TETRAGON [FIVE]

TETRAGON [CHAPTER 5]

Poster - Tetragon

[Dan hari ini dia merasa De Javu. Duduk terperangkap dalam benda kotak berkaca bening pada ketinggian 777 kaki]

[Length: Chaptered – Rating: G – Cast: Chanyeol & Sooyoung – Genre: Angst]

[AuthorGenie]

[Recommend song: EXO – Christmas day]

A/N: First, happy #MiracleInDecember1stWin second, here! Come as ma promise on previous chapter. Third, probaly this is the last chapter for the year, i’ll see you next year after the final test and holidaaaay! – Genie.

***

Jongin menutup pintu apartemennya sembarang, membiarkan sepasang sneakers kesayangnnya tergeletak di dekat rak sepatu kemudian merajut langkah masuk kedalam apartemen. Melewati ruang tamu sekaligus ruang televisi guna menuju dapur. Tempat dimana suara minyak panas terdengar, air keran mengalir juga aroma masakan menggoda perut berasal.

Im Yoona berdiri membelakanginya, surai coklat panjang sang gadis diikat satu, mengenakan sweater bergaris merah hitam sebagai kado natal dari Jongin tahun lalu serta apron berwarna coklat membalut tubuhnya. Tipikal Yoona, akan lupa dunia ketika sedang melakukan kegiatan kesukaannya. Memasak.

Jadi tidak heran kalau sang gadis sedikit terlonjak merasakan sepasang lengan kokoh yang tiba-tiba melingkari pinggang langsingnya. “kau sudah pulang? Tumben” tanya Yoona melirik pada jarum pendek yang melingkar di pergelangan tangan kiri Jongin.

Ini hari minggu dan biasanya sang kekasih akan menghabiskan sepanjang sore berlatih menari. “anak Mr. U-know mendadak mengalami kecelakaan, latihan  langsung di bubarkan” jawab Jongin sedikit manja. Dagu jatuh di pundak Yoona.

“parah?”

“belum tahu. Itu ayam mau kau apakan? Jangan bilang goreng lagi”

“hei, kau bilang ayam gorengku enak!” sikunya menghantam perut Jongin pelan. Sementara kedua tangan sibuk melumuri potongan-potongan ayam kedalam adonan tepung terigu.

“Ya memang enak tapi kalau di makan setiap hari….”

“oh diam Kim Jongin. Lebih baik hubungi Sooyoung, tanya kapan dia sampai rumah sebelum kau membuat ku marah dan kehilangan selera untuk memasak yang berarti kau harus keluar membeli makanan cepat saji dari seberang jalan”  ancam Yoona malah membuat Jongin tertawa kecil.

“kenapa aku mencintai gadis galak sepertimu, heh?”

“karena tidak ada gadis yang mau mencintai pemuda hitam menyebalkan sepertimu selain ak—hei! Kim Jongin!!!” tubunya di angkat Jongin hingga kaki tak lagi menyentuh ubin, menjatuhkan sepotong sayap ayam yang baru saja dia lumuri tepung terigu.

“JONGIN!”

“katakan lagi apa yang barusan kau katakan?” tantang Jongin, sebelah bibir terangkat keatas membentuk seringai. Keduanya berdiri berhadapan. Hidung menyentuh satu sama lain. Dia menatap Yoona intens. Astaga, siapa yang tidak lemah menghadapi situasi ini dengan pemuda macam Jongin? tidak terkecuali Yoona. Setelah dua tahun pacaran-pun dia masih tidak bisa membiasakan diri dengan kebiasaan Jongin yang satu ini.

“hubungi Sooyoung sekarang, Jongin!” suaranya melengking. Mendorong tubuh Jongin menjauh dengan pipi semerah buah tomat. Sementara Jongin tertawa senang. Dia menang. Dia selalu suka melihat pipi Yoona yang bersemu merah setiap kali menggodanya. Maka di tariknya tubuh sang kekasih sekali lagi, mendaratkan bibirnya singkat pada milik Yoona sebelum berlari cepat menuju kamar.

.

.

.

“KIM JONGIN!!!!!!”

***

Sooyoung duduk di ruang televisi apartemennya seorang diri. Kacamata baca bertengger di hidung, asik membaca buku panduan DSLR barunya sambil mengunyah apel. Di atas meja tidak jauh dari sofa, ada lapotp dalam posisi menyala, menampilkan beranda skype dan kamera DSLR di sampingnya.

Tidak lama kemudian, ada suara terdengar dari laptop. Itu panggilan Skype Jongin. tubuhnya segera bergerak mendekat ke laptop, menggerakkan mouse lalu klik kiri pada tulisan ‘answer’ beberapa detik kemudian wajah tanpa ekspresi Jongin muncul.

“mana Yoona?”

“dapur. Memasak ayam goreng seperti biasa” jawab Jongin sambil bertopang dagu.

“aku dengar, tuan Kim dan kalau kau bosan dengan ayam gorengku silahkan pergi keluar, cari makanan lain” sahut Yoona setengah berteriak. Menyebabkan Sooyoung tertawa. Jongin menghembuskan nafas lemah.

and for your information, ini bukan ayam goreng biasa. Ada campuran cola yang bisa di makan bersamanya” kata Yoona lagi. Jongin menggeser letak laptop sehingga kini dia bisa melihat Yoona juga disana, membawa beberapa mangkuk dalam nampan.

“kau mau aku makan ayam goreng dengan cola? Minuman bersoda?”

“diam dan makan, Kim Jongin” perintah Yoona. Meletakkan semangkuk nasi, sepiring ayam goreng dan satu mangkuk kecil di hadapan Jongin.

“oh aku pernah makan itu!” sambar Sooyoung. “cola yang Yoona maksud bukan minuman soda, Jongin. Tapi itu yang ada pada mangkuk kecilmu”  Jongin menengok kedalam benda yang sepupunya maksud. Ada kuah—sedikit kental berwarna coklat muda. Menggunakan supit, dia mengambil sepotong paha ayam yang kemudian di celupkan kedalam kuah cola.

“oh ini tidak buruk” komennya. “hei, sayang. Kenapa kau memasak untuk Sooyoung duluan dari pada aku?”

“uh well, aku takut gagal. Jadi, seperti biasa meminta bantuan Sooyoung untuk mencicipinya lebih dulu sebelum kuberikan padamu” mendengar itu, Jongin tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium sang kekasih. Jadi dia berdiri, berjalan memutar kesisi meja lainnya guna mendaratkan sebuah ciuman penuh kasih sayang di puncak kepala Yoona. Yang di perlakukan seperti itu mengulum senyum malu dengan pipi merona merah.

“tolong jangan lupa aku masih di sini” celetuk Sooyoung memutar bola matanya malas. Jongin tertawa diseberang sana.  “hei, kau jadi beli kamera?” tanya Jongin yang sudah kembali ketempat duduknya.

“sudah. Ini”

“100D?” pekik Jongin. beberapa bulir nasi terlempar keluar dari mulut.

“Jongin! makan yang benar!” protes Yoona.

“Yoong, kau lihat? Itu 100D!”

“memangnya kenapa?”

“kau itu pemula, tidak tahu apa-apa mengenai kamera. Kenapa harus 100D?”

“abaikan dia, Soo. Selalu saja  berlebihan kalau sudah bicara tentang kamera. Jadi, Namsan Tower? Kau tahu seperti apa tempatnya?” Yoona mengalihkan pembicaraan. Sooyoung menggelengkan kepalanya. “tidak tahu. Tapi teman sekelompokku mau membantu dengan menunjukkan beberapa foto Namsan Tower sebelum kami kesana”

“teman kelompokmu itu, laki-laki atau perempuan” sambar Jongin. baik nasi, ayam dan kuah cola miliknya sudah berpindah kedalam perutnya semua.

“laki-laki?”

“tampan?”

“tampan” masih segar di ingatannya cara Chanyeol tersenyum, cara Chanyeol tertawa dan suara berat Chanyeol yang mengalun merdu. Tanpa sadar, dia tersenyum.

“hati-hati dengan laki-laki tampan” imbuh Jongin. Tidak perlu di jelaskan lebih lanjutpun dia tahu betul apa maksud perkataan sang sepupu.

“kemarin aku lihat Sunny turun dari mobil Sehun di tengah lampur merah. Tapi lampu keburu berubah hijau waktu Sehun mau menyusul, mau tidak mau dia harus menepikan mobilnya dulu dan ketika dia turun Sunny sudah hilang. Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa suka pada gadis kekanakan seperti itu”

Oh pantas saja Sehun menghubunginya. Soooyoung tahu itu. Selalu tahu. Dia hanyalah tempat pelarian oleh Sehun. Tetapi tetap saja hatinya tidak rela. Karena sebagian dari diri Sooyoung masih berharap Sehun bisa berubah. Sehun bisa melihat dia seutuhnya. Bukan sebagai tempat yang selalu bisa di datangi saat butuh saja. Sooyoung bukan tempat penampungan patah hati. Hatinya sendiri sudah tak berbentuk akibat Sehun.

***

Tinggal seminggu lagi.

Seminggu lagi hingga akhirnya Sooyoung akan mengunjungi Namsan Tower. Hari ini di kampus Chanyeol menunggunya di depan pintu kelas. Tersenyum lebar dengan melambaikan tangan kanan yang menggenggam kertas-kertas. Chanyeol menepati janjinya tempo hari. Mencetak  beberapa foto Namsan Tower dan memberitahunya informasi singkat mengenai salah satu menara yang paling terkenal di Korea Selatan tersebut.

Sebenarnya dia tidak ada masalah tentang Namsan Tower. Menara itu terlihat cantik kala malam tiba. Keindahan malam kota Seoul terpampang  jelas di sana. Lampu menara bisa berubah menjadi beberapa warna. Biru,  kuning dan merah. Ada restoran yang berputaran setiap 2 jam sekali.  Dan yang paling menarik adalah ribuan gembok yang memenuhi puncak menara.  Gembok-gembok cinta yang di kaitkan pasangan kekasih yang datang kesana. Terdengar romantis bukan? Setelah mengaitkan gembok yang bertuliskan kata-kata untuk kekasihmu, kunci di buang lalu menikmati pemandangan berdua di atas sana sambil bergandengan tangan. Dengan hati di penuhi cinta.

Agar bisa mencapai kesana harus menaiki kereta gantung berkaca bening. Bisa melihat pemandangan di luar dengan sangat jelas dari ketinggian 777 kaki dan kalau mau mencapai puncak menara harus menaiki lift super cepat. Dan inilah masalah Sooyoung.

Dia seorang Acrophobia.

Well, tidak sampai pingsan atau sesak nafas. Jantungnya akan berdetak lebih kencang atau tubuhnya sedikit gemetaran. Namun tetap saja, dia menghindari tempat-tempat tinggi.

Mungkin Sooyoung terlalu larut dalam pikirannya atau mungkin ketakutan terpampang jelas di wajahnya karena pertanyaan Chanyeol selanjutnya sangat tepat sasaran.

“ada masalah, Sooyoung-ah?”

“uh Chanyeol. Sebenanrnya aku Acrophobia” balasnya tanpa menatap mata lawan bicara. Namun ketika respon Chanyeol tidak datang seperti yang di harapkan, kepalanya mendongak. Chanyeol masih di sana, memandang lurus ke arahnya. Tetapi pandangan itu kosong.

“Chanyeol?” panggilnya sedikit memiringkan kepala ke kanan. Ada beberapa kerutan nampak di dahi. Yang di panggil namanya terlonjak kaget. Sepasang iris Chanyeol membulat besar, mulutnya membuka lebar. Terlihat lucu sekaligus tampan—menurutnya.

“kau mendengarkanku tidak?”

Acrophobia? Kau Acrophobia?” dia mengangguk sebagai jawaban lalu Chanyeol tampak asik dengan pikirannya sendiri—lagi. “kau…. apa Acrophobia juga?” tanyanya hati-hati. Takut menyinggung perasaan.

“aku? Oh tidak-tidak. Acrophobia mengingatkanku pada seseorang. Dia juga mengidap phobia itu” sambarnya cepat sambil tersenyum lebar.

Senyum yang gagal mencapai mata.

Dari cara Chanyeol menyebut dan berekasi tentang seseorang yang dia ingat Sooyoung tahu kalau orang itu bukanlah orang biasa bagi Chanyeol. Walaupun penasaran, dia tidak ingin memaksa, mereka baru saling mengenal. Terlalu cepat rasanya untuk berbagi cerita pribadi.

Kehadiran dosen wanita mungil cantik mengakhiri percakapan keduanya. Melihat sang dosen—lalu Chanyeol menyegarkan ingatannya tentang sesuatu hal. Dia mendekatkan diri kearah daun kuping Chanyeol untuk membisikan sesuatu.

“hei, itu proffesor yang menghukummu menyanyi tempo hari kan? kenapa tidak terlambat lagi? Kau trauma di  hukum menyanyi?”

“aku? Trauma? Uh tentu saja tidak, Sooyoung. Aku sudah punya renca untuk mengerjain dosen menyebalkan itu bersama Jongdae dan—kalian! Anak-anak sekelas. Tapi tidak hari ini”

“kenapa tidak?”

“karena aku sudah berjanji mau memperlihatkan foto Namsan Tower padamu” tukas Chanyeol. Kali ini senyuman mampu mencapai sepasang irisnya. Senyuman itu tidak lebar seperti biasa. Hanya senyuman kecil yang malah mampu membuat Sooyoung tanpa sadar ikut mengulum senyum manis.

***

Seminggu berlalu cepat.

Sooyoung menemukan dirinya duduk di kursi samping kemudi—Jessica bersama  Tiffany dan Taeyeon di belakang. Lagu Girls’ Generation – All My Love is For You mengalun pelan dari radio. Awal bulan desember di sambut oleh turunnya gumpalan salju. Menyebabkan cuaca terasa lebih dingin dan dia tidak terlalu suka dingin. Mengenakan mantel tebal hijau muda selutut, celana jeans di padukan boots tinggi berwarna marun di harapkan bisa sedikit mengurangi dingin yang dia rasa.

Perjanalan tidak memakan waktu lama. 30 menit kemudia mereka sudah tiba. Baekhyun adalah orang pertama berlari ke mobil Jessica, membukakan pintu untuk sang kekasih layaknya kisah dalam dongeng. Taeyeon tampaknya menikmati hal itu. Di belakangnya ada Jongdae dan Chanyeol. Dia mengamati penampilan Chanyeol. Kemeja abu-abu di timpah parka hitam panjang, celana jeans hitam dan sneakersuh dia memang tampan.

Chanyeol mengambil tempat di sampingnya. “Hei, pilihan pakaian yang tepat. Cuaca dingin hari ini. Mengenakan pakaian tipis bisa membekukan tapi sepertinya kau tidak ya, Jess” itu suara Chanyeol. Semua pandangan mengamati pakaian Jessica, kaus putih polos di padukan mantel panjang bergaris hitam putih. Pilihan itu masih normal. Mantelnya terlihat tebal dan hangat. Tapi melihat kebawah—stocking hitam di timpah hot pants biru laut dan heels? Itu baru masalah.

“tentu saja dia tidak akan merasa dingin! Panggilannya saja Ice Prince” celetuk Baekhyun yang segera mendapati tatapan tajam tanpa ekspresi dari Jessica. “seseorang harus berkorban demi fashion” kata Jessica beralasan.

“konyol” timpal Jongdae. Sebelum Jessica bisa bereaksi, suara proffesor Choi terdengar lebih dulu melalui pengeras suara. “perhatian, karena semua sudah datang kita naik sekarang. Tetap bersama teman kelompok kalian masing-masing dan mulailah memotrait”  sang professor mulai melangkah di ikuti mahasiswa lain. Tiffany, Jessica dan Jongdae merajut langkah duluan di antara mereka, di susul Baekhyun dan Taeyeon sambil Taeyeon bergelayut manja di lengan Baekhyun baru Chanyeol dan Sooyoung.

Dia memasukkan kedua lengan ke dalam saku mantel, dari tempat berdiri saat ini dia bisa melihat jelas kereta gantung berlalu lalang. Dia bisa merasakan rasa takut mulai menyelinap. Tenang Choi Sooyoung, kereta gantung itu tidak akan jatuh. Kau akan baik-baik saja. Katanya menenangkan diri sendiri.

***

Dulu sewaktu dia, Jongin dan Yoona liburan ke Jepang mereka pernah sekali naik komedi putar berkaca bening di sana. Pada awalnya tentu saja dia menolak, tetapi mau tidak mau harus naik karena paksaan keduanya. Komedi putar itu tidaklah buruk. Dia bisa melihat gemerlap malam kota Jepag dari sana. Hanya saja dia yang bermasalah. Tidak bisa benar-benar menikmati pemandangan akibat rasa takutnya. Belum lagi di bangku seberang Yoona asik menjatuhkan kepala di pundak Jongin. Jongin memeluknya erat. Sesekali mengusap kepala atau menjatuhkan ciuman di dahi Yoona. Membuat dia semakin menyesali keputusannya.

Dan hari ini dia merasa De Javu. Duduk terperangkap dalam benda kotak berkaca bening pada ketinggian 777 kaki. Sepasang kekasih—Baekhyun dan Taeyeon duduk bermesraan di seberang. Bedanya kali ini, kursi di sampingnya tidak kosong. Ada Chanyeol di sana.

Sooyoung menutup mata untuk menyamarkan rasa takut, mengingat pengalaman yang menyenangkan hingga suara berat Chanyeol terdengar. Kelewat jelas. Seakan Chanyeol bersuara tepat di telinganya. “sudah bisa mengoperasikan kameramu?” tanya Chanyeol menunjuk kameranya yang melingkar di leher.

Sooyoung mengamati kameranya sendiri. Dia sempat belajar panduan awal dari buku petunjuk, Jonginpun memberi pengetahuan singkat sewaktu mereka skype jadi—ya. Dia sudah bisa mengoperasikan kamera.

“Chanyeol, sepupuku bilang kamera tipe ini terlalu hebat untuk pemula sepertiku” katanya setengah tertawa. “oh ya? kalau begitu ini terlalu hebat untukku juga” Chanyeol ikut tertawa. Di depan mereka Bakehyun dan Taeyeon asik dengan dunia mereka sendiri.

“sepupumu itu sangat paham mengenai kamera ya?”

“dia seorang photographer, freelance sebenarnya. Tapi tetap saja hasilnya tidak kalah sama profesional”

Obrolan mereka mengalir. Chanyeol bercerita kalau dia anak buungsu dari dua bersaudara. Noonanya sekarang bekerja sebagai anchor di salah satu stasiun televisi swasta. Chanyeol seorang maniak game. Setiap noonanya menerima gaji dan bertanya Chanyeol mau apa dia akan selalu minta game atau gadget terbaru dan noonanya akan berteriak. Mengingatkan bahwa usia Chanyeol bukanlah anak-anak lagi. Bukan juga remaja. Dia sudah dewasa.

Sekali lagi DEWASA.

Noonanya mau Chanyeol mengurangi kebiasaan bermain gamenya itu. Lalu setelah puas menceramahi, sang noona memberinya uang sambil berkata “ini yang terakhir kalinya kau menggunakan uang gajiku untuk game, ingat itu Park Chanyeol! Ku bunuh kau kalau bulan depan masih sama”. Kata Chanyeol menirukan ekspresi serta suara noonanya. Tawa Sooyoung meledak . Wajah Chanyeol terlihat begitu konyol. Dia sampai tidak sadar bila kereta gantung sudah berhenti kalau bukan karena suara Taeyeon.

“Sooyoung-ah! Ayo turun”

“eh? Sudah sampai?” tanyanya memandang sekitar bingung. Di sisinya Chanyeolpun sudah berdiri. Rasa-rasanya tadi dia masih mengalihkan pikiran karena rasa takut akan ketinggian. Rasa-rasanya perjalanan tadi masih jauh—

“Chanyeol!”

“ya?”

“terimakasih”

“untuk?”

“kau tahu untuk apa” dan Chanyeol tertawa sebelum mengangkat bahu. “tidak masalah. Berhasilkan?” Ya. berhasil. Sooyoung baru sadar sebenarnya obrolan mereka sepanjang perjalanan tadi sengaja Chanyeol lakukan untuk mengalihkan rasa takutnya dan Ya—Chanyeol berhasil.

“menurutmu bagaimana?” godanya sambil menyusul langkah Chanyeol.

***

Hari ini hari minggu.

Banyak orang yang datang ke Namsan tower untuk menghabiskan waktu. Chanyeol menjaga Sooyoung agar tidak hilang dari jangkauan pandang. Sesekali dia harus menarik lengan mantel sang gadis karena Sooyoung sering kali terlalu asik memotrait sehingga berkali-kali hampir kehilangan rombongan.

Mereka sekarang ada di tempat gembok-gembok terkunci erat pada pagar. Proffesor Choi berdiridi depan menghadap ke rombongan mahasiswa. “ semuanya dengarkan. Kalian aku bebaskan untuk memotrait apapun yang kalian inginkan. Dapatakan gambar sebaik mungkin tapi jangan lupakan artikel yang harus kalian buat. Ingat, artikel dan gambar harus sesuai. Kalian ku beri waktu sampai matahari tenggelam yang berarti kalian punya waktu hingga 4 jam ke depan. Pemandangan Namsan Tower di kala malam adalah yang terbaik. Jadi jangan sampai kelewatan, oke? Kita berkumpul di bawah 4 jam lagi. Kalau butuh bantuan cari saja aku. Mengerti?”

Para mahasiswa spontan mengangguk. “baiklah, kalian bisa mulai bekerja dan semoga berhasil!”

Barisanpun bubar bersama kelompok mereka masing-masing. Sibuk membicarakan gambar apa yang akan mereka ambil. Terdengar perdebatan kecil antara Baekhyun dan Jessica. Baekhyun yang ingin memotrait gembok-gembok cinta dulu sementara Jessica mau balkon observasi dulu.

“di sini dulu, Jess. Kita kan sudah di sini baru ke atas”

“tidak ke atas dulu, Baekhyun. Kita bisa melihat pemandangan Seoul lebih jelas dari sana”

“tapi di sini lebih romantis. Lihat sekelilingmu!”

“romantis? Aku tidak perduli, Byun Baekhyun”

“oh tentu saja. Kau kan tidak punya pacar. Kenapa pula harus perduli?”

YA! Byun Baekhyun! mau mati kau! Huh?”

“astaga, kalian berdua berhenti. Orang-orang melihat ke arah kita” Taeyeon muncul sebagai penengah di antara keduanya. “kita tidak memotrait di sini ataupun balkom observasi. Kita akan memotrait restoran dulu” tandas Taeyeon kemudian memutar tubuh menuju tempat restoran.

“Taeyeon-ah! Sayang! tunggu aku!” Baekhyun segera berlari menyusul di ikuti Jessica yang wajahnya tertekuk dengan kedua tangan terlipat depan dada. Tiffany tertawa kecil melihat kelakuan tiga temannya sebelum beralih pada Jongdae yang tengah sibuk dengan kameranya.

“Jongdae-ah! Kita mau kemana?”

***

Seumur hidupnya, Sooyoung tidak pernah benar-benar memotrait menggunakan kamera DSLR. Biasanya hanya kamera poket dan kalau menggunakan kamera DLSR Jongin itupun hanya untuk memotrait dalam rumah. Jongin kelewat posesif masalah DSLR. Maka, memotrait landscape seperti ini adalah pengalaman baru baginya. Menangkap pemandangan ke dalam sebuah gambar tak bergerak ternyata asik.

“ini sangat menyenangkan bagi pemula?” suara Chanyeol tiba-tiba muncul. Menyadarkannya kalau dia tidak bekerja seorang diri. Dia punya teman berdikusi tentang gambar apa yang mau di ambil.

“ah Chanyeol aku—“

“hampir lupa ya aku di sini?” potong Chanyeol tepat sasaran. Sooyoung tertawa gugup, menyelipkan rambut ke belakang daun telinga. Dia merasa seperti ketahuan sedang mencuri saja. “jadi kita mau memotrait apa dulu?” lanjut Chanyeol.

“aku barusan mengambil beberapa foto gembok-gembok ini. artikelnyapun sudah terpikirkan seperti apa. Bahkan aura tempat ini terasa romantis, Chanyeol”

yeah…” gumam Chanyeol.

“kau pernah kesini?”

“tentu saja”

“bersama kekasihmu?”

“seperti itulah”

“berarti kalian juga pernah mengaitkan gembok di sini? Mana milikmu?” Sooyoung bertanya sambil membidikkan lensa kameranya ke berbagai tempat. Melewatkan air muka Chanyeol akibat pertanyaannya.

“ada banyak gembok di sini, Sooyoung. Mana aku ingat di mana milikku. Warnanya saja aku sudah lupa” Chanyeol bohong. Dia tidak mungkin lupa gembok kecil berwarna pink terang bertuliskan ‘Chanyeol & Yuri’. Chanyeol bahkan masih ingat di mana letaknya.

“Chanyeol?”

“ya, Sooyoung?”

“apa kau percaya pada mitos mengenai gembok-gembok ini?” jemari kurusnya menyentuh salah satu gembok. Membaca deretan hangul yang tertera di sana. “mitos berkata sepasang kekasih yang mengaitkan gembok lalu membuang kuncinya dari atas menara maka cinta mereka tidak akan pernah putus. Cinta keduanya abadi untuk selamanya”

Apakah Chanyeol percaya?

***

Durasi 4 jam yang di berikan oleh proffesor Choi tanpa terasa sebentar lagi habis. Sooyoung dan Chanyeol sudah memilih Gembok-gembok cinta, lampu malam menara dan toko oleh-oleh buat di jadikan artikel. Foto mereka sudah lengkap. Kalimat untuk artikel sendiri sudah tersusun di pikiran masing-masing. Tinggal di kembangkan lagi.

Di atas puncak, angin malam bertiup kencang. Menyebabkan cuaca semakin terasa dingin. Sooyoung merapatkan mantelnya, melipat kedua tangan di depan dada dan sesekali menggosok kedua tangan agar lebih hangat.

“dingin?” tanya Chanyeol yang sedari tadi selalu berdiri di sisinya.

“lumayan. Aku tidak suka dingin”

“tunggu sebentar” sebelum Sooyoung bisa bertanya apa maksudnya Chanyeol sudah berlalu pergi. Meninggalkan dia bersama Baekhyun, Taeyeon, Jessica, Tiffany dan Jongdae. Sekarang mereka di puncak menara. Ini jadi pengalaman pertama juga terakhir baginya naik ke atas. Dia tidak akan pernah mau lagi. Salahkan lift super cepat sialan itu. selama mengendarai lift dia berdo’a seakan besok kiamat. Untung ada Jessica yang rela tangannya di genggam erat.

“Jess pakai ini” Jongdae menyodorkan parka coklatnya.

“tidak perlu, Jongdae” tolak Jessica berbanding terbalik dengan keadaan tubuhnya yang sedikit menggigil. Seseorang harus berkorban demi fashion? Oh yeah, Jess maksudmu mati membeku.

“jangan menolak. Kau bisa mati beku. Lihat bibirmu sudah pucat seperti itu” Jongdae menyampirkan parkanya pada pundak Jessica. Kali ini tidak ada penolakan.

“seseorang harus berkorban demi fashion, huh?”

“Byun Baekhyun!” Taeyeon mencubit pinggir perut kekasihnya kuat-kuat.

“Hei” tiba-tiba suara Chanyeol terdengar lagi. Dia memutar tubuh, mendapati Chanyeol memegang dua gelas kertas dengan uap mengepul keluar dari dalamnya. “untuk menghangatkan” sambungnya menyodorkan satu gelas ke arah Sooyoung.

Gelas berisi kopi.

“terima kasih, Chanyeol” kali ini bukan hanya tubuh, tetapi hatinyapun terasa hangat atas perlakuan teman kelompoknya itu,

***

4 jam telah berakhir.

Sooyoung beserta mahasiswa lain sudah turun dari atas menara. Proffesor Choi sudah mengatakan apa yang harus di katakan sebelum pulang mendahului yang lain. Deadline tugas dua minggu, kumpulkan dalam bentuk hard copy, foto lengkap dengan artikel. Dirinya dan Chanyeol sepakat untuk membahas kelanjutan tugas ini besok, toh keduanya sudah bertukar nomer telepon.

“Chanyeol, ayo pulang” kata Baekhyun memotong obrolan keduanya. Sebelah tangan di belakang menggenggam milik Taeyeon.

“kau duluan saja, aku masih mau mampir ke suatu tempat” mendengar itu ekspresi wajah Baekhyun berubah serius. Sooyoung tidak tahu kenapa Baekhyun seperti itu yang pasti dia terlihat seperti seorang ayah yang tengah mengintrogasi apakah anak kesayangannya sedang berbohong atau tidak.

“kau yakin?”

“jangan berlebihan, Baekhyun. Aku bukan anak lima tahun. Aku tahu bus mana yang mengantarku ke rumah tanpa tersesat. Hati-hati di jalan oke?” Baekhyun enggan bergerak. Memandang Chanyeol lurus penuh prasangka. Taeyeon sampai harus menariknya dulu.

“Chanyeol, ingat kan kalau kau bisa menghubungiku kapan saja?”

“tentu Baekhyun, tentu. Kau yang terbaik” Chanyeol mengangguk yakin. Baekhyun tidak tahu harus mengatakan apalagi. Jadi dia masuk kedalam mobil di ikuti Taeyeon dan Jongdae.

Sooyoung masih berdiri di sebelahnya. “Soo, ayo!” seru Jessica yang bergerak masuk di balik kursi pengemudi. Tiffany malah sudah sedari tadi duduk manis di bangku belakang. Dia memutar tubuh, kepada Chanyeol yang tengah mengulum senyum padanya.

“yakin mau pulang sendiri, Chanyeol?”

“kau terdengar seperti Baekhyun”

“mungkin kau berubah pikiran?” Chanyeol masih mengulum senyum. “—well— atau tidak. kalau begitu sampai bertemu besok, Chanyeol. Hati-hati” tandasnya lalu masuk mobil. Kaca sengaja di buka setengah.

“Jess, mengemudinya pelan-pelan saja. Jalanan sedang licin”

“tentu. Kau juga Chanyeol. Jangan mau di ajak orang asing bicara hanya demi sebatang lolipop”

“Jessica Jung…….” Sooyoung dan Tiffany tertawa mendengarnya. Chanyeol menghembuskan nafas panjang dan Jessica bertahan pada wajah tanpa ekspresi.

“—dan see ya!”  kemudian mobil sedan pink itu mulai melaju pergi. Meninggalkan Chanyeol seorang diri.

***

Suasana malam kota Seoul nampak semakin indah di hiasi taburan salju. Sebentar lagi natal tiba. Natal dan salju adalah komposisi paling sempurna yang pernah ada. Sooyoung mulai memikirkan kado apa yang mau dia berikan kepada Yoona dan Jongin. Dia larut dalam suguhan gemerlap lampu kota Seoul, Jessica mengemudi sambil bersenandung kecil lagu Girls’ Generation – Complete dan Tiffany tenggelam dalam alam bawah sadar di balut selimut tebal.

Tidak lama kemudian sepasang irisnya mendapati puncak gedung apartemen terlihat di kejauhan. “Oh ya Jess, maaf untuk tanganmu tadi. sakit ya?” tanyanya kala teringat sewaktu di lift menggenggam tangan mungil Jessica kelewat erat.

“tidak masalah, Sooyoung. Sakitnya sudah hilang kok” Jessica memutar setir mobil ke kiri. Apartemennya tinggal beberapa meter lagi. Sooyoung melepas self-beltnya.

“ngomong-ngomong tadi aku benar-benar terlihat takut ya?”

“tidak juga sih” injakan kaki Jessica pada pedal gas mulai melonggar sampai akhirnya benar-benar berhenti tepat di depan gerbang apartemennya. “tadi Chanyeol datang padaku. Dia bilang kau mengidap Acrophobia dan meminta tolong padaku untuk memperhatikanmu saat di lift ataupun kereta gantung”

“Chanyeol melakukannya?” tanyanya sedikit tidak percaya. Pemuda yang baru dia kenal menaruh perhatian sebesar itu padanya.

Jessica mengangguk pelan. “dia melakukannya dan Sooyoung? Jangan salah mengartikan perhatiannya, ya?” mendengar itu, Sooyoung beralih pada Jessica. Pernyataannya barusan terdengar—mencurigakan.

“maksudmu?”

“Park Chanyeol memang seperti itu. Memperlakukan semua gadis sama tidak terkecuali kau, aku, Tiffany, Taeyeon atau siapapun. Tidak ada maksud lain selain bersikap baik pun sopan. Karena kau baru mengenalnya aku mau memastikan kau tidak salah paham atas sikapnya. Kau mengerti kan, Soo?”

—TBC—

40 thoughts on “TETRAGON [FIVE]

  1. Aigoo momentnya sooyeol romantic dan banyak bngt
    Makin cinta sama sooyoung and chanyeol🙂
    I like it ffnya dan yang paling aku suka bahasanya mudah dimengertidan dipahami🙂
    Ditunggu next chapnya🙂 FIGHTING

  2. thor lanjut thor!! seru bingit..
    itu yeol mau kemana??
    kesian! yeol keingat yul ya? kenapa sih mereka putus? /kepo/ haha gavava yg penting sooyeol/?
    itu item ternyata bisa mesra juga.. haha
    thor ane merasa kurang panjang masa? /maruk/
    haha yg penting lanjut ye thor! ane tungguin! mumpung libur haha :v FIGHTING!

    • maaf ini telat banget bales komennya ;-;
      siaaap! pasti dilanjut kok walaupun belum pasti kapan…..
      soal chanyeol dan yuri, bakal aku ceritain di chapter selanjutnya ya. kenapa mereka putus? di prolog udah aku jelasin kok, hayo belum baca ya? hehehehe
      kurang panjang? huaaah maaf! mudah2an chapter selanjutnya bisa aku buat lebih panjang
      thanks by the way! ^-^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s