[Freelance] 60 Seconds

60 Second

Tittle                : 60 Seconds
Author             : Kim Minchan (@wiwitcho)
Length             : Songfic, Oneshot
Rating             : General
Genre              : Angst, Fluff
Main Cast        : Kim Joon Myun, Seo Joo Hyun
Poster              : by KangDongMoon Art
Disclamer        : Tulisan bercetak miring berarti flashback. Storyline milik saya, walau terinspirasi dengan MV Kim Sungkyu – 60 Seconds. Untuk cast, mereka milik Tuhan dan Orang Tua mereka. Tapi untuk Kim Joon Myun, dia juga hak paten milik saya:D muahaha.

Enjoy the Story, please!

 

KIM-MIN-CHAN ®STORYLINE

Seorang pria melangkah tenang menelusuri jalan setapak di kawasan Gangnam. Angin sore terasa sedikit menusuk tulang. Mengingat sebentar lagi akan datang musim salju. Joonmyun, pria itu semakin mengeratkan syal abu-abu yang melingkar di lehernya. Pakaian tebal yang ia pakai masih tak cukup untuk menutupi tubuhnya dari angin yang menerpa tubuhnya.

Akibat hampir terlalu lama menyibukkan diri dengan tugas-tugas kantor yang menumpuk,  membuatnya ingin melihat suasana Seoul sore hari sendirian, tanpa ditemani siapapun. Termasuk sahabat dekatnya sekalipun, Jongdae.

Joonmyun berusaha menikmati jalan-jalannnya kali ini dengan sesekali melirik ke setiap toko-toko yang berjejer rapi. Barangkali dari produk yang terdapat dari toko-toko tersebut ada yang menarik minatnya.

Pandangan Joonmyun tiba-tiba saja tertuju pada seorang gadis berambut sedikit bergelombang yang baru saja keluar dari sebuah restaurant. Dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Langkah kaki Joonmyun bagaikan terinterupsi terhenti, menatap sosok gadis dihadapannya bak sebuah pemandangan indah yang sudah tak asing lagi ia lihat.

Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke atas, kemudian diikuti dengan kedua matanya yang tertutup rapat. Seraya mencoba merenggangkan kedua otot tangannya.

Wajahnya, senyumannya, benar-benar sudah tidak asing lagi bagi Joonmyun. Membuat laki-laki itu terbayang akan sosok gadis tiga tahun lalu yang sempat mengisi hatinya, hari-harinya.

Peristiwa yang kira-kira hanya memakan waktu 60 detik, sempat membuatnya menjadi seperti orang bodoh. Ya hanya karenanya, karena gadis itu.

Masih ia tatap gadis yang setia berdiri dihadapannya – yang tengah mengadahkan wajahnya ke langit. Sontak, sepasang bola mata hazel itu melebar, bibirnya ikut terbuka. Waktu seakan terhenti, semua orang yang berada disekitarnya; yang saat itu tengah beraktifitas juga  terhenti layaknya disihir menjadi patung.

Joonmyun memegang dadanya, debaran jantungnya yang berdebar tak karuan bisa ia dengar sendiri. Tangannya refleks terjulur, mencoba meraih gadis itu. Akal sehatnya sudah hilang entah kemana, ingin rasanya menyentuh wajah gadis bak peri dari dunia dongeng dihadapannya.

Namun cepat diurungkannya ketika sebuah cipratan air yang entah darimana asalnya mengenai wajahnya dengan mulus, dan berakhir – hingga membuatnya kembali tersadar.

Waktu kembali terasa bergulir ketika gadis itu menghentikan ‘kegiatannya’ dan melangkah masuk kembali ke dalam restaurant. Bibir Joonmyun terbuka, ingin memanggil gadis itu. Namun percuma, ia belum memiliki keberanian untuk itu.

60 detik . . .

Joonmyun mengutuk dirinya. Kenapa waktu berhenti sangat cepat, sih? Tak bisakah membiarkan aku menyentuh wajah peri cantik itu sebentar saja?

Dan kini laki-laki itu dilanda dilema. Sekarang atau tidak sama sekali?. Akal sehatnya memilih untuk tidak menghampiri peri cantik nya, toh, apa yang akan ia lakukan nantinya sedangkan mereka tidak saling mengenal?

Tapi . . . sebuah gejolak di dalam hatinya seakan memaksanya untuk menghampiri peri cantik itu ketika sekilas bayangan seorang gadis tiga tahun lau melintasi fikirannya.

Kedua manik mata Joonmyun menatap ke setiap sudut restaurant yang ia masuki saat ini.  Restaurant bergaya minimalis dengan action musim semi, padahal difikir-fikir sebentar lagi akan beralih musim salju.

Tanpa ragu, ia mendudukan diri di salah satu meja yang tersedia. Sebuah rasa yang selama ini ia simpan dengan baik jauh di dalam lubuk hatinya kini muncul, tepat ketika sosok gadis yang tengah serius memotong-motong beberapa bahan sayuran di  pantry – yang dapat terlihat dari meja pelanggan – sukses meraih perhatiannya.

Siapa lagi kalau bukan peri cantik yang baru pertama kali ia lihat.

Mata bulat berpendar coklat, hidung yang mancung, senyum yang semanis kembang gula, pipi yang chubby. . .

Oh Tuhan, kenapa benar-benar mirip dengan ‘Dia’ ?

Joohyun

Memori masa lalunya bersama Joohyun kembali menyeruak dalam fikirannya, bak rol film yang menayangkan saat-saat manis yang mereka lalui selama hampir tiga tahun bersama.

Seperti saat Joonmyun menyatakan cintanya kepada Joohyun, membuat pria itu tidak mungkin lupa akan kejadian memalukan sekaligus tak terlupakan tersebut.

 “Jadi, apa yang ingin kau katakan Joonmyun~a?”

Joonmyun menarik nafas panjang, kedua kaki yang saat ini tengah menopangnya untuk berpijak gemetar. Fikirannya terus berkecamuk, apa ia akan menyatakan cintanya kepada gadis dihadapannya?

Joohyun, gadis cantik yang menjadi primadona di sekolah, dan Joonmyun cukup tahu diri untuk hal itu. Dilihat dari segi manapun, ia bukan apa-apa dibanding laki-laki yang berlomba-lomba mendapatkan hati Joohyun.

“Joonmyun~a?”

“A-aa . . . A–kku cuma mau bilang . . .” Joonmyun menghentikan kalimatnya, menatap wajah Joohyun yang berubah penasaran menunggu kelanjutan dari ucapannya. “. . . laporan persiapan pentas seni untuk ulang tahun sekolah sudah selesai kupersiapkan. Begitulah.”

“Oh . .” balas Joohyun. Wajahnya berubah kecewa, apa? Kecewa? Jangan banyak bermimpi Kim Joonmyun!

“Terima kasih sudah menyelesaikannya tepat waktu Joonmyun~a. Kuharap acara ini akan berjalan dengan lancar. . .”

“. . . aku kembali ke kelas dulu, annyeong!”

Joonmyun menatap langkah Joohyun yang semakin menjauh dari pandangannya, hatinya mencelos. Untuk kesekian kalinya ia gagal. Pengorbanan kecil yang selama ini ia lakukan demi mendapat hati Joohyun mungkin memang hanya sia-sia.

Hanya karena bibirnya yang tidak bisa ‘sekedar’ mengucapkan kata ‘saranghae’. Tidak, dia bukan laki-laki pengecut. Tapi dia hanya membutuhkan waktu untuk mengucapkan kata itu.

Waktu?

Bukan’kah ia sudah memiliki waktu sejak tadi? Ya, Joonmyun sendiri yang ternyata sudah membuang-buang waktu yang ia miliki.

60 detik waktu yang ia gunakan untuk terus berkecamuk dengan fikiran dan batinnya, namun untuk mengucapkan kalimat ‘saranghae’ tidak butuh waktu 60 detik bukan?

Joonmyun membuka kedua matanya, kedua tangannya yang berada dibawah tergumpal erat. Joohyun masih belum terlalu jauh dari jangkauan pandangannya.

“SARANGHAE, JOOHYUN~A!!”

Semua mata yang berada di sekitarnya kini beralih menatapnya ah menatap mereka tepatnya. Namun Joonmyun tidak memperdulikan hal itu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana jawaban Joohyun padanya.

Joohyun, yang saat itu tengah melangkah meninggalkan Joonmyun menghentikan langkahnya. Terkejut dengan teriakan yang dapat ia dengar dengan jelas dan ia cukup sangat tahu betul siapa pemilik suara. Gadis itu masih saja diam di tempatnya, mencoba mengendalikan dirinya. Mengendalikan debaran jantungnya yang terasa ingin melompat dari posisinya saat ini.

Waktu terasa terhenti, Joonmyun yang tadinya sedikit bangga dengan usahanya kini dilanda kepanikan. Apa gadis itu menolakku? Tapi fikiran itu segera ditepisnya setelah Joohyun membalikkan tubuhnya menghadap Joonmyun, dengan bibir tipis berwarna merah muda yang tertarik membentuk senyuman, lalu berucap;

“Nado saranghae Kim Joonmyun.”

“Tuan?”

Joonmyun mendapati seorang waiter bertubuh semampai dengan warna kulitnya yang sedikit gelap kini berdiri dihadapannya dengan wajah kesal,  dikedua tangannya membawa daftar menu. Tentu saja, laki-laki itu sudah menghampiri mejanya lumayan lama, namun tidak juga mendapatkan reaksi dari pelanggannya – Joonmyun.

“Ma. . . maaf” ujar Joonmyun tersenyum kecil, mengakui kesalahannya yang sudah membuat waiter itu menunggu cukup lama – sepertinya.

“Apa Anda baik-baik saja? Anda ingin memesan apa?” serbu laki-laki itu dengan dua pertanyaan, lalu membalas senyuman Joonmyun dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. Sepasang tangan itu lalu menyodorkan sebuah daftar menu kearahnya.

“Aku baik-baik saja, hanya Coffe Late hangat” pintanya, membuat waiter dengan tag name Jongin meninggalkan mejanya sesudah mengatakan “Mohon menunggu beberapa menit, Tuan.”

Joonmyun kembali penasaran dengan apa yang dilakukan peri cantiknya saat ini. “Eung? Dia dimana?” tanyanya pada dirinya sendiri ketika mendapati gadis itu sudah tidak ada di tempatnya semula. Namun Joonmyun segera mendesah lega ketika gadis itu kini telah kembali ke tempatnya semula dengan satu cup ice cream di tangannya.

Gadis itu terlihat tengah asyik menyantap ice cream rasa vanila, sembari matanya fokus terhadap buku bacaan berukuran tebal di hadapannya. Dan kegiatannya selanjutnya adalah membaca.

“Joohyun suka ice cream, dan juga suka membaca.”

 “Hyunie, maaf membuatmu lama menunggu. Ini ice cream punyamu” ujar Joonmyun menghampiri sosok gadis yang saat ini duduk di salah satu kursi di taman. Kedua tangannya yang saat itu memegang dua buah cup ice cream dengan rasa yang berbeda, lalu menyodorkan  satu cup ice cream rasa strawberry kearah gadisnya.

“Gwenchana, kau tau, kan, aku rela kok menunggu demi ice cream” canda Joohyun dan menutup bukunya yang tadi ia baca sembari menunggu kekasihnya. Lalu menggeser tubuhnya, memberikan tempat untuk Joonmyun duduk di sampingnya.

Joohyun mulai menyantap ice creamnya, sedangkan Joonmyun terus memperhatikannya. Seperti menunggu sesuatu. Sedangkan Joohyun, yang baru menyadari Joonmyun yang menatapnya lalu menghentikan kegiatan menyantap ice creamnya.

“Apa ada yang aneh? Lihat, ice cream-mu mulai mencair! Sampai sekarang kau bahkan belum menyentuhnya, Joonmyunnie.”

Joonmyun menggeleng cepat seakan berkata ‘tak-apa’ lalu menyantap satu cup ice cream rasa coklat favoritenya. Dan benar saja, ice cream miliknya memang mulai mencair.

 “Huh, dasar Kim Joonmyun yang aneh~” cibir Joohyun dan kembali melanjutkan menyantap ice creamnya.

Senyuman Joonmyun mengembang ketika mendengar pekikan dari kekasihnya.

“Ya Tuhan! Apa-apaan ini?! Kenapa bisa ada cincin di dalam ice creamku, Joonmyunie?” pekik Joohyun panik. Dan jujur saja saat itu Joonmyun berusaha mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak saat itu juga. Demi tidak menghancurkan semua yang sudah ia persiapkan.

“Eung. . . Coba kau lihat baik-baik cincin itu Hyunie~a.” Joonmyun memberikan saran, tentunya dengan nada yang ia buat setenang mungkin.

Joohyun menghentikan kepanikannya sejenak, mengeluarkan sapu tangan merah muda dari saku celananya lalu membersihkan cincin perak ditangannya dari bekas ice cream.

“Joonmyun . . . Joohyun?” lirih Joohyun tak percaya. Bagaimana bisa ada nama mereka di cincin ini?

Joonmyun lalu meraih cincin yang berukir namanya dan nama gadisnya itu dari tangan Joohyun, lalu memakaikannya di jari manis milik Joohyun. “Ah, leganya. . .” gumam Joonmyun ketika cincin itu ternyata pas di jari manis milik Joohyun.

“Bagaimana Hyunie, bukankah ini sungguh romantis? Lihat, aku juga punya sama sepertimu, tapi bertuliskan Joohyun Joonmyun” jelas Joonmyun dengan bangga.

Namun sebuah buku berukuran lumayan tebal mengenai kepalanya, “Appo, Seo Joohyun!”

“Yak, bagaimana bisa hal seperti tadi kau bilang romantis? Menyelundupkan(?) sebuah cincin di dalam ice cream yang sedang kumakan, bagaimana jika aku tidak menyadarinya lalu cincin itu tertelan? Aigo, kau jahat sekali sih, Kim Joonmyun!”

Baiklah, ucapan dari Joohyun memang cukup berlebihan. Tentu saja hal itu sangat jauh diuar dugaan Joonmyun. Kyungsoo, temannya itu jelas-jelas mengatakan bahwa cara ini cukup ampuh untuk membuat gadisnya terpaku. Karena menurutnya selama setahun ini ia sama sekali tak pandai melakukan hal-hal romantis layaknya sepasang kekasih kepada Joohyun.

Dan sedetik kemudian, kedua mata Joohyun memerah. Hanya menunggu beberapa detik saja, cairan bening itu akan keluar. Tentu saja Joonmyun tidak akan membiarkan gadisnya menangis dihadapannya begitu saja, apalagi karenanya.

“Joohyun~a. . . uljima, dengar penjelasanku dulu . .” bujuk Joonmyun. “Maaf, aku memang bukan laki-laki yang romantis. Aku cuma ingin memberikanmu cincin diperayaan first anniversarry kita, namun dengan cara yang romantis. . . aku bahkan cukup kebingungan saat memilih ukuran jari manismu. Tidak-kah kau mau memaafkanku?”

Tubuh Joonmyun sukses mengkaku ketika bibir merah muda Joohyun bertemu bibir miliknya. Joonmyun tentu saja segera membalas ciuman Joohyun dan menempelkan tangannya di leher Joohyun. Kedua mata Joohyun tertutup rapat, seakan menikmati ciuman diantara mereka. Ciuman kali kedua mereka yang terasa lembut nan manis, sebagai ungkapan perasaan mereka saat ini.

Hanya 60 detik mereka berciuman, keduanya seakan kembali tersadar dan menjauhkan wajah masing-masing. Wajah keduanya memerah menahan malu, sedangkan senyuman tak hentinya mengembang di setiap wajah kedua insan yang tengah di mabuk asmara ini.

“Bodoh! Kau tak perlu seperti tadi, maksudku kau cukup menjadi dirimu sendiri Joonmyunie. Aku menerimamu apa adanya, dan selama ini aku juga tak pernah mengeluh tentangmu, kan?”

“. . . Jadi mulai sekarang, jangan mencoba mengubah seorang Kim Joonmyun –ku  yang tampan, aneh, dan sangat tidak pandai melakukan hal romantis. Arraseo?”

Joonmyun meneguk Coffe Late pesanannya. Seperti Coffe Late yang pada  umumnya terasa pahit, layaknya perjalan cintanya yang tidak selalu berjalan dengan manis, penuh dengan lika-liku. Tangannya merogoh saku celana jeansnya, mengeluarkan sebuah cincin perak yang sama dengan yang tengah ia pakai saat ini. Cincin yang tak pernah lepas dari jari manisnya.

Akhir dari perjalanan cintanya yang berakhir pahit adalah sebuah kesalahan terbesar yang ia lakukan di hidupnya. Akibat dari keegoisannya sendiri. . .

 “Joonmyunnie. . .” panggil seorang gadis dengan nada bicaranya yang lemah. “.  . . apa  kegiatan bandmu sangatlah padat?”

“Begitulah, seperti yang kau tahu Joohyunnie. Aku berkeliling dari berbagai acara, tempat.” jawab Joonmyun santai, fokus dengan makanan di hadapannya. Tanpa terbesit rasa bersalah kepada kekasihnya yang sudah hampir beberapa lama ini mulai ia abaikan.

“Hingga membuatmu tak pernah menghubungiku, bahkan hanya sekedar memberi tahukan kabarmu padaku? Telpon dariku tak pernah kau angkat, dan kau juga tak pernah membalas pesanku!” tuntut Joohyun. Mungkin kali ini adalah saat ketika Joohyun sudah tak tahan lagi dengan sikap Joonmyun padanya.

“Jadi kau mulai bosan dengan hubungan kita?” Joonmyun balik bertanya, nada bicaranya mulai meninggi.

“Semenjak kau menjadi anggota band itu, kau benar-benar berubah Joonmyun~a!” nada bicara Joohyun tak kalah meninggi. Semenjak Joonmyun setahun yang lalu resmi menjadi anggota band beranggotakan enam orang. Band yang cukup terkenal dikalangan para pemuda dan cukup digilai banyak gadis. Siapa yang tak cemburu jika kekasihnya dekat-dekat dengan gadis lain? walau Joohyun sendiri belum melihatnya secara langsung.

“Kau sungguh egois, kau sudah berubah Joonmyun~a!”

“Kau tidak berhak mencampuri urusanku, kau tahu!” satu ucapan dari Joonmyun yang keluar begitu saja sukses membuat pertahanan yang sedari tadi Joohyun lakukan akhirnya runtuh. Air mata gadis itu mengalir begitu saja mendengar ucapan tajam Joonmyun.

“Lalu selama ini kau menganggapku apa huh?” tanya Joohyun, bicaranya bergetar. Membuat Joonmyun terpaku ketika melihat cairan bening sialan itu keluar, dan itu karenanya.

Nafasnya tiba-tiba terasa sesak, namun kembali ia pasang sikap tenangnya kepada gadis dihadapannya. Tidak, kau memang benar Joonmyun. Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini, menjalani hubungan yang terlalu jenuh dengannya. Joonmyun mencoba membenarkan dirinya.

“Kau mulai jenuh dengan hubungan kita?”

Joohyun ternyata bisa merasakan itu. Berbulan-bulan, dengan kesibukan masing-masing. Tanpa komunikasi dan pertemuan. . .

Tangan Joohyun  dengan gerakan cepat menghapus cairan bening yang membasahi wajahnya lalu kembali menatap Joonmyun. Mengerti dengan arti ‘diam’ yang dilakukan laki-laki itu. “Baiklah, jika ini maumu. Terima kasih telah mengisi hari-hariku selama tiga tahun terakhir. Melukis bermacam kenangan; manis dan pahit yang sepertinya tak bisa kulupa dalam hidupku. . .”

“. . . semoga kau mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku Joonmyun~ssi ah bukankah nama kerenmu Suho? Annyeong Suho~ssi.”

Joohyun tersenyum sebelum meninggalkan Joonmyun sendirian di meja restaurant, lalu berlari cepat keluar dari restaurant yang entah kenapa hari ini hanya mereka saja yang ada.

Sedangkan Joonmyun? Laki-laki itu malah menarik kasar rambutnya sendiri. Frustasi? Entahlah, lagi-lagi akal sehatnya bertolak belakang dengan apa yang tengah ia rasakan.

Kenapa ia malah menjadi seperti ini? Bukankah dia sendiri yang menginginkan hal ini terjadi?

Tapi. . .

Joonmyun melangkah keluar dari restaurant dan tiba-tiba saja dikejutkan dengan beberapa orang yang berlalu-lalang d ihadapannya dengan langkah buru-buru.

“Ada kecelakaan maut di sana!” pekik salah seorang pengguna jalanan yang melangkah terburu-buru melewati Joonmyun.

Sebenarnya Joonmyun tak terlalu ambil pusing dengan peristiwa kecelakaan maut yang berada tak terlalu jauh dari restaurant; tempatnya berada. Tapi entah mengapa langkahnya sendiri yang membawanya kesana, menuju ke sumber peristiwa itu terjadi.

Sebuah benda kecil di aspal membuatnya menghentikan langkahnya sejenak, laki-laki itu sedikit menunduk dan meraih benda kecil yang ternyata adalah sebuah cincin. Mata Joonmyun melebar ketika dilihatnya tulisan di cincin tersebut.

‘Joonmyun Joohyun’.

Bulu kuduk Joonmyun meremang, sebuah fikiran buruk tentang Joohyun melintas begitu saja di fikirannya. “Joohyun. . . baik-baik saja, kan?” tanya Joonmyun pada dirinya sendiri.

“Kasihan sekali gadis itu. . . padahal usianya masih muda. . .”

 “Bibi. . . bi-bisakah kau. . . memberitahukanku tentang peristiwa kecelakaan disana?” tanya Joonmyun terbata. Terus mencoba memastikan bahwa memang Joohyun-nya baik-baik saja.

“Ah, sekitar satu menit yang lalu setelah gadis itu keluar dari restaurant, ia tertabrak sebuah bus kota yang melaju sangat cepat” jelas salah satu wanita.

“Sayang sekali, nyawanya langsung terengut saat itu juga. Padahal usianya muda, sepertinya dia se-usiamu” sambung wanita berbadan lebih gemuk.

Joonmyun melangkah meninggalkan kedua wanita itu begitu saja, tanpa mengucapkan kata terima kasih atau setidaknya sepatah katapun. Terus meyakinkan dirinya sendiri jika halusinasinya tidaklah benar. Tidak, gadis itu bukanlah Joohyun! Dan tidak akan mungkin Seo Joohyun-ku!

Kedua lutut Joonmyun melemas, tak kuat lagi menopang tubuhnya. Air matanya seketika mengalir deras, sungguh. .  ia dibuat tak bisa berkata-kata saat ini.

Dihadapannya tergeletak smayat seorang gadis dengan seluruh tubuhnya yang telah dipenuhi dengan darah.

Namun Joonmyun kembali bangun, menghampiri mayat seorang gadis yang telah dibatasi garis Police Line di sekitar gadis itu berada. Tidak dihiraukannya teriakan para pasang mata yang menegurnya. Yang ia inginkan saat ini adalah melihat Joohyun, mendekapnya. Ia harus memastikan bahwa gadisnya belum pergi meninggalkannya untuk selamanya.

“Joohyun~a, Ireona! Ireona! Kau mendengarku, kan? Jangan bercanda Joohyun!” pekik Joonmyun sambil mengguncang tubuh Joohyun yang sudah tak bernyawa lagi. Ia dekap kepala gadisnya yang sudah dipenuhi dengan darah segar, menghiraukan bau amis yang saat ini menjalari tubuhnya.

“Maafkan aku Joohyun~a, Aku memcintaimu! Kumohon bangun!”

 “Annyeong Tuan. Maaf, bukan kami bermaksud mengusirmu. Tapi toko ini akan segera tutup” ujar seorang gadis dihadapannya. Astaga, peri cantiknya. . . Gadis yang telah membawanya kembali ke masa lalunya yang sudah ia simpan dengan baik selama ini.

Membuat Joonmyun dengan gerak cepat menghapus cairan bening yang mengalir di pipinya akibat dari mengingat kembali memori lama yang kembali berputar di fikirannya. Dan bahkan membuatnya tersisa seorang diri di sini, sedangkan meja yang sebelumnya dipenuhi oleh beberapa pengunjung sudah benar-benar kosong.

Kenapa ia menghampiriku saat aku dalam keadaan seperti ini, sih? Baiklah, kau sudah cukup membuat dirimu malu Kim Joonmyun.

“Tidak, memang akulah yang salah.” sanggah Joonmyun lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, dan beranjak dari kursi. Saat ini ia cukup malu untuk bisa menatap peri cantiknya dari dekat – ya, setelah kejadian memalukan barusan.

Baru beberapa langkah menjauh dari mejanya, sebuah panggilan tertuju kearahnya.

“Tuan, tunggu!”

Joonmyun menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya menghadap pemilik suara. “Cincinmu tertinggal.” ujar wanita itu, lalu menyodorkan cincin yang bertuliskan ‘Joonmyun Joohyun’.

Bukannya mengambil cincin tersebut, Suho malah tersenyum dan berujar, “Kau tahu  Seohyun~ssi, butuh banyak waktu untuk menyadarkan sebuah hati yang beku, bahwa ternyata ada sebongkah perasaan yang perlahan mencairkannya…”

Peri cantik yang sedari tadi Joonmyun sebut, ternyata bernama Seohyun – yang baru saja Joonmyun tahu dari tag-name – mengerutkan keningnya sesaat, mencerna ucapan Joonmyun.

Dan beberapa detik kemudian senyuman tipis terlihat dari wajah cantik Seohyun, mata bulatnya menatap langkah Joonmyun yang keluar dari restaurant.

Joonmyun melangkah keluar dari restaurant dengan senyuman di wajahnya. Saat ini ia baru menyadari, bahwa setiap cerita cintanya tak akan pernah lepas dari waktu.

“60 detik adalah semua waktu yang aku butuhkan tentang cerita ini.
Kau masuk dalam ceritaku, tanpa keraguan yang kurasakan.
Sebuah cerita yang cukup bagiku,
Namun tidak membutuhkan banyak alasan.
Membuat hatiku berdebar ketika kita kembali dipertemukan. . . ”
Kim Sungkyu ‘60 Seconds’

.

.

.

END

Hai, hai~ maaf kalo aneh, dan juga alurnya kecepetan._.v ini fanfic sebenernya udah lama banget aku buat dan baru di post sekarang /penting gak sih-_-/ Jangan segan-segan kasih saran untuk karya nista ini ya u,u hh /nge-bow bareng taemin-junmyun/

 

18 thoughts on “[Freelance] 60 Seconds

  1. keren thor! tau ga klo ini keren?! /woles bang/ ok ok mian mian /bow bareng sehun sama hyoyeon/ keep writing yaaa 🙂 ditunggu karya selanjutnya 😉

  2. Daebak thor Ff nya bener2 Sedih dan bahasanya juga bagus saran aja ya thor kalo flashback pake garis miring aja soalnya kalo bacanya pake hp kaya aku ini kalo tebal itu gk begitu ketara atau mungkin emang aku yg salah ya ? Heheheee taktaulah ^__^ Good Thor Keep Writing SeoExo ne 😉

  3. sumvah keren abissssss thor ,< bahasa dan alur ceritanya gk ngebosenin dan setiap kalimatnya jadi pingin lanjut dan lanjut terus ngebacanya 😀
    keep writing thor! waiting the next Fanfic,,Hwaiting!!! *tuingtuingbow

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s