[Freelance] MAMA

MAMA Poster

MAMA

 

Author                        : Shin Hyun Gi

Main Cast                  : Kris Wu || Kim Taeyeon || Victoire Wu (OC)

Other Cast                 : You’ll find them by youself

Genre                         : Family || Life || Sad || etc

Length                        : Ficlet

Rating                         : T/PG-13

 

Disclaimer

Inspired by “Chicken Soup for Single Parent’s Soul” and everything that I ever know in my life. If there are some similarities, that’s absolutely an incident. Some scenes that I wrote here are already same with some novel’s scenes that I read before.

Author’s Note

Kali ini, cerita utama yang saya angkat bukan tentang kisah cinta antara seorang laki-laki ke perempuan atau sebaliknya, intinya cerita ini akan jauh lebih general dalam pembahasannya mengenai cinta. Dan sangat diharapkan, bisa memberikan pesan yang baik juga untuk para reader yang membacanya 🙂

So, hope you enjoy it!

 

____________

“Banyak yang mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang masa—namun bukan berarti, kasih seorang ayah tak sama panjangnya pula, ‘kan?”

____________

 

Aku berusia dua puluh tiga tahun di saat Taeyeon—istriku—meninggal dunia ketika ia berjuang melahirkan puteri pertama buah pernikahan kami. Gadis cantikku itu, ia telah pergi meninggalkan kenangan indah tentang sentuhan dan bisikan lembut miliknya serta seorang bayi perempuan cantik yang kuputuskan untuk diberi nama Victoire Wu, dengan harapan agar ia dapat membawa keceriaan tersendiri bagiku, setelah kepergian ibunya—sesosok wanita yang paling kucintai.

Kemudian layaknya bocah-bocah kecil lainnya, bayi mungilku itu tumbuh dengan sangat pesat. Victoire mewarisi hampir segala hal yang dimiliki oleh sang ibu. Bibir kemerahannya, kedua manik mata cemerlangnya, lalu rambut hitam lebatnya yang sengaja dipotong sebahu, ia persis seperti istriku. Bersamanya saja sudah membuatku merasa amat sangat bahagia.

Karena hanya dengan puteriku kecilku yang kuberi nama Victoire itu, aku masih dapat sedikit tersenyum memandangi duplikasi wajah cantik Taeyeon darinya setiap hari, lalu terkadang juga ikut melewati serangkaian malam penuh letupan emosi melelahkan untuk menenangkannya yang menangis. Tetapi tak lebih dari itu, aku sangat menikmati peranku sebagai seorang ayah—tanpa pernah tahu, jika suatu hari nanti Victoire kecilku akan tumbuh menuju kedewasaannya dan mengajukan banyak pertanyaan sukar yang bahkan aku pun tak dapat membebatnya lagi.

Namun selama ia masih kecil dan membutuhkan bantuanku untuk menjaganya hingga ia tumbuh dewasa nanti, maka kedua lenganku akan tetap terbuka lebar untuk Victoire. Aku ayahnya—dan aku pula seseorang yang sangat mencintainya—karena ia puteriku. Ia satu-satunya malaikat kecil yang dititipkan oleh Taeyeon setelah kepergiannya tak kurang satu tahun yang lalu.

Seringkali, beberapa temanku yang merasa cukup prihatin memberiku nasehat-nasehat yang mereka rasa cukup baik untuk Victoire, “Dia akan banyak bertanya,” ujar sahabatku Luhan yang bermaksud baik.

“Suatu saat nanti, Victoire kecilmu itu akan menanyaimu mengenai keberadaan ibunya.” Tao pun ikut menyikapi permasalahan ini ketika mendengarkan ceritaku yang terkadang terlambat datang bekerja karena Victoire yang semalaman menangis akibat demam ringan yang mendera tubuh kecilnya.

Tanpa harus bertanya maksud dari pernyataan mereka pun, aku sendiri sudah cukup yakin dengan maksud tersirat apa yang ingin mereka sampaikan secara halus kepadaku. Kedua sahabatku ingin melihatku menikah kembali dan menemukan sosok ibu pengganti bagi Victoire kecilku. Namun bagiku, seorang ibu pengganti tak akan berarti apa-apa bagi kehidupan kami. Aku bahkan sudah berhasil menjadi seorang ayah sekaligus ibu yang baik bagi Victoire—walaupun harus kuakui, bahwa Taeyeon pasti akan melakukannya jauh lebih baik dibandingkan denganku, jika saja ia masih hidup.

Tetapi saat ini, Taeyeon memang sudah pergi.

____________

 

Seiring dengan bergantinya detik, menit, dan jam, pergerakan menuju hari genting itu pun semakin melaju cepat. Victoire-ku kini telah tumbuh menjadi gadis kecil berusia dua setengah tahun yang sudah dapat berlari lincah dengan kedua kaki mungilnya di tengah halaman

bunga lily dan lavender milik ibuku. Ia—sama halnya dengan Taeyeon—sangat menyukai sesuatu yang berwarna ungu. Dan ketika hari itu semakin mendekatlah, aku sudah harus mempersiapkan mentalku dengan beribu pertanyaan polos yang akan keluar dari bibir mungilnya.

Tiap malam, ketika aku sudah selesai membuatkan susu stroberi kesukaan Victoire dan menidurkannya di atas ranjang mungilnya, maka strategiku untuk menyusun jawaban-jawaban itu pun dimulai. Kurasa otakku dapat bekerja jauh lebih hebat dibandingkan komputer ketika aku memikirkan masalah-masalah ini sendirian. Tak jarang, sepuluh pertanyaan yang kuprediksi akan ditanyakan oleh Victoire di masa depan nanti tertulis olehku hanya dalam beberapa menit. Namun satu hal yang selalu membayang-bayangiku saat ini ialah, suatu saat nanti—yang entah kapan akan terjadi—puteriku itu akan bertanya mengenai ibunya, sementara aku masih dengan tololnya belum dapat jawaban terbaik apa yang harus kuucapkan.

Lagi-lagi, lipatan kertas penuh coretan pena hitam itu tergeletak masuk ke dalam sebuah tong sampah menyedihkan yang kuletakkan begitu saja di sudut ruang keluarga. Semakin hari aku semakin sadar, bahwa semakin ke depan nanti, aku tak akan dapat memberikan hal yang terbaik bagi Victoire.

Tetapi untuk memberikannya seorang ibu baru, aku bahkan masih sangat tak yakin dengan ide itu. Bagiku, seorang gadis berkebangsaan Korea yang paling kucintai itu masih tetap yang terbaik. Kim Taeyeon tak akan pernah terganti.

____________

Suatu hari, tepat di malam tahun keempat semenjak Victoire dilahirkan dan Taeyeon pergi, aku dan puteri kecilku pun memutuskan untuk menghabiskan malam musim panas kami hanya di balkon atas berdua saja. Dengan penuh keceriaan, aku memberitahu Victoire tentang betapa menyenangkannya dunia sekolah itu—semenjak beberapa saat yang lalu ia menanyaiku mengenai sekolah—dan seperti bocah cilik lainnya, Victoire cepat sekali merasa bosan dan langsung mengalihkan fokusnya kepada secangkir susu stroberi kesukannya dibandingkan mendengarkan ceritaku dengan penuh perhatian. Ia pasti sudah jenuh sekali mendengarkanku yang terus berbicara.

Saat Victoire selesai menghabiskan tetes terakhir pada susu stroberinya, ia mengalihkan pandangan kedua mata jernih indahnya kepadaku. Sepasang tangan mungilnya meraih jemariku dan menggenggamnya erat, ia lalu duduk di pangkuanku dan mengajukan sebuah pertanyaan.

“Papa, dimana mama?” ia menanyaiku lembut sembari menyedekapkan kedua lengan mungilnya di dada.

Aku masih tak bergeming. Mendadak, seluruh organ tubuhku terasa seakan tertahan oleh udara dingin malam musim panas Cina. Jantungku mulai berdebar kencang sementara aku mulai terbata-bata dalam menentukan jawaban. Aku benar-benar kehilangan arah kali ini, tidak ada satu hal pun yang terlintas di dalam otakku. Lidahku terasa kelu untuk berbicara, sesuatu yang aneh telah menahanku untuk mencoba besuara.

Victoire menaikkan kedua alis hitamnya kepadaku dan kembali mengusap kedua pipiku lembut, “Papa?” suara kecilnya  memecah keheningan yang terjadi di antara kami berdua.

Sesaat, aku mengatupkan kedua mataku rapat-rapat, berusaha tidak menatap wajah polos Victoire yang sedang memberikan pandangan penuh tanyanya kepadaku. Tungkai kakiku rasanya sudah mau lepas ketika aku akhirnya memutuskan untuk berkata dengan bodoh, “Mama ada di surga.”

Seperti seorang buronan yang baru saja tertangkap oleh polisi, kedua mataku akhirnya mengerjap menatap wajah mungil Victoire dengan sedikit ragu, “Ia ada di surga, sayang.” Aku kembali mengulangi kalimat bodoh itu, berharap Victoire dapat mengerti sesuatu yang bahkan tak pernah kuungkapkan kepadanya sebelumnya. Jujur, aku sama sekali bukanlah seorang pria yang amat religius—yang setiap harinya mendatangi gereja untuk melakukan kebaktian—tentu saja tidak, tetapi hanya hal itulah yang terakhir kali sempat terpikirkan olehku.

Victoire memandang wajahku sedikit terkejut, lalu ia memikirkan jawabanku selama beberapa saat, “Apakah surga itu ada di Beijing? Atau di Kota Seoul?”

Aku hampir saja tersenyum mendengarkan sambutan polos yang diberikan oleh puteri kecilku ini. Victoire memang pernah ke Seoul selama beberapa kali dalam setahun untuk memenuhi undangan nenek-kakeknya yang berkebangsaan Korea—atau lebih tepatnya, orang tua dari Taeyeon, istriku.

Aku menggelengkan kepalaku sekilas kepadanya, dan kembali, aku meraih kesepuluh jemari kecilnya lembut. “Tidak, sayang.” Bisikku lembut seraya mendekap tubuh mungilnya erat-erat, harum lembut dari rambut kehitamannya kini memasuki indra penciumanku.

“Menurut Papa, surga itu berada jauh sekali. Mungkin di luar angkasa, melewati seluruh bintang langit malam yang paling indah sekalipun.” Aku tersenyum kecil menyadari Victoire yang mulai mengerjapkan pandangannya kepadaku. Ia sama manisnya dengan ibunya.

Kali ini, kepala kecilnya mulai menoleh ke arah langit malam, ia mendongak memandangi angkasa luas yang bertaburkan bintang-bintang kecil khas musim panas. Kedua mata bundarnya kemudian menangkap sebuah benda kuning besar yang menggantung tepat di hadapan kami. Dan tanpa pernah tahu apa penyebabnya, kedua mata Victoire tiba-tiba berpendar cerah, telunjuk kecilnya mengacung ke arah bulan dengan penuh semangat.

 “Bulan! Mama pasti di bulan!”

Aku menganggukkan kepalaku sesaat, Victoire pintar sekali dalam membedakan objek-objek luar angkasa yang kerap kali kujelaskan kepadanya dulu. “Benar. Mama ada di bulan,” kedua pelupuk mataku mendadak memanas ketika aku berusaha mengucapkan hal ini setenang mungkin. Kedua tanganku kembali berusaha mendekap tubuh kecil Victoire erat, berusaha melindunginya dari serangan hawa malam musim panas yang dingin.

“Mama pasti bahagia sekali di surga,” Victoire tersenyum sangat lebar hingga deretan gigi putih kecilnya terlihat,  lalu dengan gerakan lembut, ia mengecup kedua pipiku sekilas. Kedua tangan mungilnya semakin mengeratkan pelukannya padaku—benar-benar hangat.

“Dari bulan surga, mama pasti bisa memperhatikan kita berdua. Ia akan menjaga kita dari kejauhan,” tuturnya lagi, penuh kelembutan. Aku nyaris terjengkang ke belakang jika saja tak menyadari bahwa Victoire sedang mendekap tubuhku erat. Logikanya terkadang membuatku tak habis pikir—karena sebagai seorang gadis kecil yang baru saja menginjak usia empat tahun tepat di malam ini, Victoire sudah terhitung amat cerdas. Melebihi anak-anak lainnya yang seumuran dengan dirinya.

Sekuat mungkin, aku berusaha menahan tangisku yang kian lama semakin mendesak untuk pecah. Aku tersenyum bahagia menyadari Victoire sedang mengatupkan kedua tangan mungilnya rapat dan berdoa menghadap kepada bulan, “Kau sedang apa, sayang?” bisikku pelan seraya menyibak surai rambut halusnya lembut.

“Mendoakan mama agar segera kembali ke sini suatu saat nanti,”

“Benarkah?”

Victoire hanya menganggukkan kepalanya santai, “Aku hanya tak ingin mama terlalu sibuk bermain bersama malaikat-malaikat di surga sana. Aku juga ingin bermain dengannya,” puteri kecilku itu lalu menyenderkan kepala mungilnya pada bahuku, ia menggumamkan sesuatu yang kedengarannya seperti ‘mama‘ kembali.

“Papa?” Victoire menengadahkan kepalanya kepadaku, ia menyentuh leherku lembut.

Hm?” aku menyambut bisikannya pelan, “Ada apa, sayang?”

“Apakah Papa mencintai mama?” wajah mungilnya berpendar indah ketika seberkas cahaya lembut bulan menimpa pipi mungil kemerahannya, “Apakah Papa mencintai mama seperti Papa mencintai dan menyayangiku?”

Tes.

Air mata penuh rasa haru itu akhirnya mengalir juga. Lantas, aku segera mengusapnya ketika Victoire mulai menatapku dengan sedikit tak percaya. Ia pasti terkejut sekali menyadari bahwa ayahnya yang jarang sekali menangis—atau bahkan tak pernah menangis—kini meneteskan air matanya tepat di hadapan dirinya.

Lirih, gadis kecilku itu berbisik pelan kepadaku, “Jangan menangis, Papa.” Perlahan namun pasti, sepasang tangan mungil Victoire menyentuh kedua pipiku perlahan. Ia mendekatkan wajahnya kepadaku, hingga hidung mungilnya menyentuh hidungku,  dan kembali, bayangan cantik dari Taeyeon kembali terpantul dari dalam diri Victoire, “Mama pasti kembali.” Ia bergumam lembut seakan segalanya baik-baik saja.

“Papa mencintaimu, sama halnya dengan Papa mencintai mama. Karena kalian berdua adalah malaikat terindah yang pernah diberikan oleh Tuhan kepada seorang Kris Wu—papamu,” aku menghela nafasku sesaat, “Dan segalanya akan selalu berjalan seperti itu hingga sepuluh tahun ke depan, dua puluh tahun ke depan, atau bahkan seratus tahun ke depan nanti.”

Dan seperti itulah pembicaraan kami berakhir di malam yang penuh dengan ketenangan itu. Victoire telah terlelap di dalam pelukanku sementara langit malam semakin berpendar cerah dan bulan purnama menyapa kami berdua lembut.

Aku sering mengatakan kepada diriku sendiri dan banyak orang bahwa Victoire hampir mewarisi segala hal yang dimiliki oleh ibunya. Aku juga seringkali mengatakan kepada diriku sendiri bahwa Victoire akan tumbuh menjadi seorang gadis yang sama cantik dan hebatnya dengan Taeyeon. Tetapi sepertinya, aku salah besar. Secara fisik, Victoire memang persis dengan Taeyeon-ku, ibunya. Tetapi dari sikapnya, ia cenderung lebih mirip denganku.

Malam ini, satu pertanyaan yang paling menakutiku telah terpecahkan dengan cara yang bahkan sangat mudah. Tak perlu banyak pertengkaran dan percekcokan dalam mendebatkan bagaimana gadisku, Kim Taeyeon, pergi meninggalkan kami berdua. Tak perlu ada tangis penuh penyesalan ketika kami membayangkan bagaimana kabar Taeyeon saat ini. Karena bagiku dan Victoire, segalanya memang akan berjalan baik-baik saja. Seperti pelangi yang kerap kali muncul setelah terjadinya hujan, itulah keadaanku sekarang. Bagiku, tak ada lagi satu hal pun yang perlu ditangisi.

Separuh hatiku memang akan selalu ada di sini untuk Victoire—namun sisanya, telah kubawa jauh bersama istriku di surga terindahnya.

Banyak yang mengatakan bahwa kasih seorang ibu sepanjang masa, aku memang setuju akan hal itu. Tetapi kasih yang kuberikan untuk Victoire juga tak kalah hebatnya dibandingkan seluruh kasih sayang yang lain, karena sama halnya dengan orang tua lain, aku juga sangat mencintai Victoire.

Ia lebih cantik dibandingkan bunga terindah di dunia

Lebih cemerlang dibandingkan mutiara termahal yang pernah ada

Karena ia puteri kecilku, Victoire-ku.

 

Cinta bukan tentang menerima dan mempertahankan seseorang yang paling disayangi

Tetapi tentang membiarkan seseorang itu bahagia, sekalipun kau melespasnya

Dan malaikat juga tahu,

 Bahwa cinta yang sesungguhnya tak akan pernah kalah

Karena cinta ialah—sesuatu yang diterima dan diberikan, tanpa tanda syarat

 

The End

 

65 thoughts on “[Freelance] MAMA

  1. keren, sumpah keren bangettt..
    suka banget sama kata2 akhirnya, dan juga kris nya huaaaa you’re the best Kris 🙂
    nice ff thro, bikin terharu bangett 🙂

  2. Aish~ knp hari ini.. Semua FF yg aku baca cast nya, ada aja yg meninggal -_-”
    Thor.. FF nya daebak.. ^^
    Ditunggu karya cast taeng-Yi Fan lg 🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s