[Freelance] Biased (1/2)

biased

 

Title                 : BIASED [1/2]

Author             : channim

Length             : two shoot

Rating             : PG15

Genre              : romance, friendship

Main Cast        : EXO Sehun, SNSD Jessica

Other Cast       : A-Pink Hayoung

Author Note    : hyaaa mau sedikit cuap-cuap aja. Fanfic ini sebenernya terinspirasi sama fangirl life aku. Trus kepikiran buat ide cerita ini deh lol. Hope you like it, guise! Jangan lupa mampir ke evilsmirkyu.wordpress.com for more Jessica fanfictions ^^

 

 

 

Oh Sehun mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada permukaan meja untuk beberapa menit lamanya. Wajahnya terlihat kesal. Ia berkali-kali melirik ke arah yeoja yang duduk tepat di depannya. Yeoja itu tampak tenggelam di balik layar notebook-nya. Sesekali ia berteriak tertahan, detik berikutnya ia merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan balon, sebentar lagi tersenyum lebar sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

“Ah! Jangan mengeluarkan smirk seperti itu!” Satu.

“Kenapa kau terlihat tampan?! Kenapaaa?!!” Dua.

“Oh, apa kau tau senyummu terlihat sangat manis??” Tiga.

Cukup. Sehun perlu membuka suara.

“Sooyeon.”

Yeoja itu tetap bergeming. Tak mendengarkan panggilan Sehun.

“Sooyeon-ssi.”

Masih sama. Malah yeoja bernama Sooyeon itu mencengkeram pinggiran notebook-nya sambil mengomel-omel pada layar yang diam itu.

Tuk. Layar di depan Sooyeon menutup. Tergantikan oleh wajah Sehun yang menatapnya tajam.

“Yah! Apa yang kau lakukan?! Kau tak lihat aku sedang streaming penampilan Kevin Wu, hah?” Sooyeon mengomeli namja di depannya itu. Ia terlihat sangat jengkel karena kegiatannya diganggu oleh namjachingu-nya itu.

“Jung Sooyeon-ssi…” ucapan Sehun terhenti saat pesanan mereka datang. Setelah pelayan meletakkan pesanan mereka di atas meja, barulah Sehun meneruskan ucapannya. “Makanlah dulu.”

Sooyeon menarik makanannya dengan malas, lalu kembali sibuk dengan iphone-nya. Ia meng-scroll layar iphone-nya sambil sesekali menyendokkan makanan ke mulutnya.

“Makan yang benar. Taruh iphone-mu,” suruh Sehun.

“Hm.” Sooyeon hanya bergumam singkat tanpa memedulikan perintah Sehun.

Sehun akhirnya menyerah. Ia mengangkat bahunya lemah lalu berkonsentrasi pada makanannya sendiri.

***

“Sehun!” Sooyeon langsung mengejar Sehun yang keluar lebih dulu dari kedai tempat mereka makan. Ia meraih lengan Sehun dan mengaitkannya dengan lengannya. “Aku mau ke rumahmu. Boleh, ya?”

Sehun menoleh malas ke arah Sooyeon. Sepertinya ia tau tujuan Sooyeon. “Untuk apa?”

“Aku mau men-download perform Kevin Wu tadi. Aku kan belum sempat menontonnya sampai akhir! Kau masih memasang wi-fi di rumahmu, kan?” tanya Sooyeon.

Sehun menghela napas. Yeoja ini selalu saja. “Masih, tapi…”

“Kalau kau keberatan juga tak apa,” potong Sooyeon cepat. “Aku bisa mampir ke rumah Hayoung atau-“

“Tidak usah. Jangan merepotkan mereka. Rumahku saja.” Akhirnya Sehun mengiyakan permintaan Sooyeon.

“Yey! Terima kasih, Sehun!” Sooyeon tersenyum lebar sambil mengayunkan lengannya yang masih bertautan dengan lengan namja itu.

 

“Kau istirahat saja tak apa-apa. Aku bisa mengurus ini sendiri.” Sooyeon meletakkan tasnya di meja belajar Sehun lalu mengeluarkan notebook-nya.

Kau pikir ini rumah siapa? Dasar. Sehun berkomentar dalam hati. Ia melepas jaketnya dan menggantungnya di belakang pintu kamarnya. Kemudian ia melangkah ke arah meja belajarnya dan mengambil tempat di sebelah Sooyeon. Yeoja itu tampak serius mengeklik mouse-nya hingga proses download muncul di layar. Kemudian Sooyeon menunggu hasil download-nya sambil melihat beberapa preview Kevin Wu di salah satu fansite.

Sehun menopang kepalanya dengan satu tangan sambil ikut mengamati layar notebook Sooyeon. “Biasa saja.”

Sooyeon menoleh cepat ke arah Sehun. “Apanya?”

“Wajahnya. Tidak terlalu menarik. Apa yang kau sukai darinya?” tanya Sehun sambil tetap memandangi layar tanpa minat.

“Hah, apa kau terkena gangguan mata? Dia sangat SANGAT tampan! Lihat matanya. Kau akan meleleh hanya dengan melihat ke dalam matanya. Lalu hidungnya, begitu sempurna. Dan, dan, bibirnya…. ah aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya dicium olehnya!” Sooyeon menjadi heboh kembali.

“Tsk.” Sehun berdecak. Ia memandang ke arah Sooyeon yang sedang memasuki zona khayalnya. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke arah Sooyeon.

Sooyeon tersadar dari dunia imajinernya. Ia terkejut melihat Sehun berada sangat dekat dengannya. “Mau apa kau?!”

“Kau pilih bibir orang itu atau ini?” Sehun mengetuk bibirnya sendiri.

“Hih, otak yadong!” Sooyeon langsung menjauhkan muka Sehun. “Tentu saja bibir Kevin Wu!”

***

Bel waktu istirahat baru saja berbunyi, tapi beberapa anak sudah berhamburan keluar untuk membebaskan diri dari kelas yang begitu membosankan. Begitu juga dengan Sehun. Ia melangkah keluar dari kelasnya, menuju kelas lain yang letaknya berbeda beberapa kelas dari tempatnya.

Sehun sampai di depan kelas itu. Ia melongok ke dalam. Biasanya begitu jam istirahat, Sooyeon akan berkumpul dengan teman sesama fangirl-nya lalu heboh membicarakan idolanya. Ya, siapa lagi kalau bukan Kevin Wu. Yang menurut Sehun tak ada apa-apanya itu. Yah, entahlah. Mungkin Sehun hanya iri. Karena setiap saat yang Sooyeon bicarakan hanyalah tentang Kevin Wu, Kevin Wu, dan Kevin Wu.

Namun kelas itu terlihat sepi. Tak ada Sooyeon yang berapi-api mengobrol dengan temannya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mendapati Hayoung menghampirinya.

“Sehun? Kau mencari Sooyeon?” tanyanya.

Sehun mengangguk. “Ah, ya. Di mana anak itu? Tumben sekali kalian tidak mengadakan pertemuan rutin.”

“Maksudmu?” Hayoung mengerutkan keningnya.

“Biasalah. Membicarakan idola kalian.” Sehun tertawa menyindir.

“Haha, kau ini. Hati-hati pada Sooyeon. Dia bisa membunuhmu,” canda Hayoung.

“Tidak akan. Jadi di mana dia?” tanya Sehun.

“Dia ada di bangku belakang. Tadi dia sempat dihukum,” jelas Hayoung.

“Dihukum?”

“Iya, dia datang terlambat dan sepanjang pelajaran ia terus menguap dan tertidur.”

Sehun menggelengkan kepalanya lalu beranjak masuk ke kelas Sooyeon. Didapatinya yeojachingu-nya itu menelungkupkan kepalanya di atas meja. Sehun bergegas menghampirinya. Ia hendak membangunkannya namun tak jadi karena merasa kasihan melihat yeoja itu mendengkur halus.

Akhirnya ia mengambil kursi dan duduk di dekat Sooyeon. Hayoung ikut duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan bangku Sooyeon.

“Tadi Kim songsaenim menyuruhnya berdiri di luar kelas hingga jam pelajarannya berakhir. Mungkin ia kelelahan,” ucap Hayoung menceritakan hukuman yang diterima Sooyeon.

“Dia ini…” desis Sehun sambil menepuk pelan puncak kepala Sooyeon.

Tak disangka Sooyeon membuka matanya dan menegakkan tubuhnya. Ia mengucek matanya dan melihat ke sekeliling kelas.

“Sudah pulang, ya?” tanyanya. “Eh, kenapa kau ada di sini?” Sooyeon balik bertanya pada Sehun.

“Bodoh. Kenapa kau sampai dihukum?” Sehun menginterogasi Sooyeon.

“Kau memberitahunya, ya?!” Sooyeon langsung menuduh Hayoung. Hayoung hanya tersenyum bersalah.

“Jangan menyalahkan Hayoung. Jawab pertanyaanku,” tegas Sehun.

“Aku sedikit mengantuk tadi. Jadi Kim songsaenim menyuruhku berdiri di luar kelas dengan satu kaki diangkat. Menyebalkan sekali,” gerutu Sooyeon.

“Kenapa? Kau kurang tidur?”

“Yaaah.” Sooyeon menggantungkan kalimatnya, tak ingin berterus terang pada Sehun.”Tadi malam aku begadang mengerjakan tugas.”

“Eh, memangnya hari ini ada tugas? Kok aku tidak tahu?” Hayoung tiba-tiba panik. Sooyeon menatapnya tajam.

“Sooyeon,” panggil Sehun. Sooyeon mengentakkan sepatunya pelan sambil memutar bola matanya.

“Iya, iya. Semalam aku menonton beberapa video.” Akhirnya Sooyeon berterus terang pada Sehun. Sebenarnya ia tak bermaksud menonton video hingga larut malam, tapi setelah menonton satu video, ada video lain yang menarik perhatiannya dan begitu seterusnya hingga ia tak sadar bahwa hari sudah sangat larut.

“Lagi-lagi.” Sehun menggeleng kesal. “Kalau begini terus lama-lama kau kularang untuk mengidolakan orang tak penting itu.”

“Apa kau bilang?” Sooyeon berteriak sengit. Ia sama sekali tak bisa terima jika idolanya dihina seperti itu. Apalagi oleh namjachingunya sendiri.

“Dia hanya menghambat belajarmu dan kehidupanmu. Itu yang kaubilang sebagai seorang idola?” Sehun akhirnya juga terbawa emosi. Ia kesal pada Sooyeon yang seakan-akan buta akan sekitarnya dan hanya melihat pada idola yang dipuja-pujanya itu.

Sooyeon bangkit dari kursinya sambil menggebrak meja. “Kau tak mengerti apa-apa! Jadi sebaiknya kau diam saja! Sok tahu!”

Sooyeon mendesak Sehun yang menghalangi jalan keluarnya dan berjalan cepat keluar kelas.

“Soo-Sooyeon!” panggil Hayoung.

“Biar. Biarkan saja,” cegah Sehun. Hayoung menatap Sehun dengan wajah panik. Tapi Sehun tetap menunjukkan wajah dinginnya.

Sooyeon menahan sesak di dadanya sambil berjalan cepat menuju ke toilet. Ia marah, kesal, sedih, jengkel, dan semuanya bercampur menjadi satu. Ia masuk ke salah satu bilik toilet dan menutup pintunya dengan bantingan keras.

Sooyeon menyandarkan badannya di pintu lalu menutup mukanya. Kemudian ia menangis terisak-isak. Kakinya menghentak pada lantai toilet.

“Menyebalkan! Semuanya menyebalkan! Tak ada yang mengerti perasaanku! Mereka kira begitu mudah menjadi seorang fangirl?” Sooyeon mengeluarkan iphone-nya dan menyalakannya. Gambar Kevin Wu terpampang di wallpaper-nya.

“Kevin Wu…huhuhu. Andai kau ada di sini untuk menenangkanku. Aku tau aku yang salah, bukan kau. Kau hanya seorang idol. Tak sepantasnya mereka menyalahkanmu. Maafkan aku telah membuat orang lain tidak menyukaimu. Maaf, Kevin Wu,” isak Sooyeon sambil mendekap iphone-nya.

Bel masuk berbunyi. Sooyeon segera menghapus airmatanya lalu keluar dari bilik toilet. Untung toilet sedang sepi. Jadi ia langsung membasuh wajahnya agar bekas tangisnya tak terlihat. Perlahan Sooyeon keluar dari toilet. Ia menghela napas karena tidak ada Hayoung ataupun Sehun di sana. Ia segera melangkah ke kelasnya.

***

Begitu bel pulang berbunyi, Sooyeon secepat kilat membereskan bukunya dan berlari keluar kelas. Tujuan utamanya adalah halte bus di depan sekolah. Ia malas harus bertemu Sehun. Ia masih marah pada namja itu.

Sooyeon menggerak-gerakkan kakinya gelisah saat bus-nya tak kunjung datang. Sudah lima menit terlewat. Sooyeon menjulurkan kepalanya untuk melihat ke ujung jalan.

“Aish, lama sekali!” rutuknya.

Saat ia memfokuskan pandangannya untuk melihat bus yang datang, Sehun sudah setengah berlari ke arahnya.

“Ah, sial. Sial, sial, sial. Bus cepatlah kemari!” Sooyeon makin panik.

“Sooyeon!” dan tepat saat Sehun mencapai halte, sebuah bus berhenti tepat di depan Sooyeon. Ia langsung melompat naik ke dalam bus dan melaju. Meninggalkan Sehun yang mengumpat seorang diri di halte.

 

Tok. Tok. Tok.

Sooyeon mengubur dirinya di balik selimut. Menutupi kedua telinganya dengan bantal.

“Sooyeon, buka pintunya.”

Yeoja itu akhirnya bangun dengan kesal. “Tidak mau! Aku capek. Aku mau tidur!”

Eomma Sooyeon menyerah. Ia berbalik menghadap Sehun dengan wajah menyesal.

“Maaf, Sehun. Mungkin besok perasaannya sudah jauh lebih baik,” hiburnya sambil tersenyum.

Sehun mengangguk. “Tidak apa-apa, tolong sampaikan maafku pada Sooyeon.”

“Baiklah.”

Setelah pamit kepada eomma Sooyeon, Sehun melangkah pulang. Ia cukup menyesal atas kejadian siang tadi. Seharusnya ia memaklumi sifat Sooyeon. Yeoja itu memang keras kepala dan susah untuk menerima pendapat dari orang-orang di sekitarnya. Apalagi itu mengenai idolanya, Sooyeon pasti akan mati-matian membela idolanya itu. Tapi orang yang paling keras kepala sebenarnya yang paling rapuh dan mudah menangis. Sehun cukup yakin kalau Sooyeon menangis siang tadi. Itu sebabnya ia merasa bersalah.

“Padahal besok ulang tahunnya. Tapi aku malah membuatnya begini,” keluh Sehun.

Sudahlah, aku harus menyelesaikannya besok.

***

Sooyeon melangkah menuju sekolahnya dengan wajah muram. Ia mencengkeram ujung tali tasnya sambil menendang kerikil di jalanan yang dilewatinya.

Ini adalah hari ulang tahunnya. Tapi suasana hatinya kacau –balau. Sehun tak menghubunginya atau apa. Pagi ini bahkan ia harus berangkat ke sekolah sendiri. Walaupun ia sudah merencanakan kalau Sehun menjemputnya, ia juga tak akan mau berangkat bersama. Tapi paling tidak Sehun masih menunjukkan bahwa ia peduli. Namun sekarang kenyataannya apa? Nihil.

Di sekolah pun Sooyeon tak menemukan keberadaan Sehun. Namja itu tak mendatangi kelasnya seperti biasa. Tapi Sooyeon tetap cuek dan tak ambil pusing atas semua itu. Ia mengeluarkan iphone-nya dan memulai aktivitas fangirling-nya lalu tenggelam dalam dunianya sendiri.

“Hayoung, kau mau kuajak ke Puppy Store? Aku mau membeli hoodie yang dipakai Kevin Wu tempo hari itu!” ajak Sooyeon sepulang sekolah.

“Ah, maaf Sooyeon. Hari ini aku harus cepat-cepat pulang. Bagaimana kalau besok? Aku janji akan menemanimu,” tawar Hayoung.

Sooyeon mendesah kecewa. “Yah, yasudah.”

 

Akhirnya Sooyeon memutuskan untuk pergi sendiri ke sana. Keinginannya untuk membeli hoodie itu sudah menggebu-gebu. Ia menggunakan bus untuk mencapai Puppy Store yang berjarak beberapa menit dari sekolahnya itu.

Setelah menuruni bus, Sooyeon membenarkan letak tasnya lalu beranjak untuk melangkah. Kawasan itu memang dipenuhi dengan deretan toko yang menjual beberapa stuff dari para idol. Maka dari itu Sooyeon gemar sekali berkunjung ke sana.

Langkahnya terhenti tiba-tiba saat ia melihat sosok yang berjalan jauh di depannya. Matanya menatap nanar dua sosok itu. Selapis bening langsung menyelimuti bola matanya.

Itu Hayoung. Dan Sehun.

Keduanya berjalan beriringan di sepanjang pertokoan. Sesekali keduanya terlihat bercakap dan tertawa. Hati Sooyeon terasa panas. Ingin sekali ia melabrak keduanya. Namun pada akhirnya ia hanya menghentakkan kakinya kesal dan berbalik pulang ke rumah.

***

Sesampainya di rumah, Sooyeon langsung menuju kamarnya dan menutup pintunya dengan bantingan keras. Ia melemparkan tas dan sepatunya begitu saja lalu melompat ke atas kasur.

“Sehun bodooooh! Jelek! Menyebalkan! Aku membencimuuu!!! Pabbo! Pabbo! Pabbo!” Sooyeon terus saja merutuk sambil memukul-mukul bantalnya.

Ia terisak-isak sambil mengomel. Tak peduli seragam dan bantalnya yang sudah benar-benar kuyup oleh air matanya. Beberapa jam kemudian ia jatuh tertidur dengan mata bengkaknya.

 

“Sooyeon, bangun sayang.” Pipi Sooyeon terasa ditepuk oleh seseorang. Yeoja itu bangun dengan mata yang terasa berat. Ia melihat eomma-nya duduk di tepi ranjangnya.

“Jam berapa ini?” tanya Sooyeon serak.

“Hampir malam. Kau belum mengganti baju seragammu. Cepat ganti baju lalu makan,” suruh sang eomma.

Sooyeon hanya mengangguk pelan lalu menggeliat. Matanya terasa pedih.

Sial. Ini semua karena Sehun!

Setelah mengganti seragamnya dengan kaos dan celana pendek, Sooyeon melangkah keluar kamarnya. Tepat kemudian ia mendengar suara pintu rumahnya yang diketuk dari luar.

“Ah, siapa malam-malam begini,” gerutu Sooyeon sambil malas-malasan menuju pintu rumah untuk membukanya.

Cklek.

“Selamat…”

“Untuk apa kau ke sini?!” pekik Sooyeon langsung begitu ia melihat sosok Sehun di depan pintu rumahnya.

“Ah, aku…” Sehun mengelus tengkuknya gugup.

“Sudah malam. Bukan waktunya bertamu. Pulang saja sana,” usir Sooyeon tanpa ampun.

“Aku cuma mau memberikan…”

“Apa?! Memberitahu bahwa kau jalan dengan Hayoung tadi siang? Iya kan?” Sooyeon tak bisa lagi menahan emosinya. Sebenarnya ia tak masalah Sehun mau pergi dengan siapa, bahkan sahabatnya sekalipun. Tapi tanpa persetujuan darinya, ditambah lagi tadi Hayoung berbohong padanya, membuat Sooyeon merasa dibodohi.

“Kau-melihatnya?” tanya Sehun polos.

“Cih! Kau pikir kau aman, hah?!” cibir Sooyeon.

“Tapi, Sooyeon. Aku dan Hayoung…” Sehun berusaha menjelaskan.

“Sudah, sana pulang. Aku malas melihatmu! Jangan muncul di depanku lagi!” sentak Sooyeon sambil menutup pintunya keras. Menyisakan Sehun yang menghela napas frustasi di luar sana. Sehun menatap bungkusan di tangannya dalam diam, lalu berbalik untuk pulang.

***

Advertisements

14 thoughts on “[Freelance] Biased (1/2)

  1. Babosic namanya -_- sehun kan udah baik, ah si jenong satu ini susah sekali mengerti ketulusan cintanya sehun sih -_- lanjut thor lanjut, fighting!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s