[Freelance] My Little Peterpan (Chapter 8)

my-little-peterpan1

My Little Peterpan (Chapter 8)

Author             :  _agrn

Main Cast        : Taeyeon and Tao

Other Cast       : Yuri, Tiffany, Suho, Kyungsoo, Baekhyun, Sehun, Luhan, Yoona Seohyun, Krystal, Taemin

Genre              : Romance, Friendship, Family, Comedy

Rate                 : PG 14

Length             : Multichapter

A/N                 : Hai semuanya~ inilah Final Chapter dari FF ini… semoga kalian suka dan kalian puas dengan hasil kerjaku ini :’)

Happy Reading~ DON’T LIKE DON’T READ

oOoOoOo

Seorang yeoja tengah membubuhkan tanda tangannya pada setiap lembar kertas, ia juga mencapnya sendiri. Bisa dilihat sebuah name tag di kemeja yang ia kenakan. Kim Taeyeon tertulis disana.

Pintu diketuk dan yeoja itu menengadahkan kepalanya, mengalihkan matanya yang sejak tadi menatap kertas-kertas. “Masuk”ujarnya.

Yeoja lainnya masuk kedalam ruangannya dan tersenyum melihat sosok berkacamata yang tadi duduk disana. “Annyeong Taeyeon-a, ah… maksudku Ibu Kepala Sekolah”ucap Yuri sambil terkekeh.

Taeyeon memutar bola matanya bosan dan mendengus. Ia sudah bosan mendengar kata-kata Ibu Kepala Sekolah, ia tahu sudah 3 tahun lalu ia ditunjuk sebagai kepala sekolah di SMA Gamsoeng ini. Itupun pasti karena hanya dia yang mungkin bisa mengendalikan siswa-siswi disini dan membuat guru-guru berani pada mereka.

Taeyeon selalu mengatakan “Siswa harus menghormati Guru, bukan sebaliknya” Setiap kali ada kesempatan. Tentunya dibarengi dengan tampang sangar dan kepalan tangannya yang kecil namun bisa membuat orang babak belur.

Sejak Taeyeon menjabat menjadi kepala sekolah, para guru tak lagi takut menghukum siswa-siswi disana. Mereka yakin Taeyeon sendiri yang akan memberikan pelajaran bagi mereka yang tidak mematuhi peraturannya dan tidak menghormati guru-guru.

Selain kejayaannya serta hari-hari yang lumayan tenang akibat jumlah siswa-siswi SMA Gamsoeng yang berulah telah berkurang, Taeyeon juga menyukai hari-harinya sebagai guru di playgroup yang sama. Sayang sekali anak-anak itu sudah masuk sekolah dasar dan tidak diajar olehnya lagi. Karena sekolah dasar tersebut tidak jauh dari sana, anak-anak itu masih dititipkan di tempat penitipan biasa. Bahkan mereka rela berlari dari sekolah dasar untuk minta disuapi oleh Taeyeon.

Tiffany dan Suho juga sering mengajaknya berjalan bersama. Taeyeon terkadang sungkan karena mungkin akan merusak waktu mereka berdua, tapi Tiffany dan Suho tetap merasa Taeyeon bisa mencerahkan suasana, dan bisa menengahi mereka saat sifat tidak mau mengalah mereka berdua kumat. Well, Taeyeon masih tahu diri dan tidak ikut kencan mereka terlalu sering. Mereka perlu waktu berdua.

Namun semua ketenangan dan kesenangan di hidup Taeyeon ini masih kurang. Seseorang yang sangat berarti baginya masih tidak kunjung datang kembali padanya. Namja yang lebih muda 4 tahun darinya itu belum menghubunginya sama sekali. Taeyeon pikir ia akan memakai nomor ponsel yang sama, ternyata tidak. Sekarang ia tidak tahu bagaimana harus menghubungi namja itu.

“Taeyeon-a…”panggil Yuri seraya mengibas-ngibaskan tangannya didepan mata Taeyeon, membuat Taeyeon kaget.

“A..ah. Ada apa?”tanya Taeyeon.

“Dari tadi aku menjelaskan tentang laporan ini dank au tidak mendengarkan? Astaga Taeyeon-a…”ucap Yuri. “Aku hanya memintamu menandatanginya, aku lelah kalau harus menjelaskannya lagi”Yuri akhirnya menunjuk setumpuk kertas yang harus di tanda tangani.

Taeyeon mengiyakan lalu mulai menandatangani kertas-kertas itu. Yuri menatap Taeyeon dengan intens lalu bertanya “Apa kau sedang memikirkan Huang Zi Tao?”

Taeyeon menghentikan gerakannya dan menatap Yuri kaget. “B..Bagaimana kau…”

“Tentu tahu. Semua orang tahu. Kau tidak seceria tiga tahun lalu Taeyeon-a, kau tidak terlihat bebas. Dan aku tahu kau pasti sangat merindukan Huang Zi Tao. Sudah 3 tahun, apa kalian tidak pernah berhubungan?”

Taeyeon menggeleng dengan senyum simpul yang terpaksa. Dia kembali menandatangani kertas yang diberikan Yuri.

“Apa kau tidak pernah berpikiran untuk berhenti mengharapkannya Taeyeon-a? bukan maksudku untuk menyuruhmu melakukannya, tapi… ini sudah 3 tahun dan tidak ada kepastian tentangnya bukan?”

Taeyeon terdiam sekali lagi. Ia menghela nafas dan menyerahkan setumpuk kertas itu pada Yuri. Ia tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Yuri.

Yuri pun ikut menghela nafas. Sepertinya topik tentang Huang Zi Tao sangat sensitif bagi Taeyeon. Dan dia sudah salah bicara. “Maaf kalau aku sudah salah kata Taeyeon-a. Aku pergi dulu”

Pintu tertutup pelan dan Taeyeon langsung menelungkupkan kepalanya di meja. Ia menatap kosong kedepan dan memikirkan perkataan Yuri tadi. Yuri memang ada benarnya. Ia sudah lama curiga dan takut kalau kalau Tao mengingkari janjinya.

“Tao… kumohon kembali. Agar aku tidak lebih ragu dari ini”

oOoOoOo

Taeyeon memarkirkan motornya di tempat parkir khusus motor di depan playgroup. Ia melepas helmnya dan membawa benda itu masuk ke dalam ruang guru. Selama 3 tahun ini, playgroup berkembang dengan pesat. Banyak sudah anak-anak yang belajar dan dititipkan di daycare. Taeyeon semakin senang karena ada banyak anak yang manis disini.

Taeyeon berjalan keluar menuju ruangan daycare. Disana, anak-anak manis favoritnya menunggu. Anak-anak kesayangannya itu tidak berubah, selalu saja bertingkah manis, membuat Taeyeon semakin menyayangi mereka. Taeyeon tidak bisa membayangkan jika anak-anak itu tumbuh besar dan melupakan dirinya.

Belum sempat Taeyeon mendorong daun pintu itu, suara tangisan terdengar keras hingga keluar, membuat Taeyeon kaget dan segera masuk. “Astaga… Ada apa lagi kali ini?!!!”seru Taeyeon.

“M..Mereka mengganggu K..Krystal… dan… hiks, T..Taemin… Sonsaengnim…”adu seorang anak bernama Taemin dengan wajah merah karena menangis.

“Iya, iya… kalian berdua kemarilah”Taeyeon merengkuh tubuh Taemin dan Krystal kedalam pelukannya. Ia menenangkan mereka dengan suara lembut dan merdunya hingga kedua anak itu sudah bisa tertawa dengan lebih manis.

Taeyeon meninggalkan keduanya dengan mainan-mainan mereka lalu menatap anak-anak yang lebih besar dari kebanyakan anak-anak disana. “Jadi, siapa diantara kalian yang membuat mereka menangis?”

“Bukan aku, Sonsaengnim. Yoona juga tidak melakukan apa-apa. Dari tadi Yoona duduk disampingku”bela Luhan, lebih pada Yoona sepertinya. Taeyeon terkekeh didalam hatinya, sepertinya mereka berdua semakin dekat saja. Ia juga ingin seperti ini dengan Tao.

“A..Aku juga tidak melakukan apa-apa…”gumam Seohyun dengan mata berbinar, membuat Taeyeon yakin bukanlah Seo Joo Hyun yang melakukannya. Lagi pula Seohyun sama sekali bukan tipe anak yang sering membangkang.

Taeyeon menatap 2 anak yang tersisa. Yang satu sedang menatap ke sebelah kanan dan kirinya, gelisah. Dan yang satu lagi sedang menggigit bibir bawahnya. Terlihat gelisah pula. “Katakan, apa kalian yang mengganggu Taemin dan Krystal?”

“Aniyo, Taeyeon Sonsaengnim. Aku tidak melakukan apa-apa”ucap Baekhyun dengan pandangan lurus dan serius.

“Benarkah?”

“Tentu saja!”jawabnya lantang. Baekhyun memang yang paling dewasa dan yang paling nakal, tapi tindakannya tadi terlihat sangat serius.

“Baiklah, kalau begitu..” Belum sempat Taeyeon menyelesaikan kalimatnya, Yoona sudah memotongnya.

“Aniyo Taeyeon Sonsaengnim. Baekhyun tadi merebut mobil-mobilan Taemin”

Dengan penjelasannya, Yoona mendapat pelototan tajam dari Baekhyun, namun Yoona justru menjulurkan lidahnya. Hampir saja Baekhyun menjitak kepala yeoja kecil itu kalau Taeyeon tidak mencegahnya.

“Ya! Byun Baekhyun! Kenapa kau mengganggu Taemin? Kau seharusnya memberi contoh pada anak-anak yang lebih muda bagimu. Bukannya memberi yang buruk. Yoona memeberi tahu yang sebenarnya, kenapa kau justru ingin menjitaknya?”Taeyeon bertanya dengan nada sedikit mengintimidasi, hingga Baekhyun menjadi sedikit ketakutan.

“Aku ingin meminjamnya, tapi Taemin tidak memberi. Aku kesal lalu aku rebut”jawab Baekhyun.

“Betul begitu, Sehun-a?”Kini Taeyeon berpaling kepada Sehun yang wajahnya sedikit pucat.

Sehun tidak berani menatap Taeyeon, dia terus membasahi bibirnya dan menggumamkan sesuatu. Ia ingin memberi tahu Taeyeon, namun Baekhyun justru memelototinya, berisyarat agar Sehun tidak memberi tahu yang sesungguhnya.

“Sehun-a, kalau kau tidak memberi tahu yang sebenarnya, Sonsaengnim tidak mau bertemu denganmu lagi”ancam Taeyeon, terdengar serius.

“A..Aniya Thonthaengnim! Tadi Baekhyun Hyung bilang Thehun tidak thepelti namja, kalena Thehun tellalu baik, cengeng, main dengan yeoja teluth,dan hobi menggambal yang imut. Thehun kan bukan yeoja, Thehun Cuma thuka melakukan itu. Tapi Baekhyun Hyung tidak mau pelcaya thama Thehun. Baekhyun Hyung bilang Thehun haluth nakal agal jadi namja. Baekhyun Hyung menyuluh Thehun mengganggu Klythtal dan Taemin. Thehun tidak mau, Thehun takut dan tidak tahu bagaimana melakukannya. Baekhyun Hyung bilang Thehun bodoh. Baekhyun Hyung mencontohkan thedikit teluth Thehun dithuluh melakukan yang thama. Thehun pukul Klythtal dan dia menangith Thonthaengnim..”jelas Sehun dengan cadel, lalu berbicara dengan cepat, sampai Taeyeon harus berkonsentrasi mendengarkannya baru memahami apa yang terjadi.

“Benar begitu Yoona?”tanya Taeyeon dan Yoona mengangguk. Yeoja itu menatap Baekhyun dan mencubit pipinya dengan keras karena gemas dan kesal dengan kenakalan Baekhyun.

“A…Apphooo!!!”seru Baekhyun.

Taeyeon terkekeh lalu melepaskan pipi Baekhyun yang merah. “Mianhae ne, makanya jangan menjadi anak nakal lagi Baekhyun-a. yaksokhae?”

Baekhyun mencibir lalu menautkan kelingking kecilnya dengan kelingking Taeyeon. “Yaksokhae, Taeyeon Sonsaengnim…”

Taeyeon tersenyum. “Kemarilah, ayo dengarkan cerita Sonsaengnim…”seru Taeyeon, membuat anak-anak yang lain mendekat untuk mendengar cerita-cerita Taeyeon yang sangat digemari.

“Taeyeon Sonsaengnim! Cinderella! Cinderella!!”seru Krystal dengan bahagianya. Itu memang cerita favoritnya.

“Aniya, Aku mau Peterpan! Peterpan!!”Kali ini Baekhyun yang berseru.

“Tidak! Aku mau cerita rapunzel saja!”Sehun menyahut dan diiringi anggukan Yoona dan Seohyun.

“Apa kubilang, Sehun memang bukan namja tulen”Baekhyun menimpali sambil menjulurkan lidahnya.

“Baekhyun-a jangan memulai!”seru Taeyeon, tepat saat Sehun menangis keras.

“Hueee… Baekhyun Hyung jahat!”teriak Sehun, memacu anak-anak lainnya (yang sudah pernah diganggu Baekhyun) menangis juga.

“Ssst.. tenang, tenang… kalau kalian menangis Taeyeon Sonsaengnim tidak bisa bercerita”seru Luhan dengan suara yang tidak besar namun ampuh membuat mereka semua diam.

Taeyeon menghela nafas. Lega karena tangisan itu sudah reda. Tapi sekarang, ia justru bingung ingin bercerita apa. Jika menceritakan Peterpan, yang lainnya akan ribut. Ia harus memilih salah satu yang akan membuat mereka semua mau mendengarnya. “Sial, apa yang harus kuceritakan?”batin Taeyeon kesal.

“Annyeonghaseyo, apa ada Kim Taeyeon disini?”

Taeyeon menoleh dan kaget ketika mendapati Kyungsoo disana. Ia bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Kyungsoo. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Kenapa? Aku hanya ingin mengunjungimu Taeyeon-a… besok kau tau aku akan pergi ke luar negeri lagi bukan?”

Taeyeon mendengus. Ia tahu itu. Satu penopangnya selama 3 tahun ini akan pergi lagi. padahal selama Tao pergi, Kyungsoo dan Tiffany adalah yang paling sering menyemangatinya. “Ne, aku tahu. Masuklah, anak-anak itu pasti akan sangat penasaran tentangmu”

Taeyeon menggandeng Kyungsoo masuk dan duduk diantara kerumunan anak-anak. Begitu mereka duduk, mereka langsung diserbu dengan pertanyaan anak-anak yang menyangkut Kyungsoo.

“Sonsaengnim, Sonsaengnim bercerita tentang Hyung ini saja!”seru Luhan girang dan mendapat persetujuan dari semua anak.

“Hyung?”gumam Taeyeon ingin memprotes.

“Haha, wajahku memang awet muda”gurau Kyungsoo sambil tertawa renyah.

“Ya, terlalu muda sampai disangka anak SMP”Kini Taeyeon yang tertawa. Yeoja itu lalu menghindari protesan Kyungsoo dengan mulai bercerita.

oOoOoOo

Taeyeon dan Kyungsoo sekarang sedang duduk di salah satu meja makan di restoran terkenal. Kyungsoo sang pengusaha muda-lah yang mentraktir Taeyeon, dengan catatan akan menerima traktiran Taeyeon untuk selanjutnya.

“Serius, Taeyeon Noona, aku benci saat kau mengatakan wajahku mirip dengan anak SMP. Aku sudah bertahun-tahun lulus dari SMP”ujar Kyungsoo dengan kesal. Ia mengungkapkan keseriusan dan kekesalannya dengan kata Noona. Ia tidak biasa memanggil Taeyeon Noona. Ia akan memanggil Taeyeon Noona saat ada di acara formal atau ia sedang kesal. Dan Taeyeon juga tahu tentang ini.

“Arraseo, mianhae Kyungsoo-a. tapi yang kukatakan memang benar. Kau sangat lucu dan imut. Menggemaskan!”puji Taeyeon sambil mencubit pipi Kyungsoo.

Kyungsoo menyingkirkan tangan Taeyeon dengan lembut lalu mencibir. “Bagaimana mungkin kau bisa mengatai seorang namja dengan kata-kata imut, lucu dan menggemaskan”

“Kenyataannya memang begitu…”

Kyungsoo terkekeh lalu menatap Taeyeon. “Kau memang tidak pernah berubah… selalu saja ceria seperti ini. Yang membuatmu murung… hanyalah pada saat orang tuamu meninggal… dan saat Tao pergi…”

Taeyeon berhenti memotong steaknya dan balas menatap Kyungsoo. Ia menunggu kelanjutan kalimat Kyungsoo. Untuk apa namja itu menyinggung orang tuanya dan Tao?

“Taeyeon-a, kau tahu aku menyukaimu bukan? Aku berjanji akan membuatmu bahagia dan tidak pernah murung lagi. Bisakah kau mempertimbangkanku sekali lagi?”

Suasana hening menyelimuti mereka. Taeyeon yang shock dan diam menatap Kyungsoo, dan Kyungsoo yang juga diam menunggu jawaban Taeyeon.

Namun sudah 5 menit keheningan itu menyelimuti mereka, Taeyeon tak kunjung memberikan jawaban. Yeoja itu sedang berada didalam kebimbangan luar biasa.

“Kyungsoo benar, jika aku bersamanya, aku tidak akan bersedih, tidak harus menunggu lagi. Tao tidak memberi kabar. Tidak pasti apakah namja itu masih mengingatku atau tidak. Tapi bagaimana dengan perjuanganku selama 3 tahun ini? Bagaimana jika Tao tetap menungguku? Bagaimana dengan perasaanku? Haruskah aku berhenti menunggu Tao dan memulai lembaran baru bersama Kyungsoo?”batin Taeyeon gelisah.

Sebelum Taeyeon sempat berucap, Kyungsoo sudah menghela nafas dan mengelus lembut puncak kepala Taeyeon, membuat perhatian yeoja itu kembali teralihkan ke Kyungsoo. “Kau tidak perlu menjawabnya Taeyeon-a. Aku sudah tahu jawabnya”ujar namja itu.

Taeyeon diam, ia ingin membatah dan berkata bahwa Kyungsoo tidak perlu memasang tampang sedih seperti itu. itu hanya akan membuat Taeyeon merasa bersalah. Tapi ia justru tidak bisa berkata-kata. Ia akhirnya hanya bisa diam, bahkan saat Kyungsoo mengajaknya pulang.

Esok harinya, Taeyeon dan Tiffany mengantar kepergian Kyungsoo. Taeyeon masih menatap kearah pesawat yang membawa Kyungsoo pergi. Tiffany yang ada dibelakangnya pun sama. Mereka berpikir Kyungsoo tidak akan pergi keluar negeri lagi, ternyata namja itu memang masih akan pergi lagi, entah kapan Kyungsoo akan kembali.

“Kajja, kita pulang Taeyeon-a”ajak Tiffany sambil menggenggam tangan Taeyeon.

Taeyeon menghela nafas, memang saatnya ia harus pulang. Ia harus bisa tanpa Kyungsoo. Kyungsoo sendiri sudah berpesan padanya agar tidak murung lagi. dan ketika dia murung, dia harus segera menghubungi Kyungsoo. Mengingat kalimat Kyungsoo itu, Taeyeon hanya dapat tersenyum kecil.

Taeyeon berbalik untuk menatap Tiffany, namun matanya justru menangkap seseorang dengan rambut hitam dan bahu bidang yang sangat familier baginya. Matanya membulat dan tubuhnya menegang. Perasaannya berkata bahwa itu adalah Tao, otaknya juga berpikir itu adalah Tao. Ya, itu Tao. “Huang Zi Tao!!”jeritnya keras, namun namja itu tak menoleh. Keributan di bandara mungkin membuat namja itu tidak mendengarnya.

“Taeyeon-a, apa maksudmu? Mana mungkin Huang Zi Tao ada…”

“Aniya Tiffany-a! Itu Tao! Aku yakin sekali itu Tao!!”seru Taeyeon dengan air mata haru yang menuruni pipinya dan yeoja itu akhirnya berlari dengan tangis haru dan senyum bahagia.

Sebentar lagi, sebentar lagi ia akan bertemu dengan Tao. Penantiannya tidak sia-sia. Keputusannya untuk tetap menunggu Tao tidaklah sia-sia.

Sementara Taeyeon mengejar orang yang ia percayai sebagai Tao, Tiffany hanya dapat diam di tempat dan mengehela nafas. Yeoja itu harus mencari Taeyeon dan membawanya pulang. Tapi ia memang harus membiarkan Taeyeon terlebih dulu, siapa tahu namja itu memang Tao.

Tiba-tiba saja, Tiffany merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang. Tiffany berbalik dan membelalak melihat namja yang ada didepannya.

“Kau…”

oOoOoOo

Taeyeon duduk di kursi taman yang ada didekat bandara. Ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari dan mencari namja itu, namun ia tidak menemukannya. Terakhir ia lihat namja itu memang melewati taman ini.

“Hah… hah… kemana kau?”batin Taeyeon, masih terengah-engah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman dan dia masing tidak menemukan namja itu. Ketika ia melihat salah satu kios penjual makanan, ia menemukan sosok berbaju putih dengan rambut hitam, dan tentunya memakai tas berwarna hitam. Sudah pasti, itu Tao, sosok yang tadi ia kejar kejar.

Taeyeon bangkit dari duduknya dan berlari menuju kios itu sebelum namja itu pergi lagi.

“Huang Zi Tao!”seru Taeyeon seraya menarik lengan namja itu.

Mata Taeyeon membelalak. Rasa kecewa dan rasa sakit menghantam hatinya dan menghancurkannya begitu saja. Namja ini memang berpostur sama dengan Tao, namun wajahnya… dia bukan Tao. Tao memiliki kantung mata, dia tidak. Tao memiliki hidung mancung dan rahang yang tegas. Namja ini tidak.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”

Dan suaranya. Juga caranya berbicara. Tao belum fasih benar dalam bahasa korea. Terkadang caranya bicara masih mirip dengan orang Cina. Namja itu pasti asli Korea, Taeyeon tahu itu.

“Maaf, aku salah orang”

Taeyeon berbalik dan berjalan menuju tempat ia dan Tiffany terakhir bertemu. Siapa tahu yeoja itu masih ada disana. Taeyeon juga berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya, ia berusaha untuk tidak menangis. Namun perih yang ia rasakan tidak bisa ia tahan lagi. bulir-bulir air matanya itu keluar sedikit demi sedikit dan akhirnya berubah menjadi sungai kecil.

Isakannya yang tertahan dan sangat kecil justru semakin membuat perih itu menyiksanya. Seperti luka dalam yang ditaburi garam. Tadinya ia begitu senang hingga rasanya ia sedang dalam perjalanan ke awang-awang. Namun sebelum ia sampai disana, ia dicampakkan hingga menghasilkan luka itu. Bagaimana mungkin ia bisa tahan untuk tidak menangis…

“Taeyeon-a!”

Taeyeon mendongak dan mendapati Tiffany sudah ada dihadapannya. “Fany-a… itu.. itu bukan Tao…”adu Taeyeon sambil terus terisak.

“Tentu saja bukan, Tao…”

Tiffany memotong omongannya tepat saat ada lengan kekar yang menarik lengannya, membuat Taeyeon berbalik dan terpaksa mendongak untuk bisa menatap orang yang berani melakukan itu saat Taeyeon sedang menangis.

“Noona…”

Taeyeon membelalak untuk entah keberapa kalinya hari ini. Kali ini, tepat didepan matanya. Namja yang ia tunggu datang, dan ini bukan khayalan, atau orang lain. Matanya yang seperti panda, hidung yang mancung, rahang yang tegas, senyum yang dingin namun menenangkan, suaranya yang juga tegas namun justru membuat Taeyeon nyaman… Ini Huang Zi Tao.

“K..Kau…”Taeyeon menyentuh kedua pipi Tao dengan kedua tangannya, merasakan kulit Tao yang lembut meskipun kecokelatan. “Kau… benar benar Tao?”

Tao tersenyum pada Taeyeon lalu memeluk yeoja itu erat. “Ya, ini aku Noona. Aku pulang.”

Taeyeon kembali menitikan air mata dan balas memeluk Tao, bahkan seerat yang ia bisa untuk menyalurkan rasa bahagianya. Aku pulang. Kalimat itu membuatnya bahagia dan benar-benar terbang ke awang awang. Ini nyata, Tao nyata. Dia memang kembali. Aroma tubuhnya yang maskulin, aroma yang dirindukan Taeyeon kembali menyapanya.

“Selamat datang…”

oOoOoOo

“Tao, lepaskan dulu, kau harus menyetir dengan dua tangan. Bahaya kalau kau menyetir hanya dengan satu tangan”saran Taeyeon. Sedari tadi, tangan Taeyeon dan Tao terus bertautan. Bahkan saat akan menaiki mobil tadi, Tao nekat masuk dari pintu penumpang depan. Dia tidak ingin melepaskan tautan tangannya dari Tao. Saat berjalan-jalan tadi, Tao juga tidak mau melepaskan tangannya. Bahkan saat Tao membelikan Taeyeon baju dan Taeyeon harus memakainya di fitting room, Tao tidak melepas tautannya dan tetap berada diluar tirai, menunggui Taeyeon. Jadilah Taeyeon bersusah payah memakai gaun selutut itu sendiri. Padahal desainnya cukup ribet untuk dipakai, apalagi dengan satu tangan.

“Aku biasa menyetir dengan satu tangan, Noona”ujar Tao masih memperhatikan jalan.

“Kau itu masih kecil, dengarkan kata-kataku…”ujar Taeyeon lagi.

Tao mendengus. “Aku bukan anak kecil lagi, Noona… kau juga tidak setua itu”

Taeyeon tersenyum manis. Tao memang bukan peterpan kecilnya lagi. Namja itu sudah tumbuh dewasa. Tadi bahkan ia tidak mengejeknya ‘Noona Tua’ lagi. biasanya dia punya banyak cara untuk mengejek Taeyeon. Entah kenapa Taeyeon jadi rindu dengan sifat jahil Tao.

“Ayolah Tao, apa kau selalu seperti ini di Beijing? Menyetir dengan satu tangan?”tanya Taeyeon dengan nada bergurau.

“Aku menyetir dengan kaki”

Taeyeon tertawa dan Tao pun ikut terkekeh. Sifat jahilnya belum hilang. Taeyeon senang dengan itu.

Mobil berhenti didepan sebuah restoran. Hari memang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, wajar jika Tao membawanya makan dulu. Tanpa melepas tautan tangan mereka, lagi-lagi Tao nekat keluar dari pintu penumpang depan. Bukannya marah atau malu, Taeyeon justru tertawa karenanya.

Mereka masuk ke restoran itu dan betapa terkejutnya Taeyeon saat mendapati ada banyak kenalannya yang ada disana. Bahkan anak-anak playgroup (bersama orang tua mereka tentunya) , siswa-siswi SMA Gamsoeng, Yuri, Sunny, Tiffany dan…

“Astaga! Kyungsoo?! Kenapa dia ada disini?!!”batin Taeyeon kaget.

Yeoja itu menoleh pada Tao dan menuntut jawaban, namun Tao justru terkekeh dan menarik Taeyeon ke meja di tengah-tengah restoran. Masih berpegangan tangan, keduanya duduk disana. Para pelayan segera menyediakan berbagai macam makanan untuk seluruh tamu disana. Taeyeon bisa melihat banyak orang-orang bergaun dan berjas yang meminum wine. Ia tahu itu adalah orang-orang dari dunia bisnis yang digeluti oleh Tao.

“Tao, ada apa ini?”tanya Taeyeon berbisik. Sekali lagi, Tao hanya tersenyum dan menyuapkan potongan steak ke mulut Taeyeon.

“Sudahlah, kau akan tahu nanti. Sekarang kau makan saja”ujar Tao.

“Kemari aku baru saja makan steak dengan Kyungsoo, berdua”Taeyeon mengatakannya dengan maksud agar Tao cemburu dan langsung mengatakan maksudnya. Tapi sepertinya namja itu sudah belajar untuk menjaga emosinya.

“Tidak apa-apa. Do Kyungsoo adalah teman Noona bukan?”

Taeyeon menghela nafas. Ia tidak bisa mendapat jawabannya, padahal ia sangat penasaran. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah bertingkah cemberut, mempoutkan bibirnya dan menunjukkan sisi imutnya. Ia yakin Tao akan melunak.

Dan sialnya, itu tidak terjadi bahkan sampai Tao menyelesaikan makanannya.

Tao berdiri, membuat Taeyeon pun ikut berdiri karena tautan tangan mereka. Begitu Tao berdiri, pelayan-pelayan tadi mulai membereskan makanan dan menyingkirkan meja yang memisahkan Tao dan Taeyeon. Kali ini Tao melepaskan tautan tangan mereka. Namja itu berlutut dihadapan Taeyeon, membuat Taeyeon kaget dan segera berkata “Tao, apa yang..”

Ucapan Taeyeon terpotong saat Tao mengeluarkan sebuah kotak kecil berisikan sebuah cincin. Cincin itu adalah cincin perak dengan batu safir sebagai hiasannya. Ketika Taeyeon terpana dengan cincin indah itu, Tao justru menyodorkan kotak beserta cincinnya itu pada Taeyeon. “Noona, aku tahu ini sangat tiba-tiba dan aku tahu aku bersalah karena tidak bisa menghubungimu selama di Beijing. Tapi aku tidak bisa menahannya, aku tidak mau kau berpaling, dan aku tidak mau aku didahului orang lain, jadi…”

Taeyeon yang sudah membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan haru, justru semakin terisak saat kata-kata itu keluar dari bibir Tao. “Maukah kau menikah denganku? Kim Taeyeon?”

Taeyeon tak sanggup berkata-kata karena terlalu terharu. Yeoja itu hanya dapat mengangguk dan mengangguk. Tapi anggukannya itu disambut dengan bahagia oleh Tao dan seluruh orang disana. Tao berdiri dan memasangkan cincin indah tersebut di jari Taeyeon. “Sekarang, kau milikku Noona. Ani, Taeyeon-a. Taeyeon-a, kau milikku”ucap Tao setengah berbisik sambil kembali menautkan tangannya pada tangan Taeyeon.

Taeyeon tersenyum dan mengangguk. “Ne, kau bisa memanggilku begitu”

Tak butuh waktu lama, terdengar sahutan agar mereka berciuman. Dan itu semua dimulai oleh siswa-siswi SMA Gamsoeng. “Sial, aku akan menghajar mereka jika sudah sampai di sekolah nanti”gumam Taeyeon sambil mendelik kearah mereka.

Tao terkekeh. “Ayolah Taeyeon-a…”goda Tao. Ah, ternyata hobi menggodanya tidak pernah hilang.

“Ada anak kecil disini Ta…”

Terlambat, Tao sudah lebih dulu menangkup wajah Taeyeon dan melumat bibirnya dengan penuh nafsu, membuat Taeyeon mau tak mau harus membalas perlakuan Tao padanya. Sahutan dari berbagai sisi membuat mereka berdua semakin merona. Tao semakin semangat, dan Taeyeon makin malu. anak-anak playgroup sudah diarah orang tuanya untuk pergi dari sana. Sementara itu, Luhan, Yoona, Seohyun, Baekhyun dan Sehun yang datang sendiri segera ditutup matanya. Tiffany menutup mata Seohyun, Kyungsoo menutup mata Baekhyun, sedangkan Yoona dan Luhan menutup mata mereka sendiri.

“Beruntung kita datang Kyungsoo-a, kalau tidak siapa yang mencegah kelima bocah ini melihat adegan ini?”seru Tiffany. Tadi ia sudah menghubungi Suho, namun namja itu belum juga datang.

“Um… Tiffany-a… kita lupa…”

“Lupa apa?”Tiffany bertanya pada Kyungsoo. Kyungsoo terlihat begitu menyesal saat menatap seseorang disebelahnya.

Tiffany membelalak ketika tahu siapa itu dan akhirnya bergumam “Oh my..”

“AAAA!!!! TAEYEON THONTHAENGNIM DAN TAO GEGE SEDANG APA?! KENAPA KALIAN MELAKUKANNYA DIDEPAN BANYAK OLANG? KENAPA TIDAK ADA YANG MENCEGAH THEHUN MELIHATNYA?! ANIYAAA!!! THEHUN THUDAH TIDAK POLOTH LAGI!! THEHUN THUDAH MELIHAT ADEGAN POLNO!!!”

Teriakan Sehun membuat semua orang kaget dan terdiam sesaat, bahkan Tao dan Taeyeon berhenti melakukan kegiatan mereka tadi.

Sesaat kemudian, semua orang justru menertawai kepolosan Sehun tadi. Taeyeon pun juga tertawa “Sial, Tiffany dan Kyungsoo sepertinya melupakan dia…”

“Ternyata bocah cadel yang berisik itu masih ada”gumam Tao. Taeyeon terkekeh mendengarnya.

“Kau tahu? Sehun pernah bilang dia tidak ingin menjadi orang dewasa karena orang dewasa tidak sudah tidak polos dan orang dewasa membosankan. Dia mirip sepertimu”

“Tidak mungkin, mana mungkin bocah itu mirip denganku”

“Dia memang mirip denganmu, dia peterpan kecilku yang selanjutnya”

“Aku tidak suka gelarku diberikan pada orang lain begitu saja”

“Sayangnya aku sudah memberikannya pada Sehun”

“Ya! Kim Taeyeon!!!”

END

Bagaimana? Inilah ending dari my little peterpan-_- agak maksa di akhirnya ya. Tengahnya sih mungkin lumayan. Akhirnya ini maksa banget. Maaf ya readers deul.

Setelah ini mungkin aku bakal update me and my husband dulu, biar dua duanya abis dan aku bisa fokus bikin yang tiga lainnya. Aku mungkin harus mengundur waktu buat ngepublish ff baru karena harus ujian, mianhae~

RCL

 

27 thoughts on “[Freelance] My Little Peterpan (Chapter 8)

  1. aigoo.. sehun lucu banget xD haduh aku telat ya? ‘-‘) *celingakcelinguk
    but i like it! author tanggung jawab ya, aku jd suka pairing Tao Taeyeon kan :v hehe.. maap sbelumnya aku gk komen, soalnya aku baru nemu ini FF kemaren, jd baca dari chapt. awal dlu deh. oke itu aja, tp jgn lupa buat ff TaoYeon (?) lagi y thor xD keep writing! 😉

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s