[Freelance] Between Two Options (Chapter 9)

5bto5d20between20two20options203

 

Title : Between Two Options

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG 17

Genre : romance, family, comedi, Sad

Main Cast : Taeyeon

Sehun

Luhan

Kris

Other Cast : Lihat sendiri yah J

Author Note : Sepertinya di chapter ini alurnya benar- benar maksa banget deh, soalnya udah kehabisan ide nih. Tapi aku tetap berharap readers tetap suka J.

. . . . . . . . . . .

 

“Bagaimana ini gara- gara mengikuti oppa sekarang aku bahkan belum membeli baju untuk ke acara ulang tahun yoona” taeyeon mengacak rambutnya kesal. “Bagaimana kalau yoona marah? Tarus kalau dia tak mau berteman denganku lagi bagaimana? Aduh sepertinya aku akan gila seperti siwon oppa dan kris”

Tok . . tok . .

“Taeyeon” panggil siwon dari luar kamar.

Taeyeon bangkit dengan malas dari kasur, “Ne oppa” taeyeon membuka pintu kamarnya dan melihat siwon tengah berpakaian rapi.

Siwon menatap adiknya bingung, “Bukankah malam ini kau akan pergi ke ulang tahun temanmu?” taeyeon mendengus kesal.

“Apakah oppa tidak merasa bersalah?” tanya taeyeon yang membuat siwon semakin bingung.

“Oppa kemarin aku dan luhan mengikuti oppa sampai- sampai aku bahkan belum membeli baju” tambah taeyeon.

Siwon menatap taeyeon dalam, “Apakah kau benar- benar tidak menyukai yoora?” siwon memegang kedua pipi taeyeon. Taeyeon hanya mengangguk setuju. “Baiklah kau tahu apapun keinginanmu akan oppa turuti, karena oppa sangat percaya padamu. Dan sekarang karena kau selalu menghawatirkan jika oppa bersamanya jadi oppa akan memutuskan hubungan oppa dengannya. Oppa tidak mau jika selamanya kau selalu mengkhawatirkan oppa” siwon tersenyum manis.

“Tapi oppakan menyukainya” taeyeon memegang tangan kekar siwon.

Siwon tertawa dipaksakan, “ck, kau ini lucu sekali. Oppa memang menyukainya, tapi kalau dengan oppa bersamanya akan membuatmu khawatir oppa  tidak akan pernah rela”

Mata taeyeon berkaca- kaca karena terharu, “Oppa . . . . “ taeyeon memeluk manja siwon.

“Hmmm, kau memang sangat cengeng. Cepatlah bersiap- siap sebelum luhan meninggalkanmu” taeyeon yang terkejut sontak melepas pelukannya.

“Luhan?” taeyeon mengerutkan dahinya.

Siwon mengelus kepala taeyeon sayang. “Kau tidak berfikirkan oppa akan mengijinkanmu pergi sendirian kan?”

“Tapi oppa aku bahkan tidak punya pakaian yang cocok” taeyeon menunduk pasrah.

Siwon mengingat- ngingat sesuatu, “Sepertinya oppa punya baju yang cocok untukmu”

Taeyeon duduk dan menangis di lantai, “HAAAAA” siwon hanya memandangnya aneh.

Siwon mensejajarkan tubuhnya dengan taeyeon, “Kau kenapa lagi?”

Taeyeon mengusap air matanya sambil cemberut, “Jangan bilang oppa memutuskan yoora ounnie karena oppa gay?” mata siwon hampir saja melompat keluar mendengar ucapan adiknya yang tidak masuk akal itu.

“YA! Kim taeyeon apa yang kau katakan?” siwon menutup mulut taeyeon. “Jangan berbicara seperti itu, kau tahu kau bisa membuat orang salah faham. Itu adalah baju untuk yoora bukan oppa yang memakainya”

“Sampai kapan aku harus menunggu?” teriak luhan dari lantai 1, suaranya sukses menggema di seluruh ruang rumah mewah itu.

“Kau lihat bahkan luhan sudah mengamuk” siwon melepas tangannya, lalu menarik taeyeon menuju kamarnya.

“Memang luhan oppa benar- benar gila sehingga ia mengamuk?” tanya taeyeon karena setahunya luhan pernah bilang bahwa ia akan gila.

“Tentu saja ia bahkan sudah gila sejak pertama kali bertemu denganmu” cibir siwon.

Taeyeon masih bingung, “Tapi setahuku luhan baik . . “ omongannya terhenti ketika tangan siwon menutup mulutnya lagi, “Jangan banyak berbicara, biar oppa yang mengurus apa yang akan kau kenakan ne?” taeyeon mengangguk dan siwon langsung menariknya masuk ke kamarnya.

 

. . . . . . . . . .

Andai anak tangga itu dapat berbicara mungkin ia sudah sangat senang mendapati seorang layaknya putri tengah melangkahkan kaki kecil yang dibalut dengan sepatu flat putih itu. Dengan dress selutut berwarna hitam dilengkapi lengan yang panjang namun berjala- jala mampu menunjukkan kesan santai namun elegan, apalagi dengan pita putih yang terikat rapi dipinggangnya. Rambut yang dibiarkan terurai bebas, dan sebuah tas yang tergantung di lengannya benar- benar membuat taeyeon terlihat layaknya seorang putri kerajaan.

Luhan yang sedang asyik bermain hp dengan headset yang menempel di kedua telinganya harus terganggu oleh tangan mungil yang melepas paksa headsetnya. “YA! Apa yang . . . “ tenggorokannya tercekat memandangi taeyeon yang sudah berada di hadapannya. ‘Sempurna’

“YA! Baby cepatlah kita sudah terlambat” taeyeon menarik tangan luhan yang sedang bertarung dengan jantungnya yang sangat berdetak cepat. ‘Ya luhan jangan mempermalukan dirimu’ luhan menggerututi dirinya, untuk saja taeyeon sedang berada di hadepannya. Kalau tidak mungkin gadis polos keterlaluan itu sudah melihat semburat merah di pipi luhan.

Taeyeon membuka mobil luhan yang juga diikuti oleh luhan tepat disebelahnya. “Ya! Mengapa ini sangat sulit dipasang?” taeyeon menarik- narik sabuk pengaman itu.

Luhan yang melihatnya hanya tersenyum, “Sini biar aku bantu tuan putri” ucap luhan setengah meledek.

Luhan membungkukkan badannya hendak menarik sabuk itu. Wajahnya sangat dekat dari wajah taeyeon sehingga membuat darah yeoja itu berdesis lebih cepat. Ia memandangi wajah luhan yang sedang terlihat bingung itu, debaran jantungnya yang tadinya biasa saja tiba- tiba meningkat drastis seolah mendemo ingin keluar. “Yah sudah selesai” luhan tersenyum puas dengan hasil kerjanya.

“Bagaimana?” luhan mentap taeyeon yang menyebabkan mata keduanya bertemu pandang, kupu- kupu yang ceria sedang berpesta dalam perut mereka masing- masing. Entah sejak kapan taeyeon menyadari bahwa mata namja dihadapannya ini benar- benar indah, saking indahnya ia sampai tak rela mengedipkan matanya untuk memandangnya.

Luhan pun tak ingin beranjak dari posisinya meski punggungnya akan sakit karena posisi yang salah itu, tapi tetap saja ini adalah kejadian langkah dimana taeyeon menatapnya bukan sebagai seorang adik. Tangan taeyeon refleks terangkat mengelus wajah mulus namja dihadapannya itu. Sedangkan yang dipenggang hanya menikmatinya tanpa membalas ataupun menolak.

Entah apa yang terjadi pada taeyeon saat ini, ia benar- benar bukan kim taeyeon yang biasa luhan kenal, tapi bagi luhan ini adalah moment yang sudah sangat lama ia nantikan. Yakni dimana taeyeon menatapnya sebagai seorang ‘namja’.

Sumgyeo do twinkle eojjeona?
Nune hwahk ttwi janha
Beire ssayeo isseodo
naneun twinkle tiga na

Sungguh luhan sangat ingin membanting telpon taeyeon yang merusak suasana romantis yang susah payah ia dapatkan itu, luhan kembali keposisinya sedangkan taeyeon melihat telponnya dengan semburat merah dipipinya, ‘taeyeon apa kau sakit?’ batin taeyeon.

“Annye . . . ong tiff. .” taeyeon benar- benar sangat kesal pada mulutnya yang bergetar mengikuti tubuhnya yang juga mulai bergetar semenjak luhan memandangnya.

“ . . . . . “

Taeyeon menarik nafas dalam- dalam lalu mengeluarkannya dan itu ia lakukan selama tiga kali, “Baik tiff kau tunggu aku sebentar lagi oke? Annyeong” taeyeon menutup telponnya.

Luhan juga sedang sibuk mengatur nafasnya, namun berbeda dengan taeyeon luhan malah sembunyi- sembunyi agar taeyeon tidak mengetahui kegugupannya. “Baby” taeyeon memegang dadanya yang masih sesak.

“Ne!” balas luhan berusaha senormal mungkin namun masih sangat terlihat rasa gugup diwajahnya. Namun lagi- lagi otak taeyeon menyelamatkannya.

Taeyeon memanyunkan bibirnya imut, “Aku sepertinya sedang sakit keras. Kau tahu jantungku berdetak sangat cepat. Sampai keringat dingin bahkan membanjiri wajahku. Aku juga merasakan hawa panas dari wajahku. Ohh sepertinya ini masalah serius” taeyeon menunduk lesu sedangkan luhan berusaha mencerna baik- baik ucapan taeyeon.

‘Apa jangan- jangan . . . ah luhan kau jangan terlalu PD’ luhan menggelengkan kepalanya. Luhan berusaha menenangkan taeyeon dengan mengusap kepala yeoja itu, “Kita nanti pergi ke dokter yah?”

Taeyeon merasakan rasa itu lebih dalam lagi yang membuatnya stress karena tidak bisa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. “Baby jangan sentuh aku” taeyeon menghempaskan tangan luhan yang semakin membuat luhan bingung setengah mati, “Kau tahu kau malah memperparah penyakitku”

Luhan yang tidak ingin taeyeon semakin kesal, tidak membalas perlakuan taeyeon. Ia menyetir mobil dalam diam tanpa ada yang membuka suara karena mereka sibuk pada fikiran mereka masing- masing.

 

. . . . . . . .

Sesampai di rumah yoona yang sudah sangat ramai, dua orang itu masih beku dalam diam. Bahkan tak ada yang membuka suara walau saat ini mereka jalan berdampingan. Langkah pertama memasuki rumah yoona mereka sudah menjadi pusat perhatian bagi seluruh tamu yang berada di samping kolam renang tempat pesta dilaksanakan.

“Yoona- sshi” taeyeon berlari menghampiri yoona meninggalkan luhan yang mengikutinya.

Yoona, yuri dan Jessica yang melihatnya hanya menunjukkan ekspresi ingin muntah, “Ini untukmu” taeyeon menyodorkan kado berwarna pink dengan ikatan pita merah yang sudah ia persiapkan.

“Apa ini?” tanya yoona sinis seolah jijik memegang kado dari taeyeon.

Taeyeon tersenyum riang. “Itu buku cara menjadi orang sabar, karena semenjak pertama kali bertemu denganmu kau selalu saja marah- marah”

Jessica dan yuri yang mendengarnya hanya mencibir pelan sedangkan yoona hanya berusaha berbuat baik kepada taeyeon demi kelancaran rencananya.

‘Kau bahkan tidak tahu siapa yang tidak menyukaimu’ luhan tersenyum simpul melihat kepolosan taeyeon yang sudah menjadi sarapan sehari- harinya. Luhan benar- benar tidak habis fikir mengapa taeyeon tidak mengetahui bahwa yoona tidak menyukainya padahal dia saja yang baru bertemu dengan yoona sudah tau bahwa gadis berparas cantik itu membenci taeyeon.

“Annyeong” sapa seorang yeoja kepada luhan, dan luhan hanya memandangnya aneh.

“Tiffany apa yang kau lakukan?” sunny menarik tangan tiffany menjauh namun nihil yeoja itu tetap berada di tampatnya.

“Aku yeoja yang pernah kau tabrak kenalkan tiffany immida” tiffany menjulurkan tangannya.

Luhan menatap tangan tiffany, sebenarnya ia sangat tidak suka berbicara kepada yeoja lain selain taeyeon. Namun apa boleh buat ia tidak mungkin mengacuhkan gadis itu sekarang kan? “Luhan immida” tiffany berbinar saar melihat tangan luhan menjabat tangannya.

Tiffany bahkan tak mau melepas tangannya yang membuat luhan risih, “Hmmm” tiffany dengan sigap melepasnya ketika taeyeon sudah berada di sampingnya.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya taeyeon penasaran.

Sunny mendecakkan lidahnya, “Tiffany yang mengajaknya berkenalan” tiffany benar- benar geram pada sahabatnya yang satu itu sekarang ini.

Taeyeon mengangguk mengerti, entah kenapa ada rasa yang seolah tak rela tiffany bersama luhan walau itu hanya sebatas berkenalan. Luhan yang melihat gelagak taeyeon hanya tersenyum penuh arti.

“Hei apa yang kalian lakukan disitu? Cepat kemarilah acara akan segera dimulai” Jessica memanggil mereka untuk segera bergegas mendekat ke kerumunan orang yang sudah menunggu yoona meniup lilin.

“Ayo kita kesana” tiffany menarik tangan luhan. Luhan sangat canggung dalam kejadian ini, apalagi saat melihat eksppresi tidak suka taeyeon yang membuatnya semakin penarasan sebenarnya apa yang terjadi pada darlingnya itu.

“Apakah kau menyukainya?” Tanya sunny curiga ketika melihat pandangan taeyeon menatap tajam dua orang yang telah melangkah mendahului mereka.

Taeyeon tersentak ia benar- benar tidak mengerti perasaannya saat ini, “Apa yang kau katakan? Luhan itu adikku dan juga aku sudah punya sehun. Oh iya sehun kemana yah?” taeyeon mencari- cari sosok namjachingunya itu.

“Ahh itu dia, by sunny aku kesana dulu yah” taeyeon pergi meninggalkan sunny ketika melihat namja yang sedang berada di pinggir kolam renang itu.

“Apakah ini nasib seorang jomblo?” sunny berjalan tertatih menyusul tiffany dan luhan.

Taeyeon memeluk sehun dari belakang, “Taeyeon” sehun hendak membalikkan badannya namun taeyeon melarangnya.

“Bisakah kita bertahan diposisi ini sebentar saja” ucap taeyeon. Sehun tentunya mengerti bahwa ada yang sedang mengganjal difikaran taeyeon, namun ia tidak mau bertanya sampai yeoja itu sendriri yang bercerita kepadanya.

‘Aku ingin merasakan apa yang aku rasakan kepada luhan kepadamu sehun.’ Air mata taeyeon jatuh, ia juga tidak tahu mengapa ia menangis. Tapi sungguh perasaan ini benar- benar menyiksanya.

Sehun memegang tangan taeyeon yang mellingkar di pinggangnya, “Hei sampai kapan kalian akan bermesraan disini?” taeyeon melepas pelukannya saat tiffany dan luhan sudah berada di belakang mereka.

Luhan benar- benar tidak suka melihat sehun, namun pandangannya meneduh saat melihat mata taeyeon yang sedikit bengkak. “Kau kenapa darling?” luhan menghapus air mata taeyeon.

Taeyeon tersenyum, “Aku tidak apa- apa. Lebih kita semua kesana sebelum yoona marah karena kita asyik sendiri disini” taeyeon berjalan duluan dan diikuti oleh luhan.

‘Darling’ batin sehun, ia benar- benar marah akan panggilan dan sikap luhan terhadap taeyeon. ‘Aku saja pacarnya tidak pernah memanggilnya seperti itu. Sebenarnya siapa sih namja itu?’ sehun berperang dengan hatinya. Tiffany juga tidak jauh berbeda dengan sehun. Ia juga sangat cemburu akan sikap dan panggilan luhan kepada taeyeon. Terlihat sekali dari mata luhan, tatapannya bahkan benar- benar lebih dari rasa khawatir seorang teman.

“Sebelum saya memulai acara ini saya ingin memberitahukan sesuatu” ucap yoona dengan tampang seriusnya. “Disini ada tamu yang sangat istimewah, kim taeyeon maju” yoona memanggil taeyeon.

“Aku ?” taeyeon menunjuk dirinya dan yoona hanya mengangguk dengan smirk diwajahnya. Taeyeon meju ke samping yoona dengan penuh semangat dan senyuman.

“Kim taeyeon adalah seorang yeoja yang aku undang kesini, dia benar- benar istimewah sampai aku muak melihatnya” taeyeon menatap bingung yoona.

“Kau tahu kau sangat cantik malam ini tapi sungguh bajumu ini sangat tidak cocok dengan wajahmu” yoona mengambil sirup dan menyiram taeyeon dengan minuman itu. Yah inilah niatnya mengundang taeyeon, untuk mempermalukannya.

“YA” Teriak luhan, sedangkan semua orang disitu hanya memandang kejadian itu dengan tampang kaget mereka.

Tanpa diduga taeyeon yang disiram oleh yoona tersenyum sumringah, “Yoona -sshi kenapa kau tidak bilang kalau ingin bermain denganku? Ayo teman- teman ternyata yoona ingin kita bully, ayo kita kerjain dia” semua orang disitu tersenyum mengerti dan menujukkan smirk mereka, sedangkan yoona dan juga kedua sahabatnya menatap mereka dengan pandangan tidak tahu.

“1 2 3 SERBU”  Teriak taeyeon semua orang yang berada di tempat itu menyerbu yoona, ada yang menghancurkan kue tar raksasa yoona karena ingin menaruhnya di muka yoona ada yang mengambil minuman untuk menyiran yoona. Jessica dan yuri yang hendak menolong yoona malah ikutan terkana kue dan siraman sirup itu.

“HENTIKAN” teriak yoona tapi tak ada yang peduli dengannya.

“Sekarang ayo kita bawa yoona ke kolam renang” yoona diseret ke kolam renang dan diceburkan kedalamnya.

“YA!” Teriak yoona, sedangkan dua sahabatnya lagi- lagi membantu yoona agar naik ke atas. Taeyeon dan kawan- kawan yang mengerjai yoona tertawa dengan puas.

‘Bagus taeyeon kepolosanmu benar- benar menghancurkan pesta ini’ Luhan menggelengkan kepalanya melihat tingkah taeyeon.

 

. . . . . . . .

“Kau kenapa sih?” tanya taeyeon kepada sehun yang semenjak tadi menjauhinya. “Apakah kau marah karena aku mengerjai yoona?” lagi- lagi sehun hanya diam menatap kolam renang dihadapannya. “Ayolah sehun berbicara satu kata saja agar aku tidak khawatir” taeyeon memegang lengan sehun namun sehun menghempaskan tangan taeyeon.

“Jangan pernah berbuat kasar pada taeyeon” Luhan muncul dengan wajah yang memerah menahan marah, memang dia sangat tidak suka jika ada orang berbuat kasar pada darlingnya.

Sehun menunjukkan smirknya. “Siapa kau? Mengapa ikut campur hubunganku dan yeojachinguku?” luhan tersentak mendengar taeyeon sudah memiliki namjachingu.

Taeyeon yang melihat tatapan mematikan antara keduanya tetap saja tidak mengerti, “Wah sehun-sshi kau tidak mengenal luhan?” dengan santainya taeyeon mengatakan itu, kedua namja dihadapannya tetap saja bertatapan menakutkan.

“Sehun ini luhan” tayeon meraih tangan luhan dan sehun, “Baby ini sehun” sehun menatap tajam taeyeon setelah mengucapkan kalimat itu.

“COBA ULANGI APA YANG KAU KATAKAN?” Geram sehun sungguh tatapan itu taeyeon belum pernah melihatnya sebelumnya, ia benar- benar sangat ketakutan.

Luhan yang melihat taeyeon ketakutan karena sehun juga ikut marah, “HEI JANGAN PERNAH KAU MEMBENTAK MY DARLINGKU”

Bruak . . .

Luhan tersungkur ke lantai akibat pukulan sehun, “YA! Sehun-sshi apa yang kau lakukan?” taeyeon menghampiri luhan dan membantunya untuk berdiri.

Smirk dan amarah kini memenuhi wajah imut sehun yang berubah menjadi sangat sangar. “apakah kau sangat mencintainya?” seluruh mata kini menatap sehun yang telah mengucapkan kata yang sangat tidak masuk akal menurut taeyeon. “KALAU KAU MENYUKAINYA MENGAPA KAU MENYATAKAN CINTA PADAKU?” Sehun sepertinya kali ini benar- benar tak bisa menahan gejolak di dadanya yang sangat menyesakkan.

“Sehun-sshi apa yang kau katakan?” taeyeon melepaskan tangannya dari lengan luhan dan mendekati sehun, sungguh saat ini luhan sangat kecewa.

“Jangan pernah menyentuhku lagi” sehun menghempaskan tangan taeyeon kasar, “Mulai sekarang kau dan aku sudah tidak memiliki hubungan special lagi” Sehun berjalan dengan marah meninggalkan taeyeon yang sudah bercucuran air mata.

“Sehun” Taeyeon tersungkur sedih, “Saranghae sehun saranghae” dengan segenap kekuatan yang tersisa luhan memeluk taeyeon dari belakang, untuk sekarang ini rasa sakit di hatinya mendengar kata- kata taeyeon benar- benar tidak ada nilainya dibandingkan sakit hatinya ketika melihat yeoja itu menangis.

“Sudah darling jangan menangis lagi” Luhan mengusap kepala taeyeon. Tanpa diduga taeyeon membalikkan kepalanya dan menatap luhan ganas. Ia mendorong luhan kasar dan berlari meninggalkan namja itu, “Taeyeon-sshi” luhan berusaha mengejar taeyeon namun tangannya di tahan oleh seseorang.

“Biarkan dia menenangkan dirinya” ucap sunny dan luhan segera pergi meninggalkan pesta itu tapi bukan untuk mengejar taeyeon melainkan membiarkan fikirannya sedikit melunak juga.

“Benar kan apa yang ku katakana dia akan merebut segalanya darimu tiffany” yoona berbisik di telinga tiffany yang sedang mematung menyaksikan kejadian menyesakkan baginya tadi.

 

. . . . . . . .  . . .

“Pabo taeyeon pabo” Taeyeon memukuli kepalanya sendiri.

“Mengapa kau sangat bodoh? Mengapa kau tak pernah bisa mengerti perasaan orang? Mengapa taeyeon? Mengapa ?” taeyeon masih memukuli kepalanya dengan keras. Ia sangat menyesal atas kejadian tadi, ia baru menyadari semuanya bahwa sehun cemburu pada luhan. Ia baru tahu bahwa selama ini ia sangat keterlaluan pada sehun.

“Apakah kau perlu bantuan?” sebuah balok kini berada dihadapan taeyeon, taeyeon mendongakkan kepalanya menatap namja yang memberikan itu, “Kalau kau mau kau bisa saja menghancurkan kepalamu itu” tambah kris namja itu.

Taeyeon menangis kereras yang ia bisa seperti biasanya, “HAAAAAAAA Aku sangat pabo kris, sangat pabo” taeyeon berdiri dan memukul dada bidang kris dengan keras.

Kris hanya tersenyum lalu menangkap tangan taeyeon, “Tenangkan dirimu, duduklah dulu” kris sedikit mendorong taeyeon agar duduk di pinggir jalan tempat taeyeon tadi.

“Masalahmu benar- benar sangat sulit” Ucap kris tiba- tiba yang berhasil menarik perhatian taeyeon.

“Apakah kau mengetahui segalanya?” Tanya taeyeon seraya menghapus air matanya dengan tangannya.

Kris hanya tersenyum miris yang bisa membuat taeyeon harus berfikir berpuluh kali untuk mengerti arti senyuman itu, “Sebelumnya aku ingin bertanya apa yang kau fikirkan tentang sehun dan apa yang kau rasakan jika berada di dekatnya?”

Taeyeon sedikit berfikir, sepertinya ia mulai melupakan kesedihannya. Hmm, sungguh yeoja yang aneh. “Ummm, sehun namja yang sangat baik, ia sangat menyayangiku. Walaupun ia terkadang marah dengan sikapku tetap saja aku mencintainya” Taeyeon tersenyum manis menatap kris.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau kau menyukai sehun?” tambah kris.

“Aku penah melihatnya bersama yoona dan aku cemburu melihatnya”

“Cuma itu saja?” taeyeon menjawab pertanyaan kris dengan mengangguk setuju.

“Hmmm, ternyata kau benar, kalau kau sangat pabo” Taeyeon hendak protes namun kris terlanjur meneruskan perkataannya. “Lalu bagaimana dengan luhan?”

Taeyeon mengerucutkan bibirnya kesal karena belum sempat membalas kris. Namun ia tetap menjawab pertanyaan kris. “Luhan adalah sahabat kecilku yang sangat aku sayangi. Dari kecil ia selalu ada untukku, membuatku tersenyum. Dia selalu ada untuk menghiburku. Selalu ada untukku dan selalu mengerti aku “ Taeyeon tersenyum tulus, sangat tulus. Bahkan kris tersenyum melihat senyuman yang pertama kali taeyeon tunjukan itu.

“Tapi ia sering membuatku jengkel” Taeyeon mengerucutkan bibirnya, “Tapi tetap saja aku sangat nyaman berada di sampingnya. Kehangatan darinya benar- benar membuatku senang kris” Taeyeon menatap kris. “Tapi entah kenapa belakangin ini aku sepertinya alergi pada luhan. Buktinya kalau aku dekat- dekat dengan adikku itu aku pasti akan terserang penyakit jantung.”

Kris menatap taeyeon dalam, “Kau menyukainya”

“Maksudnya?” tanya taeyeon polos, kris hanya mendengus kesal.

“Sudahlah sepertinya kau perlu menyadarinya sendiri nantinya. Kajja kita pulang sebelum oppamu mengkhawatirkanmu” kris menarik tangan taeyeon.

 

. . . . . . . . . .

“Mengapa oppa sangat lama ? “ taeyeon tak henti- hentinya mengecek jam di tangannya.

“Sehun “ taeyeon menghampiri sehun yang sedang membuka pintu gerbangnya. Sehun tak merespon sedikitpun sapaan taeyeon. “Aku ingin menjelaskannya padamu, dengarkanlah sehun” taeyeon menunjukkan aegyo andalannya pada sehun, namun bukannya luluh sehun malah berjalan menjauhi taeyeon.

“Kau adalah orang pertama yang menolak aegyoku” Taeyeon mengerucutkan bibir sebal melihat kepergian sehun.

“Naik” taeyeon tersentak mendengar siwon dengan mobilnya yang sudah berada di sampingnya.

“Bisakah oppa tidak mengagetkankku?” ucap taeyeon kesal.

Siwon hanya menggeleng pelan, ia sebenarnya tau apa yang terjadi pada adiknya itu. Kris telah menceritakan semuanya, ‘Dan bisakah kau tidak menjadikanku sebagai pelampiasan amarahmu?’

Sesampai di sekolah taeyeon langsung mencari sunny dan tiffany, menurutnya saat ini sahabatnya itulah yang bisa membantunya meringankan bebannya dengan cara curhat. “Tiffany” Taeyeon berlari menghampiri tiffany yang berjalan di hadapannya. Bukannya menunggu taeyeon tiffany malah berlari meninggalkan taeyeon tanpa menoleh sedikitpun. “Sepertinya tiffany juga sudah tertular penyakit tuli sehun yang dulu, apakah aku perlu menyarankannya juga ke dokter kenalan oemma?” taeyeon berfikir keras.

Bruak . . .

Taeyeon tertabrak seseorang yang menyebabkan tubuh mungilnya agak terdorong. “YA!” perkik taeyeon, namun ekspresinya berubah saat melihat orang yang menabraknya. “Sehun” taeyeon menarik lengan sehun, namun lagi- lagi dihempaskan oleh namja itu. “Hmmm, apakah kau fikir diacuhkan itu enak?” gerutu taeyeon pelan namun sehun masih bisa mendengarnya.

Sehun berbalik menatap taeyeon dan membuat yeoja itu tersenyum gembira tanpa memerhatikan wajah sehun yang memerah karena marah. “Apa kau bilang? Apakah selama ini kau tidak sadar bahwa kau yang selalu mengacuhkanku kim taeyeon.” Semua orang memandang mereka heran melihat pertangkaran itu membuat mereka sedikit tidak percaya.

“Kau dengan seenaknya berbuat apapun yang kau mau” tambah sehun dengan muka memerah karena marah bahkan tangannya saat ini menggepal kuat sehingga urat di tangan putihnya terlihat jelas.

“Itu kan hak asasiku untuk berbuat apa yang kumau” Taeyeon menunduk setelah mengucapkan kata itu, yang membuat sehun semakin naik darah.

Sehun mengangkat gepalan tangannya seperti hendak memukul taeyeon, taeyeon yang melihat iru sontak menutup matanya.

Bruak .  . . .

Darah sudah memenuhi tangan sehun yang tadi mendarat mulus di tembok sekolah. “Ya! Sehun apa yang kau lakukan?” taeyeon hendak mengobati sehun namun namja itu lagi- lagi menerbangkan tatapan menakutkannya.

“Tolong jauhi aku, jangan biarkan aku menderita taeyeon” Sehun menatap taeyeon sendu lalu meninggalkan gadis yang dicintainya itu bergulat dengan fikirannya akan kata- kata sehun.

 

. . . . . . . . .

Taeyeon mengaduk- aduk mie instan pesanannya di kantin. Ia masih tidak habis fikir dengan semua yang terjadi pada hidupnya. “Ya tuhan sebenarnya kesalahanku apa? Mengapa tiffany menjauhiku? Dan lagipula mana aku tahu kalau selama ini aku mengacuhkan sehun? Toh dia tidak penah mengatakannya” omel taeyeon polos.

“YA!” Debaran jantung taeyeon semakin bergemuruh ketika dikagetkan sunny sahabatnya.

“YA! Kau ingin membunuhku hah?” Tanya taeyeon kesal.

Sunny hanya terkekeh pelan mendengar omelan sahabatnya itu, “Mengapa kau sangat tidak bersemangat hari ini ?” sunny merangkul taeyeon manis.

Orang yang dirangkul hanya mendecakkan lidahnya, “Harusnya aku yang bertanya mengapa semua orang marah padaku?” taeyeon menghembuskan nafas kasar yang membuat sunny kasian pada sahabatnya yang polos situ, sebenarnya ia ingin membantu taeyeon tapi mengingat kepolosan taeyeon ia jadi ragu kalau yeoja seperti taeyeon dapat menyelesaikan masalah serumit ini.

“Mana tiffany ?” tanya taeyeon.

Sunny menunjuk yeoja yang duduk di pojokan belakang mereka, “Dia tidak mau makan disini, katanya tidak nyaman” Jelas sunny berbohong. Tentu saja ia tahu bahwa tiffany sedang kesal kepada taeyeon.

Taeyeon hanya mengangguk mengerti.

Tanpa mereka semua sadari yoona, Jessica dan yuri tengah memerhatikan tiffany, “Sekarang saatnya kita bertindak” Ucap yoona dengan smirk diwajahnya.

Mereka berjalan mendekati tiffany yang sedang makan sendiri di ujung kantin. “Kau sudah sadar kan sekarang?” Ucap yoona setelah duduk di samping tiffany.

“Sudah kami katakan, ia bukanlah teman yang baik” Tambah Jessica.

“Dia hanya memanfaatkanmu” Yuri tak mau kalah.

Tiffany memandang mereka kesal, “Jangan mencoba mengsutku.”

Yoona tertawa diikuti kedua temannya, “Apa gunanya kami menghasutmu? Kami hanya kasian padamu” Yoona masih terkekeh.

“Ini hadiah dari kami, kau bisa saja mencampurkan ini ke dalam minuman taeyeon” Jessica memberikan sebuah botol kecil berisi serbuk berwarna putih.

Tiffany melihat serbuk itu dengan tatapan ragu, “Jangan kalian fikir aku akan membunuh seseorang hanya karena seorang pria” ucap tiffany dengan nada sinis.

Yuri tersenyum, “Kau fikir kami akan memberi taeyeon racun? Ayolah tiffany ini hanya obat cuci perut”

Yoona tersenyum dengan manis namun terselip makna tersembunyi, “Ayolah kita biarkan dia berfikir agar fikirannya lebih jernih” Yoona membawa kedua temannya menjauh dari tempat itu.

Tiffany dengan ragu memandang botol itu, dengan tangan yang bergetar ia memegang botol itu dan beralih menuju tempat ia akan memesan minuman. “Aku memesan apple juice tiga.” Ahjumma yang melayani tiffany dengan cepat membuat minuman pesanan yeoja dengan eye smile itu.

“Ini nona” tiffany mengambil nampan yang diserahkan ahjumma tadi, dengan sigap ia memasukkan bubuk yang diberikan yoona ke dalam salah satu gelas itu.

“Tolong antar minuman ini ke meja yang berada di sana” Tiffany menunjuk meja tempat taeyeon dan sunny. “Dan ingat minuman ini adalah untuk taeyeon, kau mengenalnya kan?” Tanya tiffany yang dibalas anggukan oleh pelayan kantin itu.

Tiffany menormalkan dirinya lalu menghampiri taeyeon dan sunny, “Hi semua” Sapa tiffany dengan riang seolah tak terjadi apa- apa.

“Kau tak marah lagi padaku?” Tanya taeyeon tak kalah gembira.

Tiffany mengangguk pasti, “Mana mungkin aku marah padamu taeyeon” Tiffany mencubit pipi taeyeon imut. ‘Mian taeyeon tapi kali ini kau harus sedikit merasakan sakit yang kurasakan’

Sunny yang melihatnya hanya menaikkan bahunya bingung.

“Ini pesanannya” pelayan tadi menaruh minuman mereka dihadapan masing- masing.

Taeyeon dan sunny mengerutkan dahinya, “Kami tak pernah memesan minum” Sangkal taeyeon.

Sunny mengangguk membetulkan, “Mungkin saja sedang ada yang berbaik hati pada kita, jadi ia menghadiakan kita ini. Apa salahnya kita menerimanya” selah tiffany.

Taeyeon dengan polosnya mengiyakan. “Kalau begitu kita minum sama- sama untuk merayakan kebersamaan kita” taeyeon mengengkat gelasnya lalu disusul oleh tiffany. Sunny yang masih ragu pun ikut saja pada taeyeon.

“Untuk kemenangan kita” ucap taeyeon. Lalu mereka meminum apple juice mereka masing- masing.

Yoona cs yang melihatnya tersenyum penuh kemenangan.

Detik berikutnya seorang yeoja dengan mulut yang berbusa dan badan yang kejang- kejang terjatuh di lantai yang membuat semua orang kaget, “YA!”

 

^^TBC^^

 

Oke akhirnya selesai juga, mian kalau kurang panjang J

61 thoughts on “[Freelance] Between Two Options (Chapter 9)

  1. ff nya ga ngaco ko thor… serius.. malah daebak bgt…
    aku penasaran, siapa tuh yg kejang2 ?
    semoga thor bisa menyelesaikan chap selanjutnya secepat mgkn… jgn lama2 ya thor di postnya.. I always support you ^^ FIGHTING thor !!!!!!!

  2. itu siapa yg kejang thor?._________. ga yakin kalo itu taeyeon /?
    NEXT CHAPTNYA JAN LAMA LAMA THOOOOOOR BISA MATI PENASARAN KL LAMA NGUPDATENYA /?

  3. huaaa😥 author pliss end’y taeyeon hrus di couplein ma luhan, trus hdirin seohyun bt jd psgn sehun nnt’y… pliss pliss plis author….

  4. Kasihan Sehun .-.
    Sehun sama Tiffany aja deh.. Biar cinta segi2nya makin banyak -__-
    Itu yg kejang2 siapa sih? Penasaran
    Keep Writing! Cepat lanjut yaa

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s