[Freelance] Between Two Options (Chapter 11)

between two options

Title : Between Two Options

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG 17

Genre : romance, family, comedi, Sad

Main Cast : Taeyeon

Sehun

Luhan

Kris

Other Cast : Lihat sendiri yah J

 

. . . . . . . . . . .

Sehun dengan seragam sekolahnya keluar dari rumah yang setiap hari menjadi tempat tinggalnya. Matanya langsung tertuju pada taman bunga kecil di halaman depan rumahnya. senyuman terukir di wajah yang masih bugar karena baru saja bangun tidur dan mandi itu.

“Ah rasanya aku bisa gila karenanya” ucapnya dengan fikiran yang masih memutar ulang kenangan saat ia bertemu dengan taeyeon untuk yang kedua kalinya di taman itu. “Kau tahu wajah ketakutanmu saat itu benar- benar membuatku khawatir” ia berjalan mendekati bunga yang tumbuh dengan susunan rapi di dihadapannya. “Tidak ada salahnya kan pagi ini aku menjemputmu untuk berangkat bersama ke sekolah?” ia memetik salah satu tangkai bunga berjenis azalea yang indah dengan warna pink, “Kuharap kau menyukainya changi lemotku”

Sehun menyembunyikan bunga cantik itu dibelakangnya setelah keluar dari pintu gerbang. Lokasi yang ia tuju tentu rumah tetangga sekaligus yeoja chingunya. “Ahjusshi apakah taeyeon ada dirumah?” tanyanya kepada keamanan rumah taeyeon yang berdiri dengan wajah tegas di depan pintu gerbang. Sebenarnya awalnya sehun sedikit bingung karena tidak biasanya rumah itu dijaga seketat ini.

“Maaf tuan Oh tapi Nyona Kim dan Tuan muda Choi tidak berada di rumah” ucapnya dengan nada tegas.

Sehun sedikit kecewa akan jawaban itu, padahal ia sudah membayangkan bagaimana kelakuan konyol taeyeon seandainya saja mereka berangkat bersama ke sekolah, “Taeyeon ke sekolah sejak jam berapa?” tanyanya lagi.

Keamanan itu sedikit menghembuskan nafas pelan, terlihat dari wajahnya yang sudah mulai mengeriput itu raut kesedihan, “Tuan dan Nonya muda sedang ke China bukan ke sekolah” jawabnya kemudian yang membuat sehun terbelalak.

“MWO? Ke china? Bagaimana mungkin taeyeon tak bilang padaku?” bunga yang semenjak tadi ia pegang sudah terjatuh ke jalan aspal yang diinjaknya.

“Ada urusan pribadi yang harus Tuan dan Nyona muda kerjakan dan sangat mendesak. Jadi Tuan Oh harus bisa mengerti” ucapnya kemudian, sehun mulai menenangkan fikirannya. Ia tak mau bertengkar dengan taeyeon seperti sebelum- sebelumnya hanya karena dia yang tak dapat menahan emosinya.’Pasti ada alasan mengapa taeyeon tak bilang padaku, pasti’ Ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.

 

. . . . . . . . . . .

Dengan air mata yang tak perlu ditanyakan lagi berapa banyaknya gadis mungil itu hanya berjongkok di tengah hujan lebat yang melanda kota Beijing. Tak ada kata ataupun gerakan yang keluar dari tubuhnya, yang ada hanya air mata yang menetes tak kalah dengan derasnya air hujan, matanya yang sudah sembab itu selalu setia memandangi batu nisan yang bertulisan ‘Kim Hyoyeon’ dihadapannya yang tentunya adalah eommanya sendiri.

Tapi walaupun begitu setetes hujan pun tak ada yang sanggup membasahi tubuhnya yang sepertinya sudah keram karena terus pada posisinya sejak matahari mulai menampakkan senyumnya hingga sekarang matahari sudah lelah menyinari bumi dan ingin kembali tidur. Ada namja yang selalu setia memayunginya, selalu setia disampingnya. Meskipun namja itu harus rela basah demi agar gadis itu tetap kering. Rela dingin agar gadis itu tetap hanyat. Dan rela pegal asal gadis itu tak kehujanan.

Sungguh pengorbanan yang sangat besar kalau hanya untuk seorang sahabat, yah meskipun ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi tetap saja seperti janjinya sebelumnya ia tak mau melihat air mata gadis itu lagi. Memang saat ini ia tak bisa menghentikannya, tapi paling tidak ia bisa melindungi gadis yang dicintainya, yah gadis itu Kim Taeyeon.

“Taeyeon kau belum makan sama sekali, kau tak lapar?” tak ada respon dari pertanyaan yang luhan berikan, namja itu hanya menghela nafas.

Taeyeon yang seolah nyawanya telah terbang hingga kemana sama sekali tak bergeming, hingga malam datang dan hujan sudah berhenti ia tetap pada posisinya, menangis tapi tak bergerak dan bersuara. Entah apa yang difikirkan gadis itu, bahkan luhan yang sedang memandanginya hanya bisa ikut menangis, ikut merasakan kepedihan dan sakit yang dirasakan gadis itu.

Detik berikutnya luhan tersentak saat melihat taeyeon berdiri dari posisi sebelumnya, “Dear kau mau kemana?” ucapnya lembut.

Lagi- lagi tak ada respon, yeoja itu hanya berjalan dengan santainya dengan satu tatapan kedepan. Luhan hanya bisa dengan setia mengikutinya, ia juga sedikit bersyukur karena siwon ke London melihat appanya untuk yang terakhir kalinya. Yah setidaknya dengan begitu Luhan bisa lebih leluasa menjaga taeyeon, bukan berarti dia tak percaya pada siwon tapi ia akan tenang jika menjaga taeyeon sendiri.

Tak ada sesuatupun yang berada di fikiran taeyeon, fikirannya benar- benar kosong. Kejadian ini benar- benar membuatnya sangat drop, “Dear awas . . . ” dengan sigap luhan menarik taeyeon yang hendak menyebrang jalan tapi ia sama sekali tak menaruh perhatian pada sekelilingnya yang membuat ia hampir ditambak sebuah mobil. Waktu berjalan lambat pada saat itu hingga taeyeon jatuh pingsan ke dalam pelukan luhan setelah diselamatkan oleh namja itu.

Luhan duduk sambil memangku taeyeon, air matanya menetes diwajah taeyeon yang membuat airmatanya dan taeyeon menyatu di wajah mulus itu. “Kumohon apa yang kau inginkan katakanlah? Jangan seperti ini, kau membuatku tersiksa” luhan memeluk taeyeon yang tidak sadarkan diri dengan erat bahkan sangat erat.

 

. . . . . . . . . . .

Genggaman tangan luhan tak pernah terlepas dari tangan taeyeon yang sudah dingin, sepertinya tubuh gadis itu sudah bereaksi karena kejadian tadi. Luhan yang sedang duduk di samping gadis itu dengan posisi duduk sontak kaget saat taeyeon mulai bergerak, “Dear kau sudah sadar?” tanyanya membelai rambut taeyeon, namun seperti biasanya tak ada reaksi dari taeyeon.

Luhan menghapus air mata taeyeon yang sudah menetes lagi dengan ibu jarinya. Tak banyak yang bisa dia lakukan untuk gadis yang seolah tak mempunyai niat untuk hidup itu.

Tret . . .

Luhan membalikkan kepalanya saat mendengar suara pintu yang terbuka, “Si . . . “ Luhan tak melanjutkan kata- katanya setelah siwon menaruh jari telunjukkanya dibibirnya yang menandakan ia agar tetap diam.

Siwon berjalan mendekati mereka, dengan cepat luhan beranjak dari kasur taeyeon memberikan taeyeon dan siwon waktu berdua untuk berinteraksi.

Siwon menatap adiknya yang tebaring lemah dengan bantal yang sudah basah kuyup karena air matanya. Siwon menghapus sisa air matanya dan menarik lalu mengeluarkan nafasnya untuk menstabilkan emosinya sendiri. saat ini taeyeon sudah sangat rapuh, ia tak ingin adiknya itu semakin rapuh jika ia menunjukkan kesedihannya juga. Dia adalah oppa dari taeyeon, jadi sekarang adiknya itu menjadi tanggung jawabnya.

Siwon duduk di tempat yang diduduki luhan barusan, ia menatap wajah adiknya yang sudah menirus, padahal baru satu hari saja setelah kejadian malang itu. Ia sedikit menghembuskan nafanya lalu membelai rambut taeyeon lembut seperti yang dilakukan luhan tadi.

“Apakah adikku ini masih tidur?” tanya siwon dengan nada yang jelas menahan tangisnya. Taeyeon masih tak memperdulikannya, yeoja itu masih betah menutup matanya. “Kau sangat jahat pada oppa, oppa baru saja dari perjalanan jauh untuk menemuimu, dan sekarang kau mengabaikan oppa?” setetes air matanya menetes di jari taeyeon. Dengan cepat siwon menghapus air mata itu.

Tangan taeyeon yang digenggam siwon bergetar, siwon bisa merasakan getaran menyedihkan yang dipancarkan taeyeon. siwon mengecup dahi taeyeon, menekannya dengan lama. Tanpa sadar air matanya lagi- lagi memaksa keluar dan menetes di pipi taeyeon. taeyeon yang merasakan sudah tak bisa menahan suaranya. “Hiks hiks hiks . . . .”Hanya suara kecil lirih dan tertahan yang ia keluarkan.

Siwon melepas ciumannya dari taeyeon, ia mendekati telinga adiknya itu lalu membisikkan sesuatu. “Kau masih mempunyai oppa taeyeon, masih banyak yang menyayangimu. Kau tak melupakan kami kan? Bukankah kau yang selalu menasehati orang? Kenapa sekarang kau yang seperti ini? Kau bukan adik oppa, adik oppa adalah orang yang ceria bukan malah lemah seperti orang dihadapan oppa saat ini” ucap siwon lalu menjauhkan kepalanya dari taeyeon.

Orang yang dipancing masih saja diam, siwon sedikit menyerah. Ia hendak beranjak dari tempatnya sekarang. Tapi begitu ia ingin melepas tautan tangannya dari taeyeon, tangan taeyeon tiba- tiba menggengam erat lima jemarinya itu. Ia hanya tersenyum lega melihat adiknya.

Taeyeon membuka matanya yang sudah hampir tak terlihat karena terus menangis, “Haaa, hiks . . . . hiks . . . . . hiks . . .” tangisannya mulai lebih terbuka dari yang tadi.

Siwon berbaring disamping adiknya itu, ia menahan kepalanya dengan tangannya agar tak benar- benar rapat pada kasur. Sedangkan badannya ia miringkan agar taeyeon dengan leluasa memeluknya. Dan benar saja taeyeon langsung memeluknya lalu menangis sekencang- kencangnya. Luhan yang sedari tadi menyaksikan semuanya hanya tersenyum lega, setidaknya taeyeon sudah bisa membagi kesedihannya.

 

. . . . . . . . . . . . .

Siwon hanya memeluk taeyeon yang sedari tadi hanya menaruh wajahnya di dada siwon, sementara luhan hanya duduk di samping sofa dari kedua kakak beradik itu. Tadi memang Nyonya Seo menyuruh mereka untuk berkumpul di ruang keluarga.

“Kalian sudah berkumpul?” tanya eomma luhan yang tiba- tiba datang memecah keheningan. Semuanya menatapnya dan mengangguk kecuali taeyeon tentunya.

Eomma luhan segera berjalan mendekati CD yang berada di laci di bawah TV dihadapan luhan, taeyeon dan siwon. Nyonya Seo memasukkan kaset CD itu dan muncullah wajah dari orang yang membuat taeyeon menjadi depresi seperti sekarang.

“Hy anak- anak eomma” sapa eomma taeyeon sambil melambaikan tangannya ke kamera. Taeyeon yang mendengar itu sontak mengangkat wajahnya, namun setelah melihat eomma tangisnya malah semakin pecah.

“HAAA . . . Eommmaaaa” siwon berusaha menengkan taeyeon yang kembali histeris.

“Taeyeon eomma tahu pasti kau sedang menangis kan? Ayolah jangan menangis lagi, eomma sangat membenci air matamu itu tahu” taeyeon sedikit tenang mendengar kata dengan nada candaan dari eommanya namun tak lucu sama sekali itu. Tapi taeyeon masih tak sanggup mengangkat kepalanya. Sedangkan siwon hanya terus menatapnya, jujur saja walaupun ia sangat membenci eommanya tapi tetap saja ia merindukan sosok itu selama 11 tahun.

“Anak eomma siwon, apakah kau ada disini juga? Kalau kau sekarang disini eomma hanya ingin mengatakan bahwa eomma sangat menyayangimu” Eomma taeyeon terlihat tersenyum bahagia setelah mengucapkan kalimat itu. Tanpa ia sadari siwon mengeluarkan air matanya.

“Hmm, selama ini terlalu banyak kesalah pahaman yang terjadi sayang, terutama untukmu jagoan eomma. Kau tahu eomma sangat kecewa padamu karena tak pernah mau mendengarkan alasan eomma” Nyonya Kim mengerucutkan bibirnya pura- pura kesal pada siwon.

“Orang yang bersama eomma waktu itu bukan selingkuhan eomma tapi sahabat eomma dari kecil. Kalau tidak percaya tanya saja pada ahjummha seo. Waktu itu eomma sedang bertengkar hebat dengan appamu, lalu eomma menangis saat hendak menjemputmu di sekolah. maka dari itu sebagai teman ahjusshi Oh datang untuk menenangkan eomma. Dia memeluk eomma tapi itu tak ada maksud apa- apa. Dan kau melihatnya dan salah paham lalu mengadukannya ke appamu kan? Semenjak itu appamu tak percaya lagi pada eomma” Siwon melonggarkan pelukannya dari taeyeon ketika mendengar pernyataan dari eommanya. Badannya bergetar, rasa bersalah membuat dadanya menjadi sesak.

“Tenanglah ini bukan salahmu sepenuhnya, eomma memang sengaja bercerai dari appamu karena alasan tertentu” Nyonya Kim menarik nafas pelan lalu melanjutkan perkataannya. “Eomma terserang penyakit kanker Rahim sayang, dan itulah alasan mengapa eomma memberi waktu pada taeyeon untuk pergi ke seoul pada usia 16 tahun, karena pada usia itulah dokter menargetkan umur eomma. Dan semuanya benar- benar terjadi sesuai target. Maaf untuk taeyeon karena tak mengatakan ini, eomma hanya tak mau merepotkanmu sayang.”

“HAAA . . . . . “Taeyeon kembali menangis dengan keras, dan luhan berusaha menenangkannya. Sedangkan siwon sudah tak bisa menenangkan adiknya lagi, malah harusnya sekarang dia yang ditenangkan. Perasaan sedih, menyesal dan perasaan bersalah bercampur satu dalam benaknya.

“Untuk taeyeon satu permintaan eomma, dan tolong jalankan permintaan eomma ini demi kebaikanmu sayang. Eomma tak akan mempercayakanmu pada namja lain selain luhan, jadi menikahlah dengannya sayang. Demi eomma” taeyeon menghentikan tangisnya setelah mendengar itu, begitu juga dengan luhan yang sudah terperanjat kaget.

“Siwon eomma mohon jaga adikmu dengan baik, kau bisa berjanjikan?”

Siwon mengangguk pasti, “Pasti eomma pasti” ucapnya dengan suara parau.

“Untuk luhan tolong jaga taeyeon juga dan jangan sampai kau membuatnya menangis, kalau tidak ahjummha akan menghantuimu” eomma taeyeon terkekeh setelah mengucapkan itu.

Eomma taeyeon tiba- tiba terisak yang membuat ke empat orang yang menonton video itu semakin menangis, “Kalian pasti sedang menangis kan?” tanyanya berusaha tegar. “Sudahlah jangan menangis lagi, kalian harus move on, berjalanlah tanpa eomma. Eomma sangat menyayangi kalian, sampai jumpa nanti yah, By” Nyonya Kim melambaikan tangannya, dan detik berikutnya TV itu sudah berwarna biru yang menandakan video telah berakhir.

Setelah video itu berakhir siwon langsung beranjak dan pergi dari tempat itu, kerena ia tak akan mau menangis di depan adiknya yang sudah memikul banyak beban itu. Sedangkan taeyeon masih shock bersama luhan dengan permintaan eommanya yang benar- benar diluar dari dugaan mereka.

 

. . . . . . . . . . .

Luhan sesekali melirik taeyeon yang duduk diam dengan pandangan kosong disampingnya. Jika boleh jujur hatinya sangat bahagia jika memang ia menikah dengan taeyeon, tapi bukan begini caranya. Bukan dengan membuat wanita yang dicintainya menderita, kalaupun menikah taeyeon harus mencintai luhan juga, dan saat ini luhan yakin 100% bahwa taeyeon tak mencintainya.

“Dear tidak usah difikirkan perkataan eommamu, mungkin saja ahjummha hanya mengkhawatirkanmu jadi dia tidak sadar berbicara seperti itu” ucap luhan dengan perlahan, luhan sedikit melirik taeyeon namun yeoja itu masih tak mengubris perkataan luhan yang membuat namja itu mendengus pelan.

“Kita bisa membatalkan perjodohan ini jika . . . “

“Tidak” taeyeon dengan sinis memotong ucapan luhan.

Luhan yang kaget segera membalas tatapan taeyeon, “Aku tak mau membatalkan pernikahan ini, aku sudah cukup mengecewakan eomma jadi aku akan membalasnya dengan memenuhi permintaan terakhirnya” taeyeon mengalihkan pandangannya dari kontak matanya dengan luhan. Entah kenapa yeoja itu merasa tak kuat untuk menatap sinis namja itu.

Luhan hanya menelan salivanya kasar melihat sikap super dingin yang taeyeon tunjukkan padanya, “Tapi taeyeon kau . .”

“Apakah kau tak mau menikah denganku?” tanya taeyeon dengan tatapan menusuknya yang lagi- lagi melayang ke arah luhan yang membuat namja itu kembali salah tingkah karena ngeri akan tatapan taeyeon.

“Bukan begitu tapi . . . “

“Sudahlah Xi Luhan, kumohon untuk kali ini saja turuti kemauan terakhir eomma” tatapan taeyeon berubah menjadi memelas yang membuat luhan tidak tega melihatnya.

‘Kau bahkan tak memanggilku baby lagi’ batinnya. “Kau mau kemana?” tanya luhan ketika melihat taeyeon berdiri hendak meninggalkannya.

“Aku ingin keluar menenangkan fikiran” jawabnya tanpa menatap luhan.

 

. . . . . . . . . . .

‘Changi- ah kenapa kau ke Beijing tanpa meminta izinku? Awas kalau kau kembali aku akan menghukummu.

From

Sehun’

Taeyeon menghapus air matanya yang jatuh dilayar hp yang digenggamnya. Ia tak mau menyakiti sehun yang berstatus sebagai namjachingunya tapi ia juga tak mau mengabaikan permintaan terakhir dari eomma yang sangat dicintainya.

“Hai . . . “ taeyeon menengok ke sampingnya yang merupakan asal dari sumber suara tadi.

Taeyeon mengerutkan dahinya melihat namja tinggi yang duduk di sampingnya yang sepertinya wajahnya sudah tidak asing lagi dimata taeyeon. tapi ia sedikit bingung dimana ia pernah melihat namja itu?

Namja itu tersenyum melihat ekspresi tanpa dosa yang taeyeon tunjukkan, “Aiggo kau sangat lucu” namja itu mengacak pelan rambut taeyeon.

Taeyeon hanya diam melihat namja yang menurutnya sok kenal itu, seandainya saja suasana hatinya sedang baik mungkin ia sudah mengajak namja itu berteman dan berbicara seperti kebiasaannya ketika bertemu dengan orang asing.

“Kau tak mengenalku ?” ucapnya dengan bahasa korea, namja itu juga mengarahkan tangannya menunjuk dirinya sendiri. taeyeon hanya menggelengkan kepalanya. “Kau memang sangat pelupa, kenalkan aku tamannya luhan adik kelasmu sendiri dulu waktu kau masih bersekolah disini, aku juga anak dari Mr. kangta. Namaku Park Chanyeol” chanyeol menyodorkan tangannya hendak menjabat tangan taeyeon.

Taeyeon sedikit berfikir, dan memorinya menangkap percakapan yang dulu ia lakukan bersama Mr. Kang. “Pasti appa sudah menceritakan semuanya padamu kan?” tanya chanyeol lagi, sepertinya namja itu sangat cerewet, seandainya saja taeyeon sedang baik- baik saja mungkin mereka sudah sangat kompak berbicara. “Bahkan appa menceritakan bahwa aku menyukaimu” chanyeol berucap dengan pelan sambil menunduk.

Taeyeon perlahan tersenyum melihat sikap chanyeol yang seperti anak kecil, “Aku Kim Taeyeon kau sudah tahu kan?” taeyeon membalas jabatan tangan chanyeol.”

Chanyeol mengangkat kepalanya senang. “Oya kau tahu aku sangat menyukaimu dulu, bisa dibilang aku penggemar beratmu. Tapi setelah aku tahu bahwa luhan menyukaimu jadi aku hanya bisa sabar” ia menggembungkan pipinya imut.

Taeyeon kesulitan menangkap maksud dari perkataan chanyeol, “Maksudnya?”

“Kau tak tahu kalau luhan menyukaimu?” tanya chanyeol tak percaya dan taeyeon hanya menggelengkan kepalanya mengiyakan pertanyaan chanyeol.

“Aigoo sepertinya aku harus menceritakan semuanya”

 

. . . . . . . . . . . . .

 

Seoul

Matahari telah setinggi galah di kota seoul yang dingin, namun gadis putih susu yang berdiri di depan rumah mewah tak kunjung malangkahkan kakinya menginjak keramik putih rumah mewah itu.

Yah gadis itu taeyeon, setelah berbagai kejadian yang mengejutkan terjadi padanya ia memilih untuk pulang kembali ke rumahnya di seoul, begitu banyak kenangan eommanya yang bertempat di Beijing, tapi ia melupakan satu hal bahwa di seoul juga begitu banyak kenangan bersama appanya.

Tak ada yang menemaninya kembali ke seoul karena oppanya sedang sibuk mengurus perusahaan yang ditinggalkan eomma dan appanya yang sunggu luar biasa besar. Sedangkan luhan yang baru ia ketahui mencintainya juga tak dapat mendampinginya seperti biasanya karena harus mengurus pernikahan mereka.

“Changi- ah” sehun berlari ke arah taeyeon. “YA! Mengapa kau pergi tanpa memberiku kabar? Apakah kau sangat tak menganggapku penting hah? Apa susahnya . . . . “ sehun memberhentikan omelannya saat melihat raut wajah taeyeon yang lemas.

Sehun memegang kedua pipi taeyeon lalu mengangkatnya sedikit agar yeoja itu menatapnya, dan hatinya sangat sakit begitu melihat air mata yang dikeluarkan oleh taeyeon, “Mian aku tak bermaksud untuk membuatmu menangis” sehun menghapus air mata taeyeon dengan kedua ibu jarinya.

“Tinggalkan aku” sehun memberhentikan pergerakan tangannya.

“Aiss kau jangan bercanda terus taeyeon, kan aku sudah minta maaf karena mengomeli kamu” sehun tersenyum tak percaya, ia menganggap bahwa taeyeon hanya bercanda.

Taeyeon menunduk untuk mengatur nafasnya yang sesak, dan setelah itu ia kembali menatap sehun, “Aku akan menikah sehun, jadi kumohon jangan ganggu aku lagi.” Taeyeon berlari meninggalkan sehun yang tak bisa melakukan apapun karena shok.

 

. . . . . . . . . .

Ting tong . . . .

Taeyeon memencet bel dirumah bertingkat dua dihadapannya tanpa mengenal jeda, taeyeon ingin memencet lagi namun pintu coklat di rumah itu sudah terbuka. Dan muncullah dua musuh bubuyutan (?) taeyeon.

“Ya! Kim Taeyeon tak bisakah kau bersabar?” omel ryeowook.

Changmin mendecak kesal, “Padahal kita sedang asyik main game, kau ini selain pabo ternyata sangat tak sabaran juga”

Ryeowook menunjukkan smirknya, “Mengapa mukamu sangat lesu? Apakah eommamu habis meninggal? hahahaha” ucapnya bercanda tapi taeyeon malah menangis karena memang apa yang diucapkan ryeowokk benar.

Changmin tertawa melihatnya, “Kau menangis lagi? Baru saja diolok sedikit dasar cengeng” Ryeowook dan Changmin berlari memasuki rumah karena mengira taeyeon akan mengejarnya.

Taeyeon kembali terseduh- seduh, eommanya kembali memasuki fikirannya, ia duduk di depan pintu dengan kaki melipat, “Hiks  . . . . hiks  . . . . . hiks “

Kris yang baru saja datang dari sekolah sangat kaget melihat taeyeon yang menangis dan duduk di depan rumahnya, dengan sigap ia memarkir motornya dan berlari ke arah taeyeon.

“Taeyeon kau tak apa?” tanya kris khawatir, taeyeon menatap kris sebentar lalu kembali menutup matanya dan jatuh kedalam pelukan kris. Yah yeoja itu kembali pingsan.

 

. . . . . . . . . .

“Begini kalau hyung sangat kekanakkan, mangapa hyung bisa berbicara seperti itu sih? Bukannya disaat seperti ini harusnya hyung yang menjaganya? Bukannya malah seperti sekarang ryeowook dan chanmin hyung malah membuatnya tambah sedih” Kris mengomeli kedua hyungnya yang sedang duduk di sofa sambil menunduk. Sungguh konyol memang seorang dongsaeng memarahi hyungnya seperti seorang appa yang memarahi anaknya.

“Mianhae tapi aku tak tahu kalau taeyeon dan siwon sedang dilanda musibah sebesar itu” ucap ryeowook merasa bersalah, ”Ini semua karena changmin” tambah ryeowook menatap namja disampingnya.

Changmin yang merasa disalahkan berusaha membela diri, “YA! Kenapa aku? Kau duluan yang memarahinya”

“Tapi kau yang bilang kepadanya pabo” bela ryeowook.

Changmin mulai kesal, “Tapi tetap saja kau yang memulainya”

“YA!” Kris mengacak rambutnya frustasi. “Hyung kumohon untuk kali ini saja bersikap dewasa. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana cara agar taeyeon bisa melupakan kesedihannya.” Tambah kris yang membuat kedua hyungnya menunduk pasrah.

Ryeowook tersenyum lalu mengangkat kepalanya, “Aku tahu, aku akan pergi membelikannya ice cream.”

Changmin yang mendengarnya juga mengangkat kepala, “YA! Aku baru memikirkan itu, mengapa kau mengambilnya sih?”

“Tapi aku yang duluan” bela ryeowook. Kris hanya mengeluarkan nafas kasar lalu segera berlalu meninggalkan dua hyungnya yang sedang bertengkar itu.

‘Kurasa mereka tak akan dewasa’ batin kris

Kris membuka pintu kamar dimana taeyeon berada, ia mengembangkan senyumnya ketika melihat gadis cantik pujaan hatinya telah sadar dan duduk dengan damai di atas tempat tidur miliknya.

Kris berjalan ke arah taeyeon dan langsung mengambil tempat untuk duduk di samping yeoja itu. Taeyeon kembali terisak dan kris berusaha menenangkannya dengan membawa yeoja itu ke pelukannya, “Kris aku . . . . “

“Aku sudah tahu taeyeon, siwon hyung sudah menceritakan semuanya” ucap kris mengelus kepala taeyeon lembut.

Taeyeon memejamkan matanya, aroma parfum kris sangat menyengat penciumnya karena terikan nafas kasar yang ia lakukan, “Aku tak tahu kris, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Disisi lain aku sangat bersedih kehilangan orang tuaku, sangat sedih. Aku sangat ingin membalas budi mereka, aku ingin menuruti permintaan terakhir eommaku. Tapi bagaimana dengan sehun? Bagaimana dengan cintaku kris? Bagaimana dengan persahabatanku? Hiks . . . hiks . . . hiks . . . “ ucap taeyeon dengan menarik ulur sesuatu di dalam rongga hidungnya yang disebabkan karena terlalu banyak menangis.

Kris menggelengkan kepalanya, “Apakah kau yakin mencintai sehun?”

Taeyeon kaget akan pertanyaan kris yang ia tahu pasti kris sudah tahu jawabannya. Lingkaran tangannya di pinggang kris perlahan mengendor, “Apa maksudmu?” tanya taeyeon setelah mengangkat kepalanya.

Kris tersenyum dan mengelus kepala taeyeon, “Ini semua karena kepolosanmu” kris mendorong jidat taeyeon pelan dengan satu jarinya. Taeyeon hanya menatapnya bingung karena ini tentu bukan saat yang tepat bagi taeyeon untuk protes kan?

“Kau memfonis bahwa kau menyukai sehun hanya karena kau cemburu melihatnya bersama dengan gadis lain kan?” taeyeon hanya diam namun jauh dari dalam hatinya membenarkan perkataan kris. “Tapi kau tak boleh melupakan bahwa kau dan sehun selalu bertengkar taeyeon, dan mungkin seandainya kau tak sepolos saat ini mungkin kau sudah lama meninggalkan sehun. Tapi sayangnya lagi- lagi otakmu yang membuamu terlalu mudah memberi maaf bagi orang lain” kris sedikit terkekeh karena tanpa taeyeon sadari kris sedikit meledeknya.

“Kau tak pernah sadar taeyeon, siapa yang selama ini selalu ada untukmu? Selalu menemanimu? Siapa yang membuatmu kembali bersemangat ketika siwon hyung meninggalkanmu? Siapa yang selama ini selalu mengerti kamu? mengerti akan sifatmu dan juga cocok denganmu? Siapa yang selalu mengalah untukmu taeyeon? itu semua adalah Luhan bukan Sehun” taeyeon mulai memikirkan segalanya, membayangkan kebersamaannya yang sangat menyenangkan bersama luhan di masa lalu. Ia perlahan tersenyum kembali yang juga tanpa disadari oleh tubuh taeyeon sendiri. ‘Hanya dia kebahagiaanmu taeyeon’ batin kris.

“Kau juga lupa akan perasaan berbeda yang kau rasakan saat bersama luhan? Kau lupa akan rasa nyaman itu? Rasa degdegan rasa melayang, itulah cinta taeyeon. rasa yang tak pernah kau rasakan bersama lelaki lain selain luhan.”

“Kesalahanmu satu taeyeon, kau terlalu cepat menyatakan bahwa kau jatuh cinta tapi kau sendiri belum mengerti arti cinta sebenarnya. Ikuti kata hatimu taeyeon” Taeyeon hanya merenungi perkataan kris. Otaknya kini mencerna lebih cepat kata- kata kris tak seperti biasanya. ‘Arti cinta taeyeon kau tak pernah merasakannya. Walaupun aku tak mendapatkanmu tapi kini aku sudah mengerti arti cinta karenamu. Arti dari sebuah pengorbanan demi kebahagian orang yang ku cintai. Itulah arti cintaku padamu taeyeon yaitu sebuah pengorbanan’ batin kris

 

. . . . . . . . . .

“Hmmmm . . . “Hembusan nafas itu lagi, sepertinya kamar dengan dinding bercat pink itu sudah bosan mendengar yeoja yang terus mendesah kasar itu.

Kenangan- kenangan antaranya dan luhan kembali terbayang- bayang difikiran taeyeon. Bulan, bintang, langit, halaman rumah, bahkan kamar sekalipun mengingatkan masa- masanya bersama luhan. Mengapa dia baru menyadari bahwa namja itu sangat berarti dalam hidupnya, ‘Apakah benar apa yang dikatakan kris? Aku tak mencintai sehun melainkan luhan? Apakah aku meragukan perasaanku pada sehun sekarang?’

Taeyeon menggelengkan kepalanya lalu menutup gorden jendela tempatnya menatap langit malam tadi.  Baru saja kris pulang setelah mengantarnya pulang, tapi mengapa walaupun tak ada kris perkataan namja itu selalu terulang di kepala taeyeon, “YA!” Taeyeon memijat kepalanya yang sakit. Sepertinya belakangan ini ia terlalu banyak berfikir dan juga terlalu banyak menangis.

 

. . . . . . . . . .

 

Banyak kejadian yang namja itu alami, sebagian masih menggelayut di langit hatinya. Mau tak mau ia tetap saja menitikkan air mata merenungi perpisahan antara dirinya dan gadis yang dicintainya, Kim taeyeon.

“Jangan terus memikirkannya” seseorang yang berbicara di sampingnya mencuri perhatian sehun yang sedang mendongak memandang langit di taman depan rumahnya.

Sehun memandang kris disampingnya dengan sejuta tanda tanya, ia memang pernah bertemu dengan namja itu tapi yang ia tak habis fikir mengapa namja tinggi itu tiba- tiba berada di halaman rumahnya, “Apa yang kau lakukan disini? Mengapa kau bisa masuk ke halaman rumahku?”

Kris hanya tersenyum lembut berbeda dari biasanya, “Kau dan taeyeon sanga mirip, sama- sama masih terlalu polos. Aku bisa masuk karena kau tak mengunci pintu gerbangmu” timpal kris tanpa memperdulikan tatapan tanya sehun, “Itulah salah satu alasan mengapa kau tak bisa bersama taeyeon karena sifat kalian yang sama- sama tak saling mengerti sehun. Taeyeon sangat polos dan kau tak akan bisa mengerti itu. Begitu juga dengan taeyeon, anak itu benar- benar polos untuk peka terhadap sesuatu di sekitarnya”

Sehun menggepal tangannya kuat mendengar perkataan kris, sungguh ia benar- benar tak terima akan semua itu. “Hmmm, kau jangan terlalu egois. Biarkan taeyeon yang memilih, jangan terlalu memaksanya. Aku tahu kau juga tak yakin kan apakah taeyeon benar- benar mencintaimu atau tidak?” tambah kris kemudian.

Sehun mulai melunak, memang benar selama ini pertanyaan itu selalu berulang- ulang di otaknya. Taeyeon selalu mengucapkan kata saranghae tapi tatapannya tak menunjukkan tatapan seorang yang sedang jatuh cinta.

“Cinta itu butuh pengorbanan sehun, kau tak mau kan melihat taeyeon bersamamu tapi batinnya menderita? Kau tak ingin kan menjadi orang paling jahat karena memaksakan cinta? Terkadang dalam sebuah cerita tentang cinta kau tak harus memiliki yeoja yang kau cintai sehun. Cinta bukan sebuah paksaan tapi ketulusan, ketulusan yang dimaksud bukan hanya tulus mencintai seseorang dan menjaganya tapi juga tulus untuk melepasnya ketika ia mencintai namja selain kita. Itulah cinta yang sebenarnya” jelas kris dengan lembut.

Sehun langsung bungkam, tidak bicara lagi. Mendadak hatinya muncul satu kebimbangan. Ucapan dari kris memang sangat bisa dicerna oleh otaknya.

Kris memegang bahu sehun yang menunduk, namja yang dipegang mengangkat kepalanya menunjukkan matanya yang sudah berkaca- kaca. “Berkorbanlah untuknya sehun, dia yeoja yang baik. Selama ini ia terlalu menderita, jadi kumohon biarkan dia bahagia. Aku tahu ia memutuskanmu untuk menikah dengan luhan kan? Itu karena permintaan terakhir eommanya”

Sehun menatap kris dengan tatapan butuh penjelasan, “Eomma dan appa taeyeon meninggal sehun, dan pesan terakhir dari eommanya adalah menikah dengan luhan.”

Tetes air mata sehun semakin deras setelah itu. Ia tak tahu bahwa taeyeon mengalami itu semua. “Kau tak tahu kan? Tapi luhan tahu semua itu, dialah yang selalu disisi taeyeon. jadi kumohon biarkan taeyeon untuk memilih.”

 

. . . . . . . . . . .

Sepasang mata bening tampak lurus menatap jauh ke samping kiri dimana jembatan Bampo terbentang indah dengan air mancur menggunakan spectacle lighting. Jembatan itu membelah sungai han yang terbentang luas.

Jarum jam sudah jatuh di angka Sembilan. Udara semakin mencucuk tulang hingga perempuan bermata bening yang bukan lain adalah taeyeon adanya ini mengetatkan mantelnya. Tak tahu apa yang membawanya datang ke tempat itu seorang diri. Tapi yang jelas kini ia hanya merenungi perkataan yang baru saja tadi siang ia dengarkan.

Taeyeon POV

Air yang berkilauan bagai pelangi sungguh bertolak belakang dengan suasana hatiku. Mengapa tuhan menciptakan cinta jika Ia terlalu sulit memberikan cinta untukku? Mengapa tuhan selalu tak adil padaku? Dulu ia memisahkanku dari oppaku dan sekarang ia mengambil kedua orang tuaku? Apakah tuhan tak ingin membuatku sedikit saja merasakan cinta? Apakah tuhan terlalu membenciku?

Entahlah. Aku tak tahu akan semua itu. Aku tahu ada takdir yang telah diciptakan oleh tuhan tapi bukankah tuhan juga menciptakan keajaiban?

Keajaiban. Aku hanya tersenyum kecut mengingat kata itu, dulu aku sangat percaya akan keajaiban bagai seorang anak kecil yang selalu menanti datangnya peri dan menuruti semua keinginannya. Tapi sekarang aku sadar, tak ada keajaiban di dunia nyata. Dan sekarang aku hanya bisa mengikuti takdir. Takdir yang sangat sulit bahkan untuk membuatku sedikit bahagia.

Tut . . . . tut . . . . tut . . . .

Dengan lamas aku membuka pesan di ponselku.

‘Sekebun cinta telah kutemukan, tapi sayang itu bukanlah milikku. Ia diciptakan bukan untukku. Taeyeon jujur selama ini aku menyimpan rasa padamu, sepuluh tahu lebih kita bersama dengan tawa dan tangis yang kita nikmati bersama. Aku memahamimu jauh dari dirimu sendiri paham pada dirimu. Aku selalu menunggu, menunggu sampai kau melihatku sedikit saja. Dan saat yang kutunggu kini tiba, kita dapat hidup bersama selamanya.

Tapi seperti yang telah aku katakan aku sangat memahami dirimu, aku tahu cintamu bukan untukku. Jadi kulepas kau untuk yang lain, kupu- kupu cantikku terbanglah tinggi cari kebahagiaanmu sendiri, aku disini akan terus mendoakanmu.

Your best friend forever

Luhan’

Aku tercengung membaca pesan itu, hatiku seperti pasir pantai yang berdesis. Lama aku terdiam hingga akhirnya menangis pelan.

Tut . . . tut . . . tut . . . .

‘Ditengah awan hitam pekat yang menyelimutiku tak kusangka kau datang membawa matahari dihidupku. Kau selalu membuat senyum dibibirku dengan tingkah konyolmu, tapi tak jarang juga kau membuatku sakit dengan itu semua.

Egois. Itulah kata yang pantas kau berikan padaku. Aku juga tak ingin seperti ini tapi aku juga tak rela kau bermesraan dengan lelaki lain dihadapanku walaupun ku tahu itulah dirimu.

Aku memang tak bisa mengerti kamu. Tapi kau tahu kalau cintaku sangat besar untukmu? Namun jujur aku tak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Jadi, aku memberi pilihan padamu. Jika kau mencintaiku cegah aku untuk berangkat ke London besok.

From

Sehun’

Oh apa lagi ini? Apakah sekarang aku diantara dua pilihan? Aku rapuh, aku lelah. Aku lelah terhadap semuanya. Aku lelah pada cinta yang sangat membingungkan ini. Aku tak mau jatuh cinta, seandainya aku tahu akan berakhir seperti ini.

Kedua orang itu yang selalu mengisi hari- hariku. Lantas bagaimana aku harus memilih? Mengapa aku tak tahu akan hatiku sendiri?

Oh gundah gulana, aku harus bagaimana sekarang? ‘Ikuti kata hatimu taeyeon’ kata- kata itu, kata yang kris tuturkan selalu memutar di fikiranku.

Aku memegang dadaku yang sesak, berusaha menenangkan diri dari segalanya. Menutup mataku rapat- rapat, dapat kurasakan terpaan angin malam yang membius tubuhku. Tak kusangka aku menemukan kata hatiku, wajah namja yang kucintai terbayang- bayang di tengah gelap di mataku. Mataku tertutup tapi mata hatiku sekarang telah terbuka, terbuka untuk melihat kemana hatika akan berpijar.

 

. . . . . . . . . . .

Ditengah orang yang berlalu lalang di icheon international airport namun diantara orang- orang itu ada seorang namja yang tidak lain adalah sehun sedang risau menatap jalan raya, ‘Apakah kau benar- benar tak mencintaiku?’

Dengan hembusan nafas kasar sehun menarik kopernya dan memasuki bandara, ia berbalik lagi ketika hendak menaiki escalator di hadapannya. Tak terasa air matanya menetes saat melihat kenyataan bahwa taeyeon benar- benar tak datang mencegahnya. ‘Selamat tinggal seoul’ batinnya.

“Tunggu . . . . “ Namun yeoja dengan mantel coklat datang mencegahnya.

 

*To Be Continued . . . 

71 thoughts on “[Freelance] Between Two Options (Chapter 11)

  1. Jangan bilang orang yg dibayangin Taeyeon itu kris? -_- oh no waaaay! *nyekek diri sendiri(?)* unnie yang cantik, baik hati, rajin menabung, Taeyeon sama Luhan aja ya? Pleaaaseeeuuu.. Perasaan dari chap pertama Luhan yang nangis mulu deh. Sama Luhan aja, ya? :3

  2. Sepertinya aku mencium tanda-tanda akan ending nih /? Ending sama luhan ja ya thorrrr… ok2… Kasian luhan soalnya.. kan dri awal taeng tuh cmn nganggep luhan adikkk.. nah klo di ending mrka bersama kan keren tuh.. wkwk
    Lanjut ya thor.. Lanjutttt.. Yg cepet atuh yaaa… pleaseeee.. ini ff keren bgt… sumpah kek authornya.. walau aku belum prnh ketemu athor.. tp aku yakin author itu orgnya keren.. buktinya cerita ini aja kerennn.. makannya yg cepet ya thor chap selanjutnya di post #eh?

    • Wow keren banget penciuman chingu bisa nyium aroma ending #plak
      Ia nih luhan nyesek banget idupnya #dimutilasilulu
      Hehehe, makasih kata teman- teman aku juga gitu kok #pedeamat
      Oke deh karena udah muji aku chap selanjutnya gak akan lama . . . .
      Kyaknya #plak

  3. 😥 author plis, dr prtm bc ni ff aq dah mnt jdiin luhan sm taeyeon….🙂
    plis, plis, plis…. lutae tuuh lbih kop, sm” unyu’, lutchu :d
    tpi itu trantung author sih mo trima ato tdk, but it’s all hwaiting for next chapter’y… sarangahe author..

  4. Selvy unnie^^ /godamanja/ /sksd/ baru baca ff ini dr chapt 1-11 malem ini baru dituntasin:-( gimana kal taeyeon sm luhan aja? /nego/ jadikan…krisge bisa sama unnie tuh-+” sehunnya buat tiffany aja un:-3 kan sehun sm luhan mirip bilangin ketiffany unnie dapet yg kw luhan ge gapapa keles:-3 sehun.juga ganteng kok. Buat aku aja deh unn<3<3-plak hwaiting unnie~? We love u Selvyholic in here:')/gajelas

  5. Wah terlmbat baca saeng~
    Eon binggung mau pilih couple mana? SeYeon or Luyeon.GALAU-_____-
    Maunya sama my baby Hunnie krn dy biasku#plak tp aku sdh kaga suka lagi sma sehun.tp dy tetap biasku#lol labil
    tp kshan baby rusa. Bayangi wajah sdih jd kaga rela taeng sama sehun^_^
    #fangirllabil#

    Next saeng ~
    Hwaitaeng~
    #kecupmanjakai#plak

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s