dan hanya pasangannyalah yang bisa mengetahuinya.’

Suho menghentikan penjelasannya sejenak lalu memandangi mereka satu persatu untuk mengetahui apakah penjelasannya itu bisa di mengerti atau tidak. melihat tidak ada yang berbicara ataupun menginterupsinya, dia kembali melanjutkan.

‘kakek pernah bilang, aroma tubuh Mate merupakan sesuatu yang sangat menarik sekaligus mengusik. Ketika insting memberitahu kita bahwa gadis itu adalah Mate yang terpilih, kita akan dengan mudah mengetahui aroma tubuhnya meskipun dalam jarak yang jauh. hanya Mate-lah yang bisa mengenali Mate-nya.’ Ulangnya penuh penekanan.

Belum ada yang berbicara. mereka terlalu kagum pada penjelasan Suho. Mereka tidak menyangka perasaan bertemu Mate akan seluar biasa itu. jantung mereka berdebar-debar, tak sabar ingin bertemu dengan gadis yang menjadi Mate mereka.

‘jadi seperti itu rasanya bertemu Mate…’ Chanyeol berbisik kagum.

‘terdengar mudah bagiku.’ Kai dengan komentarnya yang santai. tapi siapapun tahu kalau dia juga merasakan hal yang sama seperti mereka.

‘aku belum selesai.’ Suho menegurnya sekaligus memberinya pandangan kesal. Kai menyeringai seolah mencibirnya. ‘insting pula yang membuat kita mudah mengenalinya dan mengetahui keberadaannya. Gadis yang menjadi Mate, bisa dikatakan adalah separuh dari diri kita. Hanya dialah yang bisa menyempurnakan kita. Pertama kali bertemu dengannya, saat itulah proses imprint berlangsung.’ ujarnya mengakhiri penjelasannya. ‘atau seperti itulah yang ku ketahui.’ Gumamnya pelan, seolah tak yakin.

Baekhyun memandanginya dengan heran. kalimat Suho yang terakhir memaksanya berpikir. Kakek belum memberikan penjelasan yang detail mengenai proses imprint hingga mereka tak memiliki petunjuk seperti apa proses itu dan bagaimana. Suasana kembali hening. bahkan Kai pun malas mengeluarkan suaranya. mereka memilih diam sambil sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Tiba-tiba Do bangkit. Dia menangkap suara yang perlahan mendekat ke tempat mereka. Suho dan lainnya pun mengikutinya.

‘mereka datang.’ gumam Do tanpa melepaskan tatapannya dari depannya.

Semuanya fokus ke arah itu. suara kaki yang berlari di atas rumput dan dedaunan kering dengang kecepatan tinggi menuju tempat mereka, terdengar makin jelas.

‘Finally.’ Dengan malas, Baekhyun berkomentar begitu tahu siapa yang datang.

Hanya beberapa menit setelah ucapannya, seekor serigala berwarna putih ke emasan melompat dari balik semak di depan mereka. *Kris*

Serigala itu memandang tajam ke arah Baekhyun. ‘kau tidak berpikir, aku tidak akan mendengar ucapanmu tadi bukan?’

‘aku tidak tahu.’ Baekhyun memasang tampang polosnya.

 Kris hanya mendengus kesal. *tentu saja. itu ciri khasnya*

Satu persatu serigala lain muncul dari tempat yang sama. Semuanya berjumlah sama dengan mereka. enam ekor serigala. Segera setelah mereka berkumpul, Kai mulai bersorak dan mengejek mereka.

‘kalian kalah lagi.’

Ke enam serigala itu memandangnya dengan geram, tapi Kai terus saja tersenyum mengejek mereka. serigala berwarna kuning ke emasan tampak kesal di banding yang lainnya.

‘kau bisa mengambil hadiahmu sekarang.’ ujarnya sarkastik.

‘kau hanya cemburu.’ Kai tidak mau kalah.        

‘dan kau terlalu percaya diri.’ Gerutu serigala itu.

Kai menyeringai. ‘terserahlah. Lagipula kau sudah kalah.’ Balas Kai acuh tak acuh.

‘abaikan dia Chen. Kau hanya membuang-buang waktu dengan si mulut besar itu.’ Lay langsung menegur saudaranya yang terlihat mulai kehilangan kesabaran karena sikap Kai.

‘ya Lay gege benar. besok-besok kita tidak usah bermain dengan Kai lagi.’ Tao menimpali.

Kai mencibir. ‘terserahlah. Lagipula kalian memang selalu kalah.’

‘kami pernah menang!’ Tao tersulut. ‘maksudnya kami kadang-kadang kalah tapi itu tidak semuanya!’ serunya membela diri.

Kai menyeringai dengan tatapan polosnya. ‘really?’

‘itu benar!’

Kris menghela nafas panjang sembari menutup mukanya dengan telapak tangannya. *dasar kekanak-kanakan* rutuknya.

 ‘aish bisakah kau diam? aku sedang berusaha istrahat disini!’ Sehun membentaknya.

Tao terlonjak kaget. ‘bilang itu pada saudaramu!’ balasnya.

Dan perdebatan itu pun berlangsung sama seperti biasanya.

‘apa?’ Kai memasang tampang polosnya. ‘aku tidak melakukan apa-apa disini.’

‘kau selalu berhasil membunuh mood orang.’ serigala berwarna silver menggeleng-gelengkan kepalanya. Kai menggeram, tidak setuju dengan ucapan Luhan padanya.

‘sama dengannya.’ Kris menyelanya sembari melirik ke arah Baekhyun yang kini menggeram padanya.

‘hei aku hanya berkata apa adanya!’ Kai membela diri.

Serigala berwarna hitam pekat yang hampir sama dengannya menyeringai. ‘terluka Kai?’ sindirnya.

‘diamlah panda raksasa!’

‘perlu aku ingatkan, aku bukan panda tapi serigala!’

‘aish berisik!’ Sehun berseru keras. kelihatan sangat marah. tapi itu tak menghentikan perdebatan mereka. sesekali Chen ikut membantu Tao. Sehun pun meladeni mereka bersama Kai.

‘ingatkan aku mengapa semua ini berawal.’ Xiumin berujar pelan pada Suho.

Suho menatapnya. ‘itulah mengapa aku tidak pernah setuju dengan permainan ini sejak awal.’

Tidak sampai disitu, ke empatnya mulai melibatkan saudara mereka yang lain.

‘gege!’ Tao berlari dan merengek pada Xiumin dan Luhan. ‘Kai dan Sehun membullyku.’

‘ya panda! Kemari kau!’ Kai berteriak memanggilnya.

‘aku bukan panda bodoh!’ bantah Tao tidak terima.

Mata Kai membulat sebelum akhirnya berteriak lagi.  ‘Suho hyung. Tao tidak sopan padaku!’ protesnya.

‘itu karena kau memanggilku panda!’

‘yaa!’ Kai mulai mengejar Tao.

‘gege tolong aku!!’ Tao berteriak sembari berusaha menyelamatkan nyawanya.

Sehun menatap Chen sinis. ‘kau tidak ingin membantu saudaramu hyung?’

Chen mendengus kasar. ‘shut up!!!’

Sementara itu, di situasi yang lain. Kris yang kini berhadapan dengan Baekhyun saling menggeram dan mungkin sebentar lagi akan saling menyerang. Tubuh Kris yang lebih besar darinya tidak membuatnya gentar.

‘apa sekarang kita harus menyaksikan kalian lagi? sungguh membosankan.’

Kris dan Baekhyun sontak menoleh. ‘excuse me?’

Luhan tersenyum polos. ‘kalian mendengarnya.’ ucapnya tanpa rasa bersalah.

Kedua serigala itu menatapnya. mata mereka menyiratkan kemarahan. Luhan tidak bergeming.

‘baiklah semuanya!’ suara Xiumin bergemuruh membuat mereka semua berhenti. serigala berwarna coklat terang itu menatap mereka dengan geram. ‘sebaiknya kalian menghentikan perdebatan tidak berguna sebelum salah satu dari kalian terluka.’ ujarnya memperingatkan.

‘katakan itu apda serigala yang tidak ingin mengakui kekalahan mereka.’ sungut Kai sambil melontarkan pandangan tidak suka pada Tao.

Kris dan lainnya yang tentu saja tidak setuju dengan ucapannya mulai melayangkan tatapan menusuk ke arahnya. Xiumin memberi mereka tatapan peringatan, jangan mencoba mengabaikan ucapannya.

Auwww~

Suara lolongan yang terdengar dari jauh menyentakkan mereka. itu panggilan khusus untuk mereka.

‘kita harus segera pergi sebelum ayah dan kakek menghukum kita.’ Suho menyarankan dimana semuanya menganguk setuju.

Ke-12 serigala itu tiba-tiba berubah menjadi manusia. siapapun tak menyangka, makhluk buas seperti mereka adalah jelmaan dari 12 anak muda yang sangat tampan. Meskipun mereka baru berumur 12-14 tahun, siapapun yang melihat mereka, pasti akan terpikat. Mereka kemudian berjalan ke balik pohon dimana pakaian mereka tersimpan disana. setelah memakainya, mereka pun meninggalkan hutan itu.

Auwww~

Mereka menghentikan pembicaraan mereka. kepala mereka terangkat, menoleh ke asal suara  yang terdengar dari jarak yang jauh. itu panggilan khusus untuk mereka.

‘kita harus segera pergi sebelum ayah dan kakek menghukum kita.’ Suho menyarankan. Semuanya otomatis setuju.

Ke 12 serigala itu pun tiba-tiba berubah wujud menjadi manusia yang polos. Siapapun yang mungkin melihat mereka akan terkejut, tak menyangka kalau makhluk buas yang tadinya beristrahat disana adalah jelmaan dari 12 anak muda yang sangat tampan. umur mereka berjarak 12 hingga 14 tahun, namun siapapun yang melihat mereka, pasti akan terpikat karena ketampanannya.

Suho dan lainnya berjalan ke balik pohon besar dimana mereka menyimpan pakaian. Satu persatu mereka memakai pakaian mereka kemudian segera meninggalkan hutan itu.

 

***

“mommy, berapa lama kita akan tinggal disana?” Taeyeon kecil bertanya pada ibunya ketika mereka telah berada di dalam pesawat.

Ibunya terkekeh pelan sambil memakaikan sabuk pengaman padanya.

“sekitar sebulan honey. Kita juga harus menghadiri acara keluarga, mengunjungi paman dan bibi, kemudian tinggal bersama halmoni.” Jelasnya dengan sabar.

Taeyeon kecil hanya manggut-manggut mengerti. sebenarnya, dia sendiri tidak punya bayangan seperti apa wajah neneknya karena dia belum pernah bertemu dengannya.

“nah sudah selesai.” Ibunya tersenyum padanya. Setelah memastikan sabuk pengaman putrinya telah terpasang baik, diapun beralih memasang sabuk pengamannya sendiri. dia menoleh kesamping dan keningnya mengerut.

“ada apa honey? Apa kau tidak senang akan bertemu dengan halmoni?” tanyanya lembut mengelus pipi putrinya.

“molla.” Taeyeon menjawab singkat. “aku senang bertemu dengan daddy, tapi aku belum pernah bertemu dengan halmoni. Aku sama sekali tidak mengenalnya. bagaimana kalau halmoni tidak menyukaiku?” ucapnya polos.

Ibunya tertawa ringan. “honey, kau sudah pernah bertemu dengan halmoni dulu.” Taeyeon mengeryi, belum mengerti kalimat ibunya. “waktu masih bayi, kita pernah tinggal di rumahnya. Halmoni adalah orang yang baik, yah meskipun dia sedikit aneh tapi kurasa dia pasti akan menyukaimu. Karena kau adalah cucunya.” Jelasnya panjang lebar di sertai kedipan matanya.

Taeyeon akhirnya tertawa. Ibunya selalu punya cara menaikkan moodnya. Namun beberapa saat kemudian, raut wajahnya berubah bingung.

“mommy, halmoni orang seperti apa? apa dia seperti halmoni tetangga kita?” tanyanya.

Ibunya sedikit bingung bagaimana menjelaskan pada putrinya. halmoni yang dimaksud putrinya adalah tetangga mereka. Rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah mereka. Wanita tua itu terkenal cerewet dan suka memarahi anak-anak, meskipun begitu, Taeyeon selalu datang ke rumahnya karena ia selalu memberinya permen lebih banyak dari anak-anak yang lain.

“mm…” ibunya berpikir sejenak seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagunya. “aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali. Saat mommy menikah dengan daddy dan saat usiamu 3 tahun. Seperti yang mommy bilang, halmoni adalah orang yang baik. waktu kau kecil, halmonilah yang menjagamu jika mommy dan daddy tidak ada di tempat.”

Taeyeon masih diliputi kebingungan. bagaimana mungkin neneknya menyayanginya sementara dia sendiri belum pernah bertemu dengannya. dia diam, tak ingin bertanya lagi dan perlahan-lahan diapun tertidur. Ibunya tersenyum lembut sambil membelai rambutnya dengan sayang.

*aku yakin kau pasti betah disana, Taeyeon-ah*

– – –

Pesawat yang membawa mereka akhirnya tiba di Eropa. Saat mereka tiba di bandara, ayah Taeyeon sudah menunggu mereka. pria itu sudah tak sabar melihat anak dan istrinya setelah 3 bulan berpisah karena urusan bisnis. Dari bandara, mereka langsung meluncur ke kota kecil dimana halmoni Taeyeon tinggal. Mobil itu mulai menyusuri jalan-jalan besar dan Taeyeon menikmati pemandangan jalanan itu dari kaca mobil di sampingnya. sesekali ayah dan ibunya melirik ke belakang, mereka tersenyum melihat Taeyeon yang begitu ceria.

“daddy, kita mau kemana?” Taeyeon tiba-tiba bertanya.

Ayahnya tersenyum sebelum menjawabnya. “kita akan ke rumah halmoni. Apa kau senang?” tanyanya sembari melihatnya dari balik kaca di depannya.

Taeyeon menggeleng cepat. “molla.”

Kening ayahnya mengerut, ia kemudian menoleh pada istrinya untuk meminta penjelasan dengan sikap putrinya. wanita itu memberinya senyum penuh arti dan berbisik pelan.

“kau tahu..dia belum pernah bertemu dengan omonim.”

Suaminya pun manggut-manggut mengerti lalu terkekeh pelan.

Perjalanan semakin panjang. Entah sudah berapa kota kecil yang mereka lewati namun Taeyeon tak pernah bosan dengan pemandangan yang tersuguh di setiap jalan yang mereka lalui. Sinar lampu di hampir setiap sudut kota membuat kota-kota kecil itu menjadi terang benderang. Taeyeon terpukau dengan keindahannya meski hanya melihatnya dari dalam mobil. Perlahan, mobil mereka mulai meninggalkan suasana terang itu menuju ke sebuah kota kecil yang cukup jauh dari keramaian. Sangat berbeda dengan kota-kota kecil yang mereka lalui sebelumnya, kota ini hanya memiliki beberapa lampu yang tidak cukup menerangi semua jalanan. Alhasil jalanan yang di laluinya tampak remang-remang walaupun telah dibantu dengan lampu depan mobil.

Taeyeon tiba-tiba terpaku, jantungnya berpacu dengan cepat, tubuhnya mendadak merinding. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil. Entah mengapa dia merasa seperti sedang di awasi. Entahlah, di luar sana tampak sangat gelap, pohon-pohon yang sangat besar bahkan hampir tak terlihat wujudnya jadi sulit baginya untuk memastikan siapa dan apa yang ada dibalik kegelapan itu. di tambah lagi dengan suasana yang hening, menandakan mereka telah jauh meninggalkan kota yang tadi mereka lalui.

“honey, kau baik-baik saja? apa kau kedinginan?”

Taeyeon menoleh. ibunya memandangnya dengan cemas karena melihatnya mengusap-usap kedua lengannya sendiri. Taeyeon melihat ke samping kanan dan kirinya, memastikan apa yang dirasakannya itu hanya khayalannya saja atau sesuatu yang di luar sana benar-benar mengawasinya.

“honey..”

Panggilan ibunya kembali membuat Taeyeon menatapnya. ibunya terlihat sangat cemas. Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa, tidak mungkin ia mengatakan pada kedua orang tuanya tentang perasaannya saat ini. perasaan aneh yang tiba-tiba menghampirinya begitu mereka memasuki kawasan ini. dia tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. Akhirnya, dia hanya mengangguk pelan. Ayahnya langsung menepikan mobilnya. pria itu memberi isyarat pada istrinya dan istrinya itu pun mengangguk lalu turun dari mobil menghampiri Taeyeon yang duduk di belakang.

Taeyeon merasa sedikit nyaman di pelukan ibunya. Ibunya membuatnya tetap hangat ketika mobil mereka kembali menyusuri jalan menuju rumah neneknya. dalam pelukan ibunya, Taeyeon tertidur pulas karena perjalanan yang panjang. Tidak berapa lama kemudian, mobil mereka pun berhenti di sebuah rumah kayu yang cukup besar, halamannya sangat luas dengan beberapa jenis bunga tumbuh disana.

“bangunkan dia.” Ayah Taeyeon menurunkan semua barang mereka dari bagasi mobil. Dia tampak letih karena harus mengemudi dengan rute yang panjang.

“honey..kita sudah sampai.” Istrinya menggoyang tubuh putrinya dengan suara yang lembut.

Taeyeon perlahan membuka matanya. dia mengucek-ucek matanya untuk beradaptasi dengan cahaya kemudian melihat sekelilingnya. Raut wajahnya bingung, tempat itu masih sangat asing baginya.

“kita sudah sampai mommy?” tanyanya dengan wajah masih mengantuk.

Ibunya hanya mengangguk pelan lalu membimbingnya turun dari mobil. Taeyeon mengerjapkan matanya beberapa kali, mulutnya sedikit membuka. Rumah kayu yang berdiri megah di depannya, sekitarnya di kelilingi pohon-pohon yang tinggi dan besar. Ini pertama kalinya melihat rumah yang terletak di tengah-tengah hutan. Cahaya lampu dari rumah tidak cukup mampu menerangi pohon-pohon di sekitarnya, bahkan mungkin di kalahkan oleh kegelapan yang menyelimuti seluruh hutan hingga sekeliling rumah itu tampak sedikit menakutkan. Namun itulah yang membuat rumah itu memiliki daya tarik tersendiri. Jika baru pertama kali ke tempat ini, orang pasti akan mengira kalau ruma itu adalah rumah hantu tapi karena ayah dan ibunya pernah datang kemari, mereka sudah terbiasa dengan suasana sekitarnya.

Taeyeon bergidik ngeri, matanya menelusuri sekelilingnya. Perasaan aneh itu mendadak muncul lagi. dia mencoba menepis perasaan itu, tapi tak bisa. sebelum ia sempat memikirkan hal-hal yang negatif lebih jauh, ibunya sudah mengajaknya masuk ke dalam rumah mengikuti ayahnya yang berjalan di depan mereka.

– – –

Taeyeon memandangi wanita yang berdiri di depan mereka dengan perasaan yang tidak menentu. Wanita itu tersenyum padanya dan diapun membalasnya dengan senyuman kaku. pertama kali melihat wanita itu, dia merasakan sesuatu yang aneh. Tatapan wanita itu padanya membuatnya sedikit tidak nyaman hingga dia harus bersembunyi di belakang ibunya.

“honey, beri salam pada halmoni.”

Taeyeon sedikit tersentak, dia menoleh pada ibunya yang tersenyum padanya kemudian kembali memandang wanita di depannya. wanita itu jauh dari kesan seorang nenek. Dengan penampilannya yang terlihat muda, dia lebih terlihat seperti bibinya.

“honey..” ibunya memanggilnya.

Taeyeon semakin tidak nyaman. wanita itu berjalan mendekatinya dan berhenti di hadapannya.

“cucuku pasti shock melihatku.” Wanita itu berbicara sambil menatapnya. “senang bertemu denganmu, Taeyeon.” sapanya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Taeyeon membungkuk hormat, “annyeong haseyo halmoni.” Balasnya sopan.

Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah ibu dan ayahnya. wajahnya tiba-tiba berubah serius. “apa dia..Erika?”

Kedua orang tua Taeyeon saling bertukar pandang sebelum ayahnya menjawabnya. “dia Erika mom.”

Taeyeon bisa melihat keterkejutan wanita itu mendengarnya dan ia bertanya-tanya dalam hati mengapa wanita itu terkejut? dan siapa itu Erika?

Wanita itu kembali menatapnya. kali ini sebuah tatapan yang tajam.

“kemarikan tanganmu.” Wanita itu menatap Taeyeon serius.

“omonim.” Ibu Taeyeon menyela tapi wanita itu langsung mengangkat telapak tangannya, menyuruhnya untuk tetap diam.

“mommy…” Taeyeon memelas. dia mulai takut pada wanita itu. tapi ibunya hanya mengangguk dan tersenyum seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.

“jangan takut Taeyeon..halmoni hanya ingin melihatnya.” ucap wanita itu.

Taeyeon ragu-ragu mengulurkan kedua tangannya. wanita itu langsung menggenggamnya dan kemudian memejamkan matanya.

Begitu ia membuka matanya, Taeyeon terkejut. sekilas ia melihat kedua mata wanita itu berwarna hijau sebelum kembali ke warna semula, coklat terang. perubahannya cukup singkat, Taeyeon kurang yakin apakah dia hanya salah lihat atau memang benar mata wanita itu sempat berubah warna. Wanita itu segera melepaskan tangannya dan menatapnya dengan ekspresi wajah yang sulit terbaca. Entah apa yang di pikirkan wanita itu, yang jelas Taeyeon menangkap ada sesuatu dari tatapan wanita itu padanya.

“kau tidak seharusnya membawanya kemari yoonsang.” Kata wanita itu pada putranya yang juga ayah Taeyeon.

Pria itu tersentak kaget sebelum membungkam. Istrinya pun ikut diam. mereka sangat paham apa maksud ucapan wanita itu.

“putri kalian tidak bisa mundur lagi. ‘mereka’ akan mengikatnya dan kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya.” Wanita itu kelihatan kecewa. “dan kalian tahu apa akibatnya jika sampai hal itu terjadi.”

Taeyeon tak mengerti mengapa ayah dan ibunya menjadi begitu sedih setelah mendengar ucapan wanita itu.

“mom, pasti ada cara yang lain..” ayah Taeyeon bersuara, “aku tidak ingin putriku sampai terluka.” ucapnya kemudian menggenggam tangan Taeyeon.

Wanita itu menggeleng lemah. “tidak ada. Seharusnya dia tidak berada disini. Ramalan itu..satu persatu mulai terbukti.” Ujarnya lirih. seperti di kejutkan oleh sesuatu, wanita itu sontak menoleh ke arah jendela. Di balik pembawaannya yang tenang, aura wajahnya tiba-tiba berubah gelap.

“omonim ada apa?” ibu Taeyeon ikut melihat keluar jendela. dia mengernyit heran karena tidak melihat apapun yang membuat mertuanya tiba-tiba bersikap aneh.

*mereka ada disana. mereka akhirnya menemukannya.* wanita itu membatin. Ia tersenyum pahit kemudian menatap Taeyeon.

“putrimu sangat lelah, sebaiknya bawa ia ke kamarnya.” ucapnya.

Ibu Taeyeon menatap suaminya. setelah mendapat respon anggukan dari pria itu, iapun langsung membawa Taeyeon menaiki tangga menuju kamarnya. 

Lantai atas rumah itu terdiri dari beberapa ruangan. tiga di antaranya adalah kamar Taeyeon, kamar ayah dan ibunya serta ruang perpustakaan kecil yang terletak saling berdampingan. hanya saja, ruang kamar orang tua Taeyeon terletak agak jauh darinya. ketika ibunya membuka pintu kamarnya, mata Taeyeon langsung membulat sempurna. rasa kantuknya tiba-tiba hilang begitu saja melihat suasana kamarnya. semua isi kamarnya di penuhi dengan nuansa pink, warna favoritnya. Dinding kamarnya serta ranjang dan selimutnya, semuanya berwarna pink.

Sebuah ranjang yang cukup besar di tata sedemikian rupa seperti ranjang putri dalam buku dongeng, beberapa boneka telah tersusun rapi di atasnya. Di samping ranjang, sebuah meja hias dengan desain yang sedikit kuno tapi tetap elegan tampak menyatu dengan suasana kamar itu. Taeyeon langsung menyerbu ke dalam kamarnya, tak tanggung-tanggung ia segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya dan mulai menggerakkan kedua tangannya merasakan kasur itu. Seperti dugaannya, kasurnya sangat empuk dan nyaman. tanpa sadar ia mulai memejamkan matanya, melepaskan penat dari perjalanan yang panjang. Ibunya yang berdiri di depan pintu hanya tersenyum menggeleng.

*omonim sudah bekerja keras untuk membuatnya senang.* gumamnya puas lalu menutup pintu kamar putrinya.

Taeyeon tiba-tiba merasakan angin berhembus pelan meniup wajahnya hingga membuatnya beringsut kecil. dia perlahan membuka matanya dan mengerjap berulang kali untuk membiaskan matanya dengan sinar lampu yang masih menyala di dalam kamarnya.

*ini dimana..?* gumamnya dalam hati. suasana kamar masih asing baginya. Dia mencoba mengingat kejadian sebelumnya hingga sampai di kamar ini. *oh…* mulutnya membentuk huruf O lalu tertawa kecil, rupanya tadi ia ketiduran sesaat setelah menyentuh kasurnya. Taeyeon memandang sekelilingnya dan berakhir ke arah jendela di sampingnya. pintu jendela itu berulang kali bergoyang karena angin.

*sepertinya aku lupa menutupnya* ia membatin sambil bangkit dari ranjangnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Beberapa helai rambut kecilnya nampak bergoyang karena angin yang berhembus dari jendela. Taeyeon menyandarkan kedua lengannya di jendela sembari memandangi sekelilingnya. Di luar sana tidak ada satupun yang bisa di lihatnya. Semuanya terhalang oleh pohon-pohon yang besar dan gelap. Hembusan angin pelan yang menerpa wajahnya membuatnya memejamkan matanya sejenak. ia menopang wajahnya dengan satu tangannya dengan sebaris senyum menghiasi bibirnya. terkadang, kegelapan selalu membuatnya takut tapi entah bagaimana, saat melihat ke depan sana, hatinya tiba-tiba merasa hangat.

Puas menikmati pemandangan di depannya, Taeyeon berniat menutup jendela kamarnya. namun tubuhnya tiba-tiba terpaku beberapa saat ketika matanya menangkap sosok bayangan hitam yang melintas di antara pepohonan yang tidak jauh di depannya. dia mengerjapkan matanya berulang kali, ingin memastikan apa yang dilihatnya tapi bayangan itu sudah tak nampak lagi.

*aneh* keningnya berkerut. Jelas-jelas dia melihat bayangan itu tapi mengapa sekarang tidak ada? Apa mungkin ia hanya salah lihat?

“kau menyukai kamarmu?”

Suara parau dari seseorang di belakangnya membuat Taeyeon terlonjak. Gadis kecil itu sontak berbalik dan melihat neneknya sudah berdiri tidak jauh di belakangnya. seperti mengetahui apa yang di pikirkan cucunya, wanita itu tersenyum. “kau pasti sedang melamun hingga tak menyadari kedatanganku.” Ujarnya.

Taeyeon sedikit tersentak. dia tak menyangka wanita yang berbicara dengannya ini bisa mengetahui apa yang di pikirkannya. Taeyeon merendahkan kepalanya menatap lantai di bawah kakinya, tak tahu harus berkata apa. Bersama wanita itu membuatnya canggung apalagi setelah kejadian saat ia memegang tangannya.

Taeyeon meremas tangannya dengan gugup ketika merasakan wanita itu bergerak mendekatinya.

“jadi bagaimana dengan kamarmu? Apa kau menyukainya?” tanya wanita itu.

Taeyeon mengangkat kepalanya, melirik pintu kamarnya yang tertutup dengan heran kemudian memandang wanita itu. Bagaimana halmoninya bisa masuk ke dalam kamarnya tanpa suara? perasaannya mengatakan pintu kamarnya tak terdengar telah di buka oleh seseorang. Lalu bagaimana caranya? Benarkah itu karena ia melamun hingga tak mendengarnya?

Akhirnya, Taeyeon hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan wanita itu. wanita itu kemudian mengangguk. Matanya beralih ke arah jendela yang masih terbuka lebar di belakang Taeyeon. wajahnya mendadak berubah serius, senyum di wajahnya seketika hilang. Taeyeon tak menyadarinya.

“kau seharusnya tidak membuka jendelamu di malam hari. Itu tidak baik apalagi kita tinggal di tengah hutan.” ujarnya pelan.

Taeyeon mengatup bibirnya rapat-rapat kemudian berbalik menutup jendelanya. Sebelum ia benar-benar menutupnya, ia melihat keluar lagi sejenak setelah itu kembali berhadapan dengan wanita itu.

“ada apa? kau takut tinggal di tengah hutan?” wanita itu mengerutkan keningnya begitu memperhatikan raut wajah Taeyeon yang berubah.

Taeyeon dengan gugup mengangguk. “aku tidak suka kegelapan.”

Wanita itu terdiam sejenak lalu tersenyum. “tidurlah..kau harus istrahat.” Usai mengucapkan kalimat itu, iapun berlalu dari kamar Taeyeon.

Taeyeon menarik nafas lega, berada di dekat wanita itu membuatnya gugup. dia kemudian naik ke ranjangnya, menarik selimut hingga ke dadanya dan tak lama kemudian diapun tertidur.

– – –

‘dia sangat cantik.’ Suara komentar tiba-tiba terdengar.

Yang lainnya mengeluarkan suara dengkingan setuju terhadap komentar itu. berapa pasang mata kini melihat ke satu arah di depan mereka. sebuah jendela yang telah tertutup beberapa menit yang lalu.

‘ke ai.’ Luhan ikut berkomentar. Matanya tak pernah lepas dari jendela itu.

‘yaa! Ada apa dengan kalian?! dia adalah Mate-ku, aku yang lebih dulu melihatnya!’ Baekhyun berteriak marah.

Kris menatapnya sambil menggerutu. ‘Mate-mu? Please, aku yang pertama merasakan kehadirannya.’ bantahnya.

‘gadis itu bukan Mate kalian. dia adalah Milikku!’ Kai mendengus kasar.

‘tidak! dia adalah Mate-ku!’ balas Tao.

‘kalian salah! gadis itu milikku! Dia Mate-ku!’ Suho ikut berteriak, mengklaim miliknya.

‘hyung, aku yang berhak memilikinya. Aku lebih dulu sampai di tempat ini.’ Chen ikut-ikutan protes.

‘aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, yang jelas aku telah menemukan Mate-ku dan gadis itu adalah dia.’ Tegas Lay tidak mau kalah.

Luhan mendecak, ‘kau terlalu percaya diri. Gadis itu akan menyukaiku dan segera setelah berkenalan dengannya, dia akan menjadi Mate-ku.’ Ucapnya percaya diri.

‘aku lebih dulu menemukannya!’ Baekhyun tak terima.

‘dan aku juga melihatnya!’ Kai membalas.

‘bagaimana kalau kita bertanding saja untuk mendapatkan gadis itu?’ Chanyeol memberi saran.

‘DIAM! dia bukan barang Chanyeol!’ Baekhyun berseru keras. semuanya sayangnya setuju padanya. Chanyeol tersenyum kecut lalu mengangkat bahunya.

‘aku juga menginginkan gadis itu.’ gumamnya dengan senyum malu.

‘tidak boleh!’ semuanya berseru keras membuat Chanyeol tersentak.

Xiumin, Sehun dan Do hanya diam memperhatikan jendela kamar itu. dalam hati,  mereka juga sangat menginginkan gadis itu. ini bukan karena paksaan atau karena kemauan mereka, melainkan suatu perasaan yang mengalir begitu saja secara alamiah. Ini adalah insting manusia serigala seperti mereka. setiap serigala memiliki perasaan seperti ini dan daya tarik gadis itu telah membuat mereka terpikat.

‘hyung..’ Sehun berbicara hati-hati, ‘jika kita semua mengingikan gadis itu, bukankah gadis itu berarti Mate…kita?’ dia ikut terkejut dengan pertanyaannya sendiri.

Semuanya sontak terdiam sambil melongo kaget. mereka saling berpandangan dan seketika fakta itu menyentakkan mereka. gadis itu adalah Mate mereka?!

‘tidak mungkin!!!” seru mereka serempak. shock.

 

To be continued…

 

Bagaimana chap 1-nya? Terlalu membosankan dengan percakapannya? I know..

Karena permintaan yang banyak dan berulang, aku buru-buru mem-post chap ini. sorry kalau tidak sesuai dengan bayangan kalian. aku sendiri kurang puas setelah membaca ulang chap ini, but aku sudah berusaha. Selain berurusan dengan harapan kalian, aku juga musti sepakat dengan MOODku. Terlalu sibuk di tempat kerja membuat aku jadi hilang semangat untuk melanjutkan setiap fanficku. Aku sangat berharap kalian tetap sabar menunggu. Dan bagi reader yang telah memberiku support dan menantikan diriku yang tidak sempurna ini, aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya^^

Seperti yang kubilang sebelum-sebelumnya, next chapnya ga akan secepat TLTG. Utk Cherry blossom, aku harus meminta maaf karena aku belum bisa mem-postnya. Maybe next time saat moodku sedang bagus. Hehehe.

ExoTaeng adalah Shipper fav.q tapi aku juga suka menulis dan men-ship Taeyeon dengan idol lainnya.

—> RYN

103 thoughts on “[Freelance] Full Moon (Chapter 1)

  1. daebak bgt ff nya, padahal aq baru baca part 1,, aq suka semua ff buatan author , mesti ceritanya sampe ke hati #lebay #abaikan hehehehe ,lanjut ya thor

  2. thor lanjutin fullmoonnya udah PENASARAN bnget, cuma knp taeng lg? di TLTG kan udah ada taeng, cba kalo fany mkin rame deh aku bacanya,.

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s