[Freelance] Butterflies (Chapter 1)

btrflies

Butterflies: The Story Begins by tiarasgrmh

EXO M’s Kris Wu, GG’s Im YoonA, EXO K’ Oh Sehun

Genre: Romance, Angst, Drama

Rating: PG 15

Length : Series

 .

 .

 .

“Lepaskan tanganmu, bodoh!” teriak seorang yeoja pada namja yang sedari tadi menggamit tangannya. Lebih tepatnya menarik paksa tangan yeoja itu. Teriakan yeoja itu membuat mereka menjadi pusat perhatian para pejalan kaki lain karena dianggap sebagai pasangan kekasih yang sedang bertengkar. Ah, masa bodoh dengan mereka. Yang harus kulakukan adalah membuat namja sombong ini melepas tangannya dari tanganku! Batin yeoja itu.

“Yak! Sakit!” pekik yeoja itu lagi. namun alih-alih melepaskan genggamannya, namja itu justru mempercepat langkahnya tanpa memikirkan keadaan si yeoja yang mengenakan highheels. Yoona—yeoja itu—terhuyung karena tak bisa menyamakan langkah kakinya.

“AAAA—“ Yoona membelakkan matanya terkejut ketika menyadari Kris—namja sombong yang dia maksud—menangkap tubuhnya sebelum jatuh kejalan. Wajah mereka yang terlampau dekat membuat Yoona gugup karena ia bisa merasakan hembusan nafas Kris diwajahnya. Cukup lama mereka berada dalam posisi itu hingga akhirnya Yoona berdeham kecil mengalihkan pandangannya. Kris yang menyadari dehaman Yoona dengan bodohnya melepaskan tubuh Yoona begitu saja bahkan sebelum Yoona menegakkan posisinya, yang otomatis membuat  yeoja itu jatuh terduduk dijalan.

“YAK! NAMJA BODOH!” pekik Yoona sambil mengelus pinggangnya yang terkentuk jalan.

Sorry,”  ucap Kris lalu berlalu begitu saja tanpa berniat membantu Yoona sedikitpun. Yoona melongo melihat sikap Kris yang acuh. Tangannya terkepal kuat pertanda ia menahan amarahnya.

Kris Wu, Kau benar-benar…..Arrgh!

.

.

.

Namja bodoh! Bagaimana bisa dia memperlakukanku seperti tadi, eoh?  Pergi begitu saja setelah membuat pinggangku sakit. Cih. Umpat Yoona dalam hati. Mulut yeoja itu tak henti-hentinya berkomat-kamit menyumpah serapahi namja yang kini menyetir disampingnya.

“Kau nampak seperti orang bodoh jika mulutmu terus-terusan seperti itu, noona Im,” tegur Kris tanpa mengalihkan pandangannya dari  jalan. Yoona mendengus kesal mendengar ucapan Kris, Ini semua karena kau, namja bodoh menyebalkan!

“Kalau ada yang ingin kau katakan, segera katakan,”

Yoona melongos tak percaya dengan Kris. Namja itu bersikap seperti ia tak melakukan kesalahan apapun padanya. “Kau tak merasa bersalah, eoh? Tsk. Tak bisa dipercaya. Kau seharusnya menolongku tadi! Bukan pergi begitu saja setelah membuat pinggangku sakit!” Hilang sudah kesabaran Yoona. Kris benar-benar mengajaknya mengibarkan bendera peperangan.

“Turunkan aku disini!”pinta yoona memaksa. Kris terus melajukan mobilnya tak mengubris permintaan Yoona.

“Apa kau tuli, huh? Hentikan mobilnya!” Kris tiba-tiba saja menginjak rem sehingga bisa saja membuat Yoona terhempas kedepan jika saja tidak mengenakan seatbelt.  “YAK! Tidak seperti ini juga, bodoh!”

Kris mengalihkan pandangannya kearah Yoona. Ditatapnya mata rusa Yoona dengan mata elang miliknya. Seketika rentetan cibiran yang hendak yeoja itu lontarkan menguap begitu saja ketika menyadari tatapan Kris. “W-waeyo?”

“Appamu memintaku untuk menjemputmu. So, sit quietly dan berhenti berbicara. Kau mengganggu konsentrasiku mengemudi,” nada bicara Kris terdengar tenang namun  justru mencekam bagi Yoona.  Dan entah mengapa, Yoona langsung diam menuruti ucapan Kris. Daripada ia dan Kris berakhir dirumah sakit karena ulahnya yang terus melawan, lebih baik diam, bukan?

.

.

.

“Aku pulang,” ucapku ketika membuka pintu rumah. Nampak kedua orangtuaku tengah bersantai di ruang tamu dengan appa yang serius membaca koran. Sedangkan eomma asik membaca buku—yang aku yakin tak akan jauh dari buku ekonomi— sambil mengunyah kudapan asing. Lelaki paruh baya yang tak lain adalah appaku segera melepas kacamata bacanya lalu menaruh koran yang ia baca ketika menyadari kedatanganku. Appa lalu melebarkan tangannya menghampiri kami.

“Kris!” Appa langsung memeluk erat namja sombong itu. Ah, aku terlalu percaya diri rupanya.

Aku melirik kesal dua lelaki ini. Appa bahkan jarang memelukku dan sekarang ia justru memeluk namja ini? Cih.“Terimakasih sudah mengantar Yoona,”

“Ah, Tidak masalah, Tuan Im. Aku senang membantumu,” ucap Kris tersenyum. Hei, tunggu. Kris tersenyum?!

“Sudah kubilang, jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku aboeji atau appa. Atau mungkin daddy? Terserah padamu asal tak berbeda arti,” ucap Appa lalu tertawa hangat.

“Chagi-ya, tidak baik mengobrol didepan pintu. Biarkan Kris masuk terlebih dulu,” tegur eommaku lembut.  Aku mendengus kesal. Mereka menyambut Kris hangat sedangkan mengabaikanku seolah-olah aku ini arwah. Dan apa tadi? Aboeji? Appa? Daddy?  Apa-apaan!

Aku menghentakkan kakiku kesal. Namun sepertinya kedua orangtuaku tak menyadari perubahan raut mukaku. Mereka masih sibuk mengurusi ‘anak baru’nya. “Aku kekamar dulu,”kataku sedatar mungkin.

“Kau tidak makan dulu?” tanya eommaku pada akhirnya.

“Nanti saja, eomma.” balasku memaksakan senyum.

“Turunlah jika kau lapar, Yoongie-ya,”

“Ne, arraseo,” akupun segera menaiki tangga menuju kamarku. Kulirik sekilas kedua orangtuaku berjalan berdampingan disamping Kris dengan mesranya. Cih. Lebih cepat aku sampai dikamarku daripada terus melihat adegan memuakkan seperti itu.

Kulempar tasku kesembarang arah, lalu menjatuhkan diri di ranjang empukku. Pikiranku melayang disaat pertama kali aku bertemu namja sombong itu.

*flashback*

 

“Apa kau Im Yoona?” tanya seseorang kuyakin adalah seorang namja. Kualihkan pandanganku agar bisa melihat siapa namja yang berani merusak ketenanganku. Dan, honestly, aku sedikit terperanjat ketika tahu seperti apa rupa namja ini. Alis mata tegas dengan mata hazel, hidung mancung dan kulit putih, serta postur tubuh tinggi bak model pemotretan. Apa Tuhan mengirimku seorang malaikat?

“Hei, are you okay? ” Aku segera sadar dari lamunan bodohku tentang namja malaikat ini ketika menyadari tangannya kini melambai-lambai dihadapanku. “M-mwo? Ah, mianhae. Aku Im Yoona. Waeyo?” jawabku seramah mungkin.

Tiba-tiba saja namja itu menarik pergelangan tanganku tanpa alasan yang jelas, “Kajja, aku akan mengantarkanmu pulang.”

“M-mwo?! Mengantarkanku pulang? Shirreo! Aku tak mengenalmu!” tolakku mentah-mentah. Aku baru melihatnya tadi dan tiba-tiba saja ia bilang akan mengantarku pulang? Bagaimana jika dia melakukan hal-hal buruk denganku? Menculikku mungkin? Atau yang lebih parah…merebut ‘harta karunku’? Andwe! Tidak akan kubiarkan! Hidupku masih panjang dan aku hanya akan memberikan ‘itu’ pada suamiku kelak.

Namja itu terus menggeret paksa tanganku seakan tak mendengar kalimat penolakkanku. “Yak! Lepaskan tanganmu, namja asing!”pekikku padanya. Yang lagi-lagi diabaikannya. Kesal akan sikapnya, kusiram jaketnya dengan kopi panas yang kurebut dari pejalan kaki yang lewat disampingku. Dan, finally, dia menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya menghadapku lalu menatap tajam tepat dimataku. Sorot matanya terlihat seperti ia sedang menahan amarah. Sedikit membuatku bergidik ngeri karena ia terus menatapku tanpa berbicara sepatah katapun.

“Wae? Kau ingin marah padaku? Tsk. Siapa suruh menyeret paksa orang yang tak mengenalmu?! Tidak sopan!” Aku bersidekap dada seakan ingin menantangnya. Ia memejamkan mata sebelum angkat bicara.

“Appamu yang menyuruhku menjemputmu,” Aku membelakkan mataku tak percaya. Appa yang menyuruh dia? Bukankah appa dan eomma sedang di mengurus cabang baru di Indonesia?

 

“K-kau bohong,” namja itu menghembuskan nafasnya kasar mendengar tanggapanku.

“Orangtuamu ada dirumah. Masih tak percaya?”

“Ani. Aku tak percaya denganmu. Bisa saja kau berkata seperti itu agar aku ikut denganmu! Atau agar kau bisa mencu—YAK! LEPASKAN!” Tuduhanku terhenti ketika ia tiba-tiba saja kembali menyeretku masuk kedalam mobilnya.

Dan pada akhirnya aku harus menundukkan kepalaku karena malu didepannya. Namja itu tidak berbohong. Ia benar-benar mendapat tugas untuk menjemputku dari appa. “Hm.. Mianhae, Kris-ssi. Aku salah telah menuduhmu sebagai penculik,” Ujarku menyesal. Kris menampikkan senyum meremehkannya padaku.

“Dimana otakmu, huh? Bagaimana bisa kau mengira namja tampan sepertiku adalah penculik?” Tanganku meremas kuat ujung kaosku saat ia mendengar ucapannya. Aku mengakui kesalahanku dan sudah meminta maaf padanya. Tapi, tak sadarkah ia kalau kata-katanya itu sangat kasar? Dan apa tadi? Tampan? Cih. Aku menyesal telah memujinya sebagai malaikat!

Krispun berlalu. Meninggalkanku yang tengah mati-matian menahan amarah. Well, aku hanya tidak ingin nasib namja menyebalkan itu akan berakhir dirumahsakit jika amarahku meledak. Namun tiba-tiba saja ia berbalik menghadapku. Melemparkan jaket kulit dengan noda kopi hasil siramanku tadi. “Kau harus bertanggung jawab dengan itu,” ucapnya yang terdengar lebih mirip perintah.

“Mwo?” Tanyaku tak mengerti.

“Pakai otakmu, bodoh,”

“YAK! BERHENTI MENGATAIKU BODOH ATAU KAU AKAN TAHU AKIBATNYA!”Bentakku kesal. Sedangkan Kris hanya mengangkat bahu lalu kembali tersenyum remeh padaku. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya berlalu meninggalkanku.

*flashback off*

 

Entah mengapa, memikirkan pertemuan pertamaku dengan Kris membuatku sedikit mengantuk. Aku terlalu malas menghapus make up tipis dan mengganti pakaian yang kukenakan. Tidur dengan keadaan seperti ini sepertinya tidak buruk.

.

.

.

“Kris, bisa kau bantu eomma?”

“Ne, eommanim. Apa yang bisa kubantu untukmu?” Tanya Kris menampikkan senyum termanisnya.

“Bisa kau antar makan malam untuk Yoona kekamarnya? Kurasa dia tertidur karena kelelahan. Tapi bangunkan saja dia agar makan jika ia tidak ingin maag nya kambuh,” pinta eomma Yoona. Kris hanya menggangguk tersenyum tanda mengerti. Sejujurnya, Kris harap ia tak bertemu Yoona dulu karena entah mengapa, saat ia menangkap tubuh Yoona tadi, perasaan aneh tiba-tiba saja menyelimutinya. Tapi ia juga tak bisa menolak permintaan nyonya Im yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.

Setibanya didepan pintu kamar Yoona, Kris segera mengetuk pintu sebagai sikap sopan santun yang ia pelajari. Namun hingga ketukkan kelima, pintu itu tak kunjung terbuka. Teringat pesan eomma Yoona yang mengatakan kalau Yoona mungkin saja tertidur, Kris pun menggapai knop pintu hendak membukanya. “Yoona-ssi, aku akan masuk,”

Dan benar saja, Yoona tengah tertidur pulas diranjangnya. Masih dengan pakaian yang sama dengan yang terakhir dikenakannya. Sepertinya ia benar-benar kelelahan.

Krispun berjalan mendekat kearah Yoona. Ia lalu berjongkok dihadapan Yoona berniat membangunkannya. Tangannya terangkat merapikan rambut Yoona yang menutupi sebagian wajah yeoja bermarga Im  itu hingga nampak dengan jelas wajah polosnya.

Tanpa Kris sadari, sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Ditepuknya pelan kedua pipi Yoona untuk membangunkannya. Yoona-ssi, ireona,” namun Yoona tetap tak bergeming dari mimpinya. Ia menyeringai ketika sebuah ide jail terbesit dibenaknya.

.

.

.

Aku melenguh bangun dari tidurku karena merasa sesak tak bisa bernafas. Mataku membulat lebar ketika melihat wajah Kris tepat dihadapanku. Dan ternyata, Kris mengempit hidungku sehingga aku tak bisa bernafas.

“Akhirnya kau bangun juga, putri tidur,” Kris tersenyum puas kearahku. Sedangkan aku gugup setengah mati karena menyadari jarak antara wajah kami sangat dekat. “Y-Yak! Bagaimana k-kau bisa disini, eoh?” Tanyaku berusaha menutupi kegugupanku. Kris bangkit dari posisinya lalu menatapku datar.

“Hanya mengantar makan malammu,”

 

Makan malam? Akhirnya aku sadar kalau aku hampir saja tidak makan malam karena kesal dan lebih memilih tidur.

Im Yoona paboya! Bagaimana jika besok jadwalmu kacau karena penyakit maag sialan itu kambuh?

 

Makanlah, jangan sampai maagmu kambuh,”tuturnya sambil menunjuk dengan dagunya nampan berisi makan malam dimejaku. Aku langsung menatapnya terkejut. Dia tahu aku punya penyakit maag?

Seakan tak peduli dengan tatapan bingungku, ia pun berbalik berjalan menuju pintu kamarku. Sebelum tangannya meraih knop pintu, aku memanggilnya.

“Gomawo,” kataku tulus. Kris hanya tersenyum membalas ucapan terimakasihku lalu benar-benar menghilang dibalik pintu.

Aku menyentuh dada kiriku  yang tiba-tiba saja bergemuruh tak jelas melihat senyumannya. Dan tidak hanya itu, aku merasakan banyak kupu-kupu menggelitik perutku. Kenapa seperti ini? Mengapa kupu-kupu ini datang? Apa mungkin………aku jatuh cinta padanya?

Gimana 1st series ini? Ngebosenin ya?;( AAAH part ini mungkin belum ada konfliknya. Maaf banget Sehunnya baru muncul part depan. Jadi masih semacam intro gitu;D kalo kurang greget silahkan tampung gregetnya di next series;3 Ohiya, fyi aja, series ini bakal beda judul setiap updateannya;3 see you;b

14 thoughts on “[Freelance] Butterflies (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s