[Freelance] Lovhobia! (Chapter 4)

lovhobia

Tittle: Lovhobia! (chapter  4) || Author: AegyoKyung (Rie Fujiwara) || Cast: Seo Joo Hyun (GG) Xi Lu Han (EXO) || Other Cast: Oh Se Hun (EXO) || Genre: Romance, Family, School-life || Rated for Teen || Length: Chapter || Author’s Note: Annyeong~ Author comeback bawa Lovhobia chap 3 ._. adakah yang masih ingat ? >_<  Big thanks for Mizuky @Cafe Poster Art yang udah bikin georgeous poster. Okay happy reading and Sorry for Typo(s) ^^

-o0o-

Dear you, dont be afraid to love me

-o0o-

“YAA LUHAN-SSI !! BANTU AKU !!”

-o0o-

Luhan diam tak bergeming, hanya melihat gadis yang diajaknya itu dari jarak sekitar dua meter darinya. Sejenak kemudian ia tertawa geli, sebelum akhirnya kakinya melangkah dan jongkok sambil mengulurkan tangannya kea rah gadis itu—Seohyun. “Ya, raihlah tanganku erat-erat ! Jangan membantah lagi, arra ?”

Seohyun pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mungkin kini ia sedang sibuk mengucapkan do’a-do’a yang ia ketahui dalam hati. Dengan hati-hati, tangan Seohyun pun meraih tangan Luhan yang berada tepat di atas kepalanya.

“berikan tanganmu yang lainnya !”

“MWO ?! KAU BENAR-BENAR INGIN MEMBUNUHKU, EO ?” pekik Seohyun galak. Sedangkan Luhan hanya memutar bola matanya.

“Hey, bodoh. Kau pikir aku akan membunuhmu di tempat seperti ini ? Aish, sudahlah. Mana tanganmu ! Aku dapat menjamin kau pulang dengan utuh nanti”

Seohyun terdiam sebentar. Memang, kini ia ‘sedikit’ percaya dengan namja itu. Bisa saja dirinya memberikan tangannya yang lain pada Luhan. Tetapi, bagaimana jika justru Luhan menjatuhkannya dengan sengaja ? Bagaimana jika Luhan gagal meraih tangannya dan akhirnya dia terjatuh ? Bagaimana jika Luhan juga malah ikut terjatuh dengannya ? Aish, itu sangat mengganggu pikirannya.

“Ya Seohyun-ah ! Cepat berikan tanganmu ! Tanganku sudah lelah ini,” ujar Luhan yang membuat Seohyun tersadar dan memberikan tangannya kepada Luhan secara reflek. Luhan pun tersenyum dan menarik tangan Seohyun. Karena terlalu kuat, akhirnya ia dan Seohyun justru terjatuh di atas balkon dengan posisi Seohyun berada di atas Luhan.

Mereka berdua sama-sama tertegun. Ini pertama kalinya bagi Seohyun menatap wajah seorang lelaki dari jarak sedekat ini. Begitu pula dengan Luhan. Dari jarak sedekat ini, di dalam hati Seohyun mengakui bahwa Luhan memang tampan…dan baik juga tentunya. Dan entah mengapa Seohyun merasakan detak jantungnya kembali berdebar cepat, diiringi dengan perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Apa ini ?

“Hey,” Luhan membuka suara. Sedangkan Seohyun menatap manik matanya. “Kau… berat juga rupanya”

“MWO ?!” Dengan cepat Seohyun pun berdiri dan membelakangi Luhan. Seohyun merasakan pipinya memanas. Aih, mungkin kini pipinya seperti udang rebus.

Sementara itu, Luhan pun ikut mensejajarkan tubuhnya dengan Seohyun. “Seohyun-ah,” panggil Luhan, menguji apakah gadis berhanbok di depannya itu marah atau tidak. Kalau sampai Seohyun marah padanya, itu artinya ia takkan lagi dekat dengan gadis itu. Yah, melihat dari sikap gadis itu selama ini.

“Seohyun-ah,” panggil Luhan lagi. Kali ini pria berdarah China itu turut menarik-narik hanbok Seohyun. Tetapi, Seohyun pun tak meresponnya. Karena kesal, lelaki itu pun berniat menggoda Seohyun.

“Kau…senang dengan insiden tadi bukan ?”

Blush !

 

Pertanyaan Luhan membuat Seohyun membulatkan matanya dan menatap lelaki itu garang. Sedangkan Luhan hanya meringis tanpa merasa bersalah sedikitpun. “Sudahlah. Aku mau ke bawah. Mungkin perlombaan telah dimulai.” Ujar Seohyun dingin kemudian melangkah menjauh dari Luhan.

“Seohyun-ah ! Tunggu !”

“Kurasa kita tidak perlu bertemu lagi setelah insiden ini.”

Luhan menghentikan langkahnya.

-o0o-

“Bagaimana hubunganmu dengan Noona, hyung ?”

Luhan menatap Sehun yang sedang membaca buku komiknya dan mengaduk coffe yang ia pesan tadinya. Sedetik kemudian Luhan pun mengangkat bahunya dan memilih untuk menyeruput mocca-nya yang mulai mendingin.

“Mengapa malah mengendikkan bahu,hyung ?”

“Mengapa kau bertanya kepadaku ?”

Sehun mengerucutkan bibirnya. Jujur, ia tidak suka saat ia bertanya kepada seseorang, bukan jawaban yang ia dapat. Tetapi pertanyaan balik. Sehun pun meminum coffenya itu, “jika aku bertanya pada Seohyun Noona, aku bertaruh kalau Noona akan menjawab dengan kalimat ‘Bukan urusanmu’ atau ‘Lihat saja nanti’,” jawab Sehun sembari menirukan cara bicara Seohyun ketika ia ditanyai tentang masalah ‘sangat’ pribadinya.

“Jadi begitu ?” Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Sebenarnya hubunganku dengan Seohyun sekarang… Yah, kau tahu ? Tidak ada perkembangan. Ia masih menganggapku hanya sebatas teman.Noona-mu itu berkata jika aku tidak boleh menemuinya saat festival Chuseok lalu. Dan yang paling parah, Noona-mu benar-benar menjauhiku. Hampir seminggu aku tidak bertemu dengan noona-mu itu.”

Sehun menggelengkan kepalanya berulang kali. “Ternyata pengaruh kematian Minseok-hyung sangat berpengaruh besar padanya.”

“Hmm,” Luhan menyandarkan kepalanya dengan tangan kanannya. “Sama sekali tak terpikirkan olehku jika phobia terhadap cinta itu memang ada…Maksudku penyakit ‘Lovhobia’ itu benar-benar nyata.”

Sehun mengendikkan bahunya. “Ah, aku hampir lupa. Noona akan pergi ke Paris untuk bertemu orangtuaku. Apa kau tidak mau mengantarkannya di bandara… Ehm, mungkin untuk berbicara sesuatu sebelum ia pergi ?”

“APA ?!” pekik Luhan membuat pengunjung café itu menatap kedua insan yang sedang terdiam-kikuk. Mereka sangat beruntung karena pengunjung café itu tidak terlalu ramai. “Kapan Seohyun akan pergi ke bandara ?!”

“dua jam dari sekarang”

-o0o-

“Oppa, aku datang kembali”

Seohyun tersenyum kecil, sembari mendekap erat sebuket bunga Lily putih yang sengaja ia beli tadi. Kedua mata hazel milik Seohyun mulai berkaca-kaca. Bibirnya mulai bergetar—ingin menangis. Namun ia telah berjanji tidak akan menangis hari ini. Seohyun menghela nafas berat sebelum akhirnya ia berjongkok dan menatap benda mati berwarna hitam itu—batu nisan.

Seohyun tersenyum kembali, walaupun sebenarnya ia ingin menangis. Tangannya meletakkan buket bunga Lily putih itu tepat di depan nisan sang kakak. Kemudian tangan Seohyun mengelus perlahan nisan sang kakak yang tebuat dari batu marmer hitam itu.

“Oppa, aku ingin mengatakan sesuatu”

Seohyun terdiam, menunggu reaksi dari sang kakak, walaupun Seohyun tahu itu sangat mustahil. “Oppa, aku akan meninggalkan Seoul hari ini. Aku memutuskan untuk tinggal bersama Eomma dan Appa di Paris. Apa itu keputusan yang bagus, Oppa ?”

Seohyun terdiam kembali. Merenungi setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri. Seohyun berharap, ini bukanlah keputusan yang salah. Seohyun menghirup oksigen dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya pelan-pelan.

“Oppa, aku seperti ini bukanlah karena aku rindu dengan Orangtua kita.” Seohyun menghela nafas sejenak. “Aku memang rindu mereka Oppa. Tetapi alasan sebenarnya adalah aku ingin menghindari Luhan. Kau tahu Luhan kan Oppa ? Pria yang bersamaku saat aku menangis tersedu-sedu sebulan yang lalu.”

“Entah mengapa, dialah orang yang dapat membuatku bicara Oppa. Tentunya selain dirimu. Bahkan pria itu lebih tahu rahasiaku dibandingkan dengan Sehun yang jelas-jelas dongsaeng-ku sendiri. Aku juga tidak tahu, Oppa. Setiap aku dekat dengannya, aku merasakan perasaan aneh. Dan aku tidak tahu apa itu.”

“Dan perasaan aneh ini mulai mengembang dan membuatku takut Oppa. Aku takut jatuh cinta dengannya. Aku takut jatuh cinta dengannya dan aku akan berakhir dengan kekecewaan…seperti kau Oppa,” Seohyun mengakhiri kalimatnya dengan helaan nafas panjang dan menundukkan kepalanya. Terdapat setitik rasa kelegaan di hatinya karena dirinya telah meluapkan semua ganjalan yang ia alami.

“Seohyun-ah”

Seohyun mengangkat kepalanya. Telinganya menangkap seseorang tadi. Tapi siapa ? Bukankah ia sedang sendirian sekarang ?

“Seohyun-ah”

Seohyun terdiam membatu. Telinganya tidak salah mendengar. Seseorang sedang memanggil namanya. Namun…Suara itu…sangat mirip dengan seseorang… ah ! Seohyun baru menyadari jika suara itu sangat mirip dengan suara milik seseorang yang sangat ia sayangi… yang tak lain adalah Minseok, kakakknya sendiri.

Seohyun menolehkan kepalanya ke belakang. Matanya membulat sempurna setelah mata hazelnya menangkap sosok yang selama ini ia rindukan… “Oppa !!”

Minseok, atau lebih tepanya arwah Minseok tersenyum ke arah yeodongsaeng-nya itu. Tanpa basa basi, Seohyun pun langsung memeluk Minseok. Dingin. Itulah kesan pertama Seohyun saat memeluk Minseok. Namun gadis itu tak peduli. Yang menjadi tujuannya sekarang adalah meluapkan rindunya pada kakaknya itu.

“Oppa… Apa ini benar kau ? Hiks. Aku sangat merindukanmu Oppa” ujar Seohyun pada sela-sela isak tangisnya.

Minseok tersenyum. Tangan dinginnya mengelus-elus rambut panjang Seohyun, “Tentu saja, Seobaby. Bagaimana kau bisa meragukanku, hm ?”

Air mata Seohyun semakin deras. “Oppa, kau bodoh ! Kau sangat bodoh karena telah memilih bunuh diri dengan alasan perempuan jalang itu ! Kau sungguh bodoh Oppa !” Ucap Seohyun sembari memukul kecil bahu Minseok. “Oppa, Kau tahu Betapa hancurnya aku saat melihatmu terbujur kaku di Apartemenmu ? Apa kau tahu perasaanku saat kau memilih bunuh diri hanya karena wanita itu ? Aku hancur !!”

Bulir-bulir Kristal mulai turun membasahi pipi chubby Minseok. “Maafkan aku, Seobaby..”

Seohyun menangis kembali, membuat Minseok memilih untuk merengkuh tubuh Seohyun. Tangan dinginnya kembali mengelus-elus rambut Seohyun. Jika bisa jujur, Minseok sangat menyesali perbuatannya. Ia merasa sangat bodoh karena ia rela bunuh diri hanya karena wanita yang memang bukan wanita yang pantas untuknya.

“Seobaby, dengarkan aku. Waktuku tidak banyak. Jadi aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku telah mendengar semua keluh kesahmu tadi. Dan menurutku, kau jangan melarikan diri dari cintamu, Seobaby. Karena menurutku itu percuma. Jika kau melarikan diri, maka kau sama halnya sepertiku. Hanya penyesalan yang kau dapat. Maka jangan pergi. Kau mencintai Luhan bukan ?”

Seohyun menggelengkan kepalanya, “justru karena aku merasa mencintainya, makanya aku merasa kalau aku harus menjauhinya.” Saat melihat wajah Minseok yang berkerut tidak mengerti, akhirnya Seohyun menceritakan semuanya. Tentang perasaannya melihat akhir dari hubungan Minseok dengan wanita itu, ketakutannya pada rasa cinta, hingga membuatnya menolak Luhan.

Wajah Minseok mendadak terkejut ketika Seohyun menyelesaikan ceritanya. “Jangan merendahkan dirimu, Seobaby. Kau jauh lebih baik daripada diriku atau wanita itu. Aku yakin kau takkan egois dengan meninggalkan orang yang kamu sayang demi berselingkuh darinya. Intinya, kau lebih baik daripada kami.”

“Jika aku begitu… Bagaimana dengan Luhan ?” Tanya Seohyun lirih.

Minseok tersenyum, dan menepuk bahu Seohyu pelan. “Apa kau merasa kalau Luhan pilihan yang paling tepat..untukmu ?”

“Aku tidak tahu” jawab Seohyun jujur. “Aku tidak tahu masalah seperti ini, Oppa” keluhnya.

Minseok kembali tersenyum, membuat Seohyun sedikit tenang. “Hatimu yang akan mengetahui waktu kau yakin jika Luhan orang yang tepat. Dan, saat waktu itu tiba, seluruh ketakutanmu takkan berarti apapun atau jadi penghalang. Kau hanya perlu menerimanya.”

Seohyun hanya terdiam.

-o0o-

Seohyun berbaring di atas sofa ruang tamu sambil menatap langit-langit rumahnya. Kedua tangannya terlipat di belakang kepala, sementara dirinya sibuk berpikir. Kata-kata Minseok oppanya terus terngiang di kepalanya. Dia memejamkan mata, mencoba mengingat kata-kata yang pernah Luhan ucapkan kepadanya.

“…Aku menyukaimu, Seohyun-ah.”

Walau tidak mau mengakuinya, Seohyun telah menyadari bahwa Luhan telah menjadi sosok yang cukup penting dalam hidupnya. Hanya pemuda itu yang pernah melihat ke dalam dirinya, mengetahui semua rahasia-rahasia yang tidak pernah diutarakannya pada siapapun. Namun, seperti apa yang pernah ia katakana pada Luhan, dia takut. Ia terlalu pengecut untuk mencoba menerima apa yang Luhan tawarkan dulu.

Seohyun takut merusknya dan tidak ingin melihat hal itu rusak. Jadi, daripada seperti itu, Seohyun lebih memilih tidak pernah memulainya sama sekali .Dan, itu berarti ia dan Luhan takkan bisa berteman kembali. Akan sangat rumit dan menyakitkan untuk mereka berdua. Terutama, tidak adil untuk Luhan.

Seandainya, jika dia memberanikan diri meraih apa yang Luhan coba berikan untuknya, membuat sosok Luhan semakin berarti untuknya, dan kemudian harus melihat gadis itu pergi, rasanya tentu sangat menyakitkan. Dan, bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya ? Bagaimana jika Seohyun yang meninggalkan Luhan ? Seohyun akan mengutuk dirinya sendiri seumur hidup. Seohyun tidak mau mengalami nasib yang serupa dengan kakaknya, meskipun Minseok sudah meyakinkan dirinya kalau nasibnya takkan seburuk Minseok, Seohyun belum bisa yakin sepenuhnya.

Seohyun membuka mata ketika ia mendengar suara pintu terbuka. Seohyun menebak jika Sehun sudah datang. Dan tepat sekali,pemuda tampan itu kini sedang menatapnya dengan tatapan heran, mungkin karena Seohyun berada disini.

“Noona ? Noona tak jadi pergi ke Paris?”

Seohyun menggeleng pelan, “Awalnya aku ingin pergi. Namun Minseok oppa mencegahku.”

Saat melihat wajah Sehun yang berkerut tidak mengerti, akhirnya Seohyun menceritakan semuanya. Tentang kejadian di luar nalar manusia saat ia mengunjungi makam Minseok, saat Minseok memeluknya dan mengatakan maaf padanya, saat Minseok memberikan beberapa kata-kata motivasinya.

Mendengar penjelasan dari Noona-nya, wajah Sehun terkejut, “J-jadi.. N-Noona telah b-bertemu M-Minseok hyung ?”

“Tapi kumohon jangan takut dahulu, Hun-ah,” ujar Seohyun yang mengetahui perubahan drastis raut wajah adiknya itu. “Aku hanya menyampaikan segala sesuatu yang mengganjal pada hatiku. Dan kemudian Minseok oppa datang.”

Perlahan, wajah Sehun pun kembali seperti semula, “Ah tentu. Lalu apa yang kau bicarakan dengan Minseok hyung, Noona ?”

“Luhan.”

“Noona merindukannya ? Bukankah Noona yang menyuruh Luhan Hyung untuk menjauhi Noona ? Bahkan Noona mulai menghindari Luhan hyung”

“Darimana kau mengetahui hal itu ?”

Sehun diam mematung—tak menghiraukan pertanyaan Seohyun. Akhirnya suasana berubah menjadi hening. Baik Sehun maupun Seohyun sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Seohyun membuka suara,

“Hun-ah, menurutmu mana yang lebih baik. Mengenal cinta lalu kehilangan atau tidak pernah mengenalnya sama sekali ?”

Sunyi beberapa saat. Kali ini Seohyun yakin bahwa Sehun tengah memikirkan jawaban dari pertanyaannya. Kemudian, lelaki itu berdeham, “Aku memilih mengenal cinta dan mempertahankannya agar tidak pergi.”

“Tidak ada pilihan seperti…”

“Aku tahu, Noona,” potong Sehun. “Aku takkan memberimu penjelasan panjang lebar tentang cinta karena aku tahu Noona mungkin akan muak. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Mungkin Noona sering mendengarnya, cara terbaik mengatasi ketakutan adalah dengan menghadapinya. Jika Noona terus melarikan diri, itu hanya buang-buang waktu saja. Pada akhirnya, Noona takkan mendapat apa-apa. Hanya capek.”

“Lalu, apa hubungannya dengan pertanyaanku ?”

“Noona cinta dengan Luhan hyung, kan ? Tapi Noona takut untuk mengakuinya. Noona terlalu takut untuk mengadapinya, oleh sebab itulah Noona bertanya kepadaku, bukan ?”

Seohyun terdiam.

Terdengar Sehun menghela nafas panjang. “Noona, kau akan tahu hasilnya setelah mencoba. Kalau saat ini Noona memilih untuk menjauhi Luhan hyung, mungkin Noona akan kehilangan Luhan hyung dan takkan ada kesempatan bagi kalian berdua untuk bersama. Tapi, jika Noona memberanikan diri untuk menerima, kalian punya peluang besar.”

“Tapi bagaimana jika aku akan menerima dan akhirnya kami…gagal ?”

“Noona berharap akan gagal ?”

“Bukan begitu. Tapi…”

“Besok biarlah terjadi besok. Yang penting adalah apa yang Noona lakukan sekarang. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi besok. Bahkan kita tidak tahu apa yang terjadi sejam lagi.”

Seohyun mendesah. Sepertinya ini akan lebih rumit daripada apa yang ia pikirkan. “Kau.. percaya bahagia selamanya, Hun-ah ?”

“Di dunia ? Tentu tidak. Oh, ayolah, bahagia selamanya hanya ada di negeri dongeng. Manusia saja tidak hidup selamanya, bagaimana kita bisa bahagia selamanya ?” jawab Sehun cepat. “Aku tidak tahu apa yang membuat Noona sangat trauma dengan cinta lebih dari apa yang aku bayangkan. Tapi, seharusnya saat ini Noona menghadapi ketakutan Noona. Noona sudah terlalu lama lari dari kenyataan.”

Melihat Seohyun terdiam, Sehun melanjutkan kembali kalimatnya. “Ada seseorang yang pernah mengatakan, ‘lebih baik mencoba lalu gagal, daripada belum mencoba sama sekali.’ Mungkin itu bisa menjadi jawaban pertanyaan Noona tadi.”

“Lalu bagaimana dengan Luhan ?” Tanya Seohyun. “Apa ia serius dengan perasaannya ?”

Sehun mengangkat bahunya. “Hanya dia yang tahu,” Jawab Sehun santai. “Dan Noona bisa menanyakannya sendiri jika Noona mau.” Sebelum Seohyun membuka suara, Sehun mendahuluinya. “Sudah mengerti ? Ikuti saja apa kata hati Noona. Aku yakin Noona pasti tahu yang terbaik.”

Seohyun mengangguk mengerti, “Oke. Terimakasih Sehun-ah.”

-o0o-

Beberapa hari selanjutnya, Seohyun masih enggan untuk bertemu dengan Luhan. Dia ingin meyakinkan dirinya sebelum mereka melakukan konfrontasi yang sesungguhnya. Namun, Seohyun tidak bisa menghindari Luhan lagi pada hari pertama masuk sekolah setelah 2 minggu liburan. Seohyun merapikan bukunya, saat lelaki itu memasuki kelas bersama dengan Chanyeol dan Baekhyun. Mereka tampak bersenda gurau bersama.

Seohyun mengangkat tasnya dan keluar dari kelas. Saat berada tepat di depan pintu kelas, dia duduk di sebuah bangku dari kayu yang biasa ia gunakan saat ia mendapat hukuman dari beberapa guru. Kemudian ia menghela nafas panjang.

Kesimpulannya, Luhan tampak baik-baik saja. Padahal, Seohyun tak pernah memberinya kabar selama dua minggu penuh. Luhan juga tak pernah menghubunginya. Hal itu membuat Seohyun merasa bimbang dan putus asa. Apakah yang Luhan rasakan dulu masih Luhan rasakan ? Apa yang harus ia lakukan sekarang ?

Pintu kelas terbuka, pertanda terdapat beberapa anak akan masuk atau keluar. Seohyun belum juga mengangkat wajahnya karena ia mengira itu adalah teman sekelasnya, hingga ia mencium bau parfum yang cukup familier di hidungnya. Seohyun mendongakkan kepalanya. Kedua matanya menangkap sosok Luhan tengah berdiri d hadapannya.

“Kau menghindariku, Seohyun-ah ?”

Seohyun terdiam melihat raut wajah Luhan yang tak dapat ia artikan.

“Apa kau marah soal kejadian di festival Chuseok ?”

Seohyun menggelengkan kepalanya cepat. “Bukan seperti itu. Aku malah..”

“Atau terganggu dengan pernyataan cintaku saat di salah satu stand festival Chuseok ?”

“Bukan itu,” bantah Seohyun. “Aku…”

“Aku hanya ingin jujur atas apa yang aku rasakan, Seohyun-ah,” potong Luhan. “Tak ada niatan untuk membuatmu merasa tidak nyaman seperti ini. Kalau kau ingin berteman, baiklah. Kita berteman. Lupakan semua yang pernah aku katakan padamu, perasaan konyolku padamu. Tapi kumohon, jangan menghindar dariku !”

Seohyun berdiri di depan Luhan. “Aku.. Aku hanya ingin menenangkan diri, Luhan-ah,” Ujarnya. Ini pertama kalinya ia memanggil seseorang dengan embel-embel ‘ah’ selain keluarganya. “Aku tak bermaksud menjauhimu.Maafkan aku, masalah melupakan itu, aku tidak yakin kalau aku bisa. Aku belum pernah…”

“Lupakan !” potong Luhan lagi. Luhan menatap Seohyun nanar. “Lupakan, dan buat hubungan kita baik seperti dulu. Itu juga kalau kau tak keberatan.”

Luhan menatap Seohyun sebentar, kemudian ia kembali masuk ke dalam kelas. Seohyun hanya menatap punggung lelaki itu tanpa bisa berkata apapun. Seohyun mendudukkan dirinya kemudian membenamkan wajahnya di kedua tangannya. Ia menangis.

Ini pertama kalinya bagi Seohyun menangis hanya karena cinta. Ia kembali teringat dengan ucapan Luhan barusan. Dan tangisan Seohyun semakin deras. Apa yang harus ia lakukan sekarang ? Bagi seorang gadis pintar sepertinya, namun masalah ini belum bisa ia pecahkan. Ia terlalu bingung atas semuanya.

Pintu kembali terbuka. Seohyun mengangkat kepalanya, berharap jika Luhan yang datang kembali. Namun, Seohyun menelan rasa kecewanya saat ia melihat jika Chanyeol-lah yang keluar. Seperti tahu apa yang Seohyun pikirkan, Chanyeol mendudukkan dirinya di sebelah Seohyun.

“Luhan menyuruhku untuk mengatakan padamu permintaan maafnya,” ujar Chanyeol. “Seohyun-ssi, kuharap kau dapat memilih keputusan yang baik,” lanjutnya. Kemudian menepuk bahu kanan Seohyun dan kembali memasuki kelas.

­-o0o-

Seohyun melihat bayangannya melalui pantulan cermin. Dress berwarna putih dengan motif bulat-bulat ungu ini terlihat sangat menarik di tubuhnya. Seohyun memutar tubuhnya kegirangan, kemudian mengambil sisir dan merapikan rambutnya. Tak lupa, ia mengambil sebuah bando berwarna ungu dan dipasangnya. Kini penampilannya sempurna.

Seohyun melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan riang. Ia bersenandung merdu setiap ia menginjak anak tangga. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Luhan tengah terduduk di sofa ruang tamunya. Seohyun mengerutkan dahinya, Siapa yang mengundang pria itu kemari ? Apakah Sehun ?

“Luhan ?”

Luhan mendongakkan kepalanya, “Annyeong Seohyun-ssi.”

Entah mengapa, hati Seohyun merasa sedikit sakit mendengar Luhan yang memanggilnya dengan embel-embel ‘ssi’. Apa itu artinya ia tak mempunyai harapan lagi ?

“Kemana Sehun ?”

Luhan menatap langit-langit rumah Seohyun. “Tadi ia bilang ingin ke supermarket. Membeli beberapa makanan ringan katanya.”

Seohyun menganggukkan kepalanya. “Ah ne. Aku mau minta maaf.”

Luhan menghela nafas. “Kau sudah minta maaf berulang kali kemarin. Tentu aku sudah maafkan. Lupakan saja.”

“Aku tidak bisa melupakannya, Luhan-ah. Takkan bisa.”

“Trus, bagaimana maumu ?” Tanya Luhan. Dari sorot matanya Seohyun dapat menangkap jika pemuda itu tampak lelah. “Aku takkan memaksamu untuk menerima, dan kau tak perlu memaksakan diri untuk menerima. Kalau kau tak mau melupakannya, itu artinya kita takkan bisa berteman lagi. Kita akan jaga jarak. Mungkin itu bagus untukmu tapi tidak untukku.”

“Mengapa tidak ?”

Luhan terdiam sejenak. “Aku mulai sayang denganmu, Seohyun-ssi.”

Sunyi. Seohyun mulai gelisah. Ia mulai bergerak layaknya ia seorang narapidana yang tengah berhadapan dengan seorang polisi.

“Apa kau ada masalah ?”

Seohyun menatap Luhan intens. “Ada,” jawabnya singkat. Seohyun menarik nafas panjang. “ada yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Wajah Seohyun tiba-tiba memerah dan ia mulai salah tingkah. “Tanya sesuatu.”

Luhan menatap Seohyun. Tampaknya pria ini sangat penasaran dengan ucapan Seohyun. “Kau ingin tanya apa?”

“Soal di festival Chuseok itu…saat kita sempat berdebat di stand makanan… apa yang kau katakan padaku..” muka Seohyun semakin memerah. Tampaknya ia sangat malu mengatakannya. “apa itu masih berlaku ?”

Luhan tampak berfikir, “yang mana ?” tanyanya polos. Namun setelah melihat wajah Seohyun yang memerah, akhirnya Luhan pun paham. “Maksudmu soal perasaanku ? tentu saja. Memangnya kenapa ?”

“jika itu masih berlaku, aku akan menerimanya.”

-o0o-

Seohyun melangkahkan kakinya menuju permainan kesukaannya di taman ini—ayunan. Sambil berjalan, gadis berambut panjang itu bersenandung ria. Hatinya terasa lebih ringan dari biasanya. Bisa dikatakan suasana hatinya sedang senang sekarang. Terlebih lagi sinar mentari juga ikut merasakan kebahagiaanya.

Sesampainya di ayunan, Seohyun langsung duduk pada salah satu ayunan dan mengayunkannya. Kemudian ia tersenyum saat matanya menangkap seorang pria yang berjalan ke arahnya. Tangannya kemudian melambai kea rah lelaki itu. Coba tebak siapa laki-laki itu? Siapa lagi kalau bukan Luhan.

“Ah, Luhan !” sapanya girang.

Pria bernama Luhan itu tersenyum. “Nah, ini es krim vanilla pesananmu. Kuharap kau tidak menjatuhkannya saat bermain ayunan itu, chagiya,” ujar Luhan sembari memberikan es krim vanilla kepada Seohyun.

“Ya, Luhan-ah ! Sudah ku katakan, jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu. Itu geli,” balas Seohyun mengerucutkan bibirnya sembari mengayunkan ayunannya. Luhan yang melihat yeojachingu nya itu kesal pun tertawa. Ia pun duduk di ayunan sebelah Seohyun.

“Kau tahu ? Memikirkan masa depan kita berdua membuatku takut.”

Luhan menatap gadisnya itu, “kalau begitu, jangan dipikirkan. Biarlah waktu yang membawa kita.”

Seohyun mengangguk. “Memikirkan masa lalu kita berdua membuatku ingin tertawa. Memikirkan kita berdua pada saat seperti ini membuatku selalu ingin teriak kegirangan,” ucapSeohyun membalas tatapan Luhan. “Aneh bukan ?”

Luhan menghentikan ayunannya. Ia menatap Seohyun yang masih asyik bermain ayunan sembari memakan es krimnya itu. Kemudian pria berwajah imut itu berjongkok di depan Seohyun, membuat gadisnya itu tampak terkejut. “chagiya, mengapa kau terkejut ? Apa kau terpesona dengan ketampananku ?”

Blush !

Seohyun dapat merasakan pipinya memerah sekarang. Karena tak tahu apalagi yang harus ia lakukan, Seohyun pun berdiri membelakangi Luhan yang tengah terkikik geli. Seohyun mengerucutkan bibirnya, kemudian sebuah ide muncul dari kepalanya. Waktunya untuk mengerjai Luhan !

Luhan perlahan berhenti tertawa. Melihat sang gadis itu tampak marah tak membuat Luhan merasa bersalah. Malah lelaki itu berniat menggodanya. Tangannya melingkar di pinggang Seohyun, dan dagunya ia sandarkan ke bahu gadis itu. “Hey chagiya ! Apa kau marah kepadaku hm ?”

“Tidak.”

Luhan menyeringai kecil. Ia semakin mempererat pelukannya. “Kau yakin ?” tanyanya kembali. Ia dapat merasakan Seohyun menelan ludahnya sekarang.

 “mungkin.”

Luhan melepaskan pelukannya dan memutar badan Seohyun untuk menghadapnya. “Hey, kau benar-benar marah, eo ?” tanyanya. “Chagiya, aku berbicara padamu.”

“Menurutmu aku marah hanya karena persoalan sepele ?” Seohyun tertawa dan mencubit hidung Luhan. “Hey, aku tidak semudah itu untuk marah. Babo !” lanjutnya. Saat Luhan mengeluarkan cibiran-cibirannya, Seohyun menarik leher lelaki itu dan memeluknya.

Luhan menggerutu tidak jelas. Ia merasa sedikit kesal karena ia telah dikerjai oleh gadisnya sendiri. Walaupun begitu, ia tetap membalas pelukan Seohyun. “Kau curang, nona muda,” ujarnya berbisik ke telinga Seohyun. Membuat gadis itu bergidik ngeri. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku tahu kau mungkin bosan karena aku sering mengatakan kalimat ini, tapi seperti yang kau ketahui, Don’t be afraid to Love me. I love you, Seo Joo Hyun.”

Seohyun melepaskan pelukan mereka, membuat tatapan mereka bertemu. “ I’m trying to love you back, Luhan.”

-Tamat-

Karena laptop lamaku rusak, jadi aku buat cerita baru yang sangat melenceng dari rencana sebelumnya-_- /curhat/ so, aku gak mau comment apa-apa tentang ff aneh ini. Thanks buat yang udah baca+comment, I love you all /? Buat silent readers, thanks udah mau baca ff aneh ini.. T_T sampai jumpa di lain kesempatan…annyeong~

5 thoughts on “[Freelance] Lovhobia! (Chapter 4)

  1. cieelah, akhirnya bersatu juga hehehe. jujur aja aku baru ngeh arti judulnya itu phobia cinta toh, wakakak. baru ngerti-_-

    bagus kok thor, tinggal perlu memperbaiki bahasa aja. ditunggu cerita seohan yang lebih keren lagi thor. semangat^^

  2. Yeayy happy ending 🙂
    akhir ny seo bsa melawan rsa tkut ny sma yg nama ny cinta #ceilehh
    sering2 buat ff ttg seoexo ya thor 😉
    fighting!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s