Right Beside Me — 1st Part: The Feelings That Coming Back

20131127-220920.jpg

RIGHT BESIDE ME

Written by Vi || Starring SNSD Tiffany | EXO-K Chanyeol || Rated for Teen || Romance , Friendship || Disclaimer : I just borrow the cast || Note : inspired by other ff, manga , anime, japanese drama, my imagination. Sorry for bad fanfic and story. Poster by g.lin at cafeposterart.wordpress.com.

Prolog |

*****

Tiffany POV

Kini, aku dan Chanyeol tengah duduk di tea shop dengan tenang. Aku menyesap milk tea yang kupesan sambil diam-diam memandanginya, rasanya muncul lagi perasaan seperti dulu saat berduaan seperti ini. Aku yakin bahwa diriku yang sekarang ini masih memiliki perasaan padanya.

Kuletakkan milk tea ku lalu berdeham kecil. Rasanya gugup sekali kalau suasana canggung seperti ini. Akupun memulai pembicaraan , “kau masih dekat dengan siapa yang dulu satu sekolah dengan kita ?”

Chanyeol pun berhenti menyesap teh yang ia pesan. Iapun menjawabku, “aku dekat dengan Sunny. Ia sudah menjadi penulis novel lho sekarang, apa kau mau mengunjunginya ? Tapi saat ia lagi libur saja, iakan sibuk.”

Rupanya, Chanyeol masih akrab dengan Sunny. Jelas saja , Chanyeol kan menganggap Sunny sebagai orang yang menarik, sedangkan aku ? Aku yakin bahwa ia mengira aku masih pendiam seperti saat sekolah dulu. Ia mungkin juga belum tahu bahwa aku penulis novel sampai aku menjelaskan padanya tadi. Memang, diriku sangat menyedihkan. Aku tak pernah bisa mendekati orang yang kusukai seperti aku mendekati lelaki lainnya.

“Sekarang pekerjaanmu hanya sebagai seorang penjaga kolam renang ?” tanyaku sambil berusaha menahan gugup saat memandanginya.

“Tidak. Ini hanya kerja sambilan, kalau aku , aku sebenarnya seorang pelukis, apa kau mau datang ke rumahku untuk melihat hasil karyaku ?” jelas Chanyeol. Datang ke rumahnya !? Oh, aku jadi kesulitan mengatur detak jantungku karena ajakannya yang seolah menganggap hubungan kami itu sangat dekat. Apa ia lupa bahwa aku bukan teman dekatnya dari dulu ?

“Eh , kerumahmu ?” tanyaku ulang untuk memastikan bahwa perkataannya barusan itu bukan sekedar impianku di siang hari. Ia mengangguk. Apa ini artinya ia sungguh-sungguh mengajakku kesana ?

“Kalau kau memperbolehkannya , baiklah aku akan kesana,” kataku pelan malu-malu. Ia tertawa dan berkata, “kau masih pemalu ya. Apa kau masih pendiam ?”

ARGGGGGHH !

Cara berbicaranya padaku membuatku seolah akrab dengannya.

Setelah kami selesai menghabiskan teh kami masing-masing, kamipun membayarnya dan sebelum kami berpisah ia berkata padaku, “datanglah kemari, besok jam 10.00 ya.” Chanyeol memberi alamatnya di sebuah kertas sambil mengedipkan sebelah matanya. Ughh, lagi-lagi ia melakukan sesuatu yang membuat wajahku memerah malu.

“B-baiklah, s-sampai jumpa ya.” Akupun berlari secepat mungkin meninggalkannya. Benar-benar hari yang penuh dengan kejutan ! Bertemu dengan orang yang kucintai setelah sekian lama tak bertemu dengannya benar-benar membuatku gugup. Ini reuni yang hebat !

*****

Chanyeol POV

Sebenarnya apa yang ada dipikiranku ? Mengapa aku bisa-bisanya menyuruh Tiffany datang ke rumahku bahkan Sunny saja belum pernah datang ke rumahku. Dan lagi, aku juga merasa sangat gugup saat bersama dengan Tiffany, berbeda dengan saat aku sedang bersama Sunny, rasanya lebih nyaman kalau bersama Sunny tapi kalau bersama dengan Tiffany aku merasa lebih senang.

“Apa perasaan yang sudah hilang sejak beberapa tahun yang lalu itu datang kembali ?” batinku. Dulu, aku memang sudah pernah menyukai Tiffany, tepatnya di tahun saat ia bertemu denganku untuk pertama kalinya. Ia tampak manis saat malu-malu begitu.

“Hah, mengingat wajahnya, senyumannya, tawanya, suaranya sungguh membuatku merasa gugup. Kurasa perasaan ini kembali lagi, tapi aku tak yakin soal itu,” gumamku.

*****

author POV

Pagi harinya, Tiffany sudah bangun pada jam 07.30, bahkan ia sudah bersiap-siap untuk ke rumah Chanyeol nanti. Ia tahu ia memiliki novel yang harus segera ia kerjakan namun rasanya soal novel itu bisa nanti, terlebih tenggat waktunya masih cukup lama, setidaknya ia bisa mencari ide di tengah perjalanan ke rumah Chanyeol nanti.

Kini, Tiffany tengah memilih-milih pakaian yang akan dikenakannya ke rumah Chanyeol nanti. Harus cantik. Itulah yang ia pikirkan saat melihat pakaian-pakaian yang tersebar di ranjang.

“Huff, apa aku harus pakai bajunya sederhana atau dress ya ? Dress dapat membuatku tampak lebih feminim tapi aku lebih nyaman saat mengenakan pakaian yang simple,” batin Tiffany sambil mengusap dagunya pelan layaknya orang berpikir.

Karena kesulitan memilih, iapun kembali berpikir tentang tipe perempuan yang disukai Chanyeol. Kata sahabatnya yang kini pindah ke Amerika sih, Chanyeol suka gadis yang sering menunjukkan sisi feminimnya meski rambutnya pendek.

“Feminim ya ?” pikir Tiffany. Akhirnya, telah diputuskan bahwa ia akan mengenakan dress putih yangs udah lama dibelinya.

*****

Chanyeol’s place

Chanyeol sudah bangun. Ia menyiapkan beberapa hidangan buatannya sendiri –tentunya yang sederhana untuk kedatangan Tiffany nanti.

“Aku harus tampak rapi,” tekad Chanyeol sambil berkacak pinggang dengan bangga saat melihat hasil masakannya yang tampak lezat. Iapun mengalihkan pandangannya dari masakan kearah lukisan. Lukisannya sudah ia pajang di rumah itu tepat pada hari ini.

“Dan aku harus menunjukkan sebagus apakah lukisanku itu,” bangga Chanyeol sambil tersenyum dengan senyuman khasnya. Namun senyuman manis itu perlahan memudar saat tahu bahwa Tiffany akan datang kemari sendirian. Rasanya pasti canggung dan kurang menyenangkan –karena kecanggungan itu tentunya–.

“Meski ada Suho hyung , aku yakin suasana di rumah ini akan terlalu canggung. Suho hyung sendiri orangnya pendiam dan suka membaca buku kan ? Ia juga mengurung diri di kamar terus, pasti canggung,” gumam Chanyeol lemas sambil mengusap rambutnya kebingungan. Matanya yang tanpa sengaja tertuju pada telepon rumah berwarna hitam yang terletak di dekat ruang televisi. Saat melihatnya, ia tiba-tiba saja memiliki ide cemerlang untuk memeriahkan rumah ini.

“Ah aku punya ide !”

*****

Sudah jam 09.50 , 10 menit saja sudah cukup bagi Tiffany untuk berjalan ke rumah milik Chanyeol yang terletak tak jauh dari situ. Ia menghela nafas berkali-kali sepanjang perjalanannya kesana , ia gugup sekali, meski ia berulang kali memaksa dirinya untuk mendongak ke langit agar ia bisa mencari inspirasi, tetap saja ia tak bisa melepaskan kunjungannya ke rumah Chanyeol dari otaknya.

“Benar-benar sulit sekali untuk bersikap biasa,” gumam Tiffany sambil mencibir kesal.

Tanpa ia perhatikan, ia sudah sampai di rumah Chanyeol. Ia menghembuskan nafasnya pelan sambil berbisik di dalam hatinya untuk bersikap tenang baru kemudian ia menekan belnya.

TING TONG

Chanyeol langsung menderap keluar dari rumahnya dan bersorak ceria untuk menutupi rasa kegugupannya juga, “Tiffany !”

Tiffany tersentak kaget melihat keceriaan Chanyeol , setelah melihat keceriaan ini rasanya hanya dirinya saja yang merasa gugup sedangkan Chanyeol tidak. Ia tak tahu padahal sebenarnya Chanyeol tengah berusaha menutupi rasa gugupnya.

“Ayo masuk , aku sudah memajang semua lukisanku yang sudah selesai dan aku juga sudah menyiapkan hidangan sederhana yang hanya dibuat olehku,” bangga Chanyeol sambil mengedipkan sebelah matanya lucu. Kedipan mata itu sukses membuat Tiffany tersentak, lagi-lagi Chanyeol melakukan sesuatu yang menambah kegugupannya. Bisa saja nanti ia pulang dengan cepat karena tak betah dengan kegugupan yang ia rasakan saat sedang bersama Chanyeol.

Saat Tiffany masuk, ia disambut hangat oleh sesosok gadis cantik yang imut, “Tiffany ! Apa kau masih ingat padaku ?” tanyanya.

Tiffany tersentak kaget saat mendapati siapa yang menyambut hangat dirinya. Lee Sunkyu alias Lee Sunny. “Apa yang dilakukannya disini ?” pikir Tiffany.

“S-Sunny kan ? Kau masih manis dan tampak muda saja ya, seolah tak ada yang berubah,” kata Tiffany sambil tersenyum dan menunjukkan eyesmilenya.

“Tak ada yang berubah ? Apa kau mengejekku ? Aku juga bertambah tinggi dalam beberapa tahun ini tahu !” elak Sunny kesal lalu mengalihkan pandangannya dari Tiffany sambil melipat tangannya.

Tiffany terkekeh. Meski dari luar ia tampak bahagia bertemu dengan Sunny lagi, tapi ia juga merasa agak kecewa saat tahu Sunny ada disini, rasanya tak memungkinkan baginya untuk berbicara banyak dengan Chanyeol dengan adanya Sunny disini. Rasanya malu saja.

“Ohya, Chanyeol ! Terima kasih sudah mengundangku kemari, tak kusangka bahwa aku akan bertemu dengan sahabat lamaku lagi !” seru Sunny ceria. Tiffany membulatkan matanya.

“Chanyeol yang mengundang Sunny dan bukan Sunny yang ingin datang kemari ?” batin Tiffany. Rasanya ia patah hati dalam sekejap. Kemarin memang hari yang membahagiakan namun sekarang tidak, rasanya Chanyeol seperti menduakannya dengan mengundang Sunny kemari pula.

“Lagipula kalau kau tidak memohon padaku untuk datang kemari aku juga tak sudi datang kemari, aku ingin menyelesaikan naskah novelku tahu !” marah Sunny pada Chanyeol. Chanyeol hanya tertawa malu pada Sunny. Tiffany merasa seperti dilupakan.  Terlebih setelah mendengar kalimat Sunny barusan bahwa Chanyeol memohon-mohon padanya untuk datang, apa Chanyeol tidak suka ia datang kemari ? Dan Chanyeol juga tak mengelak dari perkataan Sunny, jadi itu sungguhan ?

“Apa iya Chanyeol memohon padamu, Sunny ?” tanyaku padanya. Sunny mengangguk kesal.

“Akui perbuatanmu , Chanyeol !” teriak Sunny. Chanyeol pun menggaruk kepalanya kikuk lalu membungkuk beberapa kali sambil berkata, “maafkan aku. Aku memang melakukannya.”

Sesuai dengan desas-desus yang ada di sekolah dulu, Chanyeol itu tak bisa melawan keinginan Sunny. “Jadi , kalau desas-desus yang ini benar apa desas-desus tentang Chanyeol menyukai Sunny itu juga benar ?” batin Tiffany. Ia ingat pertama kali ia mendengar desas-desus tentang perasaan Chanyeol pada Sunny saat di sekolah dulu adalah saat ada murid yang meledek Chanyeol tak bisa melawan keinginan Sunny dan mengira Chanyeol menyukai Sunny. Apalagi setelah itu Chanyeol tidak mengelak, ia membiarkan wajahnya memerah lalu pandangannya ia alihkan ke sisi lain –ke sisi yang berlawanan dari murid yang meledeknya itu.

“Oh iya, Tiffany , kubilang kemarin bahwa aku mau menunjukkan lukisanku kan ? Ini lukisannya ada di sekeliling ruangan ini. Bagaimana menurutmu ?” tanya Chanyeol bangga.

“Biasa saja bagiku,” jawab Sunny. Chanyeol mengerucutkan bibirnya dan menatap Sunny kesal.

“Padahal ini bagus lho menurutku,” elak Chanyeol. Tiffany terkekeh namun kemudian ia menjawab, “lumayan kok.”

‘Lumayan’ satu kata itu sukses menyakiti hati Chanyeol. Ia pikir Tiffany yang lembut akan memuji lukisannya dan menegur Sunny yang tak menghargai karyanya.

“Lumayan ? Hanya lumayan ? Apa ini tidak bagus ? Tidak hebat ?” tanya Chanyeol dengan ekspresi yang berlebihan. Tiffany yang melihat ekspresi Chanyeol pun tertawa sehingga eyesmile muncul, “ekspresimu lebih hebat daripada lukisanmu , Chanyeol !”

Chanyeol menghela nafas kesal karena diantara 2 gadis ini tak ada satupun dari mereka yang membela lukisannya. Namun, yang membuatnya terkejut adalah Tiffany. Tiffany yang biasanya kalau tertawa malu-malu skearang sudah bisa tertawa lepas seperti itu.

“Tiffany kau banyak berubah ya, sekarang kau bisa tertawa lepas seperti itu,” kata Chanyeol kagum. Tiffany berhenti tertawa dan memandang Chanyeol malu. Ia menggaruk kepalanya kikuk.

“Begitukah ? Kupikir aku tidak berubah. Baguslah kalau aku bisa berubah,” tanggap Tiffany bingung. Suasana tiba-tiba saja menjadi canggung, Sunny pun memecahkan kecanggungan tersebut dengan berkata, “ayo kita nikmati hidangan buatan Chanyeol. Begini-begini, ia juga cukup bisa memasak lho.”

“Lee Sunny, apa kau tidak cukup hanya mengejek lukisanku ? Kini kau mengatai masakanku ‘cukup’ bukan enak atau sangat lezat,” kata Chanyeol lesu. Sunny tertawa dan berjalan kearah dapur dengan gesit, Chanyeol dan Tiffany hanya mengikuti gadis itu dari belakang.

“Makanlah masakanku lalu berikan komentar untukku ya,” kata Chanyeol sambil menunjuk hidangan buatannya. Tiffany mengangguk malu-malu.

Ia paling tidak suka kalau suasana canggung seperti tadi datang lagi, rasanya sulit untuk sekedar memandang matanya saja.

To be continued

Mian gaje, aku sudah berusaha menyelesaikan part 1 nya disela2 kesibukanku T_T so, pls komen ya !

 

31 thoughts on “Right Beside Me — 1st Part: The Feelings That Coming Back

  1. Pingback: Right Beside Me — 4th Part : Meeting With Her Parents | EXOShiDae Fanfiction

  2. Pingback: Right Beside Me — 5th Part : Misunderstanding | EXOShiDae Fanfiction

  3. Pingback: Right Beside Me — 6th Part : Confession Time | EXOShiDae Fanfiction

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s