TETRAGON [FOUR]

TERAGON

[CHAPTER 4]

Tetragon's poster

[Merangkai kata menjadi kalimat yang berarti penuh makna bukanlah hal mudah baginya]

[Length: Chaptered – Rating: G – Cast: Chanyeol & Sooyoung – Genre: Angst]

[Author: Genie]

Unfortunetly, i can’t make you love me the way i love you – wehearit

Satu tahun sebelumnya.

 

Saat sesuatu yang paling kau inginkan tidak ditakdirkan menjadi milikmu, maka hal terbaik yang kau bisa lakukan adalah merelakannya pergi.

 

Merelakan sendiri bukanlah hal gampang untuk dilakukan. Apalagi bila selama ini hal yang harus kau relakan itu adalah sesuatu yang paling berharga. Sesuatu yang melekat lama seperti jantung yang membuat seseorang tetap bernyawa.

 

Choi Sooyoung sedang berusaha melakukannya sekarang. Merelakan satu orang paling berharga dalam hidupnya untuk pergi.

 

Oh Sehun.

 

Semenjak kasus selingkuh Sehun dan Sunny terungkap, Sooyoung mencoba bersikap realistis. Menggunakan akal sehat di atas keinginan hati yang selalu menuntut Sehun, Sehun dan Sehun. Dia mulai menjaga jarak, berhenti menghubungi dan juga mengurangi kebiasaan memikirkan Sehun sepanjang hari.

 

Sakit? oh tentu saja. Namun baginya seperti ini lebih baik, merasakan sakit sekali waktu dari pada harus merasakan sakit setiap hari. Dia kapok. Bahkan Sehun sendiri bersikap acuh, tidak repot untuk sekedar bertanya atas perubahan sikap Sooyoung. Ini tentu saja mempercepat proses melupakan Sehun dan melipat gandakan sakit hati yang dia rasa. Kendati begitu, keputusannya kali ini sudah bulat—tak bisa tergoyahkan.

 

Mungkin prosesnya tidaklah mudah. Ya. dia masih menangis sendiri ketika malam datang, menyayangkan hubungan keduanya yang berakhir tragis, berkali-kali mempertanyakan kenapa Oh Sehun tidak bisa mencintai dia sepertinya mencintai pemuda berkulit seputih susu itu? perlahan di bantu waktu, dia mulai bisa merelakan Sehun. Kembali menjalani kehidupannya kembali pada masa Sehun belum hadir. Ah, hidupnya terasa lebih nyaman pada waktu itu.

 

Dan ketika Sooyoung mulai bernafas lega, menggerakan bibirnya membentuk seulas senyum seperti sedia kala, Oh Sehun datang lagi. Hanya lewat sebuah pesan dan pertahanan yang dia bangun selama puluhan haripun runtuh.

 

Lucu bukan? Hanya lewat sebuah pesan berisi beberapa kalimat kau bisa tertegun, menggulirkan bola mata kekana-kiri layaknya seorang pengidap penyakit stroke ganas dan darahmu berhenti mengalir. Sooyoung mengalaminya sekarang, pesan Sehun masuk ketika dia tengah duduk di lantai kamar Yoona. Ada Jongin juga disana.

 

From: Oh Sehun

Noona, kau dirumah Yoona noona kan? aku ada di mini market depan, kau keluar ya? aku rindu padamu.

Kau dirumah Yoona noona kan? Oh, dia masih ingat kebiasaan Sooyoung yang selalu singgah kerumah Yoona sepulang sekolah? Mendadak perasaan hangat memenuhi hatinya. Ternyata, masih ada bagian tentang dirinya yang Sehun ingat.

 

Mungkin Sooyoung terlalu larut dalam diamnya atau mungkin pipinya bersemu merah akibat membaca pesan Sehun sehingga dia tidak sadar ponselnya sudah direbut Jongin dan ekspresi yang Jongin refleksikan jelas tidak baik-baik saja. Kontras dengan miliknya.

 

“Jangan berharap kau bisa menemui bocah brengsek itu” kata Jongin tanpa emosi.

 

“tapi Jongin—“

 

“apa?! kau mau menemuinya? Setelah semua usahamu melupakannya selaman ini? setelah semua sakit hati selama ini? setelah semua air mata yang kau keluarkan selama ini? tidak Choi Sooyoung. Aku yang memastikan kau tidak  pernah bertemunya lagi”  kali ini kalimat Jongin tepat menusuk kedalam hatinya.

 

Jongin benar.

 

Dia tidak seharusnya bertemu Sehun lagi, dia seharusnya menghindari Sehun, tetapi kenapa hati kecilnya malah mengatakan sebaliknya? sedalam inikah dia jatuh cinta pada Sehun? Sampai akal sehat kalah oleh suara hati? Sooyoung baru mau bersuara, memberi alasan lain, yang mungkin saja bisa membuat hati Jongin luluh? tapi Jongin memotongnya kelewat cepat.

 

“kau tidak benar-benar mau menemuinya kan, Soo?” dan Sooyoung tidak bisa segera menjawab pertanyaan sederhan Jongin. Yang harus dia katakan hanyalah ‘ya’ atau tidak’ sementara yang dia lakukan malah mengerjapkan mata, mulut menutup dan terbuka tanpa suara. Jongin tidak butuh jawaban lagi. “aku tidak tahu kenapa kau masih saja mau menemuinya. Satu hal yang pasti, itu tidak akan pernah terjadi. kita pulang sekarang” Jongin terdegar tegas. Tidak mau di bantah. Bahkan dia menarik paksa Sooyoung untuk berdiri bersamanya. Menyimpan ponsel Sooyoung kedalam saku celana seragamnya.

 

Yoona sendiri ikut berdiri, dia menghela nafas panjang menyaksikan aksi Jongin. Merajut langkah mengantar kekasih juga sahabat baiknya menuju pintu utama. Tanpa sengaja, pandanga Yoona bergulir pada Sooyoung. Ada jeda beberapa detik dulu baru setelahnya seulas senyum kecil yang di tujukkan pada Sooyoung menghiasi wajah cantik Yoona. Seakan ingin memberitahu dia bahwa apa yang Jongin lakukan semata-mata karena Jongin menyayanginya dan tidak ingin dia terluka lagi. Sooyoung tahu itu. Jadi dia mengangguk singkat, kemudian membiarkan dirinya di bawa Jongin menuju mobil yang akan mengantarkan dia pulang.

***

Jongin punya kebiasaan setiap kali mengantar Sooyoung pulang. Entah akan turun mampir kerumah Sooyoung dulu, entah menyempatkan menggoda sepupunya itu dulu atau sekedar mengelus surai Sooyoung singkat sebelum kembali kerumahnya sendiri. Namun hari ini beda, setibanya di depan rumah Sooyoung dia hanya mengembalikan ponsel yang sengaja di simpan, bahkan dia tidak perlu repot-repot menoleh pada Sooyoung. Raut wajahnya terlihat kosong.

 

‘Jongin maaf’

 

adalah kalimat terakhir yang didengar dari Sooyoung sebelum sang sepupu turun dari mobilnya lantas masuk kedalam rumah. Tidak menyadari kalo Jongin masih di sana, menatap daun pintu tersebut dengan pandangan teduh.

 

Jongin sebenarnya tidak suka bersikap kasar pada Sooyoung, dia hanya ingin sepupu kesayangannya melupakan Sehun. Maka, mengetahui Sooyoung masih saja mau menemui Sehun setelah semua yang terjadi membuat dia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Kecewa pada diri sendiri yang gagal membuat Sooyoung bisa melupakan Sehun seutuhnya.

***

Suasana rumah masih terasa sunyi ketika Sooyoung melangkah masuk. Melirik jaruk pendek pada jam dinding, kedua orang tuanya baru pulang sekitar 1 jam lagi. Sooyoung membawa sepasang kaki jenjangnya naik anak tangga menuju kamarnya di lantai dua sementara pandangan fokus pada layar ponsel, membaca deretan kata yang tampak.

 

From: Oh Sehun

Noona aku lihat mobil Jongin keluar, kau bersamanya? Kalian pergi kemana?

Dia menggigit bibir bawah, bimbang harus membalas pesan Sehun atau tidak. Pikiran dan hatinya ikut berdebat hingga akhirnya hatinya-lah yang menang. Dia mengetik pesan balasan untuk Sehun.

 

‘Hanya sebuah pesan singkat, Jongin tidak akan marah’. Sooyoung meraplkan kalimat itu berkali-kali pada dirinya sendiri.

 

To: Sehun

Maaf Sehun aku sudah dirumah. Tadi Jongin ada urusan, harus buru-buru mengatarkanku pulang. Sekali lagi maaf, Sehun.

***

Lampu ponsel layar sentuhnya menyala dari atas kasur tepat ketika dia selesai mengganti pakaian. Setelan piyama tanpa tangan berwarna peach polos.

 

From: Oh Sehun

Aku di depan rumahmu.

Sooyoung tertegun dalam posisi duduk di tepi ranjang, sekali lagi pikiran dan hatinya dibuat beradu meskipun pemenangnya sudah ditentukan jauh sebelum perdebatan dimulai. Karena hatinya akan selalu menang. Hatinya akan selalu menuju ketempat Sehun berada. Melupakan hal-hal buruk yang pernah Sehun timbulkan.

 

Jatuh cinta benar-benar melumpuhkan akal sehat Choi Sooyoung. Buktinya dia langsung menyambar karidigan hitam yang tersampir dikursi belajar sambil setengah berlari keluar kamar menuju pintu utama dilantai bawah.

 

‘maaf Jongin, maaf’ katanya pada diri sendiri seraya meraih gagang pintu mobil Sehun.

***

“Hai Sooyoung-ah!” sebuah suara langsung menyapanya ketika pintu terbuka. Sayangnya, itu bukan suara Sehun. Karena Sehun kini tengah memandangnya datar, suara riang tersebut berasal dari bangku belakang, tempat seorang pemuda kurus bersurai perak tengah tersenyum dari kuping kiri ke kuping kanan.

 

Namanya Xi Luhan, sepupu jauh Sehun dari Cina yang selalu datang ke London pada masa liburan kuliah. Sooyoung sudah beberapa kali bertemu Luhan. Kepribadian Luhan yang periang membuatnya yang memang sedikit sulit membuka diri kepada orang baru terasa lebih mudah. Membuantnya merasa lebih nyaman berada didekat Luhan. Luhanpun adalah tempat dia bercerita mengenai hubungannya dengan Sehun selain Yoona atau Jongin.

 

Berbeda dari dua orang yang paling dia percaya itu, Luhan lebih suka membawa Sooyoung ketempat-tempat nyaman. Dimana dia bisa tertawa, dimana dia bisa merasa tenang, dimana dia bisa berteriak hingga kerongkongannya terasa sakit atau dimana dia bisa menangis hingga air matanya tidak mau keluar lagi.

 

Karena Luhan percaya, tidak selamanya kata-kata bisa membuat perasaan seseorang menjadi lega. Mereka perlu melakukan sesuatu dan hanya inilah yang Luhan bisa lakukan, dia tahu betul tidak bisa menghentikan sakit hati yang Sehun berikan pada Sooyoung. Sudah berkali-kali di beritahupun Sehun masih saja keras kepala. Mungkin karena faktor usia yang masih bisa dibilang muda? Atau mungkin wajah tampannya membuat dia besar kepala. Merasa bebas memilih, mempermainkan wanita mana saja yang dia inginkan?

 

“Halo Luhan oppa. Kapan sampai London?” tanyanya sambil menutup pintu mobil. Disisinya Sehun perlahan menginjak pedal gas, lalu mobil mulai bergerak maju.

 

“tadi malam. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kita bertemu. Kau terlihat semakin cantik!” di balik gelap malam kedua bola mata Luhan nampak bersinar. Inilah yang Sooyoung kagumi dari Luhan, senyumnya tak pernah gagal mencapai mata. Seakan-akan masalah gagal menyentuh hidup Luhan.

 

“ngomong-ngomong kita mau kemana, Sehun?” dia bertanya namun enggan menoleh.

 

“tidak tahu. Terserah Luhan hyung saja” balas Sehun. Pandangannya lurus kedepan jalan padahal mobil sedang berhenti dibelakang lampu merah.

 

“kau mau kemana, oppa?” kali ini kepalanya menoleh kebelakang ketempat Luhan duduk masih mengulum senyum. Bagaimana seseorang bisa menjaga senyuman di wajah mereka begitu lama?

 

“aku? Mau ke…” Luhan nampak berfikir, sepasang bola matanya di buat bergulir memandang langit-langit mobil. “Ah! Mampir di supermarket biasa dulu ya, Sehun. Aku mau beli cemilan”

 

“untuk apa?” kata Sehun menatap Luhan dari kaca spion. Kaki kananya mulai bekerja menginjak pedal gas tak kala lampu lalu lintas telah berganti warna.

 

“nanti kau juga tahu. Sekarang mengemudi yang benar! Jangan sampai menabrak!” perintah Luhan kelewat riang.

***

“kalian tunggu disini saja, aku tidak akan lama” itu kalimat Luhan sebelum membanting pintu mobil lalu berlari kecil masuk kedalam super market. Melewatkan ‘pandangan tolong jangan tinggalkan kami berdua’ dari Sooyoung.

 

Suasana dalam mobil seketika berubah kaku. Uh, Sooyoung benci keadaan seperti ini. Belum lagi jantungnya yang berdegup cepat. Menjadikan keadaan semakin tidak nyaman.

 

“beritahu aku, noona” suara Sehun memecah keheningan. “beritahu aku satu alasan kenapa hubungan kita patut dipertahankan?” tambah Sehun. Memutar tubuh agar  bisa menatap Sooyoung lebih jelas dibawah gelap malam. Hanya nampak beberapa lampu dari luar sebagai penerang.

 

noona, aku bicara padamu” nada suara Sehun terdengar datar.

 

“aku tahu, Sehun” katanya nyaris seperti bisikan, kedua tangan merapatkan kardigan yang membungkus tubuh kurusnya.

 

“bukan itu yang mau aku dengar”

 

“kau mau dengar apa, Sehun?” Sehun mendengus kasar sebagai jawaban. Sementara tubuh Sooyoung semakin tegang ditempat duduk. Dari ekor mata dia bisa merasakan tatapan dingin yang Sehun lemparkan padanya.

 

Luhan, tolong cepat kembali..

 

“apa hubungan kita ini masih ada artinya bagimu, noona?” Sooyoung mematung walaupun tahu persis apa jawaban atas pertanyaan Sehun barusan. Lidahnya mendadak kelu. Semua tertahan di kepala, menyebabkan sakit yang tak terhindari.

 

“aku tidak pernah benar-benar tahu apa maumu, noona. Aku tidak pernah tahu seberapa besar kau menyukaiku, seberapa besar kau takut kehilanganku. Kau selalu bersikap tenang, memperlakukanku sama seperti Jongin meskipun aku ini pacarmu. Well, aku tahu hubungannmu dan Jongin memang sangat akrab tapi aku tidak suka di perlakukan sama seperti Jongin. Aku ini lebih dari dia, noona. Jadi, beritahu aku apa artinya hubungan kita bagimu? Seberapa besar kau menyukaiku?” ada banyak suara memenuhi kepalanya ketika mendengar penuturan panjang Sehun.

 

“kalo kau tidak mengatakan apa-apa, bagaimana bisa aku terus menjalani hubungan ini denganmu? Untuk sekali saja, tidak maukah kau mengutarakan apa yang ada dihatimu?” Sooyoung seketika terlonjak tak kala kedua lengan Sehun menangkup wajah tirusnya, memaksa dia memandang tepat kedalam  sepasang iris biru laut Sehun yang selalu dia kagumi kebeningan warnanya.

 

“satu alasan saja, noona. Aku hanya minta satu” suara Sehun terdengar memohon. Ini pertama kalinya Sooyoung mendengar seorang Oh Sehun memohon padanya. Masalahnya, sebesar apapun dia mau menjawab pertanyaan Sehun semuanya akan selalu tersangkut di dalam kepala. Ah, betapa dia ingin Sehun memiliki kemampuan untuk bisa membaca pikiran orang, semuanya pasti terasa lebih mudah sekarang. Karena Sooyoung tidak pernah bisa menyampaikan apa yang dirasakannya melalui kata-kata dengan baik, katakanlah dia—payah. Ya. Benar-benar payah.

 

Payah, tidak bisa memenuhi permintaan satu-satunya Sehun—pemuda yang di cintai. Sehun hanya butuh diyakini lewat satu alasan. Yang bodohnya tidak bisa dia lakukan. Sehun melihat itu, ketidak mampuan Sooyoung memberikan satu alasan yang dia minta. Hal itu cukup menjadikan alasan Sehun untuk marah. Menjadikan alasan perubahan wajah Sehun tanpa ekspresi.

 

“bahkan setelah aku memohon kau tidak mau menjawab, noona?” nada suara Sehun menjadi dingin. Kedua tangan yang tadi digunakan mengangkup wajah Sooyoungpun sudah berpindah ke setir mobil. Menggenggam benda bundar itu sedikit erat.

 

Hati Sooyoung berdenyut nyeri. Bukan. Dia bukannya tidak mau menjawab. Terlalu banyak yang ingin disampaikan. Merangkai kata menjadi kalimat yang berarti penuh makna bukanlah hal mudah baginya. Harusnya Sehun paham itu setelah menjalani hubungan bersama selama ini. Kenapa dia masih saja memaksa Sooyoung bersuara? Apa tindakannya selama ini kurang mewakilkan isi hatinya? Bukankah tindakan selalu lebih baik dari pada kata-kata?

 

“jadi tidak ada alasan untuk melanjutkan hubungan ini kan, noona?” tidak Sehun. Ada banyak alasan. “diammu ini akan artikan sebagai iya. Kau terima kan, noona?” tidak Oh Sehun! Tidak!

 

“Mungkin aku memang selalu menyakitimu, atas semua sikapku, berbohong juga menduakanmu, tapi mau tahu tidak noona alasanku seperti ini?” tidak mau. Aku tidak mau denger, Sehun. Berhenti bicara.

 

“diammu. Karena diammu, noona. Camkan ini, kau akan selalu ditinggalkan kalau tidak mau memberi orang alasan untuk tinggal. Sikapmu yang seperti ini lebih menyakitkan dari semua perlakuanmu padamu, noona

 

“Sehun cukup!” teriak Sooyoung.

 

“oh kau masih bisa bersuara rupanya” balas Sehun cepat diiringi tawa kecil. Dia menikmati keadaan ini. Keadaan dimana puluhan jarum menusuk jantung Sooyoung tanpa henti. Membuat genangan air muncul disepasang kelopak mata Sooyoung. Beruntunglah, sebelum air mata sempat  jatuh kepipinya, pintu belakang mobil terbuka dari luar. Menampilkan sosok mungil Luhan beserta dua kantung berukuran sedang dikedua genggaman tangannya.

 

Luhan bukanlah orang bodoh, dia bisa merasakan suasana tegang menyelimuti dalam mobil. Senyuman kaku diwajah tampannya. “sudah selesai belanjanya?” tanya Sehun memutar kepala kebelakang. Tidak ada ekspresi kosong atau marah yang nampak. Sehun malah tersenyum. Menjadikan kecurigaan Luhan semakin besar. Pandanganya beralih ke Sooyoung yang tengah menatap keluar kaca mobil. Samar-sama Luhan bisa melihat ekspresinya. Menggigit bibir dan kedua bola mata berkaca-kaca. “hyung, kita pergi berdua saja ya? kalau ada Sooyoung noona suasana hatiku bisa semakin buruk” tandasnya.

 

Luhan seketika bungkam. Sehun menginjak pedal gas sedikit lebih dalam dan air mata jatuh tak terelakkan dari kelopak mata Sooyoung.

.

.

.

 

Dia seharusnya mendengarkan Jongin…

.

.

.

 

Dia memang seharusnya tidak menemui Sehun lagi….

***

Sekarang

 

“noona? Ini aku Oh Sehun”

 

“aku tahu” selalu tahu.

 

“kau masih menyimpan nomorku, ya?” tanya Sehun disertai tawa ringan. Bagian mana yang dianggapnya lucu? Sooyoung tidak menganggap ada yang lucu. Kenangan buruk akan terakhir kali pertemuan mereka serta merta memenuhi ingatannya. Apa itu yang membuatnya tertawa? Heartless.

 

“ada apa?” dia tidak menyebut nama Sehun seperti yang biasa dia lakukan.

 

“apa harus ada alasan bagiku untuk menghubungimu noona?”

 

“kenapa harus tidak ada?” ups, dia menjawab terlalu cepat. Terlalu ketus. Chanyeol masih berdiri tidak jauh darinya, memandang lurus kearah Sooyoung dengan banyak pertanyaan.

 

“wah, kau terdengar seperti orang lain. Bukan Sooyoung noonaku yang dulu” noonaku? Oh Sehun tetaplah Oh Sehun. Playboy Oh masih belum berubah rupanya.

 

“uh aku sedikit sibuk sekarang” dia mencari alasan. Sebelum Sehun bicara lebih banyak dan membuat hatinya luluh. Karena setelah sekian lamapun dia tidak bisa percaya pada diri sendiri bila ini tentang Sehun.

 

“baiklah-baiklah, kapan kau pulang ke London noona? Aku rindu padamu”

 

“akhir tahun mungkin. Oke, aku hubungi lagi nanti” Sooyoung menyudahi pembicaraan. Sengaja merekayasa kalimat terakhir supaya Chanyeol tidak bertanya. Dia belum siap menceritan Sehun pada orang baru.

 

“Sooyoung, kau baik-baik saja?” suara Chanyeol terdengar ragu-ragu.

 

yeah, barusan sepupuku. Dia terus saja menghubungi. Memangnya aku anak kecil yang baru masuk sekolah apa”

 

Satu kebohongan lagi dia buat karena Oh Sehun..

 

“mungkin dia khawatir?” oh tentu saja Jongin khawatir. Lebih parahnya, kalau tahu Sehun baru saja menghubungi dia, mungkin Jongin akan membunuh mantan kekasihnya itu tanpa ragu.

 

“hei” suara Jessica tiba-tiba muncul dibelakang keduanya “dapat kamere yang kau mau, Soo? Kita mau makan siang?”

 

“ah—ya. Sudah kok, Jess” sebelah tangan Sooyoung terangkat sebagai kode agar pegawai toko mendekat. “aku ambil yang satu ini” jemarinya menunjuk pada DSLR Canon 110D. Sang pegawai toko bergerak cepat mengambil kamera yang Sooyoung inginkan dari dalam etalase.

 

“berikan aku yang seperti ini juga” sambar Chanyeol. Sooyoung menggulirkan pandangan pada pemuda tinggi itu, tersenyum kelewat lebar. “karena kita satu kelompok, aku pikir tidak buruk membeli kamera yang sama, kan?

 

—TBC—

A/N: so here i am, back with a suck chapter and lied (AGAIN) duh harusnya ini chapter berisi ChanSoo moment, suwer deeeeeeh ;-; outline aja harusnya begituh, tapi karena diakhir chapter 3 sehun nelpon sooyoung aku jadi pengen ngejelasin sedikit gimana hubungan mereka dimasa lalu~ So, next chapter will not so full of ChanSoo, promise! (if you guys still can trust me!) – Genie.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

35 thoughts on “TETRAGON [FOUR]

  1. Stop,sehun! Stop! (?)
    Topeng dinginmu trnyata menyimpan wajah busuk!

    Aish! Aku smpet brharap nggak smpe benci sehun krna di karakter di ff ini,tapi trnyata gagal.
    Walau nggak bisa dibilang kalo aku bnci sehun,tapi nggak suka sehun di sini.

    Feel angst dari sooyoung-nya krazza bget!
    Daebak!

    Next part,update soon,ne??
    Fighting^^

  2. sehun kenapa kamu jahat banget T.T ayo sooyoung, buka mata!

    aku mulai penasaran chansoo-nya nih, author. I’ll wait for the update. semangat ya nulisnya!

  3. mian telat baru baja min.. baru komen pula.. /tampar admin/ ._.
    kenapa hun jahat? /masukin jamban/ ketemu suman/ abaikan/ :v
    padahal hunhun bias aku u.u
    min, yang kelima ada passwordnya ya? kasih tau dong min.. jebal..

  4. Sehun jahat + tega sama soo eonni
    Feelnya mau bikin aku nangis thor
    Soo eonni jangan nangisin sehun lagi ya dan semoga cepat menemukan kebagiaannya dan buat sehun menyesal 🙂
    Ditunggu ya thor nex chapnya 🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s