[Freelance] Ballerina (Chapter 3)

Ballerina

Tittle : Ballerina

Author : PinkyPark

Cast : GG’s Tiffany Hwang || EXO’s Xi Luhan

Other cast : EXO’s Kim Joonmyun || 2PM’s Nickhun || GG’s Kim Taeyeon

Genre : Romance || Angst

Rating : PG – 15

Length : Chaptered

Disclaimer : This Fanfic pure by me. This fanfic is 100% mine and if  you found some similar on other fanfic, it maybe just a chance. Please leave your comment and I’ll continuing this fanfic. And then, the cast is belong to their parents and theirselves .. Thank you ~

Author Note : Maaf jika Fanfic ini tidak memuaskan, maaf jika ada Typo atau kesalahan lainnya, maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan, dan Maaf untuk posting yang lama. Bagaimanapun, saya juga sedang sibuk dengan beberapa Fanfic (Ballerina, In Your Eyes, The Red Moon, Beautifull Assistant.) jadi, mohon maklum dan tetap beri support untuk saya !~ satu lagi, jika ingin tanya-tanya bisa melalui Twitter : (@Putrii_Tasha) terimakasih Reader –nim ^^

***

Sudah terhitung tiga minggu semenjak malam ulang tahun Luhan saat itu. Kini Luhan duduk diam menatap udara kosong dihadapannya dengan nanar. Tiffany yang dengan nyamannya bersandar pada pundak pria itu kini hanya diam mengamati. Bagaimanapun Tiffany tahu jelas, ada yang salah dengan Xi Luhan.

“Apa ada masalah ?” Tiffany memecah keheningan dengan suaranya, Luhan terdiam untuk sesaat, kemudian menolehkan kepalanya segera. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus rambut gadis itu dengan sayang.

“Tidak ada apa-apa, sungguh.” Jawab Luhan pelan, pria itu tersenyum dan Tiffany tidak bisa meredam perasaan aneh yang kini dirasakannya.

“Kau tidak bisa membohongiku,” gadis itu menarik kepalanya dari pundak Luhan, menegakkan tubuhnya dan kini duduk diam menatap lurus kedepan.

“Oh ayolah, aku hanya sedang bingung dengan tugas-tugas kuliahku,” bohong Luhan dengan suara yang pelan. Tiffany melirik kekasihnya, kemudian tersenyum.

“Benarkah ? kau tahu, aku bisa saja membantumu –”

“Tidak perlu, lagi pula apa yang kau tahu dengan mata kuliahku ?” potong Luhan dengan secercah senyuman kecil di bibirnya, tangannya terangkat untuk menyentuh tangan Tiffany dan gadis itu hanya mengangguk singkat.

“Baiklah, tapi sungguh –kau bisa meminta bantuanku, untuk apapun itu.”

Luhan mengangguk lagi, tangan hangatnya kini menggenggam penuh tangan Tiffany yang kurus. Dapat dia rasakan tulang-tulang gadis itu saling bersentuhan dengan jari-jarinya dan untuk sesaat pikiran Luhan melancong pada sebuah bayangan tentang apa yang akan terjadi jika tangan kurus itu sudah tidak bisa di genggamnya lagi.

“Aku harus segera pulang, kau tahu ini sudah malam –kau mau mengantarku pulang ?” Luhan mengerjap saat gadis itu kembali membuka suaranya, pria itu menikmati setiap pergerakan Tiffany yang selalu terlihat hati-hati. Pria itu tersenyum kemudian dan bangkit dari duduknya. Tangan kirinya merogoh sebuah jaket kulit coklat yang tersimpai di sofa.

“Baiklah ayo,”

Ballerina.

Tiffany berdiam diri dikamarnya, sejam yang lalu Luhan mengantarnya pulang, dan sejam lalu itu juga gadis itu bersemu merah karena Luhan mencium bibirnya sekilas. Tiffany kembali menenggelamkan kepalanya pada bantal hijau yang kini di peluknya. Gadis itu mendesah keras dan kemudian kembali mengangkat kepalanya. Untuk sesaat gadis itu ingat betul seorang Xi Luhan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja belakangan ini. Walalupun pria itu mati-matian menyangkalnya, Tiffany tahu –Luhan sedang memikirkan sesuatu. Terlebih karena belakangan ini pula Luhan selalu didapati merenung dan melamun sendiri –hal yang benar-benar tidak wajar bagi seorang Xi Luhan.

Gadis itu menolehkan kepalanya pada lemari kecil di samping ranjangya. Dengan sedikit susah payah gadis itu mengulurkan tangannya untuk membuka laci kecil paling atas, detik selanjutnya –Tiffany mengeluarkan sebuah Foto yang untuk kesekian kalinya membuat gadis itu tersenyum.

“Aku benar-benar tidak pernah menyukai seseorang hingga seperti ini, Xi Luhan –kau adalah satu-satunya.” Gadis itu bergumam seraya menatap fotonya dengan lembut.

Detik-detik selanjutnya berlangsung dengan kebisuan, Tiffany terlalu larut dalam dunia di dalam foto itu dan kini ponselnya berdering. Gadis itu mengambil ponselnya dengan ragu, kemudian tersenyum saat nama kekasihnya terpampang disana.

“Halo,” ucap gadis itu segera, pria diujung telepon hanya terkekeh.

“Kau cepat sekali mengangkat teleponnya.”

Tiffany memajukan bibirnnya kemudian mendesah, “Jadi kau ingin aku mengangkat teleponnya dengan lama ?”

Luhan tertawa kecil diujung telepon, dan Tiffany hanya mencibirnya. “Kau kenapa tidak tidur ?”

Tiffany mulai memelintir ujung bantalnya dengan pelan. “Aku sedang tidak ingin tidur,”

Luhan tertawa lagi –seolah tertawa adalah kebiasaan sehari-harinya. “Kalau begitu tidurlah, besok kau ada kuliah kan ?”

Tiffany tersenyum kecil, merasa senang pada perhatian yang diberikan pria itu. “Aku tidak bisa tidur karena tidak ada Star disini, ”

Untuk sesaat Luhan terdiam –menatap langit-langit kamarnya yang berpendar-pendar karena bintang-bintang pemberian Tiffany. “Kau ingin aku memberikanmu bintang-bintang juga ?”

“Tidak perlu, kau kan bintangku –jadi aku hanya butuh Luhan untuk menjadi bintangku,”

“Lalu apa yang harus kulakukan ? apa sekarang aku harus memanjat jendela kamarmu seperti yang dilakukan Edward Cullen pada Issabela Swan ?” canda pria itu dengan sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya.

Tiffany tertawa kecil, “Lalu kemudian Taeyeon akan berubah menjadi ayah Issabella yang sudah siap mengarahkan pistolnya padamu –”

Luhan tertawa lagi, pria itu menggeleng lemah. “Sayangnya aku adalah Vampire, jadi pistol itu tidak bisa membunuhku.”

“Kalau begitu perkataan Taeyeon yang akan membunuhmu –kau ingin dia mengeluarkan petisi agar kita tidak bertemu lagi hah ?” Tiffany merebahkan tubuhnya perlahan, memandang langit-langit kamarnya yang kosong.

“Kalau begitu lebih baik aku tidak usah melakukan itu, tapi –bagaimanapun, bukankah aku harus menjalankan tugasku sebagai bintangmu di malam hari ? apa yang bisa aku lakukan ?”

Tiffany tersenyum senang, kemudian memejamkan matanya singkat. “Menyanyilah untukku, lagu pengantar tidur yang bisa membawaku pada mimpi indah –”

“Kau ingin lagu apa ?”

“Apa saja, cepatlah !!”

Kemudian semuanya menjadi hening –Luhan tampaknya tengah sibuk mengontrol pita suaranya. Detik selanjutnya, saat Luhan mulai melantunkan sebuah lagu mellow yang menyejukkan. Tiffany sepenuhnya yakin –Luhan adalah pria yang tepat untuknya.

Luhan berhenti menyanyi, tertawa pelan saat didengarnya suara nafas teratur di ujung telepon. Pria itu terdiam lagi –membayangkan wajah cantik Tiffany yang kini tertidur dengan ponsel masih melekat di dekat telinganya. “Tidurlah, dan bukalah matamu besok pagi. Besok giliranmu yang menjalankan tugas –sebagai matahari untuk Xi Luhan.”

 

Ballerina.

“Tidurlah, dan bukalah matamu besok pagi. Besok giliranmu yang menjalankan tugas –sebagai matahari untuk Xi Luhan.” Luhan menutup ponselnya, masih menikmati degup jantungnya yang bertalu-talu. Pria itu tersenyum kecil, masih terngiang di telinganya tentang suara Tiffany beberapa menit lalu. Sayangnya kini gadis itu sudah pergi ke dunia mimpinya.

Luhan baru saja akan memejamkan matanya, tapi kemudian suara dering ponselnya kembali membangunkannya. Sebuah nomor tanpa nama terpampang di layar ponsel pria itu. Luhan berjengit di tempatnya, menatap layar ponselnya dengan bingung.

“Halo ?”

Tidak ada jawaban, hanya terdengar desahan nafas diujung ponsel.Luhan mengerutkan keningnya, hendak kembali bersuara namun suara lain mulai menggema di ujung telepon. Untuk sesaat Luhan merinding saat suara itu memacu dadanya untuk kembali bertalu. “Halo Xi Luhan,”

Luhan terdiam lagi, berusaha menstabilkan degup jantungnya yang kian bertalu. “Siapa ini ?”

Untuk kesekian kalinya –tidak ada jawaban, dan entah kenapa Luhan mengerti tentang siapa yang sedang meneleponnya saat ini. “aku benar-benar merindukan suaramu Luhan. Apa kau merindukanku juga ?”

 

Ballerina.

Luhan berjalan dengan kedua tangan yang melesak kedalam saku celana. Pria itu berjalan perlahan sembari sesekali melirik beberapa objek di sekitarnya. Waktu istirahat sudah tiba, dan kini nyaris setiap wilayah di sekolah sudah penuh oleh berbagai siswa dengan setiap kegiatannya.

Terik cahaya matahari sedikit memantulkan warna rambut kecoklatan Luhan yang pekat. Membawanya kembali ke udara dan seolah menerbangkannya keluar  angkasa. Pria itu menyipitkan matanya –merasa silau karena seberkas cahaya memasuki penglihatannya.

Kemudian pria itu terhenti, seorang gadis berdiri dua meter di hadapannya. Gadis itu cukup cantik, mata obsidian dengan rambut menjuntai panjang sebahu. Di tangannya teraup sebuah amplop kecil berwarna merah muda. Dengan melihatnya pun Luhan jelas tahu, itu adalah surat cinta yang entah sudah keberapa ratus kali ditujukan kepada dirinya. Luhan hendak berbalik, tapi suara bening dan senyuman ajaib gadis itu menahannnya.

“Tunggu sebentar,” seru gadis itu. Luhan menatap gadis dengan senyuman lebar itu dengan datar. Kedua alisnya sedikit terangkat untuk mengartikan kebingungannya saat ini. Ah ya, baru saja gadis itu berbicara dengan bahasa Cina –bahasa yang Luhan kira hanya dia yang bisa mengerti disini –di sekolah ini.

“Kau bisa berbicara Cina ?” Luhan bertanya dengan bahasa yang sama. Gadis itu mengangguk keras tanpa menanggalkansenyumannya.

“Aku Liu Fang, dan aku adalah warga Cina. Aku tinggal disini sejak lima tahun yang lalu, dan kau – ”

Luhan berbalik dengan malas, menyadari gadis itu hanya memanfaatkan asal negaranya saja untuk mendekati dirinya. Sejujurnya Luhan tidak begitu suka dengan perhatian. Seperti dengan berteriak-teriak saat dirinya lewat, memberi berbungkus-bungkus coklat setiap hari, atau mungkin menyodorkan sebuah surat cinta yang sebenarnya sama sekali tidak pernah Luhan baca apa isinya. Itu sepenuhnya hal yang menyebalkan –Luhan tidak suka. Dia lebih suka jika orang-orang tidak menyadari keberadaannya, membiarkannya hidup dengan tenang dan berbicara sewajarnya. Luhan sepenuhnya sangat membutuhkan hal itu.

“Luhan aku menyukaimu, sejak dulu – saat kau memarahi pria yang menggangguku dengan bahasa Cina. Sejak saat itu aku sangat menyukaimu,”

Lagi, Luhan menghentikkan langkahnya, menatap sepasang sepatu yang dikenakannya dengan nanar. Oh, jadi dia gadis itu –gadis yang membawanya pada masalah di tahun pertama. Gadis yang membuat Luhan membelanya dan pulang dengan wajah babak belur. Jadi dia orangnya ? sungguh –Luhan tidak pernah terpikirkan tentang hal itu. Seperti mengenai siapa namanya atau bagaimana bentuk wajahnya. Luhan tidak pernah tertarik.

“Ini untukmu,” Luhan berjengit saat gadis itu entah sejak kapan sudah berjalan di sampingnya. Gadis itu tidak lebih tinggi darinya, tapi juga tidak begitu pendek. Dapat dikatakan, postur tubuhnya proporsional. “Terimalah, aku menulisnya semalaman –kau tidak lihat kantung mataku yang menghitam ini? Ini karena aku menulis surat ini untukmu,” tambah gadis itu ceria.

Luhan menghentikkan langkahnya, menoleh menatap gadis dihadapannya dengan geram. Pria itu mengambil suratnya dengan cepat. Kemudian memasukkannya kedalam saku dengan enggan. Gadis itu berbinar-binar, mata obsidiannya berpendar-pendar terkena cahaya matahari. Luhan tahu mata itu sangat indah, tapi tidak dengan otak itu. Otak gadis itu terlampau tolol untuk ukuran manusia. Sama seperti gadis-gadis lainnya disini, mati-matian berusaha untuk merebut hatinya. Dia pikir itu yang namanya cinta? Tidak,itu hanya tergila-gila namanya.

“Dengar Liu Fang atau siapapun namamu, bisakah kau berhenti ? jangan melakukan hal-hal bodoh lagi, karena aku—tidak pernah tertarik. Jadi tolong juga beritahu teman-teman wanitamu, jangan mengirimiku surat atau makanan apapun lagi, karena pada akhirnya –itu semua hanya akan masuk kedalam tempat sampah. Aku tidak pernah memperdulikannya,” Luhan berujar dengan tangan yang terkepal. “Dan tolong beritahu mereka juga, aku tidak menyukai mereka semua –termasuk—kau !”

Luhan berjalan pergi meninggalkan Liu Fang yang mematung. Gadis itu nyaris jatuh kebelakang, beruntung beberapa temannya datang untuk membantu. Liu Fang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Xi Luhan. Kau harus menjadi milikku—aku tidak peduli pada apapun selain itu.”

.

Jongin mengalungkan lengannya pada leher Luhan. Joonmyun, Baekhyun, dan Sehun tampak sibuk berjalan di belakang dengan beberapa bungkus makanan ringan yang tampaknya diperebutkan. Luhan menatap sahabat-sahabatnya dengan risih. Kemudian pria itu menyikut perut Jongin keras. Jongin tidak berteriak, hanya mengekspresikan kesakitannya dengan mulutnya yang terbuka lebar seraya mengusap-usap perutnya.

“Kau tahu Liu Fang ?” tanya Luhan pada Jongin. Pria itu tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk.

“Dia satu kelas dengan kita –ada apa ?”

Luhan menoleh lagi, kali ini menatap Jongin tidak percaya. “Satu kelas ?”

Jongin hanya tersenyum menyeringai. “Kau benar-benar tidak pernah memperhatikan para gadis – apakah kau Homo ?” Jongin menarik tangannya segera, dan Luhan hanya memukul kepalanya dengan asal.

“Kau gila. Aku hanya tidak suka gadis-gadis disini –terlalu murahan,”

Jongin memutar bola matanya. “Maksudmu Hyurim juga murahan ?”

Luhan menatap sahabatnya dengan tidak percaya, “Ya tuhan, kau berganti pacar lagi ? lalu kemana Hyejin –mu yang seminggu lalu selalu kau gandeng kemana-mana itu?”

Jongin meninju pelan perut Luhan yang datar. “Dia hanya masa laluku, sepertinya kami bukan jodoh yang tepat.”

“Kau tidak akan punya jodoh bila terus seperti itu,”

“Itu lebih baik daripada tidak pernah punya pacar sepertimu !”

Luhan membalasnya dengan tatapan geram. Lalu kemudian Jongin hanya tertawa keras seraya sedikit membalikkan tubuhnya untuk merebut kripik kentang dari tangan Sehun.

“Cepat masuk !”

Kelima pria itu terdiam seketika saat Gil Songsaengnim berdiri tegap dihadapan mereka. Bahkan Baekhyun menjatuhkan makanannya kelantai hingga tak tersisa. Kelimanya membungkuk kemudian seraya masuk kedalam ruangan.

“Dihadapan kalian ada tiga cairan, Basa, Netral, dan Asam. Hari ini kita akan membuktikan keelektronegatifan dari larutan. Semuanya bergabung dengan kelompok masing-masing.” Gil Songsaengnim berseru di depan kelas. Semua siswa memperhatikkan sebelum akhirnya dengan ribut bergabung dengan kelompoknya masing-masing.

“Aku kelompok berapa ?” Luhan bertanya pada Joonmyun yang tampak sedang mencari-cari kelompoknya.

“Luhan kau kelompok tiga –dengan Liu Fang, Jongin kau kelompok tiga dengan Hana, Baekhyun dan aku satu kelompok. Dan Sehun kau kelompok lima, itu disana kelompokmu.” Jelas Joonmyun yang sepertinya dengan rajinnya menghafal nama kelompok dari setiap sahabatnya itu. Mereka berpencar satu sama lain, Luhan berjalan menuju sebuah meja dengan beberapa siswa mengelilinginya. Pria itu berdehem canggung.

“Kelompok tiga ?” tanya Luhan pelan pada seorang pria dengan kaca mata burung hantu yang bertengger di pangkal hidung. Pria culun itu mengangguk pelan dan kemudian Luhan hanya beringsut mendekati kelompoknya dengan enggan.

“Oh Luhan ? kemarilah –sekarang kita akan mencoba larutan asam terlebih dahulu, bagaimana menurutmu ?” Liu Fang yang tanpa disadari Luhan kini satu kelompok dengan dirinya berseru diantara beberapa siswa lainnya. Luhan hanya diam tidak menjawab.

Detik-detik berlalu dengan cepat, semua siswa sudah selesai dengan percobaannya. Dan kini bel berbunyi. Siswa-siswa melepaskan jubah putih mereka seraya merenggangkan tubuhnya. Luhan dengan perlahan berjalan menuju sahabat-sahabatnya, tapi lagi –sebuah suara menahannya.

“Luhan,” Liu Fang berseru dengan bersemangat. Luhan menolehkan kepalanya dengan malas. “Ayo makan siang denganku,” Gadis itu menatap Luhan penuh harap, Test Tube berisi cairan asam di tangannya dia genggam dengan erat. Sepenuh hati berharap Luhan menerima tawarannya.

“Tidak,” Jawab Luhan dingin, gadis itu kehilangan senyumannya sesaat dan dengan segera meraih tangan Luhan saat pria itu beranjak pergi.

Luhan sudah terlampau kesal pada gadis tidak tahu malu itu, pria itu menghempaskan tangannya dengan kasar, membuat Liu Fang terjengkang kebelakang dengan cairan asam yang tumpah begitu saja. Untuk sesaat waktu terasa lambat, seolah menampakkan slow motion yang membuat setiap orang dapat dengan jelas melihat detik-detik mengerikan itu terjadi.

Detik selanjutnya, Liu Fang menjerit keras –meraung-raung kesakitan seraya menutup kedua matanya. Gadis itu terus berteriak dan Luhan merasa jantungya jatuh ke dasar perut. Setiap orang berlari untuk melihat apa yang terjadi. Disaat Liu Fang masih meronta bersama kesakitannya, Luhan merasa betisnya berubah menjadi agar-agar. Pria itu berlutut dengan tangan yang bergetar. Jantungnya bertalu-talu di dada saat menatap gadis yang beberapa menit lalu tersenyum itu kini tengah menjerit kesakitan.

Hari itu Liu Fang tersiram cairan asam dan Luhan tidak pernah memaafkan dirinya sendiri.

Ballerina.

Tiffany berputar-putar dengan kakinya. Gaun tutu yang dipakainya ikut bergerak sesuai irama. Gadis itu berhenti seketika –didapati dirinya tengah tersungkur di lantai yang dingin. Gadis itu meringgis –merasakan ngilu pada pergelangan kakinya yang mulai menjalar. Berusaha untuk bangkit –Tiffany bertumpuan pada besi penyangga di dekat cermin. Sekuat tenaga memaksakan dirinya untuk berdiri. Gadis itu bertatapan dengan wajah satu lagi dari dirinya lewat cermin. Peluh dan air mata seolah bercampur menjadi satu. Tiffany kemudian menjatuhkan tubuhnya lagi kebawah, menangis sekuat tenaga seiring dengan tetap mengalunnya musing klasik di ruangan itu. Gadis itu bingung –antara sakit di kakinya dengan sakit di hatinya. Keduanya tidak ada bedanya –sama menyakitkannya.

Kemudian gadis itu berhenti menangis, masih sesekali terisak dan dengan kasar menghapus air matanya. Tiffany mengedarkan pandangannya pada ruang latihan yang sepi. Gadis itu kemudian tersenyum kecil seraya berusaha untuk berdiri lagi.

Belum sempat melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, pintu terbuka—Taeyeon menyembul dari balik pintu dengan wajah datarnya. Kemudian gadis mungjl itu berlari cepat pada Tiffany, membantunya untuk berdiri.

“Terkilir lagi ?” Taeyeon meringgis menatap kaki Tiffany. Tiffany hanya mengangguk pelan dan kemudian Taeyeon merasa ada yang salah dengan mata gadis itu. “Kau kenapa menangis huh ?”

Tiffany mengalihkan pandangannya, menatap cermin disampingnya dengan terpaksa. “Tentu saja karena sakit di kakiku.”

“Kau bohong, bahkan saat kakimu harus di gips kau tidak pernah menangis, katakan padaku ada apa ?” Taeyeon berseru dengan suara yang keras. Tiffany masih enggan menatapnya.

“Tidak ada apa-apa.”

Taeyeon memutar bola matanya seraya mendengus. “Apa karena pria itu ?”

Sontak Tiffany menatap Taeyeon dengan terkejut. “Bukan, bukan dia—sungguh!”

“Lalu karena apa ?”

Tiffany terdiam untuk beberapa lama, kemudian kembali menatap Taeyeon dengan nanar. “Ibu –ibu mengamuk lagi hari ini. Pihak rumah sakit baru saja menghubungiku.”

 

Ballerina.

Luhan duduk diantara deretan kursi lainnya. Dengan sabar menunggu wajah elok kekasihnya muncul di atas panggung. Tapi ini sudah memasuki detik-detik terakhir, dan wajah Tiffany belum juga terlihat. Untuk sesaat pria itu merasakan kegelisahan menggerayapi perasaannya. Mencambuk jantungnya untuk berdegup lebih kencang dan lebih kencang lagi. Larut dalam pemikirannya, pria itu baru sadar pertunjukkan sudah selesai. –dan Tiffany tidak muncul malam ini.

Terakhir kali mereka berhubungan adalah siang tadi, Tiffany bilang dirinya sedang latihan untuk pertunjukkan malam ini. Dan setelah itu—Tiffany tidak bisa dihubungi.

Luhan melangkahkan kakinya keluar gedung, untuk sesaat memutar penglihatannya ke sekitar. Membagi rata jangkauan matanya siapa tahu ada siapapun yang bisa memberinya petunjuk tentang mengapa Tiffany tidak tampil malam ini.

Luhan merogoh ponselnya, menatap nanar layarnya yang sama sekali tidak menunjukkan kabar baik apapun. Kemudian pria itu berusaha untuk yang kesekian kalinya menghubungi Tiffany—dan bahkan saat ini nomor nya tidak dapat dihubungi.

Luhan merutuki dirinya sendiri, dirinya seharusnya sadar betul tentang bagaimana Tiffany menjawab telepon siang tadi. Walaupun Tiffany menyangkalnya –Luhan sempat berpikir siang tadi ada sesuatu yang terjadi.

Luhan hendak melangkah lagi, dan kemudian matanya tertahan pada sosok gadis mungil yang sibuk menerima telepon. Ya, itu Kim Taeyeon. Tentunya gadis itu akan tahu dimana dan ada apa dengan Tiffany saat ini.

Luhan setengah berlari, kemudian tersenyum kecil saat gadis itu menatapnya dengan terkejut. Taeyeon menutup teleponnya, kemudian menatap Luhan dalam diam—membiarkannya untuk bertanya terlebih dahulu.

“Maaf, tapi bisakah aku tahu kenapa Tiffany tidak tampil malam ini ?”

Taeyeon mengangguk singkat, masih tetap menatap Luhan dengan tatapan datarnya. “Dia ada keperluan yang sangat penting –bisa ku pastikan kau kesulitan menghubunginya bukan ?”

Luhan menganggukkan kepalanya dengan keras, tampaknya dirinya mulai khawatir dan itu terasa semakin kentara. “Ada apa sebenarnya ?”

“Aku tidak tahu apa sebaiknya aku mengatakan ini, tapi menurutku lebih baik kau mendengarnya sendiri dari Tiffany. Ini menyangkut ibunya –”

Ballerina.

Tiffany menyusuri lorong sepi itu dengan gontai, air mata merebak di matanya. Gadis itu terus terisak dan kini tangisannya semakin menjadi. Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Tentunya tangisan Tiffany akan sangat mengganggu untuk penghuni lainnya. Dan sepertinya gadis itu tidak begitu peduli –seperti bagaimana orang lain tidak peduli pada apa yang dirasakannya saat ini.

Tiffany menghentikkan langkahnya, melalui penglihatannya yang kabur karena air mata. Seorang pria tampan dengan seragam putihnya kini berdiri diam dihadapannya. Tiffany menatapnya, kemudian tersenyum kecil seraya menghapus pelan air matanya.

Pria itu tersenyum, tangannya terangkat untuk menepuk pundak Tiffany. “Tidak apa-apa, ibumu akan baik-baik saja.”

Gadis itu menggeleng lemah, masih dengan tatapan sedihnya. “Itu juga yang kau katakan padaku bulan lalu dokter,”

Dokter muda itu tersenyum, perlahan menarik Tiffany dalam pelukannya. Tiffany tidak berontak –walaupun dirinya memang cukup terkejut, tapi dia memang sedang sangat membutuhkan sandaran detik ini juga.

“Jangan menangis lagi,” gumam sang dokter pelan. Tiffany terisak pelan kemudian menganggukan kepalanya. “Walaupun sangat berat bisakah kau jangan menangis?”

Tiffany melepaskan pelukannya, menatap sang dokter tampan dengan menerawang. “Tapi, jika bahkan aku tidak bisa menahannya lagi –bolehkah aku hanya menangis di hadapanmu saja ?”

Dokter itu tersenyum, kemudian menganggukan kepalanya tanda setuju. Tiffany terisak lagi, namun dengan senyuman kecil kali ini.

Dokter Nickhun adalah dokter yang menangani ibu Tiffany. Dialah yang selama bertahun-tahun ini menjaga Ibunya. Nickhun sangat dekat dengan Tiffany, biasanya saat Tiffany berkunjung mereka akan bersama-sama menatap matahari terbenam di ufuk barat lewat atap rumah sakit yang sepi. Keduanya tak segan saling berbagi perasaan dan mencurahkan isi hatinya satu sama lain.

Tiffany tahu jelas, baginya Nickhun adalah seorang kakak yang sangat menjaganya. Namun mungkin sedikit berbeda dengan Nickhun, pria itu mungkin tidak menunjukkan atau mengakuinya, tapi hati kecilnya selalu berteriak. Dirinya menyukai Tiffany.

Jauh di hari-hari yang dulu. Saat Tiffany pertama kali membungkukkan badannya dengan seragam SMA yang imut. Kemudian saat Tiffany datang menjenguk dengan menggunakan baju kelulusannya, dan kemudian saat Tiffany datang dengan memakai baju ballet pertamanya –saat itulah Nickhun menyukainya. Bukan perasaan sebagai seorang kakak atau perasaan simpati seorang dokter pada anak pasiennya. Itu sepenuhnya salah—perasaan yang ini adalah perasaan seorang pria. Pria yang jatuh cinta pada sang ballerina.

Nickhun adalah pria yang sempurna. Baik hati, penyayang, pintar, kaya, dan tampan. Siapapun wanita akan bertekuk lutut –terkecuali Tiffany tentu saja. Nickhun belakangan ini tahu, Tiffany tengah menjalin hubungan dengan seorang pria. Dan bahkan ketika hatinya terasa sangat perih, Nickhun hanya berpikir bahwa ini mungkin merupakan kebahagiaan Tiffany. Satu poin lagi yang menambah kesempurnaannya –hati yang berih.

 

Ballerina.

Gadis itu semakin cantik, rambutnya kini terpotong pendek sebahu. Kendati seperti itu, warna rambutnya tetaplah sama. Hitam pekat.

Mata obsidiannya selalu menjadi pesona paling utama. Tubuhnya kini semakin elok dan siapapun mengerti itu adalah tubuh yang dikaruniai untuk setiap model. Dan gadis itu memilikinya, memiliki kesempurnaan itu.

Tatapannya memang selalu tertuju kedepan, tidak pernah melihat hal lain. Setidaknya memang itulah takdirnya, kegelapan adalah teman baginya. Gadis itu hanya mendengar untuk merasakan, hanya bisa membayangkan tentang apa yang terjadi di dunia ini. Inginnya juga gadis itu tahu bagaimana dirinya tumbuh menjadi gadis yang luar biasa cantik. Tapi sepertinya tuhan cukup adil, kesempurnaan adalah salah satu hal yang tidak mungkin.

Gadis itu buta, semenjak empat tahun yang lalu. Gadis itu kehilangan pernglihatannya, kehilangan warna dan sensasi di dalamnya. Gadis itu tidak pernah punya cerita untuk di bagikan, dirinya hanya bisa menerima dan mendengarkan. Terlebih karena kekurangannya itu sepertinya membatasinya dalam segala hal.

Gadis itu kini duduk diam di salah satu kursi taman yang berkarat, besinya cukup dingin saat kulit putih pucatnya bersentuhan. Dan lagi –gadis itu hanya bisa membayangkan tentang bagaimana damainya pemandangan di depannya ini.

Dulu sungai Han adalah hal yang paling disukainya, mungkin karena dirinya terlalu sering datang –beberapa orang bahkan mengenalnya dan bertanya jika satu hari saja tidak datang. Dan ini bahkan sudah empat tahun, empat tahun yang gelap dan sunyi. Dirinya memang ada di sungan Han, tapi tidak bisa menatapnya seperti dulu. Dan gadis itu cukup tahu, tuhan mungkin akan menunjukkannya nanti.

Gadis itu merogoh ponselnya dengan hati-hati, bukan smartphone dengan layar flat atau semacamnya. Sebuah ponsel biasa dengan tombol-tombol yang menyembul, Liu Fang memang hanya bisa menggunakan itu. Setidaknya dirinya masih memiliki indra peraba.

Jarinya mengira-ngira salah satu tombol. Kemudian menekannya untuk menyambungkan melalui speed dial. Tidak ada jawaban, dan gadis itu tidak juga menyerah.

Kali ini teleponnya diangkat, gadis itu tersenyum senang dan menelan air liurnya.

“Halo,” Liu Fang berucap, menantikan suara Luhan yang memang selalu dirindukannya.

“Halo, siapa ini ?”

“Ini Liu Fang, ” Liu Fang kehilangan senyumannya, gadis itu merenggut saat suara wanita terdengar diujung telepon. “Kau siapa ?”

“Aku Tiffany –kau ingin bicara dengan Luhan ?”

Liu Fang menarik ponselnya dari telinga, kemudian menekan tombol manapun yang dipegangnya –berharap sambungan telepon segera terputus. Liu Fang bingung, gadis itu merasakan sesak di dadanya. Mungkinkah ?

 

Ballerina.

Tiffany menatap layar smartphone Luhan dengan bingung. Tiga garis horizontal terpatri di dahinya. Kemudian Luhan menyembul dari kamarnya, tersenyum kecil seraya membawakan Tiffany handuk kering yang mungkin akan membantu Tiffany menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup.

Angin malam bertiup masuk, diiringi dengan biasan cahaya lampu malam yang temaram, suara percikan hujan di balik jendela seolah saling beradu menghasilkan musik yang mempesona. Luhan duduk tepat di samping Tiffany, kemudian merenggut saat Tiffany tidak membalas senyumannya.

“Ada apa ?”

Tiffany menatap kekasihnya dengan bingung, kemudian menyodorkan ponsel pada pria itu. “Liu Fang, tadi dia meneleponmu.”

Pria itu merasakan petir menyambar ubun-ubunnya. Respon yang diberikannya terlampau berlebihan, Luhan mengambil kasar ponselnya dan kemudian menatap Tiffany yang tampak terkejut.

“Luhan, Liu Fang itu siapa ?”

 

 

To Be Continued..

 

Ballerina.

25 thoughts on “[Freelance] Ballerina (Chapter 3)

  1. Ini gimana ini? makin bermunculan aja masalahnyaaa huhuhuhuhu mau nangis.
    next chap ya thor, ditunggu banget.
    and satu lagi aku suka banget sama bahasanya yang enak dibaca, ga buat aku skip” beberapa paragraf gitu.

    keep writing, dan ditunggu yaa chap 4

  2. oh ternyata liu fang hanya seseorang yg tak sngaja luhan lukai dan sampai sekarang luhan masih begitu bersalah..tapi jangan sampai rasa bersalah luhan menyakiti fany thor..kasiankan fanynya.

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s