A Song That Ticks Away Time – Songfic

song

A Song That Ticks Away Time || Written by Vi || Starring EXO-M Luhan | SNSD Tiffany | OC Xiao Lu as LuFany’s kid|| Rated for Teen || Sad , Drama, Romance || Disclaimer: I just borrow the cast || Note: songfic of Toki o Kizamu Uta (A Song That Ticks Away Time) – Clannad after story opening song. Sorry for bad fanfic and story. Luhan’s POV.

*****

Aku Luhan. Seorang penulis lagu. Aku memiliki kisah sedih di masa lalu dan saat dimana aku depresi karenanya. Kisah sedih itu mungkin bukanlah kisah yang sanggup membuatmu menangis, tetapi, hanya dengan membayangkannya aku bisa mengeluarkan air mata sekarang juga. Apa kalian pernah kehilangan seseorang yang sangat berharga ? Bukan, bukan seseorang tetapi 2 orang ! Pernahkah ? Kalau kalian pernah kehilangan pasti kalian tahu bagaimana rasanya, rasanya sangatlah sakit dan menyedihkan. Inilah yang kualami kala itu, itulah yang membuatku depresi hingga nyaris kehilangan semangatku untuk terus menulis lagu. Akan kuberitahu kisahnya , ini adalah kisah yang terjadi saat 2 tahun yang lalu pada musim dingin , musim dingin membuatku kembali teringat akan masa lalu itu..

I’m only looking at the spilling hourglass
When I turn it upside-down, look, it starts going again
I wonder if I’ll be able to someday enter
the advancing time that only ticked away

Midway on the slope that only you passed through
Many warm spots of sunshine appeared
Here by myself, I’m reminiscing
about the tender warmth

Kutatap jam alarm yang bergaya klasik di meja ruang tamuku. Waktu terus berjalan tanpa memberi kesempatan bagi diriku untuk mengubah masa laluku yang terkesan menyedihkan ketika 2 dari sekian banyak orang yang penting di hidupku meninggalkanku sendirian disini. Rumahku terasa sepi tanpa kehadiran mereka. Meski hari ini cuaca begitu cerah , bahkan aku membuka jendela rumahku lebar-lebar untuk membiarkan sinar matahari memasuki rumahku hingga membuat rumahku terkesan menyenangkan, aku masih tak bisa kabur dari perasaan sedih dan penuh penyesalanku. Aku ingin menyalahkan semuanya pada diriku meski banyak yang berkata itu bukan sepenuhnya kesalahanku.

Aku , yang sedari tadi memandangi jam pun mengalihkan tatapanku keluar jendela. Aku tersentak kaget, ada sebuah keluarga yang tampak menikmati hari mereka di bawah pohon rimbun di depan rumahku itu. Keluarga itu, mengingatkanku pada masa laluku, ketika mereka masih ada disini dan kami berada di bawah pohon rimbun itu. Kami, sekeluarga berjanji akan selalu bersama. Tapi, akhirnya ? Mereka meninggalkanku sendirian.

“Tiffany, Xiao Lu, mengapa kau meninggalkanku ?” batinku. Walau kutahu mau seberapa sering pun aku membatin seperti itu, jawaban itu takkan muncul.

It’s only you, it’s only you
who I loved
My eyes tear up in the wind
and you become distant

I’ll remember forever
Even if just about everything changes
It was just one, it was just one
ordinary thing
But in the brilliance I’ll show you, there’s only one thing that was fulfilled
I’ll protect it forever and ever

Aku memang tak seharusnya sebegini depresinya karena setidaknya aku masih memiliki banyak sahabat di hidupku. Mereka selalu membantuku, menghiburku, dan bersamaku. Bahkan , untuk menghiburku dari meninggalnya Tiffany dan Xiao Lu, mereka membawakan banyak perempuan lain untukku agar aku bisa melupakan keduanya, namun karena hanya ada 1 perempuan yang akan kucintai sebagai istriku walau ia sudah tak ada di sisiku, aku menolak semuanya karena perempuan itu, Tiffany Hwang. Andai saja , Tiffany tahu semua ini kulakukan karena aku mencintainya , aku yakin ia akan menangis terharu seperti biasanya saat aku membuktikan cintaku padanya. Aku akan terus mengingat Tiffany, karena dirinya lah yang selalu kucintai. Aku akan melindungi semua kenanganku dengan Tiffany seterusnya.

Kuingat masa lalu saat ia masih bersamaku, saat kami bertiga masih bahagia di rumah kecil yang hangat ini dengan senyuman yang selalu terpampang di wajah kami bertiga.

The chilly days continue, even though it’s already spring
On a morning when I woke up before the alarm clock
You’re standing there
making breakfast for three

It’s only you, it’s only you
who aren’t by my side
Up until yesterday, you were right by my side, looking at me

Flashback

Kala itu , musim semi akan segera datang, namun masih terasa sedikit dingin karena salju masih belum berhenti turun. Seperti biasa, kegiatan berlangsung pada pagi hari itu.

“Pagi !” sapaku sambil merenggangkan tubuhku yang terasa pegal. Aku bangun kepagian dan sesampainya di ruang makan aku disambut oleh senyuman manis dari istriku tercinta. Ia tengah menyiapkan masakannya yang tampak lezat, aku tahu bahwa semua orang menganggap makanan yang dibuatnya tidak lezat, hanya terlihat lezat diluarnya tetapi entah mengapa aku sangat menyukai masakan buatannya dibanding yang lainnya. Setelah kutatap dirinya yang tengah memegang sepiring telur mata sapi, kutatapi meja makan. Piring-piring sudah tertata rapi, 3 piring , 3 sendok, 3 garpu, dan 3 pisau, semuanya 3, cukup untuk anggota keluarga kita di rumah ini.

“Pagi, Luhan !” Lagi-lagi aku tertarik dengan senyumannya yang begitu indah. Rasanya ia memang selalu ceria, senyuman selalu tak lepas dari bibirnya.

Flashback end

Mengingat masa-masa itu , nyaris saja membuatku mengeluarkan air mata lagi. Sekarang ia sudah tak bersamaku, ia pergi jauh, padahal sampai kala itu ia masih bersamaku. Melihatku. Tersenyum padaku.

It’s only you, it’s only you
who I loved
It’s a song I sing
only with you, only with you
It’s our, it’s our
time passed together
I don’t want to
continue on my own

I’ll remember forever
Even if this town changes
No matter how much sorrow I’m to encounter
I’ll show you when I was truly strong
C’mon, let’s go; we’ll start walking on the sloped road

Sekali lagi ingin kutegaskan bahwa aku mencintai Tiffany Hwang. Sangat mencintainya. Mengingat saat-saat ketika ia masih disini dan kami terus bersama, rasanya bahagia sekali terlebih kala itu putra kami lahir ke dunia, itu sungguh-sungguh menambah kebahagiaan kami. Saat aku mengingatnya, rasanya tidak menyenangkan apabila aku melewati masa ini tanpa dirinya dan anak kami. Aku tak mau melanjutkannya sendirian.

Akupun berdiri dari dudukku dan berjalan ke dapur yang sudah lama tak terpakai itu, akhir-akhir ini aku terus makan bersama teman-temanku di rumah mereka maka aku tak pernah ke dapur ini sejak perginya mereka.

Kuambil gelas dari dalam lemari, kuisi dengan air putih dan kuteguk. Rasanya dengan gelas ini saja aku bisa mengingat betapa telatennya Tiffany membereskan dapur setiap hari dengan baik.

Setelah menghabiskan air di dalamnya, kuletakkan gelas tersebut kedalam tempat cuci piring. Saat aku meletakkannya, aku baru tersadar bahwa ada sebuah amplop di dalamnya.

Rasanya ini amplop yang pernah dimasukkan oleh Minseok ke tempat cuci piring saat ia berkunjung kemari. Ia bilang ini surat dari temannya di luar negeri, tetapi bagaimana caranya mengirim surat dari luar negeri kalau tak ada alamat yang tertera disini ? Ini jelas-jelas amplop putih polos, lagipula Minseok tak pernah meminta kembali surat ini kan ? Apa maksudnya sih ? Apa ia meninggalkan sampah di rumah orang dan menyuruhku membuangnya ?

Aku mengambilnya dan bersiap untuk membuangnya namun saat kulihat amplop itu terbuka, bahkan selotip yang digunakan untuk menutup amplop itu tak pernah dipakai. Ini jelas-jelas bukan surat formal.

“Apa sih isinya ?” batinku sambil mengambil surat itu dan membacanya. Saat melihat nama yang tertera disitu aku tersentak kaget.

Dear Luhan,

Maaf .. Aku rasa aku tak dapat menemanimu terus menerus, Luhan. Padahal aku sudah berjanji untuk terus bersamamu kan kala itu ? Kau pasti ingat apabila kau menyayangiku. Tapi, meski aku tak bisa bersamamu, aku harap kau tetap mencintaiku. Kalau kau terus mencintaiku dan aku terus mencintaimu , aku yakin aku terus bersamamu di dalam ingatanmu. Kalau kau melupakan segala kenanganmu tentangku itu artinya kau berusaha pergi dariku, tetapi jika aku tetap ada di hatimu itu artinya kita selalu bersama karena perasaan cinta kitalah yang membuat kita memiliki ikatan kekeluargaan seperti saat ini saat kita menikah dan memiliki anak. Kurasa aku tak bisa menulis lebih banyak lagi, yang jelas, aku hanya ingin kau terus mengingatku dan Xiao Lu agar ikatan kita tak terputus. Oh iya, terakhir, meski kau kehilangan diriku jangan pernah lupakan impianmu, kalau kau ingin aku bahagia, terus raih impianmu sebagai penulis lagu. Bye bye Luhan ^.^

Love Tiffany

Kalimat Tiffany itu membuatku terkejut, aku tak pernah membayangkan bahwa ini semua yang Tiffany inginkan. Aku nyaris saja menyerahkan impianku kalau saja surat ini tak segera kutemukan. Apa ini sebuah kebetulan ? Kalau Tiffany ingin diriku meraih impianku, maka itu akan kulakukan, aku takkan menyerah. Ia juga memintaku untuk mengingatnya .. Selalu. Ia memintaku mengingatnya selalu agar hubungan kami tak terputus ? Kalau itu yang ia inginkan , akan kutepati. Tak peduli seberapa sakitnya diriku saat mengingat kenangan masa lalu, akan kubuktikan bahwa aku suami dan ayah yang baik. Aku bisa bertahan kuat untuk menahan rasa sakitku ketika mengenang kenangan. Jika itu tidak membuatnya khawatir padaku dan itu dapat membuatnya bahagia, akan kuwujudkan keinginan terakhirnya. Setidaknya sebagai suami dan ayah yang baik akan kuwujudkan keinginan Tiffany dan Xiao Lu. Meski ini bukan surat yang Xiao Lu tulis tapi aku yakin Xiao Lu juga ingin aku berbahagia.

*****

Waktu terus berjalan namun kenangan takkan hilang begitu saja. Terlebih ini kenangan manis yang akan terus kukenang, kenangan mengenai 2 orang dari sekian banyak orang yang penting di hidupku. Meski saat-saat ketika mereka pergi sangat menyakiti hatiku tetapi sebagai suami dan ayah yang baik , kutegaskan untuk terakhir kalinya, aku akan mewujudkan keinginan mereka yang terakhir kalinya, karena aku jarang mewujudkan keinginan mereka dulunya. Aku harap mereka bahagia karena aku mau mewujudkan apa yang mereka inginkan.

END

Mian gaje, aku pengen buat before storynya biar alurnya lebih jelas tapi kapan2 kalo sempat ya ._. Mian jarang ada dialognya, ini kan cerita fanficnya dari Luhan POV. Intinya luhan itu awalnya masih sedih karena kehilangan Tiffany dan anaknya dulu. Luhan masih depresi karena itu
terus temen2nya itu sebenarnya sering ngehibur dia tapi dia masih gak semangat , dia makin depresi tiap harinya dan terus inget Tiffany dan anaknya. Awalnya dia juga mau lupain impiannya sebagai penulis lagu saking depresinya tapi gak jadi karena dia baca surat tiffany yang baru ditemuinnya. Intinya gitu dah😦 pls komen ya !

12 thoughts on “A Song That Ticks Away Time – Songfic

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s