[Freelance] Peter Pan

request-marianavivin1

Peter Pan

By marianavivin

Main Cast:

Byun Baekhyun | Kim Taeyeon

Support Cast :

Find it by yourself

Genre :

Fantasy | Romance | Sad

Length :

Oneshot

Rating :

PG 15+

Disclaimer :

EXO – Peter Pan

Semua cast milik agensi dan orang tua mereka masing-masing. Saya hanya meminjam. No bash or copy. Poster by Afanya Artwork di byunbaek98hyun.wordpress.com. Fanfic ini juga di posting di blog pribadi saya dan clubfanfiction.wordpress.com Happy reading.

-EXOSHIDAE-

Buku kecil itu terlihat usang di makan waktu. Waktu yang kurasa cukup untuk menjadi satu masa dimana aku terus memikirkan dirinya. Yeoja itu. Dimana dia sekarang? Neverland?. Negeri tempat para anak tersesat. Tapi Peter Pan bilang anak perempuan terlalu pandai untuk tersesat?. Jadi dimana dia?. Haruskah aku menjadi Peter Pan dan menemukannya? Bersama siapa? Tinkerbell?.

**

-Baekhyun-

Kring

Bunyi memekakan telinga itu seketika membuyarkan mimpi yang sedang asik kunikmati. Sialan. Dengan tangan lemas ku cari tombol tummernya dan menghentikan benda besi itu berkoar. Hari ini hari pertamaku di Inggris dan rasanya aku masih malas untuk keluar. Bukan karena bahasa Inggris ku tidak lancar dan membuatku tidak bisa berkomunikasi dengan orang lokal, sebaliknya, bahasa Inggrisku termasuk paling baik diantara semua keluargaku tapi aku tidak mau keluar karena aku terlalu lelah untuk jalan-jalan keluar di cuaca yang lumayan panas ini. Ya. Inggris sedang kebagian musim panas dan musim itu adalah satu dari 4 musim yang kurang kusukai.

Klik

“Astaga kid! Bangunlah, sudah jam berapa ini?”. Tanya seseorang yang masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Segera kutarik selimut yang melingkar di kaki ku untuk menutupi bagian atas tubuhku yang tanpa kain. Ya, saking panasnya aku sampai tidur shirtless.

“Noona! Kan sudah kubilang untuk mengetuk pintu dulu kalau masuk ke kamarku?!”.Protesku melihat yeoja yang selama 19 tahun hidupku kupanggil ‘noona’. Ya dia Luna. Kakak perempuanku yang sejak 3 tahun lalu pindah ke Inggris untuk kuliah dan sekarang aku menyusulnya.

“Ckck.. aku sangsi bagaimana eomma dan appa tahan mengurusmu di Korea”. Decaknya sambil berbalik dan menghilang ke tangga.Kubanting pintu kamarku dan mulai mematutkan diri di depan kaca. Memandangi wajah baru bangun tidurku yang menurutku merupakan saat dimana aku merasa sangat tampan. Hahaha.

-Author-

Musim panas di Inggris adalah saat yang paling tepat untuk melakukan aktivitas outdoor. Setidaknya itulah menurut Taeyeon. Yeoja 19 tahun itu memilih untuk keluar pagi-pagi untuk berlari-lari kecil mengelilingi taman yang terletak dekat rumahnya.Sesekali dia menyeka keringat yang turun dari kulit mulusnya dan akhirnya pada putaran yang kelima dia berhenti untuk mengambil nafas dan duduk di kursi taman. Beberapa remaja lokal yang lewat di depannya terlihat mencuri pandangan pada Taeyeon.

“Tidak tahu malu”. Ucap Taeyeon dengan bahasa Korea. Membuatnya merasa bebas untuk mengatai remaja ingusan itu karena Taeyeon yakin mereka tidak mengerti ucapannya. Diliriknya jam taman yang berada tepat di samping tempat duduknya dan menemukan bahwa saat itu dia sudah harus kembali ke rumah.

“Hampir aku terlambat”. Taeyeon mengutuk dirinya sendiri yang terlalu asik berolahraga sampai akhirnya lupa bahwa hari itu dia sudah ada janji dengan Jessica. Teman lokalnya yang juga punya keluarga di Korea.

-Baekhyun-

“Apa rencanamu hari ini?”. Tanya Luna ketika aku sedang sarapan. Dia sudah selesai sarapan dan saat ini hanya asik menikmati es krim buatan koki rumah kami.Kuangkat bahuku tanda aku tidak punya ide untuk menjawab pertanyaan itu.

“Astaga Baek, ayolah? Kau masih punya waktu 3 hari untuk menikmati waktu libur sebelum masuk kuliah, lagipula lihatlah.. cuacanya sangat cerah”. Luna berkata sambil memandang keluar jendela. Kuikuti pandangannya dan menemukan bahwa itu ide buruk. Cerah yang di maksudnya sudah pasti cerah dengan sinar matahari menyengat yang bisa membakar kulitmu.

“Aku jet lag noona”. Jawabku asal-asalan. Tidak mungkin aku terkena jet lag. Aku paling tahan melakukan perjalanan jauh dan kurasa Luna tahu hal itu karena dia sekarang sudah tertawa kecil.

“Kau? Jet lag? Sejak kapan? Bahkan kau tahan tidak tidur 1 malam Baek, jangan coba untuk membohongiku”. Ucapnya sambil mengusap bibir dari es krim dan memanggil Andrew yang merupakan pelayan utama di rumahnya untuk membawa gelas kosongnya ke dapur.

“Aku hanya malas, lagipula kupikir aku harus lebih mempersiapkan diri untuk kuliah nanti. Teman-teman baruku jelas tidak mudah untuk di dekati”. Kilahku sementara Luna hanya memandangku dengan tatapan ragu.

“Kalau begitu kau harus ikut denganku hari ini”. Ucapnya sambil berdiri dan menekan beberapa nomor telepon.

“Mwo? Kemana?”. Luna meletakkan telunjuknya di bibir tanda diriku harus diam sementara dia sedang menunggu orang yang di teleponnya menjawab panggilannya.

“Jess, kau tidak keberatan aku membawa dongsaengku kan?”.

-Taeyeon-

Tenda putih yang berdiri di atas rerumputan itu sudah penuh dengan kursi-kursi yang nantinya akan di isi oleh orang tua yang anaknya ikut program ‘Summer Story’ milik Jessica.

“Ada apa?”. Tanyaku ketika Jessica kembali setelah dirinya mendapat telepon dari Luna eonni. Senior ku dan Jessica di kampus.

“Gweancana. Eonni bertanya apa dia boleh membawa dongsaengnya yang baru pindah ke sini. Kudengar dongsaengnya itu akan kuliah di tempat kita juga”. Jawabnya sambil mengecek list tamu di papan.

Tepat pukul 10.00 para orang tua yang sudah berpakaian santai datang dengan buket bunga yang akan mereka serahkan pada anak mereka di akhir pertunjukan nanti.

“Are you ready kids?”. Tanya Jessica pada gerombolan anak lokal yang sudah memakai berbagai macam kostum. ‘Summer Story’ Jessica kali ini mengangkat cerita tentang Peter Pan. Anak laki-laki yang tidak pernah ingin tumbuh dewasa dan tinggal di Neverland bersama beberapa anak laki-laki lain yang dulu terjatuh dari kereta karena pengurusnya kurang memperhatikan. Peter akhirnya jatuh cinta pada Wendy yang bisa membantunya untuk membagikan cerita dongeng kepada anak-anak Neverland tersebut.

“Yes miss”. Jawab anak-anak tadi dengan kompak lalu langsung berbaris satu persatu di atas panggung kecil diiringi musik.

“Annyeong”. Sapa seseorang yang menepuk bahuku dari belakang. Luna eonni.

“Ah eonni, tidak sulit untuk menemukan lokasinya kali ini kan?”. Tanyaku dengan nada bercanda. Sekilas kulihat namja yang tadi bersama Luna eonni sedang mengipas-kipas tubuhnya dengan kerah kaosnya yang berbentuk round neck.

“Tentu saja tidak. Oh iya, kenalkan ini dongsaengku dari Korea namanya Baekhyun, Baek, ini hoobae ku di kampus, namanya Taeyeon”. Luna eonni menyenggol lengan namja bernama Baekhyun tadi dan untuk sesaat aku merasa blank. Dia punya wajah baby face yang sangat kentara.

“Annyeonghaseo, Baekhyun imnida”. Katanya sambil membungkuk.

“Annyeonghaseo, Taeyeon imnida”. Balasku.

-Baekhyun-

Menarik. Itulah yang terlintas di kepalaku ketika pertama kali melihat yeoja bernama Taeyeon ini. Wajah Koreanya yang kental berpadu dengan warna rambut blonde yang tidak terlalu terang. Membuatnya bisa dikira orang lokal kalau saja postur badannya sedikit lebih tinggi. Dia benar-benar tipikal orang Korea.

“Sepertinya pertunjukkannya sudah mulai, pasti Sica ada di depan kan?”. Tanya Luna sambil melihat para orang tua yang sudah bertepuk tangan. Taeyeon mengangguk manis lalu membantu kami menemukan tempat duduk yang tersisa di bagian belakang.

“Apa temanya hari ini?”. Tanya Luna lagi.

“Peter Pan”. Jawab Taeyeon sambil memandang seorang anak kecil dengan kostum buatan dari daun yang menutupi tubuhnya. Kupalingkan pandanganku ketika menyadari Taeyeon melihatku sedang menatapnya. Tiba-tiba Luna bangkit berdiri dan mengatakan bahwa dia ingin mencari minuman dingin yang tersedia di sekitar taman.

“Apa kalian selalu melakukan hal-hal seperti ini jika summer?”. Tanyaku mencari topik karena aku merasa suasana yang terlalu canggung.

“Mmm”. Jawab Taeyeon singkat sambil terus berkonsentrasi dengan adegan yang berlangsung. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya. Matanya sangat memancarkan antusiasme yang tinggi.

“Kau sepertinya sangat menyukai cerita ini?”. Aku bertanya sambil ikut memperhatikan gerakan anak-anak itu.

“Tentu saja. Peter Pan. Anak laki-laki yang berhenti di tengah waktu. Tidakkah itu menarik?”.

-Author-

“Class, bulan ini kalian kedatangan teman baru lagi. Namanya Baekhyun dan dia siswa dari Korea, jadi tolong bantu dia”.

“Hello everyone”. Sapa Baekhyun dengan senyum manis. Beberapa gadis lokal terlihat balas tersenyum dengan tatapan yang berusaha menggoda.

“Kau bisa duduk di…ah dengan Taeyeon”. Mr.Drew menunjuk sebuah kursi kosong yang berada di samping seorang gadis yang asik dengan sesuatu di mejanya. Tidak memperdulikan Baekhyun yang sudah berjalan pelan ke arahnya.

“Kita bertemu lagi”. Ucap Baekhyun sambil meletakkan tasnya di samping tas Taeyeon. Taeyeon mengangkat kepalanya sebentar lalu tersenyum dan kembali berkutat dengan sesuatu yang sedari tadi ia kerjakan.

“Apa yang sedang kau lakukan?”. Tanya Baekhyun ketika dirinya menemukan Taeyeon tidak akan pernah mau mengajaknya berbicara. Gadis itu terlalu asik dengan dunianya. Untuk sekilas Baekhyun melihat sebuah sketsa di kertas yang sedari berkutat dengan Taeyeon. Atau sebaliknya.

-Taeyeon-

Dia lagi.

“Tae, tunggu”. Panggil Baekhyun ketika bel kampus berbunyi tanda istirahat datang. Mwo? Tae? Panggilan apa itu?. Kuputar tubuhku untuk menghadap ke belakang tapi sialnya keseimbanganku goyah dan aku yakin saat itu juga dalam waktu 3 detik kepalaku akan menghantam lantai. Tapi…

“Gweancana?”. Tanya suara yang kurasa sangat dekat dengan telingaku dan akhirnya aku sadar bahwa Baekhyun sedang menahan tubuhku dengan posisi yang…sulit untuk dijelaskan. Matanya menatapku dengan intens. Menembus serpihan bening sebuah memori tentang bagaimana aku pernah melakukannya dulu dengan seseorang.

“Gwe…gweancana”. Jawabku berusaha tidak gugup lalu berdiri dengan cepat dan merapikan rambut.

“Hati-hati, ah benar juga, kau mau kemana?”. Tanyanya santai.

“Cafetaria tentu saja”. Jawabku cepat karena perutku sudah mulai berbunyi.

“Aku ikut, aku tidak terlalu mengenal kampus ini, ottoke?”. Pintanya sambil memajukan tubuh. Sepersekian detik harum tubuhnya memenuhi rongga hidungku.

“Terserah kau, aku yakin Luna eonni juga ada di sana”.

-Baekhyun-

Lucu. Dia benar-benar lucu. Wajahnya yang memerah setelah kutolong tadi membuatku terus-terusan tersenyum bahkan ketika kami sudah sampai di cafeteria sekolah dan benar katanya. Dari pintu masuk café aku sudah bisa melihat sosok gadis yang familiar di wajahku. Dia sedang duduk dengan gadis lain yang kuingat bernama Jessica.

“Kenapa kau lama sekali?”. Tanya Jessica ketika aku dan Taeyeon sampai di mejanya bersama Luna yang sudah mencuri pandangan curiga kepadaku.

“Mianhae, aku ada urusan tadi”. Jawab Taeyeon sambil melihatku. Aku cepat-cepat memasang wajah tidak bersalah yang kupikir tidak terlalu sukses.

“Apa yang mereka sediakan di sini?”. Tanyaku melihat makan siang Luna dan Jessica yang sudah setengah habis. Aku baru saja ingin melihat Taeyeon ketika gadis itu beranjak pergi menuju sebuah counter makanan cepat saji.

“Tae tunggu”. Panggilku cepat lalu segera menyusulnya. Dia berbalik sambil memasang wajah kurang tertarik.

“Tae? Panggilan apa itu?”. Tanyanya lalu langsung kembali berjalan ke depan dan mengambil nampan. Kuikuti gerakannya.

“Tentu saja itu panggilanku untukmu, ottoke? Lucu kan?”. Tanyaku sambil mengambil sesendok nasi.

“Aneh”. Taeyeon bergumam kecil lalu segera meninggalkanku yang masih sibuk memilih antara salad buah atau salad dengan sayur.

-Author-

Baekhyun sibuk membolak-balik buku pelajarannya yang berhamburan di meja. Dia tidak bisa menemukan buku kecil yang sejak 3 hari lalu selalu dia gunakan untuk menulis perasaan yang dia rasakan pada Taeyeon. Ya. Baekhyun sudah jatuh cinta pada Taeyeon. Tidak kentara memang. Hanya saja Baekhyun tahu kalau dia mulai jatuh cinta pada Taeyeon karena setiap kali dia melihat gadis itu sedang serius menulis, dia bisa merasakan degup jantungnya berdetak tidak teratur.

“Sial, kalau sampai buku itu hilang aku bisa…ah itu dia!”. Teriak Baekhyun ketika melihat buku bersampul kuning dengan bintang-bintang perak itu terselip di salah satu buku Taeyeon yang ia pinjam kemarin.

Klik

“Baek, George menunggumu di bawah”. Baekhyun tersentak mendengar suara noonanya itu. Buru-buru di simpannya buku tadi ke dalam laci, menguncinya lalu memasukkan kunci tersebut ke dalam kantong celana.

“Aku akan turun sebentar lagi”. Balas Baekhyun sambil merapikan buku-bukunya lalu mengambil topi dan turun ke bawah dimana George sudah menunggunya untuk pergi ke suatu tempat.

-Baekhyun-

“Bagaimana? Menyenangkan kan? Kau harus sering-sering ikut kami hangout”. Ucap George saat kami menyusuri jalanan London yang ramai. George mengucapkan selamat tinggal ketika kami berpisah di persimpangan jalan. Aku baru saja mau menyetop taksi ketika mataku menangkap sebuah tempat yang tertutup dedaunan lebat. Entah apa yang membuat kakiku bergerak tapi yang kutahu adalah aku sudah berjalan dengan rasa penasaran ke tempat itu. Sampai akhirnya…

-Taeyeon-

“Kau gadis di taman itu kan?”. Tanya satu dari lima pria yang tadi tiba-tiba mencegatku ketika aku baru saja keluar dari mini market.Sial. Aku mengenali 3 dari mereka. Mereka pria yang sama yang waktu itu melihatku berolahraga di taman.

“Apa mau kalian?”. Suaraku bergetar begitu juga dengan tanganku yang sedang memegang erat kantong plastik berisi belanjaan. Pria yang tadi bertanya padaku tiba-tiba tersenyum dan memberi isyarat kepada teman-temannya untuk maju ke depan.

“Apa mau kalian…lepaskan aku!!!”. Teriakku ketika dua orang pria dengan tubuh tinggi memegang lenganku dan menarikku ke sebuah tempat gelap yang tertutup dedaunan lebat. Sial.

“Lepaskan dia!!”. Teriak sebuah suara yang kukenali sebagai suara seseorang yang beberapa minggu belakangan ini sering kutemui di kampus.

“Apa kau bilang anak kecil? Lepaskan dia? Kenapa kami harus melepaskan dia?”. Pria dengan wajah paling garang maju mendekati Baekhyun yang sama sekali tidak terlihat takut.

Buk!

Sebuah hantaman telak melayang ke wajah pria tadi dan membuatnya tersungkur di depanku. Teman-temannya yang sibuk mengawasiku langsung turun tangan dan menyerbu Baekhyun.

Buk!

Buk!

Buk!

Dengan mata kepalaku sendiri bisa kulihat nafas Baekhyun sudah tidak teratur tanda dia melawan pria-pria itu dengan banyak tenaga. Aku harus segera mencari pertolongan. Kutekan nomor 911 dan menyebutkan tempat dimana kami sekarang dan 5 menit kemudian ketika aku tahu Baekhyun sudah mulai di serang, sirine polisi mulai bergema.

“Lari!”. Teriak pria yang pertama di hajar Baekhyun.

“Jangan lari!”. Seorang polisi berteriak sambil melewatiku dan menghilang di belokan bersamaan dengan menjauhnya suara sirine mobil polisi tadi. Inilah sifat polisi Inggris. Mereka tidak akan perduli siapa yang tadi menelpon mereka ketika mereka bisa menangkap buronan yang mereka cari selama ini dan kurasa 5 orang pria tadi termasuk dalam daftar buronan. Mengingat mereka memiliki banyak tato di tubuh mereka.

“Gweancana?”.

-Baekhyun-

“Gweancanayo, bagaimana denganmu? Kau terluka?”. Tanya Taeyeon sambil memutar tubuhku yang sedikit terasa nyeri.

“Gweancanayo, bagaimana bisa kau ditangkap oleh mereka?”. Tanyaku sambil melihat belokan dimana para penjahat tadi menghilang lalu kembali melihat Taeyeon yang sedang menunduk. Bahunya berguncang.

“Tae? Taeyeon~ssi?”. Panggilku sambil menunduk untuk melihat wajahnya. Tanpa pikir panjang segera kutarik tubuhnya ke pelukanku dan membiarkannya menangis di sana.

“Aku…takut Baekhyun~ssi”. Ucapnya sambil terisak kecil. Kuusap kepalanya dengan pelan untuk memberikan rasa aman.

“Ssshh sudah, ada aku di sini, aku akan menjagamu, kau tidak perlu takut lagi”. Ku cium puncak kepalanya dan bisa kurasakan perlahan-lahan suara isakannya semakin kecil. Bahunya juga sudah tidak bergetar dan dengan pelan dia mengangkat kepalanya yang terbenam di tubuhku dan menatapku dengan mata tertutup sebuah tirai bening. Kusapukan ibu jariku di pipinya untuk menghapus sisa air mata yang menempel dan tanpa bisa ditahan aku mencium bibirnya.

**

-Author-

“Baek, apa yang sedang kau lakukan?”. Tanya Luna pada Baekhyun yang sedang duduk di meja kerjanya. Baekhyun menoleh untuk melihat noona-nya itu dan menemukan dirinya lagi-lagi sedang memikirkan gadis itu. Gadisnya yang dulu dan mungkin sampai sekarang terus berada di hatinya. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Bahkan Wendy maupun Cinderella sekalipun. Ingatan 3 tahun lalu yang tadi sempat berputar di kepalanya seperti membuatnya hilang. Dia tahu hal yang saat ini terjadi padanya adalah kesalahannya. Karena sifat kekanak-kanakannya. Seandainya saja 3 tahun yang lalu dia lebih dewasa, dia yakin gadis itu tidak akan pergi. Menerima uluran tangannya yang justru tergantung lemas ketika gadis itu menggeleng dan berjalan menjauh.

“Anio noona, aku tidak sedang melakukan apa-apa”. Jawab Baekhyun sambil tersenyum tulus pada Luna yang hanya bisa mengerti keadaan Baekhyun 3 tahun terakhir ini.

“Berjalan-jalanlah keluar. Aku tahu seminggu ini kau terus bekerja”. Luna menyentuh bahu Baekhyun yang sudah tersenyum membalas usulan Luna.

“Aku memang berencana untuk keluar sebentar, mencari udara segar”. Jawab Baekhyun sambil mengambil nafas dalam. Luna mengangguk lalu mendorong Baekhyun ke arah pintu.

-Baekhyun-

Dimana dirinya sekarang?.

Pertanyaan itu terus berputar di otakku seperti sebuah badai. Menerjang masuk ke dalam relung hati yang dalam. Menghancurkannya.

“Mungkin aku harus menghubungi seseorang, akan canggung jika aku berjalan sendirian”. Ucapku sambil memutar-mutar ponsel di tangan.

Buk!

Ponselku terlempar ke depan kaki seseorang yang sudah berjongkok untuk memunguti belanjaanya. Kuikuti gerakannya sambil meraih dua buah jeruk yang kebetulan berada dalam jangkauanku.

“Ini, mianhae”. Ucapku sambil memasukkan jeruk tadi ke dalam kantong plastik.

“Baek?”.

“Tae?”. Ucapku tidak percaya ketika mendengar suara gadis yang selama 3 tahun belakangan ini selalu kurindukan untuk menyebut namaku. Waktu terasa berhenti. Tidak ada gerakan. Hanya suara nafas ku dan nafas Taeyeon yang terdengar. Dia di sini. Berdiri dengan anggun seperti sebuah awan putih halus yang siap mengangkatmu ke langit ketujuh. Seandainya dia bisa terbang ke hatiku yang sedang terbuka.

“Kau benar-benar Baekhyun”. Taeyeon tersenyum dengan pipi merona merah. Kebiasaannya jika malu atau sedang sangat senang.

“Kau tidak banyak berubah Tae”. Balasku sambil melihatnya dengan intens.

“Sepertinya kau yang banyak berubah Baek”. Kata Taeyeon sambil melihatku dari atas ke bawah. Kuikuti arah pandangannya dan tanpa sadar aku tersenyum. Ya. Aku yang sekarang jelas sudah berbeda. Aku bukan lagi Baekhyun yang pemalas. Aku sekarang seorang Baekhyun yang lebih bertanggung jawab. Semua dalam diriku adalah hal baru. Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku masih terus berlari untuk mengejar seseorang. Seseorang yang bahkan sekarang berdiri tidak lebih dari 4 langkah di depanku dan 3 tahun aku tanpanya…

“Aku berubah untukmu Tae, aku Peter Pan-mu. Anak laki-laki yang berhenti di tengah waktu. Siap mencarimu bersama Tinkerbell di Neverland”.

“Aku sampai pada halaman terakhir tulisan tentangmu. Tapi aku tidak berani untuk membacanya. Aku berjanji akan menghapus akhir kisah sedih kita. Kisah kita tidak akan pernah berakhir. Karena sekarang, kita bertemu lagi..”.

END

Jelek ya? | Iya min | Iya deh maaf, masih tahap belajar, ini aja namanya nekat, hehe. Tolong tinggalkan jejak ya ^^

19 thoughts on “[Freelance] Peter Pan

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s