[Freelance] Love It Is (Chapter 2)

Love it is

Title : Love It Is

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG 17

Genre : Romance, Fantasy, Sad

Main Cast : Taeyeon, Baekhyun

Other Cast : Lihat sendiri yah J

Author Note : Karena imajinasiku masih minim banget jadi dimaklumi aja kalau ada yang kurang berkenan, dan juga aku lagi malas untuk ngomong panjang lebar #plak

 

Happy reading

. . . . . . . . . .

“Kau namja yang tadi kan?” tanya taeyeon tak percaya.

Namja itu tak menjawab pertanyaan taeyeon melainkan menunjukkan tingkah aneh yang membuat taeyeon sangat bingung. Namja itu bahkan bersuara dan bergerak tidak teratur seperti orang gila, taeyeon memiringkan wajahnya menatap namja yang sedang menunduk bermain dengan pulpen yang dia jadikan seolah seperti manusia.

“Ada apa denganmu sebenarnya? Apakah kau sedang sakit?” taeyeon memegang dahi namja itu dengan lembut, namja itu lagi- lagi mengacuhkannya. ‘Bagus taeyeon kau sekarang terlihat seperti orang yang mengejar cintanya’ taeyeon dengan kesal menjauhkan diri dari namja itu.

Gadis itu berusaha memfokuskan diri ke pelajaran namun selalu saja pandangannya mengarah kepada orang aneh yang sedang bermain asyik di sampingnya. Dengan jahil taeyeon merebut pulpen miliknya.

Bruak . .

“HAAA . . . Jangan ambil pulpenku” namja itu mengamuk memukul meja membuat semua orang kaget. Bahkan taeyeon segera menjauh dari namja itu karena ketakutan.

Namja itu hendak mengejar taeyeon yang ketakutan, tapi ia berhasil diberhentikan oleh teman- temannya untuk melindungi taeyeon, “Hei byun baekhyun jangan mengganggunya” Ucap namja yang tadi mengantar taeyeon.

“Sudah cukup semuanya diam” kelas yang tadinya gaduh menjadi sunyi ketika songsaenim boa mengeluarkan suara.

Songsaenim boa menatap baekhyun damai, “Ada apa baekhyun?” tanyanya pelan, sepertinya songsaenim sudah sangat mengerti akan sikap baekhyun.

Siswa yang memegangi baekhyun sejak tadi perlahan melepas pegangannya, “Ada yang merebut pulpenku” ucap baekhyun tapi tak menatap songsaenim melainkan menatap bajunya yang sedari tadi ia mainkan.

Songsaenim boa menatap taeyeon yang bersembunyi di belakang namja tadi, “Chanyeol bawa taeyeon ke UKS untuk menenangkan diri dan jelaskan padanya tentang baekhyun”

Chanyeol tersenyum lebar menampakkan jejeran giginya yang indah, “Dengan senang hati.”

“Taeyeon sekarang berikan kembali pulpen baekhyun” taeyeon tak berani memandang baekhyun sehingga chanyeol dengan sigap mengambil pulpen di tangan taeyeon lalu memberikannya pada baekhun.

“Baiklah taeyeon, ayo sekarang kita ke UKS” Chanyeol merangkul taeyeon yang masih shock, yah maklum saja ia belum pernah melihat kejadian seperti tadi sebelumnya. apalagi ia sangat dimanja dan tak pernah terkena marah, jadi pantas saja ia akan sangat kaget jika melihat seseorang mengamuk.

“Sekarang baekhyun duduk yah ?” songsaenim mengarahkan baekhyun untuk duduk, dengan sigap baekhyun menurutinya.

“Kalian juga semua duduk kembali” dengan nada yang jauh berbeda songsaenim menyuruh siswa lain untuk kembali duduk. Dan detik berikutnya pelajaran pun dimulai seperti biasa. Entah mengapa wajah baekhyun berubah menunjukkan ekspresi khawatir walau tentunya tak ada yang menyadarinya.

 

. . . . . . . . .

“Jangan terlalu banyak berfikir” ucap chanyeol ketika sepanjang perjalanan mendapati taeyeon tak penah mengeluarkan suara yang menandakan bahwa ia sedang berfikir keras.

Taeyeon mengangkat kepalanya menatap namja tinggi disampingnya, “Aku hanya heran pada sikap namja tadi” ucap taeyeon.

“Oh baekhyun?” taeyeon segera menatap chanyeol kembali dan mengangguk. Dari pandangannya kepada chanyeol terlihat jelas bahwa gadis itu tengah menunggu jawaban dari chanyeol yang pasti mengetahui segalanya tentang baekhyun.

Helaan nafas kasar yang chanyeol keluarkan sedikit membuat taeyeon khawatir, “Sebaiknya kau jangan dekat- dekat dengannya” kata chanyeol menatap taeyeon yang sedang duduk di atas kasur di UKS.

Taeyeon menatap chanyeol bingung seolah bertanya ‘mengapa?’ chanyeol mencubit pipi taeyeon gemas melihat ekspresi lucu taeyeon. “YA! Ini sakit tau” kata taeyeon memegang pipinya.

Chanyeol hanya terkekeh, “Baekhyun sedikit berbahaya jadi jangan mendekatinya. Dia itu punya penyakit” kata chanyeol kembali kepada topik awal mereka.

Taeyeon mengangguk mengerti, “Tapi kalau memang baekhyun sakit mengapa kita harus menjauhinya? Sebagai teman kita harus menjaganya bukan?” tanya taeyeon meminta penjelasan yang lebih dari chanyeol.

Chanyeol mengusap kepala taeyeon, membuat taeyeon sedikit mundur karena risih. “Masalahnya penyakitnya tidak biasa taeyeon. Dia autis” kata chanyeol sedikit ragu.

Taeyeon terperanjat, “Kau bercanda kan? Tidak mungkin” ia me-reka ulang kejadian dirinya bersama baekhyun sewaktu berlari bersama. ‘Tidak mungkin orang yang autis bisa setenang tadi bersamaku. Bahkan ia sempat memelukku’ taeyeon bersemu merah secara tida- tiba, getar kasih badai kembali menerpanya yang membuat gadis itu menunduk setelah mengingat kejadian tadi.

“Kau tak apa?” chanyeol mencoba merasakan panas badan taeyeon dengan memegang jidat gadis itu.

Taeyeon tersenyum, “Aku tidak apa chanyeol, bisakah kau meninggalkanku sebentar saja?” taeyeon tak mengerti kata apa yang baru saja keluar dari bibirnya, secara spontan kata itu keluar.

Chanyeol menatapnya heran, tapi namja itu hanya bisa menurut saja. Toh dia siapa yang bisa mengatur taeyeon, “Baiklah, kalau kau membutuhkan sesuatu kau bisa meminta tolong padaku” namja itu kemudian berlalu dari pandangan taeyeon.

Bisikan angin ditelinga taeyeon seolah memerintahkannya untuk memejamkan matanya. Rasa kantuk yang menderanya pun tak dapat tertahan lagi sehingga gadis itu merebahkan diri ke kasur putih itu.

Senyuman manis seorang namja disamping taeyeon, yang entah berasal dari mana. Namja yang tidak lain adalah baekhyun itu meraih tangan taeyeon yang sedang terpejam, “Apakah kau ketakutan? Mianhae aku tak bermaksud seperti itu” iris mata indah namja itu menunjukkan pandangan penuh penyesalan.

Suara hentakan kaki yang tiba- tiba saja mendekat membuat tubuh namja itu menghilang dalam sekejap. “Taeyeon” chanyeol berusaha membangunkan taeyeon.

Gadis itu membuka matanya. Rasa aneh itu kembali menerpa jiwanya, hembusan angin teduh memasuki pori- pori jiwanya yang membuat taeyeon merinding, ia memang terlelap namun entah kenapa ia bisa merasakan seseorang berbicara dan menyentuh kulitnya. Tapi mengapa tadi ia tak dapat membuka matanya? Taeyeon mengalihkan pandangannya menatap chanyeol yang sedang kebingunan akan sikap taeyeon, “Apakah tadi ada seseorang yang masuk ke dalam sini?” tanya taeyeon penuh harap.

Chanyeol kehilangan akal untuk menjawab pertanyaan taeyeon saking bingungnya. “Sepertinya kau ikut aneh karena duduk dengan baekhyun” ucap chanyeol dengan ekspresi risih.

Entah mengapa hati taeyeon sangat gusar mendengar perkataan chanyeol, “Sudahlah jangan membicarakannya lagi” ucap taeyeon dengan ketus.

“Mian, tapi aku hanya ingin memberitahu, kata songsaenim kalau kau tak enak badan boleh pulang duluan” taeyeon hanya mengangguk mendengarnya.

 

. . . . . . . . . . .

Taeyeon POV

Hawa aneh yang tadi aku rasakan tak pernah hilang selama perjalan, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa hari ini benar- benar aneh bagiku.

Aku berjalan seorang diri menuju rumahku, sebenarnya tadi chanyeol memaksaku agar dia bisa mengantarku pulang. Tapi entah kenapa aku menolaknya, padahal dia adalah teman yang baik. Tapi hatiku benar- benar merasa aman, maka dari itu aku tak mau diantar pulang.

“Hmmm, sepertinya aku harus bersiap- siap disemprot oleh eomma” degusku gusar ketika sudah berada di depan gerbang rumah mewahku.

Dengan hormat Mr. Lee kemudian membuka gerbang dengan cepat, “Nyonya Kim semenjak tadi menghawatirkan nona Taeyeon” ucapnya dengan hormat namun tetap terdapat nada tegas didalamnya.

“Bukankah itu hal yang sudah biasa terjadi?” aku memandangnya malas, memang kapan sih eomma selalu sekepo itu kepadaku? Aku benar- benar frustasi dibuatnya.

“Taeyeon bagaimana apakah kau tersesat? Apa ada yang mengganggumu? Apa mereka melukaimu? Ayo katakan pada eomma mana yang sakit? Apakah . .  “

“Eomma aku tidak apa- apa” aku memutar bola mataku, baru saja aku membuka pintu eomma langsung saja muncul dan bertanya yang tidak- tidak.

Eomma terlihat jengkel, namun itu sudah biasa bagiku, “Kau sangat nakal yah, mengapa kau pergi tanpa pamit? Kau kan bisa diantar oleh ahjusshi Lee”

Aku hanya menggelengkan kepalaku lalu beralih menuju kamarku mengabaikan eomma yang terus saja mengoceh tidak jelas, ‘Bahkan kalian seumuran, dan sekarang eomma memanggilnya ahjusshi?’ batinku.

“Beginilah kalau kau selalu saja tak mau mendengarkan eomma, bagaimana kalau suatu saat nanti kau tak berjumpa dengan eomma lagi? Pasti kau akan sangat menyesal.” Eomma mengalihkan pandangannya dengan kasar membelakangiku.

“Setidaknya aku akan merasa tenang jika tak ada eomma” ucapku lalu berlari ke kamarku karena aku sangat yakin setelah ini eomma akan mengejarku.

“YA! Kim taeyeon” benar kan sekarang, eomma tengah menggedor- gedor pintuku. Kasihan sekali eomma karena ia tak akan bisa membukanya lagi, karena tadi sebelum berangkat aku sudah mengambil kunci cadangan kamarku.

 

. . . . . . . . . . .

“Mengapa harus diantar sih? Aku juga bisa jalan sendiri ke sekolah” ucapku kesal memandang ahjusshi lee.

Ahjusshi itu hanya tersenyum menatapku yang membuat kepalaku semakin nyiut- nyiut karena kesal, “Nona tahu sendirikan bagaimana sikap eomma anda? Jika kau tak kuantar aku bisa mati dibunuh olehnya”

Aku menaikkan bola mataku lalu menjatuhkannya kembali, “Tentu saja aku tahu” hmm, aku hanya bisa bersabar, hidupku benar- benar tak bisa tenang sepertinya. Apalagi hari ini appaku akan datang, sepertinya akan sangat buruk jika ratu dan raja kepo sudah bersatu.

“Aku akan benar- benar gila” aku menenggelamkan kepalaku di tasku. Aku kesal mendengar kekehen dari ahjusshi lee, namun sepertinya aku harus meredamnya mengingat dia lebih tua dariku.

Aku sedikit bisa bernafas lega ketika melangkahkan kakiku keluar dari mobil, aku memandangi sekolah yang baru saja ku datangi kemarin itu, “Semoga hariku tak sesial kemarin” gumamku lalu melangkah memasuki halaman sekolah.

Baru sedikit melangkahkan kakiku mataku segera terfokus pada gadis yang sedang menyendiri membaca buku itu, dilihat dari tampilannya tentu dia adalah anak yang pandai, aku mulai mendekatinya, karena kufikir satu teman baru adalah awal yang baik di sekolah baru, “Annyeong, taeyeon immida” aku menjulurkan tanganku padanya hendak menjabat tangannya.

Ia menatapku aneh yang membuatku sedikit salah tingkah, “Apakah ada sesuatu yang aneh ditubuhku?” aku memandangi tubuhku sendiri berharap mendapatkan objek yang membuatnya terus menatapku dengan secanggung itu.

Ia kemudian tersenyum, “Ah tidak aku hanya baru melihatmu” ucapnya ramah.

Aku segera saja duduk disampingnya, “Aku murid pindahan makanya kau baru melihatku” aku memandangnya dengan antusias setelah kulihat dia merespon positif kehadiranku.

“Kau pasti yeoja yang belakangan ini menjadi topik pembicaraan hangat di sekolah kan?” ucapnya lalu kembali membuka buku tebal yang tadi ia baca.

Aku sedikit tersipu, yah memang semenjak kemarin aku sudah mendengarnya dari chanyeol, “itu terlalu berlebihan” ucapku berusaha merendah agar aku tak terus merasa tersanjung akan pujian orang terhadapku.

Dia kembali merubah fokusnya kepadaku, “Jangan seperti itu, siapa sih yang tidak menyukai yeoja cantik dan kaya sepertimu”

Oh tuhan tolong hentikan dia untuk memujiku lagi bisa- bisa leherku sudah sampai ke langit ke tujuh. “Kau juga sangat cantik dan aku yakin pasti kau yeoja yang sangat pintar” ucapku mengalihakan pembicaraan.

Ia membuka lembar bukunya, “Tapi aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang kurang mampu, maka dari itu aku harus terus belajar agar beasiswaku tidak dicabut.”

Aku hanya menggangguk mengerti, “Oya kau belum memperkenalkan namamu padaku” ucapku kembali menatapnya berseri. Aku sangat berharap ia mau menjadi temanku.

Ia menutup bukunya lalu mendengus, “Aku bukanlah siswa populer mengapa kau mau berteman dengaku? Bukankah banyak yang mendekatimu yang pastinya siswa yang jauh lebih populer dariku”

Aku mengacungkan jari kelingkingku, “Aku tak peduli tentang status sosial seperti itu, yang aku tahu aku menyukaimu. Dan aku ingin kau menjadi temanku” aku menunjukkan senyum yang paling tulus yang aku punya, aku sangat ingin ia mau menjadi temanku dan terus menemaniku dikala susah ataupun senang. Aku tahu dia adalah teman yang baik dan akan selalu mendukungku, setidaknya itulah yang aku tangkap saat pertama kali melihatnya.

Dengan ragu ia mengangkat jarinya dan menautkannya dengan jariku. “Baiklah aku juga senang bisa berteman dengan gadis yang baik sepertimu, kuharap kita akan terus berteman.”

Aku tersenyum senang mendengar kata yang ia keluarkan, “Tapi kau belum menyebutkan namamu” aku mengerucutkan bibirku, aku sepertinya mulai tidak canggung lagi berbicara padanya.

Kulihat dia terkekeh dan itu membuatku yakin bahwa ia juga sudah tidak canggung lagi berbicara padaku, “Aku  hyoyeon”

 

. . . . . . . . . .

“YA! Dimana sebenarnya toilet disekolah ini?” aku sangat kesal, mengapa disekolah yang sebesar ini harus mempunyai toilet di sudut yang terpencil. Bahkan aku tak melihat seorang siswa pun yang berlalu lalang di sekitar sini.

“Aw . . “ ringisan siapa itu, mengapa hatiku rasanya sangat tertarik untuk melihatnya?

“Ini balasan karena kau sudah mengganggunya.” Suara berang seorang namja terdengar jelas di telingaku saat kakiku melangkah semakin dekat ke asal suara itu.

“YA!”  aku sangat shock melihat chanyeol dan teman- temannya memukuli seorang namja yang kuyakini adalah baekhyun. “Apa yang kalian lakukan?” aku segera menghampiri baekhyun dan membantunya untuk berdiri.

“YA! Taeyeon jangan dekat- dekat dengannya dia bisa menyakitimu”

Aku menatapnya tajam,”Bukan dia yang menyakitiku tapi kau chanyeol. Sekarang pergi dari hadapanku” aku berteriak padanya, hatiku sungguh sakit melihat baekhyun dipukuli olehnya. Mungkin karena aku tahu kalau baekhyun itu sakit, dan dengan teganya mereka memukuli namja yang masih polos seperti baekhyun.

“Tapi . .  “

“Cepat pergi” chanyeol memukul sebuah kardus yang menyebabkan isi dari kardus itu berserakan. Namja tinggi itu kemudian hilang dari pandanganku.

Aku kemudian mencibirnya, lalu kualihkan pandanganku menatap baekhyun.

Deg . . .

Mata itu lagi, apakah sedari tadi namja ini terus menatapku? Tapi tatapan teduhnya benar- benar membuatku terpesona untuk kesekian kalinnya. Sejak bertemu dengan pria ini mengapa aku selalu terserang penyakit jantung? Rasanya ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutku. Tatapannyanya tak pernah ia alihkan dariku yang membuatku sedikit salah tingkah, “Baiklah, kita harus mengobati lukamu” aku mengalihkan pandanganku, aku tidak mau terlihat bodoh dihadapannya karena pipiku yang kuyakin sudah memerah buktinya aku merasakan hawa panas dari sana.

Aku membantunya untuk berjalan, namun aku sedikit kesusahan untuk menahan berat badannya yang tidak sebanding dengan tubuhku. Aku merasakan sesuatu seperti terus ditatap olehnya, maka dari itu aku tak mau menoleh ke arahnya. Aku pernah membaca tentang bagaimana perilaku anak autis, tapi menurut buku yang aku baca anak yang terserang autis akan menghindari kontak mata dengan orang- orang. Tapi, sepertinya aku harus menuntut pengarangnya, buktinya baekhyun bahkan terus menatapku.

 

. . . . . . . . . .

Normal POV

“Mengapa kau bisa dipukuli oleh chanyeol? Padahal dia anak yang baik. Apakah kau membuat kesalahan?” nihil baekhyun sama sekali tak memperhatikan taeyeon. Ia sibuk dengan ice cream yang sedang ia lahap, bahkan benda dingin coklat itu sudah menjalar diwajahnya.

Taeyeon sedikit mengembangkan bibirnya, “Aigo kau bahkan sudah celemotan. Sebentar jangan kemana- mana aku akan pergi mengambil tisyu dan obat” taeyeon meninggalkan baekhyun yang sedang melahap ice creamnya di taman.

Hanya selang beberapa menit taeyeon pun kembali, “Baekhyun apakah kau tertidur?” tanyanya berlutut di depan kursi taman ketika melihat baekhyun berbaring dengan mata tertutup di kursi taman.

Tak ada suara ataupun gerakan, taeyeon kembali tersenyum dan mulai membersihkan wajah baekhyun dari sisa ice cream yang tadi ia makan. “Mengapa sikapmu selalu saja berubah? Jika berada di keramaian seperti sekarang kau pasti bersikap seperti anak kecil dan tak mau mendengar ataupun memandangku. Tapi mengapa jika kita hanya berdua kau selalu saja melakukan hal- hal yang membuatku salah tingkah, kau seperti seorang pria normal jika tak ada orang lain selain kita berdua”

Taeyeon menaruh obat merah di tisyu selanjutnya lalu mengoleskannya di sudut bibir baekhyun yang berdarah, “Apakah kau melahap darahmu juga?” ucapnya setengah bercanda.

Kring . . . Kring . .

“Gawal belnya sudah bunyi” taeyeon menatap sekitarnya yang sudah mulai sepi karena para siswa sudah berlari ke kelasnya masing- masing.

“Bekhyun- ah ayo bangun kita sudah saatnya kembali belajar” dengan lembut taeyeon menepuk- nepuk pipi baekhyun. “Aiss bagaimana ini?” taeyeon mulai frustasi melihat tak seorang pun terlihat di taman itu. “Baek . . . “

Lagi- lagi tatapan itu yang didapatkan taeyeon. Hawa panas kembali melanda dirinya tatapan yang membuat dirinya hanyut, sungguh ia tak bisa menjelaskan arti dari tatapan baekhyun itu. Sorot mata namja itu menembus relung hatinya dan menggetarkan jiwanya untuk yang kesekian kalinya.

Baekhyun meraih tangan taeyeon yang berada dipipinya, ia mencium lembut tangan mungil itu tanpa beralih dari posisinya, bibir taeyeon sungguh tak mampu berucap lagi, dirinya benar- benar lemah karena rasa mematikan itu.

Baekhyun meletakkan tangan taeyeon di dadanya, taeyeon dapat merasakan degupan jantung baekhyun yang sangat menuntut itu, taeyeon hanya membulatkan matanya tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak bergerak sama sekali.

Baekhyun menarik bibirnya lembut membuat lengkungan pelangi di bibir mungil itu. Taeyeon benar- benar tak bisa menahan rasanya, sesak itu sudah ful di hatinya sampai tak ada celah lagi baginya untuk bernafas. Ada sebuah dorongan yang membuatnya tergoda akan benda berbentuk pelangi dihadapannya. Tanpa sadar ia mendekatkan bibirnya, dan semakin dekat ia mulai merasakan nafas dari baekhyun. Ia kemudian sadar dan menggelengkan kepalanya, baekhyun terus menatapnya menunggu aksi dari gadis itu.

‘Taeyeon apa yang kau lakukan ?’ taeyeon merututi dirinya sendiri, ia menatap baekhyun yang masih tetap pada posisi menggenggam tangannya. Taeyeon hendak menjauhkan dirinya dari baekhyun.

Chu ~

Mata sipit taeyeon membulat lebar ketika baekhyun mendorong kepalanya yang belum sempat menjauh sehingga bibir mereka bertemu. Baekhyun hanya memejamkan matanya, perlahan ciuman lembut itu semakin menuntut namun taeyeon tetap mematung tanpa bisa bergerak sedikitpun.

“Taeyeon?” taeyeon tersentak mendengar suara dibelakangnya, ia segera berdiri melepaskan tautannya dengan baekhyun dan membelakangi namja itu.

“Hyoyeon ini tak seperti yang kau fikirkan” sangkal taeyeon dengan gugup.

Hyoyeon mengerutkan dahinya, “Maksudmu apa? Dan lagi pula jam istirahat sudah selesai dan kau masih berada di sini sendirian”

Taeyeon menegang mendengar perkataan dari teman barunya itu, dengan canggung ia membalikkan tubuhnya “YA!” Teriaknya tiba- tiba ketika tak melihat seorangpun di kursi taman.

“Aiss kau kenapa sih? Mengapa kau sangat aneh?” tanya hyoyeon memegang pundak taeyeon.

Taeyeon sulit menelan salivanya, “Tidak apa, ayo kita segera ke kelas” taeyeon menarik paksa hyoyeon dengan ketakutan, yang membuat yeoja itu sedikit merasa aneh.

‘Yeoja aneh’

 

. . . . . . . . .

“Sebenarnya siapa naja itu?” fikiran taeyeon masih terganggu akan baekhyun yang tiba- tiba saja lenyap siang tadi. Bahkan ia tak melihat baekhyun di kelas setalah itu.

Taeyeon saat ini sedang baring dengan posisi menghadap ke tembok, “Sepertinya dia sangat misterius” taeyeon mendengus kesal lalu membalikkan tubuhnya, “YA! . . . ” Mulutnya tak bisa mengeluarkan suara lagi ketika diberkap oleh baekhyun yang berbaring di hadapannya.

“Jangan bersuara, kau mengerti?” tanya baekhyun lembut, taeyeon hanya mengangguk patuh.

“APA YANG KAU LAKUKAN DIKAMARKU” Teriak taeyeon tepat di depan wajah baekhyun setelah namja itu melepas tangannya tadi mulut taeyeon.

Tok . . . tok . . .

“Taeyeon buka, apa yang terjadi di dalam sana ?” suara appa taeyeon menggedor- gedor pintu.

Taeyeon tanpa memerhatikan baekhyun segera melompat dari kasur dan membuka pintu itu dengan tergesa, “Eomma” taeyeon memeluk eommanya.

“Ada apa sayang?” tanya appa taeyeon.

Taeyeon semakin mempererat pelukannya pada Nyonya Kim, “Didalam sana ada seseorang” taeyeon menunjuk kamarnya tanpa menatapnya.

Appa taeyeon dengan sigap memeriksa seluruh sisi ruangan itu, eomma taeyeon masih berusaha menenangkan putrinya yang menangis ketakutan. Sepertinya taeyeon benar- benar kaget akan semua yang terjadi padanya semenjak kepindahannya ke seoul.

“Tak ada sesuatu pun didalam taeng” ucap appa taeyeon.

Taeyeon menggeleng pasti, “Tadi ada appa, pokoknya aku mau tidur bersama eomma” taeyeon kembali memeluk eommanya.

Tuan Kim mengerjapkan matanya, “Mana bisa begitu, appa itu jarang pulang jadi kau harus memberikan waktu untuk appa dan eomma bersama”

“HAAA. . . . Eomma appa tak sayang lagi padaku” adu taeyeon dengan menangis kencang.

Nyonya Kim menendang kaki suaminya, “Awww” ringisnya.

“Kau benar- benar tega, sudahlah taeng mending kita tidur bedua dikamarmu tak usah fikirkan appamu.” Eomma taeyeon masuk ke kamar putrinya bersama taeyeon.

“Kalian berdua sama saja, tidak pengertian.”

 

*To Be Continued . . .

 

61 thoughts on “[Freelance] Love It Is (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s