[Freelance] Not Destined (Chapter 2)

NOT DETINED

Title : Not Destined

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG 17

Genre : Romance, Comedy, Sad, Family

Main Cast : Taeyeon, Kai

Other Cast : Lihat sendiri yah J

Author Note : Mian lama, soalnya belakangan ini lagi banyak buat ff baru. Apalagi aku post ff di dua blog yang berbeda. Dan juga aku gak mau kalau sampai aku post ff yang sama di dua blog yang berbeda. Jadinya harus lebih banyak berfikir tentang pembagian ffnya. Tapi, karena ini blog pertama yang aku tahu, jadi sejauh ini aku masih ngutamain blog ini J.

Tapi bukan berarti juga blog yang satunya gak diperhatiin yah. Oya bagi yang mau berkunjung ke blog khusus exotaeng kunjungi blog di bawah ini #promo

http://exotaengindo.wordpress.com/

 

. . . . . . . . .

“Changi- ah ayolah keluar sebentar saja. Aku tahu kau akan sangat bersedih hati berpisah denganku, tapi ini semua demi kebaikanmu” Sehun mengetuk- ngetuk pintu kamar taeyeon yang semenjak tadi tertutup rapat.

Taeyeon yang mendengarnya hanya bisa menahan amarahnya karena mendengar namjachingunya itu rasanya membuatnya ingin muntah. ‘Awas kau seandainya saja keadaan sedang berpihak padaku pasti aku sudah menendangmu keluar dari rumah ini’ umpat taeyeon dalam hati.

Taeyeon terus berfikir bagaimana caranya agar dia tak jadi pergi ke busan, bukan karena dia tidak mau hidup serba pas- pasan bersama appanya. Hanya saja ia sedikit canggung dengan appanya itu. Bagaimana tidak, terakhir kali mereka bertemu pun taeyeon sudah lupa, lalu bagaimana nanti dia harus bersikap? ‘Memikirkannya saja bisa membuatku gila’ batin taeyeon.

“Changi- ah ayo kita makan bersama, aku sudah sangat lapar” kesabaran taeyeon sudah habis karena sehun terus merengek kepadanya. Ia melepas sepatu yang ia gunakan.

Brak . .

“BISAKAH KAU DIAM?” Taeyeon sudah bisa bernafas lega karena namja yang sedang berada di luar sudah tidak mengeluarkan suara lagi. Karena sehun tengah bertarung dengan jantungnya yang hampir copot akibat sepatu taeyeon yang ia lempar ke pintu ditambah lagi suara teriakannya yang sangat dahsyat.

Ide gila muncul dikepala taeyeon di tengah kesunyian itu, “Seandainya dari tadi dia diam, maka ide ini akan muncul sejak tadi” gerutu taeyeon seraya berdiri dari kasurnya dan menghampiri lemari pakaiannya. ‘Kabur dari rumah juga tidak terlalu buruk’ ia tersenyum manis akan idenya.

Taeyeon membuka lemarinya namun tak ada sehelai pakaian pun yang tersisa di dalam lemari itu, “YA! Mengapa orang tua itu sangat menjengkelkan? Aku tak percaya dia adalah oemmaku” taeyeon menutup pintu lemari itu dengan keras hingga muncul retakan kecil dipermukaanya, untuk saja lemari itu bukan terbuat dari kaca. Kalau tidak entahlah bagaimana kejadiannya.

‘Setidaknya aku masih bisa membeli baju dengan uangku’ taeyeon meraih tasnya dan segera beralih ke jendela kamarnya.

Kamar taeyeon berada di lantai satu, jadi bukan hal yang sulit baginya untuk keluar dari kamar itu. Dengan pelan ia melangkah melewati bagian pinggir kolam renang yang memang berada di samping kamarnya. Ia bahkan tak memakai sepatunya kembali setelah melemparkannya ke pintu.

Dengan kaki kecilnya ia hendak memanjat pintu gerbang, “Berhenti” Aktivitas taeyeon terhenti mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya itu. Ia menurunkan kakinya lalu berbalik.

Plak

Tamparan keras mendarat pada wajah mulusnya, “Mengapa kau sangat sulit diatur hah?” Bentak nyonya kim. Sehun yang tidak tega melihatnya hanya menutup matanya dengan kedua tangannya.

“Mengapa eomma selalu menyalahkanku? Oemma yang selalu seenaknya, aku tidak mau dan tidak akan pernah berangkat ke busan?” balas taeyeon tak kalah sengit.

Nyonya kim hendak menampar taeyeon lagi, namun melihat sehun yang berada di situ ia mengurungkan niatnya. “Baiklah jika kau tak mau pergi ke busan eomma akan membiarkanmu”

Taeyeon mengerutkan keningnya, tidak biasanya eommanya bisa semudah itu di kalahkan pendapatnya, “Baiklah, terima kasih karena sudah mau mendengarkanku” ucap taeyeon statistik lalu meninggalkan tempat itu hendak menuju kamarnya.

“Kau boleh tidak pergi, tapi persiapkan pernikahanmu dengan sehun besok” taeyeon menghentikan langkahnya.

“MWO” sehun pun tak kalah kagetnya dengan taeyeon. Sehun memang mencitai taeyeon, tapi ia sudah bertekat untuk tidak menikahi taeyeon sampai gadis itu siap.

“Apakah kau setuju?” tanya eomma taeyeon tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

Taeyeon menahan air matanya yang memaksa keluar, lalu ia menghadap oemmanya. “Sudah kuduka orang seperti eomma tidak mungkin dengan gampang mendengar apa yang dikatakan anaknya sendiri.”

“Jaga bicaramu”

Taeyeon menunjukkan smirknya di tengah air matanya yang sudah menetes, “Hmm, Hidupku memang sungguh malang, karena aku hanyalah sebuah mobilan control yang selalu di control oleh nyonya Kim yang terhormat”

Plak

“Ahjummha” Tegur sehun saat tamparan dengan mulus lagi- lagi mendarat di pipi taeyeon yang membuat sudut bibir taeyeon sedikit berdarah.

“Kau benar- benar tak punya sopan santun seperti ayahmu” bentak nyonya kim tanpa menanggapi teguran sehun.

Taeyeon tersenyum perih, “Aku akan pergi ke busan besok pagi sesuai dengan keinginanmu. Apakah kau puas?” Tanya taeyeon dengan tangan yang menggepal, seandainya saja yang ia hadapi bukan eommanya mungkin ia sudah membunuh orang itu. “Aku lebih baik menjadi orang miskin seperti appa tapi bebas melakukan apapun, dari pada menjadi orang kaya seperti eomma tapi hidup bagaikan burung yang disangkar” Tangan eomma taeyeon terangkat hendak menampar putrinya lagi, namun taeyeon menghalanginya.

“Sudah cukup, mulai detik ini jangan pernah sentuh aku lagi” taeyeon melepaskan genggaman kerasnya, “Terima kasih atas dua tamparannya dan juga terima kasih atas segala luka yang kau sayatkan di hatiku eomma” taeyeon berlari meninggalkan eommanya yang menahan emosinya.

Sehun yang melihat taeyeon berlari segera mengejar gadis itu.

 

. . . . . . . . .

“Hello sobat” sapa chanyeol ketika ia dan lay memasuki kamar kai.

“Apakah tanganmu sangat malas untuk mengetuk pintu itu ?” jawab kai datar, namun pandangannya tetap terarah pada kemejanya  yang sedang ia rapikan.

Lay merotasi bola matanya, “Malam ini akan berkencan dengan siapa?” tanya lay dengan nada mengejek.

Kai menatap ke langit- langit kamarnya yang menandakan bahwa ia sedang berfikir. “Aku juga lupa, yang jelas aku akan bertemu dengannya di restorant Pierre Gagnaire a Seoul” jawab kai lalu melanjutkan aktivitasnya.

Kedua temannya hanya bertatapan pasrah melihat sikap teman sekaligus sepupunya itu, “Kau akan sangat rugi membawa pacarmu ke restaurant semahal itu kalau endingnya kau juga memutuskannya” Sahut chanyeol kemudian.

Lay menyetujui pendapat chanyeol dengan cara mengangguk, “Aduh kalian ini bagaimana? Mana mungkin aku memikirkan masalah uang. Bukankah orang tua kita sangat meyakinkan kalau hanya masalah uang? Sudahlah jangan terlalu pelit. Hitung- hitung ini hadiah perpisahan baginya.” Jawab kai memandang kedua sahabatnya secara bergantian.

“Jangan bilang kau akan memutuskan satu pacar lagi malam ini?” chanyeol menatap kai dengan tatapan curiganya. Lay juga ikut curiga apalagi melihat smirk di wajah kai.

“Apakah pernah aku bertahan berpacaran lebih dari sehari?” ucap kai dengan nada santai, Ia segera pergi tanpa memperdulikan kedua sepupunya itu. “Aku pergi”

“Owh, semoga tuhan memberikan petunjuk padanya untuk bertaubat.” Chanyeol ikut duduk di samping lay dengan nada putus asa.

“Semoga saja” ucap lay membenarkan.

 

. . . . . . . . . .

Dengan malas taeyeon berjalan keluar dari rumahnya di kawal oleh beberapa pelayan yang membawakan koper untuknya, “Changi- ah tunggu” taeyeon menghentikan langkahnya membalikkan badannya menghadap orang yang tadi menyapanya.

Taeyeon memandangnya tajam namun sehun bukannya takut malah semakin melebarkan senyumannya, “Changiah aku pasti akan merindukanmu” sehun merubah ekspresinya cemberut lalu beralih memeluk taeyeon.

Taeyeon tentunya dengan sigap menolak pelukan dari sehun, “Jangan memancingku untuk berbuat kasar padamu” taeyeon memincingkan tatapan menakutkannya kepada sehun yang membuat namja itu gemetar. Tentu saja ia masih ingat ketika taeyeon menghajarnya sampai harus dibawa kerumah sakit karena pukulan taeyeon. Untuk saja sehun bisa mencari alasan agar taeyeon tidak disalahkan.

“Mian changi aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padamu” ucapnya dengan nada manja yang hanya dijawab oleh tatapan taeyeon yang sangat datar.

“Sudah? Aku tidak mau waktuku yang berharga terbuang karenamu” ucapnya dengan bosan dan hendak memasuki mobilnya.

Sehun memegang tangan taeyeon yang langsung dihempaskan oleh taeyeon karena risih, “Jangan menyentuhku” taeyeon menunjuk wajah sehun.

Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Aku hanya ingin memberikan . . . “ sehun menggantungkan kata- katanya lalu mengambil sesuatu dari tas yang selalu ia bawa. “Ini” sehun menyodorkan kotak makanan berukuran sedang berwarna pink dengan gambar hello kitty. “Aku tahu kau pasti belum sarapan” sehun tersenyum malaikat yang sama sekali tidak terlihat dimata taeyeon.

Taeyeon meraih kotak makanan itu, “Gomawo” ucapnya tersenyum dipaksakan lalu segera menutup pintu mobilnya.

Sehun yang berhasil mendapatkan moment langkah itu melompat girang, “Yess” ucapnya dengan sangat senang.

Taeyeon yang melihatnya dari dalam mobil hanya tersenyum melihat tingkah konyol calon suaminya itu, ‘Setidaknya ia tidak terlalu buruk’ taeyeon menggelengkan kepalanya setelah mengatakan itu.

Mobil taeyeon melaju, tak lupa sehun memberikan flying kiss untuk yeoja yang dicintainya itu. “Saranghae” teriaknya seraya melambaikan tangan imut.

Dengusan nafas penuh penyesalan dari nyonya kim yang sedang berada di kamarnya terdengar saat melihat putrinya berangkat meninggalkannya, “Mian” ucapnya pelan.

 

. . . . . . . . . .

Taeyeon berjalan dengan langkah malas menarik dua kopernya yang sangat munyusahkan itu melewati sebuah hutong atau gang sempit, “Apakah eomma sangat berniat untuk menyiksaku?” ucapnya malas. Bagaimana bisa eommanya yang kaya raya itu membiarkan anak gadisnya eh maksudnya setengah gadis eh terserahlah apa itu sebutannya yang pasti malam- malam begini sangat berbahaya kan jalan seorang diri.

“Bahkan orang tua itu menyita AMT, kartu kredit dan semua uangku. Benar- benar sangat menjengkelkan” memang eommanya itu membiarkan taeyeon hidup mandiri sebagai hukuman. Ia hanya menyuruh sopir mengantarnya sampai sudut jalan, padahal rumah apanya berada jauh dalam gang. Ia hanya diberikan selembar kertas yang berisikan alamat dari rumah appanya itu.

“SIAL “Taeyeon menendang kaleng minuman yang ada di tanah dengan keras.

“YA!” Bagus taeyeon kaleng itu telah berhasil mengenai kepala salah satu namja yang sedang berkupul dengan temannya itu. Kalau dilihat sepertinya namja- namja itu adalah anak gangster.

“Mianhae” ucap taeyeon membukku sopan karena merasa bersalah.

Namja yang terkena kaleng tadi berjalan mendekati taeyeon bersama kedua temannya. “Tidak apa- apa cantik” namja itu sedikit  mencolek dagu taeyeon.

Prak . . .

Tamparan keras dengan sempurna mengenai wajah namja tadi, “Kalau kau ingin tetap sehat menjauhlah dariku” ucap taeyeon memperingatkan.

Namja tadi memgang pipinya lalu menjilatnya dan kedua temannya hanya melihatnya dengan kekehan pelan, ‘Menjijikkan’ batin taeyeon.

“Kalian berdua mundurlah, ini urusanku dengan yeoja ini” perintahnya kepada kedua temannya yang hanya dikuti dengan patuh oleh dua orang namja lainnya itu.

Namja itu berjalan mendekati taeyeon semakin dekat, bukannya takut atau mundur taeyeon malah diam di tempatnya, “Jangan terlalu galak” tangan namja itu terangkat hendak  menyentuh pipi taeyeon, dengan sigap taeyeon menangkap tangan namja itu kuat, “Auhh” ringis namja itu pelan ketika taeyeon memutar tangannya sehingga berada di belakang.

“Sudah kubilang jangan beremain- main denganku” taeyeon mendorong namja itu hingga dengan posisi tengkurap mendarat mulus di tanah dengan tangan yang masih ia lipat dibelakang. Taeyeon menginjak belakan namja itu dengan keras yang membuat namja itu semakin mengerang kesakitan. “Apakah kalian ingin merasakannya juga?” ucap taeyeon sinis ketika melihat kedua teman namja itu mendekat hendak menolong namja yang sedang diberinya pelajaran berharga.

Kedua temannya hanya mampu mundur, jujur saja mereka sedikit ketakutan pada taeyeon. Bagaimana tidak pemimpin mereka saja bisa seperti itu, apalagi mereka yang pada dasarnya hanya anak buah.

“Tolong lepaskan aku” namja itu berusaha memberontak, namun ternyata tubuh kekarnya mampu dikalahkan oleh taeyeon yang sudah mengunci tubuhnya sehingga tak bisa bergerak sedikitpun.

“Tolong lepaskan baekhyun hyung. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi. “ pinta salah satu teman namja itu dengan nada memelas.

Taeyeon sedikit memperhatikannya lalu kembali focus kepada namja yang bernama baekhyun tadi, “Baiklah kali ini akan aku maafkan. Berdo’alah agar kau tidak bertemu denganku lagi” taeyeon melepaskan tangan namja itu dengan kasar.

Namja itu lalu berudaha duduk dan memegang lengannya yang sangat kesakitan, kedua temannya lalu menghampirinya untuk menanyakan keadaanya.

Taeyeon tanpa peduli segera meraih kedua kopernya dan berjalan menjauh dari tempat itu.

 

. . . . . . . . . .

Kai berjalan memasuki restaurant mewah dihadapannya, dengan membewa bunga mawar yang indah ia terus tersenyum memandangi bunga itu. Ya seperti dugaan kalian malam ini ia telah merencanakan untuk menembak seorang yeoja yang ia juga lupa siapa namanya. Yang jelas kai hanya tahu bahwa yeoja itu pernah bertemu dengannya.

‘Ah itu dia’ kai tersenyum saat melihat yeoja dengan gaun merah tengah makan di salah satu meja. Setelah mengingat- ngingat akhirnya ia ingat bahwa yeoja itu bernama tiffany. Kai menghentikan langkahnya karena ragu akan apa yang ia akan lakukan, ‘Apakah malam ini yeoja yang akan kutembak adalah tiffany?’ tanyanya pada dirinya sendiri.

“Kai” yeoja itu melambaikan tangannya ramah. Kai yang melihatnya hanya tersenyum lalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa yeoja itulah yang akan ia tembak.

Kai yang baru saja sampai langsung saja berlutut dihadapan tiffany yang membuat gadis itu bersemu merah, “Ini untuk Cinderella yang cantik” kata kau menyodorkan bunga yang ia bawa tadi, dengan senang hati tiffany meraihnya.

Kai mengeluarkan kotak berwarna merah dari kantongnya, “Maukah kau menjadi yeojachinguku?” kai membuka kotak yang berisi kalung bermatakan berlian itu.

Tiffany mengerutkan keningnya, “Kai bukankah kita sudah pacaran?” tanya tiffany yang sukses membuat kai salah tingkah.

“Kai?” Mendengar namanya dipanggil kai menengokkan kepalanya kebelakang.

Matanya hampir meloncat saat melihat yeoja itu, ia baru ingat bahwa yeoja itulah yang harusnya ia tembak malam ini. “Soo . . . young” kai berdiri dengan gugup lalu diikuti oleh tiffany.

“Siapa dia kai?” tanya tiffany memandang sooyoung intens.

“Kau yang siapa?” tanya sooyoung dengan judes, karena ia cemburu namja yang belakangan ini dekat dengannya sedang bersama yeoja lain.

Tiffany tersenyum lalu memajukan tangannya, “Aku tiffany pacar kai”

Sooyoung sangat kaget mendengar perkataan tiffany, “Jangan sembarangan yah, kai itu namja yang dekat dengaku dan sebentar lagi menjadi pacarku” Ucap sooyoung dengan nada marah.

Tiffany menatap horor sooyoung, “Kau yang jangan sembarangan, kai itu namjachinguku. Jadi kau jangan terlalu gatal untuk mendekatinya.”

“APA KAU BILANG?” Sooyoung yang merasa tersinggung langsung saja menarik rambut tiffany.

“YA” Pekik tiffany membalas sooyoung dengan menarik rambutnya juga.

Bukannya memisahkan mereka kai malah terkekeh, “Selamat bertengkar” ucapnya pelan lalu meninggalkan tempat yang sudah berantakan karena perkelahian itu. Bahkan seluruh pengunjung berdiri untuk menontong mereka, sedangkan para pelayan tentunya berusaha memisahkan meraka meski pada akhirnya pelayan itu harus rela mendapatkan dorongan dari kedua yeoja yang sedang bertengkar itu.

 

. . . . . . . . .

Taeyeon mengecek lagi alamat yang berada di tangannya, ‘Ini rumahnya?’ tanya taeyeon tak percaya. Ia benar- benar tidak yakin melihat rumah appanya yang sangat sederhana, bahkan mungkin hanya sebesar kamarnya atau malah mungkin kamarnya lebih besar.

Dengan ragu ia mengetuk pintu itu, “Permisi” taeyeon mengetuk untuk yang kedua kalinya.

Taeyeon melihat- lihat sesuatu disekitar sumah itu, pandangannya terarah pada sepeda berwarna pink dengan keranjang di depannya, ‘Apakah appa menggunakan seperda seperti ini?’ taeyeon tersenyum memandangi sepeda itu.

Pintu terbuka yang membuat taeyeon sedikit kaget, “Ada yang bisa saya bantu?” tanya namja paruh baya dihadapannya yang ia yakini adalah appanya.

“Ini aku appa taeyeon” ucap taeyeon dengan tersenyum, ia ingin meneteskan air mata namun ia tak tahu kenapa? Ia ingin memeluk appanya tapi bahkan ia belum mengenalnya.

Namja itu tersenyum teduh lalu membawa taeyeon ke pelukannya, “Appa sangat merindukanmu” taeyeon merasakan pelukan hangat yang bahkan tidak pernah eommanya berikan. “Mian rumah appa tak sebanding dengan rumah eommamu” ucap appa taeyeon dengan nada sangat menyesal setelah melepas pelukannya.

Taeyeon tersenyum teduh, “Gwenchana appa, aku tak terlalu memikirkan itu”

Appa taeyeon membalas senyuman putrinya, “Ternyata eommamu berhasil mendidikmu. Ayo kita masuk sekarang”

Taeyeon diam- diam menggerutut dalam hati, ‘Apanya yang berhasil?’

“Ini kamarmu” Appa taeyeon memasukkan koper taeyeon ke dalam kamar yang ia baru saja menetapkan bahwa itu adalah kamar anaknya itu.

Taeyeon memandangi kamar yang super sederhana itu, “Gomawo appa” ucapnya tersenyum dengan tulus.

Appa taeyeon mengacak singkat rambut anaknya, “Segera mandi dan keluar untuk makan bersama appa” appa taeyeon menutup pintu pelan.

Taeyeon hanya terdiam, ia juga berfikir tidak biasanya ia menerima perlakuan manis seperti tadi dari seseorang. Tapi, jujur saja ia sangat merasa nyaman akan perhatian yang pertama kali ini dapatkan dari orangtuanya sendiri.

Taeyeon membuka jendela kecil di kamar itu membiarkan angin menerbangkan rambutnya yang dibalut oleh topi kesukaannya itu, “Sepertinya aku akan betah berada disini. Aku kira ini semua akan menjadi canggung, tapi ternyata aku salah” taeyeon tersenyum seraya menghirup udara sebanyak yang ia bisa.

 

. . . . . . . . . .

Taeyeon dengan malas mengayung seperdanya, ini pertama kalinya ia menggunakan sepeda sejak berusia lima tahun. Karena rumah appanya yang sedikit berada di daereah yang jarang penduduknya menyebabkan taeyeon hanya sendiri di jalan, bahkan rumah disekitar jalan itu saja tidak ada. Hanya ada hamparan rerumputan yang indah dan bukit yang benar- benar membuat fikiran taeyeon sedikit lebih segear. “Inilah yang tidak ada diseoul” ucap taeyeon seraya melihat hamparan rerumputan hijau itu.

Karena terlalu menikmati pemandangan dihadapnnya ia tak memperhatikan jalan yang ia lewati lagi, “YA!” Perkik taeyeon saat sebuah mobil silver hitam meyerempetnya, memang sih tidak sampai menjatuhkan taeyeon. Tapi kalian tahu sendiri bagaimana sikap taeyeon yang sangat keras kepala.

Mobil yang ada dihadapannya berhenti begitu mendengar teriakannya.  Taeyeon yang melihatnya segera meletakkan kasar sepedanya lalu menghampiri orang tersebut, “Hei bisakah kau bertindak lebih sopan ?” taeyeon menggedor- gedor kaca mobil orang itu kasar.

Orang yang merasa terganggu karena mobilnya digedor itu pun membuka kaca mobilnya, “Ini” orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah kai itu memberikan taeyeon sejumlah uang yang tidak sedikit.

Taeyeon yang merasa geram segera mengambil uang kai lalu melemparnya kembali hingga mengenai muka namja ganteng itu, “APA KAU FIKIR AKU TIDAK MEMPUNYAI UANG ? BAHKAN AKU SANGGUP MEMBELI SERATUS MOBIL SEPERTI INI” Teriak taeyeon dengan geram yang membuat kai menjadi kesal.

Kai membuka kaca mata hitam yang ia gunakan, “YA! Tidak bisakah kau kecilkan suaramu?” bentak kai memegang telingannya, “Dan kau jangan bersikap sok kaya, seandainya kau sanggup membeli mobil seperti ini mengapa kau harus menggunakan sepeda?”

Taeyeon kebingungan untuk menjawabnya, sedangkan kai memerhatikan tingkah gadis dihadapannya itu , ‘Seandainya saja dia cantik pasti aku sudah meminta maaf dengan senang hati. Tapi dia sangat jauh dari kata cantik, dia sangat galak, ditambah lagi stylenya yang sangat tidak cute’ kai memandangi taeyeon yang sedang salah tingkah karena tidak tahu harus menjawab apa.

Taeyeon sangat risau karena benar juga kata lelaki itu, mengapa ia bisa sangat lupa bahwa sedang berada di rumah appanya yang notabenenya kurang mampu. Lalu bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu? Bisa- bisa harga dirinya dilindas habis- habisan oleh namja dihadapannya itu, ‘Sial’ batin taeyeon.

“Kasihan sekali orangtuamu memiliki anak pembohong sepertimu” smirk muncul diwajah kai.

Taeyeon yang sangat sensitive jika sudah menyangkut masalah orang tua akhirnya kehabisan kesabaran, “Apa katamu?” tanya taeyeon menggepalkan tangannya.

Kai tersenyum mengejek, “Apa jangan- jangan orangtuamu adalah seorang pembohong besar”

“YA!” Taeyeon menarik kerah baju kai yang berada di dalam mobil yang menyebabkan namja itu menempel pada pintu mobil mewahnya itu.

“YA! Lepaskan aku” ucap kai berusaha melapaskan diri, ia benar- benar tidak menyangka bahwa yeoja yang ada dihadapannya sanggup mengalahkan namja seperti dia.

“Aku tidak akan melepaskan kau sebelum kau menarik kembali kata- katamu” ucap taeyeon geram semakin mempererat tarikannya yang membuat namja itu sulit bernafas.

Kai yang tidak terbiasa mendapat perlakuan kasar seperti itu seketika sedikit kaget. Namun, karena tak kuat menahannya ia harus mengalah, karena kalau tidak nyawanya bisa saja melayang hanya karena masalah sepele #lebay

“Baik . . . Aku tarik kembali ucapanku tapi lepaskan aku” ucap kai dengan nada memelas karena sudah hampir kehabisan nafas.

Taeyeon akhirnya melepaskan kerah baju kai lalu mendorong nanja itu dengan keras yang menyebabkan kepala kai menabrak pitu disampingnya, “Awww” Ringisnya memegangi kepalanya.

Taeyeon hanya memutar bola mata, “Dasar namja lemah” ujar taeyeon lalu berbalik hendak menuju sepedanya.

Kai yang tidak terima dengan perkataan taeyeon tengah bersiap- siap melajukan mobilnya, “Yeoja gila” teriak kai namun ia sudah melajukan mobilnya agar tidak ditemukan oleh taeyeon.

Taeyeon yang sudah mengantisifasi kejadian tersebut secepat kilat mengambil sebuah batu dan berbalik melemparkannya kepada mobil kai.

Bruak . . .

Taeyeon tersenyum ketika lemparannya mengenai bagian belakang mobil mewah tersebut. Namun untung saja tidak mengenai kaca, seandainya saja mengenai kaca,  pasti akan terjadi hal yang lebih buruk dari ini.

Sedangkan kai hanya mendengar lemparan itu dengan santai, toh tak ada gunanya ia berhenti dan meladeni gadis itu lagi, bisa- bisa dia babak belur ditangan gadis mungil itu. Dan lagipula ia masih punya banyak mobil mewah dirumanya. “Amit- amit aku mendapatkan yeoja sepertinya. Mending aku tidak menikah seumur hidup dari pada menikah dengan yeoja yang tidak pasti jenis kelaminnya.” Ucap kai dengan nada seolah sangat anti pada apa yang diakatakannya barusan.

 

*To Be Continued . . .

Mian juga yah kalau ffnya rada gak jelas gimana gitu, belakangan ini soalnya aku lagi males banget ngarang ff #ditabok

Advertisements

55 thoughts on “[Freelance] Not Destined (Chapter 2)

  1. woaa ni ff kereennn xD !! aku seneng ni ada author yang seumurankuu *gaje chingu punya fb instagram or apa gitu? minta dong xD sekalian tukeran nope yuuk aku seneng ni ada taeganger sama kaya aku ^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s