[Freelance] Apologize (Chapter 2)

Apologize Poster

APOLOGIZE

 

Author                        : Shin Hyun Gi (@AyuSerlia)

Main Cast                  : Kim Taeyeon | Byun Baekhyun | Park Chanyeol

Other Cast                 : Kris Wu | etc

Genre                         : Romance | Friendship | Life | Sad

Length                        : Chaptered

Rating                         : T/PG-13

 

Disclaimer

Inspired by “A Walk to Remember”, “Malaikat Tanpa Sayap”, “Chicken Soup” and so many things that I ever know in my life. If there are some similarities with the other fanfictions, that’s absolutely an incident.

 

Author’s Note

Jujur, ini fanfiction dengan main pair exoshidae pertama saya, jadi maaf banget kalo jelek ya u.u Dan jangan lupa, kritik dan saran dari kamu sangat diperlukan dalam penulisan fanfiction yang satu ini. Thank you🙂

____________

“Never waste an opportunity to be with the one you love. Because you never know, tomorrow could be too late.”

____________

 

“Byun Baekhyun…,” gadis itu berdesis lemah seraya mencengkram dada kirinya erat, ia mulai menangis hebat kala rasa sakit itu kembali menyerang dadanya. Seluruh tubuhnya bergetar menahan rasa nyeri yang entah bagaimana caranya dapat ia bendung lagi. Kedua matanya kini terkatup rapat, bibir mungilnya terus bergerak walaupun tak bersuara,—dalam hati ia terus berdoa mengharapkan yang terbaik dari Tuhan.

“Tae…,” namja jangkung itu langsung tercekat memandangi pemandangan semenakutkan i­tu terjadi tepat di hadapannya, lantas ia segera meraih tubuh mungil Taeyeon cepat dan memeluknya erat. Ia tak tahu mengapa, namun yang pasti hati kecilnya terus bergejolak cepat memerintahkannya untuk menyelamatkan gadis yang notabene-nya tak ia jelas ia ketahui bagaimana penyakitnya. Tak lebih dari itu, ia hanya mengetahui bahwa Taeyeon sakit jantung.

Insting seorang namja mungkin yang menggerakkan dirinya untuk bertindak.

 Di tengah pusaran ketakutan itu, Chanyeol meringis pelan kepada sang gadis yang berada di dalam pelukan tangan besarnya, “Taeyeon ssi, kau harus bertahan…,” ia memandangi wajahnya lamat-lamat, ia sudah pucat sekali.

Kini, tanpa peduli dengan seluruh pandangan bergidik yang diberikan oleh nyaris setiap orang, Chanyeol terus melesat cepat berusaha menyelamatkan Taeyeon yang terkulai lemah di balik rengkuhan lengan kurusnya itu. Ia menerobos hampir seluruh pemain basket sekolah dan berteriak sekeras-kerasnya,—namun jelas betul bahwa segalanya tak akan berarti apa-apa baginya. Tak akan pernah ada seorang murid‘normal’  pun yang akan bersedia menolongnya, sementara ia dikenal sebagai salah seorang pemuda ternakal—dapat pula dikatakan terbrengsek—di sekolah.

Di lain sisi, Baekhyun yang baru saja memasuki perpustakaan dengan sedikit gontai langsung menoleh ke arah lapangan. Ia berlari tergopoh-gopoh menghampiri halaman depan perpustakaan, berusaha memastikan hal apa yang sebenarnya terjadi di lapangan hingga menyebabkan riuh ketakutan sehebat ini.

Ia menoleh sesaat, dan kedua mata sipitnya langsung membulat lebar ketika akhirnya ia berhasil menemukan siluet tubuh seorang bocah lelaki luar biasa jangkung yang sedang membaringkan seorang gadis ke atas tandu darurat milik sekolah bersama para petugas. Hanya dari kejauhan saja, ia sudah berani bertaruh jika keadaan gadis itu sedang ‘sangat tidak baik-baik saja’. Dan sebagai seorang manusia yang baik, ia pun turut berduka untuk gadis itu, ia berduka atas segala penderitaannya. Karena ia tahu, tak ada seorang manusia manapun yang ingin menderita, atau bahkan dibayang-bayangi oleh kematian.

“Semoga Tuhan menyelamatkanmu,” ia berdesis pelan dan merapatkan kesepuluh jemarinya, berdoa sesaat untuk keselamatan gadis itu. Hingga sekitar dua menit kemudian, ia kembali membuka kedua matanya dan menyadari bahwa siluet tubuh lelaki jangkung dan kerumunan petugas kesehatan sekolah telah menghilang dari ujung sana, bersamaan dengan kembali normalnya keadaan sekolah. Para murid—lagi-lagi—bertingkah seakan segalanya baik-baik saja.

Baekhyun kini kembali menundukkan kepalanya lemah menatap kedua kakinya yang sedang berpijak di atas tanah. Kemarahan Taeyeon, sikap cerobohnya, rasa takutnya kehilangan sahabatnya itu, segalanya kini berbaur menjadi satu. Segalanya mengalir begitu saja di dalam otaknya, seperti hembusan menusuk angin kala musim dingin. Ia mengintropeksikan dirinya. Dan satu hal yang kini ia sadari, bahwa seluruh keegoisannya telah menghancurkan persahabatannya sendiri. Taeyeon yang layaknya seperti seorang malaikat baik hati sama sekali tak pantas ia remukkan hatinya.

Taeyeon ah, sekali lagi, kumohon maafkan aku.”

Setetes air mata penuh penyesalan kembali merembes dari pelupuk matanya, membasahi hamparan rumput teki berbau khas yang baru kemarin dipotong oleh tukang kebun sekolah. Sebagai seorang namja dan sahabat, ia merasa benar-benar gagal dalam usahanya untuk menjaga dan membahagiakan gadis itu. Jika saja ia dapat kembali memutar waktu, tak akan ia biarkan hal setolol ini terjadi di antara mereka.

Tetapi waktu tak akan pernah berhenti untuk menunggui seseorang yang berdosa sepertinya, kesalahan itu mungkin tak akan pernah termaafkan. Dan kalau pun ia ingin menebus kesalahan itu kembali,—maka waktu lah yang harus ia kejar. Karena hanya dalam hitungan detik, Taeyeon akan melangkah sedikit lebih jauh meninggalkannya dan bertemu dengan sosok

lain yang bahkan jauh lebih baik dibandingkan dirinya. Ia, seorang Byun Baekhyun yang brengsek.

____________

“Park Chanyeol…,” gadis itu berseru lemah seraya terus menggenggam jemari Chanyeol erat. Bibir mungil merah kepucatannya terus berusaha tersenyum lembut—berusaha menunjukkan segalanya baik-baik saja—sekalipun kulit porselennya itu terus memucat dan kerap kali meneteskan peluh. Sementara petugas kesehatan yang sudah dilanda kepanikan masih terus bergerak cepat menangani dirinya yang merupakan murid penderita penyakit jantung pertama yang harus ditangani.

Di tengah kegusaran itu Chanyeol kembali berseru pelan, “Kau pasti kuat, Taeyeon ssi…,” ia menggenggam pergelangan tangan gadis itu erat-erat, “Kau pasti mampu menghadapinya.” Ia menyelesaikan seruan getir itu sembari mengelus rambut hitam milik Taeyeon lembut. Hatinya terasa remuk ketika menemukan kedua manik cokelat bersinar milik gadis itu mulai dirundungi aura kelemahan, “Aku yakin kau pasti kuat.” Lagi-lagi ia merapatkan genggamannya kepada kelima jemari tangan kanan gadis itu, berharap ia dapat menerima sedikit banyak rasa sakit yang sedang didera tubuh mungil gadis tak berdosa itu.

Chanyeol ssi, apakah kau mengetahui nomor telepon orang tuanya? Tolong segera hubungi keluarganya, kita tak mungkin terus menahannya di sini!” seorang staf kesehatan tiba-tiba berseru kepadanya sembari memandangi Chanyeol khawatir, sementara ia yang ditanyai hanya terdiam tak bersuara. Di tengah situasi segmenting ini, ia bahkan tak memiliki akses apa pun yang dapat menghubungkannya dengan keluarga gadis itu. Entah umma, appa, saudara, atau entah siapa pun itu.

Chanyeol ssi, apakah kau tahu?!” staf tersebut kembali berteriak kepadanya, wajahnya yang mulai memerah menandakan seberapa berangnya ia kepada Chanyeol yang masih mematung gemetaran di situasi sekritis ini.

“Aku tidak tahu,”

“Lalu bagaimana?! Kami harus segera mengambil tindakan yang terbaik untuknya, ia harus dibawa ke rumah sakit!”

“Hubungi umma-ku…,” di tengah seluruh kegusaran itu, Taeyeon tiba-tiba langsung menyambar percakapan mereka dan berdesis pelan sembari menahan lengan Chanyeol lemah. “Kau ambil saja telepon genggamku di kelas, lalu hubungi umma-ku…,”

Tanpa sempat berpikir lagi, Chanyeol segera menganggukkan kepalanya cepat dan berlari menuju salah satu bangunan besar yang berada paling dekat dengan lapangan sekolah, langkahnya semakin terseok-seok ketika ia nyaris mencapai ubin marmer bangunan itu. Dan selanjutnya, kedua bola mata bundarnya kembali berpendar cepat memperhatikan keseluruhan ruangan. Ia berusaha mengingat di deretan kelas manakah gadis itu belajar—seharusnya ia sudah tahu, karena telah hampir seminggu terakhir ini ia memperhatikan Taeyeon—dan ya, bingo, ia mengetahuinya! Ruang kelas tiga yang bersisian dengan tangga dengan letak tak seberapa jauh dari kelasnya sendiri, itu ruang kelas Taeyeon!

Taeyeon ssi, kau harus bertahan…,”

____________

Seorang yeoja dewasa berusia sekitar tiga puluh tujuh tahunan turun dari taksi berwarna kuning  mustar terang, ia segera menjejakkan kedua kakinya di atas parkiran rumah sakit dan berlari masuk ke dalam sana. Dengan himpitan rasa ketakutan yang mendera hatinya, ia terus berusaha menelusuri bangsal rumah sakit dengan membawa sejuta harapan—berharap bahwa ia akan menemukan puteri kecilnya yang baru beranjak remaja dalam keadaan baik-baik saja. Tanpa sesuatu apapun yang kurang, dengan jantung yang dapat terselamatkan.

“Unit gawat darurat?” ia berseru lirih sembari menatap seluruh penjuru rumah sakit gusar sekaligus penuh harap. Sesekali ia mengusap kedua matanya yang memanas dengan punggung tangan kirinya yang tak menggenggam ponsel yang sedang digunakannya. Karena dari sanalah, ia dapat menerima segala jenis informasi mengenai puteri satu-satunya dari seorang pemuda yang bahkan tak dikenalinya sama sekali.

Mendadak, kedua kakinya yang sedari tadi berlari cepat sontak mulai membeku diam di atas lantai. Ia bahkan nyaris tak dapat bernafas lagi ketika menyadari bahwa sosok lemah yang sedang terbaring di balik sebuah ruang gawat darurat rumah sakit—yang akhirnya berhasil ia temukan—memanglah puterinya sendiri.

Dalam sepersekian detik, setetes air mata itu akhirnya kembali mengalir dari pelupuknya. Bibirnya masih terus bergetar menahan keterkejutannya, ia menatap puteri kecilnya  getir, dan jerit tangis itu akhirnya terdengar lagi. Ketakutannya yang selama ini hanya membayang-bayangi hidupnya dulu kini telah menunjukkan kekuatannya—penyakit biadab itu menyiksa tubuh mungil puterinya lagi. Dengan rasa sakit yang kemungkinan besarnya jauh lebih hebat dibangdingkan ketika umurnya masih tujuh tahun dulu.

Taeyeon ah, ini umma-mu, Nak!” ia berseru keras tepat di saat sebuah suntikan tajam memasuki pori-pori kulit tipis gadis kecilnya itu. Nyonya Kim—begitulah kebanyakan orang memanggilnya—meremas ujung renda gaunnya dengan tatapan putus asa, ia lalu mengetuk-ngetuk kaca ruang gawat darurat dengan penuh harap agar pihak rumah sakit dapat segera membukakannya pintu. Tangisnya yang semakin hebat tak dapat mereda lagi, yeoja itu sudah seperti orang gila yang siap kapan saja untuk memecahkan kaca bilik ruangan jika perlu untuk tetap berada di sisi orang yang dicintainya. Ia hanya tak sanggup melihat puteri kecilnya harus berjuang sendirian di sana.

Masih dengan dada yang naik turun, Nyonya Kim kembali berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia lalu berkata, “Chagi ya, kau harus bertahan,” ia mengatupkan kedua matanya rapat-rapat dan menarik nafasnya dalam, “Umma ada di sini untukmu.” Ia berbisik parau dan kembali menatap menerawang ke balik kaca ruangan penanganan gadisnya itu.

Umma mencintaimu, sayang.”

Tiba-tiba, sepasang tangan kurus yang entah darimana asalnya memeluk pundaknya erat, “Nyonya Kim, bersabarlah,” suara seseorang yang sepertinya ia kenali itu berbisik lembut kepadanya, “Puterimu pasti akan baik-baik saja. Kim Taeyeon pastilah seorang gadis yang kuat.” Ia melanjutkan perkataannya lalu melepaskan pelukannya dari yeoja paruh baya itu perlahan.

                Nyonya Kim yang berperawakan mungil itu langsung berbalik dan memandangi tubuh jangkung namja muda itu perlahan,—sepertinya ia memiliki umur yang sama dengan puterinya,—hanya pikiran itulah yang melintas sesaat di dalam otaknya. Dengan sedikit tergesa-gesa, ia segera mengusap kedua pelupuk matanya cepat dan tersenyum lembut kepada bocah lelaki itu, “Apakah kau pemuda bernama Park Chanyeol yang menghubungiku tadi?” ia berujar lembut, langsung ke topik utama yang ingin dibicarakannya. Bibirnya masih bergetar sesekali

ketika memperhatikan sosok lemah Taeyeon yang sedang terbaring di atas ranjang menangis menahan rasa nyeri pada dadanya.

            Hati Chanyeol langsung terasa menciut ketika mendengarkan yeoja itu mengucapkan nama lengkapnya. Walaupun ia tahu benar bahwa sosok Nyonya Kim sama sekali tak mengerikan jika dibandingkan dengan tipe para yeoja paruh baya pada umumnya, tetapi rasanya canggung sekali baginya untuk menghadapi komunikasi seformal ini—ia sama sekali tak berpengalaman untuk berbicara secara langsung dengan orang dewasa sebelumnya—selain halmeoni-nya tentu saja.

            Chanyeol memulai pembicaraannya dengan sebuah deheman pelan kemudian dengan seluruh kesadarannya ia segera menundukkan tubuhnya ke arah yeoja itu penuh penghormatan, suatu hal yang sepertinya sudah lama sekali tak dilakukannya. “Annyeong haseyo, Nyonya Kim. Namaku Park Chanyeol—seseorang yang memang menghubungimu tadi pagi.”

            Yeoja itu hanya menganggukkan kepalanya pelan seraya memandangi Chanyeol dengan penuh ketelitian, sebuah senyum kecil akhirnya membuncah dari wajah cantiknya yang sangat teduh, “Terima kasih karena telah menyelamatkan puteriku. Aku tak tahu hal apa yang akan terjadi jika kau tak bersamanya tadi,”

            “Sekali lagi terima kasih. Gomawoyo.”

            “Gwaenchanayo. Aku juga menolongnya dengan alasan kemanusiaan,” Chanyeol menahan ucapannya dan menatap wajah Nyonya Kim dengan sedikit canggung, “Bukankah setiap manusia harus saling tolong menolong dengan sesamanya?” pungkasnya kembali seraya menyatukan kedua telapak tangannya ke belakang punggung. Belum pernah ia bersikap sehormat ini kepada seseorang yang baru dikenalinya.

            “Dan dirimu tak perlu terlalu berterima kasih kepadaku atas segala hal ini.”

            Nyonya Kim segera menggelengkan kepalanya cepat kemudian mengusap pundak Chanyeol penuh kasih sayang, “Aniyo, Nak. Seseorang sepertimu lah yang sepantasnya disebut pahlawan oleh banyak orang. Ia menolong siapapun tanpa mengenal rasa pamrih, ia selalu ikhlas dalam melakukan segalanya,—jadi siapa nama umma dan appa-mu?”

            Chanyeol yang sejak tadi sedang kehilangan fokusnya mendadak menarik nafasnya panjang ketika menyadari hal apa yang disampaikan oleh yeoja paruh baya itu kepadanya—ia menanyainya mengenai orang tua? Bagaimana ia harus menjawabnya?

            “Jujur, aku sama sekali tak mengetahui nama appa-ku,” Chanyeol segera menundukkan kepalanya lemah dan memainkan buku-buku jarinya dengan pergerakan tak beraturan. “Ia telah lama sekali meninggalkan keluargaku semenjak usiaku masih satu bulan. Ia pergi ke suatu kota yang entah dimana tempatnya dan hingga saat ini pun belum kembali,”

            “Namun yang jelas, ia bermarga ‘Park’ sepertiku.” Chanyeol tersenyum kecil ketika mengucapkan hal itu. Entah ini yang disebut senyum palsu atau bukan, ia tak tahu.

            “Dan berbicara tentang umma, ia menderita sedikit gangguan mental. Sebelumnya umma-ku—Yoon Ah Ra—sama sekali tak memiliki gangguan kejiwaan apapun. Tetapi semenjak suatu peristiwa tak mengenakkan itu terjadi, sebuah trauma berat menjangkitinya. Ia menjadi jarang sekali keluar dari kamar tidurnya dan seringkali meringkuk diam di sudut ranjang tidur.”

            Dengan cukup lancar, Chanyeol menjelaskan segala hal yang meliputi lika-liku hidupnya penuh kejujuran, tanpa suatu hal yang ditambah atau bahkan dikurangi. Ia tak ingin dikasihani oleh siapapun, tetapi inilah dirinya yang sesungguhnya. Seorang Park Chanyeol tak akan mengaku sebagai seorang bocah kaya raya yang mewarisi banyak perusahaan besar dari kedua orang tuanya, karena ia tahu benar bahwa hal seperti itu tak akan pernah terjadi.

            “Kau pasti seorang namja yang tangguh hingga dapat menjalani segala tantangan berat dalam hidupmu selama empat belas tahun lamanya.”

            Sebuah senyum cerah terukir dari wajah tampan Chanyeol, “Ini semua juga berkat haelmeoni yang selalu setia menemaniku tumbuh besar.” Bocah lelaki itu langsung menyelesaikan kalimatnya dengan penuh kebanggaan. Ia benar-benar tak tahu mengapa bibirnya kini bersedia untuk mengungkapkan sedikit kehidupan pribadinya kepada yeoja paruh baya yang tergolong asing baginya itu—umma dari Taeyeon seakan memiliki magnet tersendiri untuk menariknya terus berbicara.

            Nyonya Kim menganggukkan kepalanya sesaat, “Sekali lagi aku sangat berterima kasih kepadamu, Nak. Gomawoyo.” Sebuah rangkulan lembut tiba-tiba memenuhi seluruh permukaan dada Chanyeol, yeoja paruh baya itu kini memeluk tubuhnya erat sekali.

Dengan sedikit ragu ia membalas pelukan yeoja itu dan menyatukan kedua telapak tangannya tepat pada bagian punggung Nyonya Kim perlahan. Ada rasa hangat yang berbeda ketika rangkulan itu tertahan selama beberapa saat di antara mereka—rasanya seperti menerima pelukan hangat seorang umma yang sebenarnya kembali—dan hanya dalam waktu berkisar semenit ini pula, seluruh beban hidupnya terasa terangkat secara keseluruhan. Ia merasa seakan jatuh cinta dengan pelukan hangat penuh kasih sayang yang lama tak dirasakannya ini.

            Walaupun terkesan seperti seorang berandal kecil yang dapat melakukan banyak hal buruk seenaknya saja, jauh di dalam palung di dasar hati bajanya, seorang Park Chanyeol sangat merindukan sebuah kehangatan keluarga.

____________

            Seluruh jemari tangan kanan Taeyeon menari lincah pada setiap tombol remote televisi dengan sedikit tertekan, ia merasa terkekang jika diharuskan untuk tetap tinggal di ruangan ini—rumah sakit. Seluruh giginya bergemerutuk pelan ketika pada akhirnya ia memilih untuk mematikan benda elektronik itu lalu menatap lemah ke arah sebuah vas bunga bening yang berisi sebuket mawar kuning indah di sampingnya. Sebuah senyum kecil tersibak dari wajah layunya itu, ia meraih satu kuntum bunga mawar yang berada paling dekat dengannya lalu dengan gerakan pelan ia menghirup wangi lembut mawar itu dengan seksama. Tiba-tiba setetes air mata kembali mengaliri kedua pipi merah mudanya, ia terisak putus asa menangisi nasib buruknya sendiri. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, entah bagaimana lagi caranya ia akan bertahan menghadapi penyakit ini.

            Semilir tajam angin dingin memasuki seluruh pori tipis kulitnya, ia menggigil pelan, hingga memaksanya untuk kembali menarik selimut tebalnya hingga sebatas dagu. Sepertinya musim gugur akan segera berakhir, digantikan oleh serpihan salju tipis yang sebentar lagi akan memenuhi seluruh penjuru daratan Korea. Gadis itu kembali menolehkan kepalanya ke sebuah kursi mahoni berwarna gelap yang berada di sisi kiri ranjangnya—biasanya umma selalu duduk

di situ untuk menemaninya hingga terlelap—tetapi kali ini, sepertinya ia telah kembali berangkat bekerja dan akan pulang ketika pukul enam sore nanti.

            Tiba-tiba, suara pelan engsel pintu yang berbunyi memasuki pendengarannya, ia menatap waspada ke arah pintu itu dengan tubuh bergetar. Apakah dokter itu akan memberikannya suntikan-suntikan menyakitkan itu lagi? Getaran-getaran kecil dari dalam tubuhnya kini semakin merebak hebat, ingin rasanya ia melepaskan selang panjang infus tersebut dan melompat cepat dari jendela meninggalkan rumah sakit memuakkan ini. Tetapi sayangnya, ia sama sekali tak kuasa untuk melakukan hal itu. Ia tahu diri. Kondisinya sama sekali tak akan memungkinkannya untuk dapat berlari kencang.

            “Taeyeon ssi?” sebuah suara lembut penuh kehati-hatian itu akhirnya terdengar, Taeyeon segera menghembuskan nafasnya lega ketika menyadari bahwa bukan sosok dokter dengan peralatan-peralatan mengerikan itulah yang memasuki ruangannya, karena Park Chanyeol lah yang kini hadir dan memandanginya dengan semilir senyum tulus.

            Gadis itu bergerak bangun lalu menyejajarkan posisi tubuhnya dengan bantal putih yang berada di kepala ranjangnya. Ia berusaha tersenyum cerah lalu menatap wajah namja muda itu dengan sedikit kebingungan, “Sekarang masih pagi, apakah kau tak pergi ke sekolah?”

            Bocah lelaki itu hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaannya dengan sepatah kata pun. Ia justru langsung tersenyum kecil dan membalas tatapan Taeyeon dengan pandangan penuh arti, “Mianhae. Tetapi aku terpaksa membolos hari ini,” ungkapnya jujur.

            Kedua mata Taeyeon lantas membulat lebar mendengar pengakuannya, ia tak menyangka bahwa namja itu benar-benar akan bolos dari sekolah hanya untuk menemuinya hari ini. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya, “Tak seharusnya kau melakukan hal itu untukku. Kau harus kembali ke sekolah!”

            Dengan langkah cepat, Chanyeol segera menahan bibir mungil gadis itu dengan satu telunjuk tangan kanannya, “Kau tidak akan mengerti,” ia menarik nafasnya dalam-dalam, “Yang perlu kau lakukan hanyalah diam dan mendengarkanku saja. Sebenarnya aku tak sekolah karena kurasa sudah agak terlalu terlambat untuk berangkat,”

            “Kau bangun telat?” sela Taeyeon curiga.

            Ia menggelengkan kepalanya dan menatap wajah mungil kepucatan gadis itu kembali, “Aniyo. Itu semua dikarenakan ada banyak pesanan susu yang harus kuantarkan hari ini,”

            “Dan seperti apa yang kukatakan sebelumnya kepadamu, aku tak bisa berangkat ke sekolah lagi. Kemudian kuputuskan untuk mengunjungimu hari ini,”

            “Oh ya, kau ingin kukupaskan apel?” Chanyeol segera mengalihkan pertanyaannya dan meraih sebutir apel merah yang berada di sebuah keranjang rotan kecil di dekatnya. Taeyeon hanya menggeleng pelan dan menatap lurus kedua manik mata bocah lelaki itu, “Aku ingin kau jujur, Chanyeol ssi. Dan apa yang kau maksud dengan pesanan susu? Memangnya kau seorang peternak sapi?”

            Sebuah tawa geli terdengar dari sosok Chanyeol, ia segera menyedekapkan kedua tangannya ke dada, “Tentu saja tidak! Aku sama sekali tak mengerti dengan seseorang yang sepertimu! Beberapa hari yang lalu kau menuduhku sebagai seseorang yang dapat membaca pikiran—dan sekarang kau menuduhku sebagai seorang peternak sapi! Bagaimana bisa?” tanyanya panjang lebar seraya terus memandangi Taeyeon dengan pandangan geli, seakan ia seorang bocah lima tahun yang baru saja menanyainya tentang asal muasal seorang bayi manusia itu lahir.

            Air muka Taeyeon lantas mulai mengerut kesal ketika mendengarkan perkataan asal dari namja itu, ia memicingkan kedua matanya melirik Chanyeol dengan sedikit sebal, “Aku tak pernah menuduhmu, Park Chanyeol. Apakah kau tak bisa membedakan sesuatu yang disebut dengan pertanyaan dan tuduhan? Ck, aneh sekali!”

            “Sepertinya kau seorang namja teraneh yang pernah kukenali di dunia!” gadis itu kembali mencibir Chanyeol dan memutar bola matanya dengan sedikit sok, “Kau Park Chanyeol yang aneh dan, hm,” ia menahan nafasnya lalu menghembuskannya panjang-panjang, “Dan yah, cukup idiot juga.”

            Alih-alih memicingkan matanya kepada sang gadis yang mengejeknya itu, sebuah senyum manis dengan makna yang tak terlalu jelas terpatri dari bibir bocah lelaki itu, Chanyeol kembali melempar senyumnya kepada Taeyeon dengan penuh sukacita, “Aku senang melihatmu telah kembali seperti sedia kala. Setidaknya kau seorang Kim Taeyeon yang kukenali beberapa hari yang lalu,” ia berdehem pelan dan melanjutkan perkataannya, “Ia seorang gadis cerewet yang akan mengajukan kritik pedasnya kepada siapapun tanpa kenal lelah.”

            “Kim Taeyeon yang sempat bermimpi untuk menjadi seekor tikus…,”

            “Komikus, Chanyeol ssi!” koreksi gadis itu cepat, ia masih menatap Chanyeol dengan sedikit sebal. Tetapi setidaknya, luka hatinya dapat sedikit tertutupi ketika mendengarkan setiap ucapan-ucapan konyol dari seorang Park Chanyeol kembali. Sosok jangkung bocah itu, seperti sebuah pembangkit semangat tersendiri baginya beberapa hari terakhir.

            Chanyeol menganggukkan kepalanya singkat, kini ia berusaha bersikap lebih serius kepada Taeyeon, “Sebenarnya ada satu hal lain yang ingin kuberikan kepadamu,” ucapnya pelan, untuk memulai kata-katanya. Dan tak butuh waktu lama, tubuh jangkung Chanyeol segera bergerak mendekati sudut pintu dan mengeluarkan tiga atau empat tangkai bunga matahari kuning cerah kepadanya, “Ini pemberianku untuk seorang gadis yang memiliki semangat hidup secerah matahari pagi.”

            Bibir Taeyeon bergetar ketika empat tangkai bunga matahari mungil itu mencapai kedua tangan pucatnya, ia tak kuasa menahan semburat rasa bahagianya kali ini. Dengan wajah berbinar ia berbisik kepada Chanyeol, “Gomawo, Chanyeol ssi. Kau baik sekali,” pujinya tulus sembari memeluk tangkai bunga itu erat-erat.

            Namja itu hanya melemparkan senyum manisnya kepada Taeyeon. Dan tanpa dugaan, kedua tangan besarnya mengelus pundak mungil gadis itu perlahan, “Aku tahu bahwa hal ini tak mudah untuk dijalani. Tetapi seperti yang seringkali orang-orang katakan, Tuhan pasti akan selalu ada bersama kita. Ia akan selalu memudahkan jalan hidup seseorang yang selalu percaya kepadanya.”

            Di dalam kesunyian, ada rasa bahagia tak terungkapkan yang membuncah di antara mereka. Taeyeon tak dapat mengungkapkan perasaan apa ini, tetapi pemuda itu—Park Chanyeol—telah dapat mengobarkan kembali bara api semangatnya yang beberapa hari lalu memudar karena Baekhyun juga penyakit jantungnya.

            Mungkin yang dikatakan oleh Chanyeol beberapa hari yang lalu memang betul, bahwa Baekhyun bukan merupakan seseorang yang terbaik baginya. Jika Baekhyun menyesali perbuatannya, bocah laki-laki itu pasti akan menjenguknya yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tetapi kenyataan tak selalu berpikir sama dengan apa yang kita inginkan, memang sudah saatnya ia melupakan Baekhyun. Dan menghabiskan seluruh sisa hidupnya yang singkat dengan orang-orang baru yang lebih peduli.

            Pasti akan sulit sekali baginya melupakan sosok bocah lelaki jahil yang telah mewarnai hidupnya selama lebih dari enam tahun lamanya itu. Tetapi ia kini yakin benar bahwa inilah jalan hidupnya yang sesungguhnya.

            Ia tak boleh lagi berpangku tangan kepada Baekhyun.

____________

            Kabar tak mengenakkan itu akhirnya merebak cepat di sekolah—Kim Taeyeon kini terbaring di rumah sakit akibat kejadian mengerikan beberapa hari yang lalu. Baekhyun langsung merutuki dirinya sendiri dan mengerling ke arah seluruh gereja dengan tatapan putus asa. Ia duduk sendiri di atas bangku jemaat gereja yang kosong, tak ada seorang pun yang menghadiri gereja selain dirinya sendiri sore ini. Dan sekarang, membenamkan wajahnya yang basah menjadi pilihan yang terbaik baginya.

            Seluruh ingatannya berputar hebat seperti cuplikan-cuplikan film yang tak beraturan. Mengingat suatu masa dimana ia pertama kali bertemu dengan sesosok gadis kecil manis yang selalu membawa palet lukisnya, lalu suatu peristiwa dimana ia yang kelaparan menerima sebutir jeruk manis dari gadis itu, hingga peristiwa dimana ia akhirnya ‘berpisah’ dengan sosok manis yang amat disayanginya itu, Kim Taeyeon-nya.

Sesekali pula, ia berandai-andai jika peristiwa indah tersebut akan berulang kembali kepadanya. Ia berharap bahwa suatu saat nanti, yang entah bagaimana caranya, jemari lembut Taeyeon akan bersedia lagi untuk menggenggam kedua tangannya yang rapuh dan memeluknya erat di saat-saat tersulit dalam hidupnya.

Bogoshipda.” Kedua lututnya langsung bergetar sesaat ia mengucapkan satu kata sakral itu, Baekhyun menunduk lemah dan mengusap kedua pipinya pelan. Ia merasa kehilangan namun masih terus berharap, bukankah benar-benar bodoh?

            Segalanya mustahil. Sekiranya ia hanyalah sebuah sungai kering kecil yang mendamba samudera luas, angan-angannya itu tak akan pernah terwujud menjadi kenyataan. Ia harus menyadari bahwa hatinya telah memilih—walau bukan dengan pilihan yang sebenarnya—ia telah bergabung dengan klub besar sekolah yang dipimpin oleh Kris. Dan hanya dalam beberapa langkah lagi, cita-citanya untuk meraih piala provinsi akan teraih. Mimpi itu bukan lagi sebuah isapan jempol belaka, ia tak sedang bermimpi di siang bolong di bawah sinar terik matahari seperti beberapa tahun belakangan.

            “Semuanya sudah selesai”, bukankah hal itu yang Taeyeon ucapkan kepadanya?

            Tiba-tiba, tas biru gelapnya bergetar pelan, ada nada dering rendah yang terdengar sayup-sayup memantul ke setiap dinding gereja. Baekhyun segera beranjak dari bangkunya dan berbalik meraih telepon genggam butut-nya yang sengaja ia letakkan agak jauh dari posisi duduknya saat ini. Ia menekan salah satu tombol hijau agak kabur ponselnya itu, dengan suara rendah ia mulai berbicara kepada sang penelepon, “Umma, ada apa?”

            Seorang yeoja paruh baya menyambutnya dengan bisikan lembut, “Baekhyun ah, kau tak sadar sudah pukul berapa sekarang? Appa sudah menunggumu di rumah untuk membantunya memperbaiki sepeda-sepeda rusak titipan rekannya,” Baekhyun langsung menepuk dahinya keras, ia baru ingat akan janjinya semalam kepada orang tuanya itu.

            “Ne, Umma. Tolong katakan kepada appa bahwa aku akan segera bergegas untuk meninggalkan gereja sore ini!” dengan sedikit tergesa-gesa, kedua tangan kurus namja muda itu terus berusaha meraih setiap benda-benda kecil yang agak berserakan di atas bangku—ada pulpen hitam dengan secarik kertas kecil di sana, bungkus seragam sepak bola yang baru dibukanya, lalu sebuah alkitab kecil kesayangannya—bak seorang profesional, semua barang tersebut akhirnya tersimpan rapi di dalam tas kain berbahan jins biru miliknya, dan tanpa menunggu lebih lama ia lantas berlari cepat meninggalkan gereja.

            “Mianhae, Appa.” Gumamnya pelan sembari terus berlari menelusuri trotoar sempit yang berada di sisi kiri jalan raya, menyingkapi petang yang sebentar lagi akan berganti malam.

____________

            Taeyeon sedang mematut-matutkan dirinya di depan cermin dengan pandangan sedikit gusar, ia mengelus kedua pipi merah kepucatannya dengan penuh tanda tanya. Seiring dengan bergantinya hari, wajah mungilnya itu terus memucat tanpa sebab—menurutnya ia sudah nyaris seperti hantu pucat yang seringkali diceritakan oleh teman-temannya ketika waktu istirahat sekolah dimulai. Dengan gerakan pelan ia kembali mengelus rambut hitam panjangnya yang baru disisir rapi kemudian menyemprotkan sedikit parfum beraroma mawar lembut ke gaun putih selututnya.

            “Berhenti berdiri di depan cermin, kau sudah cantik.” Gumaman lembut seseorang tiba-tiba terdengar, ia bahkan sudah dapat menebak siapa pemuda itu tanpa harus memperhatikan refleksi tubuhnya dari depan cermin. Park Chanyeol kini sedang berdiri di sudut kamar rumah sakit seraya memeluk erat tas berisi peralatan obat-obatan miliknya, kemudian dengan langkah ringan ia berjalan mendekati tubuh mungil Taeyeon.

            “Kau pasti senang sekali karena akan meninggalkan kamar memuakkan berbau obat ini,” Chanyeol berseru pelan sembari menatap wajah mungil Taeyeon teduh, kedua mata dengan iris hitam gelap itu seakan ingin menerobos sudut terdalam pikirannya lebih jauh. Taeyeon meneguk ludahnya sesaat dan berkata kepadanya, “Tentu saja,”

            “Seperti yang selama ini kukatakan kepadamu—aku benci rumah sakit. Apapun akan kulakukan untuk meninggalkan tempat mengerikan ini.”

            “Suatu hari, ketika kau sudah sembuh nanti,” Chanyeol bergumam lembut dan menghembuskan nafasnya pelan, “Kau tak akan pernah merasakan sakitnya pengobatan ini lagi. Tak ada obat-obatan, suntikan bius menyakitkan, atau hal-hal yang mengerikan lainnya.”

            “Dan hal itu akan terjadi jika aku mati nanti.” Gadis muda itu menyela ucapannya sembari meraih tas obat-obatan miliknya yang dipegangi Chanyeol perlahan, “Di saat itulah aku bisa bebas—seperti appa yang terbebas dari rasa sakitnya dulu.” Tukasnya getir, kemudian ia mendudukkan tubuhnya di sisi ranjangnya yang telah dirapikan.

            Sekali lagi, Chanyeol menggeleng dan meraih pergelangan tangan Taeyeon cepat, ia tak akan membiarkan perasaan putus asa itu menggerayangi hati rapuh gadis itu kembali. “Apakah setelah empat belas tahun masa hidupmu kau akan menyerah dengan cara seremeh ini? Kau akan membiarkan kematian merenggut kebahagiaanmu begitu saja?!”

“Coba kau pikirkan, ada banyak sekali bocah kecil yang harus kehilangan nyawanya terlebih dahulu karena penyakit yang sama denganmu!” ia nyaris meninggikan nada suaranya melampaui kadar maksimal, “Jadi kumohon, bacalah semua pertanda dari Tuhan bahwa kau akan segera sembuh!”

            “—jika kau selalu takut akan kematian, tetaplah percaya bahwa kematian pasti akan terjadi kepada siapapun. Manusia manapun pasti akan berakhir dengan kematian, tak peduli sehebat apapun pangkat yang dimilikinya,” dengan suara merendah Chanyeol memeluk tubuh mungil Taeyeon erat, “Aku juga akan mati sepertimu dan manusia lainnya.”

            “Tetapi selama aku masih mampu bernafas, maka tak akan kubiarkan kau pergi begitu saja—kau terlalu berharga untuk meninggalkan semua orang yang menyayangimu.” Bisikan-bisikan lembut itu akhirnya mengalir pelan dari bibir Chanyeol, yang entah bagaimana caranya dapat menghadirkan sebuah ketenangan tersendiri bagi sosok gadis yang berada di dalam dekapannya itu.

            Jendela kamar rumah sakit tiba-tiba terbuka ketika angin kencang musim dingin berhembus memasuki ruangan. Serpihan halus nan rapuh salju putih itu sedikit memasuki ruangan, Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya kepada Taeyeon—tanpa pernah sadar bahwa hal ini akan semakin membawanya masuk menuju sebuah perasaan mendalam yang disebut dengan…, cinta.

            Tiba-tiba Nyonya Kim memasuki kamar rumah sakit dengan langkah ringan, ia memutar kenop pintu kayu itu perlahan dan menemukan puteri kecilnya sedang memeluk erat sesosok bocah laki-laki jangkung familiar yang telah setia membantunya di rumah sakit selama ini. Dengan pergerakan cepat, sepasang remaja awal itu melepaskan pelukan mereka dalam keadaan bersemu malu.

____________

            Senyum kecil penuh rasa bahagia itu tak pernah terlepas dari bibir tipis Chanyeol, ia berjalan dengan langkah besar-besar ketika hendak memasuki rumahnya yang didominasi oleh warna cokelat kayu lembut itu. Tak ingin mengganggu umma-nya yang biasanya sedang tidur di siang hari, ia pun memutuskan untuk melangkah dengan sedikit mengendap-ngendap—rasanya seperti seorang perampok saja, tetapi mau bagaimana lagi? Ia memandang ke seluruh penjuru rumah perlahan, hingga akhirnya kedua mata tajamnya menangkap suatu hal yang aneh sedang bergerak cepat di dapur mungil milik halmeoni-nya dulu.

            Dengan sedikit khawatir, Chanyeol segera berlari kencang memasuki ruangan yang luasnya bahkan tak sampai tiga meter persegi itu. Kemudian dengan sigap ia berjongkok di atas lantai untuk menyejajarkan tubuhnya dengan seorang yeoja dewasa yang sedang mengais serealnya yang berjatuhan di atas lantai dengan sebuah sendok plastik di tangan kirinya. Ada banyak bahan makanan yang berceceran di dapur, entah tomat-tomat yang tak lagi berbentuk karena dipijak, sereal gandum yang tumpah berceceran, cairan susu yang membasahi hampir seluruh lantai dapur, hingga apel merah kesukaannya—yang dibeli dengan susah payah—berceceran masuk ke dalam wastafel.

            “Umma, apa yang kau lakukan??!!” pekik Chanyeol putus asa seraya menarik tubuh wanita itu dan membenamkannya dalam pelukannya sendiri, tanpa peduli dengan jeritan meronta yang terus memasuki pendengarannya dengan membabi buta.

            “Aku kelaparan, Yeollie! Berikan dongsaeng kesayanganmu ini makanan!” yeoja itu berujar keras sembari berusaha melepaskan pelukan tubuh besar Chanyeol darinya. Ia menatap bocah lelaki itu dengan pandangan memelas, “Aku lapar.” Sambungnya lemah, ia mengambil dua butir tomat yang telah dipijaknya beberapa menit lalu kemudian melemparkannya ke dalam wastafel asal.

            Chanyeol hanya dapat menatap yeoja muda yang berstatus sebagai orang tuanya itu getir dan mengangguk pelan tanpa bisa menolak, “Baiklah, Umma. Aku akan memasakkanmu sesuatu, tetapi jangan sentuh apapun yang ada di dalam dapur lagi, karena aku akan segera membersihkannya terlebih dahulu.”

            Sebuah anggukan setuju langsung hadir dari yeoja itu, kemudian ia berjingkat mendekati meja makan dan langsung duduk manis di sana, menunggu sepiring spaghetti instan buatan Chanyeol hadir di depannya untuk segera disantap. Catatan, menu itu memang kesukaannya semenjak dulu.

            Namja muda itu kembali menerawang menatap pemandangan luar dari jendela dapur—seandainya halmeoni-nya masih hidup, segalanya pasti akan berjalan baik-baik saja. Tak akan pernah ada Park Chanyeol yang harus berjuang keras demi keberlangsungan hidup keluarganya sendirian. Ia pasti akan baik-baik saja.

A few moments later~

            Baru saja Chanyeol menyelesaikan dan menghidangkan makanan buatannya kepada sang umma, bel pintu depan rumahnya tiba-tiba berbunyi. Dengan sigap, ia menarik sepasang sendok serta garpu logam dari kabinet dapurnya cepat dan langsung memberikannya kepada sang umma. Kemudian tanpa sempat berpikir panjang, ia langsung berlari kecil memasuki ruang depan rumahnya. Siapa tahu pemilik peternakan sapi tempatnya bekerja paruh waktu akan membayarinya upah selama sebulan terakhir hari ini?

Ia melangkah tergopoh-gopoh di saat terakhirnya mencapai pintu, kedua telapak tangannya terus memproduksi keringat dingin hingga membuatnya agak kesulitan untuk membuka kenop pintu. Dengan susah payah ia memutar kuncinya, hingga akhirnya ia mendapati seorang gadis manis berkulit kepucatan sedang tersenyum manis kepadanya.

            “Taeyeon ah, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya kaget sembari membukakannya pintu selebar mungkin. Taeyeon tersenyum simpul lalu membalas pertanyaan itu dengan sedikit ragu, “Sebenarnya aku ingin berterima kasih dan membawakan beberapa makanan ini untukmu,” ia menunjuk dua keranjang makanan besar yang berada di bawah kakinya kepada Chanyeol, “—dalam beberapa pekan lagi Natal akan datang. Dan umma-ku mengatakan bahwa kau pasti akan sangat membutuhkan makanan ini untuk keluargamu.”

            Lidah Chanyeol sontak mulai terasa kelu ketika Taeyeon menjelaskan seluruh tujuannya mengunjungi kediaman kecilnya ini. Sungguh, ia tak ingin dikasihani oleh siapapun. Tetapi entah karena apa, ia justru merasa bahagia ketika gadis itu mengunjungi rumahnya untuk yang pertama kalinya—walaupun dalam keadaan baru beberapa jam keluar dari rumah sakit.

            “Jika begitu, silahkan masuk,” ujarnya pelan sembari membukakan jalannya kepada gadis itu, sementara kedua tangan besarnya kini bergerak cepat meraih dua keranjang besar berisikan beberapa paket makanan instan yang berada di hadapannya perlahan.

            Taeyeon langsung mengulum senyumnya ketika menyadari bahwa Chanyeol sedang mengangkat keranjang makanannya dengan penuh sukacita. Ia merapatkan seluruh jemarinya yang berada di belakang punggung pelan dan kembali menatap lurus ke seluruh sudut rumah kecil Chanyeol yang pertama kali dimasukinya ini—rumahnya tidak terlalu rapi tetapi cukup bersih untuk ukuran seorang Park Chanyeol yang mendiaminya—lalu dengan langkah ringan ia terus berjalan pelan melintasi lantai berpanel kayu yang sudah agak usang itu, hingga beberapa menit kemudian ia mendapati seorang yeoja dewasa yang mungkin baru menginjak awal umur tiga puluhnya sedang meringkuk diam di atas sebuah kursi mahoni yang sedang didudukinya.

            Taeyeon menarik nafasnya perlahan dan berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki, kemudian dengan sedikit takut-takut ia menggenggam pundak yeoja itu perlahan. Sontak, yeoja itu langsung mengangkat kepalanya yang sedari tadi merunduk kaku menatap lantai. Taeyeon terkejut sekali ketika kedua manik mata gelap yeoja itu menemui matanya—ia tak menyangka akan menemui seorang wanita cantik duplikat dari Chanyeol semendadak ini. Ia sama sempurnanya dengan Chanyeol, tetapi dalam versi yang lebih feminin.

            Bibirnya bergetar ketika yeoja itu mendelik tajam kepadanya, ia sudah tahu resiko yang akan diambilnya ketika mengunjungi rumah ini adalah bertemu dengan umma Chanyeol sendiri. Ia berseru pelan dan mengusap pundak kurus yeoja rupawan itu lembut, “Annyeong haseyo, Ahjumma. Namaku Kim Taeyeon,” ia kembali menarik nafasnya dalam-dalam, “Aku teman dari puteramu, Park Chanyeol.” Ia berbicara lembut kepada yeoja itu dengan gestur sopan terbaik yang pernah dilakukannya.

            Seulas senyum kecil mengembang dari wajah cantiknya, umma dari Chanyeol bergumam lembut kepadanya, “Kau teman dari Chanyeol Oppa?” pertanyaan itu mendadak membuat hatinya terkesiap menyadari bagaimana kondisi yeoja itu saat ini.

Jemari lentiknya mengelus kedua pipi Taeyeon pelan, “Kau benar-benar cantik, Eonnie! Wajahmu seindah bunga matahari milik umma-ku!” serunya riang sembari menunjuk ke arah luar jendela.

Gadis itu masih berdiri dan memandang ke arah yang ditunjuki itu, ia menganggukkan kepalanya sekilas. Ia kini mengerti darimana Chanyeol mendapatkan empat tangkai bunga matahari indah yang selalu diberikan kepadanya setiap dua hari sekali di rumah sakit. Dengan suara berbisik ia bergumam kecil, “Gomawo, Chanyeol ah.”

____________

Taeyeon mencapai pijakan tangganya yang terakhir dan menyambut pegangan Chanyeol yang semenjak tadi telah menungguinya di atas erat. Sebuah senyum cerah terbersit dari wajah porselen pucatnya, kedua matanya kini berpendar takjub menyadari sehebat apa ‘kamar surga’ yang sempat diceritakan oleh Chanyeol kepadanya di rumah sakit dulu. Kamar surga yang ternyata berupa sebuah kamar tidur loteng penuh kehangatan itu telah menyita perhatiannya sesaat untuk mengaguminya. Susunan rak buku yang dipenuhi dengan bundelan-bundelan penuh sketsa lukisan, jendela-jendela kecil yang memancarkan matahari siang, lalu sebuah tempat tidur hangat bergelungkan sebuah selimut rapi. Segalanya terasa amat sempurna.

“Aku tak menyangka bahwa tempat ini akan sangat menakjubkan!” Taeyeon berseru lembut sembari meraba beberapa miniatur kayu eboni mengkilap milik Chanyeol yang disusun rapi pada salah satu sudut loteng pelan. Ia lalu mengalihkan perhatiannya ke bagian tengah loteng dan menatap takjub sebuah jendela besar yang berada di sudut sana, “Aku bahkan sangat iri kepadamu karena dapat menemukan pemandangan seindah ini dari tempat yang sama indah dan nyamannya pula!” ia menggerakkan telunjuknya mengenai jendela dan membentuk gambar-gambar kecil tak jelas di sana.

“Pasti rasanya menyenangkan sekali ketika kau dapat mengamati proses tumbuh dan berkembangnya mistletoe yang indah di saat menjelang Natal dan tahun baru dari kejauhan. Kemudian memandangi es yang mencair perlahan, lalu merekam indahnya pertumbuhan bunga-bunga musim semi di dalam ingatanmu,—hingga beberapa bulan kemudian, musim dingin itu datang lagi.”

“Sempurna.” Gadis itu bergumam lembut seraya menambahkan gambar sebuah bintang kecil di atas kaca jendela yang membeku dengan pergerakan pelan, dan jadilah, ‘lukisa’ pohon natal di bawah kaca berembun salju miliknya.

“Tetapi ada saat-saatnya dimana aku tak terlalu menyukai kamar ini. Kau tahu—di waktu musim hujan datang, nyaris setiap hari aku harus mengungsi di kamar halmeoni untuk tidur karena atap kamar tidurku yang dirembesi oleh air hujan,” Chanyeol terkekeh sendiri ketika mulai menceritakan ingatan masa lalunya itu.

“Tetapi lucunya, halmeoni hanya tertawa geli dan menenangkanku yang gusar karena hujan turun. Di saat-saat seperti itu, aku selalu merisaukan miniatur-miniatur kayu kesayanganku yang nyaris setiap hari dipernis!” Chanyeol merendahkan suaranya, “Tetapi seperti apa yang selama ini kusadari dan kuperhatikan dengan seksama, segalanya memang baik-baik saja.”

Gadis itu mengangkat alisnya, “Kau mengatakannya seakan hidupmu tak pernah dilanda kesulitan. Bahkan—maafkan aku—sekalipun  halmeoni-mu telah meninggal lalu kau harus menghidupi dirimu dan umma-mu seorang diri? Bukankah segalanya amat sulit?”

Namja muda itu memutar kedua bola matanya dan tersenyum senang kepada gadis yang membuatnya jatuh hati secara diam-diam itu, “Sebenarnya tak ada hal yang terlalu sulit untuk dijalani dalam hidup. Asal kau terus berusaha dan percaya kepada Tuhan,”

“Hal itulah yang selalu halmeoni pesankan kepadaku dulu.” Ia mengambil selimut tebalnya sigap, lalu membalutkannya pada tubuh mungil Taeyeon yang agak bergetar kedinginan.

“Tetapi sebelum menyampaikan pesan itu, ia selalu memulainya dengan sebuah dongeng untukku,” Chanyeol menghentikan kalimatnya dan menatap kedua bola mata jernih Taeyeon lekat-lekat, “Dongeng itu mengenai seorang bocah lelaki tampan yang akan berjuang mengarungi dunia!”

“Kau ingin mendengarnya?” sebuah senyum kecil terbit dari wajahnya ketika gadis itu hanya menganggukkan kepalanya cepat tanpa memberi jawaban apapun kepadanya, “Baiklah. Kuanggap anggukanmu itu sebagai jawaban ‘iya’.” Suara beratnya berbisik pelan, bocah lelaki itu merapatkan tubuhnya di sisi Taeyeon.

“Pada suatu pagi yang indah di musim dingin, seorang yeoja muda berparas jelita melahirkan putera pertamanya dari seorang pemuda tampan bertubuh jangkung dengan penuh sukacita. Umurnya baru delapan belas tahun saat itu, tetapi ia merasa bahagia sekali mendapati bayi kecilnya dalam keadaan sehat tanpa sedikit pun kekurangan, dan begitu pula dengan umma dari gadis itu,”

Chanyeol mengatupkan kedua mata bulatnya rapat-rapat, ia menyedekapkan kedua tangannya lalu bersender ke dinding, kemudian ia kembali melanjutkan cerita dongeng miliknya, “Tiba-tiba, semalam menjelang hari Natal yang indah, pemuda itu pergi meninggalkan sang gadis jelita beserta bayi kecil mereka sendirian—hampir seluruh penduduk wilayah itu juga tahu bahwa kedua pasangan itu sama sekali tak terikat dalam tali pernikahan—jadi tak masalah jika pemuda itu meninggalkan gadisnya kapan dan dimana saja. Mungkin ia sudah terlalu bosan,” tiba-tiba Chanyeol mengusap kedua matanya yang agak memanas.

Tanpa menyerah ia kembali berusaha melanjutkan ceritanya walaupun dengan nada bicara agak getir, “Dan begitu semuanya terjadi, gadis jelita itu akhirnya mengalami sebuah trauma berat yang mungkin jarang sekali dirasakan oleh yeoja lain pada umumnya. Ia benar-benar kehilangan sosok namja yang dianggapnya sebagai belahan jiwanya itu, hingga menyebabkannya kerap kali meninggalkan putera kecilnya dalam keadaan sendirian—atau bahkan terkadang hendak menenggelamkan bayi itu ke dalam bak mandi dekat dapur dengan seluruh tenaga yang dimilikinya—bayi itu benar-benar beruntung karena sang halmeoni masih bersedia untuk terus berjuang menyelamatkannya dari umma-nya sendiri yang tidak lagi waras.”

Perlahan Taeyeon mulai mengerti ke arah mana namja itu akan berbicara, “Hingga bertahun-tahun kemudian, bayi kecil tersebut akhirnya tumbuh menjadi sesosok bocah lelaki muda dengan tinggi tubuh di atas rata-rata. Ia selalu tersenyum cerah kepada halmeoni-nya yang selalu giat bekerja untuk mencarikannya uang untuk tetap bertahan hidup, dan bocah itu sendiri—bahkan secara diam-diam—memilih untuk bekerja sebagai seorang pengantar susu untuk menambah penghasilan keluarganya yang serba kekurangan. Ia tak pernah peduli dengan semua perkataan anak-anak lain yang mengatakannya terlahir tanpa sebuah ikatan pernikahan, mereka mengatakannya si bocah lelaki haram,”

“Namun seperti yang selalu dikatakan oleh sang halmeoni, biarkanlah orang-orang seperti mereka bersenang-senang dengan cara menghinanya, karena Tuhan akan selalu bersamanya. Segalanya pasti akan baik-baik saja.”

Kedua mata jernih gadis itu bergerak nanar memandangi wajah Chanyeol yang mendadak memucat, ia mengusap lembut pipi kanannya perlahan. Banyak hal yang seharusnya dapat ia pelajari dari sosok pemuda yang sempat dianggapnya berandal itu—tentang keberanian, cinta,

kasih sayang, pengorbanan, dan hal lainnya—hal itulah yang sepertinya telah tersembunyi selama bertahun-tahun dari diri Park Chanyeol.

Tak lama kemudian, Chanyeol kembali bergumam lirih kepadanya, “Hingga tiba saatnya, suatu hari di musim semi, dengan langkah ragu bocah kecil itu memutuskan untuk menemui halmeoni-nya yang agak kelelahan bekerja. Ia berbisik ragu dan meminta yeoja tua itu untuk memberhentikannya bersekolah, dengan polosnya ia berkata bahwa ia ingin sekali bekerja seharian penuh setiap hari untuk membantu sosok nenek yang paling dikasihinya itu. Tetapi dengan penuh keyakinan, ia menolak tegas permintaan cucu kecil kesayangannya itu. ‘Tak ada alasan untuk berhenti belajar!’, sekiranya hal itulah yang ia sampaikan.”

“Dan dimulai dari sana pula, bocah itu terus bertekad kuat untuk bekerja dan membantu kelurganya dalam hal ekonomi, namun juga turut rajin belajar. Ia merasa tak tega untuk menyusahkan satu-satunya anggota keluarga yang dapat diandalkannya itu terus-menerus. Dan cerita itu pun kini belum berhenti hingga masa kini,”

Chanyeol menarik nafasnya perlahan untuk meredam rasa sesak yang semakin merasuk di dalam dadanya, “Dan kau pasti dapat menebaknya sejak tadi—jika sosok bocah kecil itu ialah aku, Park Chanyeol.”

Halmeoni meninggal setahun yang lalu karena penyakit pernafasan yang dideritanya selama sepuluh tahun terakhir. Dan sebagai seorang cucu, aku merasa gagal untuk membanggakannya. Seorang Park Chanyeol tak pernah terkenal menyenangkan di sekolah, nyaris setiap hari ia melakukan hal-hal yang melanggar tata tertib sekolah dan berkumpul bersama orang-orang berandal yang sama nakalnya,”

“Lingkungan yang keras telah mengeraskan hatinya, walaupun sekuat apapun halmeoni berusaha melembutkannya kembali. Park Chanyeol memang tak akan pernah berubah menjadi seorang namja kutu buku berprestasi yang selalu menyambut hangat setiap orang.”

Cup.

Sebuah kecupan manis Taeyeon mendadak mendarat ke pipi kanannya, gadis itu tersenyum getir seraya memeluk tubuh jangkung Chanyeol erat, ikut menyampaikan rasa simpatinya kepada bocah lelaki sebayanya itu. Sebuah bisikan lembut merdunya seperti mengalun pelan di tengah udara hampa, “Kau bukanlah seorang berandal—bagiku kau sama seperti anak laki-laki lainnya, bahkan jauh lebih hebat dibandingkan mereka! Kau hanya terlalu salah dalam menilai dirimu sendiri,”

“Tak perlu menjadi seorang namja kutu buku berprestasi untuk mendapatkan sambutan baik dari banyak orang. Karena segalanya berasal dari dalam sini,” ia meletakkan tangan kirinya di atas dada Chanyeol perlahan, “Segalanya berada di sini, di hatimu.”

Sebuah semburat kemerahan penuh arti membuncah dari wajah Chanyeol. Ia hanya setengah mendengarkan perkataan gadis itu selanjutnya dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat sembari menggenggam jemari dingin Taeyeon erat. Rasanya seperti ribuan kupu-kupu indah sedang berkepakan bebas di dalam rogga perutnya sendiri.

“Darimu aku belajar bahwa setiap manusia diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memilih jalur hidupnya sendiri,” desah nafas lembut gadis itu memasuki pendengaran Chanyeol, “Dalam hidup kita selalu memiliki pilihan untuk menjadi apa. Namun dalam kematian, hanya Tuhan lah yang dapat menentukan segalanya.”

Tiba-tiba, gadis itu merapatkan kedua lengannya di dada, “Hei, bukankah hal itu berhubungan?!” ia memekik cepat seceria mungkin, walaupun Chanyeol tahu benar bahwa gadis itu sedang menutupi rasa risaunya sendiri. “Jalan hidup kita akan menentukan bagaimana cara kita dikenang ketika sudah pergi nanti.”

“Oleh karena itu, sebelum waktunya tiba nanti. Aku ingin mengatakanmu sesuatu…,”

Belum sempat ia berkata, sebuah kalimat manis tak terduga terdengar dari bibir mungil Taeyeon, “Aku menyukaimu, Park Chanyeol. Joahaeyo.”

“Aku tulus mengatakannya.”

____________

“Byun Baekhyun!” suara tegas Kris tiba-tiba memasuki pendengarannya kembali, Baekhyun lantas segera mengembalikan konsentrasinya pada latihan dengan penuh kegelisahan. Ia masih tak dapat mengalihkan fokusnya dari sepasang manusia itu, Kim Taeyeon dan Park Chanyeol—yang entah bagaimana caranya dapat mengakrabkan diri mereka. Ada rasa sakit yang mendalam yang menyesaki hatinya kala kedua tangan namja itu mulai memeluk tubuh Taeyeon erat dan menggandeng tangan kirinya untuk memasuki perpustakaan bersama. Sisi lainnya seakan berkata atau bahkan menuduh, bahwa sosok raksasa jangkung itu telah merebut Taeyeon darinya.

“Byun Baekhyun! Kau mendengarku??!!” teriakan geram dari Kris akhirnya berhasil mengakhiri seluruh pergolakan batinnya, seluruh bayangan buruk yang muncul di dalam benak Baekhyun kini menghilang seketika. Dengan satu lompatan lincah ia segera menerima sebuah operan bola keras yang ditendang oleh Kris kepadanya, lalu bermain dengan cara sebrutal apapun yang ia mampu. Setidaknya ia dapat menumpahkan perasaannya di sini.

Baekhyun kini berlari semakin kencang seraya terus menggiring bola yang berada di bawah kontrolnya kasar, ia sudah tak peduli lagi dengan pekikan-pekikan permintaan operan bola yang dilayangkan oleh rekan tim kepadanya. Ia menutup rapat kedua matanya dan menghirupkan nafasnya panjang-panjang, siluet tubuh mungil gadis itu terus menghantui pikirannya, bersamaan dengan semakin dalamnya endapan salju yang menutupi rerumputan siang ini. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya pelan, kedua matanya yang semenjak tadi memanas kini telah mencapai puncak kelemahannya. Ia tak bisa berpura-pura lagi, seorang Byun Baekhyun tak dapat membohongi dirinya sendiri—bahwa sebenarnya ia sangat merindukan sosok Taeyeon dalam hidupnya.

“Kim Taeyeon,” gumamnya parau, nyaris dengan suara berbisik. Kedua pandangan matanya kini beredar ke segala arah, hampir seluruh rekan satu timnya kini sedang memberinya tatapan khawatir—bahkan seorang Kris sekalipun.

“Kau tak apa-apa?” suara berat seseorang tiba-tiba menyapanya, seorang namja yang hanya beberapa sentimeter lebih pendek darinya memegang pundaknya pelan. “Gwaenchanayo, Kyungsoo ya…,”

“Kau serius?”

“Jika kau memiliki suatu masalah, tolong tenangkan dirimu terlebih dahulu. Dan selanjutnya, kau baru akan kuperbolehkan mengikuti latihan kembali!” suara berat seseorang yang lain tiba-tiba menghampiri pendengarannya lagi—bukankah ia?

Baekhyun nyaris terjungkal ke tanah ketika akhirnya mendengarkan pernyataan Kris yang notabenenya kapten dari tim sepak bolanya kali ini. Tak pernah ia memberikan kelonggaran—walau sekecil apapun kepada rekan timnya di saat latihan, bahkan hujan salju yang deras sekalipun—tetapi hari ini, bagaimana bisa ia melakukannya?

Dengan sedikit tergagap Baekhyun segera menyambar ucapan Kris dan membungkuk sedalam-dalamnya kepada sosok namja muda bertubuh amat jangkung itu. “Kamsahamnida, Kris ssi.” Ujarnya penuh penghormatan seraya membungkukkan tubuhnya sekali lagi kepada sang kapten.

“Kau tak terlihat baik-baik saja hari in. Dan aku juga yakin benar bahwa sesuatu yang berat pastinya sedang menekanmu, jadi sebaiknya pergilah ke suatu tempat yang kau senangi,”

Baekhyun merasa bahagia bukan main pada saat meninggalkan lapangan dengan penuh sukacita—sekaligus lega tentunya—ia melangkah cepat memasuki ruang kelasnya dan bergegas menyusun rencananya untuk meminta maaf kepada gadis itu, Kim Taeyeon yang telah dikhianatinya. Mungkin dengan membelikannya sebungkus cokelat kesukaannya? Atau memberikannya sebuah peralatan lukis yang baru? Entah rencana ini akan berhasil atau tidak, tetapi Baekhyun harus tetap berusaha. Ia tak tahan memperhatikan dua manusia itu terus bersama—entah karena apa.

Ia kini sadar, bahwa Taeyeon merupakan berlian paling berharga yang pernah hadir dalam hidupnya.

____________

Baekhyun mengetuk pintu kayu ek itu sesaat, ia terdiam menunduk menatap beberapa hadiah yang berada dalam pangkuannya, segalanya sudah cukup sempurna baginya. Dengan seluruh kerja keras yang dapat ia lakukan, sebuket mawar kuning besar dengan sekotak cokelat kastanye untuk Taeyeon pun dapat dibeli olehnya. Ia menggigit bibirnya sesaat, berharap pintu itu akan segera terbuka dan menampilkan sesosok Taeyeon dengan senyum cerahnya.

Dan betul saja, pintu itu pun akhirnya terbuka. Tetapi bukan gadis yang diharapkannya itulah yang sedang berdiri di sana, tetapi umma dari Taeyeon lah yang menyambutnya. Yeoja

berwajah anggun itu langsung tersenyum lembut kepadanya dan menyapanya ramah seperti biasa, “Aigo, Baekhyun ah! Rasanya sudah lama sekali kau tak mengunjungi rumah ini!”

Baekhyun tersenyum ragu seraya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, “Mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu sibuk, Ahjumma.” Sahutnya semeyakinkan mungkin kepada yeoja paruh baya cantik yang telah lama dikenalinya selama enam tahun itu.

Ia berdehem pelan dan menatap wanita itu kembali, “Ahjumma, jika aku boleh tahu, dimana Taeyeon? Apakah ia sedang berada di rumah?” ia bertanya lirih dengan sejumlah harapan besar yang menumpuk di dalam hatinya.

Namun sayang, Nyonya Kim hanya menggelengkan kepalanya cepat dan menatap Baekhyun dengan penuh penyesalan. “Mianhae, Nak. Tetapi puteriku sudah pergi bersama salah seorang teman laki-lakinya, Park Chanyeol namanya. Mereka mungkin sedang menikmati indahnya musim dingin di taman kota, tetapi…,”  Nyonya Kim menatap wajahnya ragu, “Tetapi jika kau mau, aku akan memberitahukannya mengenai kedatanganmu sore ini.”

Seperti dihujami bongkahan es tajam yang entah darimana asalnya, hati Baekhyun mendadak seakan mulai membeku. Lidahnya terasa terlalu kelu untuk membalas penjelasaan mengejutkan tersebut, ia benar-benar tak menyangka bahwa Taeyeon dan bocah lelaki yang terkenal sebagai seorang berandal di sekolah itu dapat menjadi sedekat ini hanya dalam beberapa minggu. Sementara ia—hanya seperti sekumpulan sampah terbuang yang tak berarti sama sekali, persis sebagaimana ia memperlakukan Taeyeon nyaris dua minggu yang lalu. Lebih daripada itu, ia bahkan merasa jauh lebih hina dibandingkan anjing malang yang terbuang tanpa pernah tahu arah tujuan.

Dalam beberapa menit, bocah lelaki bertubuh tak seberapa tinggi itu hanya terdiam tak bergeming. Seluruh sistem saraf di otaknya terus bergerak mengelola berbagai informasi penting yang bahkan jauh lebih sulit dibandingkan soal aritmatika yang belum terpecahkan sekalipun. Ia kini sadar, bahwa seorang Byun Baekhyun memang tidak diciptakan untuk mendampingi Taeyeon selamanya—ia hanya ditakdirkan untuk pernah singgah sesaat saja—dan mungkin, inilah saatnya untuk membiarkan Taeyeon bahagia. Membiarkan ia mengepakkan sayap indahnya seperti sekawanan burung kecil di udara. Karena ia akan menemui peraduannya sendiri, di suatu tempat yang sangat indah di masa depan nanti. Bersama Park Chanyeol.

Tetapi, akankah ia siap melakukannya? Akankah ia siap untuk melepasnya? Ia rasa tidak sama sekali.

Dengan tubuh bergetar, Baekhyun pun memutuskan untuk menitipkan sebuket mawar kuning dan cokelat kastanye-nya kepada Nyonya Kim yang menerimanya dengan senang hati. Ia lalu menatap wajah cantik dari yeoja yang hanya sedikit lebih tinggi darinya itu lemah, “Anggap saja pemberian terakhirku untuk Taeyeon, Ahjumma. Dan katakan kepadanya,” dadanya terasa sesak saat ia mulai berbicara lagi, “—katakan kepadanya bahwa aku minta maaf.”

Cairan bening transparan itu menetes dari kedua pelupuk mata Baekhyun, “Dan kumohon Ahjumma, jaga puterimu itu baik-baik. Ia gadis yang hebat, jangan pernah biarkan Taeyeon jatuh sakit.”

Mendadak, deru nafas Nyonya Kim terdengar semakin tak teratur, bercampur dengan udara dingin musim salju di sekeliling mereka. Ia ikut menangis bersama Baekhyun, “Aku berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hatiku, seperti orang tua lain yang menjaga buah cinta mereka. Tetapi…,” dengan gerakan cepat ia mengusap kedua matanya dan menatap Baekhyun kembali, “Tetapi satu hal yang harus kau ketahui, Baekkie ya. Hidup Taeyeon mungkin sudah tak akan lama lagi,”

“Kondisi jantungnya semakin melemah akhir-akhir ini—jauh lebih lemah dibanding biasanya.”

Baekhyun mengerutkan dahinya tak mengerti, Taeyeon bahkan tak pernah menceritakannya mengenai kondisi jantung pada tubuh mungilnya itu. Taeyeon pasti sehat-sehat saja, tetapi apa maksudnya dengan semua ini? Tak mungkin Taeyeon jatuh sakit, mustahil jika gadis yang telah menemaninya selama enam tahun sebagai sahabatnya itu menderita suatu penyakit kronis—jantungnya pasti baik-baik saja.

Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat, dengan terbata-bata ia berujar ketakutan, “Ahjumma, kau pasti bercanda, ‘kan?” ia tersenyum getir seraya menatap wajah Nyonya Kim penuh harap. Kedua tangannya meremas dua sisi mantel tebalnya kuat, menahan gejolak ketakutan dalam dirinya yang mendadak merebak seperti sebuah bencana tanpa peringatan.

 “Aniyo. Ia memang sakit, Nak. Bahkan semenjak dirinya baru saja terlahir di dunia,” Nyonya Kim menghentikan perkataannya sejenak dan menghirup oksigen di udara dalam-dalam. “Maafkan aku karena tak pernah memberitahukanmu mengenai hal ini kepadamu sejak dulu. Gadisku itu, ia melarangku untuk memberitahukan masalah ini kepadamu.”

“Ia benar-benar menyayangimu, Baekhyun ah.” Nyonya Kim kembali melemparkan senyum getirnya kepada Baekhyun, kedua bola mata beriris cokelat yang ia wariskan kepada Taeyeon masih terus berkaca-kaca menahan deraian air mata, “Nyaris setiap minggunya ia menunjukkanku karya-karya lukisan miliknya yang mengambil potret dirimu. Sekalipun terkadang ia harus menahan sedikit rasa nyeri dari denyut jantungnya yang tak normal, ia terus berusaha menyelesaikan lukisan potret dirimu, bahkan hingga semalaman lebih.”

Ada rasa bahagia sekaligus getir yang mendera ulu hatinya ketika yeoja itu terus memaparkan sisi dalam Taeyeon yang bahkan tak pernah ia ketahui. Jujur, hati kecilnya merasa senang sekali ketika mengetahui seberapa dalam rasa sayang yang pernah ditumpahkan oleh Taeyeon untuknya itu. Tetapi di lain sisi, ia justru merasa semakin tolol dan berdosa. Jika saja ia mengetahui hal ini sebelumnya, ia justru tak akan pernah melepaskannya atau bahkan akan terus menjaga sosok gadis itu lebih dari sekedar yang pernah dilakukannya dulu. Taeyeon selalu menyayanginya melalui cinta tanpa syarat, dan apa yang ia lakukan sebagai balasannya?

Sosok bocah lelaki itu menggigit bibir tipisnya pelan, ia menatap wajah sang yeoja sesaat, “Kau pasti dapat menjalaninya, Ahjumma. Taeyeon pasti akan kembali seperti semula, ia akan sembuh seperti sedia kala.”

Sebuah gelengan lemah tercipta dari sana, Nyonya Kim memandang wajah Baekhyun putus asa, “Penyakit yang dideritanya memang sudah muncul sejak ia lahir—menurun dari suamiku, appa-nya. Jadi tak ada harapan lagi,” kesepuluh jemari wanita itu mencengkram bahu Baekhyun erat, “Dan paling sakit bagi seorang ibu, melihat puteri kecilnya lahir, tumbuh, lalu…,” air matanya kembali mengalir, “Lalu melihat puterinya sendiri pergi lebih dulu.”

Tubuh Baekhyun nyaris ambruk ketika hal tersebut akhirnya terucap, kedua lututnya bergetar hebat menyadari bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan fatal dalam hidupnya. Ia menyakiti hati Taeyeon yang bahkan selama ini telah menyimpan rasa sakit dan tersiksanya sendirian selama enam tahun terakhir. Ia benar-benar manusia yang paling berdosa dan tak tahu terima kasih.

Byun Baekhyun memang keparat.

Mendadak, Nyonya Kim menghamburkan dekapan hangatnya pada Baekhyun dan mengusap puncak kepala namja muda itu lembut, “Aku mengetahui segala hal yang sedang terjadi diantara puteriku dan kau. Tetapi seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tak akan pernah menyalahkanmu—bahkan Taeyeon pun seperti itu.”

“Aku hanya merasa menyesal karena memberitahukanmu mengenai hal ini di waktu yang sama sekali tidak tepat. Karena kurasa, sudah sangat terlambat bagi Taeyeon untuk terus bertahan lebih lama,” isakan ketakutan Nyonya Kim semakin terdengar jelas, sekalipun ia berusaha menyembunyikannya.

“Bahkan dalam jangka sepuluh tahun ke depan pun, aku tak dapat memastikan apakah Taeyeon akan tetap hidup.”

“Ia bisa pergi kapan saja.”

 

TBC

 

~Author’s Note~

Ya Tuhaaaannn, gimana ceritanya? Kacau banget ya? u.u

 Maaf karena saya ngga terlalu bisa bikin cerita yang terlalu bagus buat para reader. Dan sesuai dengan janji saya yang kemarin, chapter 2 ini dibuat dengan penulisan yang lebih panjang, walaupun mungkin dengan konsekuensi ngebosenin juga sih. Jadi buat yang ngga seberapa suka baca fanfiction yang panjangnya kelewatan kaya beginian, maaf banget ya u.u Dan oh ya, hampir lupa, karena adanya beberapa alasan length dari fanfiction yang satu ini juga saya rubah (Twoshot > Chaptered), jadi dimohon pengertiannya.

Selanjutnya, jangan lupa isi kolom pendapat kamu ya. Karena komentar dan saran dari kamu sangat berarti buat saya🙂 Thank you.

 

44 thoughts on “[Freelance] Apologize (Chapter 2)

  1. Author sayaang…./?-.- ff yg ini kok belum diterusin?:(((( Aku menunggu karya indahmu ini thor… Wkwk kalo pairing akhirnya baekhyun taeyeon…..bakal lopek bgt thor:’)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s