[Mini Series] Another Paradise – Chapter 2

Another Paradise

Chapter 2 : Escape

by

Jung Minrin (@reddsky_10)

Another Paradise New

SNSD Yuri || EXO-M Tao || EXO-K Suho || SNSD Sooyoung

EXO-M Chen || EXO-M Kris || BigBang Jiyong || etc.

Length : Mini Series || Rating : PG-17 || Genre : Romance, Family, Psycho, Action, Sad

WARNING :

VIOLENCE! HARSH WORDS! DEATH CHARA!

Author Note :

I’m back (from long hiatus or u should call it hibernation geez -_-) with Another Paradise ^^

Please notice every italic words

The rest, happy reading to you all (:

.

Read first :

Prologue || Chapter 1 : Meet the Guys

.

when an angel falls down, it will look for another paradise…

.

Huang Mansion

Beijing, China
“Nggh…”

Tao mulai menggeliat pelan dalam tidurnya. Namun, ia merasa geraknya sangat terbatas. Ia pun mulai membuka kedua matanya, lantas mengerjapkannya untuk menyesuakan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Ia terkejut ketika ia tidak sedang tidur sendiri. Tao menyentuh kepalanya yang berdenyut pelan. ‘Sepertinya, aku tidak tidur dengan wanita manapun semalam,’ batinnya.

Tao pun menelusuri sosok yang sedang tidur bersamanya sambil memeluk erat tubuhnya itu. Tao menyibakkan rambut panjang yang menutupi wajah sosok tersebut. Dan kalau saja ia tak ingat bahwa ia sedang tidur dengan sosok yang begitu dikagumi sekaligus ditakutinya itu, mungkin ia langsung terlonjak senang di atas ranjangnya. Sebagai gantinya, Tao pun hanya mengulum sebuah senyuman. Diusapnya wajah gadis yang masih terlelap itu. “Kenapa kau disini?” tanya Tao lirih pada gadis bernama Yuri itu.

Yuri nampak risih dengan sentuhan Tao. Ia mulai menggeliat resah di atas ranjang.

Tao tertawa kecil melihatnya. Ia segera menjauhkan tangannya dari wajah Yuri. Kedua lengan kekarnya melingkari pinggang ramping Yuri dan mendekap erat tubuh Yuri.

Yuri nampak semakin nyaman dengan pelukan yang diberikan Tao. Kepalanya justru disandarkan pada dada bidang Tao.

Lagi-lagi, Tao mengulum sebuah senyuman. Ia benar-benar tak menduga bahwa pagi ini ia disuguhi pemandangan yang menenangkan hatinya: untuk pertama kalinya, Yuri berani menyentuh dirinya. Padahal, selama ini, Yuri selalu bersikap ketus dan dingin jika Tao berusaha menyentuh Yuri walau hanya seujung rambut.

Tao pun bersiap memejamkan matanya kembali. Ia rela tak terbangun dari tidurnya asalkan selalu berada dalam keadaan seperti ini.

Keadaan dimana Yuri mendekapnya dengan erat dan hangat.

.

“Ugh…”

Yuri merasakan kepalanya mulai pening, karena tertidur terlalu lama. Ia pun berusaha terbangun dari tidurnya dengan membuka kedua matanya terlebih dahulu. Namun ada rasa nyaman yang membuatnya enggan untuk terbangun dari ranjangnya. Kedua matanya sudah terbuka, namun tubuhnya tetap berbarin di atas ranjang. Ia justru mengeratkan pelukannya pada gulingnya.

Eh, tunggu. Kenapa guling yang dipeluk Yuri terasa lebih besar dan nyaman? Apakah seseorang telah mengganti guling Yuri?

Yuri pun menoleh ke arah samping dan ia begitu terkejut ketika menyadari apa yang tengah dipeluknya saat ini. “Kyaaa!!!” serunya dengan cukup keras. “Hei, bangun dan lepaskan aku dari pelukanmu!” perintah Yuri. Ternyata, Yuri baru menyadari bahwa dia dan Tao sedang tidur sambil berpelukan di atas ranjang.

“Engh, aku masih mengantuk, Yul,” gumam Tao. Pria itu justru mengeratkan pelukannya pada pinggang Yuri.

“Lepas, lepas,” perintah Yuri. Tangannya memukul pelan lengan kekar Tao. “Hiks, hiks, lepaskan aku, Tao. Kumohon, lepaskan aku,” ucapnya lirih sambil terisak pelan.

Seketika, Tao membuka kedua matanya. “K-kau… K-kenapa kau menangis?” tanya Tao gugup, lantas melonggarkan pelukannya.

Yuri menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bayangan-bayangan buruk tentang bagaimana tubuhnya nyaris disewa oleh berbagai pria hidung belang pun terputar di otaknya. Itulah salah satu alasan kenapa Yuri sangat takut disentuh oleh pria. Ia takut dilukai oleh para pria. Meski begitu, ia juga tak habis pikir, bagaimana semalam ia bisa memeluk tubuh Tao dengan bebas, tanpa perlu merasa takut. Mungkinkah rasa khawatir jauh lebih menguasai dirinya?

“Hei, Yuri, kenapa kau menangis?” Kini, Tao nampak semakin cemas, karena Yuri sama sekali tak menghentikan isakannya. Tao pun benar-benar melepaskan pelukannya pada tubuh Yuri, meski wajahnya nampak begitu tidak rela. Ia pun mendudukkan tubuhnya dan membantu Yuri terduduk di atas ranjang.

Yuri masih terisak sambil menutup wajahnya. Bahunya bergerak naik turun.

“Yuri, katakan padaku, kenapa kau menangis? Apakah aku melukaimu?” Tao menyentuh lembut kedua lengan Yuri.

“A-aku…aku… takut,” bisik Yuri pelan.

Tao mengernyit. “Kenapa kau harus takut? Ada aku disini,” ucap Tao menenangkan.

“A-aku takut kau melukaiku. Aku takut dengan pria-pria itu,” bisik Yuri pelan.

Tao menghela nafas panjang. “Dengarkan aku, Yuri. Aku adalah Huang Zhi Tao dan bukan pria-pria yang kau takuti itu. Kau boleh membunuhku, jika aku melukai tubuhmu,” ucap Tao mantap.

Yuri tak membalas ucapan Tao dan justru menumbuk tubuh Tao. Ia memeluk tubuh pria itu dengan erat. Tubuhnya bergetar pelan, seolah menyampaikan pada Tao tentang ketakutannya saat ini.

Tao nampak terkejut dengan pelukan Yuri. Namun ia tetap membalas pelukan Yuri. “Ssst, tenanglah,” bisik Tao sambil mengusap lembut punggung Yuri. “Aku berjanji akan melindungimu dan tak akan membiarkan orang lain melukaimu lagi.”

Lagi-lagi, kalimat itu meluncur dari bibir Tao. Dan entah kenapa, Yuri merasa begitu tenang dan damai ketika mendengar ucapan tersebut.

Seolah semuanya memang akan baik-baik saja.

Namun, sepertinya ketakutan yang dihadapi Yuri akan jauh berbeda dari yang dibayangkannya.

Ketakutan bahwa ia akan kehilangan Tao suatu saat nanti.

.

“Apakah Anda sudah baik-baik saja, Tuan Muda?” Chen menatap lekat-lekat ke arah Tao yang sedang memeriksa dokumen-dokumen yang baru saja dibawanya. Tatapannya menyiratkan kekhawatiran karena mengingat Tao yang sempat demam dan mengigau semalam.

Tao mengalihkan pandangannya sejenak pada Chen. Keningnya berkerut. “Tentu saja, aku baik-baik saja,” balas Tao. Ia kembali menunduk dan membaca dokumen-dokumen di tangannya.

Chen hanya tersenyum asimetris dan tak ingin membalas ucapan Tao. Sepertinya, Tao lupa bahwa semalam ia sempat demam, bahkan hingga meracau karena mimpi buruk. Namun, Chen berpikir bahwa Tao sudah sembuh semenjak Yuri berusaha menenangkan tao semalam. Meski Chen yakin betul, bahwa Tao pun tak ingat ketika Yuri berusaha menenangkannya.

“Jadi, koloni Kwon menawari kita suatu kerja sama, hm?” tanya Tao. Matanya tak beralih sedikitpun untuk menyusuri rentetan huruf dan angka di hadapannya.

“Begitulah, Tuan Muda,” jawab Chen. “Mereka menawarkan bantuan untuk melancarkan distribusi senjata ke kawasan Korea Selatan,” jelas Chen.

Tao menutup dokumen-dokumen tersebut, lantas menatap Chen. “Bagaimana menurutmu?”

Lagi-lagi, Chen tersenyum asimetris. “Jika Anda memang serius untuk melakukan distribusi senjata ke kawasan Korea Selatan, sebaiknya Anda menyetujui tawaran ini, karena seperti yang kita ketahui, Koloni Kwon adalah yang paling berkuasa di Korea Selatan,” jelas Chen.

Tao mengusap dagunya perlahan. “Bagaimana dengan kabar kegoyahan dari Koloni Kwon, seperti yang dikatakan Paman Yifan?” tanya Tao.

“Hal itu tidak berpengaruh terlalu banyak, Tuan Muda,” balas Chen. “Sepertinya, masalah yang mereka hadapi adalah masalah internal dalam keluarga mereka, yang tidak akan berpengaruh terlalu besar pada usaha mereka,” jelas Chen. “Lagipula, pimpinan mereka memiliki ciri khas seperti Anda. Anda tentu mengenal Kwon Jiyong, bukan?” tanya Chen memastikan.

Tao mengangguk pelan. “Ya, aku memang pernah bertemu dengannya dan mendengar beberapa hal tentangnya,” gumam Tao. Ia mendongak menatap Chen. Terdapat keraguan di matanya. “Tapi, kau tahu, bahwa aku belum bisa sepenuhnya percaya pada orang Korea. Kau paham betul dengan traumaku, Chen,” ucap Tao agak khawatir.

Chen tersenyum tipis. Chen tahu betul bagaimana Tao begitu khawatir jika harus menjalin bisnis dengan orang-orang Korea. Bahkan, ia tak berani melakukan ekspansi bisnis ke kawasan Korea, karena masa lalunya yang sangat buruk. “Anda tidak perlu khawatir, Tuan Muda. Koloni Kwon sangat bisa dipercaya. Mereka berbisnis dengan baik dan elegan. Jadi, Anda tidak perlu meragukan mereka,” ucap Chen menenangkan.

Tao mendesah kecil. “Baiklah kalau begitu,” ucapnya. “Aku mempercayakan segalanya padamu, Chen. Cepat capai kesepakatan dengan mereka,” perintah Tao.

Chen membalasnya dengan sebuah anggukan penuh keyakinan.

Tao bangkit dari kursi kerjanya dan merapikan kemejanya. “Aku harus pergi dulu dan bertemu dengan beberapa orang dari Divisi Persenjataan,” ucap Tao.

Chen mengangguk paham.

“Dan Chen, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu,” ucap Tao.

Chen memperhatikan Tuan Muda-nya dengan seksama. “Ya?”

“Jelaskan padaku, bagaimana Yuri bisa tidur bersamaku semalam? Apakah aku yang membawanya ke kamarku secara tak sadar atau…” tanya Tao panik.

Chen mengembangkan sebuah senyuman simetris yang jarang ditunjukkannya. Ia nampak senang mendengar pertanyaan Tao. “Nona Yuri pergi ke kamar Anda semalam dan memutuskan untuk menemani Anda, Tuan Muda,” jelas Chen.

Tao nampak terkejut atas pernyataan Chen. “Kau serius? Memangnya, mengapa dia memilih tidur bersamaku?” tanya Tao bingung.

Chen hanya tersenyum kecil yang berarti Anda-bisa-menanyakannya-sendiri-pada-Nona-Yuri.

Tao menggeleng pasrah. “Baiklah kalau begitu,” gumamnya pelan. “Lagipula, sikapnya aneh sekali. Jika dia ingin tidur denganku, lantas kenapa tadi pagi dia tampak ketakutan denganku?” tanya Tao. Lagi-lagi, pria itu kelihatan bingung.

Chen tersenyum asimetris. “Trauma bisa menjungkir balikkan perasaan dan pikiran seseorang, Tuan Muda.”

.

CKLEK!

Yuri yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias pun langsung menoleh cepat ke arah pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka, tanpa ada suara ketukan. “Kyaa!” serunya karena kaget.

Pria yang baru saja membuka pintu kamar Yuri itu menggerutu pelan, lantas membanting pintu dengan cukup keras.

“Yak, Huang Zhi Tao!” seru Yuri sambil menunjuk-nunjuk pria itu dengan sisir yang digenggamnya. “Tak bisakah kau bersikap sedikit sopan? Kau masuk ke kamarku seenaknya saja!” bentak Yuri ketus.

Tao sama sekali membalas rentetan kalimat yang keluar dari bibir Yuri. Ia justru melangkah santai menuju ranjang Yuri dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, membiarkan kedua kakinya menjuntai hingga ke lantai.

Yuri pun menghampiri Tao dan bersiap membentaknya. “Hei, hei, kau pikir ini ranjang siapa, heh?” tanya Yuri sambil berkacak pinggang.

Tao membuka matanya yang terpejam. Pandangannya nampak meremehkan. “Kau pikir, kau sedang tinggal di rumah siapa, hm?” tanyanya dengan suaranya yang dalam dan rendah.

Yuri terdiam. Ia menurunkan kedua tangannya pada pinggangnya. Yuri sadar bahwa dialah yang menumpang di rumah Tao. Tidak seharusnya, ia memperlakukan tuan rumah dengan tidak baik seperti itu. Namun, tetap saja, Yuri merasa, sikap Tao yang seenaknya saja tidaklah sopan. “Tapi, kau tetap tidak sopan. Setidaknya, kau mengetuk pintu kamarku terlebih dahulu,” ucap Yuri pelan. Kepalanya tertunduk, karena tak sanggup menghadapi tatapan Tao yang mengintimidasinya.

Tao mengangkat sebelah alisnya. Ia terbangun dan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. “Mengetuk pintu? Bukankah semalam, kau juga sudah menyusup ke dalam kamarku tanpa meminta izinku, hm?” tanya Tao dengan suara menggoda.

Yuri membuka mulutnya karena tak terima dituduh seperti itu. Ia memiliki alasan atas hal yang dilakukannya itu. “Aku melakukan hal itu karena keadaannya cukup darurat,” elak Yuri.

“You always make an excuse, Yuri,” cibir Tao.

“Kau demam semalam! Kau tak tahu bahwa kau membuat seluruh orang di Mansion ini mengkhawatirkan keadaanmu! Aku hanya mengkhawatirkanmu, Huang Zhi Tao! Cobalah mengerti!” cerocos Yuri dengan suara tingginya.

Kalimat-kalimat itu sukses membungkam Tao.

Yuri menatap Tao tajam. “Kau sudah dengar alasanku yang sesungguhnya, bukan? Kalau kau tak percaya, kau bisa menanyakan hal ini pada Chen,” ucap Yuri dingin, lantas memalingkan wajahnya dari Tao.

Tao masih terdiam. Ia tertegun mendengar pengakuan Yuri padanya. Diam-diam, ia menarik sebuah senyuman tipis. “Terima kasih,” gumamnya.

Yuri melongo mendengar gumaman Tao. Ia nyaris saja menganggap bahwa itu hanyalah bisikan-bisikan angin.

Tao pun berdiri dari duduknya, sehingga ia pun sejajar dengan tubuh Yuri. Tangannya mencengkram kedua lengan Yuri.

Yuri harus mendongakkan kepalanya untuk memperhatikan wajah Tao.

“Terima kasih,” ucap Tao dengan jelas.

Yuri percaya bahwa apa yang didengarnya tadi sama sekali bukanlah hanya bisikan angin. Tiba-tiba, dadanya bergemuruh. Sesuatu yang sejuk menerpa di dalam dadanya. ‘Perasaan macam apa ini?’ batin Yuri bingung.

Tao mendekatkan wajahnya pada wajah Yuri, lantas mengecup pipi Yuri dengan kilat. Ia pun segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar Yuri.

Sementara, Yuri masih berusaha mencerna kejadian yang dialaminya. Otaknya selalu berpikir lebih lambat, jika ia mendapatkan sentuhan dari Tao. Namun, samar-samar, telinganya masih bisa menangkap gumaman Tao. Dan sialnya, gumaman itu cukup untuk meninggalkan luka di hati Yuri.

“Kau benar-benar mengingatkanku pada Sooyoung.”

.

Somewhere

Seoul, South Korea
“Jadi, Tuan Huang setuju untuk bekerja sama dengan kami?”

Seorang pria eksentrik dengan rambut yang dicat putih itu memperhatikan percakapan antara seorang pria paruh baya dengan seseorang di telepon dari sofa besar yang nampak mewah dan elegan.

“Ah, baiklah kalau begitu, Tuan Kim. Kami akan segera mempersiapkan segalanya,” ucap pria paruh baya itu. “Kami akan segera memberitahukan kabar selanjutnya,” lanjutnya mantap.

PIP!

Sambungan telepon itu pun terputus.

Sang pria berambut putih itu mengeluarkan sebatang rokoknya, lantas menghisapnya dalam-dalam. “Jadi,” Pria itu menghembuskan nafasnya yang mengandung gas-gas beracun dari rokoknya, “bagaimana, Ahjussi?”

Pria paruh baya yang dipanggil ‘Ahjussi’ itu membalik tubuhnya menghadap pria berambut putih tersebut. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Dan kepalanya menunduk, menunjukkan kesopanan. “Koloni Huang telah menerima tawaran kita, Tuan Muda,” jawab pria tersebut.

Pria berambut putih tersebut mengetakkan rokoknya pada sebuah asbak kecil di samping kursinya. “Hm, baguslah kalau begitu,” gumamnya pelan. Suaranya terdengar datar dan biasa saja. Wajahnya pun sama sekali tidak menunjukkan ekspresi suka atau tidak suka. Ia bangkit dari duduknya, lantas merapikan jas hitam yang sedang dikenakannya. “Segera siapkan segalanya dengan baik dan benar, Ahjussi,” ucap pria eksentrik tersebut. “Dan pastikan semuanya berjalan dengan lancar,” lanjutnya sebelum meninggalkan ruangan bersuasana temaram tersebut.

.

Yuri terduduk di tepi kolam dengan air mancur besar yang terletak di halaman belakang Huang Mansion yang amat luas. Ia tak memedulikan terik matahari yang siap membakar kulit tubuhnya kapan saja. Wajahnya nampak ditekuk. Tangannya memainkan air di dalam kolam. Pandangannya kosong, sepertinya ia sedang melamunkan sesuatu.

Ya, Yuri lagi-lagi penasaran dengan nama Sooyoung yang sering terucap dari bibir seorang Huang Zhi Tao. Dan sialnya, tadi pagi Tao mengucapkan nama itu sekali lagi. “Aish, siapa sih, sebenarnya Sooyoung itu? Menjengkelkan sekali.” Yuri menciprat-cipratkan air kolam. Bibirnya mengerucut dengan lucu.

“Hei!” Seseorang menoel pipi Yuri.

“Yak! Apa yang kau lakukan?!” omel Yuri sambil menoleh cepat ke arah samping kanannya. Matanya mengerjap beberapa kali, saat melihat sesosok pria tampan bertubuh tinggi tegap di sampingnya. Wajah pria itu nampak familiar baginya. “E-eumm…”

“Mengingatku?” Pria tampan itu pun terduduk tepat di hadapan Yuri.

Yuri memiringkan kepalanya, selagi otaknya berusaha mengingat pria itu. “Urm, kau…”

“Kris. Namaku Kris,” jelas pria itu sambil mengulurkan tangannya, berniat mengajak Yuri bersalaman. “Dan kau…”

“Yuri, panggil saja aku Yuri,” sambung Yuri cepat, lantas menjabat tangan Kris dengan penuh semangat. “Anda pasti salah satu rekan Tao, bukan?” tebak Yuri. Ya, siapapun yang bisa mengakses Huang Mansion hanyalah orang-orang tertentu, seperti rekan bisnis Tao atau keluarganya. Hanya saja, Yuri melihat sosok Tao yang tak pernah dekat dengan keluarganya. Bahkan ia nyaris menduga bahwa Tao sebatang kara di dunia ini.

Kris berpikir sejenak. Ia menduga bahwa gadis di hadapannya ini adalah gadis yang spesial bagi Tao. Sedetik kemudian, Kris tertawa pelan. “Aku bukan rekan Tao, melainkan pamannya.”

“Whoa!” Yuri begitu terkejut dengan penuturan Kris. “A-anda serius? T-tapi…” Yuri nampak tak percaya dengan apa yang diucapkan Kris. Pria itu memang nampak agak mirip dengan Tao. Postur tubuhnya, gesturnya, cara bicaranya yang khas, dan auranya sungguh mirip dengan milik Tao. Namun, ia tak menduga bahwa Tao memiliki seorang paman. Terlebih lagi, pamannya masih terlihat muda dan seolah hanya selisih beberapa tahun dari Tao.

“Kau pasti tak percaya, bukan?” Kris tertawa renyah. Ia seperti bisa membaca pikiran Yuri. “Banyak orang yang menduga kami lebih mirip seperti kakak-adik, dan bukannya paman-keponakan,” jelasnya.

Yuri mengangguk paham. Ternyata bukan dirinya saja yang berpikir begitu.

“Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan disini, hm?” tanya Kris mencoba terlihat simpatik pada gadis berkulit eksotis tersebut.

“A-aku hanya merasa sedikit bosan di dalam mansion. Makanya aku berada disini,” jelas Yuri dengan nada yang terdengar lesu.

“Oh, begitu,” gumam Kris pelan.

“Oh iya, Paman,” panggil Yuri. “E-eh, bolehkah aku memanggilmu Paman?” tanya Yuri agak takut.

“Tentu saja boleh, Yuri,” balas Kris dengan senang hati.

“Hm, begini Paman, aku ingin bertanya sesuatu tentang Tao. Bolehkah?” tanya Yuri memastikan.

“Kau ingin bertanya apa, hm?” tanya Kris, agak penasaran.

“Urm, apakah Paman mengetahui sesuatu tentang Sooyoung?” tanya Yuri dengan kepala tertunduk. Suaranya terdengar begitu pelan.

Meski begitu, Kris mampu menangkap pertanyaan Yuri. Dan hal itu cukup untuk menunjukkan seringaian maut di bibirnya.
.

“Apakah kau tidak melihat Paman Kris datang kemari, Chen?” tanya Tao pada Chen, saat ia sedang memeriksa setumpuk berkas yang baru saja dibawa oleh Chen ke ruangannya.

Chen mengernyitkan dahinya dan mengingat sejenak. “Um, sepertinya tidak, Tuan Muda,” balas Chen agak ragu. “Apakah Tuan Muda berencana untuk bertemu dengan Tuan Huang?” tanya Chen memastikan.

Tao menutup salah satu berkas yang sedang dibacanya dan menatap Chen lekat-lekat. “Ya, seharusnya kami bertemu hari ini untuk membahas kontrak kita dengan Koloni Kwon,” jelas Tao. “Ah, bagaimana mungkin, Paman Kris melupakan janjinya denganku,” gumamnya tak percaya. Matanya kembali tertuju ke arah setumpuk berkas di atas mejanya dan memeriksanya kembali.

“Mungkin saja, Tuan Huang memiliki keperluan mendadak sehingga tak bisa menemui Anda hari ini,” duga Chen sambil memperhatikan Tuan Mudanya.

Tao mengangkat bahu. “Entahlah, tapi tidak biasanya ia seperti ini,” gumam Tao. “Sepertinya ada sesuatu yang janggal,” lanjutnya.

Chen terdiam dan merenungkan kalimat Tao. Dugaan Tuan Mudanya tak pernah salah. Dan Chen juga merasakan kejanggalan pada ketidakhadiran Kris hari itu.

.

TOK! TOK! TOK!

“Nona Yuri, Nona Yuri.” Chen sudah berdiri di balik pintu kamar Yuri dan mengetuknya pelan. Ia diutus oleh Tao untuk memanggil Yuri, karena pria berkantung mata itu hendak mengajak Yuri makan malam.

TOK! TOK! TOK!

Chen mengetuk pintu itu sekali lagi. “Nona Yuri.” Namun, tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar. Firasat buruk Chen pun menguar. Sepertinya terjadi sesuatu yang tidak beres di dalam kamar Yuri. “Nona Yuri, apakah Anda di dalam?” tanya Chen dengan suara yang ditinggikan. Namun, tetap saja tak ada jawaban. Seolah tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kamar Yuri.

Chen melihat ke sekelilingnya. Dilihatnya beberapa penjaga mansion Huang yang berlalu lalang. Ia mencoba mencari informasi tentang Yuri. “Apakah kalian melihat Nona Yuri?” tanya Chen pada sekelompok penjaga yang sedang melintas di lorong tersebut.

Mereka saling berpandangan, sebelum salah satu dari mereka angkat bicara. “Kami belum melihat Nona Yuri lagi setelah tadi sore,” jelas salah satu penjaga dengan tubuh yang berkulit gelap.

Chen mengernyit. “Memangnya, kalian bertemu Nona Yuri dimana tadi sore?” tanya Chen penasaran. Ia bahkan belum melihat Yuri lagi, setelah sarapan tadi pagi.

“Nona Yuri berada di dekat air mancur dan berbicara dengan Tuan Kris.”

“APA?!”

.

“D-dingin sekali…”

Seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai itu merapatkan cardigan yang sedang dikenakannya. Ia tak menduga jika udara malam di kota Beijing saat musim panas sekalipun sangatlah dingin. Mungkinkah ini karena ia terlalu lama berada di dalam mansion besar milik keluarga Huang tersebut?

Ah, di saat seperti ini, ia sungguh ingin kembali ke mansion tersebut. Menikmati kehangatan dari pemanas yang tersedia di dalam kamar mewahnya. Menanti makan malam lezat yang bisa diantarkan para koki ke kamarnya dan melahapnya dengan sepuasnya. Namun kali ini, ada determinasi yang lebih besar yang mengalahkan egonya. Determinasi untuk lepas dari sosok Huang Zhi Tao.

Ya, Kwon Yuri, gadis cantik yang sedang berjalan di tengah malam dan dinginnya kota Beijing itu memang sudah bertekad untuk meninggalkan Tao, pria yang sudah memberikan perlindungan padanya selama ini. Ia tak sanggup jika harus berlama-lama berada di samping pria yang bisa saja membuatnya jatuh hati kapan saja, sementara ia tak bisa memiliki hati pria itu.

Tao sudah terlanjur terpaku pada sosok Sooyoung. Saingan yang bahkan belum diketahui Yuri, seperti apa sosoknya. Namun, berdasarkan penuturan Kris, Yuri menduga bahwa Sooyoung adalah gadis yang cantik dan begitu anggun. Kris sudah menceritakan segalanya tentang Sooyoung dan hubungan gadis itu dengan Tao. Dan Yuri merasa seluruh informasi yang diberikan Kris lebih dari cukup untuk meyakinkan dirinya untuk melarikan diri dari jerat Tao.

“Aku harus kemana?” gumamnya pelan. Jujur, ia benar-benar buta arah. Ia tak pernah pergi keluar mansion Huang. Hidupnya di mansion milik keluarga Tao itu selalu tercukupi.

Yuri memandang ke sekelilingnya. Beijing memang nampak ramai dan penuh gemerlap. Namun, pikirannya terlalu hampa untuk mengagumi segala keindahan yang ada di depan matanya ini.

BRUK!

“Aw!”

“Maaf.”

Tubuh Yuri nyaris saja terjungkal ke arah jalanan yang ramai, ketika ia ditumbuk oleh seseorang. Untung saja, seseorang tersebut dengan sigap menahan tubuh Yuri. “E-eh, lepaskan,” cicit Yuri.

Orang itu segera melepaskan pelukannya. “M-maaf. Saya menabrak Anda dan hampir membuat Anda tertabrak. Maaf jika saya lancang menyentuh Anda,” ucap sebuah suara yang terdengar seperti suara seorang pria. Pria itu membungkuk beberapa kali.

“Ah, tak apa,” balas Yuri gugup. Bagaimanapun juga, ia masih trauma jika disentuh oleh orang lain.

Pria itu mendongakkan kepalanya dan menatap Yuri. “K-kau…” Wajahnya mengeras di antara lampu jalanan yang menerangi wajahnya.

“Ya?” Yuri nampak was-was. Ia khawatir jika pria itu berbuat macam-macam.

“Kwon Yuri!”

TBC

.

Hell-o, I’m back. Miss me? Kkkk~

Sorry for the (very) late update, cz I’ve been so busy lately. This is the new chapter of Another Paradise. And I’m gonna continue all my fics. Happy to hear that? (Readers: No~)

Actually, I have so much to say. But you know, I’m becoming so talkative these days. So before I’m spamming (lol), let me finish this kkkk.

Don’t forget to leave ur comment, dear. Your comments are feedbacks for me😉

Love,

Jung Minrin

21 thoughts on “[Mini Series] Another Paradise – Chapter 2

  1. Annyeong eonni ceritanya daebak banget deh dan bikin penasaran ditunggu ya kelanjutan nya eonni
    keep writing eonni
    fighting
    gomawo

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s