[Freelance] Me and My Husband (Chapter 12/END)

Me, and My Husband 12

Me, And My Husband (Chapter 12/END)

Author             :  _agrn

Main Cast        : Yoona, and Sehun

Other Cast       : Seohyun, EXO K.

Genre              : Romance, Marriage Life, Friendship, Family

Rate                 : PG 15

Length             : Multichapter

A/N                 : Kita sampai di chapter terakhir dari ff ini :’) sejujurnya aku pingin bikin sequel dari ini, tapi karena mungkin bisa jadi terlalu panjang dan bakal kayak sinetron /plak/ aku jadi gak ngelanjutin lagi, hehe.

Aku sengaja ngeduluin ini karena pengen langsung namatin 2 ff sekaligus :’) my little peterpan tamat, dan ini juga tamat. Tersisa 3 lainnya. Aku punya 2 ide cerita yang siap dikembangin, tapi aku bakal undur dulu cerita-cerita itu sampai aku bisa santai nyelesain 3 ff itu, gak keteteran kayak sekarang…

Karena aku gatau perasaan ibu hamil dan ga ngerti gimana rasa rasanya, aku jadi bikin sesuai pemikiranku aja-_- jadi kalau ada yang ga masuk akal, harap di maklumi ya…

Italic berarti POV Yoona, arraseo~

At last, aku mau ucapin makasih buat kalian semua yang mau ngebaca ff ini dari awal, dari chapter 1 sampe chapter 12 ini :’) Aku bisa bikin ff ini semuanya karena dukungan kalian lewat komentar, dan Alhamdulillah, Cuma ada beberapa kecaman yang kuterima diawal-awal, gak banyak banget kayak dulu, hehehe.

Oke, Happy Reading dan DON’T LIKE DON’T READ!!

oOoOoOo

“Tidak ada yang tertinggal? Handuk? Dompet? Passport?”Terdengar suara Yoona dari ruang keluarga, tempat koper Sehun berada.

“Iya, tidak ada. Sudah 5 kali kau menanyakan hal yang sama”ujar Sehun seraya berjalan kearah Yoona.

“Wah, tumben kau rajin. Sampai kau menghitungi berapa kali aku menanyakannya. Biasanya mandi pun malas”sindir Yoona sambil kembali mengecek barang-barang Sehun.

“Aku tidak pernah malas mandi. Lagipula aku terlahir wangi”ucap Sehun membela dirinya.

“Passport ada… jaket ada… earphone ada… buku kesukaanmu ada…”Yoona bergumam sambil melihat-lihat lagi isi koper Sehun, mengacuhkan namja itu sebenarnya.

Sehun yang kesal karena dijahili Yoona segera memikirkan cara untuk membuat Yoona ketakutan. Namja itu segera beralih ke belakang Yoona, lalu meniup belakang telinga dan leher Yoona. Ia tahu Yoona akan merasa geli dan Yoona sangat takut jika lehernya ditiup. Lehernya adalah bagian tubuh yang paling sensitif.

“Kyaaaa!!!”jerit Yoona. Yoona berniat berbalik dan memukul Sehun, namun Sehun menahan kedua bahunya agar tidak berbalik dan terus meniup telinga dan leher Yoona, membuat yeoja itu berteriak dan tertawa kegelian.

Tiba-tiba, suara dehaman terdengar. Yoona dan Sehun sama-sama menoleh kearah pintu utama dan mendapati Kim Jong In berdiri disana dengan tampang sebal. “Aku tahu kalian akan berpisah sementara dan well, kalian memang suami-istri. Tapi bisakah kalian berhenti bertingkah mesra didepan aku yang sedang sendiri dan sepertinya merangkap supir kalian ini?”

Sehun dan Yoona terkekeh bersama-sama. “Kau? Sedang sendiri? Ayolah Kai, aku tahu kau adalah seorang playboy”gurau Yoona lalu kembali beralih pada koper Sehun, ia menutupnya dan berkata “Semua siap, Sehun-a”

“Kenapa kau tidak memanggilku yeobo, Yoong?”ujar Sehun dengan nada menggoda sambil meraih kopernya.

Wajah Yoona memerah lalu meninju lengan Sehun. “Aku akan memanggilmu begitu saat kau sudah kembali”

Sehun diam lalu tersenyum ketika melihat Yoona juga tersenyum. Ia tahu, maksud Yoona mengatakan itu adalah agar Sehun semakin giat disana dan menjadi orang yang lebih baik. “Arra. Kajja” Sehun menggenggam tangan Yoona lalu berjalan keluar. Kai yang akan mengantar mereka ke bandara dan yang akan mengantar Yoona pulang nanti. Sehun tidak ingin terjadi apa-apa pada Yoona saat ia tidak ada, jadi dia mempercayakan Yoona pada sahabat baiknya, Kai.

“Enggh…”erang Yoona sambil memegang kepalanya.

Sehun berbalik, begitu juga Jong In. “Kau kenapa? Apa kau sakit?”tanya Sehun mulai khawatir.

“Aniya, aku hanya pusing dan sedikit mual. Sepertinya alergi, aku punya obatnya di tas, tenang saja”jawab Yoona sambil tersenyum manis, seakan tidak terjadi apa-apa padanya sejak tadi.

“Kau serius?”tanya Sehun masih khawatir.

“Tentu saja! Ayolah, kita bisa terlambat” Sekarang Yoona-lah yang menarik Sehun ke mobil.

Mobil pun mulai melaju menuju bandara.

oOoOoOo

Sehun menggenggam tangan Yoona. “Aku akan kembali. Kau harus percaya itu”ujarnya.

Yoona tersenyum. “Ne, aku tahu. Jaga matamu. Jangan melirik yeoja lain. Arraseo?”

Keduanya terkekeh, dan Kai memperhatikannya dari jauh. Mereka berdua terlihat bercanda dan saling menyemangati satu sama lain, namun dari jauh saja, Kai tahu mereka berdua sedih dan tidak ingin berpisah. Itu menjadi salah satu alasan kenapa Kai tidak ingin mendekat. Ia ingin mereka berdua memanfaatkan sisa waktu kebersamaan mereka dengan sebaik-baiknya.

Sehun mengecup dahi Yoona dengan penuh kasih sayang. Sungguh, ternyata Sehun bisa setulus itu pada yeoja. Kai iri sekali.

Kemudian Sehun menangkup wajah Yoona. Keduanya tersenyum lalu menutup mata, dan menempelkan bibir mereka. Keduanya terlihat begitu menikmati ciuman mereka, bahkan mungkin tidak sadar bahwa orang-orang mulai memperhatikan mereka.

Mungkin Kai adalah satu satunya orang yang tidak melihatnya. Tepatnya, tidak ingin melihatnya. Setiap mereka berpegangan tangan, berciuman, berpelukan, bermesraan… Setiap mereka berdua kacau karena alasan sepele diantara keduanya, Kai merasa sakit. Sakit melihat yeoja yang membuatnya berhenti mempermainkan yeoja seperti biasanya itu bersama dengan sahabatnya sendiri.

Ya, Kai menyukai Yoona. Tepatnya, Kai mencintai Yoona. Tapi Kai tahu dia tidak seharusnya mengacau hubungan mereka berdua karena dari awal, mereka sudah ditakdirkan bersama. Mereka sudah ditakdirkan untuk saling mencintai.

“Kkamjong!”

Kai berhenti melamun dan menatap Sehun yang sudah ada dihadapannya, bersama Yoona. “Ne?”

“Pesawatku sudah tiba. Kau jaga Yoona, mulai dari sekarang ya. Bilang pada yang lainnya agar menjaga Yoona juga. Katakan ini perintah dari Oh Sehun”gurau Sehun.

Kai terkekeh. “Perintah? Mana mungkin maknae memberi perintah pada Hyung-nya. Lagipula, tanpa kau pinta pun kami akan menjaga Yoona. Apalagi Seo Joo Hyun sudah menguasai leader kita”

Ketiganya terkekeh mengingat Kim Joonmyun yang memang sudah bertekuk lutut pada Seo Joo Hyun. “Kami akan menunggu sampai pesawatmu terbang.”tambah Kai.

Sehun mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berdua. Kai bisa melihat raut tidak rela di wajah Yoona. Sekali lagi, Kai merasa sakit. Ia ingin langsung mengatakan bahwa ia mencintai Yoona sekarang dan memintanya untuk tidak menunggu Sehun. Namun jelas itu tidak akan membuahkan hasil yang baik. Mungkin Yoona akan menjauhinya dan Sehun akan memukulinya nanti.

Kai kembali tersadar dari lamunannya ketika tangan Yoona mencengkram erat lengannya. Ia menoleh dan mendapati wajah Yoona yang pucat dan sebelah tangannya yang menutupi mulutnya. “Yoona-a, gwenchana?”tanya Kai khawatir.

“T…Temani aku ke kamar mandi”ucap Yoona. Kai menyanggupi dan menemani Yoona ke kamar mandi. Tentu saja tidak sampai masuk ke dalam kamar mandi perempuan, Kai hanya menunggunya di luar.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda ada pesan yang masuk. Namja itu melihatnya dan nama Oh Sehun tertera disana. Ia membuka pesan Sehun dan membacanya dalam hati.

Kkamjong, ini pesan terakhirku sebelum ponselku kumatikan. Aku punya firasat buruk tentang Yoona, sepertinya dia sakit. Tolong lihat dia dan bawa dia ke dokter jika perlu. Kau harus ingat untuk menjaganya.

Terimakasih, teman.

Kai menghela nafas dan tersenyum ketika pengumuman bahwa pesawat yang dinaiki Sehun baru saja berangkat terdengar. Ia sungguh bodoh, mana mungkin ia bisa menghancurkan ikatan cinta yang kuat diantara mereka?

“Kai”panggil Yoona lagi, yang sudah keluar dari kamar mandi.

“Bagaimana? Kau muntah?”

Yoona mengangguk. “Ya, aku benar-benar sakit. Mungkin masuk angin dan alergiku kambuh.”jawab Yoona.

“Arra. Kita cari makanan untuk mengisi perutmu dulu. Tak baik jika perutmu terus-terusan kosong”

“Ne, kkamjong”

“Jangan memanggilku dengan panggilan itu, aku sudah senang karena orang yang sering memanggilku begitu sudah pergi”

“Aku yang akan menggantikannya. Aku akan memanggilmu kkamjong mulai sekarang”

“Kim Jong In. Hari-harimu dalam menjaga Istri Oh Sehun dimulai dari sekarang. Dan itu tidak akan mudah”batin Kai pasrah.

oOoOoOo

Sudah  3 bulan sejak Sehun meninggalkan Seoul, dan sejauh ini, semuanya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Yoona tetap bersekolah, Seohyun menemani Yoona di rumahnya. Seohyun tidak mau Yoona sendirian di rumah yang besar seperti itu. Suho juga kadang menginap disana, namja itu takut terjadi apa-apa pada kedua yeoja itu (walau Yoona ragu kalau Suho sebenarnya hanya tidak mau terjadi apa-apa pada Seohyun) Kyungsoo juga sering bermain ke rumah itu bersama dengan anak-anak yang lain. Tujuan Kyungsoo adalah membantu Yoona dalam hal masak-memasak. Yoona yang memintanya. Walau Yoona sudah cukup mahir, tapi menurut yeoja itu, ia harus lebih belajar untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Itu cukup membuatnya digoda oleh duo BaekYeol.

Seperti sekarang, duo BaekYeol sedang merecoki Yoona dan Kyungsoo di dapur. Mereka sibuk menggoda Yoona sementara Kyungsoo dan Yoona sendiri hanya dapat diam dan menggerutu.

“Ya! Apa kalian tidak bisa diam?! Masakanku bisa gosong nanti!”seru Yoona kesal.

“Sst, Baekhyun-a, dia marah karena dia memasaknya sambil memikirkan Sehun.”bisik Chanyeol dengan volume yang tidak bisa dikategorikan sebagai bisikan.

“Tentu saja. Ckck, mereka ini… mengumbar kemesraan saja. Bagaimana kalau Sehun pulang nanti ya? Pasti mereka…”timpal Baekhyun dengan volume besar pula.

Yoona baru saja akan menghajar perut mereka kalau saja Do Kyungsoo tidak menimpali “Sudahlah, kalian hanya iri karena tidak punya pasangan.”

Baekhyun dan Chanyeol terdiam. “Tentu saja tidak begitu! Untuk apa iri. Kami kan pasangan yang serasi, benar kan Baekhyun-a?”ujar Chanyeol jelas hanya untuk mengelak dari kenyataan yang disebutkan Kyungsoo.

“Maksud kalian, kalian penyuka sesama jenis?”tanya Kyungsoo sambil menatap mereka dengan tampang polos tak berdosa.

“YA! APA MAKSUD PERKATAANMU BOCAH?!!”seru Baekhyun dan menjitak kepala Kyungsoo.

“Aku lebih tua darimu! Walau kau adalah kakak kelasku, kau sebaiknya jaga ucapanmu!!”seru Baekhyun lagi dan menjitak Kyungsoo sekali lagi.

“Ah! Iya, iya, aku mengerti!!”seru Kyungsoo sambil mendengus.

Yoona yang melihatnya hanya dapat tertawa. Disaat seperti ini, ia selalu memikirkan Sehun. Apa Sehun punya teman disana? Apa teman-temannya baik? Apakah dia bisa berbahagia disana? Bisa tertawa dengan leluasa sepertinya?

“Im Yoona, kau tidak apa-apa? Kenapa diam?”tanya Chanyeol. Kedua orang lainnya menoleh, dan Baekhyun menimpali.

“Ah, kau pasti rindu dan khawatir pada Sehun kan?”

Yoona diam mendengarnya. Tebakan Baekhyun tepat sekali.

Kyungsoo tersenyum dan menepuk bahu Yoona. “Gwenchana Yoong, dia akan baik-baik saja, aku tahu itu”

Yoona mengangguk, namun didalam hatinya, ia masih merasa khawatir. Sehun jarang sekali menghubunginya. Ia hanya menghubungi Yoona di malam hari, saat ia sudah terlelap tidur, atau ia sudah sangat mengantuk, sehingga sulit baginya untuk mencerna apa-apa saja yang dikatakan Sehun. Pesan yang ia kirim pada Sehun juga jarang dibalas, Sehun sepertinya sangat sibuk disana.

“Baiklah, karena masakannya sudah mau selesai, kau bisa pergi ke ruang keluarga saja Yoong. Kau bisa istirahat.”ucap Kyungsoo sambil tersenyum manis.

Yoona tak dapat menahan tawanya. Ia tertawa lalu mencubit pipi Kyungsoo dengan keras hingga namja itu menjerit.

“Ya! Kenapa kau lakukan itu?!”tanya Kyungsoo sambil mengelus-elus pipinya.

“Kau imut sekali…”gumam Yoona kecil lalu langsung berlari ke ruang keluarga. Tak lama kemudian, terdengar lagi tawa mengejek dari dapur, tanda Baekhyun dan Chanyeol sedang mengejek Kyungsoo.

“Ada apa?”tanya Kai yang ada di ruang keluarga bersama Suho dan Seohyun.

“Aniya, Baekhyun dan Chanyeol mulai menggoda Kyungsoo lagi…”Yoona mendudukkan dirinya tepat di depan televisi. Ia duduk di tempatnya seperti biasa, dan yang menduduki tempat Sehun adalah Kai. Seohyun dan Suho duduk berdua di sofa lain.

“Eonni, hari ini Suho Oppa akan menginap disini. Boleh?”tanya Seohyun.

“Ne, tentu saja. Kalau semuanya mau menginap juga tidak apa-apa. Aku suka kalau rumah ini jadi ramai”jawab Yoona sambil tersenyum.

“Padahal kau dulu sama sekali tidak suka kan?”goda Kai.

“Tidak, siapa bilang?”tanya Yoona sambil menjulurkan lidahnya.

“Aku bisa membaca pikiranmu”jawab Kai asal. Yoona memukul lengannya karena kesal dipermainkan.

“Bagaimana dengan dia Yoong?”tanya Suho tiba-tiba.

“Dia? Dia siapa?”Yoona balik bertanya dengan bingung.

Sebelum Suho sempat menjawab, Kyungsoo, Chanyeol dan Baekhyun datang sambil membawa nampan berisi makanan. Pasangan Baekyeol masih tertawa kencang sedangkan Kyungsoo menghela nafas dengan sabarnya. “Makanan datang!!!”seru Chanyeol. Sedikit tidak cocok mungkin karena suara bass-nya.

“Tunggu, Yoong. Kau tidak merasa mual karena mencium bau makanannya kan?”tanya Kai tiba-tiba.

“Aniya. Kenapa?”tanya Yoona masih tidak bisa menangkap apa maksud pertanyaan Kai dan Suho.

“Astaga, Eonni… kau sedang mengandung! Ingat tidak?”tanya Seohyun gemas.

Yoona ber-oh ria sambi terkekeh. Ia memang sering lupa dengan nyawa lain yang ada didalam tubuhnya. Seminggu setelah kepergian Sehun, Yoona mulai merasakan tanda-tanda kehamilan. Ia merasa mual saat mencium bau-bau makanan, ia sering mengalami hal yang disebut ‘ngidam’ ia juga lebih sensitif. Beruntung hal-hal yang diinginkan Yoona tidak aneh-aneh dan mudah didapatkan. Tapi ia pernah meminta ice cream rasa karamel dan mint ditengah malam. Seohyun sedang pulang ke rumahnya karena ada acara. Satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong adalah Kai. Kai-lah yang akhirnya susah. Namun ice cream itu bisa didapatkan karena Kai langsung meminta salah satu kenalannya untuk membuatkan ice cream itu.

“Oh, jadi yang Oppa maksud adalah Sera?”tanya Yoona.

“Sera? Siapa?”Kali ini Suho lah yang kebingungan.

“Tentu saja bayiku, Oppa”

“Kau memutuskannya sendiri? Tidak bertanya pada Sehun dulu?”sahut Kai.

Yoona menghela nafas. Bukannya ia tidak mau bertanya, ia ingin mengatakannya tapi tidak sempat. Ia sudah berkali-kali mengirim pesan ke Sehun dengan kode seperti “Sehun-a, baju bayi yang ada di toko dekat sekolah bagus ya?” tapi Sehun tak pernah membalasnya.

“Kalau dia menghubungi, aku akan memberitahunya dan meminta nama darinya.”ujar Yoona.

“Sehun, belum tahu kalau Eonni hamil?”tanya Seohyun kaget.

Yoona menggeleng sambil terkekeh, namun semua orang tahu kalau Yoona tidak benar-benar ingin terkekeh bahagia seperti tadi.

Merasa kalau pembicaraan ini terlalu kaku, Yoona pun berkata “Kajja, kita makan!”

oOoOoOo

Yoona sedang menulis buku harian di kamarnya ketika ketukan pintu yang keras dan terkesan sangat terburu-buru terdengar. Dari banyaknya ketukan, Yoona tahu yang mengetuk tidak hanya satu orang.

Yoona membuka pintu dan mendapati Baekhyun dan Chanyeol ada di luar kamarnya. “Waeyo? Kenapa kalian terlihat takut seperti itu? Apa ada hantu?”gurau Yoona.

“Bahkan dia lebih seram dari hantu…”ujar Baekhyun masih dengan panik.

“Im Yoona… Orang tuamu datang bersama dengan orang tua Sehun.”sahut Chanyeol tak kalah panik.

Mata Yoona membelalak dan dia bisa merasakan jantungnya berhenti untuk satu detik. Namun setelahnya, ia bisa mengendalikan dirinya dengan memasang raut dinginnya. Ia harus memasang tampang ini ketika berhadapan dengan orang tuanya. Ia tidak boleh terlihat butuh belas kasih, atau mungkin ia akan dipaksa untuk menggugurkan kandungannya.

“Aku akan kesana. Beri tahu yang lainnya agar tidak mengganggu aku, dan orang-orang itu selama sedang berbincang. Hanya Seohyun dan Kai yang boleh berada didekatku”ucap Yoona lalu berbalik untuk bersiap-siap.

Walaupun ia tampak tenang dan dingin, sesungguhnya jantungnya masih berdegup keras dan dia sedang menahan kesedihannya. Dia butuh Seohyun dan Kai yang merupakan penopang utamanya selama Sehun tak ada.

Yoona merapikan rambutnya dan mengelus perutnya. “Oh Sera, bantulah Ibumu” Entah itu hanya khayalannya saja atau tidak, ia merasakan ketenangan ada didalam hatinya. Seakan bayinya sedang memberi kekuatan padanya.

Begitu ia turun dari tangga menuju ruang tamu, ia langsung melihat orang tuanya yang diam dan orang tua Sehun yang terlihat pasrah. Seohyun dan Kai juga diam meski ada di sofa yang cukup jauh dari mereka. Sepertinya, dalam kurun waktu 4 bulan ini, keduanya masih bersitegang tanpa sepengetahuannya. “Apa Sehun tahu tentang mereka?”batin Yoona.

“Yoona-ya!”

Yoona tersadar dari lamunannya dan mendapati keenamnya sedang menatap dirinya. Ibunya yang tadi memanggilnya sekarang langsung berlari dan memeluknya erat. Isakan demi isakan terdengar dari Ibunya. Pertanyaan tentang keadaan Yoona, apa yang ia makan, apa ia tidur dengan nyenyak juga ungkapan kerinduan keluar dari bibir Nyonya Im.

Demi Tuhan, Yoona ingin sekali memeluk Ibunya, ia ingin meluapkan kesedihan, kekhawatiran dan ketakutannya selama ini. Namun ketika pandangannya bertemu dengan sang Ayah yang menatapnya dalam tanpa ekspresi, keinginan Yoona dan perasaannya tadi lenyap digantikan dengan kekesalan dan amarah.

Yoona melepaskan pelukan Ibunya dan menatap Ibunya yang masih terisak. Yoona memaksakan seulas senyum tipis. “Aku juga merindukan Ibu”ujarnya sepenuh hati. Walaupun amarahnya sedang berada dalam puncaknya, Yoona terlalu menyayangi Ibunya. Yoona sama sekali tidak ingin menyakiti hati wanita paruh baya itu.

Yoona berjalan kearah mertua dan Ayahnya itu lalu membungkuk. “Apa kabar, Ayah… Ibu…?”tanyanya sopan lalu duduk tanpa menunggu jawaban dari ketiganya. Ia duduk diantara Kai dan Seohyun.

“Kami baik Yoona-ya… aku membawakan sedikit makanan untukmu.”ujar Nyonya Oh lembut dan menyerahkan sekantung besar makanan. Mulai dari makanan kecil sampai kimchi dan sebagainya.

Yoona tersenyum tipis pada Nyonya Oh yang sangat baik padanya. Ia juga tidak bisa berlaku dingin dan kasar pada Nyonya Oh, beliau terlalu baik. Ia melihat-lihat isi kantung itu dibantu oleh Seohyun. Setelah selesai mengeceknya ia tersenyum kembali.

“Terimakasih… sayangnya… tidak ada susu untuk ibu hamil disana, padahal aku sedang kehabisan stok. Tapi tidak apa-apa, aku sudah puas karena mendapat banyak cemilan. Terimakasih, Ibu”ucap Yoona. Ia tulus dengan kata-kata terakhirnya. Namun kata-katanya pada bagian awal sengaja ia lontarkan karena ia ingin melihat reaksi mereka.

Sukses. Mereka berempat membelalak. “Kau… benar-benar hamil?”gumam Ayah Yoona yang terdengar berbahaya. Yoona tidak menjawab dan hanya menatap sang Ayah dengan raut tenang namun batin yang ketakutan.

“Ne, Ahjussi… Yoona Eonni memang hamil. Sekarang usia kandungannya sudah 4 bulan…”jawab Seohyun pelan dan lembut.

Wajah Tuan Im memerah dan Yoona tahu betul Ayahnya sedang dalam amarah besar. “Kau tidak menggugurkan anak harammu itu Im Yoona?!! Apa kau sudah tidak punya malu lagi?!”

Satu ruangan itu terdiam. Tidak ada yang berani bicara bahkan Nyonya Im sekalipun.

“Siapa yang Ayah maksud anak haram? Bayi yang ada didalam kandunganku bukan anak haram. Aku dan Sehun sudah sah menjadi suami isteri. Tidak ada masalah bagi kami untuk mempunyai anak. Bahkan kalian juga merencanakan kami untuk langsung berhubungan pada awalnya bukan? Lingerie yang Ibu siapkan masih ada di lemari pakaianku”jawab Yoona tenang.

“Keparat! Dimana Oh Sehun!! Akan kubunuh dia!!”teriak Tuan Im sekali lagi, kini membuat Tuan dan Nyonya Oh kaget.

“Tuan Im.. Saya mohon…”

“Ibu tidak perlu memohon padanya!”Yoona memotong perkataan Nyonya Oh. Ia berdiri dan menatap sang Ayah dengan pandangan tajam. “Dimana Oh Sehun Ayah pun pasti akan tahu segera. Masih ingatkah Ayah dengan apa yang kukatakan 4 bulan lalu? Aku… akan bunuh diri bersama dengan bayiku… jika Ayah berani menyentuh bahkan hanya sehelai rambut Oh Sehun.”ancam Yoona penuh penekanan.

“Aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi kurang ajar!! Sejak kau menikah dengan bajingan keparat itu, kau menjadi seperti ini! Dasar anak tidak tahu diuntung!! Kembalilah kau pada bajingan itu! Kau bukan anakku lagi!!!”

DEG!

Yoona membelalak kaget. Begitu juga dengan semua orang di ruangan itu. “Yeobo!!”seru Nyonya Im mulai berderu air mata lagi.

“Tidak perlu berada disini lagi! Kita keluar!”

Yoona merasakan ada sakit di dadanya, ada rasa sesak dan ada palu yang memalu hatinya hingga hancur. Perasaan sakit yang ia rasakan dulu kembali lagi. Perasaan sakit karena tidak diinginkan. Air mata itu turun dari pelupuk matanya beserta rasa sakit dari perutnya.

Tubuhnya oleng dan hampir jatuh jika tidak segera ditangkap oleh Kai. Seohyun juga ikut berdiri sambil menyerukan nama Yoona. “Yoona Eonni! Yoona Eonni!!!!”teriaknya, membuat keempat orang tua yang sempat akan pergi berbalik dan segera berhamburan kearah Yoona.

“Yoona-ya!! Yoona-ya!”Nyonya Oh dan Nyonya Im juga ikut berteriak memanggil nama Yoona yang sudah setengah sadar dan mengerang kesakitan.

“Kau! Panggil ambulans! Cepat!!”suruh Tuan Oh pada Suho yang ada tak jauh dari sana.

“Tidak usah urusi dia! Kita pergi sekarang!! Aku tidak memerlukan anak tidak tahu diuntung itu!”seru Tuan Im lantang, membuat suasana hening kembali, hanya terdengar isakan dari Nyonya Im yang tidak bisa berhenti.

“Tuan Im. Kau salah.”Terdengar suara Seohyun yang datar namun penuh amarah. “Kau… tidak akan menemukan orang yang sanggup memerintah perusahaan Im besar yang kau banggakan itu kecuali Yoona Eonni. Kau yang sangat mencintai perusahaan itu, bahkan rela membuang anak karena uang… tidak akan terus Berjaya.”geram Seohyun.

Kai membuka mulut, “Dia benar. Jika anda membuang Im Yoona sekarang, statusnya sekarang masihlah bagian dari keluarga Oh. Keluarganya sekarang tinggallah keluarga Oh yang berarti ia juga berhak dan bertanggung jawab terhadap perusahaan Oh. Dengan keahlian Im Yoona, dan tentunya dengan bantuan banyak temannya… aku yakin Perusahaan Oh akan bangkit kembali.. dan akan menghancurkan perusahaanmu”

Keheningan terjadi setelah penuturan Kai, sampai sirine ambulans memecahkan keheningan itu.

oOoOoOo

Seorang lelaki dengan rambut blonde dan kacamata yang bertengger manis di wajahnya sedang menyesap kopi di sebuah café. Laptop didepannya masih menyala dengan sebuah data yang tidak akan dimengerti orang awam. Ia membaca salah satu dari banyak kertas di mejanya. Senyuman manis terlukis di wajahnya dan membuat banyak wanita yang memperhatikannya sejak tadi hampir meleleh.

Dari wajahnya, semua orang tahu dia pasti masih muda. Bahkan orang yang mengira dia masih pelajar pun tidak salah. Dia memang masih pelajar. Pelajar yang sedang bersusah payah menata kembali perusahaan keluarganya yang hampir hancur di Beijing ini. Bersyukur, perusahaannya sekarang sudah mulai stabil, dan dia bahagia atas hasil kerja kerasnya selama ini.

Lelaki berambut blonde itu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang ada di speed dial nomor 1 nya. Ia mengetuk tombol call untuk menelepon orang tersebut. Ia masih mengingat jelas seperti apa orang itu. Berambut cokelat, bermata indah, bibirnya yang selalu melengkung membetuk bulan sabit, parasnya yang sangat cantik, kulitnya yang putih, aroma tubuhnya yang begitu harum dan tentu saja suaranya yang mampu membuat detak jantungnya semakin cepat.

“The number you’re calling is not active. Please try again…”

Suara operator telepon membuat alisnya berkerut. Ponselnya tidak aktif, membuat lelaki itu langsung berpikiran negatif. Perasaan takutnya kembali hadir, ia menjadi cemas. “Yoona… ada apa?”ucapnya.

“Oh Sehun?”

Lelaki bernama Oh Sehun itu mengangkat wajahnya dan mendapati seorang lelaki lain dengan rambut cokelat dan mata yang sama dengan orang yang ingin ia telepon. Mata yang seperti rusa dan rambut cokelat itu… Xi Luhan!

“Luhan Hyung!”ujarnya dengan senyum di wajah.

Xi Luhan tertawa dan langsung duduk dihadapan Sehun, tanpa meminta persetujuan dari Sehun sendiri. Luhan memanggil pelayan dan memesan segelas kopi. Setelah pelayan itu pergi, Luhan menatap Sehun dengan senyum di wajah. “Sedang apa kau disini huh?”

“Aku yakin kau sudah mendengar kabarnya, Hyung”jawab Sehun. Jujur, ia tidak suka orang menanyakan hal-hal yang menyangkut perusahaannya, itu masih menjadi topik sensitif baginya.

Luhan mengangguk-angguk. Semakin Sehun lihat, Luhan memang semakin mirip dengan Yoona. Padahal mereka hanya sepupu. “Lalu bagaimana dengan Yoona disana?”

Sehun menghela napas. Ia ingat dengan ponsel Yoona yang tidak aktif. Ia juga ingat dia sudah lama tidak mendengar suara yeoja itu. “Terakhir aku menghubunginya, dia baik-baik saja. Tadi aku ingin menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif”ujar Sehun.

“Mungkin dia sedang bimbingan belajar, atau dia sedang bermain dengan Seohyun… jangan berpikiran negatif dulu”saran Luhan sambil menepuk bahu Sehun.

“Ya, tapi aku tetap saja khawatir”balas Sehun, sambil menyeruput kopinya lagi.

“Haha, aku mengerti perasaanmu. Calon Ayah memang seharusnya tidak jauh-jauh dari Calon Ibu dan Calon anaknya…”komentar Luhan lalu mengambil kopi yang tadi sudah disediakan pelayan.

“Calon a… apa maksudmu?”tanya Sehun bingung.

Luhan menengadahkan kepalanya dan menatap Sehun dengan pandangan yang lebih heran. “Calon anakmu! Tunggu… jangan bilang kau tidak tahu kalau Yoona sedang mengandung!!”

oOoOoOo

Seohyun mencoret tanggal hari ini pada salah satu kalender di rumah Yoona yang biasa ia coreti untuk menghitung hari-hari kehamilan Yoona. “Sudah 8 bulan”gumam Seohyun. Suho yang ada di sebelahnya menoleh dan berdiri disamping Seohyun.

“Apa yang sudah 8 bulan Seohyun-a?”tanya Suho yang sedang memegang sebuah kardus itu.

“Yoona Eonni sudah 8 bulan mengandung. Tinggal satu bulan lagi dan dia akan melahirkan anak yang lucu.”Seohyun mengucapkannya sambil tersenyum. “Aku seperti akan mempunyai keponakan… Sera, namanya jadi lucu setiap kali aku mendengarnya…”

“Kalau begitu, Sera juga akan menjadi keponakanku bukan?”

Seohyun mengangguk masih dengan senyumannya. Namun tiba-tiba, senyuman itu luntur. “Dan itu berarti… sudah 4 bulan sejak Yoona Eonni… dihapus dari silsilah keluarga Kim. Dia tetap menyandang marga Oh, tapi nama aslinya sekarang adalah Choi. Dia memakai marga Ibu Pantinya dulu”ujar Seohyun. Ia menghela nafas. Ia masih ingat wajah sedih Yoona yang mengatakan dengan sendu bahwa dia sudah bukan Im Yoona lagi. Rumah yang ia tempati sekarang adalah barang terakhir yang diberikan kedua orang tuanya.

Suho juga ikut menghela nafas. “Sudahlah, ayo kau bantu Yoona diatas, dia sibuk mengatur letak barang-barang di kamar Sera.”

“Mwo? Dia mengaturnya? Dia juga yang mengangkatnya?!”tanya Seohyun lagi, kaget.

Suho tertawa. “Aniya, Baekhyun, Chanyeol, Kai dan aku yang melakukannya”

Keduanya pun menaiki tangga dan benar saja, Yoona dengan perut yang sudah membuncit tengah mengatur letak barang-barang di kamar calon anaknya dibantu Baekhyun Chanyeol dan Kai. “Lemarinya sedikit digeser ke kanan”ucapnya pada Baekhyun dan Chanyeol.

“Ya! Itu letak awalnya tadi Yoong!”seru Baekhyun tak terima.

Yoona terkekeh. “Mianhae Baekhyun. Itu bukan kemauanku, itu kemauan Sera”ucap Yoona sambil mengelus perutnya.

“Selalu itu alasanmu Yoongie… awas saja kalau Sera tidak bertingkah manis padaku”ancam Chanyeol.

Baekhyun dan Yoona terkekeh, lalu ketiganya kembali bekerja. Sementara itu Kai sedang terdiam di pojok ruangan sambil menatap layar ponselnya. Lelaki itu mengepalkan tangannya erat, tanda ia sedang menahan emosinya.

Suho yang melihatnya pun mendekai Kai dan bertanya, “Ada apa?”

“Sehun sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan pulang. Padahal ia sudah tahu kalau Yoona sedang hamil tua. Ia tahu itu sejak 4 bulan yang lalu. Ia juga tidak berkunjung kemari. Lelaki macam apa dia”gerutu Kai.

Suho yang mengerti itu tersenyum penuh arti. Selama ini dialah yang paling mengerti isi hati kelima adiknya itu, dan hampir kelimanya menceritakan apa yang sedang mereka alami pada Suho. Termasuk Kai. Suho tahu Kai mencintai Yoona sampai sekarang walau lelaki itu tidak mau mengakuinya pada Yoona. Walaupun Kai sering bergonta-ganti pacar, ia setia kawan dan ia tidak mau merusak hubungan Sehun dan Yoona. Ia juga tidak mau merusak persahabatannya dengan Yoona, karena ia terlalu mencintai gadis itu.

“Jadi, apa kau berharap kau bisa menggantikan posisi Sehun?”tanya Suho tiba-tiba.

“Mwo?”respon Kai kaget dan bingung.

“Apa kau berharap bisa menggantikan Sehun, dan menjadi orang yang akan dipanggil Ayah oleh Sera?”

Keduanya terdiam. Suasana hening menyelimuti keduanya sampai tiba-tiba suara panik Kyungsoo terdengar.

“Yoona!! Yoona!!!!”

“Waeyo Kyungsoo-a?”respon Seohyun yang berada didekatnya.

“Tuan Im… Tuan Im kecelakaan!!”

DEG!!!

Yoona membelalak dan dia langsung berpegangan pada Baekhyun yang ada disebelahnya. Ia merasa oleng dan bisa terjatuh kapan saja. Batinnya merasakan kepanikan yang sangat. “Ayah…Ayah…”gumamnya kecil namun terdengar begitu takut. “Seohyun-a… aku ingin kesana… aku ingin menjenguk Ayah…”ucapnya pada Seohyun.

Seohyun mengangguk sambil berjalan mendekati Yoona. “Tapi kau harus tenangkan dirimu dulu.. kau harus kembali menjadi Yoona yang tenang agar kau dan Sera tidak apa-apa.”

Yoona menarik napas dan menghembuskannya, lalu mengulangnya beberapa kali sampai ia menjadi tenang. “Sudah… kajja”ujarnya. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa takut dan khawatir. Jantungnya bergedup kecang, dia juga mempunyai firasat buruk.

Dan firasat Yoona… jarang sekali meleset.

oOoOoOo

Yoona berjalan cepat menuju ruang ICU ditemani Seohyun, Suho dan Kai. Kyungsoo, Baekhyun dan Chanyeol menunggu di rumah.  Yoona ingin berlari, namun Seohyun sama sekali tidak mengizinkannya.

Samar-samar, ia mendengar suara tangisan. Jantungnya semakin berdegup kencang dan ketakutan semakin menguasainya. Ia takut, ia takut kalau ia tidak bisa bertemu Ayahnya lagi. Yoona menggenggam tangan Seohyun erat. “Seohyun-a, aku takut…”

Seohyun balas menggenggam tangan Yoona dan berkata “Tidak akan terjadi apa-apa… kita harus yakini itu atau kita akan semakin takut. Yakinkan dirimu”

Yoona mengangguk lagi. Mereka terus berjalan cepat dan tangisan itu semakin kuat. Ketika mereka sampai di depan ruang ICU, mereka mendapati Ibu Yoona tengah menangis kencang seraya bertumpu pada salah satu kerabat.

“Yeobo… Yeobo!!!”teriaknya kencang, menambah ketakutan Yoona.

“Ibu…”gumaman kecil Yoona membuat Nyonya Im menoleh padanya lalu berlari memeluknya.

“Yoong…. Yoona-ya… Ayahmu… Ayahmu…”

“Apa, Ayah kenapa?”tanya Yoona seraya melepaskan pelukan Ibunya, lalu menatap wanita paruh baya itu.

Nyonya Im menggeleng pelan masih dengar deraian air mata. Saat itulah Yoona membelalak dan air matanya menetes. Satu demi satu kristal bening itu turun dari pelupuk matanya. “Tidak… Ibu bohong. Tidak mungkin…”gumamnya kecil.

Namun tangisan yang semakin keras dari sang Ibu dan tangisan tertahan dari Seohyun disebelahnya justru menambah penegasan dalam diri Yoona bahwa Ayahnya telah tiada, dan membuat batinnya terpukul.

“Tidak! Tidaak!!!!”teriak Yoona seraya menjambak rambutnya sendiri. Ia berteriak kencang, berharap ini semua hanya mimpinya semata dan saat dia membuka mata, ia akan baik-baik saja.

“Eonni… jangan begini…”ucap Seohyun sambil mencengkram erat bahu Yoona.

Yoona menggeleng kuat dan berusaha melepaskan diri dari Seohyun. “Tidak… kalian bohong! Ayah… aku ingin bertemu Ayah…”serunya.

Kai membalikkan tubuh Yoona dan memeluknya erat, meski Yoona memukuli dadanya yang bidang, menyuruhnya untuk melepaskan tubuh kurusnya. “Yoong… relakan Ayahmu. Dia tidak akan suka jika kau begini…”

Perlahan, pukulan Yoona menghilang, digantikan isak tangis yang memilukan. “Kai-a… Kai…”gumam Yoona kecil.

Kai memeluk Yoona erat dan mengusap-usap kepalanya. berusaha memberikan energi pada Yoona untuk menguatkan dirinya.

Tiba-tiba saja, Yoona melepaskan pelukannya dan mengerang kesakitan. “Aa… aaakh!!”serunya.

“Eonni!! Ada apa?!”tanya Seohyun khawatir.

“Perutku… Seohyun-a, perutku sakit sekali…”rintih Yoona disela-sela erangannya.

“Jangan-jangan… astaga! Apa anaknya akan keluar sekarang?!”

oOoOoOo

 

Dimana aku?

Sekelilingku sangat gelap. Dan kurasa pijakanku basah. Seperti air hujan dan begitu dingin. Aku memeluk diriku sendiri dan mengusap-usap kedua lenganku. Mataku berusaha menangkap secercah cahaya yang mungkin adalah jalan keluar.

“Yoona-ya”

Aku menoleh dan mendapati orang yang kucintai tengah duduk di sebuah kursi. Oh Sehun tersenyum dan membuka kedua tangannya, mengisyaratkanku untuk memeluknya. Aku berlari dan memeluknya erat. Aku begitu merindukannya hingga aku tak berpikir apa-apa lagi selain berhambur kepelukannya.

Tiba-tiba saja, perutku terasa sakit, seperti sedang ditusuk oleh ribuan pisau. Aku menunduk dan menatap perutku yang membuncit. Astaga, bahkan aku lupa kalau aku sedang hamil. “Aa..”rintihku.

Namun Sehun tidak berkata apa-apa dan langsung memelukku. Ia memelukku erat meski aku meronta agar dilepaskan. Dia aneh, sangat aneh. Dia bukan Sehun… tapi… wajahnya memang wajah Sehun. Apa yang sebenarnya terjadi disini?!

“Yoong”

Suara lain terdengar. Aku menoleh keatas, berharap bisa menemukan orang yang memanggil namaku tadi. Tidak apa-apa, justru suara itu kini berpindah kearah kananku. Dan semakin lama semakin kuat.

Aku melepas pelukanku pada Sehun dan berjalan pelan kearah suara yang semakin kuat itu.

“Yoona”

Aku menoleh ke belakang, menatap Sehun yang balik menatapku dengan raut kecewa. Aku tidak sanggup meninggalkannya dengan raut yang begitu mengharapkanku kembali ke sisinya.

“Yoong”

Suara itu kembali lagi, membuatku menoleh kearah kananku. Kini perasaanku semakin kuat saja. Perasaan bahwa jalan keluar dari tempat gelap ini adalah disana, di asal suara tersebut.

Aku berlari meninggalkan Sehun, menuju suara yang semakin keras memanggil namaku. Secercah cahaya terlihat. Semakin besar dan semakin besar, hingga cahaya itu menyelimutiku.

oOoOoOo

Seohyun terlihat gelisah dalam pelukan Suho yang masih setia menenangkannya. Kai sendiri terlihat gusar dan sering menggeram kesal. Baekhyun dan Chanyeol duduk diam di pojok bangku tanpa banyak berkomentar seperti biasanya. Sementara Kyungsoo bolak-balik berjalan karena terlalu ketakutan. Nyonya Im yang terlalu lemah dibawa pulang dan tidak bisa menemani anaknya. Sementara Nyonya Oh sedang mengurus administrasi. Tuan Oh tidak bisa datang karena urusan perusahaannya.

“Aku kaget ketika Yoona Eonni tiba-tiba berhenti mendorong dan menutup matanya. Aku takut sekali…”gumam Seohyun.

“Itu karena dia sudah tidak kuat lagi. Berita tentang Ayahnya membuatnya terlalu lelah”ujar Suho.

“Disaat seperti ini kemana Oh Sehun?!!!”gerutu Kai lalu mengacak-acak rambutnya.

“Dia mungkin sedang ada didalam pesawat sekarang Kai, tenanglah”ucap Chanyeol.

“Bagaimana aku bisa tenang kalau dia tidak kunjung datang?!!!”seru Kai sambil menatap tajam Chanyeol.

“Bagaimana kami bisa merasa tenang kalau sedari tadi kau menggerutu dan tidak mencoba tenang?!”balas Chanyeol tak kalah tajam. Suaranya yang sangat dalam berhasil membuat Kai bungkam.

 “Itu Luhan Hyung!”seru Kyungsoo, membuat yang lainnya langsung melihat kearah yang ditunjuk Kyungsoo. Mereka langsung menghela nafas lega saat tahu ada Sehun disamping Luhan.

Luhan dan Sehun sedang berlari menuju mereka. Sehun-lah yang pertama kali sampai. Tanpa beristirahat atau pun menarik nafas, lelaki itu langsung bertanya “Dimana Yoona?! Bagaimana keadaannya? Bagaimana dengan Sera?!”

“Tenang dulu Sehun-a. Yoona sedang menjalani operasi. Ia terlalu lemah untuk persalinan secara normal.”jelas Baekhyun sambil menepuk bahunya.

“Apa kau tidak ingin pergi menjenguk keluarga Yoona dulu? Kau tahu Tuan Im meninggal dunia bukan?”ucap Luhan.

Sehun menggeleng. “Aku tidak akan tenang jika tidak melihat Yoona yang baik-baik saja dengan mata kepalaku sendiri Hyung… aku terlalu khawatir. Aku tidak bisa menemaninya selama ini, itu sudah membuatku tersiksa. Aku harus menemaninya, paling tidak menjadi orang yang memotong tali pusar Sera, dan menjadi orang pertama yang dilihat Yoona ketika ia bangun.”

Mau tak mau, Luhan tersenyum mendengar penuturan yang begitu tulus. “Arraseo, aku akan kesana dan mewakilimu. Mereka pasti mengerti”

“Tuan Kim Jong In? Tuan Kim Jong In?”seorang perawat keluar dari kamar bersalin dan memanggil nama Kai.

“Ya?”respon Kai.

“Anda harus memotong tali pusar anak anda sekarang…”ucap sang perawat.

“Ya! Kenapa kau?!”seru Sehun tak terima.

“Kami kira kau akan terlambat dan tidak bisa datang. Jadi tadi kami menulis nama Kai untuk memotong tali pusar Sera”jelas Kyungsoo.

Sehun menatap tajam Kai. “Aku akan membuatmu lebih hitam dari sekarang jika kau berani melakukan itu Kkamjong!”ancam Sehun. Ia menoleh pada sang perawat dan berkata “Aku Ayahnya! Biar aku yang melakukannya!”

“B..Baiklah… le..lewat sini”

Keenam orang yang diluar pun tertawa melihat reaksi Sehun yang benar-benar tidak seperti Sehun yang biasanya.

“Mungkin kita harus berhati-hati terhadap Sera nanti”celetuk Suho.

“Wae?”respon Seohyun bingung.

“Kita bisa dihajar oleh Ayahnya jika menjahili Sera. Lihat saja dari tingkah protektif Sehun sekarang”

Lagi-lagi, mereka tertawa.

oOoOoOo

“Appaaa!!! Appaaaaa!!!”seru seorang gadis kecil. Ia berlari menuju sang Ayah yang tengah duduk di bangku yang ada di taman itu.

“Ne? Ada apa Sera-ya?”tanya sang Ayah sambil mengelus kepala gadis kecil yang tengah bersembunyi dibalik punggungnya itu. Tepatnya dibalik tuxedo yang ia pakai.

“Bacon Ahjussi dan Yeollie Ahjussi sedang mencariku. Appa jangan beri tahu mereka kalau Sera bersembunyi disini, ya?”ujar Sera setengah berbisik.

Oh Sehun tertawa lalu mengangguk dan kembali membaca buku yang ada ditangannya. Tak lama kemudian, Byun Baekhyun dan Park Chanyeol datang sambil menyeru-nyerukan nama Oh Sera.

“Ya! Oh Sehun! Kau lihat Oh Sera?”tanya Baekhyun.

“Anakmu itu cepat sekali larinya!”gerutu Chanyeol.

“Tidak, aku tidak melihatnya. Lagipula, mungkin kalian yang sudah terlalu tua untuk mengejar Sera”gurau Sehun sambil terkekeh.

“Ya! Apa umur 22 tahun itu tua bagimu?!”seru Chanyeol.

Baekhyun menengok kebelakang Sehun dan melihat kaki kecil dibaliknya. Sementara Chanyeol dan Sehun berdebat, Baekhyun mengambil kesempatan untuk berjinjit ke belakang Sehun dan mengangkat tubuh kecil itu.

“Kyaaa!!!”teriak Sera yang kaget.

“Nah! Kena kau!”seru Baekhyun sambil tertawa senang, disusul tawa bahagia Chanyeol.

“Aaaa! Bacon Ahjussi turunkan Sera!! Sera takut tinggi!!!”seru Sera lagi sambil meronta.

“Iya, iya Ahjussi turunkan, makanya kau jangan meronta-ronta…”ucap Baekhyun yang memang kesulitan menjaga keseimbangannya. Namun Sera tidak mendengar, Ia menendang-nendang udara hingga salah satu sepatu cantiknya itu melayang ke udara dan mendarat di kepala seorang lelaki yang berjalan kearah mereka.

“Ah! Mianhae Kyungsoo Ahjussi!!!”seru Sera.

Kyungsoo, sang korban dari sepatu Sera hanya dapat tersenyum ramah. Ia memungut sepatu yang terjatuh dan berjalan mendekati Sera. Ia memasang sepatu itu di kaki Sera lalu tersenyum. “Gwenchana Sera-ya…”

“Ne, gomawo Kyungsoo Ahjussi, Ahjussi baik sekali”puji Sera dengan tampang polos dan nada yang begitu tulus. Membuat Kyungsoo tersipu malu.

“Ya, Do Kyungsoo. Itu hanya pujian dari anak-anak. Kenapa kau tersipu malu hah?”tanya Baekhyun.

“A..Aku tidak tersipu.”bantah Kyungsoo.

“Luhan Ahjussi!!!”seru Sera, membuat perhatian lelaki-lelaki itu teralihkan kearah Sera yang berlari dan memeluk lelaki yang baru saja datang dari Beijing.

“Annyeong Sera… bagaimana hari-harimu tanpa Luhan Ahjussi? Pasti ada yang kurang ya?”tanya Luhan.

“Ne. Sera kesepian karena tidak ada Luhan Ahjussi…”balas Sera sambil mengerucutkan bibirnya.

“Tapi sekarang Luhan Ahjussi disini. Ayo cium dulu..”ujar Luhan.

Sera tersenyum lalu mencium bibir Luhan yang dikerucutkan itu. Membuat Sehun langsung terkaget-kaget dan menarik Sera dari Luhan. “Ya! Luhan Hyung! Apa yang kau ajarkan pada Sera hah?!”

“Aku tidak melakukan apa-apa, Sera yang selalu melakukannya jika aku memintanya menciumnya”bantah Luhan.

“Bohong kau Hyung!”tuding Sehun lagi.

“Ya! Maknae! Apa kau tidak percaya padaku?! Aku tidak mengajarkan hal-hal aneh pada Sera! Lagi pula dia melakukannya tidak hanya padaku!”

“Kai Ahjussi!!”

Seruan Sera mengalihkan dua lelaki yang sedang bertikai itu. Sekali lagi Sehun dikejutkan dengan Sera yang mencium bibir Kai tiba-tiba. “Ya! Oh Sera, apa yang kau lakukan hah?!”seru Sehun seraya menggendong Sera.

“Sera mencium Kai Ahjussi”jawab Sera polos.

“Siapa yang mengajarimu begitu?”tanya Sehun serius.

“Tidak ada Appa…”jawab Sera tak kalah serius.

“Sudahlah, jangan salahkan Sera, dia memang sering begitu pada Luhan dan Kai”

Mereka semua menoleh pada Yoona yang sedang berdiri di belakang mereka. Yoona memakai bando putih dengan baju berwarna biru muda. Riasannya yang natural membuatnya begitu cantik dan terlihat alami. “Mungkin sifat genit itu ada karena selama aku mengandung, Kai sering berada didekatku. Jadi sifatnya tertular”gurau Yoona dan membuat mereka tertawa.

“Eomma….”rengek Sera sambil mempoutkan bibirnya. “Sera tidak genit…”

“Kau memang genit”ujar Sehun, membuat Sera tambah merengek. “Appaaa… Sera tidak genit..”

“Kalau begitu janji tidak akan melakukan hal itu lagi”Sehun mengacungkan jari kelingkingnya, dan Sera pun menautkan jari kelingkingnya.

“Sudahlah. Kalian dari tadi disini dan bermain-main. Acara pelemparan buket bunga akan segera dimulai. Seohyun dan Suho ingin kalian semua ada disana.”ucap Yoona.

“Ah ya! Astaga. Kita melupakan dua orang yang sedang menjadi bintang utama hari ini! Kajja!”seru Baekhyun dan diikuti oleh Luhan, Sera, Kai, Chanyeol dan Kyungsoo. Tersisa Yoona dan Sehun yang masih berdiri disana.

“Setelah kejadian-kejadian itu… akhirnya kita mendapat akhir yang begitu bahagia seperti ini”ujar Sehun tiba-tiba sambil menggenggam tangan Yoona.

“Ya.. aku senang bisa melalui hari-hari bersama kau dan Sera. It’s me, my daughter and my husband forever and ever”

“Kau masih menulis di diary mu kan? Aku jadi teringat dengan kata-katamu waktu itu. Me, and My Husband. Aku suka itu”ucap Sehun. Ia tersenyum lembut.

“Kau masih membacanya sampai sekarang?”tanya Yoona kaget.

Sehun terkekeh. “Aku punya kuncinya, tidak boleh disia-sia kan”

“Aish, aku harus mengganti diary.”gerutu Yoona. Lalu keduanya menatap segerombolan orang yang menanti acara pelemparan buket bunga. Tak sengaja, keduanya menatap Sera yang sedang berkomunikasi dengan seorang anak kecil. Sera tampak terus bertanya dan anak kecil itu menjawab dengan riang. Sera balas tertawa dengan wajah tak kalah riang.

Sehun terkekeh lalu berbisik pada Yoona. “Na-ya, sepertinya Sera akan meminta adik”

Wajah Yoona memerah dan dia memukul bahu Sehun keras. “Dasar laki-laki mesum”

“Aku hanya ingin menyampaikan pendapatku. Aku tidak memikirkan hal-hal mesum. Kau yang memikirkannya”tuding Sehun.

Wajah Yoona semakin memerah dan dia mengalihkan pandangannya. “A..Aniyo. Aku tidak berpikir begitu”

“Bohong.”ucap Sehun lagi.

“Aish, terserah kau lah!”balas Yoona lalu menggembungkan pipinya, tanda bahwa dia mengambek.

Sehun tertawa. Puas karena bisa menjahili Yoona. Dia memeluk Yoona dari belakang dan memposisikan kepalanya di bahu Yoona. Lelaki itu mengirup aroma rambut Yoona yang sangat ia sukai.

“Sehun-a, banyak orang memperhatikan kita”bisik Yoona yang mulai risih.

“Aku tidak peduli”ujar Sehun sambil mempererat dekapannya.

Tiba-tiba saja kerumunan tadi berteriak kecewa, mengalihkan perhatian Sehun pada tangan isterinya yang kini menggenggam buket bunga Seohyun.

“Ottokhae?”gumam Yoona kebingungan. Sehun merebut buket itu dan berseru “Kai!!!”

Kai menoleh dan reflek menangkap buket yang tadi dilemparkan Sehun. Dia menatap buket itu lalu memandang Sehun dengan pandangan bingung.

“Agar kau cepat menyusul”ucap Sehun ringan

Sorakan terdengar dari beberapa orang termasuk Baekhyun dan Chanyeol. Mereka menggoda Kai yang sedang tersipu sambil menghela nafas kasar.

Yoona dan Sehun tertawa bersama dan saling tatap. “Saranghaeyo, Yoona-ya”

“Nado Saranghae.”

END

Jjang~ chapter panjang untuk ending… sesuai janjiku :3 ff ini tamat dan aku masih kecewa dengan setiap ending ff yang kubuat -_- pasti gantung. Tapi aku udah berusaha semampuku disaat-saat aku lagi terpuruk karena nilai fisika L readers bantu doa buat nilai fisika author yah, hiks hiks

Aku berencana buat sequel dengan sudut pandang Kai. Gimana? Setuju gak sih? Tapi gajanji bakal cepet juga sih jadinya, hehehe.

At last, aku mau ngucapin terimakasih yang sebesar-besarnya buat para readers dan admin exoshidae yang mau nampung ff ini J saranghae~ walaupun banyak typo, kalimat yang kadang rancu dan lain-lain, aku harap ff ini bakal terus kalian ingat /asek/

Siplah. Segitu aja dari aku. RCL yah~

109 thoughts on “[Freelance] Me and My Husband (Chapter 12/END)

  1. Nemu ff ini pas lagi nyari” ff yoonhyun, Dan aku suka bgt sama jalan ceritanya, cuma butuh 2hari buat baca ini dari awal sampai end 😊😊😊
    Thanks udah bikin ff keren ini 😍😘😁

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s