[Freelance] Hatred (Chapter 1)

Hatred

Title
HATRED

 

Author
L’Cloud

 

Length
Multichapter

 

Rating
T

 

Genre
Romance

Angst

Fantasy

School Life

 

Main Cast
Taeyeon

Jessica

Sunny

EXO

 

Author Note

So many typos. Since, it’s my first time to ‘write FF with so many casts inside’, sorry if it’s become weird. -_- Dan, semoga nggak nyesel baca.

 

#Hatred.

Aku bukanlah putri kerajaan.

Aku bukan malaikat surga.

Aku hanyalah aku.

Pelaku antagonis dalam sebuah drama.

Hantu malam dalam kisah horor.

Aku hanyalah aku.

Manusia yang tercipta penuh dengan kebencian.

Taeyeon menatap cermin kaca di depannya. Matanya bagai tak bernyawa. Nafasnya tenang dan pelan. Taeyeon tersenyum asimetris. Ia mengambil lipstik merah menyala di meja riasnya. Tangannya bergerak menggambar tanda silang di cermin itu.

“Hahahahahahaha!! Hahahahahaha!!! Rasakan kau! Rasakaaaaaaaaaaaaannn!!!!!”,jerit dan tawa Taeyeon melolong memecah keheningan malam.

“Kau kejam! Kau pantas mati! Pantas! Pantaaasss!!”

Air mata Taeyeon mengalir deras. Hatinya dipenuhi emosi yang begitu kuat seolah tak akan ada yang bisa merubah kebencian itu. Ia merobek-robek gaun malamnya yang begitu mahal seolah tak mau melihatnya lagi.

“Kau juga seharusnya mati Park Chanyeol!!! Maatiiiii!!!!!!!!!! Maatiiii!!!”

‘Park Chanyeol mengapa kau tak datang? Mengapa kau melakukannya? Mengapa kau buat semua ini terjadi?’,tanya Taeyeon dalam hati.

Mata Taeyeon bersinar merah. Tangannya mengepal kuat. Perlahan hujan turun deras dari langit. Petir menyambar-nyambar dengan sangarnya. Angin malam yang berhembus pelan tiba-tiba mengamuk.

Tidak, aku tak bisa melakukannya. Batin Taeyeon.

“Mengapa Chanyeol? Mengapa?”,mata Taeyeon kembali normal, ia memejamkan matanya. Air matanya mengalir lembut.

Hujan berhenti. Angin kembali tenang. Seluruh orang di jalan-jalan kota tersenyum senang tanpa seorangpun sadar, seorang pria hampir saja mati. Dikirimi teluh paling berbahaya dari seorang iblis cantik yang tengah terluka.

Tapi kebencian tetaplah kebencian. Yang bisa luruh oleh sebuah kenangan

#Hatred.

Gadis itu menatap pria di depannya tanpa mengetahui seperti apa rupa pria itu. Yang ia tahu, pria itu selalu datang ke kastil tuanya. Mengaku sebagai pecinta sejarah dan seni. Selalu mengagumi kastil yang ruangan depannya memang sudah berubah menjadi museum sekaligus galeri lukis milik gadis itu.

Gadis itu tuna netra. Ia berpura-pura tak tahu bahwa pria itu menyimpan rasa padanya. Pria bernama Kim Jongdae itu terlalu polos menurut gadis itu. Tak akan pernah bisa memahami kehidupan gadis yang gelap itu.

Tapi Jongdae seolah tak pernah lelah. Ia selalu datang pada hari Sabtu jam 09.00 di saat galeri baru saja dibuka. Tidak pernah terlambat barang semenit pun. Kemudian melihat-lihat lukisan yang terkadang tidak bertambah. Dan bertanya ini itu yang terkadang hanyalah pertanyaan yang tidak penting. Tapi semua itu Jongdae lakukan hanya untuk gadis itu. Gadis yang tak pernah tersenyum meskipun Jongdae menceritakan kisa konyolnya.

Ralat. Gadis itu pernah tersenyum tentu saja. Tapi bukan senyum yang diharapkan seorang Jongdae. Senyum tak seimbang yang lebih tepat disebut mengerikan.

“Jadi, agasshi, kulihat ada sebuah lukisan baru di sini.”,ucap Jongdae.

“Benar. Aku baru melukisnya kemarin. Tepat saat hujan turun dan petir mulai meyambar-nyambar.”

“Ahya, aku ingat. Kemarin, petir menyambar begitu hebatnya. Saat aku baru saja pulang dari kantor, orang-orang yang berlalu lalang di jalan sepertinya gelisah sekali dengan petir itu. Bukan masalah cuacanya yang tiba-tiba berubah. Tapi ini adalah musim panas bukan? Bagaimana  bisa cuaca berubah se ekstrem itu? Ah, kurasa ini akibat global warming.”

Gadis itu tersenyum asimetris.

“Ini bukan soal global warming Tuan.”,gumam gadis itu.

“Ah? Benarkah? Lalu?”

“Kau tahu, sebuah mitos mengatakan bahwa malaikat yang tengah bersedih bisa memporak-porandakan sebuah negara?”

“Mitos.. apa? Aku.. Tak mengerti.”,Jongdae menatap tak paham.

“Lupakan. Hanya mitologi kuno yang tak penting. Tapi kusarankan anda lebih berhati-hati. Siapa tahu malam ini hal itu terjadi lagi.”

“Wah, kuharap tidak. Aku sangat tak suka petir. Ohya, bicara tentang lukisan itu. Jadi, lukisan itu, bercerita tentang apa?”

Gadis itu terdiam sejenak.

“Jessica ssi?’,panggil Jongdae menunggu jawaban.

“Kebencian. Ini tentang kebencian.”,jawab gadis itu penuh misteri.

#Hatred.

“Park Chanyeol! Kau pikir ini jam berapa? Kenapa kau tak bersiap-siap? Bukankah kau sudah berjanji akan menjemput Taeyeon di acara pembukaan coffe shop temannya malam ini?”

“Ah, malas!”

“Kau ini! Mana boleh pria membatalkan janjinya sendiri.”

Chanyeol merubah posisi tidurnya. Mata Chanyeol sudah terbuka lebar. Tapi ia enggan beranjak. Otaknya terus memutar kejadian tadi siang saat ia melihat Baekhyun membuntuti Taeyeon pulang. Ia tak bisa menerima hal ini. Chanyeol rasa, Baekhyun dan Chanyeol mencintai wanita yang sama.

“Chanyeol! Ireona! Bagaimana bila terjadi sesuatu pada Taeyeon? Ini sudah malam!!”

“Ah, Mama, mengapa kau ini cerewet sekali! Memangnya apa yang mungkin terjadi?”

Baboya! Tentu saja apa yang mungkin terjadi bila seorang anak gadis berjalan sendirian malam-malam begini? Ia bisa saja di rampok. Lebih parahnya bila diperkosa lalu dibunuh kemudian mayatnya dimutilasi dan dibuang ke tempat yang tak bisa ditemukan!”

“Mama! Kenapa bicara seperti itu?!”,Chanyeol bangkit dari tidurnya dengan perasaan berkecamuk.

“Aah, yasudah! Terserah kau saja!”,wanita paruh baya itu keluar dari kamar Chanyeol dengan perasaan kesal.

Chanyeol terduduk di kasurnya.

‘Jika kau memang masih marah, kau boleh tak datang menjemputku. Tapi itu artinya, kau ingin mengakhiri segalanya. Mengakhiri hubungan ini.’,ucap Taeyeon tadi siang dengan datar.

Chanyeol mengacak-acak rambutnya bingung. Ia menatap jam di kamarnya. Matanya membulat.

23.00 p.m KST

“Gawat! Aku sudah terlambat 3 jam! Bagimana bila ia masih menungguku?!”,Chanyeol meraih jaketnya dan berlari menuju motornya.

Ia mengendarai motornya dengan kasar. Pikirannya hanya tertuju pada Taeyeon yang mungkin masih belum pulang hingga kini.

Tak selang beberapa menit, hujan turun begitu derasnya. Petir menyambar begitu kerasnya. Angin malam berhembus begitu kencang.

“Ah, siaal!!”,maki Chanyeol.

Dan teluh itu terkirim.

Sebuah Truk berkecepatan tinggi menabrak motor lelaki jangkung itu. Menghempaskannya bagai kapas yang tertiup angin.

Lelaki itu terbuang dijalanan. Darah membasahi sekujur tubuhnya. Helm yang terpasang di kepala lelaki itu masih terpasang sempurna. Menyelamatkannya kepalanya dari benturan yang mungkin membuatnya hancur.

“Tae..Yeon..”,gumam lelaki itu.

Teluh berhenti terkirim.

#Hatred.

“Jessica, apa yang kau lamunkan?”,tanya lelaki berpostur dan wajah vampir di sampingnya.

“Kris. Adikku, sesuatu terjadi padanya. Sesuatu yang sangat buruk, nyaris terjadi padanya.”

“Apa?”

“Pria-pria hidung belang bodoh hampir mengambil kesuciannya.”

“Mereka mati?”

“Iya, hancur menjadi potongan-potongan daging. Mereka membuat Taeyeon ketakutan. Dan kau tahu, seorang Taeyeon yang ketakutan?”

“Tentu saja. Tapi, bagaimana bila ia menyadari dirinya?”

“Entahlah. Sejauh ini, dari apa yang kurasakan, ia tak tahu siapa dirinya.”,ujar Jessica kemudian ia terpaku lagi.

“Ada sesuatu yang lebih buruk sepupuku?”

“Kris, Ia juga nyaris membunuh pacarnya.”

“Apa pacarnya berbuat kurang ajar?”

“Tidak. Ia tidak mati karena Taeyeon menggunakan kekuatannya tanpa sadar seperti pria-pria hidung belang itu. Ia nyaris mati karena, Taeyeon, secara sadar, mengirimkan kebenciannya.”

Kris terbelalak.

“Se..ca..ra ss..sa..dar?”,tanya Kris.

Jessica mengangguk.

“Aku tak bisa tinggal diam.”,wajah Kris mengeras dan hampir beranjak.

Tangan Jessica menahan lengan pria itu.

“Kris, kumohon, jangan..”

“Jessica! Kau tak ingat apa yang terjadi pada ibumu? Tak ada malaikat yang secara sadar mengirimkan kebencian. Tak ada. Terkecuali apabila, malaikat itu memiliki hati iblis.”

“Kris!! Kumohon..”

“Jessica!!”

“Kalung sapphire itu masih biru Kris!”

“Tak mungkin! Iblis tak akan pernah…”,ucapan Kris terpotong.

“Ia bukan iblis!”

“Lalu, apa yang mau kau lakukan?”,Kris menghela nafasnya.

“Kirim malaikat yang bisa mengajarinya. Kirim sapphire yang baru.”

“Tak semudah itu. Jika Sapphire dikirim sebagai manusia, ia butuh.. orang tua layaknya manusia. Kau tahu, manusia.. bukan makhluk seperti kita.”

“Aku tahu. Aku tahu orang yang tepat.”

#Hatred.

“Taeyeon ah..!!”,Sunny berlari riang ke arah Taeyeon yang duduk di kursinya.

“Ne..”,ujar Taeyeon lembut.

“Kau kemarin tak apa-apa kan? Astaga! Aku sangat khawatir bila terjadi sesuatu padamu. Hujan sangat deras kemarin. Jadi pria itu tak datang menjemputmu bukan? Awas lelaki itu nanti! Akan kupatahkan lengannya!”

“Tak perlu Sunny ah..”

‘Tak perlu. Lengannya pasti sudah patah saat ini.’,ujar Taeyeon dalam benaknya.

“Ah kau ini terlalu baik!”,Sunny memanyunkan bibirnya sebal sembari duduk di samping Taeyeon.

Sesaat kemudian wajahnya kembali cerah.

“Annyeong Baekhyun ah!”,ucap Sunny girang.

“Kau tak menyapaku?”,Tao memandang sebal ke arah Sunny.

“Untuk?”,Sunny menjulurkan lidahnya lalu merangkul lengan Baekhyun.

“Tunggu! Apa yang terjadi dengan kalian berdua?”,Tao mengernyitkan dahinya.

“Kami, sudah resmi berpacaran.”,Baekhyun menunjukkan wajah yang berseri-seri.

“Waa.. Benarkah? Senang mendengarnya.”,Taeyeon tersenyum senang.

“Benar.. Ah ya, di mana Chanyeol?”,tanya Baekhyun.

Taeyeon terdiam. Ia memandang dingin Baekhyun.

“Aku tak tahu.”

“Annyeong semua..”,sebuah suara muncul dari belakang mereka dibarengi tubuh yang penuh luka yang berjalan ditopang kruk.

“Astaga Chanyeol!!”,Sunny berteriak tak percaya.

“Apa yang terjadi padamu?”,tanya Baekhyun.

“Akuu.. tak apa.”

“Apa kau baru saja berkelahi?”,Tao memicingkan matanya.

Chanyeol tertawa kemudian menatap ke arah Taeyeon. Taeyeon hanya melihatnya tak peduli. Chanyeol mendekati gadis itu.

“Maaf, aku ketiduran.”

“Kau hanya berpura-pura tidur.”

Chanyeol tercekat. Ia tak percaya kalimat itu keluar dari mulut Taeyeon yang lemah lembut.

“Ee.. lebih baik kita pergi ke perpustakaan. Ceritakan aku apa yang terjadi. Ayo Chanyeol!!”,Tao menarik tangan Chanyeol dan memapahnya pergi.

“Aa..aku ikut!”,Sunny menyusul langkah Tao dan Chanyeol.

Baekhyun diam di tempatnya. Ia memandang Taeyeon kemudian mendekatinya.

“Jangan kau kira aku tak tahu Kim Taeyeon. Berhati-hatilah dengan apa yang bisa kau lakukan.”,ucap Baekhyun dingin.

Taeyeon menatap Baekhyun.

“Berhati-hatilah dengan apa yang kau ketahui, Byun Baekhyun.”,Taeyeon menyunggingkan  senyumnya.

#Hatred.

“Tuan Kim Jongdae.”,ucap Jessica lembut.

“Ne?”

“Apa aku bisa meminta sebuah bantuan?”

“Tentu. Dengan senang hati.”

“Aku ingin memintamu untuk, menjadi ayah dari seorang anak yang kutemukan tanpa rumah di jalanan.”

“Apa maksudmu?”

“Bisakah anda mengangkat seorang anak menjadi anak anda?”

“Tapi, kenapa?”

“Kuharap anda tak bertanya kenapa tuan. Karena ini hanya soal kepedulian terhadap sesama. Lelaki itu, butuh sekolah dan rumah. Sedangkan aku, aku tak bisa memberi keduanya.”

“Ah, ne algasseumnida.”,Jongdae menunduk sejenak.

“Jadi, bagaimana? Apakah anda bisa melakukannya?”

“Tentu. Aku bisa melakukannya.”

“Terimakasih tuan. Anda benar-benar terpuji.”,Jessica tersenyum berseri-seri.

Baru kali ini Jongdae melihat senyum yang seperti itu dari bibir Jessica.

“Tapi agasshi..”,Jongdae menghentikan ucapannya.

“Ne?”

“Seorang anak membutuhkan ibu juga bb.. bukan?”,Jongdae mengucapkannya dengan gugup.

“Ah, a..aapa?”

“L..Lupakan. Baiklah! Apakah aku bisa melihat anak itu saat ini? Berapa umurnya?”

“E..em.. dia berumur tujuh belas tahun. Dan, dia kini sudah kukirim bersekolah disekolah yang kupilihkan untuknya. Anda bisa menjempunya nanti siang, di Apollo High School.”

“Mm.. Ya.. Baiklah.”

#Hatred

Lelaki bertubuh kecil itu berjalan menuju kelasnya bersama seorang guru.

Begini rasanya menjadi manusia. Ucapnya dalam hati.

Ia memasuki kelasnya. Semua mata tertuju padanya. Termasuk seorang gadis yang mengenakan kalung sapphire biru. Gadis itu menatapnya dingin seolah tak peduli. Justru pandangannya tertuju pada batu sapphire milik pria itu yang terpasang di jam tangannya.

“Nah, perkenalkan dirimu.”,ucap songsaenim.

“Annyeong haseyo.”,lelaki itu membungkukkan badannya.

“Namaku Kim Min Seok. Kalian bisa memanggilku Minseok.”

Taeyeon masih memandang batu sapphire di tangan Minseok.

“Dia cute bukan?”,bisik Sunny yang kemudian menerima pukulan ringan dari Baekhyun di kepalanya.

Taeyeon menoleh ke arah Sunny kemudian tersenyum. Lalu ia berpaling ke arah Baekhyun di belakangnya. Tapi pandangan itu berhenti pada Chanyeol yang menatapnya dengan intens.

Mata mereka bertemu.

Taeyeon tertegun.

“Apa kau baik-baik saja?”,tanya Taeyeon.

Chanyeol membulatkan matanya kemudian tersenyum.

“Sekarang lebih baik.”,ucap Chanyeol.

Tanpa mereka sadari sepasang mata memandang mereka dengan penuh tanya.

‘Apakah malaikat boleh jatuh hati?’,Minseok menggumam sangat pelan sembari berjalan menuju kursinya.

#Hatred

TBC~

Maaf ya kalo aneh. Plotnya nyebelin. Dan maaf kalo entar part 2 nya lama.. mweheee.. ^^

Maaf juga belom semua anak EXO nongol.. – -v  bagi yang pernah lihat FF judulnya the golden voice, ya itu yang nulis juga aku, nah aku disitu juga pakai nama Apollo sebagai nama sekolah. Maklum ya buntu banget.

 

 

56 thoughts on “[Freelance] Hatred (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s