He’s My Guardian [Part 4]

 hesmyguardian-priskilla

He’s My Guardian [Part 4 :: The Game Has Started]

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Tiffany Hwang [GG] – Kim Joonmyun [EXO K] | Other casts will appear soon

Chapter 4 Of ??? | Teen | Romance – Comedy – Angst – Drama

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation.

Poster:

springeous @posterdesigner (Thanks for amazing poster, dear :* )

 

Perlahan tangan Suho mulai mengepal. Tak terima dengan tindakan kejam yang telah dilakukan orang tak dikenal. Merasakan amarah yang begitu besar pada orang yang telah membuat Tiffany menangis seperti ini.

 

Dia takkan tinggal diam. Permainan…

 

 

telah dimulai

 

 

Suasana di rumah kediaman keluarga Hwang pada malam itu tampak kacau. Sirine dari mobil polisi dan mobil ambulance saling berbunyi beriringan – membuat kebisingan yang sangat mengganggu. Tak sedikit orang yang berlalu lalang memasuki ataupun keluar dari rumah yang megah itu. Namun sekarang, rumah itu tak membawa kesan megah lagi, melainkan mengenaskan.

 

Pimpinan besar dari perusahaan Hwang Corp yang sangat terkenal itu ditemukan tewas dengan mengenaskan beserta sang istri. Kedua pasangan suami istri itu tewas karena ditembak oleh orang yang tak dikenal – namun dapat dipastikan ini semua disebabkan karena ‘perang bisnis’ yang lagi gencar – gencarnya terjadi di ibukota Korea Selatan itu.

 

Anak semata wayang mereka – Tiffany Hwang luput dari penembakan itu. Membuat dalang dari semua peristiwa ini harus menggigit jari karena rencananya yang meleset. Untuk mengambil alih kuasa dari perusahaan Hwang Corp, tentunya dia harus memusnahkan semua keluarga dari pemilik perusahaan, termasuk Tiffany.  Tapi sialnya, Tiffany tak berada di tempat saat itu. Gadis itu ternyata sedang bersama bodyguardnya – berjalan – jalan setelah pulang dari kampus.

 

Big hell for master mind, big fortune for Tiffany Hwang. She’s safe from that rotten plan.

 

“Tiff—“

 

Suho berjalan menghampiri Tiffany yang terduduk di dalam mobilnya. Gadis itu tampak drepesi. Setelah mendapati kedua orang tuanya yang tewas tergeletak di lantai, dia harus menghadapi kenyataan kalau ternyata semua pembantu di rumahnya – termasuk satpam rumahnya itu – tewas dengan cara yang sama di rumah itu.

 

Don’t comfort me, now, Suho” Tiffany berbisik lirih. Bahkan dia tidak menoleh pada bodyguardnya itu, dia hanya terduduk sambil menatap dashboard mobil dengan kosong.

 

Suho terdiam sejenak, lalu kemudian menghela nafasnya dengan berat. Tiffany sedari tadi hanya berdiam seperti itu saja. Gadis itu tak ingin diganggu oleh siapapun. Siapapun termasuk dirinya, ataupun Taeyeon dan Yuri. Gadis itu terlalu terbeban dengan pikirannya. Dia tampak menyedihkan sekarang.

 

“Aku tau ini sangat berat bagimu, Tiff–” bisik Suho dengan pelan.

 

“—Tapi inilah kenyataannya”

 

Tangis Tiffany pecah tepat setelah Suho menyelesaikan kalimatnya. Rambutnya yang panjang terjuntai menutupi wajahnya yang basah karena air mata. Isak demi isakkan keluar dari bibir yang dulunya senantiasa menyebar senyuman itu. Tangis itu hanyalah sebagian kecil dari luapan beban yang ditanggungnya.

 

“I—ini keterlaluan untukku, Ho. Terlalu berat. Aku tak bisa..”

 

Bibir Suho melengkung ke atas dengan pahit. Tak tahan hatinya melihat Tiffany yang terus saja menangis dengan hebatnya. Ingin rasanya dia membuka pintu mobil dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Menghiburnya dengan kata – kata lembut seperti biasa. Tapi semua itu rasanya mustahil. Benar kata Tiffany, semuanya sudah keterlaluan.

 

Tanpa sadar, tangan Suho kembali terkepal. Lelaki itu berusaha meredam amarah yang kembali bergejolak di hatinya. Siapapun orang yang melakukan hal ini, apalagi merupakan otak dari semua kejadian mengerikan ini, akan berhadapan dengannya. Tak akan seorang pun menyakiti Tiffany, jika belum melangkahi mayatnya.

 

Semuanya… akan dipertaruhkan Suho hanya demi keselamatan gadis kesayangannya itu.

 

Semuanya…

 

“Bagaimana keadaannya?”

 

Suho hanya tersenyum ketika melihat sosok tinggi Yuri berdiri tak jauh darinya. Gadis itu dengan Taeyeon baru saja mengurus semuanya dengan polisi. Sungguh Tiffany sangat beruntung. Gadis itu memiliki sahabat – sahabat yang sangat baik. Mereka berdua bela – belaan datang hingga selarut ini hanya untuk mengurusi keadaan yang kacau balau, karena memang tak mungkin hanya Suho yang mengurus semuanya sendiri. Apalagi dengan fakta bahwa kedua orang tua Tiffany tidak memiliki kerabat ataupun keluarga di Seoul. Semuanya akan menjadi rumit jika tak ada campur tangan kedua sahabat Tiffany itu.

 

“Aku yakin semua itu sangat berat baginya,” Yuri tersenyum lirih. Tubuh tingginya melangkah mendekati Suho yang berada di sisi mobil tempat Tiffany berada. Dirinya menatap tubuh sang sahabat yang tertidur di kursi mobil dengan pandangan iba. Tak menyangka semuanya terjadi seinstan ini. “Tiffany pasti sangat terpukul” lanjutnya kemudian menoleh pada Suho.

 

Lelaki itu hanya menatap ke dalam mobil. Menatap Tiffany yang tertidur. Khawatir yang dirasakannya. Tiffany tertidur, namun dia tau benar kalau gadis itu tidak tertidur dengan pulas. Dia gelisah — tampak jelas dari keringat dingin yang mengucur deras di wajahnya.

 

“Tiffany…” Yuri mengulurkan tangannya ke dalam mobil, lalu mengelus pelan wajah gadis itu yang berkeringat. “Be strong, girl” bisiknya dengan tulus.

 

Sesaat, mereka tak melakukan apapun. Hanya sibuk berkutat pada pikiran mereka masing –  masing. Hingga akhirnya Yuri membuka pembicaraan, “Oh, kalau begitu, aku pamit dulu ya. Taeyeon ada sedang berbincang dengan kepala polisi disana. Kalau butuh apa – apa, telpon aku, oke?”

 

Suho mengangguk, “Oke. Terima kasih atas bantuannya ya, Yuri” senyum lelaki itu kemudian nampak, membuat Yuri sedikit salah tingkah. Oh astaga, tampaknya gadis itu masih juga tertarik pada bodyguard sahabatnya itu.

 

“Oh. Aku pamit ya. Bye” Kemudian sosoknya pergi meninggalkan Suho yang masih saja setia menunggui Nonanya itu tidur.

 

Beberapa saat, hanyalah hening yang tercipta. Suho masih saja betah untuk menatap Tiffany yang tertidur. Rasanya seperti dunia miliknya itu adalah saat Tiffany ada di sisinya. Matanya tak berkedip menatap setiap senti wajah Tiffany yang manis. Walaupun jelas adanya bahwa gadis itu tak tenang, tapi fakta tak dapat menyangkal bahwa Tiffany adalah gadis yang paling sempurna yang pernah ditemuinya.

 

“Eunghhh—“

 

Sosok Tiffany bergerak. Gadis itu bergelut dalam mimpinya. Tampak terganggu oleh sesuatu. Spontan saja Suho mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan gadis itu – “Aku disini, Tiffany. Aku disini…” bisik lelaki itu dengan tulus.

 

“Eunnggh… Eomma, Appa…” Gadis itu bergumam dengan miris. Keringat dingin kembali membasahi wajah manisnya.

 

“Tiffany…”

 

Eomma, AppaDon’t leave me alone. Please, eunggh—“ Tiffany mengigau. Jelas sekali terbukti bahwa gadis itu sedang bermimpi tentang sosok kedua orang tuanya yang kini telah tiada itu. Suho terdiam sembari tetap menggenggam tangan Tiffany.

 

I need you, Eomma, Appa…” Air mata Tiffany mengalir dari sudut matanya. “Don’t leave me…” bisiknya lagi. “I need your love and affection..”

 

Tangan Suho yang bebas kembali mengepal dengan kerasnya. Namun justru wajahnya tersirat ketulusan juga iba. Lelaki itu mendekat dan membuka pintu mobil. Sekonyong – konyong dia langsung menarik pelan tubuh Tiffany dan memeluknya penuh kasih,

 

I’m here for you, Tiff.”

 

­—

Tiffany membuka matanya perlahan ketika menyadari mesin mobil telah dimatikan. Gadis itu menoleh pelan ke arah Suho yang berada di sebelah kirinya dengan pandangan bertanya. “Kenapa kita disini?”

 

Bodyguardnya itu justru tak menjawab, melainkan tersenyum. Lelaki itu malah membuka pintu mobil dan keluar dari mobil – meninggalkan Tiffany. Beberapa detik, bagasi Audi R8 berwarna silver itu dibuka olehnya dan kemudian dia mengeluarkan koper – koper yang penuh dengan barang – barang milik Tiffany.

 

Gadis itu mengernyit bingung, tetapi dia juga segera keluar dari mobil dan menghampiri Suho yang masih saja sibuk mengeluarkan koper besar milik Tiffany itu.

 

“Mengapa kau membawaku kesini?” Tiffany mengulang pertanyaannya yang tidak terjawab oleh Suho tadi.

 

Suho tetap saja tak menjawab. Lelaki itu lebih memilih mengeluarkan barang – barang dari bagasi terlebih dahulu, lalu menutup bagasi mobil itu dengan satu hentakan keras.

 

“Kenapa kau bertanya padaku? Harusnya kau tau kalau ini rumah milik sahabatmu, ‘kan?” Suho malah balik bertanya.

 

Tiffany mencibir namun jujur saja, gadis itu masih bingung dengan sikap Suho yang aneh – menurutnya – pada pagi ini. “Yah, aku tau. Tapi kan—“ Perkataannya berhenti seiring dengan langkah Suho yang mulai memasuki pekarangan rumah besar itu dengan koper – koper besar yang dituntunnya. Lagi – lagi, dia meninggalkan Tiffany dalam kebingungan yang luar biasa.

 

“Ish, ada apa sih dengan dia?” Tiffany menggerutu sebal. “YAA! KIM JOONMYEON! TUNGGU AKUU!!” teriaknya sebelum berlari mengejar bodyguardnya yang sudah melangkah masuk tanpa dirinya itu.

 

Gadis berambut hitam panjang itu hanya menggerakkan kakinya sembari menunggu bodyguard gantengnya yang belum juga kembali. Semilir angin yang menggelitik membuat surai hitam itu terkibas dengan anggunnya.

 

“Nona Tiffany…”

 

Ah, suara itu. Tiffany menolehkan kepalanya ke belakang dengan cepat. Spontan senyum terlukis di bibir pinknya yang terlihat begitu manis. “Oh, kau kembali. Sudah bertemu dengan Taeyeon?” tanyanya dengan nada tenang ketika sosok Suho sudah beringsut duduk di sampingnya.

 

Suho mengangguk pelan, “Taeyeon-ssi sudah memberikan kunci villanya padaku. Katanya di dalam banyak es krim kesukaanmu. Jadi, be happy, My my Tiffany!” Tiffany terkikik ketika Suho meniru cara bicara Taeyeon yang imut. Astaga, lelaki itu malah terlihat menggelikan dan sangat menggemaskan sekarang.

 

“Suho, kau tidak cocok berbicara dengan nada seperti itu!” komentar Tiffany dengan nada menggurui, lalu kemudian tertawa dengan keras.

 

“Ah, jinjja?” Suho malah semakin mencoba gaya – gaya imut lain. Seberusaha mungkin dia mencoba agar Tiffany tertawa. Dia lebih senang melihat tawa itu dibanding kesedihan yang menguasai Tiffany tadi malam. Andaikan saja tawa itu yang selalu dilihatnya, bukan…
“Suho! Sudah kubilang kau tidak cocok beraegyo seperti itu! Aduh, menggelikan sekali!” Tawa Tiffany meledak. Sampai – sampai gadis itu harus memegangi perutnya yang sakit mendadak. “Aduh—aduh… perutku, hahaha”

 

“Nona, kenapa kau tertawa seperti itu? Aku kan memang imut~” gerutu Suho dengan suara yang dibuat – buat imut.

 

“Hahaha! Aduh, perutku~”

 

“iih~ Tiffany kok gitu sih?”

 

“Udah! Aduh, udah, Suho. Hahaha!”

 

“Nona Tiffany~~” Suho semakin gencar membuat gadis di sebelahnya tertawa. Bahkan sesekali dia memberikan kedipan mata yang imut khas seorang perempuan.”Nona~”

 

“Haha, haha… Kyaaa!! Suho—jangan—“ Tiffany memekik ketika secara tiba – tiba Suho menggelitikinya. Lelaki itu dengan semangatnya menggelitik pinggangnya.

 

“Suho! Udah— Hahaha… Aduh, udah”

 

“Rasakan~ Haha!”

 

Hari itu tampak indah. Sangat indah. Matahari yang tampak bersahabat, semilir angin yang menyejukkan, musim yang bersemi. Tiffany Hwang sungguh sangat beruntung. Dia memiliki segalanya, apalagi dengan kehadiran Kim Joonmyun yang selalu berada untuknya. Semuanya indah, dan pasti akan menjadi memori yang pantas dikenang.

 

Jika saja dirinya tak kembali melihat ke belakang.

 

Gadis itu yang semulanya sedang tertawa riang dan bercanda bersama bodyguardnya itu, kembali pada keadaan dirinya di malam sebelumnya. Tiffany mendadak saja berhenti tertawa dan menghentikan kegiatan bermain – mainnya bersama Suho. Yang tentu saja membuat lelaki berambut hitam legam itu mengerutkan dahi tak mengerti.

 

Raut wajah Tiffany pun berubah secara drastis. Gadis itu mendadak tampak depresi dan merasa bersalah – persis seperti dirinya semalam. Tak akan ada yang menyangka dirinya baru saja selesai tertawa dan bercanda dengan rautnya yang seperti ini.

 

“Tiff—“

 

“—Seharusnya aku tak seperti ini, Ho. Aku berdosa” lirih Tiffany yang membuat Suho semakin bingung. Lelaki itu menatap wajah Tiffany yang tertunduk dengan perasaan tak mengerti.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Tak pantas aku tertawa seperti tadi. Orang tuaku baru saja meninggal, dan aku tertawa? Haha, aku memang anak durhaka. Aku memang pantas dihukum oleh Tuhan.” Suho tersenyum kecut melihat kefrustasian yang terdapat di wajah majikannya itu. Tiffany tak bersalah, dan seharusnya gadis itu tak memaki dirinya sendiri seperti itu. Sudah sepantasnya dia mengganti tangisnya dengan tawa, dan itu tak salah.

 

Tiffany kembali terisak seiring teringat akan orang tuanya semalam. Gadis itu menunduk dalam tangisnya – membuat perasan Suho semakin campur aduk. Lelaki itu tentu saja tak ingin melihat Tiffany menangis, tapi dia sendiri pun tak tau bagaimana caranya untuk membuat gadis itu berhenti menangis.

 

“A—aku rindu orang tuaku, Ho.. Aku rindu pada mereka” bisik Tiffany di sela tangisnya.

 

“Aku tak pernah merasa kehilangan mereka sebesar ini. Aku anak manja, dan selalu bergantung pada orang tua. Bagaimana aku hidup setelah mereka tiada? Aku hancur. Tanpa mereka, sama saja hidupku seperti angin yang melayang – layang saja. Tak ada tujuan, tak ada harapan. Semuanya sirna tanpa mereka—“

 

“—Kau masih mempunyaiku, Tiff”

 

Gadis itu mendongak pelan ketika Suho memotong kalimatnya. Mata mereka bertemu seiring senyum tulus yang terlukis di wajah lelaki berparas tampan itu. Iris hitam Tiffany memandang dalam Suho. Gadis itu berusaha mencari keyakinan di mata itu.

 

“Aku masih disini untukmu, dan aku takkan pernah meninggalkanmu” Suho melanjutkan kata – katanya. Kata – kata yang memberi secercah harapan bagi Tiffany.

 

Sebenarnya, hanya sedikit harapan.

 

Tiffany tertawa mendesis, “Tinggalkan aku jika kau mau…”

 

Suho mengernyit. Gadis itu tak percaya padanya? Gadis itu sedang berusaha untuk mengusirnya?

 

“Kau menjadi bodyguardku karena dibayar oleh Appa, ‘kan? Kini Appa sudah tiada, takkan ada yang dapat membayarmu lagi sebagai bodyguardku, Kim Joonmyun. Tanpa kedua orang tuaku, aku sudah tak punya apa – apa lagi. Tak ada sedikitpun pengalamanku di bidang bisnis, dan sudah pasti harta orang tuaku akan jatuh ke tangan yang lain. Aku sudah bukan apa – apa lagi, jadi jika kau mau, dengan tanpa beban, kau dapat pergi—“

 

“—Jangan berkata seperti itu!”

 

Tiffany terperangah ketika secara mendadak Suho berdiri dan memandangnya geram. Lelaki itu tak suka dengan kata – katanya, tentu saja. Dia sudah sangat menyayangi keberadaan Tiffany di sisinya, dan sekarang gadis itu memintanya pergi?! Itu mustahil!

 

Suho menggertakkan bibirnya geram, “Tiffany, aku disini, bukan karena keadaanku sebagai penjagamu. Aku disini karena kemauanku! Aku disini untukmu, karena aku ingin bersamamu! Apa kau tak mengerti, huh?!”

 

Tiffany terdiam, tak menjawab.

 

“Berwaktu – waktu kuhabiskan hanya denganmu, dan sekarang kau menyuruhku pergi begitu saja?! Apa kau gila?! Aku sudah terbiasa denganmu, dan bagaimana jika tiba – tiba kau hilang daripadaku, aku bisa gila, kau tau itu?!!”

 

“Aku hanya tak ingin menjadi beban bagimu, Suho…” Tiffany melirih setelahnya. Gadis bersurai hitam panjang itu menunduk kembali, “Keadaanku sekarang hanya akan menjadi beban bagimu. Dan aku tak mau,.. kau susah karenaku nantinya. Aku tak bermaksud mengusirmu, tapi—“

 

“—Aku takkan pernah meninggalkanmu, Tiff. Selamanya”

 

Suho segera menarik Tiffany ke dalam pelukannya, membuat tangis gadis itu kembali pecah di dalam pelukan penuh kasih itu.

 

Lelaki itu akan selalu berada di sisinya, itu katanya. Keberuntungan besar bagi gadis itu. Hanya saja, tentu saja dirinya khawatir. Tiffany Hwang masih menyimpan beban terdalam di lubuk hatinya.

 

Dia khawatir, sangat khawatir.

 

Dia tidak tau bagaimana dia harus hidup ke depannya. Takkan ada keberanian bagi dirinya untuk kembali ke rumahnya dulu, dan sekarang, tak mungkin selamanya dia menumpang tinggal di villa Taeyeon. Walaupun gadis itu sahabatnya, tapi tentu saja tak enak hati akan terasa.

 

“Aku selalu akan ada untukmu, Tiff… Tenang saja”

 

Bisikan Suho menggelitik telinganya. Gadis itu mengangguk pelan dan semakin mempererat pelukannya. Mungkin saja dia khawatir akan hidupnya besok dan seterusnya, tapi untuk saat ini, dia tenang. Suho masih ada untuknya, dan lelaki itu berjanji untuk tak meninggalkannya.

 

Tiffany percaya janji itu.

 

Your life is my life, too. I will always beside you, beloved.

 

“APA?! JADI APA KERJAANNYA MEREKA SELAMA INI, HAH?!”

 

Suara berat milik seorang lelaki bergema di ruangan besar itu. Suara itu milik seorang lelaki di balik kursi besar yang sangat mewah berwarna merah maroon itu.

“Sialan! Kalau anak bodoh itu tidak mati, masih akan ada kesempatan baginya untuk merebut harta orang tuanya, bodoh!” Lelaki itu memaki seseorang di sambungan teleponnya. Giginya bergemeletuk seiring dengan tangannya yang mengepal keras. Amarahnya mengalir hingga ke ubun – ubun, membuatnya terlihat begitu menyeramkan.

 

“Mereka memang tidak berguna! Bunuh mereka!” Sesudahnya, ponsel hitam berlayar sentuh itu dibanting dengan keras ke lantai. Lelaki itu berbalik dengan kursinya, lalu memijat pelan tangannya dengan emosi. Sesungguhnya, lelaki itu sungguhlah tak berpenampilan buruk. Dia terlihat sangat berkarisma dengan tuxedo hitam yang pasti harganya selangit itu. Rambut dan kumisnya ditata serapi mungkin, membuatnya terlihat begitu berwibawa.

 

Tapi tidak dengan perasaannya.

 

Lelaki itu bagaikan hewan liar yang siap memangsa siapa saja. Pembawaannya memang sangat berwibawa, tapi tidak dengan hatinya. Dia sangat jahat juga kejam.

 

Tentu saja, takkan ada orang yang tak kejam jika dia sudah merancang pembunuhan terhadap sebuah keluarga kaya raya di ibukota Korea Selatan itu. Lelaki itu otaknya, dia perancang semua kekacauan yang dialami Tiffany Hwang.

 

Perlahan, lelaki itu menyeringai licik. Matanya tertuju lurus pada tiga lembar foto yang tergeletak di atas meja di depannya. Tangannya bergerak mengambil spidol merah di laci, kemudian mencoret dua dari tiga foto di sana.

 

Menyisakan satu foto yang bersih tanpa coretan. Foto seorang gadis yang menjadi tokoh utama kita pada cerita ini. Tiffany Hwang.

 

“Sampai sekarang, bersyukurlah kau karena masih dapat hidup. Tapi jangan harap hidupmu akan tenang – tenang saja, Miss Hwang”

 

Sesudahnya, lelaki itu tertawa. Tawa yang sangat menyeramkan. Tawa yang bisa membuat siapa saja bergidik ketakutan.

 

Gadis berambut cokelat gelap itu melangkahkan kakinya dengan tak sabaran di sepanjang koridor itu. Sesekali dia melihat jam tangan yang melingkar di lengan mungilnya. Gadis itu menggigit bibir sesaat setelah langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kayu yang besar.

 

Perlahan, tangan kecilnya bergerak naik, kemudian mengetuk pintu kayu itu dengan cukup keras.

 

TOK TOK TOK!!!

 

“Buka pintunya! Aku mau masuk!” serunya tak sabaran.

 

Tidak menunggu lama, pintu kayu itu berderit pelan. Terbuka dengan sosok seorang perempuan berkonde yang tersenyum pada gadis mungil itu, “Selamat siang, Nona Kim”

 

Gadis yang dipanggil Nona Kim itu mendelik pada perempuan berkonde dengan ekor matanya, “Mana dia? Aku mau bertemu dengannya!”

 

Perempuan berkonde itu tersenyum kecil, “Nona sudah membuat janji dengan Tuan Besar?”

 

Gadis berambut cokelat membulatkan matanya tak percaya. Hey! Yang benar saja?! “Kau gila?! Untuk bertemu dengan dia saja aku harus membuat janji?! Tidak usah! Biarkan aku masuk sekarang  juga!” perintah gadis itu emosi.

 

“Tapi Tuan Besar bilang siapapun yang hendak bertemu dengannya harus membuat janji dulu, Nona”

 

Gadis itu mendecak emosi, “Aku tak peduli! Sekarang, biarkan aku bertemu dengan lelaki stress itu!” seru gadis itu mendesak.

 

Perempuan berkonde itu tersenyum sopan. “Tapi bagaimana kalau Tuan Besar marah, Nona?”

 

“Aku yang bertanggung jawab!”

 

“Baiklah,” Perempuan berkonde itu melangkah maju di depan gadis yang dipanggilnya Nona Kim itu. Beberapa saat, dia tampak menekan sebuah password pada pintu lain di dalam ruangan besar itu. Tangannya sudah tampak terbiasa dan hafal akan password pintu itu. “Silahkan masuk, Nona…” ujar perempuan berkonde itu ketika terdengar bunyi klik dari mesin password itu.

 

Gadis muda itu mendengus, namun tetap saja dia menurut melangkah mengikuti perempuan berkonde itu masuk.

 

“Selamat siang Tuan Besar, maaf mengganggu, tapi Nona Kim memaksa saya untuk—“

 

“Keluar sana! Tak usah berbasa – basi!”

 

Gadis berambut cokelat itu tampak sangat tidak suka dengan kehadiran perempuan berkonde itu. Tangannya bersedekap di depan dada dan menatap perempuan berkonde dengan menantang. Sok sopan, pikirnya.

 

Perempuan berkonde hanya tersenyum menanggapi, “Kalau begitu, saya permisi” kemudian melangkah keluar.

 

Gadis itu mendengus setelahnya. Kemudian matanya menjurus lurus pada tempat orang yang dicarinya berada. Kursi besar itu sedang berbalik membelakanginya, dan dia yakin seratus persen, lelaki itu mendengarkannya sedari tadi.
“Aku ada urusan denganmu!” desis gadis itu sembari melangkah maju. “Apa kau tak puas dengan apa yang ada padamu, hah?! Kenapa masih juga kau hancurkan hidup sahabatku?!! Dasar egois!” makinya.

 

Perlahan, kursi itu berputar 180 derajat. Menampakkan sosok lelaki yang membawa pencitraan menyeramkan.

 

“Kau masih tidak sopan padaku juga, hm? Aku ini ayahmu, Nona” bisik lelaki itu lalu tersenyum miring.

 

“Cih! Ogah, aku tidak pernah punya ayah yang seorang pembunuh dan egois sepertimu! Lagipula, kau hanya ayah tiri yang tidak tau diri. Tidak pantas kau menjadi ayahku dan tidak berhak kau mengaturku, tau!”

 

Lelaki itu tertawa meledek, setelah itu sosoknya berdiri dari kursinya. Berjalan memutari meja besar di hadapannya dan tiba di depan gadis itu. Tepat di depan gadis itu.

 

“Aku ini sudah menikah dengan ibumu, jadi kau harus—“

 

“Tidak usah sok mengaturiku, bodoh! Aku kesini hanya karena ingin membuat perhitungan dengamu!” Salah satu alis lelaki itu naik dengan menantang, namun tak digubris oleh gadis itu. Dia tetap melanjutkan, “Kenapa masih saja kau berniat menghancurkan keluarga Tiffany, heh?! Brengsek! Aku masih bisa saja memalingkan wajah jika itu yang lain, walaupun sebenarnya aku muak dengan sikap diktatormu itu! Masih bagus kau tidak kulaporkan ke polisi! Tapi kenapa harus keluarga Hwang yang kau hancurkan sekarang?!! Aku tidak sanggup melihat Tiffany yang hancur karena kehilangan orang tuanya! Bangsat kau!” Gadis itu menghentikan ucapannya dengan nada ngos – ngosan.

 

“Sudah marah – marahnya?”

 

Gadis itu terperangah. Masih bisa lelaki itu memandangnya dengan tatapan licik? “A—apa—“

 

“Kau tidak sadar akan dirimu sendiri, ya? Kau sama brengseknya denganku, tau?”

 

“Ma—maksudmu?”

 

“Kau tau siapa penyebab hancurnya keluarga sahabatmu, tapi kau berakting seakan kau tidak tau apa – apa dan iba padanya. Mengurusi kasus keluarganya, padahal kau tau jelas siapa dalangnya. Kau juga orang yang brengsek, Kim Taeyeon.”

 

Kim Taeyeon semakin terperangah. Ucapan lelaki itu bagaikan menusuk ulu hatinya karena memang benar adanya. Lelaki itu benar.. .

 

Dia sama saja brengseknya dengan lelaki itu.

 

TBC

Note:

Oke, ada yang rindu sama FF ini? Aku rasa enggak, soalnya udah cukup lama aku enggak update kelanjutannya dan oh… aku yakin kalian bertanya – tanya kenapa jalan ceritanya sudah seperti ini.

 

Aku juga yakin kalian emosi banget sama aku karena udah tambah cast baru dan alur yang semakin amburadul.

 

Huaaaaa,, maafkan akuuuuuu~ ><

 

Dan kata – kata di akhir part ini beneran hancur banget. Aku kehilangan kosakata saat ketik part itu dan penjelasan keadaannya (?) gak bagus banget. Maaf! :’’(

 

And, semoga kalian puas dengan part yang aneh ini… Sekian, byee *-*

7 thoughts on “He’s My Guardian [Part 4]

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s