[Freelance] APOLOGIZE (Chapter 1)

Apologize Poster

APOLOGIZE

 

Author                        : Shin Hyun Gi (@AyuSerlia)

Main Cast                  : Kim Taeyeon | Byun Baekhyun | Park Chanyeol

Other Cast                 : Kris Wu | etc

Genre                         : Romance | Friendship | Life | Sad

Length                        : Twoshot

Rating                         : T/PG-13

 

Disclaimer

Inspire by “A Walk to Remember”, “Malaikat Tanpa Sayap”, “Chicken Soup” and so many things that I ever know in my life. If there are some similarities with the other fanfictions, that’s absolutely an incident.

 

Author’s Note

Jujur, ini fanfiction dengan main pair exoshidae pertama saya, jadi maaf banget kalo jelek ya u.u Dan jangan lupa, kritik dan saran dari kamu sangat diperlukan dalam penulisan fanfiction yang satu ini. Thank you🙂

____________

 

“Never waste an opportunity to be with the one you love. Because you never know, tomorrow could be too late.”

____________

 

Taeyeon membuka kedua kelopak mata mungilnya perlahan, sesekali ia mengerjap menahan silaunya pancaran mentari yang memantul dari kaca jendela kamarnya. Ia tersenyum cerah lalu kembali merapikan rambut panjangnya yang agak berantakan,—khas  seperti seorang gadis yang baru bangun tidur lainnya. Kemudian ia menuruni ranjangnya perlahan, hingga tiba-tiba sesosok tubuh pendek seorang bocah laki-laki muncul dari luar jendela.

Taeyeon mulai menjerit hebat sekali dan mendadak sosok itu memekik kencang kepadanya, “Selamat pagi, gadis manis!” bocah laki-laki berseru santai seraya menyedekapkan kedua lengannya tanpa merasa bersalah.

Taeyeon lantas mulai menggerutu pelan dan melayangkan sebuah senyum kecut kepada sosok yang selama ini dianggapnya idiot itu, “Tuan Byun Baekhyun, bisakah kau untuk sekali saja menghentikan kebiasaan burukmu ini?”

“Aku lelah untuk terus menghadapi teriakan cemprengmu itu di setiap akhir pekanku yang damai!” protesnya lagi.

Anak laki-laki bernama Byun Baekhyun itu hanya tersenyum santai seraya terus mengatupkan kedua matanya tak peduli, ia sudah sangat terbiasa untuk mendengar ocehan panjang lebar sahabatnya ini. “Jadi apa yang selanjutnya ingin kau lakukan?”

Taeyeon bahkan sama sekali tak mendengar sahutan pendek yang diberikan oleh Baekhyun kepadanya, ia masih terlalu bersemangat untuk melanjutkan “orasi” panjangnya itu, “Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa melompat ke dalam jendela kamarku itu bukan merupakan tindakan ilegal? Bayangkan saja jika nanti kau secara tidak sengaja memecahkan kaca tersebut hingga melukai salah satu dari kita? Ayolah , gunakan akal sehatmu, Bacon ah!

Kedua mata Baekhyun yang tadinya terkatup rapat kini mulai membuka lebar, ia memicingkan matanya kepada gadis itu, “Kau panggil aku apa tadi? Tuan Bacon? Kau bercanda?”

“Jangan samakan aku dengan makanan!” kali ini bocah laki-laki itulah yang mulai mengajukan kalimat-kalimat protesnya dengan wajah memerah, hidungnya bahkan terlihat kembang kempis ketika Baekhyun mulai melayangkan kekesalannya kepada gadis itu.

Taeyeon yang awalnya merasa agak sebal kini mulai beralih menjadi merasa geli memperhatikan tingkah sahabat kesayangannya itu. Ia lantas kembali menutup mulutnya lalu beralih menatap beberapa pepohonan hijau melalui jendela,—ia jelas-jelas tak akan mungkin meledakkan tawanya pada saat yang sangat tidak tepat seperti ini.

Yakk, Kim Taeyeon! Apakah kau tak mendengarkanku??!!” teriakan kencang Baekhyun tiba-tiba menggema lagi di setiap sudut dinding kamarnya. Ah, ia memekik lagi, pikir gadis itu.

Aniyo, aku mendengarmu! Jujur!” sergah Taeyeon sigap sembari berbalik menatap Baekhyun yang kini sedang menatapnya curiga. “Sepertinya aku tidak dapat mempercayaimu hari ini,” tiba-tiba Baekhyun menyela ucapannya.

Hah? Kenapa?” sahut gadis mungil itu terkejut.

Kedua mata sipit Baekhyun kembali mengerling kepadanya, “Karena kau sahabat dekatku! Aku tentu tahu kapan saja kau sedang berbohong atau tidak!” lanjutnya gemas, seraya menggelitik pundak kurus gadis itu dengan seluruh jemarinya.

Yakk, berhenti melakukan hal itu, Byun Baekhyun!” pekik Taeyeon kencang, tubuhnya menggelinjang tak karuan menghadapi seluruh rasa geli yang terus mendera tubuh kecilnya.

Seulas senyum simpul mengembang dari wajah manis Baekhyun, rasanya menyenangkan sekali jika telah menundukkan sahabatnya yang satu itu, “Jadi kau menyerah kepadaku, Nona Taenggo?” bisiknya jahil, kedua matanya kini bergerak menelusuri setiap inci wajah pasrah dari gadis itu dengan penuh tatapan jahil.

Ne. Aku menyerah. Sekarang kau puas?”

“Sangat puas!” sahut Baekhyun girang sembari memeluk tubuh gadis itu erat. Ia lalu segera membenahi beberapa lapisan selimut tebal yang menjuntai dari atas ranjang merah muda milik sahabatnya itu secekatan mungkin, “Dan jika sudah seperti ini, sepertinya kita sudah siap untuk bermain bersama sekarang!”

“Memangnya kita akan bermain apa hari ini?” potong Taeyeon kebingungan.

“Bermain dengan tumpukan buku-buku ajaib yang baru saja kutemukan di sebuah perpustakaan tua di dekat sungai!” balas Baekhyun ceria, seraya menarik jemari kurus gadis itu cepat-cepat. Hingga Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri ketika menyadari betapa hiperaktifnya Baekhyun hari ini.

____________

 

Dua pasang kaki mungil itu kini melangkah ringan melintasi sebuah jembatan tua yang menghubungkan dua buah bagian perumahan,—dua bagian berbeda dimensi bentuk yang bahkan dapat dibedakan oleh seorang bocah lima tahun sekalipun. Barisan barat jembatan itu bersusunkan perumahan indah yang terlihat begitu rapi. Sangat bertolak belakang dengan deretan rumah kumuh tak layak huni yang berjejer di wilayah timur. Tetapi dari sana pula, banyak kisah indah yang tercipta. Tentang Kim Taeyeon dan Byun Baekhyun sahabatnya.

Taeyeon kini duduk bersila di tengah hempasan hijau padang rumput yang berada tepat di bawahnya, rambut hitamnya yang dikucir seperti kuda poni terlihat agak menjuntai ke bawah,—gadis itu sepertinya sedang mendalami segala sesuatu yang sedari tadi dijelaskan oleh Baekhyun. Bahkan sesekali dahinya mengerut kecil ketika ia menemui beberapa istilah  aneh yang belum pernah didengarnya dari namja kecil itu sebelumnya.

“Bagiku, sejarah peperangan di Eropa ini merupakan salah satu pelajaran yang paling menyenangkan,” oceh Baekhyun riang seraya terus membalik lembar demi lembar buku tua yang sedang berada di pangkuannya. “Kau tahu, ada banyak sekali orang hebat yang ada di sana!” lanjutnya lagi, ia kini kembali mendaratkan senyum cerianya kepada Taeyeon yang semenjak tadi terus memandangnya dengan tatapan sedikit aneh.

“Tetapi…,” gadis itu menghela nafasnya perlahan, “Tetapi bukankah peperangan seperti itu akan menghancurkan perdamaian dunia kita?” selanya pelan sembari menatap Baekhyun ingin tahu.

Wajah anak laki-laki itu mendadak memucat, bibir Baekhyun bergetar menahan rasa kebingungannya. Hingga tiba-tiba saja gadis itu berujar pelan dengan sendirinya, “Mereka pasti akan berperang demi membela negara mereka sendiri, ‘kan? Jika tidak, mana mungkin mereka akan bersedia untuk melakukan hal senekad dan sejahat itu,” analisisnya lagi.

“Bukannya begitu,” potong Baekhyun lembut, sembari menatap Taeyeon perlahan, “—selain hal-hal yang baru saja kau sebutkan, tentu saja ada beberapa alasan yang menyebabkan mereka semua melakukan hal itu. Misalnya ingin mendapatkan kekayaan, ingin memperluas kekuasaan, dan hal penting lainnya. Bahkan para pemimpin pada masa lalu juga akan bersedia melakukan hal apapun demi negara mereka.”

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya pelan, “Seperti mencintai terlalu berlebihan, bukan?”

“Hal itu disebut fasis.” Gumam Baekhyun santai sambil menutup sebuah buku tua yang sejak tadi berada di tangan kanannya pelan.

“Kemudian bagaimana jika seorang namja mencintai yeoja-nya secara berlebihan?” pertanyaan ini mendadak menciptakan sebuah nuansa canggung di hati Baekhyun, air mukanya lantas mulai berubah menjadi lebih gugup lagi.

Dengan wajah memerah ia berujar pelan kepada sahabatnya itu, “Yah, hal itu tentu saja pernah terjadi, bukan? Tetapi bukankah kita masih dua belas tahun?”

Ne. Apa ada masalah dengan umur kita?”

Tanpa sadar Baekhyun menelan ludahnya perlahan, “Dengan umur semuda itu, kurasa kita belum pantas untuk saling mendiskusikan sesuatu mengenai cinta.”

Dahi gadis itu mulai sedikit mengerut, kedua matanya berpendar menuju ke arah sisi kanan padang rumput, “Ya Tuhan Baekkie ya, bukankah sebentar lagi kita juga akan mengalami suatu fase yang disebut dengan masa remaja?”

“Kau tak ingat jika sebentar lagi kita akan meninggalkan sekolah dasar?” telisik gadis itu kebingungan.

Bocah lelaki itu langsung terdiam dan kehilangan kata-katanya, bibirnya bergetar saking kebingungan. Ia terus berusaha berpikir untuk mencari celah yang tepat untuknya, dan dengan sedikit tergagap ia kembali bersuara, “Kau benar. Tetapi bisakah kita mengalihkan pembicaraan kita kepada hal yang lain saja?” bisiknya pelan seraya menggenggam lengan kanan Taeyeon lembut.

Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya perlahan, sebuah kerutan penuh tanda tanya muncul di dahinya, “Jadi kita akan melakukan hal apa setelah ini?” tanyanya penasaran, ia memandang kedua bola mata hitam Baekhyun lekat-lekat.

Baekhyun langsung berdehem pelan, ia berbisik dengan agak sok berwibawa, “Sepertinya ini pengalaman pertama bagimu,—tetapi maukah kau mendayung perahu di sungai ini bersamaku?” ujarnya santai sembari mengecup tangan kanan Taeyeon lembut.

Air muka gadis kecil itu berubah seketika, bibirnya yang sejak tadi mengatup rapat kini mulai membuka lebar, “Kau…, kau tak bercanda, ‘kan?” lirihnya tak percaya, bundelan buku tua yang sejak tadi berada di dalam pelukannya itu kini langsung jatuh berhamburan menyentuh rumput.

Sebuah senyum lebar meluncur dari wajah Baekhyun, “Aku serius. Kau mau, tidak?” tanyanya santai, seakan tak mempedulikan bundelan buku tua kesayangannya yang baru saja berhamburan di atas tanah. Ia hanya menatap Taeyeon dengan penuh gejolak semangat membara, seperti tiada hal lain yang lebih berharga baginya selain sahabatnya itu.

Dengan sedikit tak percaya Taeyeon bergumam pelan, “Baiklah, aku akan melakukannya. Tetapi kau yakin, ‘kan?” ia sedikit menahan nafasnya ketika memperhatikan Baekhyun yang hanya menganggukkan kepalanya yakin, “Aku yakin. Seratus persen yakin!”

Mendadak, Baekhyun menghentikan perkataannya lalu terdiam beberapa saat. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat dan tubuh kurusnya langsung terpelanting menyentuh rerumputan yang berada di bawah kaki mereka. Menyebabkan suara debug yang cukup keras di antara tubuhnya dan tanah, sementara Taeyeon langsung memekik keras dan segera mendudukkan tubuhnya mendekati Baekhyun.

Baekkie ya, kau…, kau kenapa?” isaknya ketakutan sembari mengelus rambut hitam Baekhyun perlahan. Kedua tangan mungilnya lantas mulai menggerak-gerakkan tubuh kurus Baekhyun dengan sedikit ketakutan.

“Ayolah, kau harus bangun,” ujarnya lagi dengan suara bergetar. “Aku tak ingin kehilangan kau, Baekkie ya. Aku menyayangimu,—sangat menyayangimu.”

“Benarkah?”

Ne. Aku tak berbohong,” sahut Taeyeon tak sadar, hingga tiba-tiba kedua bola matanya membulat lebar. “Yakkk, Baekkie ya! Kau sudah sadar??!!” pekiknya tak percaya.

Baekhyun yang mendengarkan hal itu langsung tergelak geli dan mulai berguling cepat di atas rumput. Ia memeluk perutnya yang agak kesakitan akibat terlalu banyak tertawa, “Ya Tuhan, Taeyeonnie! Jadi kau percaya dengan tipuanku tadi?”

Kedua tangan gadis kecil itu langsung bergegas mengusap kedua pipinya yang agak basah, wajahnya yang sejak tadi memucat ketakutan kini memerah kembali, “Byun Baekhyun! Apa kau sudah gila??!! Aku takut sekali kehilangan dirimu!” pekiknya kesal seraya mendorong tubuh Baekhyun menjauh darinya.

Bocah laki-laki itu meringis pelan, lalu menatap Taeyeon dengan penuh rasa bersalah. “Mianhaeyo. Aku tak bermaksud untuk mengkhawatirkanmu, aku hanya ingin bercanda saja.” Ia berbisik pelan, kemudian bangkit dari rumput dan berjalan mendekati Taeyeon lalu berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan gadis itu. Perlahan, Baekhyun mengusap kedua mata Taeyeon lembut, “Uljima. Jangan menangis lagi,”

“Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan selalu ada di sini untukmu. Percaya kepadaku,” gumamnya lembut seraya mengusap puncak kepala gadis itu perlahan.

Sontak, sebuah pelukan hangat langsung mendarat memenuhi seluruh tubuh bagian atas Baekhyun, Taeyeon kini telah menyandarkan kepalanya ke pundak kurus bocah laki-laki itu. “Berjanjilah kepadaku, bahwa kita akan selalu menjalani persahabatan ini bersama. Hanya aku dan kau, bahkan sekalipun ketika kita telah memiliki pasangan masing-masing.”

Sebuah perasaan tak enak mulai mendera hati namja muda itu, ia lalu berbisik dengan agak bergetar, “Benar. Bahkan ketika kita telah menikah dan memiliki anak,” ujarnya setengah hati.

____________

 

“Sungai ini indah sekali,” Taeyeon berkomentar pelan, seraya menatap seluruh penjuru sungai dengan pandangan penuh takjub. Rambutnya yang sejak tadi dikucir rapi telah dibiarkannya terurai begitu saja. Dalam beberapa menit sekali, surai panjang bergelombangnya tertiup pelan bersama angin musim semi. Manis sekali.

“Kupikir sungai ini tak begitu bagus untuk dikunjungi. Ternyata aku salah besar.”

Baekhyun menghembuskan nafasnya panjang-panjang dan kembali menatap Taeyeon teduh, “Kurasa sudah lama sekali kita tinggal di tempat ini. Tetapi baru kali ini kita dapat menyusuri sungai ini bersama-sama,”

“Benar. Rasanya bodoh sekali karena kita tak mengetahui betapa indahnya sungai ini sejak dulu,” sahut Taeyeon lembut sembari menyentuhkan jemarinya ke arah permukaan air, ia sedikit memutar-mutar telunjuknya di sana.

Perlahan, dua buah makhluk hidup kecil berwarna oranye keemasan menghampirinya, “Baekhyunnie, coba lihat ini! Kau tak akan percaya, tetapi ada dua ekor ikan mas yang menghampiriku!” Taeyeon memekik kencang seraya menatap Baekhyun bersemangat,—sementara bocah laki-laki yang ditatapnya itu hanya sedikit mengerutkan dahinya memperhatikan tingkah Taeyeon kali ini.

“Jadi kau langsung merasa tertarik hanya dengan melihat dua ekor ikan mas seperti itu ?” tanyanya kebingungan seraya menyedekapkan kedua tangannya ke dada. Ia mulai berlagak seakan dua makhluk kecil itu tak ada artinya.

Kedua alis hitam Taeyeon terangkat, ia lalu berbalik arah menatap Baekhyun dengan sedikit gemas, “Mereka itu makhluk hidup! Dan lagipula, tubuh mereka imut sekali! Pantas saja aku menyukai mereka,” decaknya sebal, kedua matanya kini mengerling menatap Baekhyun dengan sedikit pedas.

Menyadari pandangan Taeyeon yang sedikit berbeda kepadanya, bocah itu lantas langsung menutup seluruh mulutnya dengan telapak tangan kanannya, ia menatap gadis itu dengan sedikit takut-takut.

Mianhae.” Ia bergumam pelan seraya memandangi wajah pucat gadis itu dengan penuh harap. Ia hanya dapat menerka-nerka, apakah Taeyeon akan tega melemparkannya ke dalam sungai atau tidak.

Gadis itu masih saja tak bersuara, surai panjangnya kembali berkibar ketika angin musim semi berhembus lembut memasuki setiap pori-pori tubuh mereka.Tubuhnya kini berbalik membelakangi bocah laki-laki itu dan hanya meliriknya sesekali untuk memastikan apakah ia baik-baik saja. Sepertinya ia benar-benar merasa sebal dengan Baekhyun kali ini,—tidak, ia marah besar!

Baekhyun hanya dapat menunduk menatapi dayung kayu panjang yang sedang dikayuhnya, sementara bibirnya masih saja bergetar ketakutan. Ia ingin sekali menyatakan permintaan maafnya kepada sahabatnya itu, tetapi lidahnya masih terus tak bergerak. Ada hal lain yang sepertinya sedang mengontrol dirinya sendiri,—perasaan bersalahnya.

1 menit…, 5 menit…, 10 menit…, 15 menit…, tiba-tiba pekikan ketakutan Baekhyun kembali terdengar. “Taeyeon ah! Bagaimana ini??!! Perahu kita…,” nafas keduanya langsung terasa tercekat ketika menyadari situasi apa yang sebenarnya terjadi, “Perahu kita bocor!” teriak kedua bocah kecil itu ketakutan.

Dengan langkah seribu, kedua tangan kurus Baekhyun lantas kembali bergerak cepat berusaha mengeluarkan air yang mulai memenuhi perahu mereka. “Taeyeon ah, tolong bantu aku!” serunya ketakutan seraya menatap wajah mungil Taeyeon yang semakin memucat.

“I…, iya!” sebuah sahutan ketakutan terdengar dari bibir merah kepucatan gadis itu, kedua tangannya kini bergerak meraih sebuah ember kecil yang berada di dekatnya. Ia takut sekali jika mereka akan tenggelam di tempat ini, tanpa seorang pun yang akan menolong. Mimpi-mimpinya belum terselesaikan secara keseluruhan,—dan ia jelas-jelas tak ingin kehilangan Baekhyun. Sejahil atau semenyebalkan apapun ia, bocah laki-laki itu tetap sahabatnya.

Dua pasang tangan kurus tersebut terus bergerak berusaha mengeluarkan limpahan air yang semakin memenuhi bagian dalam perahu kayu mereka itu. Seluruh pakaian mereka basah kuyup dikenai air ketika perahu kayu mereka sudah nyaris terbalik dari posisi yang seharusnya. Kedua mata Baekhyun langsung bergerak gelisah menatapi tubuh ringkih Taeyeon yang mulai bergetar hebat, “Taenggie ya, kau bisa berenang, ‘kan?”

Kepala gadis itu hanya menggeleng lemah, kedua tangan mungilnya terus berusaha meraih salah satu bagian ujung perahu yang berada di dekatnya. Ia lalu menyenderkan kepalanya di atas perahu itu, wajah cantiknya yang biasanya terlihat bersinar indah kini telah berubah menjadi pucat pasi. Taeyeon menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali menatap Baekhyun dengan sangat ketakutan.

“Aku takut, Baekkie ya.” Lirihnya lemah sembari meraih jemari bocah laki-laki itu perlahan. “Kumohon, tolong aku.” Desisnya lagi, tangan kanannya terus berusaha menggenggam telapak tangan kurus Baekhyun kuat.

Dan hanya dalam beberapa menit saja, badan panjang dari perahu itu semakin tak terlihat. Arus deras sungai yang tadinya cukup tenang seakan ingin terus menelan tubuh kecil kedua sahabat itu hidup-hidup. Waktu kini telah berubah menjadi sebuah bom besar yang dapat menghilangkan nyawa mereka dalam sepersekian detik saja, Baekhyun harus segera bertindak. Ia tak akan melepaskan Taeyeon begitu saja.

Baekkie ya, to…,” gadis mungil itu mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya, aliran panjang air sungai terus berusaha menerobos masuk ke dalam paru-parunya, “—tolong aku…,”

            Sebuah teriakan ketakutan kembali terdengar dari bocah lelaki itu, ia terus menggerakkan tubuhnya cepat mendekati tubuh Taeyeon yang nyaris ditelan oleh air. Dengan pergerakan cepat ia langsung menyambar lengan kurus kepucatan sahabatnya, kemudian membawanya mendekati salah satu bagian terpinggir dari daratan yang paling dekat dengan mereka.

            Tubuh ringkih gadis itu langsung terhempas menyentuh tanah, seluruh tubuh dan gaunnya basah dikenai air. Ia terbatuk kecil lalu berbisik lirih kepada sahabatnya itu, “Gomawo, Baekhyun ah.” Tangan kirinya terus berusaha bergerak menggapai lengan kanan Baekhyun yang sedang merunduk menatap tanah. Sekumpulan cairan merah segar terus mengalir pada beberapa bagian tubuh bocah laki-laki itu, sepertinya ia terkena cukup banyak goresan ranting tajam yang memenuhi wilayah pinggir sungai itu.

Baekhyun langsung menoleh dan menatap wajah mungil Taeyeon khawatir, “Akan kupastikan bahwa kau tidak apa-apa. Jadi tolong bertahanlah, Taeyeonnie.” Lalu dengan cukup berhati-hati, ia mengangkat tubuh Taeyeon perlahan dan menyenderkannya pada bagian depan tubuhnya sendiri. Ia tak tahu apakah hal ini akan berdampak baik untuk Taeyeon atau tidak, tetapi ia hanya ingin menyelamatkan sahabatnya itu sekarang.

Ketika mendengarkan namanya disebutkan, gadis itu hanya dapat tersenyum lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Baekhyun lemah. “Aku hanya kedinginan saja. Di sini dingin sekali…,” gumamnya pelan, nyaris tanpa suara.

Sontak, bocah laki-laki itu langsung memeluk tubuh Taeyeon ketakutan. “Kumohon, bertahanlah. Kau pasti bisa,” desisnya lemah seraya terus merangkul tubuh mungil Taeyeon sekuat mungkin. Ia mengelus punggung gadis itu perlahan, berusaha mengalirkan rasa hangat dari dalam tubuhnya yang sebenarnya sama basahnya dengan gadis itu.

“Dadaku sakit…,” gumaman terakhir Taeyeon terdengar begitu lemah, dan pada akhirnya segala hal mulai menggelap bagi gadis itu. Memori terakhir yang dapat diingatnya hanyalah ketika Baekhyun memeluk tubuh mungilnya erat. Kini segala hal terasa terlepas begitu saja, ia tak lagi sadarkan diri.

____________

Gadis itu membuka kedua kelopak matanya perlahan, ia menerawang menatap seluruh langit-langit putih itu dengan sedikit kosong. Ia melirik ke sisi kanan tubuhnya, seulas senyum kecil mendadak muncul dari wajah mungil kepucatannya itu. Ternyata ia belum mati,—Baekhyun masih ada untuk menemaninya hari ini.

Baekkie ya…,” ia berbisik lirih seraya menatap Baekhyun yang sedang tertidur lelap di sampingnya dengan penuh kasih sayang. Seluruh jemari tangan kanannya lalu mengelus rambut kehitaman Baekhyun yang sengaja dipotong pendek pelan, “Lagi-lagi kau menyelamatkanku. Gomawoyo, Baekkie ya,”

Nae jeongmal saranghae.” Rongga dadanya terasa sakit ketika seuntaian kalimat itu terucap dari bibirnya. Ia mencintai Baekhyun,—sangat mencintainya. Lebih dari sekedar sahabatnya sendiri, tetapi akankah ia dapat melakukannya dengan kondisi seperti ini? Ia rasa tidak sama sekali.

Dalam diam ia menangis tak bersuara. Membiarkan beberapa tetes air mata membasahi bantal putih rumah sakit yang menjadi sandaran kepalanya. Terlalu menyakitkan bagi gadis kecil sepertinya untuk menerima kenyataan sepahit ini. Umurnya masih dua belas tahun, tetapi entah berapa lama lagi ia dapat bertahan hidup di dunia ini. Ia sakit. Dan kejadian di sungai itu semakin memperparah kondisinya.

Perlahan, tangan kanan Baekhyun bergerak kecil menyentuh seprai putih bermotif yang berada di bawah lengannya. Kedua matanya mulai mengerjap kecil menghadapi pantulan sinar matahari pagi yang menembus dari luar kaca jendela, “Taeyeon ah, kau sudah bangun?” ia berbisik dengan suara tersendat ketika memandangi wajah cantik Taeyeon yang kini sedang menatapnya lembut.

“Aku sudah bangun. Dan kau lihat, kondisiku sudah membaik, ‘kan? Aku baik-baik saja sekarang!” ujar Taeyeon santai, seakan segalanya baik-baik saja. Ia berusaha bergerak bangun dari ranjangnya, kemudian ia melirik sebuah selang infus panjang yang menyelubungi tangan kanannya.

“Ya Tuhan, bahkan seorang dokter pun tak pernah sadar bahwa aku baik-baik saja!” gadis itu kembali berpura-pura berdecak kesal, dengan langkah cekatan ia langsung berusaha melepaskan selang panjang tak berwarna itu. Tiba-tiba tangan kiri Baekhyun menahannya, “Jangan bodoh, Kim Taeyeon.” Bibir gadis itu bergetar ketika mendengarkan hal apa yang baru saja dikatakan oleh Baekhyun kepadanya.

“Kukatakan kepadamu, jangan pernah bertindak bodoh seperti ini. Kau masih tak sepenuhnya sehat,” ujar Baekhyun pelan sembari menahan isak tangisnya.

Gadis itu menyunggingkan senyum terbaiknya kepada sahabatnya itu, “Kau tak perlu menangis. Dalam waktu dekat, aku juga akan menjadi sesehat dirimu. Tenang saja,” bisiknya lembut, ia bergerak meraih kedua telapak tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat, “Karena apapun yang terjadi nanti, kupastikan kepadamu bahwa aku akan selalu ada di sini.” Taeyeon melanjutkan kalimatnya, lalu meletakkan tangan kanannya ke dada Baekhyun.

“Aku ada di hatimu. Dan kau juga akan selalu ada di dalam hatiku.”

Baekhyun menggigit bibirnya perlahan, ia tak boleh menjatuhkan bulir air matanya sekarang. Ia seorang namja,—ia tak boleh menangis. “Kau tahu, setiap kali aku mengunjungi gereja manapun, ada satu hal yang selalu kumasukkan ke dalam doaku,” lirihnya pelan.

“Apa itu?” sela gadis itu penasaran, ia kembali melayangkan senyum lembutnya kepada Baekhyun.

“Kuharap Tuhan akan selalu menyertaimu. Dimanapun dan kapanpun,” suara Baekhyun bergetar ketika ia hendak mengucapkan kalimatnya kembali, “Aku yakin jika Tuhan sangat menyayangimu. Jadi kumohon untuk cepat sembuh,”

“Aku takut sekali kehilangan dirimu kemarin.”

Taeyeon mengumbar senyumnya kepada bocah lelaki itu, “Kau tak perlu khawatir akan kehilangan aku. Karena aku memang tak akan pernah pergi,” gadis itu menegak ludahnya perlahan, “Aku yakin jika Tuhan telah memberikanku umur yang panjang.” Lanjutnya kembali dengan sedikit terkekeh geli.

____________

 

Two Years Later~

Taeyeon sontak terbangun dari kursi rotan putih yang semenjak tadi menjadi sandarannya untuk tidur, sebuah bola kaki berwarna hitam putih kini menggelinding cepat ke arahnya. Ia tersenyum memandangi bola itu, kemudian bergerak meraihnya dan membawanya mendekati pagar kayu putih yang berada di halaman depan rumahnya.

“Kurasa kalian kehilangan bola ini,” ujarnya santai seraya memandangi sekumpulan anak laki-laki yang sedang berdiri tepat di jalan beraspal depan rumahnya, “Ini, ambil bolamu.” Lanjutnya lagi, ia lalu melemparkan bola kaki itu kepada seorang bocah lelaki—atau mungkin namja muda—yang berada paling dekat dengannya.

“Lanjutkan permainan bolamu, Baekkie ya.” Ucapnya lembut, kedua matanya kembali menatap bocah itu dengan penuh semangat. “Kutunggu gol darimu,” candanya lagi, kemudian dengan langkah cepat ia memasuki terasnya untuk berkonsentrasi kembali kepada lukisannya yang nyaris terabaikan selama setengah jam.

Baekhyun yang saat itu sedang memegangi bola kakinya kini hanya dapat tersenyum kaku ketika memandangi hilangnya siluet mungil tubuh gadis itu, sebenarnya ia bahagia sekali ketika dapat menemui senyum manis gadis itu kembali. Tetapi entah karena alasan apa, ada perasaan berbeda yang mulai menyelubungi hatinya saat ini. Seperti ada dua perasaan aneh tak enak yang terus menerawangi hatinya, seakan kedua hal tersebut akan segera menghancurkan dirinya dalam waktu cepat.

Tiba-tiba sosok jangkung seseorang menghampirinya, “Hei Byun Baekhyun, apakah gadis itu temanmu? Apakah kau kenal dekat dengannya?” dengan nada bicara sinis sosok itu terus menginterogasinya.

“Tak kusangka, ternyata rekan kita yang satu ini kerap kali bermain dengan seorang anak perempuan.” Cibirnya lagi seraya menatap Baekhyun tajam.

Tubuh Baekhyun mendadak bergetar ketika mendengarkan kalimat itu terucap begitu saja dari kapten tim sepak bolanya sendiri, “Mianhaeyo, Kris. Ia bukan sahabatku…,—kami hanya saling mengenali satu sama lain saja. Tak lebih.” Tanpa sempat berpikir terlebih dahulu, deretan kalimat panjang itu pun langsung terucap dari bibirnya. Ia mengatakan dengan sigap bahwa Taeyeon bukanlah sahabatnya, gadis itu bukan siapapun.

Kris hanya menganggukkan kepalanya perlahan, “Baiklah jika begitu. Aku hanya tak ingin rekan satu timku berteman dekat dengan seorang gadis. Itu saja.” Namja jangkung itu berdehem pelan, “Menurutku, hanya seorang banci saja yang berteman dekat dengan seorang gadis.”

Baekhyun langsung mengangguk cepat dan menatap pagar rumah ‘sahabatnya’ itu dengan sedikit gelisah. Ia tak menyangka akan mengatakan hal sebejad itu kepada orang lain,—hal ini sama saja artinya dengan mengkhianati sahabatnya sendiri. Ia tak mengakui gadis itu lagi.

Jeongmal mianhaeyo, Taeyeon ah.

Tanpa sadar, sesosok gadis mungil dengan rambut panjang bergelombangnya menatap ke arah luar dengan penuh kekecewaan. Tubuhnya bergetar hebat ketika pada akhirnya mengetahui jawaban apa yang diberikan oleh Baekhyun kepada rekan tim sepak bolanya itu, hatinya sakit sekali ketika mendengarkan untaian kalimat tajam tak berperasaan dari sahabatnya sendiri itu.

Seluruh otot tubuhnya sontak terasa menjadi kaku, ia merasa tak lagi dapat menggerakkan tubuhnya seperti biasa. Ia kembali menangis tanpa suara, “Kau jahat, Baekkie ya. Jahat.”

____________

 

In the classroom~

Derap langkah kaki ringan seseorang memasuki ruangan kelas itu, memecahkan suasana hening pagi hari yang hanya dipenuhi oleh hiruk pikuk suara cicitan sekawanan burung kecil yang sibuk berhinggapan di sekitar atap sekolah. Baekhyun yang sedang menenteng tas biru tuanya lalu bergerak menelusuri setiap sudut kelasnya, kedua matanya sontak mulai menyipit ketika menemukan sosok mungil seorang gadis tengah meringkuk diam di sudut ruangan.

Taeyeon ah, apa yang kau lakukan di sudut ruangan?” tanyanya berhati-hati seraya mengelus surai panjang kehitaman gadis itu lembut. Sementara gadis itu masih terus memandanginya dengan tatapan kosong, seakan tanpa kehidupan dan tanpa perasaan.

Sebuah senyum kecil tersungging dari bibir kemerahan Taeyeon, kemudian ia menatap Baekhyun sinis, “Memangnya apa yang kau pikirkan jika melihatku meringkuk di tempat ini sendirian?” ujarnya pedas sembari berjalan cepat menjauhi tubuh Baekhyun.

Kedua bola mata namja muda yang tadinya menyipit itu kini kembali membuka lebar, ia menahan nafasnya sesaat, “Aku hanya ingin mengetahui apa yang sedang kau lakukan hari ini,” ia mengulurkan kedua tangannya dan memeluk pinggang kecil gadis itu erat, “Bukankah kau sahabatku?”

Taeyeon bahkan tak memberinya respon sama sekali, gadis itu masih terdiam merunduk menatap lantai berwarna putih bersih yang berada di bawah kakinya. Ada jeda yang terasa lama sekali ketika akhirnya ia memutuskan untuk kembali bersuara, “Aku kecewa, Baekkie ya. Kupikir kau benar-benar sahabatku. Ternyata aku salah besar,”

Hati namja itu langsung terasa terperanjat ketika Taeyeon memulai kata-katanya itu, “Kemarin aku mendengar pengakuanmu. Dan kuakui…,” lagi-lagi ia menghentikan kalimatnya sesaat, “Kuakui memang tak sepantasnya jika seorang namja sepertimu terus bermain dengan anak perempuan sepertiku. Bukankah seorang namja yang sesungguhnya seharusnya bermain dengan teman laki-lakinya? Bukankah mereka harus melakukan sesuatu yang berbau lelaki?”

Taeyeon terus berusaha meredam isak tangisnya, “Kurasa bodoh sekali bagimu jika harus selalu menemaniku berkumpul di sekitar padang rumput, menanam bunga mawar kesukaanku bersama, atau mungkin hanya sekedar untuk menemaniku melukis sesuatu yang kusukai,” bahu gadis itu bergetar naik turun, “Aku tahu jika selama ini aku terlalu egois kepadamu. Kau merasa seakan terkekang olehku,”

“Jadi untuk saat ini, lebih baik kau pergi saja.” Ia menyelesaikan kalimatnya dan kembali menatap Baekhyun dengan gelisah. “Anggap saja persahabatan kita telah selesai. Mimpi-mimpi kita berdua,—anggap saja mereka telah musnah terbakar oleh api keegoisanku. Karena sekarang, kau boleh menjalani mimpi-mimpi barumu.” Ia mengusap kedua pelupuk matanya yang agak membengkak, “Selamat tinggal.”

Air mata putus asa meleleh merembesi kedua pipi Baekhyun kala gadis mungil itu menyelesaikan perkataannya, “Selamat tinggal”, hal itulah yang ia ucapkan kepadanya. Baekhyun mulai mengutuk dirinya sendiri dari dalam hati, tak menyangka bahwa ucapan gegabahnya kemarin akan dapat menghasilkan akibat seburuk ini untuk dirinya dan hubungan persahabatannya sendiri. Tidak seharusnya ia melakukan hal seperti itu kemarin,—tidak seharusnya.

“Aku minta maaf, Taeyeon ah. Perbuatanku kemarin memang salah, tetapi kumohon maafkan aku…,” desis Baekhyun lemah, ia terus berusaha menahan tubuh mungil Taeyeon untuk tetap bertahan pada pelukannya. “Jeongmal mianhae.”

Taeyeon sedikit tertawa mencemooh, “Aku lelah untuk mendengarkan permintaan maafmu itu, Baekkie ya. Aku yakin, kau juga sudah bosan mendengarkanku mengatakan bahwa tidak seharusnya kau meminta maaf kepadaku,” ujarnya pelan namun dalam, setiap huruf yang tereja dari bibirnya terasa mengiris perih hati namja muda itu satu persatu. Membiarkan hatinya menjerit kesakitan tanpa harus terdengar oleh siapapun.

“Tak ada yang perlu diperdebatkan kembali, Baekkie ya. Yang perlu kita lakukan hanyalah berpisah, itu saja.”

“Dan kurasa selama ini kau juga tidak berubah sama sekali. Seseorang tak pernah berubah menjadi orang lain, kita hanya tak mengenali dirinya lebih dalam saja,” Taeyeon menghirup oksigen yang berada di sekitarnya dalam-dalam, “Dan ternyata enam tahun menjadi sahabat karibmu belum cukup bagiku untuk mengenalimu lebih dalam.”

“Jadi kumohon kepadamu, jangan terlalu mengulur-ulur waktu kita lebih lama. Aku hanya ingin berpisah, dan segalanya akan baik-baik saja.” Sebuah senyum manis terpatri dari bibir tipis Taeyeon, kemudian dengan sekali hentakan pelukan Baekhyun yang melingkari pinggangnya pun terlepas. Dengan langkah cepat ia segera merampas tas sekolahnya dan meletakkannya begitu saja pada salah satu kursi kayu hitam yang berada di depan kelas. Perlahan namun pasti, bayangan tubuh mungil itu menghilang dari pandangan Baekhyun. Membiarkan namja itu terdiam kaku selama beberapa saat, bersamaan dengan serbuan rasa penyesalan yang mendera hatinya.

____________

 

Dengan langkah gontai, kedua kaki pendek gadis itu berjalan menelusuri koridor besar perpustakaan yang sudah agak lama tak dikunjunginya. Ia melirik ke arah beberapa sampul buku yang dirasanya cukup menarik, dan setelah berusaha memutuskan untuk beberapa saat, ia pun lebih memilih untuk membaca beberapa buku kesenian kesukaannya.

Kemudian Taeyeon segera mendaratkan tubuhnya ke atas sebuah bangku panjang yang berada di dalam perpustakaan berlangit-langit tinggi itu. Kedua matanya bergerak cepat menelusuri huruf demi huruf hangeul yang berada tepat di hadapannya, sembari sesekali mengusap kedua pelupuk matanya yang agak basah. Ia tentu saja tak ingin dihukum oleh sang penjaga perpustakaan hanya dikarenakan membasahi buku-buku yang sedang dibacanya dengan air matanya yang terus mengalir pelan.

Tetapi ada satu alasan lain yang menyebabkan ia terus menyeka air matanya,—ia tak ingin menangis karena Baekhyun lagi.

“Seorang seniman yang baik adalah seseorang yang dapat memberikan karya terbaiknya kapan saja dan dimana saja, ‘kan?” suara berat seseorang tiba-tiba menghampirinya, gadis itu dapat merasakan benar bahwa ada sesosok jangkung seseorang yang sedang mendudukkan tubuhnya tepat di sisi kiri tubuh mungil Taeyeon. Ia menghela nafasnya, “Kau siapa?” tanyanya ragu, tanpa berani menatap sosok itu.

Sosok yang ditanyainya itu hanya terkekeh pelan, kemudian ia memutar tubuh Taeyeon perlahan untuk menatapnya, “Perkenalkan, namaku Park Chanyeol. Dan kau, siapa namamu?” tanyanya santai seraya terus menggenggam erat sebuah benda bundar hijau kekuning-kuningan di dalam kepalan tangannya yang cukup besar itu.

Gadis itu sedikit mengerutkan alisnya, ia menatap namja bertelinga agak panjang itu dengan sedikit curiga, “Sebenarnya, apa yang kau inginkan dariku?” tanyanya berhati-hati, ia langsung menutup buku keseniannya dan bersiap-siap untuk memukuli wajah namja itu jika saja ia berani melakukan hal yang macam-macam kepadanya.

Chanyeol tersenyum kecil, tetapi tak seberapa lama kemudian, sederetan gigi putih rapi miliknya langsung terlihat, ia kini tersenyum lebar kepada Taeyeon. “Gwaenchanayo. Aku tak berniat untuk melakukan sesuatu yang buruk kepadamu,—jujur saja aku hanya merasa penasaran dengan seorang gadis sepertimu. Apakah membaca buku nyaris setiap hari dapat membuat hidupmu menjadi lebih berwarna?”

Namja itu lantas menggigit sebutir apel hijaunya dalam satu gigitan besar, “Jika saja aku menjadi kau, mungkin aku sudah nyaris muntah setiap hari ketika menemukan buku setebal bantal ini di hadapanku!” serunya geli, ia tergelak sendiri dan nyaris jatuh dari bangku yang didudukinya bersama Taeyeon.

Air muka Taeyeon lantas berubah tak percaya, ia memandangi Chanyeol yang sedang tergelak geli dengan sedikit penasaran, “Jadi bagaimana dengan sekolahmu? Dengan apa kau belajar jika tidak dengan membaca sesuatu?”

Chanyeol langsung berdehem pelan dan memandangi Taeyeon dengan lagak sok serius, “Pada saat-saat darurat seperti itu, pilihanku memang hanya satu. Tentu saja aku terpaksa untuk membaca sekumpulan buku pelajaran membosankan itu,”

Ne, aku mengerti. Bagaimana dengan ujianmu? Dari apa yang beberapa saat lalu kudengar darimu, sepertinya kau sama sekali tak menyukai segala hal yang berbau pembelajaran?”

Chanyeol memutar kedua bola matanya dan menatap gadis itu jahil, “Apakah kau belum pernah mendengarkan sesuatu yang disebut dengan menyontek? Ayolah, kau pasti tahu hal itu!” serunya bersemangat sambil meletakkan sisa apelnya ke atas meja panjang yang berada di hadapan mereka.

“Ya Tuhan, kau jorok sekali!” sela Taeyeon gemas sembari menatap kesal potongan kecil apel yang baru saja diletakkan oleh Chanyeol di hadapannya.

Seakan tak peduli, Chanyeol kembali melanjutkan pertanyaannya, “Lalu apa cita-citamu?”

“Menjadi komikus.” Jawab gadis itu lantang, seakan insiden “pembuangan apel sembarangan” itu tak pernah terjadi di hadapannya.

“Hah? Tikus??!!”

Wajah cantik Taeyeon yang tadinya melunak kini mengeras kembali, “Komikus, Chanyeol ssi! Seorang pembuat komik, bukan binatang,” decaknya sebal. “Lalu bagaimana denganmu? Apa kau memiliki sebuah cita-cita?”

Chanyeol menghela nafas panjang dan ia langsung menggeleng pelan, “Tidak. Aku belum dapat menentukan akan menjadi apa nantinya. Entahlah.”

“Sepertinya akan kuputuskan jika umurku sudah dua puluh nanti.” Sambungnya lagi, seakan tanpa beban.

“Krisis identitas.” Cibir Taeyeon pelan seraya menutupi wajahnya dengan salah satu buku kesenian yang baru saja dibukanya kembali tadi.

“Kau ingin menyindirku?” Chanyeol langsung membalas cibirannya lalu menarik buku tebal yang berada pada genggaman tangan mungil Taeyeon cepat. Kedua mata bundar dengan manik hitamnya itu mulai bergerak menelusuri wajah Taeyeon penasaran.

“Ah, aniyo! Hanya saja baru kali ini aku bertemu dengan seseorang pemuda tanpa cita-cita sepertimu ini!” sebuah seruan ketakutan kembali terdengar dari bibir mungil gadis itu, tubuhnya nyaris ambruk jika saja kedua tangan besar Chanyeol tak menahan tubuh mungilnya agak lebih lama. Dalam beberapa detik, dua pasang mata itu bertemu. Sepasang manik hitam milik Chanyeol kembali bertumpu kepada sepasang iris cokelat indah milik gadis itu.

Tetapi tak lama kemudian, namja itu segera menggelengkan kepalanya secepat mungkin, apa yang ia lakukan tadi sudah kelewatan. “Sebenarnya, ada satu cita-cita yang sempat kuimpikan dulu.”

Kedua mata jernih Taeyeon langsung berbinar ketika mendengarkan pernyataan semengejutkan itu dari seorang Chanyeol yang terkesan agak berandal baginya, “Apa itu?” tanyanya penasaran.

“Kau tahu,—menjadi seorang presiden. Semenjak umurku masih lima tahun dulu, aku terus memberitahukan kepada setiap orang bahwa akulah sosok presiden masa depan mereka. Tetapi pada akhirnya aku sadar, bahwa rasanya mustahil sekali jika rakyat Korea akan memilih seorang calon presiden dengan otak udang sepertiku,” Taeyeon langsung menepuk dahinya putus asa ketika mendengarkan ucapan konyol Chanyeol kali ini. Dalam hati ia ikut tertawa geli ketika mendengarkan ucapan sekonyol ini dari namja yang baru dikenalinya.

Chanyeol menghela nafasnya pelan, ia mendekatkan tubuhnya ke sisi kiri tubuh mungil gadis itu. “Lalu hobimu apa?” tanyanya santai sembari meraih salah satu buku tebal yang berada di dalam genggaman tangan Taeyeon dan membukanya dengan sedikit asal. Kedua manik mata hitamnya melirik sekilas ke arah gadis itu, ia memandangi Taeyeon yang sepertinya sedang berpikir keras untuk menentukan jawaban yang akan diberikannya kepada dirinya.

Tak sampai dua menit, tangan kanan Chanyeol langsung mengulurkan buku tebal yang berada di dalam pangkuannya itu kembali menuju meja panjang yang membentang di depannya. Kemudian ia kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas sekolah kecokelatannya, berusaha mengais sesuatu yang sepertinya sangat berharga sekali.

“Bahkan hingga kiamat tiba pun, kau tak akan memberitahukanku hobi kesukaanmu…,” Chanyeol tersenyum senang ketika berhasil mengeluarkan sebutir apel merah berukuran agak kecil dari saku jasnya, “Jadi biar kutebak saja. Kau pasti menyukai segala sesuatu yang berbau seni…,—terutama lukisan!” serunya santai, ia kembali menggigit apel merahnya dalam satu gigitan besar.

“Darimana kau tahu?” lantas kedua mata jernih gadis itu mulai mendelik tajam ke arahnya, Taeyeon kembali bersiap dengan sekumpulan buku tebal yang berada di dalam genggamannya. Keadaan di dunia ini semakin tak berjalan dengan semestinya dan ia telah harus menghadapi kemungkinan terburuknya, bisa saja Chanyeol memiliki sebuah niat buruk kepadanya.

“Apa kau dapat membaca pikiran seseorang?” pertanyaan polos itu akhirnya meluncur begitu saja dari bibir Taeyeon, ia memandangi Chanyeol dengan sedikit bergidik ketakutan.

Sebutir apel yang pada awalnya sedang dikunyah oleh bocah lelaki jangkung itu mendadak menggelinding menyentuh lantai. Chanyeol langsung terdiam dan menatap Taeyeon tak percaya, “Ya Tuhan, Taeyeon ssi! Kurasa kau telah terlalu banyak membaca roman picisan!” ia kembali terkekeh geli ketika mengucapkan seruannya ini, Chanyeol tak dapat menghentikan gelak tawanya lagi. Hingga beberapa lama kemudian, ia segera membekap mulutnya dengan kedua tangannya ketika menyadari bahwa Taeyeon sedang menatapnya dengan sedikit tidak suka.

Chanyeol mendesah pelan dan merunduk menatap lantai, ia mengutip apelnya yang kini sudah berbentuk agak tak beraturan. “Ah, mianhae. Maafkan aku jika aku lancang,—tetapi kau tahu, aku bukanlah seperti seorang vampir pucat berkilauan yang biasanya berada di dalam novel itu! Percayalah kepadaku, aku sama sekali tak dapat membaca pikiranmu!”

Taeyeon mendekapkan kedua lengan kecilnya di dada, “Lalu darimana kau bisa tahu jika aku sangat menyukai hal-hal yang berbau lukisan?” tanyanya penasaran seraya menatap Chanyeol dengan penuh tanda tanya.

Tanpa sadar namja muda itu langsung bergumam pelan, “Karena akhir-akhir ini, aku cukup sering memperhatikanmu.”

Kedua mata Taeyeon yang sedari tadi menyipit menjadi satu garis rapat kini membuka kembali, ia mengulangi kalimat Chanyeol dengan sedikit tak percaya, “Kau memperhatikanku? Apakah kau serius, Chanyeol ssi?”

Kedua mata bundar Chanyeol yang tadinya sedang menatap kosong lantai di bawahnya langsung melebar seketika, ia tak menyangka bahwa kalimat semengejutkan itu akan langsung terlempar dari mulutnya yang terkenal agak asal dalam berbicara. Lantas ia segera memandangi wajah mungil gadis itu dengan sedikit ketakutan, “Aniyo. Mungkin kau salah dengar, Taeyeon ssi,” namja itu mengusap pelipisnya yang mulai dibanjiri keringat dingin, “Mungkin kau salah dengar.” Timpalnya lagi, semeyakinkan mungkin.

“Baiklah, mungkin ini pertanyaan terakhirku…,”

“Jangan pernah mengatakan kata ‘terakhir’ sebelum kau mengetahui kepastiannya.” Baru saja ia hendak menyampaikan pertanyaannya, gadis itu langsung menyela perkataan Chanyeol seraya menatapnya dengan sedikit menerawang.

Chanyeol hanya menganggukkan kepalanya sesaat ketika mendengarkan perkataan semengejutkan itu dari Taeyeon, walaupun tak sepenuhnya mengerti dengan hal apa yang dimaksudkan oleh gadis itu, ia tak berniat untuk menanyakan hal apapun kepadanya selain pertanyaan yang menurutnya cukup untuk yang terakhir kalinya ini. “Lalu apa ketakutan terbesarmu?”

Gadis itu segera memalingkan wajahnya kepada Chanyeol, “Kau benar-benar ingin tahu?” tanyanya tenang, ia kembali mendekap buku-bukunya dan sepertinya ingin bersiap untuk kembali memasukkan mereka ke dalam rak.

“Benar. Tetapi jikalaupun kau ingin merahasiakannya dariku juga tidak masalah,” sahut namja muda itu sehati-hati mungkin. Wajahnya terasa langsung memanas ketika kedua iris cokelat indah itu kembali menemui kedua matanya.

“Yang kutakuti adalah kematian.” Gadis itu berseloroh lembut seraya menghirupkan nafasnya dalam-dalam. “Selama ini, hal itulah yang terus membayang-bayangi hidupku tanpa pernah kenal lelah.”

“Mengapa? Bukankah keadaanmu saat ini baik-baik saja?” Chanyeol langsung memotong ungkapan jujur gadis itu dengan sedikit tak percaya. Entah karena alasan apa, hatinya langsung berkecamuk dipenuhi ketakutan ketika mengetahui hal yang seharusnya tak perlu ia seriusi itu. Dirinya merasa seakan kehilangan seseorang yang selama ini terus ia tunggu.

“Aku sakit, Chanyeol ssi. Aku mungkin tak dapat menjelaskan secara rinci kepadamu bagaimana penyakitku itu,—tetapi satu hal yang harus kau tahu, sejak lahir dulu kondisi jantungku memang sudah sangat lemah. Jadi kapan saja dan dimana saja, segala kemungkinan terburuk sudah pasti akan terjadi.”

Gadis itu menggoyang-goyangkan kakinya tanpa beban, ia mengetuk-ngetukkan seluruh jemarinya di atas meja. “Tetapi aku percaya,—jika saatnya tiba nanti, Tuhan akan menyambutku dengan penuh kasih sayang.”

Tes. Buliran cairan tak berwarna itu akhirnya merembes dari pipi Chanyeol, ia tak tahu pasti entah perasaan apa ini. Tetapi satu hal yang diyakininya, ada rasa sakit yang berbeda ketika gadis itu mengucapkan kalimat terakhirnya dengan penuh ketenangan.

“Jangan pernah berkata seperti itu, di dunia ini pasti masih banyak orang yang menyayangimu,”

Desahan nafas tak teratur terdengar dari udara, “Tetapi orang-orang itu dapat dihitung dengan jari, Chanyeol ssi.” Tanpa alasan yang jelas, sebuah senyum getir tiba-tiba terlukis dari wajah cantik kepucatannya, “Bahkan kemarin, aku baru saja kehilangan salah satu yang terpenting dari mereka. Aku kehilangan sahabatku.”

Namja muda itu sontak langsung mengerutkan keningnya tak percaya, ia menyipitkan kedua matanya dan menatap surai hitam panjang yang sedikit menutupi wajah mungil gadis itu dengan penuh perhatian. Kemudian dengan sedikit canggung ia kembali berusaha mengusap puncak kepala Taeyeon lembut, “Jika begitu, ia memang bukan seseorang yang terbaik bagimu.”

Sunyi.

Bibir mungil Taeyeon langsung terkatup rapat ketika Chanyeol mengusap rambutnya dengan penuh kehati-hatian, kedua pupilnya langsung melebar drastis hanya dalam beberapa detik saja. Bukan perlakukan atau bahkan perkataan Chanyeol lah yang mengejutkan batinnya, tetapi sesosok Byun Baekhyun yang sedang memasuki pintu perpustakaan dengan wajah gontai lah yang telah mengejutkannya.

“Byun Baekhyun…,” ia berdesis lemah kemudian menyentuh permukaan dada kirinya yang terasa agak sakit kembali. Tidak,—jangan sekarang.

 

TBC

46 thoughts on “[Freelance] APOLOGIZE (Chapter 1)

  1. authooorr’*’ daebaaaaakk aku nangiis okeeyTT kkkkk.. baekki.. hah .. jgn gitu;) author aku suka chanyeol ada didisini;) eoh klo gasalah diwp author udh dipostkan?’-‘ cmn castnya kyuhyun sehun’-‘ daebak pokoknya;)

    • Waaahh, thank you ;;)
      Ngga nyangka lho banyak yang kenal sama Author :’3 hoho
      Fic yang ini sama yang L.O.V.E itu totally different kok, jadi cuma awalannya doang yang sama🙂 Tapi buat kelanjutannya, bakalan sangat berbeda jauhhhh~ haha

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s