Garden Tea

Garden Tea

garden-tea2

[Dia mulai menyesal menolak tawaran Baekhyun tadi]

[Length: Ficlet – Rating: G – Cast: Junmyuen- Genre: Horor]

[Author:  Genie]

A/N: it’s Friday the 13th. Lemme tell you about a based true story. It  happened a month ago to my college’s senior. Di vila makrab yang terpencil di kelilingin kebun teh. Belum lagi jalannya yang hancur. So yeah, it’s really creepy when night come – Genie.

***

Pukul 6 sore Kim Junmyuen akhirnya menyelesaikan pemotretan hari ini yang di adakan dalam sebuah studio. Para staff lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing, suara-suara berkata “terimakasih, kalian bekerja keras hari ini’ sejenak memenuhi ruangan. Dia asik duduk didepan layar komputer melihat satu persatu hasil karyanya sampai sang asisten Byun Baekhyun datang.

 

Hyung, ada pesan dari Taeyeon noona

 

“sudah lama?” tanyanya seraya mengambil ponsel dari genggaman Baekhyun.

 

“sejam yang lalu. Berisikan alamat sebuah villa di dekat kebun teh. Kau mau kesana, hyung?”  Junmyuen mengangguk sedikit sebagai jawaban. Bola matanya bergulir membaca pesan Taeyeon.

 

“sendiri? mau aku temani tidak?”

 

“tidak usah, Baekhyun. kau istirahat saja besok siang kita ada jadwal pemotretan lagi kan?” kali ini giliran Baekhyun yang mengangguk sebagai jawaban.

 

“kalau begitu aku pulang besok pagi. Kita bertemu di lokasi, oke? Sampai ketemu besok Baekhyun” tandasnya bangkit dari duduk, mengalungkan tas kamera di sisi kanan sementara ransel besar berwarna biru tua menggantung di punggung. Kemudian merajut langkah keluar studio.

***

Junmyuen mencintai fotografi seperti dia mencintai Byul, anak anjingnya. Dia sudah bergelut di dunia fotografi semenjak SMA. Sewaktu kuliah dia bergabung di klub fotografi. Tidak tanggung-tanggung Junmyuen sempat memegang jabatan sebagai ketua. Kepribadiannya yang tidak pernah memilih dalam bersosialisasi membuat dia di sukai banyak orang.

 

Tidak heran meskipun sudah hampir tiga tahun resmi menjadi sarjana broadcasting Junmyuen masih saja di undang klub fotografi kampusnya dulu untuk datang pada saat acara malam keakraban. Entah datang hanya sebagai penonton atau sebagai senior yang berbagi ilmu pengalaman kepada junior. Malam keakraban ini diadakan setahun sekali, maka tidak perduli dimanapun tempatnya dia akan mengusahakan untuk selalu datang.

 

Bintang-bintang sudah mulai memenuhi langit malam kota Seoul waktu dia berada di luar. Dia baru naik ke atas motor besarnya dan hendak mengenakan helm ketika ponsel di saku jaket jeansnya terasa bergetar.

 

From: Taeyeon Kim

Oppa sudah jalan? Beritahu aku kalau sudah dekat ya, jalanan di sini sangat jelek, malan sangat gelap, tidak ada lampu. Jadi beritahu aku, oke? Aku akan menjemputmu dan hati-hati di jalan.

Di masukkannya lagi ponsel ke dalam saku tanpa membalas, memasang helm lalu menghidupkan mesin motor sehinga perlahan motor besar nan gagah berwarna merah darah itu mulai bergerak, membelah jalanan.

***

Satu jam berlalu..

 

Jalanan mulus beraspal berubah menjadi bebatuan besar, tidak rata pun licin. Gemerlap lampu di sepanjang jalan pelan-pelang menghilang, di gantikan pekat malam, suara hiruk pikuk telah lama berubah senyap, yang terdengar hanyalah bunyi mesin motor. Sisi kanan kiri yang tadinya penuh bangunan mewah sekarang berubah menjadi  lautan kebun teh. Junmyuen mulai memperlambat laju motor, membuka kaca helm agar bisa melihat lebih jelas di kegelapan malam.

 

Jalanan ini seakan tak berujung. Dia mulai menyesal menolak tawaran Baekhyun tadi.

 

Hingga tiba-tiba di sisi kiri berapa meter di depan irisnya mendapati seorang gadis bergaun putih berdiri di antara daun teh. Membuat bagian pinggang kebawahnya tak tampak. Tanpa ragu Junmyuen menghentikan motor di depan sang gadis.

 

Dia berbicara dari balik helm. “maaf nona, apa kau tahu vila dekat sini?” yang di ajak bicara menatap Junmyeun tanpa emosi. Rambut hitam panjangnya terurai membungkus wajah yang bila seandainya Junmyuen lebih perhatikan berwarna pucat. Seolah tidak di aliri darah.

 

“di sana” suaranya seperti bisikan. Junmyuen menoleh ke arah yang sang gadis tunjuk. Terlihat cahaya dan atap bangunan. Oh kenapa dia tidak melihatnya tadi?

 

“baiklah terimakasih nona” katanya seraya mulai menjalankan mesin motor lagi. Namun belum lama dia berhenti lagi, memikirkan mungkin dia bisa memberi sang gadis tumpangan sebagai tanda terimakasih. Jadi dia menoleh kebelakang.

 

“Hei, no—“ kalimatnya terputus. Gadis bergaun putih tadi sudah tidak ada. Padahal jarak mereka belumlah terlalu jauh. Dan tiba-tiba rasa takut mulai menyerang, Junmyuen memutar gas kelewat kencang, motornya berguncang hebat akibat jalanan yang berbatu.  Tapi dia tidak perduli. Dia cuma mau segera tiba di vila. Di tengah kepanikan itu mesin motornya malah mendadak mati. Membuat Junmyuen benar-benar berada dalam kegelapan.

 

Cepat-cepat dia turun dari motor, mendorong motor sambil setengah berlari. Jantungnya berdetak semakin tak karuan, keringat dingin merambat turun. Bernafas menjadi hal yang sulit di lakukan. Beberapa kali dia tersandung batu. Tapi sekali lagi dia tidak perduli, dia terus berlari sampa mencapai pintu vila. Langkahnya mulai melambat.

 

“Junmyuen oppa! Hei, kan sudah kubilang hubungi aku kalau sudah dekat. Kenapa masih nekat datang sendiri?” tau-tau Taeyeon muncul. Mengabaikan pertanyaan Taeyeon, Junmyuen menyandarkan motornya di tempat yang tersedia. Baik kedua kaki maupun tangannya masih bergetar hebat. Namun setidaknya sekarang dia bisa lebih tenang.

 

Dia tidak sendirian lagi. Ada banyak orang. “Oppa? Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat” Taeyeon bersuara lagi. Dia sudah membuka mulut siap menceritakan apa yang baru saja terjadi tetapi dia urungkan. Tidak mau membuat Taeyeon atau yang lainnya menjadi takut. “tidak apa-apa Taeyeon. Hanya sedikit lelah sehabis pemotretan tadi”

 

“syukurlah. Ayo masuk Kris dan Chanyeol oppa sudah ada di dalam” Taeyeon membimbingnya ke pintu utama vila bertingkat tiga itu. Di halaman tampak api unggun menyala besar, mahasiswa sibuk memotret di sana sini.

 

oppa, kau tidak melihat apa-apa kan di kebun teh tadi?” pertanyaan Taeyeon kali ini membuat jantunngnya berdegup satu kali lebih kencang.

 

“maksudmu?”

 

well, kata pemilik vila setiap malam orang yang lewat di sana selalu melihat sosok hantu gadis bergaun putih berdiri di pinggir kebun teh. Karena itu aku mau menjemputmu tadi. Tapi kau tidak lihat apa-apa kan, oppa?”

—END—

20 thoughts on “Garden Tea

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s