Everytime My Heart Beats (1/?)

Everytime My Heart Beats

Tittle            : Everytime My Heart Beats

Author         : NtaKyung

Art Poster    : NtaKyung

Casts             : Kim Suho, Tiffany Hwang and Other Casts (Find By Yourself)

Genre           : Angst, Romance

Length         : Mini Series [On Writing]

Rated           : PG-13

Disclaimer  : Segala hal yang berada di dalam Fanfiction ini, Murni adalah imajinasi saya! So, DONT Copy-Paste or BASHING!! Don’t Like? Don’t Read!!

Di posting juga di blog pribadiku. Silahkan berkunjung jika berminat… ^^ >> All About Tiffany Hwang Fanfiction

®Everytime My Heart Beats®

“Kurasa, aku telah jatuh cinta padanya sejak awal kami bertemu.”

-Tiffany Hwang-

*

*

*

®Everytime My Heart Beats®

“Ini tidak adil! Kenapa aku yang harus pergi mengantarkan berkas-berkas ini? Aku tidak mau!” Pekik sesosok gadis yang tengah duduk di sofa ruang tengah itu.

Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya, bibirnya mengerucut sebal dan ia nampak beranjak dari atas sofanya yang empuk itu.

“Appa membutuhkan berkas-berkas ini, Tiff. Dan aku tidak bisa mengantarkannya ke sana karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan, jadi tidak ada pilihan lain selain kau yang pergi…” Ujar sesosok gadis lainnya yang nampak lebih tua beberapa tahun dari gadis sebelumnya.

“Pokoknya aku tidak mau! Aku ingin beristirahat, aku kan baru saja pulang sekolah! Kenapa tidak suruh Leo saja?!” Sahut gadis itu kembali, bersikeras menolak suruhan kakak perempuannya itu.

“Leo sedang pergi keluar. Sudahlah, Tiff… ini hanya sebentar saja.”

“Tidak!”

“Tiffany Hwang! Jangan keras kepala! Appa sudah menunggu berkas-berkas ini!”

Gadis bernama lengkap Tiffany Hwang itu merenggut kesal, ia lantas merebut cepat berkas-berkas itu dari tangan kakak perempuannya dan langsung berbalik.

“Kau kejam!” Pekiknya sebelum akhirnya bergegas meninggalkan rumah tersebut.

Michelle Hwang, kakak perempuan Tiffany itu, hanya dapat menghela nafas cepat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Terkadang, sifat keras kepala Tiffany ini selalu membuatnya merasa kewalahan setengah mati.

®Everytime My Heart Beats®

Tiffany memasuki koridor rumah sakit dengan raut wajah kesal bercampur malas. Ia memang tidak suka jika di suruh datang ke rumah sakit, bau dari obat-obatan dan bayangan akan benda-benda di rumah sakit selalu membuatnya mual.

Padahal, pemilih dari rumah sakit ini adalah Ayahnya sendiri. Tapi ntah kenapa, ia selalu tak betah jika harus berlama-lama di rumah sakit.

“Dasar menyebalkan! Apakah dia tidak ingat jika aku selalu merasa mual saat ada di tempat mengerikan ini?! Michelle Eonnie memang kejam!” Gerutu Tiffany sembari terus melangkahkan kakinya menuju ruangan Ayahnya yang berada di lantai atas.

Namun, tepat di saat Tiffany hendak menaiki lift. Ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria yang tengah berjalan secara berlawanan arah dengannya. Alhasil, apa yang di pegang Tiffany pun langsung berserakan di atas lantai.

“Aish!” Tiffany mengumpat pelan sembari meraih cepat berkas-berkas itu kembali.

“Oh. Mian… aku benar-benar tak sengaja.” Suara penyesalan terdengar dari sesosok pria yang tak sengaja bertabrakan dengan Tiffany itu.

Tetapi, sayangnya Tiffany malah tak peduli dan memilih untuk tetap merapihkan berkas-berkas tersebut. Dan setelah semuanya rapih, ia berkata dengan nada sinis.

“Lain kali jika sedang berjalan, pakailah kedua matamu!” Dan setelah itu pun, gadis ini segera melangkahkan kedua kakinya kembali menuju pintu lift.

Sementara itu, sang pria hanya nampak terdiam di tempatnya. Sejenak tersirat raut penyesalan di wajah pria itu, namun beberapa detik kemudian ia pun tersenyum tipis, tepat ketika pintu lift yang di naiki Tiffany telah tertutup rapat.

“Suho-ssi, apa yang kau lakukan di tengah koridor seperti ini? Ayo aku bantu.” Seru seorang suster sambil meraih tangannya.

Pria itu masih tetap memperlihatkan senyuman tipisnya, “Maaf… maaf… aku ini kan tidak bisa melihat, suster.” Balasnya dengan kalem.

Suster itu hanya balas tersenyum mendengar keramahan dalam nada suara pria ini. Sungguh, ia jarang sekali menemui seorang pasien yang begitu ramah dan rendah diri seperti pria bernama Kim Suho ini.

“Jadi, kemana kau ingin pergi, hm?” Tanya suster itu kemudian.

“Taman.”

®Everytime My Heart Beats®

Cklek!

Pria paruh baya itu mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara pintu yang terbuka, lalu senyuman ceria pun langsung terkembang di wajahnya ketika ia sadar jika yang datang adalah anaknya, Tiffany.

“Oh… Tiffany-ah. Kau datang, nak? Apakah kau membawa berkas-berkas itu?” Ujar Tn.Hwang seraya beranjak dari duduknya.

“Ini.” Tiffany menyodorkan berkas itu ke hadapan Ayahnya, masih dengan ekspresi wajah kesal. “Lain kali, jangan menyuruhku datang kemari lagi. Appa tahu kan jika aku tidak suka berlama-lama di sini? Aku selalu mual jika menghirup bau tak sedap dari obat-obatan di sini!” Gerutu Tiffany sembari melipat kedua tangannya.

Tn.Hwang terkekeh kecil sambil mengacak-acak rambut Tiffany. “Arraseo… Mianhe, eoh? Appa benar-benar membutuhkan ini sekarang. Tapi… lain kali Appa tidak akan meninggalkan berkas-berkas penting lagi di rumah.” Ujar Tn.Hwang kemudian.

“Memang!” Balas Tiffany masih cemberut.

“Aigoo… jangan cemberut lagi, eoh?! Wajahmu tidak terlihat cantik lagi ketika kau memperlihatkan wajah cemberut seperti itu!” Seru Tn.Hwang sembari mencubit gemas pipi Tiffany.

“Ish… Appa!” Tiffany mendelik tajam pada Ayahnya itu, tetapi hanya di balas tawa geli dari Tn.Hwang.

Well, Tn.Hwang memang terkenal sangat memanjakan Tiffany, anak bungsunya itu. Terlebih, Tiffany telah kehilangan mendiang ibunya beberapa tahun yang lalu. Jadi, Tn.Hwang berusaha sebisa mungkin untuk menjadi Ayah sekaligus Ibu terbaik untuk anak bungsunya ini.

Tn.Hwang kembali ke meja kerjanya dan memeriksa berkas-berkas yang baru saja di bawa Tiffany. Sementara itu, Tiffany melangkahkan kedua kakinya menuju sebuah jendela yang mengarah langsung ke taman rumah sakit ini.

Sesaat Tiffany nampak bosan memperhatikan taman yang di hanya di penuhi oleh para dokter dan suster yang terus berlalu-lalang mengurusi pasiennya. Tetapi, tepat di saat gadis ini hendak berbalik, tatapan matanya langsung tertuju pada sesosok pria yang tengah duduk di bangku taman itu.

Sejenak Tiffany terdiam, tetapi bayangan akan sosok pria yang bertabrakan dengan dirinya tadi pun langsung terlintas di benaknya dan di saat itu juga Tiffany sadar jika pria itu adalah pria yang di bertabrakan dengannya tadi.

“Eoh! Pria itu!” Pekik Tiffany tanpa sadar, jari telunjuknya menunjuk ke arah sosok pria tersebut.

Tn.Hwang yang mendengar pekikan Tiffany, reflek menoleh padanya dan langsung beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Tiffany dan ikut menoleh pada sosok pria yang di lihat Tiffany itu.

Kerutan kecil nampak di kening Tn.Hwang dan sedetik kemudian ia menoleh pada anak gadisnya itu. “Kau mengenalnya, Tiff?” Tanyanya kemudian.

“Tidak.” Sahut Tiffany cepat. “Tapi aku ingat jika dia yang telah menabrakku tadi!”

Raut penasaran di wajah Tn.Hwang seketika sirna dan di gantikan dengan tatapan matanya yang sendu. “Jangan berkata seperti itu, Tiff.”

“Kenapa tidak?”

“Karena mungkin dia tidak sengaja…”

“Apanya yang tidak sengaja, jelas-jelas aku ada di hadapannya dan-”

“Tiffany-ah… pria itu tidak bisa melihat.”

Suara Tiffany tiba-tiba saja lenyap, tertelan kembali ke dalam kerongkongannya dan raut wajahnya terlihat berubah terkejut.

“Benarkah?” Tanyanya nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dan Tn.Hwang menjawabnya dengan sebuah anggukan singkat.

Seketika itu juga, ingatan Tiffany seakan berputar kembali pada kejadian beberapa waktu yang lalu. Ia ingat, jika ia telah mengatakan hal yang tidak sepantasnya pada pria tersebut dan pastilah ia telah menyakiti perasaannya.

Perasaan bersalah perlahan mulai merambat dalam hati Tiffany dan tanpa sadar ia pun mulai berbalik, berjalan menuju pintu ruangan tersebut.

“Apakah kau akan pulang sekarang, Tiff?” Tanya Tn.Hwang saat melihat Tiffany yang berjalan menuju pintu keluar.

Tiffany menggedikan bahunya, “Ya… err.. maksudku tidak. Aku akan menemuinya terlebih dahulu untuk meminta maaf…”

“Ahh… baiklah.” Tn.Hwang hanya mengangguk singkat dan sesaat kemudian anak gadisnya itu pun telah beranjak pergi dari ruangannya.

®Everytime My Heart Beats®

Kim Suho, pria itu tengah menikmati terpaan cahaya mentari di sore hari. Meskipun ia tak dapat melihat, tetapi ia sangat menikmati kehangatannya. Ia terlalu bosan jika harus terus berada di dalam kamarnya, karena itu, duduk di taman rumah sakit saat sore hari seperti ini adalah kegiatan rutinnya.

Namun, mendadak Suho tak dapat merasakan terpaan cahaya mentari lagi. Kening pria ini nampak mengkerut, tidak mungkin matahari terbenam secepat ini kan?

Biasanya dia akan duduk di bangku taman rumah sakit ini, setidaknya 2 sampai 3 jam. Tepat di saat matahari telah terbenam, tetapi hari ini? Seingatnya jika di hitung-hitung, ia baru duduk selama setengah jam di sini.

“Hey… apakah kau masih mengingatku?” Sebuah suara lembut langsung terdengar jelas di gendang telinganya.

Reflex Suho menoleh ke arah sumber suara, tatapan matanya tak terarah pada gadis di hadapannya itu, yang tak lain adalah Tiffany.

“Maaf?” Suho berucap dengan ragu. “Aku tidak bisa melihat, noona… jadi… aku tak tahu siapa dirimu.” Lanjutnya kemudian.

Tiffany terkesiap dan perasaan bersalah pun semakin menyerang dirinya. Terlebih, saat ia mendengar nada suara Suho yang begitu ramah dan sopan. Sesaat kemudian, Suho dapat merasakan jika Tiffany telah duduk di sampingnya.

“A-aku… gadis yang… bertabrakan denganmu… tadi. K-kau ingat kan?” Ujar Tiffany dengan terbata.

“Aahh… ya. Tentu saja.” Balas Suho kemudian. “Ada apa, nona? Apakah kau terluka karena bertabrakan denganku tadi?” Kecemasan di wajah Suho terlihat sangat jelas dan perasaan bersalah itu pun semakin bertambah dan terus bertambah. “Jika ya… aku sangat menyesal karena-”

“Anniya!” Tiffany buru-buru menyela ucapan Suho. “Kau tidak salah! Sebenarnya, aku yang salah atas kejadian tadi. Dan aku… ingin meminta maaf karena tadi sempat berbicara kasar padamu…” Ucap Tiffany penuh dengan penyesalan.

Seulas senyuman tipis pun terkembang di wajah Suho, seolah pria ini tak sedikitpun memendam kekesalan pada sikap Tiffany yang kasar padanya beberapa waktu lalu.

“Perkataan yang mana? Kurasa… kau tidak mengatakan hal yang kasar padaku.”

Tiffany menundukkan wajahnya, ia benar-benar sangat menyesal sekarang. Apalagi, ketika melihat pria itu tersenyum, rasanya Tiffany ingin merutuki kebodohannya itu karena telah mengatakan hal yang mungkin dapat melukai hati pria baik ini.

“Tapi… tadi aku sempat mengatakan… jika…” Tiba-tiba saja Tiffany merasa tak dapat melanjutkan kata-katanya, suaranya seolah tertahan di kerongkongannya dan bibir gadis pun ntah kenapa terasa kelu.

“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa mendengar kata-kata itu. Dan jika kau pikir aku akan sakit hati karena kata-kata itu… kau salah nona. Jadi, kau tak perlu khawatir…” Sahut Suho dengan kalem. Senyuman itu belum memudar barang sedikitpun.

Dengan tatapan takjub dan kagum, Tiffany terus memandangi pria di sampingnya itu. Belum pernah ia bertemu dengan pria sebaik dirinya, apalagi dengan kondisinya yang tak sempurna itu, pria ini masih bisa bersikap rendah diri seperti ini.

“Apakah kau selalu seperti ini?” Tiffany tiba-tiba saja bertanya, membuat Suho tak terlalu paham dengan apa yang di maksudnya itu.

“Maksudmu seperti apa?”

“Selalu bersikap ramah dan rendah diri pada seseorang meskipun orang itu telah bersikap kasar padamu sebelumnya.”

Bukannya menjawab, Suho malah terkekeh kecil, yang tentu saja membuat Tiffany bingung dengan tanggapan pria itu.

“Kenapa?”

“Tidak.” Suho menggelengkan kepalanya singkat. “Hanya saja… sepertinya sudah lama sekali sejak aku mengobrol dengan seseorang yang asing dan orang tersebut langsung menilaiku seperti itu.”

“Memangnya kau tidak memiliki teman?” Rasa penasaran Tiffany akan pria itu ntah kenapa tiba-tiba saja muncul ke permukaan dan gadis ini tak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya pada pria -yang bahkan belum ia ketahui namanya itu-.

“Aku mengalami kebutaan sejak aku berusia 12 tahun. Dan semenjak saat itu pula, aku hanya mempunya satu teman… adikku.”  Jawab Suho tanpa sungkan, tak malu mengakui hal tersebut.

“Adik? Kau memiliki seorang adik?” Tanya Tiffany semakin penasaran.

“Ya. Dia satu-satunya keluarga yang kumiliki di dunia ini… dia selalu datang kemari setelah pulang bekerja. Tapi terkadang aku melarangnya untuk datang kemari, aku takut dia akan kelelahan jika terus-menerus datang kemari sementara pekerjaannya pun sudah cukup membuatnya lelah.”

“Ah… begitu.” Tiffany mengangguk paham. “Ehm… boleh aku tahu penyebab kau tak bisa melihat seperti ini? Tadi… kau bilang jika kau mengalami kebutaan sejak kau berusia 12 tahun. Jadi, sebelumnya kau bisa melihat kan?”

Suho terdiam sejenak, sedikit heran dengan sikap Tiffany yang mendadak berubah. Memang ia tak keberatan akan hal ini, ia justru senang karena mendapatkan teman berbicara selain adiknya. Tapi tetap saja… rasanya sedikit aneh juga.

Merasa jika pertanyaan sudah cukup berlebihan, Tiffany buru-buru berkata, “Maaf jika aku terlalu banyak bertanya. Kau tak perlu menjawabnya…”

“Tidak apa-apa. Lagipula hal ini bukanlah suatu aib yang harus kututupi kan?” Ujar Suho ramah dan sukses membuatnya meringis pelan, merutuki rasa penasarannya yang terlalu tinggi.

“Maaf…” Cicit Tiffany.

“Sudah kukatakan tidak apa-apa.” Balas Suho sambil tersenyum tipis. “Sebenarnya, waktu aku berusia 12 tahun, aku bersama keluargaku mengalami kecelakaan mobil. Kedua orang tuaku meninggal di tempat kejadian itu, sementara aku dan adikku berhasil di selamatkan oleh orang-orang sekitar.”

Tiffany jelas terkesiap, ia membekap mulutnya dan membayangkan betapa ngerinya kecelakaan yang telah di alami pria ini hingga akhirnya ia harus merelakkan kedua matanya dan tak mampu melihat lagi sampai sekarang.

“Ya tuhan. Itu benar-benar mengerikan. Aku minta maaf, tuan… aku membuatmu harus mengingat kejadian itu lagi.” Sesal Tiffany lagi.

Suho lagi, tertawa kecil mendengar nada penyesalan pada suara Tiffany. “Apakah kau seorang gadis yang senang meminta maaf?” Tanya Suho kemudian di sela-sela senyum gelinya.

“Apa?”

“Sejak tadi aku hanya mendengar kau terus meminta maaf padaku. Padahal… jelas-jelas saat di awal kau memarahiku karena menabrakmu.” Ujar Suho, menyelipkan sedikit candaan pada akhir perkataannya.

Namun, Tiffany menganggap lain kata-kata itu dan malah menunduk lesu. “Aku minta maaf…”

“Kau melakukannya lagi!” Tuduh Suho sambil tersenyum geli.

Tiffany mengembungkan kedua pipinya, kemudian menatap pada pria itu kembali. “Lalu aku harus melakukan apa?”

“Tidak ada. Hanya, berhenti mengucapkan kata ‘maaf’ padaku. Kau tahu? Rasanya telingaku sudah tidak sanggup mendengarnya lagi.” Canda Suho.

Kata-kata Suho sukses membuat senyum di wajah Tiffany mengembang. Gadis ini lantas memperhatikan lebih jeli wajah pria asing ini.

Tiffany baru sadar jika pria ini begitu tampan dan mempesona, bahkan tanpa kedua matanya yang tak bisa melihatpun, pria ini begitu terlihat seperti seorang pangeran berkuda putih yang selalu ada di cerita-cerita dongeng yang selalu Tiffany impikan. Terlebih, ketika pria itu tersenyum, dia benar-benar tampan!

“Ah ya.. sejak tadi kita mengobrol, aku belum tahu siapa namamu, nona.” Suho tiba-tiba menoleh padanya lagi meski tatapan matanya tetap tak terarah pada Tiffany.

Lamunan Tiffany akan pria di sampingnya ini pun seketika buyar. “Maaf? Apa kau mengatakan sesuatu tadi?”

“Namamu… boleh aku mengetahuinya?”

“Ahh… itu…” Tiffany terdiam sejenak. Ntah kenapa, Tiffany tiba-tiba saja merasa tak yakin dengan dirinya sendiri.

Selama ini, sosok Tiffany Hwang terkenal sebagai gadis manja yang selalu mengeluh dan menggerutu setiap harinya. Semua orang tahu itu, bahkan beberapa suster dan dokter di rumah sakit ini pun pasti tahu. Mengingat jika dia adalah anak bungsu dari pemiliki rumah sakit ini.

Dan sungguh, Tiffany tak ingin jika pria asing ini mengetahui sifat buruknya itu. Dia benar-benar akan malu jika sampai pria ini mendengar sifat-sifat buruknya itu dari para suster dan dokter di rumah sakit ini,-yang tentunya senang menggosip-.

Pria buta sepertinya saja tak pernah mengeluh dan selalu bersikap ramah. Tetapi, kenapa seseorang yang di beri kesempurnaan seperti dirinya malah memiliki sifat yang begitu buruk dan memalukan?

Oh… Tiffany benar-benar tak ingin pria ini mengetahui siapa dirinya!

“Nona? Apakah kau masih di sana?” Tanya Suho kemudian, menyadarkan kembali Tiffany dari lamunannya.

“Ah yah. Tentu.” Balas Tiffany sedikit gugup.

Suho terlihat tersenyum lega, senang karena rupanya Tiffany tak pergi begitu saja. Padahal, tadinya Suho sempat takut jika Tiffany akan segera menghindari dirinya karena kebutaan yang di milikinya.

“Jadi, boleh aku tahu siapa namamu?” Tanya Suho penasaran. “Tapi jika kau merasa keberatan untuk mengatakannya… kau tak perlu-”

“Namaku Miyoung. Tapi orang-orang biasa memanggilku, Youngie. Terserah kau ingin memanggilku bagaimana.” Sahut Tiffany cepat, menyela ucapan Suho.

“Ohh… Miyoung? Hm… baiklah. Aku akan memanggilmu Youngie saja. Kau tidak keberatan kan?”

“Sama sekali tidak.” Tiffany tanpa sadar tersenyum senang, ntah kenapa rasanya sudah lama sekali tak ada yang memanggilnya dengan nama koreanya itu.

Ia ingat betul jika dulu mendiang ibunya senang memanggilnya dengan sebutan ‘Youngie’ yang tentu saja merupakan nama kecilnya sewaktu dulu. Dan ketika pria asing ini memanggilnya dengan nama itu, rasanya ada perasaan aneh yang muncul di dalam diri Tiffany.

“Lalu… siapa namamu?” Tanya Tiffany kemudian.

“Namaku Kim Joonmyeon. Tapi orang-orang biasa memanggilku Suho…” Ujarnya memperkenalkan diri.

Kemudian, Suho reflex menaikkan tangannya, berniat menjabat tangan Tiffany. Tapi sayangnya, ia salah mengarahkan tangannya, membuat Tiffany sedikit terkejut dengan hal itu tapi sedetik kemudian segera meraih tangan Suho dan membalas jabatan tangannya.

Suho meringis pelan, malu dengan sikapnya ini. “Maaf… aku tidak bisa melihat. Kau ingat?” Ujarnya dengan nada menyesal.

“Sepertinya, kau juga senang mengucapkan kata ‘maaf’.” Sahut Tiffany bercanda dan sukses membuat Suho menertawai kekonyolan yang di buat oleh dirinya sendiri itu. Tiffany pun ikut tertawa bersamanya dan tanpa terasa waktu pun telah berputar dengan sangat cepat, matahari perlahan mulai terbenam.

Sementara itu, keduanya masih nampak asyik bercakap-cakap dan melontarkan satu atau dua candaan di sela-sela obrolan mereka.

Keduanya nampak cepat akrab meski ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Mereka tak pernah sadar, jika hal ini merupakan awal permulaan dari kisah mereka berdua.

Untuk saat ini, keduanya memang masih mengabaikan getaran-getaran kecil dalam hati mereka. Tapi… bagaimana jika getaran-getaran kecil ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu?

Hanya mereka yang akan mengetahuinya…

To Be Continued…

18 thoughts on “Everytime My Heart Beats (1/?)

  1. Sorry baru comment
    Bru slesai baca
    Hehe

    Moga2 part selanjuttnya di post cpt deh
    Soalnya ceritannya bgs
    Hehe

    Penasaran sama alasan tiff klo mau ke rmh sakit nti
    Pokoknya ditunggu banget kelanjutannya yah^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s