[Freelance] Hasta La Vista Mi Angelito

Hasta La Vista Mi Angelito 3

Hasta La Vista Mi Angelito

(Selamat tinggal Malaikat kecilku)

By marianavivin

Starring :

Kim Taeyeon | Byun Baekhyun

Supporting :

Do Kyungsoo | Other

Genre :

Fantasy | Romance | Sad | Friendship

Length :

Oneshot

Rating :

PG13+

Disclaimer :

Cast milik Tuhan. Cerita milik saya. Kosakata bahasa Spanyol berasal dari Novel ‘Flavia de Angela’.

**

– Prolog Author-

Semburat warna jingga yang muncul di balik putihnya awan itu menjadi penanda bahwa sore sudah datang. Dua anak malaikat yang sedari tadi asik bermain di atas bukit juga sepertinya sadar bahwa waktu mereka untuk bermain hari itu sudah habis.

“Tae, coba lihat matahari itu”. Tunjuk Baekhyun sambil menunjuk surya yang sudah hampir tenggelam.

“Wah indah sekali Baek”. Balas Taeyeon dengan mata berbinar. Baekhyun tersenyum lebar melihat angela yang sering di panggilnya ‘Tae’ itu masih menatap takjub pemandangan yang sangat jarang mereka bisa saksikan.

“Kajja kita pulang. Nanti orang tuamu mencari”. Baekhyun menyerahkan tangannya ke arah Taeyeon yang sudah menyambutnya dengan santai. Mereka terus berpegangan tangan sambil terus merasakan halusnya awan menyentuh tangan dan sayap mereka.

Beberapa tahun kemudian

-Taeyeon-

Aku sudah hampir membuka pintu utama Universitas de Cielo ketika seseorang tiba-tiba menyentuh bahuku dari belakang. Sekilas aku melihat pantulan wajah orang itu di cermin. Dia rupanya.

“Byun Baekhyun!”. Teriakku sambil berbalik dan terus menggenggam tangannya yang tadi menyentuh bahuku. Dia memasang wajah kesakitan karena memang aku sedikit menggunakan tenaga ketika menggenggam tangannya.

“Tae lepaskan, sakit”. Protes Baekhyun sambil berusaha menarik tangannya. Aku menjulurkan lidah sebelumnya akhirnya mengakhiri kejahilanku tersebut.

“Makanya, jangan memegang bahu angela sembarangan”. Kataku sambil berkacak pinggang. Baekhyun menatapku dengan tatapan jengkel tapi sedetik kemudian dia sudah membukakan pintu yang tadi ingin kubuka dan memberiku kesempatan untuk lewat terlebih dahulu.

“Kau jahat sekali Senorita Taeyeon”. Balas Baekhyun sambil terus meniup pergelangan tangannya yang sedikit memerah.

Ilo siento – mianhae”. Ucapku sambil memandang Baekhyun dengan bersalah. Dia balas memandangku dengan senyumannya yang menyejukkan.

“Tidak apa-apa”. Jawab Baekhyun sambil mengacak rambutku pelan. Aku tersenyum kecil lalu merangkul Baekhyun seperti biasa yang sudah kami lakukan.

Ya. Aku dan Baekhyun sudah terbiasa melakukan hal ini. Tidak akan ada satupun malaikat yang akan mengangkat alis mereka atau menanyakan ada hubungan apa di antara diriku dan Baekhyun karena mereka sudah tahu jawabannya. Sejak kami bersekolah di Escuela– SMA Malaikat, Baekhyun sudah mengumumkan pada semua malaikat bahwa hanya dirinya yang boleh memiliki ku. Terdengar berlebihan memang tapi aku senang dengan itu. Aku dan Baekhyun sudah bersahabat sejak kecil. Setiap hari, sejak kecil, aku dan Baekhyun akan terbang ke titian pelangi utara. Menonton pertunjukkan orchestra dari pada angelo di Universitas de Arco atau pergi ke Cafe Orquidea yang mengapung di udara, dekat awan peniup angin. Benar-benar menyejukkan.

“Tae, bagaimana kalau pulangan nanti kita ke El Centro?”. Tanya Baekhyun ketika aku dan angelo itu sudah sampai di dalam kelas.

El Centro?”. Ulangku dengan antusias. El Centro adalah Ibu Kota negeri Malaikat. Hampir semua hiburan besar seperti bioskop atau pusat perbelanjaan ada di sana. Tidak seperti kota yang saat ini kami tinggali. Cientos de Estrella – Kota Ratusan Bintang. Sedikit sekali tersedia hiburan di kota kecil yang para malaikatnya selalu terlihat sibuk belajar setiap hari.

“Mmm, ottoke? Lagipula kau bilang, kau akan pergi berlibur ke tempat eonni mu kan selama liburan? Ajak juga Sooyoung dan Yuri, aku tahu kalian pasti sangat bosan selama minggu ujian ini”. Jawab Baekhyun sambil memandang ke arah pintu dimana ada dua angela yang baru saja masuk. Sooyoung de Angela dan Yuri de Angela. Dua malaikat yang sudah menjadi sahabatku sejak kecil, selain Baekhyun.

“Setuju”. Koor Sooyoung dan Yuri yang ternyata mendengar perbincaraan kami itu. Aku dan Baekhyun langsung menunjukkan jempol masing-masing dan bersiap-siap menghadapi ujian terakhir kami hari itu.

-Baekhyun-

“Apa-apaan ini?! Ini bohong kan?”. Tanyaku dengan frustasi sambil mengangkat tinggi surat yang di kirim dari dewan Parlemento. Eomma dan Kris hyung memandangku dengan perasaan bersalah. Tanpa perlu mendengar penjelasan keduanya aku langsung pergi ke kamar.

“Baekhyun!”. Teriak Kris dari luar kamarku. Tidak mungkin. Pasti ada kesalahan, Tidak mungkin appa melakukan kesalahan fatal seperti itu. Tidak mungkin appa berani mencuri uang negeri Khayangan.

“Baekhyun, buka pintunya”. Kali ini suara eomma yang terdengar. Tidak. Aku akan meluruskan semua ini. Besok. Di persidangan appa.

-Author-

“Setelah menilik bukti-bukti yang dikeluarkan oleh Pihak Kejaksaan Khayangan, dengan ini saya Philip de Angelo selaku Hakim Tertinggi Persidangan Khayangan memutuskan : Wu Li Fan de Angelo dinyatakan bersalah!”. Beberapa angelo yang berada di barisan sebelah kanan terlihat langsung berdiri dengan wajah tidak puas tanda menentang keputusan hakim.

“Tunggu!”. Semua malaikat yang berada di ruang sidang langsung berbalik ketika mendengar suara anak remaja itu. Kris yang sedari tadi hanya diam sambil menenangkan eommanya langsung terbelalak kaget ketika melihat Baekhyun maju mendekati meja sidang dengan De Magico yang sedang berpendar di genggamannnya.

“Baekhyun”. Ucap Kris pelan. Baekhyun menatap ke arah Kris sebentar lalu akhirnya menatap tajam ke meja sidang.

“Apa maumu Byun Baekhyun?”. Tanya Philip dengan nada rendah.

“Bebaskan appaku”. Jawab Baekhyun dengan nada dingin. Philip mengangkat alis lalu memandang ke arah Wu Li Fan yang sudah memandang takut ke arah Baekhyun.

“Maaf nak, appamu terbukti bersalah. Dewan sudah memutuskan”. Philip membenarkan letak kacamatanya lalu duduk kembali di kursi tingginya. Baekhyun memandang Philip dengan wajah keras. Pelan tapi pasti di angkatnya De Magico lalu mengucapkan satu mantra yang mungkin sampai sekarang terus di sesalinya. Walaupun dia tahu dia tidak akan pernah mengingatnya lagi

-Taeyeon-

“Mworagu? Yuri~ah kau pasti bercanda kan?”. Tanyaku sambil duduk dengan lemah ke kursi. Yuri yang melihatku seperti hampir jatuh itu langsung berdiri dan duduk di sebelahku.

“Aku tidak bercanda Tae. Baekhyun…dia sudah diasingkan ke bumi”. Seketika aku merasa langit di atasku runtuh. Tidak mungkin. Tanpa banyak berfikir lagi aku langsung terbang keluar menuju titian awan utara. Persimpangan antara dunia malaikat dan manusia. Aku harus menemui Baekhyun.

“Senorita Taeyeon, apa yang kau lakukan di sini?”. Tanya Young Min de Angelo selaku pengawas titian awan utara.

“Aku ingin pergi ke bumi oppa”. Jawabku dengan air mata tertahan. Young Min de Angelo mengangkat alisnya dengan bingung.

“Untuk apa”. Tanyanya pelan. Dengan sedikit bergetar aku menceritakan tentang Baekhyun yang seharusnya tidak perlu. Berita pengusiran itu jelas sudah didengar semua malaikat di khayangan.

“Tapi Taeyeon, kau tidak bisa pergi ke bumi tanpa persetujuan Senorita BoA de Angela”. Aku menatapnya dengan memelas.

“Oppa jeball. Jeball oppa. Aku janji hanya seminggu berada di sana, oppa jeball”. Aku mengenggam erat tangan Young Min. Berharap angelo itu mau memenuhi permintaanku.

“Kau boleh pergi Senorita Taeyeon. Tapi hanya seminggu sesuai janjimu”. Kepalaku langsung menoleh dengan cepat mendengar suara itu. Itu Kangta de Angelo. Suami dari BoA de Angela.

“Jeongmalyo?”. Ulangku tidak percaya. Kangta de Angelo mengangguk.

“Tapi ingat Taeyeon. Kau tidak boleh mengungkapkan identitasmu”. Aku mengangguk mantap dan tersenyum lebar menatap wajah angelo itu.

Di Bumi…

-Baekhyun-

“Baekhyun hyung palli”. Teriak Kyungsoo ketika aku masih sibuk mengunci pintu. Kyungsoo sudah bersiap di atas sepedanya dan terlihat sedikit kesal karena aku lambat.

“Arraso, sabar sebentar”. Jawabku sambil mengambil sepeda dan mulai mengatur keseimbanganku di alat transportasi murah itu. Sebentar kemudian aku dan Kyungsoo sudah mulai melewati beberapa jalan menuju tempat kami bekerta part-time di sebuah restoran bernama ‘Jung Sister’.

Kling

Suara bel pintu yang sering kudengar itu langsung menyambut ketika seorang yeoja keluar dari restoran dengan wajah tertutup topi. Krystal Jung. Adik Jessica noona yang juga terkadang ikut membantu di restoran kakaknya.

“Annyeonghaseo”. Sapaku pelan. Krystal hanya mengangguk lalu mulai menyetop taksi yang lewat sementara aku terus memperhatikannya. Entah kenapa Krystal mengingatkanku pada seseorang yang sampai saat ini tidak kuketahui.

“Hyung~~ palli!”.

-Author-

Taeyeon menginjakkan kakinya pada trotoar jalan yang tertutup air. Baju miliknya juga basah dan beberapa helai sayapnya juga terbang jatuh ke tanah tapi kemudian langsung menghilang. Sayap yang masih menempel di punggungnya pun perlahan-lahan menghilang hingga tidak tampak sama sekali. Taeyeon tahu pasti ini salah satu cara malaikat beradaptasi dengan lingkungan manusia di bumi.

“Gweancanayo? Kau kebasahan”. Taeyeon langsung menolehkan kepalanya mendengar suara yang sangat familiar di telinganya itu.

“Baekhyun?”. Ucap Taeyeon pelan sambil memandang namja yang menatapnya dengan bingung itu.

“O?! Bagaimana kau bisa tahu namaku?”. Tanya namja yang ternyata Baekhyun tersebut. Taeyeon langsung mengucek matanya berkali-kali sampai akhirnya dia yakin bahwa namja di depannya saat itu adalah Byun Baekhyun.

“Kau benar-benar Baekhyun”. Ucap Taeyeon sambil menyentuh wajah Baekhyun. Baekhyun segera menjauhkan dirinya dari Taeyeon.

“Nuguya?”. Tanya Baekhyun lagi. Taeyeon menghentikan aksinya dan menatap Baekhyun dengan bingung.

“Kau tidak ingat padaku?”. Tanya Taeyeon balik sambil menunjuk dirinya sendiri. Baekhyun mengangkat alis kemudian menggeleng dengan pelan.

-Baekhyun-

Siapa yeoja ini? Tiba-tiba saja dia menyentuh wajahku dengan tangannya yang harus kuakui…membuatku sangat merasa nyaman. Seperti aku pernah merasakannya dulu. Dan dia juga tahu namaku.

“Siapa…siapa namamu?”. Tanyaku ketika yeoja itu hanya tertunduk diam setelah aku menjauhkan diri darinya. Dia tidak menjawab tapi sebentar kemudian aku melihat bahunya bergetar.

“Ya…gweancana? Kenapa kau menangis?”. Tanyaku panik ketika sadar ada beberapa tetesan air mata yang jatuh dari wajah yeoja itu. Dia tidak menjawab namun terus-terusan terisak dan itu sungguh membuatku panik setengah mati.

“Ssshhh uljima…mianhae. Uljima jeball”. Setelah aku mengatakan hal itu adegan yang selanjutnya kulihat seperti menjadi lambat. Tiba-tiba saja tubuh yeoja itu menjadi goyah dan hampir menyentuh genangan air kalau saja tidak kutahan. Astaga, apa yang harus kulakukan??.

-Taeyeon-

Aku berusaha membuka mataku yang terasa sembap. Juga berat. Setelah berhasil menemui Baekhyun di bumi tapi ternyata namja itu tidak mengingatku sama sekali langsung membuat hatiku hancur. Apalagi ketika aku sadar dimana diriku sekarang. Aku dirumah namja itu.

“Kau sudah sadar?”. Tanya seseorang yang menatapku dari atas. Aku berusaha membuka mata dan sedikit bingung melihat wajah seorang namja yang mirip dengan Baekhyun. Sungguh. Sangat mirip. Tapi jelas aku bisa mengenali apa namja itu Baekhyun atau bukan.

“N…ne”. Jawabku sambil berusaha bangkit. Namja itu membantuku dengan memegang lengan dan punggungku lalu mengatur bantal agar enak di pakai bersandar.

“Na neun Do Kyungsoo imnida”. Ucap namja bernama Kyungsoo itu sambil membungkukan badan rendah di depanku lengkap dengan sebuah senyuman yang sangat manis.

“Na neun…Taeyeon imnida. Kim Taeyeon”. Balasku sambil menundukkan kepala.

“Tunggu sebentar ya, kurasa Baekhyun hyung sudah selesai membuatkan bubur untukmu”. Ucap Kyungsoo lagi lalu berjalan pelan menuju dapur yang sedikit terlihat dari tempat aku berbaring.

-Kyungsoo-

Harus ku akui yeoja yang tadi dibawa ‘pulang’ oleh Baekhyun hyung sangat cantik. Sungguh. Sangat cantik sampai-sampai ketika pertama kali melihatnya aku tidak bisa berkata-kata. Dia seperti seorang…malaikat.

Hyung, Taeyeon sudah sadar”. Ucapku ketika melihat Baekhyun hyung masih sibuk menuang bubur ke dalam mangkok. Baekhyun hyung menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa ucapanku tadi benar adanya.

“Taeyeon?”. Ulangnya pelan sambil menatapku. Aku mengangguk lalu ikut memandang ke arah Taeyeon yang masih sibuk bermain dengan selimut.

“Mmmm, namanya Taeyeon. Kim Taeyeon”. Kulihat Baekhyun hyung seperti berfikir kemudian dengan cepat dan tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya.

“Wae hyung?”. Tanyaku bingung.

“Anio, gweancanayo…ayo kita bawa bubur ini untuknya”.

-Baekhyun-

Taeyeon. Kim Taeyeon. Untuk beberapa saat setelah Kyungsoo mengatakan hal itu, aku merasa sebuah adegan film tengah berputar di dalam otakku. Berputar dengan sangat cepat sampai aku tidak bisa memperhatikannya dengan jelas. Ada apa ini?.

“Ini bubur untukmu”. Ucapku sambil duduk di sofa panjang tempat Taeyeon berbaring. Taeyeon masih menatapku dengan tatapan yang sama seperti yang tadi diberikannya ketika di halte sementara Kyungsoo sedang menuangkan air minum di dalam gelas.

Gracias”. Ucapnya pelan walaupun aku bisa mendengarnya dengan jelas bahwa dia mengucapkan terima kasih. Hey tunggu, bagaimana bisa aku mengerti apa yang diucapkannya?.

“Maksudku…gomawo”. Lanjutnya lagi dengan cepat lalu segera menyendokkan sesendok bubur ke dalam mulutnya. Dari ekor mataku bisa kulihat Kyungsoo sudah berdiri di belakang dengan gelas penuh air.

“Kyungsoo~ah, tolong temani dia sebentar…aku mau mandi”.

-Author-

Ruang tamu berukuran 6×7 meter itu terasa sunyi untuk beberapa saat. Tidak ada perbincangan yang terjadi antara dua orang dalam ruangan tersebut. Sampai akhirnya…

“Taeyeon~ssi”. Panggil Kyungsoo yang sibuk mengutak-ngatik channel televisi di hadapannya. Taeyeon yang sudah selesai meminum obat dari Kyungsoo hanya mengangkat kepalanya dan menatap Kyungsoo dengan tatapan kosong.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”. Tanya Kyungsoo rendah. Taeyeon mengerjapkan matanya sekali lalu mengangguk pelan.

“Bagaimana kau bisa mengenal Baekhyun hyung?”. Tanya Kyungsoo lagi sambil menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Suara gemercik air samar-samar terdengar dari dalam. Taeyeon mengikuti pandangan Kyungsoo lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika pintu itu tiba-tiba terbuka. Baekhyun keluar dengan rambut setengah basah juga sebuah handuk berwarna biru yang terlingkar di lehernya.

“Apa yang kalian berdua bicarakan?”. Tanya Baekhyun sambil menatap Kyungsoo dan Taeyeon bergantian.

“Anio hyung…eobso”. Jawab Kyungsoo dengan tawa sumbang yang membuat Baekhyun menaikkan alisnya. Taeyeon yang sedari tadi hanya duduk di atas sofa tiba-tiba langsung bangkit berdiri walaupun untuk sepersekian detik tubuhnya sempat goyah dan hampir jatuh jika Baekhyun tidak segera menahannya.

“Gweancana?”. Baekhyun menatap Taeyeon dengan khawatir sementara Kyungsoo sudah ikut berdiri di samping Taeyeon.

“Aku harus pergi”. Ucap Taeyeon sambil menarik tangannya yang masih di genggam Baekhyun. Kyungsoo yang berada di belakang Taeyeon langsung meraih tangan yeoja itu dan membuat Taeyeon berbalik.

“Kemana? Kondisimu masih lemah”. Ucap Kyungsoo pelan. Taeyeon menggeleng lalu kembali menarik tangannya yang sedang di genggam oleh Kyungsoo.

“Tae”.

-Taeyeon-

“Tae”. Aku langsung menoleh ketika mendengar suara rendah Baekhyun menyebut nama panggilan yang memang sering di gunakannya untuk memanggilku.

“Mworagu?”. Ulangku cepat. Baekhyun menatapku dengan bingung begitu juga dengan Kyungsoo yang hanya bisa memandangiku dan Baekhyun bergantian.

Hyung, kau barusan memanggilnya… Tae”. Ucap Kyungsoo pelan. Baekhyun langsung memandangi Kyungsoo dengan tatapan yang masih sama. Apa-apaan ini??? Apa Baekhyun benar-benar tidak ingat padaku??.

“Taeyeon~ssi, kenapa kau tidak menginap di sini saja?”. Tanya Baekhyun memecah keheningan yang tercipta setelah Kyungsoo mengatakan kalimat terakhirnya. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan dan tiba-tiba mataku menangkap sebuah foto yang terpajang di atas meja kecil.

“Siapa yeoja ini?”. Tanyaku sambil menunjuk seorang yeoja kecil yang berpose di depan kamera dengan membentuk jarinya menjadi huruf ‘V’ . Tentu saja aku berpura-pura. Aku tahu siapa yeoja kecil itu! Itu aku! Itu fotoku dan Baekhyun yang diambil oleh Sooyoung ketika kami bermain di titian awan selatan. Melihat berbagai jenis burung merpati yang punya sayap seputih awan.

“Kau mengenalnya?”. Tanya Kyungsoo balik yang sudah maju mendekati tempatku berdiri sementara Baekhyun tetap berdiri di belakang. Aku mengangkat alis karena merasa ada maksud tersembunyi dalam pertanyaan Kyungsoo tadi. Kyungsoo langsung menoleh ke belakang untuk melihat Baekhyun sekilas lalu kembali menatapku dan berbicara dengan nada rendah.

“Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba menceritakan ini padamu, tapi…sewaktu Baekhyun hyung pertama kali tiba di sini, kondisinya benar-benar menyedihkan. Dia hanya mengenakan satu stel pakaian. Di dalam tasnya juga hanya ada benda-benda kecil tidak penting termasuk foto itu. Dia bilang, hanya foto itu yang di bawanya karena dia pikir dia akan bisa mengingat jati dirinya lewat foto itu, tapi…sampai sekarang dia tidak pernah mengingatnya”. Kyungsoo mengakhiri cerita singkatnya sambil menatap Baekhyun lagi dengan tatapan kasihan sementara Baekhyun hanya menatap kosong ke arah lantai. Mungkinkah ini bisa menjadi cara untuk membuat Baekhyun mengingatku lagi?.

“Aku tahu siapa dia”.

-Baekhyun-

Aku hanya bisa menatap lantai putih yang bersih itu dengan tatapan kosong. Samar-samar aku bisa mendengar Kyungsoo berbicara pada Taeyeon mengenai masa laluku. Ya. Itulah diriku yang sebenarnya. Aku tinggal dengan Kyungsoo baru 1 bulan yang lalu dan itupun terpaksa karena memang aku tidak punya tempat sama sekali untuk tinggal. Ketika pertama kali menginjakkan kakiku di Korea, aku hanya bisa duduk di halte bus tempat tadi aku bertemu Taeyeon. Dan kondisiku memang benar-benar menyedihkan. Saat itu aku hanya memakai sebuah kaus hitam dan celana selutut, tanpa alas kaki. Di bahu kiriku tergantung sebuah tas yang sangat ringan karena isinya hanya benda-benda kecil tidak berguna kecuali sebuah foto yang baru saja di tanyakan Taeyeon.

“Aku tahu siapa dia”. Aku langsung beringsut maju setelah Taeyeon menyelesaikan kalimatnya tersebut.

“Mwo? Jeongmalyo?”. Tanyaku sambil mencengkram pelan lengan yeoja itu. Taeyeon memandangku dengan tatapan yang sulit di baca lalu dia mengangguk.

“Tapi…bagaimana bisa kau mengenalnya?”. Timpal Kyungsoo. Taeyeon beralih menatap Kyungsoo lalu kembali memandangku.

“Aku tidak bisa mengatakan alasannya, tapi yang jelas aku memang mengenal yeoja ini”. Cengkraman tanganku pada lengan Taeyeon langsung kulepas ketika mata yeoja itu menatap lengannya dengan wajah meringis.

“Kau tidak berbohong kan?”. Tanyaku memastikan. Taeyeon langsung berkacak pinggang dan menatapku dengan tatapan menjatuhkan. Aneh. Aku merasa familier dengan postur dan mimik Taeyeon tersebut. Ada sesuatu dalam diri Taeyeon yang membuat otakku terus-terusan memutar sebuah ‘film pendek’ yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa itu.

“Kau mau memberitahuku?”. Aku kembali bertanya pada Taeyeon ketika sadar yeoja itu masih sibuk memandangi foto yang terselip di jari telunjuk dan jempolnya tersebut.

“Mmm, tapi dengan satu syarat”.

-Author-

“Syarat? Syarat apa?”. Tanya Baekhyun ketika Taeyeon menjawab pertanyaannya.

“Kau harus mengajakku berjalan-jalan keliling selama 7 hari kedepan, dan di hari ke-tujuh…aku akan memberitahumu siapa yeoja ini”. Baekhyun mengangkat alisnya dengan tinggi ketika mendengar jawaban Taeyeon. Kyungsoo yang berada di belakangnya pun langsung beringsut maju dan menatap Taeyeon dengan bingung.

“Wae? Kenapa kau tidak langsung saja memberitahuku?”. Tanya Baekhyun lagi. Taeyeon meletakkan foto tadi kembali di atas meja lalu langsung menatap Baekhyun dengan tatapan tajam sekaligus memohon.

“Karena…aku yakin di hari ketujuh kau akan bisa mengingatnya sendiri”. Jawab Taeyeon pelan dan rendah. Baekhyun langsung memandang Kyungsoo yang juga tidak mengerti dengan maksud Taeyeon walaupun pada akhirnya namja itu menyetujuinya dan meminta Taeyeon untuk tidak mengingkari perkataannya.

Day 1

“Kita mau kemana hari ini?”. Tanya Taeyeon ketika pagi-pagi sekali Baekhyun membangunkannya dan mengatakan akan membawa Taeyeon ke suatu tempat. Baekhyun yang masih sibuk menurunkan sepeda tidak menjawab pertanyaan Taeyeon dan membuat yeoja itu mendengus pelan.

“Kau akan tahu nanti”. Sahut Baekhyun yang sepertinya menyadari dengusan Taeyeon barusan di tujukan padanya.

“Naik”. Ucap Baekhyun yang sudah duduk di kursi depan sepeda dan memberi isyarat pada Taeyeon untuk duduk di kursi belakang sepedanya. Taeyeon memandang sepeda Baekhyun dengan ragu tapi kemudian Baekhyun memberikannya sebuah senyuman yang membuatnya langsung merasa nyaman dan akhirnya duduk di kursi belakang sepeda.

“Kau tidak akan membawa ku ke tempat yang aneh-aneh kan?”. Tanya Taeyeon ketika sepeda yang di kayuh Baekhyun sudah melewati dua belokan yang di penuhi pejalan kaki. Sepeda itu terus melaju hingga akhirnya berhenti di sebuah taman bermain yang di penuhi anak kecil. Baekhyun mengunci sepedanya di suatu sudut taman kemudian memberi Taeyeon isyarat agar mau mengikutinya.

“Kenapa tiba-tiba kita ke sini?”. Tanya Taeyeon lagi.

“Gweancana, sudah lama aku tidak ke sini. Aku biasanya ke sini sore hari. Melihat matahari terbenam sambil duduk di padang rumput itu, benar-benar menyejukkan”. Baekhyun menunjuk sebuah padang rumput hijau yang berada di ujung taman. Taeyeon mengikuti arah tunjukkan Baekhyun dan menyadari ada kesamaan antara hal tersebut dengan sesuatu yang sering ia dan Baekhyun lakukan dulu.

“Kenapa kau suka melihat matahari terbenam?”. Tanya Taeyeon sambil memperhatikan anak-anak kecil yang asik bermain satu sama lain.

“Molla. Ketika pertama kali aku mengunjungi taman ini adalah sore hari dan saat itu matahari sedang terbenam, dan tiba-tiba saja aku menyukainya. Seperti mengingatkanku pada suatu hal yang dulu pernah kulakukan”. Tanpa sadar Taeyeon tersenyum. Ternyata Byun Baekhyun de Angelo tidak benar-benar melupakannya.

“Aku akan membawamu lain kali untuk melihat matahari terbenam”. Ucap Baekhyun lagi sambil menatap Taeyeon yang sudah mengangguk kecil.

“Bawa aku di hari ketujuh”. Ucap Taeyeon tiba-tiba. Baekhyun menghentikan gerakan kakinya yang sedang bergerak maju dan menatap Taeyeon dengan bingung.

“Mmm, bawa aku melihat matahari terbenam itu di hari ketujuh, hari dimana aku akan memberitahumu mengenai identitas yeoja dalam foto itu”.

“Arrasso. Kau aneh-aneh saja Tae”.

-Taeyeon-

Lagi. Dia kembali menyebutku ‘Tae. Mungkin ini teori yang pernah dikemukakan Professor Nayale de Angelo. Teori mengenai keajaiban cinta yang tumbuh di hati para malaikat. Beliau mengatakan bahwa ketika seorang angelo sudah menetapkan hatinya pada seorang angela, otomatis angelo itu akan terus mengingat si angela bahkan ketika ia di cuci otaknya oleh Diablo, bangsa setan.

Day 2

Kali ini Baekhyun membawaku ke suatu tempat yang di namakan Dongdaemun. Sebuah pusat perbelanjaan besar mirip El Centro, hanya saja para penjual di sini tidak bisa terbang ke sana kemari untuk menjual dagangan mereka melainkan hanya diam di suatu tempat yang dinamakan ‘kedai’.

“Kau mau mencoba-nya? Ini sangat enak”. Tanya Baekhyun sambil mengangkat sebuah makanan lonjong kecil berwarna putih dan kenyal yang di siram dengan saus berwarna orange yang kental. Kalau tidak salah namanya ‘Tteoppoki’.

“Enak”. Ucapku setelah makanan itu masuk ke dalam mulutku. Baekhyun tersenyum lebar lalu kembali mengajakku berkeliling.

Day 3

“Byun Baekhyun~ aku lelah”. Keluhku sambil menjatuhkan diri di anak tangga yang entah ke berapa. Baekhyun yang berada 4 tangga di depanku langsung menoleh dan turun dengan keringat bercucuran di wajahnya.

“Ayolah Tae, sedikit lagi”. Ucapnya sambil menyentuh bahuku. Aku menatapnya dengan tatapan tidak yakin walau akhirnya aku harus mengikutinya karena tidak ingin di tinggal sendiri.

“Apa nama tempat ini tadi?”. Tanyaku ketika Baekhyun mengatakan bahwa kami sudah hampir sampai.

“Namsan Tower”. Jawab Baekhyun tepat ketika kami sampai di puncak tangga yang sudah menyuguhkan pemandangan ramai orang-orang yang berlalu lalang dan juga pagar tanaman yang dipenuhi oleh gembok-gembok.

“Apa ini?”. Tanyaku takjub. Baekhyun mendekatiku dan ikut menyentuh salah satu gembok yang bertuliskan ‘Park Chanyeol’ dan ‘Kwon Yuri’.

“Lock Love. Setiap pasangan yang datang ke sini pasti akan menulis nama mereka di masing-masing gembok, mengaitkannya satu sama lain, menguncinya di pagar ini lalu membuang kuncinya ke arah sana”.

“Mwo? Tapi itu berarti, gemboknya tidak bisa dibuka kan?”. Baekhyun terkekeh kecil mendengar ucapanku.

“Memang itu tujuannya”.

-Baekhyun-

Day 4

Ini sudah hari ke empat aku membawa Taeyeon berjalan-jalan dan semakin lama aku merasa sebuah serpihan memori yang kurasa dulu sempat hilang di otakku tiba-tiba kembali tersusun. Setiap hal yang kulakukan bersama Taeyeon seperti sebuah puzzle yang perlahan tapi pasti tersusun rapi di dalam otakku.

“Tiket pertunjukkan musik?”. Tanya Taeyeon ketika aku menunjukkan dua buah tiket berwarna pink bertuliskan ‘EXOSHIDAE Musical’ di atasnya. Aku mengangguk lalu menyerahkan tiket-tiket itu pada Taeyeon.

“Kudengar grup musical ini hanya akan sesekali mampir di daerah sini, jadi aku memutuskan untuk membawamu ke sana, ottoke?”. Taeyeon langsung mengangguk cepat sambil tersenyum lebar. Manis sekali.

Beberapa jam kemudian…

“Ini minumanmu”. Ucapku sambil menyerahkan segelas bubble tea pada Taeyeon yang sudah menatap minuman itu dengan bingung, – walau akhirnya dia tetap meminumnya juga.

“Ini benar-benar menyenangkan”.

-Taeyeon-

Day 7

Tidak terasa hari ini sudah menjadi hari terakhir ku untuk bersama Baekhyun di bumi. Ya. Ini sudah hari ketujuh yang berarti aku sudah harus kembali ke surga sebelum jam 12 malam nanti atau aku akan di hukum oleh pihak Parlemento.

“Tae”. Panggil Baekhyun ketika aku masih sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahu Baekhyun mengenai sosok yeoja dalam foto seminggu yang lalu tersebut.

“Wae?”. Tanyaku saat Baekhyun sudah ikut bergabung denganku di kursi teras yang terlihat jelas dari arah jalan.

“Kita jadi ke taman untuk melihat matahari terbenam kan?”. Tanyanya balik.

“Tentu saja, kau pasti akan membawaku ke sana kan?”. Baekhyun mengangguk pelan lalu mengacak rambutku dengan sayang. Ingin rasanya saat itu juga aku memeluknya dan mengungkapkan identitasku serta masa lalu Baekhyun, tapi aku ingat perkataan Kangta De Angelo bahwa aku tidak boleh mengungkapkan identitasku sebagai seorang malaikat di bumi.

Sore hari

“Sampai”. Ucap Baekhyun sambil menarik tuas rem sepedanya dengan erat. Aku langsung meloncat turun dan membersihkan debu yang sempat menempel di gaun yang kupakai sore itu. Gaun yang sama seperti yang kupakai ketika aku pertama kali turun ke bumi untuk menemui Baekhyun.

“Kajja”. Lanjut Baekhyun sambil meraih tanganku dan menggiringku menuju padang rumput hijau yang terletak di ujung taman yang sudah agak sepi tersebut.

-Baekhyun-

Jujur saja ketika aku menggenggam tangan Taeyeon dan menarik yeoja itu untuk mengikutiku menuju padang rumput yang sering kugunakan untuk menunggu matahari terbenam, aku merasa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang membuatku merasa bahwa saat itu, setelah melihat matahari terbenam dan Taeyeon mengungkapkan sosok yeoja dalam foto yang seminggu yang lalu ia katakan bahwa ia mengenal sosok tersebut, Taeyeon akan pergi jauh dariku. Dan jujur saja, aku tidak ingin hal itu terjadi. Walaupun waktuku bersama Taeyeon sangat singkat, tapi berkat yeoja itu, aku merasa aku kembali mengingat jati diriku yang sebenarnya.

“Byun Baekhyun~ kau melamun”. Ucap Taeyeon membuyarkan lamunanku. Kami sudah sampai di padang rumput itu sejak 10 menit yang lalu dan beberapa menit lagi, matahari yang sedang kami berdua pandangi akan tenggelam di ufuk barat.

“Baekhyun~ssi, kupikir ini saatnya aku memberitahumu siapa yeoja dalam foto itu”. Aku langsung mendongak dan mendapati Taeyeon sudah berdiri sambil menatap ke arah matahari. Aku mengikuti arah pandangannya dan tiba-tiba saja aku merasa masuk ke dalam sebuah dimensi lain yang menampilkan sebuah ‘film pendek’. Namun tidak seperti biasanya, ‘film’ tersebut terlihat jelas dan berputar dengan kecepatan film-film biasa. Dalam film itu aku melihat diriku yang sedang menggenggam tangan seorang yeoja yang mempunyai sepasang sayap di punggungnya, persis seperti yang kumiliki. Tunggu, aku merasa familier dengan wajah yeoja itu…

“Tae, kaukah itu?”. Tanyaku ketika sadar aku sudah keluar dari dimensi tersebut. Taeyeon masih berdiri dengan posisinya semula namun kali ini dia menatapku dengan tatapan sedih.

“Kau mengingatku?”. Tanyanya balik. Aku langsung bangkit berdiri dan mendekati Taeyeon yang justru langsung melangkah mundur.

“Tae…”. Ucapku lirih. Aku ingat sekarang. Aku ingat semua. Tentang masa lalu-ku sebagai seorang…malaikat.

-Author-

Semburat warna jingga yang muncul di ufuk barat itu menjadi tanda bahwa sang surya sudah akan menghilang, namun dua orang yang sedari tadi hanya diam membisu di tempat mereka masing-masing sepertinya tidak menyadari hal itu karena mereka justru terus terdiam sambil menatap satu sama lain dengan intens.

“Itu aku Baek. Kim Taeyeon”. Ucap Taeyeon lirih menahan air mata. Baekhyun balas menatap Taeyeon dengan tatapan tidak percaya sementara tiba-tiba saja sebuah cahaya terang melewati tubuhnya dan berhenti tepat di depan Taeyeon.

“Waktumu sudah habis, Senorita Taeyeon de Angela…kau harus segera pulang”. Ucap suara berat yang langsung menghilang bersamaan dengan lenyapnya cahaya terang tersebut.

“Tae, kenapa…kenapa kau tidak memberitahuku dari awal? Kenapa?”. Tanya Baekhyun terbata-bata. Taeyeon tersenyum samar.

Ilo siento. Aku dilarang memberitahu identitasku, tapi…kau mengingatnya sendiri. Gracias Byun Baekhyun de Angelo..ah bukan maksudku Terima kasih Byun Baekhyun untuk 7 hari berharga yang sudah kau berikan padaku. Aku tidak akan pernah melupakannya. Sama seperti kau yang tidak pernah melupakanku”.

“Tae, kau tidak akan pergi kan? Tidak ketika aku sudah kembali mengingatmu?”. Taeyeon menggeleng dan hal itu membuat sebutir air mata jatuh di pipi Baekhyun.

“Aku harus kembali. Melihatmu dalam keadaan baik-baik saja di bumi sudah cukup bagiku. Sekarang waktunya aku pergi. Sekali lagi, terima kasih. Aku akan selalu mengawasimu dari surga”.

-Epilog Baekhyun-

Sudah 1 minggu sejak pertemuan terakhirku dengan Taeyeon dan aku masih belum bisa melupakan yeoja itu. Kenapa aku bisa begitu bodoh. Kim Taeyeon adalah satu-satunya yeoja yang kucintai. Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?.

Hyung palli”. Sahut Kyungsoo yang sudah duduk di atas sepedanya. Aku yang masih sibuk mengunci pintu sambil terus memikirkan Taeyeon langsung mengambil sepeda dan menurunkannya ke jalan. Tanpa sadar aku berbalik ke arah tempat duduk belakang. Tempat dimana Taeyeon sering duduk. Diam-diam aku bisa membayangkan wajah Taeyeon yang tersenyum sedang menatapku dari surga.

Hasta la vista mi angelito – Selamat tinggal malaikat kecilku”.

END.

*Balik lagi dengan Baeki dan Taeng!! Kekeke. FF ini cast aslinya itu LuYoon, tapi karena author kurang kerjaan, jadi castnya diubah jadi BaekYeon. Maaf kalau ada typo dan alur cerita yang gaje. Maaf juga belum bisa membuat sequel untuk Peter Pan, ide ceritanya lagi di susun, kekeke doakan cepat selesai yaa. Oia satu lagi info buat reader, uname lain author itu Lee Yoon Ji, jadi kalo misalnya nemu ff yang alur ceritanya sama dengan ini dan nama authornya Lee Yoon Ji, itu berarti FF-nya author juga yaa..keke. Annyeong!!

18 thoughts on “[Freelance] Hasta La Vista Mi Angelito

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s