Telepathy (Chapter 9)

                           Believe      

82nd-tele

Author : Nadiachan

Title      : Telepathy

Length  : Series

Rating   : 15

Genre    : Action, Fantasy, Romance, Supranatural

Main Cast (s) :

Girls’ Generation        Jessica

EXO    (K)                      Kai

EXO    (M)                     Luhan

Other Cast :

EXO Member               Sehun

SNSD Member (s)       Hyoyeon, Taeyeon, Tiffany, Yuri.

TVXQ                             Yunho

 

Introduction | 1| 2 | 3 | 4 | 5 |6 | 7 | 8

 

Previous (Chapter 8)

 

“Ke- kenapa kau muncul? Kenapa kau menyelamatkanku?” pertanyaan amburadul Jessica ucapkan karena otaknya sedang macet untuk mengatur kata yang benar.

“…..”

 ”Kenapa?”

“ …Karena aku tau kalau kau mati-matian menjaga Viero dari dalam dirimu, jadi.. jadi- aku menyelamatkanmu dari mereka dan membawa kau pergi demi keselamatanmu untuk sementara ini” jawab Luhan gugup.

Luhan yang menunduk langsung mendongak melihat wajah Jessica, wajah yang ia rindukan selama ini. Mengakibatkan rasa sesak memenuhi dada Luhan. “Jess-”

 

Bugh

 

Jessica memukul Luhan sekuat yang ia bisa.

 

Grep

 

 Nafas Luhan terhenti.

 

Jessica memeluknya..

 

~~~

“Hiks.. Hiks..”

Aliran air mata berasal dari sudut mata Jessica terus saja mengalir. Kedua telapak tangannya mencengkeram kuat kemeja hitam yang Luhan kenakan, tidak peduli kemeja itu akan kusut karena ulahnya.

Memeluknya dan terus memeluknya. Melepas semua rasa yang Jessica tanggung sendiri pada namja yang masih mematung, karena namja tersebut tidak menyangka kalau Jessica akan memberi reaksi seperti ini. Sungguh jauh dari perkiraannya.

Tak tau apa yang harus ia lakukan, Luhan pun akhirnya membalas pelukan Jessica.

“It’s okay Jess. Kau sudah aman bersamaku”

Jessica menggeleng. Tanda tanya pun muncul di otak Luhan.

“Bodoh.. Xi Luhan, Bodoh”

“Hei aku sudah menyelamatkanmu. Seharusnya berterima kasihlah padak-“

“Kenapa disaat aku harus membencimu kau malah berani menampakan diri. Kenapa disaat aku hampir melupakanmu, kau malah kembali lagi. Disaat aku terancam, kenapa kau malah muncul seperti pahlawan. Itu.. semakin membuatku.. tidak bisa.. melupakanmu..”

Ekspresi Luhan menjadi datar mendengar kata-kata penuh kesedihan dari mulut Jessica.

“Jess.. sebenarnya sudah lama sekali aku ingin mengatakan ini dari dulu tapi kau selalu menghindar. Aku tidak mempunyai.. ralat, tidak diberikan waktu untuk berbicara denganmu, dan bahkan sampai aku lulus. Kini aku akan mengatakannya lagi, aku mencintaimu.. sampai sekarang aku masih mencintaimu. Bukan karena darah itu atau karena kau seorang Viero, melainkan ini memang berasal dari diriku sendiri bukan dari ‘prinsipku’.

Aku tersiksa tidak bisa berbicara denganmu, bertatap muka denganmu, dan hanya bisa memantaumu dari kejauhan. Kau terlihat bahagia setelah kita tidak saling berkomunikasi, dan itu menyakitkan..

Mulai sekarang kumohon, beri aku kesempatan.Aku tidak bermain-main dengan kata-kataku.. semua itu memang benar apa adanya”

Jessica kembali memukul Luhan. Yang dikatakan namja itu salah.

 

Ia tidak menghindar.. ia hanya takut pertahanan prinsip ‘Viero’nya runtuh.

Ia tidak bahagia semenjak hubungan mereka berdua merenggang.

Ia juga sama sakitnya seperti Luhan..

“Walaupun aku sering menghindar darimu, aku selalu berharap kau muncul dan melihatmu, itu sudah lebih dari cukup. Setelah kau lulus.. kau menghilang tanpa jejak, tidak memberi kata-kata perpisahan, tidak memberi kabar. Aku bahkan rela mendatangi rumahmu yang terletak ditengah hutan sendirian hanya karena ingin tau bagaimana keadaanmu, dan kau malah menghilang..

Kai dan Tiffany berusaha menghiburku dari kesedihan kehilanganmu. Aku berusaha semampu yang aku bisa, dimulai dengan membiasakan ketidakhadiranmu, melupakan semua yang bersangkutan denganmu. Namun hasilnya? Nihil..”

“Untuk menghilang tanpa jejak. Maafkan aku. Kupikir aku memang perlu menjauhimu. Hahaha aku seorang pengecut bukan? Tapi bagaimana lagi.. saat itu kau memang butuh waktu untuk sendiri.. Aish, sudahlah lagipula itu masa lalu, jangan dibahas lagi”

Jessica melepaskan pelukannya sambil mengusap pelan pipinya yang basah. Ia tertawa kecil.

Tidak percaya akan mendengar penjelasan Luhan maupun dirinya yang sangat melakonis.

Kepalanya mendongak. Menatap wajah yang setengah mati ia benci dan setengah mati ia rindukan.

“Sekarang semua sudah jelas.. kau masih mencintaiku, aku masih mencintaimu. Dan kau tau apa artinya Jess?”

“Jangan buat aku memukulmu sekali lagi Luhan. Sudah cukup semua ini membuatku gila, kau malah akan menambah kegilaanku”

~~

Brakk

Nafas Kai terengah-rengah. Matanya menelusuri isi ruangan Yunho.

Dua namja penuh memar tergeletak lemas, dua yeoja juga tergeletak lemas namun tanpa memar. Satu yeoja bertumpu dengan kedua telapak tangan dan lutut dalam keadaan mengenaskan, memuntahkan darah.

Namun yeoja yang ia cari tidak ada. Kai pun menghampiri salah satu namja yang ia ketahui seorang Envoye, dengan kasar ia menarik kerah kemeja namja itu.

“Dimana Jessica?!” bentak Kai.

“A- aku tidak tau.. Ugh”

Kai melepaskan namja itu sampai terhempas di atas lantai yang keras.

“Viona, dimana Jessica?!”

Viona –yeoja yang memuntahkan darah itu menoleh malas ke arah Kai. Ia tau kalau dirinya akan mendapat pertanyaan tersebut dari Kai. Mungkin karena Kai tau kalau dia lah yang kena dampak dari kekuatan Jessica.

Sebelum menjawab darah tiba-tiba Viona muntahkan lagi. Dadanya ia cengkeram kuat-kuat karena tulang rusuk di dalam tubuhnya serasa di hancurkan sampai tak tersisa.

Kai menatap ngeri pemandangan dihadapannya. Kekuatan Viero sangat mengerikan..

 

“Ta- tadi seo- seorang Vam- pire menye- rang kami..uhuk uhuk, dan di- dia me- meba- wa Jessica per- gi”

Shit. Itu pasti Luhan!

 

Oh My God! Ada apa ini Kai?!” Tiffany berteriak histeris melihat keadaan ruangan seperti habis terjadi sebuah perang –oke, ia berlebihan.

“Tiff cepat obati Viona. Kurasa ia terkena telepati Jessica”

“Huh? Ah.. ne”

“Aku akan pergi menyusul Jessica”

“Apa? Eh? Kau mau kemana? Hei Kai!”

Terlambat. Kai sudah menghilang.

~~

Luhan menurunkan Jessica dari punggungnya. Jessica memandangi seluruh penjuru sudut ruangan yang mereka datangi penuh rasa kagum.

“Luhan.. ini kamarmu?”

Jessica sedikit kesulitan menemukan Luhan yang berpindah tempat terlalu cepat. Entah apa yang dilakukan namja itu tapi Jessica ingin sekali tau apa yang membuat Luhan terburu-buru.

“Hello~ Luhan apa kau mendengarku? ..eh apa itu? Kopor? pergi kemana?”

“Bisakah kau diam sebentar Jess?”

“Eung? ..Ya! aku hanya bertanya saja. Apa susahnya tinggal menjawab sih?

Mendengar celotehan kesal dari Jessica, akhirnya Luhan berhenti memasukan bajunya ke dalam kopor. “Pergi ke suatu tempat”

“Kemana?”

“Tempat dimana kita merasa aman”

~~

Dahi Kai berkerut. Ia sibuk memfokuskan diri dengan keberadaan Jessica.

Seperti ada sebuah pendeteksi alami di dalam diri Kai yang merasakan dimana yeoja itu berada. Cara kerja ‘pendeteksi alami’ itu bisa ia rasakan dengan jelas jika Kai memang benar-benar ingin tau dimana Jessica.

Rasa tersebut semakin kuat melanda Kai saat ia melewati deretan pepohonan yang berada di sekitar rumah mereka. Lalu namja itu berhenti di sebuah dahan pohon –tempat Luhan dan Jessica berhenti sebelumnya.

Kai merasa tidak yakin kalau Jessica ada di tempat ini. Selain keadaan disini sepi atau tidak ada tanda-tanda aktivitas, sosok Jessica pun tidak ia temukan, karena Kai yakin disinilah tempat Jessica berhenti.

Sesaat, Kai merasakan Jessica. Tapi bukan di sini, entah dimana yang letaknya kurang lebih berjarak tiga kilometer dari tempat ia berdiri saat ini.

Tidak ingin membuang-buang waktu, Kai langsung bergegas pergi.

~~

“Ya! Ya! Ya! Apa kau gila membawaku pergi? Bagaimana jika Kai mencariku?”

“Jess.. bisakah kau tidak menyebutkan nama namja itu saat bersamaku?”

“Oh ayolah Luhan, bukan hanya Kai. Oppa ku bisa khawatir kalau aku pergi tiba-tiba”

“Oppa mu pasti memaklumi kalau adiknya pergi karena ada bahaya tadi”

“Ugh.. Fine. Lalu kita pergi kemana?”

Baru Luhan akan membuka mulut menjawab pertanyaan Jessica suara handphone miliknya menyela pembicaaran mereka berdua.

“Yoboseyo..”

Dengan kesal Jessica mendesah keras, ia melipat kedua tangannya di depan dada. Menunggu jawaban Luhan setelah namja itu mengakhiri pembicaraan di telepon.

“Sudah kau pesankan? Semuanya juga? Aku berhutang budi padamu Sehun-ah, Gomawo. Oke, bye”

Luhan memasukan handphonenya ke dalam saku celana. Sekilas, ia melirik jam yang menempel pada dinding. Pukul 00 : 53 KST.

Luhan cepat-cepat menutup risleting kopor yang akan ia bawa. Meraih lengan Jessica agar yeoja itu mengikutinya turun ke bawah, menuju garasi.

Seakan teringat sesuatu Luhan berhenti mendadak, membuat Jessica menubruk punggung namja setinggi 183 cm tersebut.

“Aww.. Kenapa berhenti mendadak? Dan- eh apa yang kau lakukan?!”

Baru saja Jessica mengomeli Luhan, namja itu malah menyibakkan rambut Jessica kebelakang. Jessica pun tersentak dengan apa yang dilakukan namja itu.

“Apa yang kau…” Ucapan Jessica terhenti.

Matanya menatap kalung Viero yang sebelumnya mengelilingi lehernya kini berada di tangan Luhan.

“Mereka bisa menemukanmu kalau kau tetap memakainya.. Selama kalung itu menyatu dengan dirimu dan darahmu, maka ‘orang yang kau percaya’ bisa mengetahui dimana keberadaanmu. Apa kau punya orang yang kau percaya?”

“Emm.. aku tidak tau”

“Baguslah kalau begitu, kita bisa pergi tanpa ada halangan”

Belum sempat Jessica menyerap kata-kata tadi, Jessica sudah diseret Luhan menuju ke mobil namja itu. Dan Jessica menurutinya saja –karena yeoja itu masih belum bisa mengendalikan diri sepenuhnya. Yah, mungkin otak Jessica lamban menyerap informasi.

~~

Deg

Jantung Kai terasa berdetak lebih kuat. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.

Akhirnya namja itu memilih menghentikan perjalanannya.

Kai bingung dengan apa yang terjadi.

Bukan bingung karena jantungnya berdetak lebih kuat melainkan ‘perasaan’ yang menuntunnya ke Jessica tiba-tiba hilang. Otomatis Kai tidak tau ke arah mana ia harus melanjutkan.

Tapi dalam hatinya, Kai masih yakin kalau Jessica masih berada di sekitar wilayah ini. Sebuah daerah yang hampir mirip seperti hutan kecil namun daerah ini masih termasuk kota.

Akhirnya ia putuskan untuk kembali daripada membuang-buang waktu berpikir hal yang tidak jelas.

~~

Bandara Incheon, Korea Selatan.

“Hei.. Hei Luhan, kita akan pergi kemana?”

Ekspresi Jessica terlihat sangat panik. Sedangkan Luhan malah sibuk sendiri mengecek barang-barang yang ada di genggamannya.

Ada dua benda yang menarik perhatian Jessica, pasport dan tiket. Dan yang paling menarik lagi adalah tempat tujuan yang tertera dalam tiket itu, Greece (Yunani).

Belum lagi Jessica sempat bertanya, tangan yeoja itu ditarik Luhan ke dekat tempat yang lebih sepi.

Betapa kagetnya Jessica melihat sosok Sehun yang muncul tiba-tiba dihadapan mereka.

“Annyeong..” sapa namja imut itu. Jessica membalas sapaan itu dengan tersenyum kikuk.

Ia melihat Sehun sibuk mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya lalu beralih ke tangan Luhan.

“Ini hyung.. kalau tidak ada ini pasti kalian tidak akan bisa pergi keke”

 Luhan menatap benda itu sebentar lalu tersenyum, “Ya.. kau benar”

“Ya sudah hyung.. aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang”

Sosok Sehun yang tadi muncul tiba-tiba sekarang hilang tiba-tiba, datang dan pergi seenaknya sendiri.

Kehadiran Sehun tentu saja membuat penasaran lagi Jessica tentang apa yang direncanakan oleh Vampire laki-laki yang sekarang membawa dirinya sesuka hatinya.

Bahkan Jessica tidak menyadari kalau mereka sudah melewati pintu keberangkatan, pemeriksaan tiket, Area Security Check Point, Area Check in Counter, dan baru saja Jessica akan mendudukan dirinya di ruang tunggu keberangkatan suara pengumuman bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi segera berangkat.

Tentu saja membuat Jessica mendesah keras. Karena ia yakin pasti Luhan sudah merencanakan ini. Mereka pun duduk sesuai nomor tempat duduk yang tertera di boarding pass.

“Jadi, kenapa kita pegi ke Yunani?” tanya Jessica disela-sela kesibukan Luhan memakaikan seatbelt padanya. Jessica merasa ia seperti anak kecil saja.

“Berlibur?”

“Urgh, disaat genting seperti ini kau malah mengajakku berlibur?”

“Tentu saja”

Satu jitakan pun Luhan dapatkan.

~~

Kaló̱s í̱lthate sti̱n Elláda

Selamat datang di Yunani.

Itu kata-kata pertama yang Jessica dengar ketika ia membuka matanya. Dan sampai sekarang kata-kata tersebut masih terngiang-ngiang di kepalanya akibat ketidakpercayaannya dengan kenyataan.

Tentu saja, bagaimana tidak?

Sebuah negara yang ia idolakan akan cerita-cerita dewa-dewi, keindahan panorama alam, pilar-pilar tinggi mengokohkan bangunan dan sebagainya, kini ia memijakan kakinya di tanah negara tersebut.

Dengan pandangan terpaku lurus kedepan seolah ingin tau ujung dari wilayah ini, Jessica memandangnya kosong.

Dia sungguh tidak percaya kalau kejadian tadi malam memang benar sebuah ‘kejadian’. Atau mungkin ia sedang bermimpi buruk?

Ah, sepertinya tidak, mengingat dimana sekarang ia berada. Di Yunani, tempat Luhan membawanya pergi sementara.

Kecewa. Jessica merasa kecewa atas kejadian kemarin. Bagaimana bisa makhluk Seiz yang masuk dalam pemerintahan dunia Seiz yang jelas-jelas seharusnya melindungi dirinya malah dengan seenaknya ingin mengambil darahnya, darah warisan Appa dan Eommanya.

Dan sekarang ia malah berada satu atap dengan namja yang selama ini mati-matian ia lupakan..

Jessica tau. Seharusnya ia tidak boleh membiarkan rasa yang sudah lama ia pendam mencuat kembali. Namun rasa yang ia pendam tersebut malah ia biarkan menguasai dirinya.

Rasa yang muncul ketika Luhan ada dihadapannya, ketika Luhan menyentuh permukaan kulitnya, ketika Luhan menatap dalam matanya..

Dengan kejamnya rasa tersebut menguasai dirinya secara total saat Jessica membalikan badannya kebelakang. Dan benar saja Luhan tepat di depannya.

Ia melihatnya, melihat Luhan memandang dan tersenyum kearahnya. Jessica bahkan bingung dengan namja itu. Bagaimana bisa Luhan tidak merasa canggung setelah sekian lama mereka tidak bertemu, berbeda dengan Jessica.

Masih dengan tatapan dalam dan senyuman manis untuk Jessica Luhan mengulurkan tangannya, menawarkan genggaman hangat untuk Jessica.

Dan ya.. Jessica menerimanya tanpa keraguan.

~~

Jessica tidak menyangka jika ternyata hotel yang mereka gunakan untuk menginap berada di pulau Santorini. Sebenarnya Jessica tidak tau kapan mereka sampai di hotel yang berada di pulau Santorini. Mungkin karena Jessica kelelahan dan memilih tidur di perjalanan.

Pulau Santorini. Siapa yang tak kenal dengan pulau indah ini?

Pulau yang bagaikan permata yang berkilauan di antara pulau-pulau Yunani lainnya di Laut Aegea yang biru. Bangunan-bangunan bercat putih bertebaran menghiasi pulau. Pulau yang paling indah diantara pulau-pulau lainnya yang ada di Yunani.

Pertama kali menginjakan keluar dari hotel Jessica sudah disambut dengan pemandangan laut. Membuat Jessica terpana beberapa detik. Namun kekagumannya pada pemandangan tersebut tak berlangsung lama karena Luhan yang menarik tangannya.

“Terlalu mempesona eoh?” tanya Luhan.

Jessica menjawabnya dengan anggukan cepat, yeoja itu masih sibuk memandang lautan.

“Kalau begitu aku akan menunjukan mu beberapa tempat yang lebih mempesona” ujar Luhan terdengar sangat menarik di telinga Jessica.

Jessica pun memandang dan tersenyum senang ke arah Luhan.

~~

Setelah lama berjalan dari hotel kini banyak ditemui toko-toko yang menjual souvenir. Yah, untuk masalah seperti ini Jessica memang suka sekali. Banyak barang-barang yang menarik pandangan matanya.

Tak tahan melihat Jessica yang sedari tadi tidak memperhatikan dirinya berbicara karena sibuk menelusuri barang-barang yang menarik perhatian Jessica, akhirnya Luhan pun memutuskan untuk membelikannya.

“Kalau kau ingin sesuatu, katakan saja padaku. Aku akan membelikannya untukmu”

Wajah Jessica yang ceria menjadi redup mendengarnya, dan menatap sinis ke arah Luhan. “Aku bukan wanita materialistis”

“Aku kan tidak mengatakan kalau kau wanita materialistis, aku hanya bilang kalau kau ingin sesuatu katakan saja padaku. Daripada kau menganga lebar melihat barang-barang itu, membuatku malu saja” ujar Luhan dengan candaannya yang ditanggapi Jessica dengan cubitan keras di lengan namja itu.

Luhan meringis, “Aww..”

“Rasakan itu..”

“Sudah, jangan dibahas lagi. Oh ya Jess, apa kau tidak mau membeli pakaian?”

“Untuk apa?” tanya Jessica bingung.

Tidak tau mengapa Luhan malah tertawa tertahan mendengarnya. Membuat Jessica bingung dengan namja itu. ‘Apa dia tidak waras huh?’

“Baiklah, kalau begitu jadi kau tidak perlu pakaian untuk berganti pakaian uh?”

Mata Jessica membulat mendengarnya. Ia baru sadar kalau ia tidak membawa satu helai baju untuk ganti.

“Sudahlah Jess, aku yakin kau tidak butuh pakaian untuk nanti malam”

“Apa katamu? Dasar namja mesum”

“Aku tidak bercanda, mari kita lihat saja nanti” tanggap Luhan sambil tersenyum nakal.

Jessica memutar bola matanya kesal, “Tidak akan!”

Setelah mengucapkan itu Jessica langsung masuk ke sebuah toko pakaian.

Luhan pun tertawa kecil lalu menyusul yeoja itu ke dalam.

~~

Jessica membanting tubuhnya di atas sofa panjang. Tubuhnya sangat lelah karena seharian berjalan-jalan.

Berbeda dengan Luhan, namja itu terlihat tidak lelah. Ya tentu saja Luhan kan Vampire, pasti untuk hal sekecil ini tidak bermasalah untuknya.

“Lelah?” Luhan menanyai Jessica dengan nada lembut.

“Ya..”

Luhan mengambil tempat di sisi sofa untuk duduk di sebelah Jessica. Tangan namja itu terangkat ke atas untuk membelai puncak kepala Jessica.

Jessica merasa nyaman sekaligus tidak nyaman dengan tindakan Luhan. Ia menyukai belaian itu, namun ia tidak suka ritme detak jantungnya yang berantakan setiap mendapat belaian tersebut.

Nafas Jessica tertahan seketika saat Luhan ikut membaringkan tubuhnya di sofa. Tepat berhadapan denganya.

Betapa gugupnya saat Jessica melihat manik mata Luhan yang juga melihatnya.

Entah apa yang ada dipikiran Luhan ketika Jessica menatap namja itu balik.

Ternyata semua kejadian berkaitan dengan Jessica lah yang memenuhi pikiran namja itu.

Semua.. ya, semua..

Awal dari pertemuan mereka, hampir dua tahun yang lalu.

Berjalan berselisih arah. Di sebuah kampus.

Seorang yeoja berpakaian kemeja putih yang sangat dominan dengan kulitnya yang sangat putih, terlihat silau di pandangan Luhan. Rambut lurus tergerai indah melambai ketika angin menerpa rambut kecoklatan milik yeoja tersebut.

Mata bulat, hidung mancung, bibir mungil yang merah, Luhan terpesona.

Ketika aroma darah khas Viero memasuki indra penciumannya membuat tubuh Luhan serasa lemas seketika. Bercampur dengan aroma khas Jessica. Sangat memabukan bagi Luhan.

 Kini, Luhan malah memabukan dirinya dengan aroma tersebut. Tak peduli betapa tersiksanya dia karena harus menahan taringnya agar tidak menembus kulit leher Jessica.

Ingin merasakan tetes demi tetes darah itu memasuki kerongkongannya, menghapus rasa lapar dalam tubuh Luhan.

Dan sepertinya Jessica menyadari apa yang Luhan rasakan ketika berdekatan dengannya saat ini.

“Apa kau ingin darahku, hm?” Jessica menatap dalam Luhan.

“Tidak..”

Jessica tersenyum kecil mendengarnya. Bagaimana bisa Luhan menjawab ‘Tidak’ padahal sudah jelas sekali kalau namja itu ingin meminum darahnya sekarang. Terlihat dari taring gigi Luhan yang sedikit memanjang, Jessica sadar akan hal itu.

“Oh ya?” tanya Jessica main-main.

Jari telunjuknya ia dekatkan ke mulutnya sendiri, mengarahkannya ke dalam. Jessica menggigit jarinya sendiri sampai muncul setitik darah yang semakin lama semakin muncul dengan jelas.

Luhan langsung memejamkan matanya erat-erat merasakan aroma tersebut semakin terasa menusuk penciumannya. Mulutnya terkatup erat-erat. Bahkan saking kuatnya aroma tersebut, Luhan menggeram sedikit keras. Warna matanya yang semula kecoklatan menjadi merah pekat.

Tidak tau apa yang menggerakan Luhan untuk berganti posisi menindih Jessica, entah naluri atau keinginannya sendiri.

Jessica yang berada di bawah Luhan, menatap Luhan yang masih menahan mati-matian untuk tidak menyerang Jessica. Luhan mengambil tisu di sebelahnya dan segera menghapus luka tersebut.

Setidaknya luka yang terbuka sudah tertutup dengan kekuatan Viero Jessica, walaupun masih ada sisa aroma darah itu di udara.

“Apa yang kau lakukan?!” tanya Luhan pelan namun penuh penekanan.

Dengan tatapan polos Jessica menjawab, “Aku ingin memberikan darahku”

Luhan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jessica. Ia sempat berpikir apakah dirinya sedang berhalusinasi, atau Jessica yang ngawur bicaranya.

“Apa kau kelelahan?” Luhan mengangkat sebelah alisnya. “Istirahatlah saja”

Luhan yang akan beranjak bangkit ditahan oleh Jessica.

“Aku tidak lelah”

“Lalu?”

“Lakukan saja..”

“Apa kau bercanda?”

“Tidak..”

“Jangan bermain-main denganku nona Jung”

“Siapa yang bermain-main? Aku serius”

Luhan semakin menatap intens Jessica.

“Tidak akan.. Bukankah kau sendiri yang ingin menjaga keutuhan Viero untuk mu sendiri? Lalu kenapa kau malah merelakannya dengan mudah kepada Vampire sepertiku?”

Luhan berusaha mencari apa penyebab Jessica menyerah dalam pertahanan yang Jessica buat sendiri. Berulang kali ia mencari letak penyebab tersebut, berulang kali pula Luhan tidak mendapat kepastian. Apa yang dikatakan oleh Jessica sepertinya tidak main-main..

“Aku..” Jessica berhenti sejenak. Ia memejamkan mata lalu menghembuskan nafas pelan. Kemudian ia kembali membuka matanya, mata yang terarah tepat ke mata Luhan.

“Aku.. Aku.. ah, akan aku jelaskan. Memang.. aku memang sangat memegang teguh pendirian untuk menyimpan darah Viero ini sendiri. Namun, belakangan ini aku seperti goyah dalam pendirian tersebut. Setahun belakangan ini, aku selalu berpikir dan berpikir.

Sepertinya apa yang dikatakan oleh Oppa ku benar.. Aku terlalu egois dalam menyayangi sesuatu, salah satunya orang tuaku. Mereka memberikan aku warisan darah ini, aku salah bagaimana cara memperlakukannya. Seharusnya aku membaginya dengan orang yang aku cintai.. sama seperti apa yang dilakukan oleh Eommaku kepada Appaku”

“Lalu.. Aku juga terlalu lelah menyimpan semuanya sendiri. Jujur, aku juga butuh seseorang yang bisa membawa semua ini bersamaku. Aku butuh seseorang yang mampu memberiku kekuatan agar bisa kembali bangkit lagi karena dunia Seiz yang terlalu mengekangku.”

“Dan seseorang itu sudah aku temukan. Aku bahkan percaya padanya sejak aku pertama bertemu. Aku pikir aku gila.. karena mempercayai seseorang yang bisa saja membunuhku kapan saja. Tapi aku tidak takut.. karena rasa percaya itulah yang menguatkanku, menyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja”

“Dan seseorang itu.. ada dihadapanku”

 

Deg

Jantung Luhan seakan ingin berhenti berdetak.

Waktu terasa berhenti. Dunia seakan hanya ada dirinya dan Jessica.

Rasa meledak di dalam dada Luhan, membuatnya bahagia tak karuan.

Senyum terukir di bibir yeoja dihadapanya, semakin membuatnya percaya.

Entah apalagi yang harus dirincikan bagaimana perasaan Luhan saat ini.

Semua terlalu.. sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Jessica..”

Luhan menyebut nama Jessica dengan lembut, dengan volume suara yang sangat rendah hampir seperti bisikan.

“Tidak apa-apa Luhan.. Kau sudah mendengar semua pengakuanku. Lakukan saja..”

“Aku tidak percaya semua ini”

“Haha, memang kita baru saja bertemu kembali lagi. Tapi apakah kau menyadari apa yang menyebabkan aku berbicara seperti itu? Aku masih memikirkanmu, aku masih mencintaimu.

Aku sangat mempercayaimu Luhan.. dan tolong jangan mengecewakan aku seperti apa yang dilakukan oleh makhluk Seiz kemarin”

“…Jessica..”

“Tidak apa-apa Luhan”

Luhan bimbang antara ya atau tidak. Sebagian ia memang ingin, namun sebagian ia juga memikirkan pendirian Jessica.

Apakah memang benar Jessica mau memberikan harta berharganya kepadanya?

Apakah memang benar Jessica mau hidup selamanya dengan dirinya?

Apakah memang benar Jessica ingin terikat selamanya dengan dirinya?

Jessica menangkup wajah Luhan dengan kedua telapak tangannya yang mungil. “Percayalah Luhan.. seperti aku mempercayaimu”

Aku mempercayaimu..

Kedua sudut bibir Luhan tertarik membentuk sebuah senyuman.

Kata-kata tersebut telah meneguhkannya, memberikannya sebuah kekuatan besar.

“Terima kasih Jessica..”

Luhan menenggelamkan kepalanya di lekuk leher Jessica. Dibagian sebelah kanan, Luhan dapat mencium aroma khas Viero semakin kuat dibalik kulit putih Jessica yang terdapat sebuah denyut nadi.

Jessica dapat merasakan ujung dari taring tersebut yang menyentuh permukaan lehernya. Terasa dingin dan tajam..

Tapi ia tidak merasa takut. Karena ia sudah mengambil keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. Dan semua resiko dari keputusannya sudah ia pikirkan baik-baik.

Ia tidak masalah jika harus menghabiskan waktu dengan Luhan.

Ia tidak masalah terikat selamanya dengan Luhan.

Ia ingin selalu berada dimanapun, kapanpun, bagaimanapun keadaannya bersama Luhan.

Dan kini semuanya berubah seketika ketika taring tersebut menembus kulitnya.

Akhirnya Luhan merasakan rasa darah milik Jessica. Darah yang manis sekaligus membuat kecanduan Luhan untuk menghisapnya.

Sekarang. Di dunia ini bukan ‘ada satu’ makhluk Viero, melainkan ‘sepasang’ Viero.

Sepasang Viero abadi..

I would rather share one lifetime with you than face all the ages of this world alone.

 I love you. You’re my only reason to stay alive. -Jessica

                             

                                             TBC

Masih inget author nadiachan? /enggak! -reader
Oi oi oi masih adakah yang ingat cerita ini? cerita yang kepanjangan, semakin membosankan, apalagi menunggu authornya yang lama banget wkwk. Sorry ya lama ga update gegara sibuk banget sama keseharian di SMA -_-
SMA katanya masa-masa indah? hadeh masa suram deh kalo berurusan sama pelajaran -____-
Oke stop curhatnya.

Gimana nih ceritanya? semoga aja ga mengecewakan. Aku udah korbanin jam-jam istirahat demi nih FF, aku kasian banyak readers yang tanya kapan nih lanjutnya di publish, dan aku malah biarin nih cerita njamur di laptop wkwk.

Maaf kalo adatypo, alur, atau apapun yang ngga nyambung soalnya males koreksi dari awal wkwk.

Udah deh sekian dulu, jangan lupa like dan komennya ya :)

53 thoughts on “Telepathy (Chapter 9)

  1. plis luhan so sweet bangett, jessica jugaa, gasabar pengen baca kelanjutannya thorr, terus kai gimana jadinya? kan kasian da waiting jessica terus, aku pernah ngerasain gimana rasanya waiting lon thor, sakit masa *curhat tapi sebenernya aku sih lebih suka jessica sama luhan, lagian darahnya udah dikasihin ya jadi mending sama luhan aja._.v
    ditunggu kelanjutannyaa, jangan lama-lama waitingnya cape thor._.)b

  2. chapter 10 nya mana nih thor? Entah kenapa, akunya lebih srek sama Kaisic dibanding hansic. Pliss, kai-sica banyakin moment nextnya!

  3. Ngerti bngt Thor sm yg namany khdpn SMA aplg kl IPA ._.
    Btw ak sk bngt sm chapt ini!!! Asdfghjkl
    Thor ak all kill loh bc ff ini dlm semalem saking telatny n ga bs berenti buat lanjut bc *ga penting y? Ok abaikan kkk
    Lanjut terus pantang mundur!!! Smoga happy end~
    Fighting fighting!

  4. aaa kenapa jessica sama luhan??? T.T aku maunya jessica sama kai soalnya jessica luhan itu udah mainstream terus karakter jessica sama kai disini cocok sama sama nyebelin T.T yaudah yang penting kamu semangat buat thor

  5. thor kapan nih ff di lanjutin? udah lama banget nggak lanjut. padahal ceritanya bagus banget. pasti yang lain juga nunggu tuh. di tunggu ya thor. secepatnya. mian kalo bawel. keep writing!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s