[Freelance] Love is Not For My Husband (Chapter 1)

Love is not for my husband

Title : Love Is Not For My Husband

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG 17

Genre : Romance, Sad, Family

Main Cast : Taeyeon, Baekhyun

Other Cast : Lihat sendiri yah J

Author Note : Ini sebenarnya ff untuk di post di All The Stories Is Taeyeon’s, tapi berhubung aku gak di invate sama adminnya jadi aku post di blog ini aja #ditabokadmin

Sebenarnya sih malas kalau ngomongin masalah hiatus lagi, soalnya aku orangnya agak plin plan #ngaku

Tapi kalau seandainya nanti aku tak muncul lagi berarti udah tau sendiri kan J

 

. . . . . . . . . .

Bermimpi untuk menjadi seorang istri diusia remaja, mungkin bukanlah suatu cita- cita bagi setiap yeoja seperti taeyeon. Namun apalah hendak dikata yeoja itu sudah terlanjur menyetujui atau lebih tepatnya terpaksa menyetujui untuk dinikahkan dengan lelaki yang bahkan tak dikenalnya.

Terkadang ia berfikir akan kesalahan yang ia telah perbuat sehingga tuhan sangat tega kepadanya. Ia adalah seorang gadis belia yang sangat patuh pada orang tuanya, sangat taat beribadah, dan baik terhadap sesama. Tapi apa yang ia dapatkan ? tak lebih dari sebuah pedang panjang, yang sanggup menusuk hatinya yang seolah tak bernyawa itu.

Alangkah jahatnya seorang eomma memaksa anaknya sendiri menikah hanya karena uang, namun itulah taeyeon, seorang anak yang sangat penurut pada titah dari orang tuanya. Sebelumnya ia memang sempat menolak dengan teguh keinginan eommanya itu. Tapi haruskah ia menyalahkan hatinya yang sangat lembut?

Flashback

“Aku tak mau eomma, aku janji aku akan mencari pekerjaan untuk kehidupan keluarga ini. Tapi kumohon jangan nikahkan aku.” Nona Kim hanya mengangkat kepalanya seolah tak sudi melihat putrinya yang sedang berlutut dikakinya itu.

“Sudahlah taeyeon eomma tak mau membicarakan ini lagi, lebih baik kau persiapkan dirimu untuk pernikahan nanti. Dan jangan sekali- kali kau berfikir bahwa eomma akan membatalkan pernikahan ini, karena itu tidak akan terjadi” hentakan kaki eommanya membuat taeyeon sedikit terdorong.

Tangis, tangis, dan tangis itulah yang bisa ia lakukan untuk sekarang ini, serasa tetesan air dari langit membasahi kepalanya sehingga ia sangat banyak mengeluarkan air di sekitar wajahnya. “Tuhan apakah ketaatanku kepada eomma benar- benar tak ada artinya baginya?” air matanya tak bisa dibendung lagi karena sakit yang ia rasakan.

 

. . . . . . . . .

Kedua tangan mungilnya menangkup di depan dadanya, dengan do’a yang terus terpanjat kepada tuhan. Tak ada satupun orang yang bisa mendengarkan curhatannya saat ini selain tuhan yang selalu menjadi teman terbaiknya.

Krystal bening itu lagi- lagi tak mempunyai penghalang untuk terus tumpah dan menari diwajahnya yang putih bagaikan susu. Tak ada rasa penat yang ia rasakan sehingga tak ada sedikitpun niat dihatinya untuk melangkahkan kakinya keluar dari tempat suci itu.

Suara hentakan kaki dari arah belakang sama sekali tak bergeming ditelinganya. Ia tetap fokus pada panjatan do’a yang ia kirimkan kepada teman curhatnya, ‘Apa yang ia minta? Mengapa ia sampai menangis?’

Beribu pertanyaan memenuhi otak baekhyun saat memperhatikan gadis dengan gaun putih yang berdiri tepat disampingnya.

Baekhyun menyatukan jari- jarinya mengikuti gadis disampingnya, matanya melirik sedikit gadis yang sama sekali tak bergerak itu, bahkan seandainya tak ada air mata diwajahnya mungkin baekhyun sudah mengira bahwa gadis itu tidak sadarkan diri.

“Kalau ada masalah kau bisa berbagi pada teman baru kok” baekhyun melirik taeyeon lagi, tapi gadis itu tak merespon ucapan baekhyun.

Helaan nafas kasar baekhyun keluarkan, “Tapi kalau tidak ingin berbagi aku tak akan memaksa” sekali lagi baekhyun memincingkan bola matanya ke arah taeyeon, tapi sepertinya gadis itu tak bergeming sedikitpun.

Baekhyun perlahan melangkah ke samping mendekati gadis itu, entah dari mana asalnya ia pun tak tahu angin yang sepoi- sepoi menerbangkan rambut gadis itu dan seketika itu juga darah baekhyun berdesis keras bersamaan dengan jantungnya yang memompa lebih cepat dari biasanya.

Walau dengan mata terpejam dan air mata yang terus mengalir pesona taeyeon tetap terpancar dan itu membuat baehyun merasakan sensasi aneh, ia seolah ingin menenangkan gadis itu namun ia tak tahu bagaimana caranya.

Gadis itu tiba- tiba berdiri yang membuat baekhyun tergagap , “Tungg . . gu” Mendengar ada yang berbicara taeyeon menghentikan langkahnya.

Taeyeon membalikkan badannya menatap baekhyun dengan penuh tanya, “Maaf apakah anda berbica denganku?” oh tidak suara gadis itu benar- benar membuat baekhyun melayang, pandangan matanya yang sayu tak bisa baekhyun hindari lagi. Tak ada jawaban dari namja itu yang membuat taeyeon hanya tersenyum ramah lalu berlalu meninggalkannya.

Baekhyun tersadar ketika yeoja itu telah hilang dari pandangannya, “Oh ayolah byun baekhyun apa yang kau lakukan?” baekhyun mengacak rambutnya sendiri ketika mengingat kebodohan yang telah ia perbuat barusan.

Ia tersenyum lalu kembali ke posisinya semula yakni menangkupkan tangannya, “Ya tuhan semoga gadis manis itu adalah jodohku”

 

. . . . . . . . . .

“Ini tuan Byun Min Hyeong, calon suamimu” ucap eomma taeyeon tersenyum ramah ketika tuan Byun baru saja duduk disalah satu kursi restaurant ternama di kota seoul itu.

Taeyeon mengangkat wajahnya untuk menatap orang itu, ia tak sanggup lagi menahan gejolak dihatinya. Mengapa eommanya sangat tega kepadanya, apakah taeyeon hanya anak tiri sehingga orang itu tak memikirkan perasaan taeyeon. Orang yang akan menjadi suaminya bahkan lebih pantas menjadi suami eommanya. Apakah orang itu tak sadar akan usianya, sungguh taeyeon tak tahan lagi yang membuat gadis itu berlari tanpa memperdulikan eommanya yang terus memanggilnya.

“Taeyeon . . “ Eomma taeyeon hendak berdiri menahan anak itu namun Tuan Byun menahannya.

“Dia perlu waktu untuk menerima semua ini” dengan tatapan penuh rasa bersalah eomma taeyeon duduk kembali di tempatnya.

Taeyeon berlari tanpa arah, ia benar- benar tidak habis fikir akan jalan fikiran eommanya. Seandainya saja appanya masih hidup. Mungkin hidupnya tak akan semenderita ini.

Dunia benar- benar tak mempunyai rasa kasihan kepadanya, bahkan di saat sedihpun batu yang pada dasarnya benda mati itu menangkap kakinya sehingga gadis itu terjatuh dengan mulus ke aspal jalan, “AAA . .  “ Teriak taeyeon tidak jelas.

“Taeyeon kau kenapa?” seohyun sahabat taeyeon tiba- tiba datang memeluknya dari belakang.

Taeyeon mengalihkan pandangannya menatap yeoja itu, ia langsung memeluknya ketika melihat wajahnya, seohyun yang ikut merasakan kesedihan taeyeon berusaha menopangnya untuk berdiri. Dengan tenaga yang tersisa taeyeon berdiri dan duduk bersama seohyun di dalam mobil seohyun.

Taeyeon memeluk erat seohyun, “Aku sudah tak tahan seohyun, aku sudah tak tahan” seohyun hanya membalas pelukan sahabatnya itu, ia tak pernah melihat taeyeon menangis seperti itu. Karena taeyeon yang ia kenal adalah taeyeon yang selalu sabar, tapi saat ini yeoja itu sangat berbeda pertanda bahwa ia sangat bersedih hati.

Usapan tangan mulus seohyun sedikit membuat taeyeon tenang, setelah seohyun merasa sudah saatnya untuk bertanya perlahan suara halusnya mulai ia keluarkan, “Apa yang sebenarnya terjadi taeng?” tanya seohyun lembut.

Taeyeon menggenggam erat baju seohyun, “Aku dijodohkan seo, aku dijodohkan dengan orang yang 20 tahun lebih tua dariku” taeyeon kembali menangis meratapi nasipnya.

Tenggorokan seohyun tercekat mendengarnya, ia memang sering mendengar cerita dari taeyeon tentang eommanya yang sangat pemaksa. Tapi seohyun benar- benar tak pernah berfikir bahwa eommanya sampai ingin menjodohkan taeyeon, apalagi lelaki itu lebih pantas menjadi ayah dari taeyeon yang baru genap berusia 16 tahun.

Seo berusaha menahan air matanya agar tak menambah keruh suasana, “Kau ikut saja bersamaku taeng, aku berjanji akan selalu menjagamu seperti saudaraku sendiri. kita bisa tinggalkan kota ini bersama” taeyeon hanya mengangguk berat mendengar penuturan dari seohyun.

 

. . . . . . . . . . .

“Sudahlah taeng jangan menangis terus, kalau kau terus seperti ini nanti kau bisa sakit” seohyun berusaha menghibur taeyeon yang sedang membelakanginya dan sedang  tidur kasur itu.

Taeyeon membalikkan badannya lalu bangkit memeluk seohyun, “Aku tak bisa seo, aku tak bisa meninggalkan eomma. Kalau aku meninggalkan eomma nanti siapa yang akan bersamanya, kau tahu kan kalau aku adalah anak eomma satu- satunya.”

Seohyun mendengus tak percaya, “Mengapa eommamu sangat tega pada putri sebaik kim taeyeon? ”

Taeyeon hanya tersenyum pahit menatap seohyun, “Semenjak tadi aku berfikir tentang semuanya seo, aku memikirkan segalanya tentang hidupku dan juga eomma.” seohyun mengerutkan dahinya tak mengerti maksud taeyeon.

Taeyeon menarik nafas dalam lalu kembali mengeluarkannya. “Aku lahir tanpa appa seo dan eomma yang membesarkanku dengan susah payah, jadi inilah saatnya aku membalas segalanya walaupun itu akan mengorbankan kebahagianku” bisik taeyeon dan seketika air matanya kembali membasahi punggung seohyun.

Seohyun melepas pelukannya dan menatap taeyeon dengan ekspresi yang tak bisa dibahasakan, “Taeng masa depanmu akan hancur jika menikah dengan lelaki tua sepertinya” kata seohyun masih tak percaya terhadap keputusan sahabatnya.

Taeyeon menghapus air matanya lalu tersenyum dipaksakan, “Aku tahu seohyun mungkin aku akan menjadi yeoja yang paling tidak bahagia didunia. Tapi setidaknya aku bisa melihat eommaku bahagia”

Seohyun memeluk erat taeyeon, sungguh jika ada hal yang dapat ia lakukan untuk membatalkan pernikahan itu mungkin ia akan melakukan apapun. “Aku tidak rela taeng, kau masih punya masa depan yang panjang.”

“Bukankah manusia diciptakan berpasang- pasangan? Kalau dia adalah jodohku maka aku akan menghabiskan sisa hidupku bersamanya seo. Tapi kalau dia bukan jodohku pasti suatu saat nanti aku akan berpisah darinya.” Taeyeon mengusap punggung sahabatnya itu. Seharusnya saat ini taeyeon yang ditenangkan, namun memang pada dasarnya gadis itu memang sosok yang tegar dan sabar.

“Jadi kau mau kan mengantarku pulang?” tanya taeyeon kemudian yang membuat seohyun benar- benar tak percaya.

“Apkah kau yakin pada keputusanmu kali ini? ” tanyanya lagi lebih memastikan keputusan gila sahabatnya itu. Seohyun hanya mendegus kasar saat melihat taeyoen mengangguk pasti.

 

. . . . . . . . . . .

Dengan ragu taeyeon mengetuk rumahnya setelah seohyun pulang. “Eomma” panggilnya lalu kembali mengetuk pintu.

Perlahan knop pintu berbunyi dan pintu mulai terbuka. Taeyeon sangat cemas kalau saja ia akan dihukum habis- habisan oleh eommanya. Pintu dengan sempurna terbuka menampakkan seluruh bagian tubuh orang yang melahirkannya.

“Kau sudah pulang sayang?” sapa eomma taeyeon dengan senyuman yang tak biasa ia tunjukkan pada putrinya. “Mengapa kau terus berdiri di situ? Ayo kita masuk” Nona Kim merangkul anaknya yang masih tak percaya akan sikap manis yang tiba- tiba ditunjukkan oleh eommanya itu. Namun taeyeon hanya memilih bungkam.

‘Sudah kuduga’ batin taeyeon ketika melihat sangat banyak barang yang berceceran di kamarnya, “Apa ini eommanya?” tanyanya walau tentunya ia sudah tahu jawabannya.

Jejeran gigi putih eommanya cukup membuat taeyeon sangat senang, walau ia sudah tahu senyuman itu harus ia bayar mahal dengan kehancuran masa depannya. “Ini dari Tuan Byun sayang.” Elusan yang taeyeon rindukan kini ia dapatkan lagi membuat yeoja itu tersenyum ceria.

“Oya ini . . . .” Nona Kim membuka lemari taeyeon dan yang membuat taeyeon tercekat adalah isi dari lemari itu. Sebuah gaun putih indah khas pernikahan bergantung dengan cantik di dalam lemarinya, “Besok kau akan menikah jadi persiapkan segala yah sayang” eomma taeyeon menutup kembali lemari itu dengan senyuman yang selalu terhias disana.

Taeyeon tak sanggup berkata ataupun menanyakan sesuatu karena suaranya seolah lenyap bersama dengan impiannya, “Tolong jangan kecewakan eomma” Chu . . , eomma taeyeon memberikan kecupan manis kepada putrinya sebelum benar- benar meninggalkannya.

Taeyeon hanya duduk disamping laci mejanya, ia memang sudah ingin menerima pernikahan itu. Tapi mengapa harus secepat ini? Ia benar- benar belum siap. Taeyeon membuka laci mejanya dan disana terlihat sebuah album foto berwarna pink.

Taeyeon perlahan membukanya, pada lembaran pertama foto yang menunjukkan dirinya bersama dengan teman- temannya ketika mengikuti pramuka disekolah. Lembar berikutnya menunjukkan bagaimana bahagianya mereka ketika mengikuti pentas musim panas yang juga diselenggarakan diseolahnya yang sebentar lagi ia tinggalkan itu. Lembar demi lembar ia buka yang membuatnya semakin tersiksa karena tak rela kehilangan semuanya. Kehilangan sahabat dan kebahagian yang ia sudah cita- citakan.

Cover dari album itu mulai basah dipelukan taeyeon karena air mata dalam diam yang dikeluakan gadis itu. Tak ada yang bisa membelanya dan tak ada yang bisa menolongnya. Dia hanya bisa mengikuti segala perintah eommanya itu. ‘Selamat tinggal semuanya, selamat tinggal sekolahkku, sahabatku, kebahagian, mimpi, dan cinta yang selama ini aku bayangkan. Kini hariku baruku akan dimulai, yang kuyakini tak akan ada kebahagian’

Flashback End

. . . . . . . . . . .

Pria paru bayah itu tersenyum tulus melihat seorang yeoja dengan gaus putihnya melangkah mendekatnya didampingin oleh eommanya. Berbeda dengan pria itu yeoja itu malah terus mengeluarkan air mata, bukan air mata bahagia melainkan air mata kesedihan.

“Hapus air matamu, jangan membuat eomma malu taeyeon” Bisik Nyonya Kim kepada taeyeon yang tengah berjalan berdampingan menuju tempat diadakannya janji suci.

Seluruh mata menatap kasihan pada taeyeon, “Anak itu benar- benar malang, mengapa ibunya sangat jahat”

“Seandainya aku menjadi dia aku akan segera kabur”

Berbagai macam bisikan seolah mengesihani taeyeon terus mengusik telinga taeyeon sehingga membuat yeoja itu semakin menangis. Eommanya sebenarnya juga mendengar itu semua, tapi itu tak ada artinya baginya karena difikirannya sekarang hanya ada uang.

Tuan Byun tanpa canggung menghampiri taeyeon lalu merenggangkan lengannya menunggu taeyeon melingkarkan tangannya di lenganya itu. Namun taeyeon hanya diam menatap namja itu, ia sangat berharap namja itu akan kasihan dan membetalkan pernikahannya setelah melihat air matanya. Namun sayang Tuan Byun malah terus tersenyum dan tak memperdulikan kesedihan taeyeon. ‘Apakah orang ini tak punya perasaan?’ batin taeyeon.

“Hmm, gandeng calon suamimu sayang” Ucap Nyonya Kim yang tersirat nada paksaan didalamnya. Taeyeon masih tak bergeming yang membuat eommanya Gerang kemudian mencubit putrinya itu.

Taeyeon dengan terpaksa mengaitkan tangannya di lengan orang yang akan menjadi suaminya itu, Dengan iringan pelan mereka berjalan menuju depan pendeta yang akan menikahkan mereka.

“Byun Min Hyeong apakau bersedia menerima Kim Taeyeon menjadi istrimu yang akan mendampingimu sampai maut memisahkan kalian?”

Dengan sigap Tuan Byun menjawab, “Ne aku bersedia”

Lalu pendeta itu melihat taeyeon yang sedang menunduk dengan terisak, “Lalu kau Kim Taeyeon apakau bersedia menerima Byun Min Hyeong menjadi suamimu yang akan kau dampingi sampai maut memisahkan kalian”

Taeyeon tak mengangkat kepalanya sedikitpun yang membuat semua orang menatapnya sendu, bahkan ada diantara mereka yang sudah meneteskan air matanya.

“Hiks . . . hiks . . . hiks “ hanya suara lirih tangisan yang taeyeon keluarkan membuat pendeta itu juga ikut merasakan sakit yang tengah melanda gadis itu.

Eomma taeyeon bergetar berharap- harap cemas karena taeyeon tak kunjung mengucapkan sumpahnya. Dengan perlahan taeyeon mengangkat wajahnya yang sudah memerah karena terus menangis bahkan matanyapun membengkak, “Demi eommaku yang sangat aku cinta . . . . Aku . . . Bersedia” tangisnya pun pecah setelah mengucapkan kalimat itu.

Eomma taeyeon juga ikut meneteskan air mata mendengar penuturan putrinya itu, “Gomawo taeng” ucapnya pelan.

 

. . . . . . . . . . . .

“Ini rumah baru kita, jadi janga pernah merasa canggung dirumah ini” senyum teduh yang diberikan namja yang sudah menjadi suaminya itu sama sekali tak membuat taeyeon teduh sedikitpun. Namun karena rasa hormatnya ia tetap mengangguk sebagai jawaban.

Tuan Byun mengacak imut rambut taeyeon, “Berjalan- jalan lah dulu melihat seisi rumah, kau pasti sangat lelah. Aku akan mempersiapkan semua kebutuhanmu, karena jujur saja pernikahan ini sangat dadakan karena permintaan eommam jadi aku belum mempersiapkan apapun” ucap namja itu panjang lebar namun taeyeon sama sekali tak mendengarkannya.

Tuan Byun mendenguskan nafasnya pelan, setidaknya ia harus mengerti akan sikap yeoja yang baru saja menjadi istrinya itu. “Baiklah lakukanlah apa yang manurutmu bisa menghiburmu” Tuan Byun tersenyum lalu berlalu meninggalkan taeyeon yang masih saja bungkam.

Yeoja malang itu mendudukkan dirinya di sofa yang berada disampingnya. Setidaknya ia sedikit bisa menjernihkan fikirannya karena namja itu telah pergi.

“Sedang apa kau disini?” tanya seorang namja dengan nada antusias dari arah sampingnya. Taeyeon menatap namja ia tak kenal itu dengan tatapan redup andalannya sejak tadi pagi itu.

“Kau sudah lupa yah? Aku namja yang bertemu denganmu di gereja kemarin.” Kata baekhyun dengan riang andalannya.

Taeyeon hanya tersenyum seadanya, mana sempat ia mengingat kejadian sepele seperti itu jika masalahnya saja sangat besar.

Baekhyun menatap aneh taeyeon, “Kenapa kau ada disni? Dan mengapa kau memakai baju penngantin?”

“Dia ibu tirimu baekhyun, dan taeyeon baekhyun adalah anakmu mulai hari ini” ucap seorang namja paruh baya yang baru saja turun dari tangga.

Taeyeon sangat kaget, bagaimana mungkin namja yang seumuran dengannya bisa menjadi anaknya?

Sedangkan baekhyun tak usah ditanya lagi. Selain kaget yang luar biasa baekhyun juga merasakan sakit yang tak kalah besar dari rasa kagetnya. Bagaimana tidak yeoja yang dicintainya pada pandangan pertama menikah dengan appanya sendiri.

 

*To Be Continued . . .

Advertisements

70 thoughts on “[Freelance] Love is Not For My Husband (Chapter 1)

  1. jahat jahat jahat, ayah bacon, masag bapak ga mau ngalah ma anak, sih, anak masih jomblo gitu , ayahnya udah nikah 2 kali semumuran ma anaknya lagi, mbok yo dsijodohin ma baeki aja gitu , eommanya taeyeon juga jahat bgt sih #kok aku jadi ngomel2 ga jelas gini sih, hehehehhe kebawa emosi nih,, next yaa ff nya bgs

  2. nah lho kok aku kaya baca sinetron/? 😄 atau cuma aku yg ngerasa?
    Appanya si baek gk tau malu bener,ude tua bau tanah *DitabokBaekHyunXD masih pengen yg muda2 -.-” #tendang
    Nice Fanfic!
    Ditunggu chap 2 nya 🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s