[Freelance] I Don’t Know

i-dont-know.jpg ff

Title : I Don’t Know

 

Author : Wiranti Syahputri (@wirantiii)

 

Cast : Oh Sehun || Im Yoona

 

Other Cast : Seo Joo Hyun || Xi Luhan || Tiffany Hwang || Jessica Jung || Kim Taeyeon || Kwon Yuri

 

Genre : Sad, School Life

 

Length : Oneshot

 

NB : Saya author freelance baru, Ini ff pertama yang di post. Semoga suka. Maap klo ff nya ngebosenin dan ceritanya pasaran, maklum masih baru. Oh ya, tambahan. Ff ini terinspirasi dari kehidupanku sendiri. Makasih buat si kreatif Priskila, makasih udah dibuatin poster J. Langsung aja deh baca J

*****

 

Aku tidak tahu.

Tidak tahu kenapa aku bisa terjatuh kedalam pesonanya.

Dia hanya namja bandel yang terus melanggar peraturan.

Bahkan, aku sampai berani melanggar peraturan demi namja itu.

Sebenarnya ada apa denganku?

*****

“Yah, Im Yoona!”

Aku menoleh. Menatap namja yang telah membuatku serba tidak tahu akhir-akhir ini. Oh Sehun. “Apa?”

“Seperti biasa, cepat pindah.” Dia melirik ke sebelahku, tempat dimana sahabatnya berada. Xi Luhan.

Aku menurut. Kuambil tasku dan duduk dibelakang bangku asliku. Selalu seperti ini. Dia akan duduk dibangkuku dan mengobrol dengan si rusa jantan itu. Sedangkan aku, duduk dengan teman sebangkunya –Tiffany Hwang-. Padahal, wali kelas kami sudah mengatur tempat duduknya. Tapi dengan santai, Oh Sehun melanggarnya. Ia lebih memilih duduk ditempat dudukku bersama sahabatnya.

Aku tahu aku salah. Hanya menurut dan terus melanggar peraturan demi namja bandel ini. Tapi, entahlah.. Melihat dia tertawa lepas seperti itu…adalah pemandangan yang indah dimataku. Aku suka saat dia tertawa, aku suka saat dia bermain bola dengan lincahnya saat pelajaran olahraga, aku juga suka saat melihat wajah takutnya ketika ketahuan menyalin pr dari temannya. Segalanya tentang dia membuatku buta akan semuanya.

Aku menyukainya. Ya Tuhan, apa perasaanku akan terbalaskan?

*****

Aku tidak tahu.

Tidak tahu kenapa aku hanya bisa tersenyum dan bilang “Tidak apa-apa”.

Padahal, ia telah melakukan sesuatu yang bisa membuatku marah.

Dengannya berbeda.

Tadinya aku ingin marah, tapi ketika dia yang melakukannya..

Tidak. Tidak akan. Aku tidak akan seperti itu padanya.

*****

“Yah, Im Yoona.”

Panggilan ini. Panggilan singkat yang dapat membuatku tersenyum tanpa henti. “Apa?”

Sehun mengambil asal pulpen yang ada didalam tempat pensilku. “Aku pinjam.”

Aku mengangguk. Ketika ia sudah berbalik menghadap depan, sebuah lengkungan tipis tercipta di wajahku. Padahal ia hanya melakukan sesuatu yang sederhana. Tapi, aku sangat senang melihatnya. Aku rela meminjam 1000 pulpenku sekalipun untukmu asal sidik jarimu atau segalanya tentang dirimu tertempel kuat dibarangku.

“Yah, Im Yoona.”

Lagi-lagi panggilan ini. Aku mendongak melihatnya dan berusaha menyembunyikan kegugupan yang selalu hinggap ketika iris hitam arangnya menatapku. “Apa?”

“Pinjam tip-ex rilakkumamu ya.” Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Sedetik kemudian, tip-ex kesayanganku sudah ada digenggamannya. Jujur saja, malamnya pasti akan kucium-cium tip-ex kesayanganku itu. Oh ya, jangan lupakan pulpen yang dipinjamnya tadi sebagai antrian berikutnya setelah tip-ex kesayanganku.

“Gomawo.” Aku hanya tersenyum, walaupun tidak terlihat olehnya karena hanya tangannya yang terulur. Dan juga, wajahnya masih menghadap kedepan. Sibuk mengerjakan tugas, mungkin?

PRANG!

Aku kaget mendengar suara itu. Semua murid dikelasku juga ikut mendongak, ingin melihat apa yang terjadi. Aku mengerjapkan mataku, tangan Sehun masih terulur tapi berada diantara meja yang kutempati dan bangku yang didudukinya. *bisa ngebayangin?*

Oh! Jangan-jangan!

Segera ku lihat lantai yang berada diantara mejaku dan bangku Sehun. OMONA! TIP-EX KU HANCUR BERKEPING-KEPING! “Sehun…kau..” Desisku tidak percaya melihat tip-ex yang baru saja kubeli kemarin tergeletak tak berdaya dilantai.

Merasa dipanggil. Sehun menoleh. “Apa”

“Tip-ex rilakkumaku..”

“Tip-ex? Bukannya sudah kukembalikan?”

“Kau menjatuhkannya…”

Mata tajam Sehun melebar. “Hah?” kali ini pandnagannya mengarah pada lantai. Tempat kejadian dimana tip-ex rilakkumaku membentur lantai tanpa ampun. Dia memungut barang kesayanganku itu. “Maaf” Sehun menggigit bibirnya. “Maafkan aku ya.”

Aku tersenyum. “Tidak apa-apa.”

“Maaf ya, itu kan tip-ex kesayanganmu. Maaf.” Wajahnya terlihat khawatir.

Tanpa pikir panjang lagi, aku sudah memafkannya. “Tidak apa-apa.”

“Akan kuganti besok.”

“Tidak usah.”

“Tip-ex mu masih baru, sayang sekali. Akan kuganti.”

“Tidak usah, Oh Sehun.”

“Tapi, kan-“

“Kubilang tidak usah. Aku bisa membelinya lagi nanti.” Kembali, aku tersenyum tipis. Meyakinkannya agar tidak menggangti tip-ex tidak penting itu.

Dia tersenyum juga. Membuat mata tajamnya berubah bentuk seperti bulan sabit. “Terima kasih ya, kau memang orang baik, Im Yoona.”

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Orang baik? Benarkah? Bukannya semua itu karena kau yang tidak bisa membuatku kesal?

*****

Aku tidak tahu.

Tidak tahu kenapa ide gila tiba-tiba muncul di otakku.

Ide itu tiba-tiba muncul ketika aku melihatnya menunjukkan reaksi positif atas perasaanku.

Aku tidak tahu apa jalan ini benar atau tidak.

Tapi, sungguh, aku ingin ia mengetahui kalau aku menyukainya.

Aku mohon, jalan yang kuambil ini tidak salah.

*****

“Luhan-ah.” Panggilku kepada Luhan. Si rusa jantan yang merupakan sepupu sekaligus temanku disekolah.

Luhan menoleh. “Apa?’

Agak ragu aku mengatakannya. “Hmm..”

Luhan menatapku  malas. “Ada apa sih?”

“Kau teman terdekat Oh Sehun kan?

“Ya.”

“Kau menyukai Tiffany Hwang kan?”

“Ya.”

“Kau mau membantuku kan?”

“Ya. Eh? Tunggu-tunggu.” Dasar. Kalau membantu saja pakai bilang “Tunggu.” Sedari tadi dia hanya bilang “Ya.”

“Membantu apa?” Tanyanya.

“Bagaimana kalau kita mengakui perasaan kita saja, Lu?” bisikku.

“Aku tidak mengerti.” Ucap Luhan dengan wajah polosnya.

Dengan kesal aku menerangkan. “Kau kan menyukai Tiffany, dan aku sahabat Tiffany. Jadi, aku akan bilang pada Tiffany kalau kau menyukainya. Lalu-”

“Jadi, kau ingin aku memberitahu Sehun kalau kau menyukainya?” Potong Luhan.

Bagaimana bisa dia  tahu kalau aku menyukai Sehun?! Aku belum pernah memberitahunya! Aku memasang tampang kaget. “Kau tahu dari mana kalau-”

Lagi-lagi ucapanku dipotong olehnya. Dasar. “Ingat, Im Yoona. Aku sudah sangat lama mengenal dirimu. Kita saudara.”

Luhan mengetahuinya. Apa begitu terlihat? “Apa sangat kelihatan kalau aku menyukainya?” Tanyaku takut.

“Sebenarnya tidak terlalu terlihat. Kau cukup pintar menyembunyikan perasaan.” Jawabnya santai.

“Lalu? Kenapa kau bisa tahu?”

Luhan menjitak kepalaku. “Ish, sakit. Rusa bodoh.”

“Bodoh katamu? Kau lebih bodoh dariku.” Luhan mengerucutkan bibirnya. Aish, jangan sok imut, Xi Luhan!

“Kembali ke rencana awal. Jadi, kau mau?” Tanyaku lagi.

Luhan mengangguk. “Aku bertugas bertanya kepada Sehun. Sedangkan kau, bertanya kepada Tiffany.”

Aku mengangguk. Sebenarnya, aku takut jawaban Sehun adalah jawaban yang tidak aku harapkan. Aku takut membuat hal yang fatal. Aku takut tidak diberi kesempatan untuk melihatnya lagi.

Parahnya.

Aku takut.. Sehun tidak menyukaiku.

*****

Aku tidak tahu.

Tidak tahu kenapa aku terlalu semangat membuat perjanjian bodoh itu.

Dan juga, tanpa pikir panjang.

Tidak sesuai dengan harapanku,

Perjanjian itu berdampak buruk bagiku.

*****

Aku menatap miris Tiffany dan Luhan yang sedang ‘berpacaran’ di tempat dudukku dan Luhan. Ya, mereka sepasang kekasih sekarang. Berkat rencana yang menurutku bodoh itu dua orang di depanku ini bisa menjadi pasangan.

Sedangkan aku?

Aku hanya bisa menonton dua insan itu bermesraan dari tempat duduk ‘palsuku’ yaitu tempat yang menjadi tempat duduk kedua saat Sehun memintaku untuk pindah kesini. Aku duduk sendiri disini.

Mengenai Sehun…

Namja itu duduk jauh didepan kiriku. Memandang jendela kelas yang menurutnya menarik, mungkin?

Sehun akhir-akhir ini menjahuiku. Tidak memberiku satu kesempatanpun untuk mendekatinya. Dia selalu pergi ketika aku datang, dia selalu diam ketika aku bicara, dia selalu mundur ketika aku maju, semuanya berubah. Sangat berbeda terbalik.

Tidak ada namja yang dengan santainya berkata.

“Seperti biasa, cepat pindah.”

Atau dengan terburu-buru.

“Aku pinjam.”

Atau dengan wajah khawatirnya.

“Maaf ya, itu kan tip-ex kesayanganmu. Maaf.”

Atau dengan senyum indahnya.

“Terima kasih ya, kau memang orang baik, Im Yoona.”

Orang itu tidak ada. Dia lenyap dikehidupanku. Habis sampai tak tersisa. Menghilang tanpa meninggalkan jejak. Benar-benar menghilang sampai aku bingung. Bingung untuk mencari orang yang selalu membuatku tersenyum, membuatku termotivasi, membuatku buta akan segalanya.

Aku merindukan orang itu. Aku butuh orang itu. Aku sangat membutuhkannya.

Kau tahu?

Karenamu, aku ingin selalu masuk sekolah walaupun saat itu aku sakit. Aku hanya ingin memandangmu lama dengan mataku sendiri. Merekam kegiatanmu di otakku dan selalu memimpikanmu setiap malamnya.

Karenamu, aku menjadi termotivasi. Menurutku, kau adalah penyemangatku. Walaupun sebenarnya kau tidak menyemangatiku, tapi…dengan melihat kau yang tersenyum kepadaku, tertawa lepas bersamaku…itu sudah cukup untuk menambah energiku.

Karenamu juga, aku bisa semuanya. Ya, aku bisa semuanya. Semuanya terasa indah bersamamu. Semuanya terasa menyenangkan bersamamu.

Lalu, jika aku kehilangan itu semua?

Apa aku masih bisa tersenyum?

Apa aku masih bisa tertawa lepas?

Semuanya terasa hampa. Terasa hampa tanpa adanya dirimu didekatku. Energiku terasa berkurang, senyumanku adakah senyum paksa. Perasaanku aneh ketika melihatmu dekat dengan yeoja lain. Dulu, kau tertawa bersamaku.

Sekarang?

Kau bahkan tidak ingin melihatku. Tidak ingin mendekatiku. Tidak ingin menyebut namaku. Jujur, aku rindu panggilan itu.

Aku tahu aku salah.

Aku keliru.

Kau tidak menyukaiku.

Hanya aku yang terlalu melebih-lebihkan apa yang kau lakukan padaku.

Ya, tidak ada yang salah denganmu.

Hanya aku yang terlalu berharap.

*****

Setahun kemudian..

Satu tahun telah berlalu. Tapi, tidak mengubah perasaanku kepada Oh Sehun.

Aku sangat beruntung atau sama sekali tidak beruntung kali ini?

Percaya atau tidak, di kelas XII ini. Aku bertemu dengannya lagi.

Tidak. Tidak bertemu.

Lebih tepatnya hanya sekelas.

Ada apa ini?

Siapa yang mengatur semuanya?

Aku ingin terlepas dari pesona Oh Sehun. Aku ingin melepaskan semua memoriku tentangnya. Membuang semua ingatan itu dan membakarnya sampai menjadi abu.

Apakah semua itu bisa?

*****

Aku tidak tahu.

Tidak tahu kenapa hati ini teriris melihatnya berdekatan dengan yeoja lain.

Aku berusaha menahannya.

Menahan rasa nyeri yang sangat terasa ini.

*****

“Yah, Seo Joo Hyun.”

Aku membuang muka, menatap jendela kelasku. Panggilan ini..sangat familiar bagiku. Panggilan yang selalu kurindukan setiap saat.

“Aku pinjam pensil, boleh?”

Lagi-lagi ini. Cukup, Oh Sehun. Aku tidak tahan. Ku menoleh menatap bangku dihadapanku sendu. Didepanku, Seo Joo Hyun dan didepannya lagi, Oh Sehun.

“Tentu saja boleh.” Aku tahu Seo Joo Hyun sedang tersenyum sekarang.

Aku terus menatap pemuda itu. Pemuda yang menatap Seo Joo Hyun dengan senyuman. “Terima kasih, kau memang orang baik.”

Pandangan kami seketika bertemu. Menatap satu sama lain. Tapi, ketika Sehun bertatapan denganku raut wajahnya berubah dingin. Sangat berbeda dengan tatapan hangat yang ia berikan pada Seo Joo Hyun. Jelas berbeda.

Oh Sehun…

Kau mencoba membunuhku?

*****

Aku tidak tahu.

Tidak tahu kenapa aku masih bisa menyukai orang yang jelas-jelas telah menolakku.

Bahkan, orang itu sudah membuatku terluka karena kelakuannya.

Apa masih pantas kalau aku menyukainya?

*****

“Saya akan membagikan kelompok belajar untuk pelajaran kali ini.”

Suara Shin Songsaengnim mendominasi ruang kelasku. Nama Oh Sehun tiba-tiba muncul dikepalaku. Ingin sekali aku sekelompok dengannya karena ingin melihatnya lebih dekat dan lama, tapi disisi lain, aku juga tidak ingin sekelompok dengannya karena…ya, aku ingin melupakannya. Aku sungguh bingung sekarang.

Kenapa namaku tidak disebut-sebut? Oh Sehun juga, berarti..

“Kelompok terakhir, Tiffany Hwang, Xi Luhan, Seo Joo Hyun, Im Yoona, dan Oh Sehun.”

DEG.

Jantungku langsung berdebar tak karuan. Bagaimana ini?

“Ayp, pindah dan cari kelompok kalian.” Ucap Songsaengnim lagi.

Debaran jantungku semakin kencang ketika mataku menatap Oh Sehun berjalan kearahku, Tiffany, dan Luhan, Aku menghela nafas, ternyata tidak hanya Sehun yang berjalan kemari. Seo Joo Hyun atau yang akrab dipanggil Seohyun itu berjalan bersama Sehun.

Sampai ditempatku. Mereka diam dan saling menatap. Luhan dan Tiffany sudah duduk berdua. Tinggal aku, bangku sebelahku kosong. Memangnya tidak ada yang mau duduk disebelahku?

“Kau saja yang duduk disebelahnya.” Nada dingin lengkap dengan wajah datar Oh Sehun memecah keheningan.

Kau terlalu membenciku, Oh Sehun? Sampai duduk disebelahku saja kau tidak mau? Kita teman. Tidak. Itu dulu. Sekarang kita bukan siapa-siapa dan mungkin kita tidak saling kenal. Anggap saja begitu. Dan juga, apa kau begitu segan memanggil namaku?

Oh ya, itu wajar. Ya, kita memang tidak saling kenal. Bagus. Ini semakin menyakitiku.

*****

“Wu Songsaengnim sangat kejam. Banyak sekali pr yang diberikan si Tiang Listrik itu. Huh, menyebalkan.” Dumal temanku –Kim Taeyeon-.

“Tapi, tiang listrik itu sangat tampan, Taeyeon-ah.” Komentar temanku yang satu lagi –Kwon Yuri-.

Kami berempat –Aku, Yuri, Jessica, dan Taeyeon- sedang mengobrol di lorong. Aku hanya mendengarkan obrolan ringan Yuri dan Taeyeon. Ani. Bukan aku saja, Jessica juga. Jangan lupakan sifat ice princess nya yang cuek. Tapi, si california girl ini –Jessica- yang paling mengerti aku. Jessica bagaikan diaryku, aku selalu curhat padanya tentang apa saja. Dia juga pasti memberikan saran yang sangat membangun tentang msalahku. Ya, masalahku akhir-akhir ini tentang Dia. Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun.

“Yoong. Lihat.” Suara merdu milik Jessica terdengar. Aku langsung menghentikan aktivitasku yang sedari tadi hanya menyender di dinding dan melihat ujung sepatuku. Kutegakkan badanku lalu menoleh kearah Jessica. Bola matanya menyuruhku untuk melihat ke jalanan didepanku. Dan..

Semuanya bungkam. Jessica, Aku, bahkan Yuri dan Taeyeon yang tadi asik mengobrol. Kami berempat seakan-akan sedang menyambut pangeran yang dengan tenangnya melangkah di karpet merah dengan seorang…putri. Ya, gadis berwajah lugu itu selalu bersamanya. Cukup lama kedua orang itu mengundang perhatian kami. Sampai pada akhirnya, kedua orang itu membelok masuk ke perpustakaan.

“Seo Joo Hyun. Gadis bertopeng, cih.” Yuri menyilangkan kedua lengannya didepan dada.

“Apa maksudmu, Yul?” Tanya Taeyeon yang menatap Yuri penasaran. Begitupun juga aku dan Jessica.

Yuri menoleh kearah perpustakaan dengan tatapan tajam. “Menurutmu siapa rivalku di Dance Unit? Menurutmu siapa juga yang merebut Tao dariku? Dasar gadis licik.”

Aku membelalakan mataku. Seo Joo Hyun gadis yang seperti itu kah? Aku sebenarnya tahu masalah Yuri. Gadis kejam yang merebut pacar Yuri dan hanya menginginkan hartanya. Tapi, aku baru tahu kalau gadis kejam itu adalah Seo Joo Hyun. Mengejutkan.

“Benarkah?” Sahut Taeyeon. “Ternyata dia orangnya. Oh, gadis gila. Siapa korbannya kali ini, huh?”

Aku menunduk. Aku tahu siapa yang mereka berdua maksud. Jika benar dia orangnya, kumohon jangan.

“Yang kalian maksud Oh Sehun?” Nada dingin milik Jessica keluar.

Taeyeon dan Yuri melirikku lemas. “Mungkin?”

“Aniya. Aku tidak ingin itu terjadi.” Akhirnya satu kalimat keluar dari mulutku. Mereka bertiga melotot kearahku. Memangnya kenapa?

“Yoong. Kau serius?”

“Kau terlalu baik, Yoong.”

“Kau…mana bisa kau-”

“Cukup.” Potongku. Menghentikan pertanyaan bertubi-tubi dari ketiga temanku. “Kalau kalian ingin membicarakan tentang itu. Lebih baik jangan disini.”

Akhirnya kami memutuskan ke atap sekolah. Tempat yang sering kami kunjungi. Tempat yang cocok juga karena mungkin sebentar lagi aku akan menangis. Who knows?

“Lanjutkan.” Yuri menatapku serius. “Kubilang jika Oh Sehun adalah korban selanjutnya Seo Joo Hyun. Kau akan berbuat apa? Apa yang akan kau lakukan?” Yuri memberi jeda. “huh, lebih baik namja berhati es itu tersakiti juga dan ikut merasakan apa yang kau rasakan.” Bisik Yuri yang masih terdengar olehku.

Aku melihat kearah lain. “Ani. Itu tidak akan terjadi, untuk apa aku menjawabnya jika itu tidak akan menjadi kenyataan?”

“Im Yoona…sebenarnya apa yang terjadi padamu?” Taeyeon menatapku lirih. “Dasar namja tidak tahu diri, beraninya kau menolak teman kami. Kau pikir kau siapa? Lihat, bahkan Im Yoona masih bisa melindungimu.” Ucap Taeyeon. Percuma, Sehun tidak akan bisa mendengarnya.

“Cukup, Taeng.” Ucapku mengakhiri semuanya dan mulai melangkah pergi dari tempat ini.

“Namja itu sudah menyakitimu. Kenapa kau masih bisa membelanya? Kau yang tersakiti disini.” Seru Jessica yang membuatku terhenti.

Aku berbalik. Menatap ketiga temanku yang mencoba membantu menyelesaikan masalahku. “Oh Sehun tidak akan disakiti oleh Seo Joo Hyun, Jess. Aku tidak ingin Sehun tersakiti. Cukup aku. Cukup aku yang tersakiti.” Air mata mulai mengalir dari mataku. Benar prediksiku.

“Lalu? Bagaimana denganmu? Kau tidak bahagia, Yoong. Apa untungnya kau terus seperti ini?” tambah Jessica.

Aku tersenyum getir. “Aku cukup bahagia. Aku bahagia ketika dia bahagia.” Omong kosong apa yang aku buat ini.

“Hentikan semuanya. Kau sudah cukup mengalah terus.” Ucapan Yuri membuatku kembali menghentikan langkahku. “Aku tau kau lelah, Yoong.”

Air mataku semakin deras keluar. Ya, Yul. Aku lelah. Aku sangat lelah sekarang. Tapi, kalau aku hentikan sampai disini? Aku sudah lama mengaguminya.

“Cepat lupakan dia sebelum kau jatuh lebih dalam lagi.” Jessica. Kau memang yang terbaik. “Pakai waktu yang tersisa, Yoong.”

Aku berbalik. Ketiga temanku-ani. Sahabat maksudku, mereka semua menangis. Sama sepertiku. Aku berlari menuju mereka yang terlihat merentangkan tangan. Kusambut uluran itu. “Aku sayang kalian.” Ucapku diiringi tangisan. Semuanya mengangguk mengiyakan.

Gara-gara Sehun, aku hampi rmelupakan sahabatku. “Jadi bagaimana? Kau harus melupakan dia, Yoong.” Girang Taeyeon. Aku tersenyum sembari mengangguk. Tak lupa, air mata yang sedari tadi mengiringi senyuman kami.

Aku tidak tahu.

Tidak tahu apa aku bisa melupakannya.

Aku akan berusaha terus.

Jika usahaku berhasil…

Semuanya akan senang, bukan?

Aku yang melupakannya.

Sahabatku yang senang melihatku bangkit.

Dan juga, kau? Kau pasti lega aku tidak mengganggumu.

Kau bahkan tidak memperdulikan aku.

Aku tidak tahu kenapa aku begitu menyukaimu.

Aku tidak tahu kenapa aku begitu buta akan segalanya.

Atau..aku juga tidak tahu kenapa kau tidak menyukaiku.

Semua ketidaktahuanku mungkin tidak akan berujung.

Tapi, kurasa…

Aku tahu semua jawaban dari ketidaktahuanku.

Mencintaimu. Itu jawabannya.

Cinta tidak perlu alasan, bukan?

Jadi, Oh Sehun.

Aku menyerah.

Mulai sekarang aku ingin melupakanmu.

Melupakan semua tentangmu.

Pasti. Akan kucoba.

Jadi..

Selamat tinggal, Oh Sehun.

Aku akan merindukanmu.

*****

Gimana? Bagus gak? Cerita ini pengalamanku sendiri, dari mulai tip-ex, rencana luyoon, sampe sekelas, pindah tempat duduk. Pengalaman yang sedih yaa.. huhuhuh L. Sebenernya ff ini untuk seseorang yang memerankan Sehun di ff aku ini. Udahlah, jadi curhat gini.. Comment Pleaseee

18 thoughts on “[Freelance] I Don’t Know

  1. Ini pernah publish di page lain ya?
    Aku setuju klo ini dikasih sequel, kesian yoona eonni.
    Brrti nasib kita sama thor, aku juga gitu, saat sidia tau aku suka dia, dia menjauh😦 tapi aku masih cinta.
    Keep writing
    Fighting ^•^9

  2. ceritanya keren nti
    authornya wiranti?wiranti syahputri?
    masih inget gue?
    sekalian gue mau minta squel buat nih ff
    ehh kalo authornya bukan eiranti syahputri maap yakk

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s