[Freelance] Tales of The Death Angels – Baekyeon (Chapter 1)

artposter_talesofthe9deathangel5

Tales of the 9 Death Angel (Taeyeon and Baekhyun, Part 1)

Author             :  _agrn

Main Cast        : Taeyeon and Baekhyun

Other Cast       : Jessica, Yoona, Luhan, Sooyoung, Kai

Genre              : Romance, Fantasy, Family, Sad, little bit comedy

Rate                 : PG 15

Length             : Multichapter

A/N                 : Jjeng Jjeng~ balik lagi dengan FF series (mungkin) ini ~‘-‘)~ adakah yang menunggukan? Ini giliran Taeng sama Baekhyun~ yey yey yey~ Anyway, ada gak yang nungguin-_-

Udahlah, gamau banyak bacot, DON’T LIKE DON’T READ Happy Reading Guys~

oOoOoOo

Namja itu perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah ruangan berwarna putih. Ia merubah posisinya menjadi duduk lalu menatap sekelilingnya. Tetap sama. Putih. Namun ia menyadari kalau putih disana sama sekali tidak berujung.

“Aku dimana?!”serunya kaget dan berusaha mencari pertolongan. Namun sia-sia, tidak ada yang menyahutinya hingga sebuah suara terdengar.

“Kau dibatas antara dunia manusia, dan dunia akhirat”gumam suara itu.

Namja bernama Byun Baekhyun itu menoleh kearah suara lalu terpaku sejenak. Ah, tepatnya terpesona. Yeoja yang dihadapannya sungguhlah cantik. Walaupun wajahnya dingin dan kulitnya pucat, yeoja itu tetaplah mempesona. “Kau.. malaikat…”gumam Baekhyun tanpa sadar.

“Malaikat kematian”koreksi yeoja itu lalu menatap Baekhyun tajam. “Kau, Byun Baekhyun, mati karena dibunuh.”

Baekhyun membelalakkan matanya. Dibunuh?! Apa dia tidak salah dengar?! Tapi dia sama sekali tidak ingat dengan peristiwa kematiannya. Apa ia harus percaya dengan yeoja ini?

“Aku? Siapa.. siapa yang membunuhku?!”tanya Baekhyun.

Malaikat itu menatapnya datar seraya menyebutkan nama yang sama sekali tidak pernah Baekhyun pikir akan membunuhnya “Jessica Jung”

Baekhyun terbelalak. Jessica… Jung? Membunuhnya? “Tidak… Tidak mungkin.”sanggahnya. Jessica adalah yeoja yang ia cintai. Yeoja yang akan menjadi istrinya. Tunangannya yang sudah bersamanya lebih dari 10 tahun!

“Dialah yang membunuhmu. Aku tidak akan mengatakan omong kosong” Baekhyun tidak bisa menerima kenyataan, namun tidak bisa juga menolak perkataan malaikat dihadapannya. Malaikat itu benar, tidak mungkin ia berbohong karena dia tidak akan mendapat keuntungan.

“Sekarang, aku akan memberimu penawaran.”Baekhyun menatap yeoja itu dengan pandangan bingung.

“Kau dibunuh, maka dari itu kau diberi penawaran. Satu, kau bisa membunuh pembunuhmu dan menjadi malaikat maut tingkat menengah. Dua, tidak membunuhnya dan menjadi malaikat maut tingkat rendah. Tiga, tidak memilih keduanya dan menjadi arwah gentayangan.”

Baekhyun terkekeh. “Arwah gentayangan? Hahaha. Jangan bercanda. Maksudmu aku akan terbang dan menghantui orang-orang?”

Yeoja itu menatap Baekhyun dengan tatapan yang lebih tajam dan ia terlihat marah. “Kau pikir ini candaan yang pantas kau tertawakan?!”

Baekhyun diam. Ia terkejut mendengar bentakan dari yeoja yang ada di hadapannya. Ya. Dia memang benar. Tidak seharusnya Baekhyun bercanda dan tertawa disaat begini. Pilihannya akan menentukan nasibnya di kehidupannya yang abadi. Membunuh Jessica dan menjadi malaikat maut tingkat menengah? Itu mungkin pilihan aman, tapi… ia tidak, tidak akan sanggup membunuh Jessica. Tidak membunuh Jessica dan menjadi malaikat tingkat rendah? Tunggu, dia bahkan tidak mengerti tentang pembagian kasta disini.

“Malaikat maut tingkat menengah adalah malaikat yang biasanya menjadi pencabut nyawa. Sedangkan tingkat rendah adalah malaikat yang bertugas menyampaikan sesuatu pada malaikat lain, budak, dan membimbing para arwah.”

Yeoja itu menjawabnya tanpa bertanya pada Baekhyun. Belum sempat Baekhyun bertanya, yeoja itu kembali menyahut “Aku bisa membaca pikiranmu”

“Lalu… bagaimana dengan arwah gentayangan?”

“Kau akan tetap di bumi, menjadi arwah yang tidak bisa dilihat, tidak memiliki teman dan tidak bisa melakukan apapun selain terbang dan mengamati orang-orang hidup. Kau pada akhirnya akan sengsara karena stress lalu menghantui para manusia yang masih hidup. Kalau sudah begitu, mungkin kau akan diusir oleh para pengusir arwah, atau terbakar dan menghilang. Atau kalau kau aman-aman saja, kau akan menunggu hingga puluhan ribu tahun cahaya untuk reinkarnasi”

Baekhyun menelan salivanya begitu mendengar penuturan panjang malaikat itu.  Dia diam, dan memikirkan jawabannya lalu berkata “Bisakah… aku mengetahui alasan kenapa Jessica membunuhku?”

Malaikat itu tetap memasang tampang datar ketika berkata “Karena dia tidak ingin dijodohkan denganmu, karena ia benci padamu yang telah mengambil masa depannya bersama orang yang dicintainya. Ia mendendam padamu sejak orang yang ia cintai mati karenamu. Dan sudah berniat untuk membunuhmu sejak itu”

Deg!

Walaupun Baekhyun tidak punya hati sekarang, walaupun Baekhyun hanyalah arwah tanpa raga, ia masih merasakan pedih. Ia masih merasa sakit ketika sadar bahwa Jessica tidak pernah mencintainya, justru dia membenci Baekhyun. Sekarang Baekhyun tahu kenapa tawa Jessica, ucapan serta ciumannya tidaklah terasa tulus. Selalu ada yang kurang dan itu, adalah perasaan yeoja itu.

“Aku.. aku tidak percaya…”gumamnya kecil.

Sang malaikat terdiam sejenak. “Apa pilihanmu?”

Baekhyun terkekeh kecil. “Aku.. mungkin arwah paling bodoh”ujarnya lalu mengangkat wajahnya dan menunjukan air matanya. “Aku memilih pilihan kedua”

Malaikat itu mengangguk “Baiklah, setelah kau memasuki alam malaikat yang sebenarnya, ingatanmu tentang masa lalumu akan terhapus sepenuhnya. Kau siap?”

oOoOoOo

Baekhyun’s POV

“Ini… orangnya?”

Malaikat itu membungkuk lalu menjawab “Ya, Nona Choi. Dia adalah bawahan barumu. Budakmu”

Malaikat yang dipanggilnya Nona Choi menatapku singkat lalu berjalan masuk kedalam ruangan serba putih yang mungkin adalah lab itu. “Aku, adalah budaknya?”tanyaku polos.

Malaikat yang kuketahui bernama Yoona itu mengangguk. “Kau harus melaksanakan semua perintahnya. Semuanya. Bahkan jika dia memintamu untuk menjadi pemuasnya”

Aku sedikit membelalak mendengar penuturan Yoona. Pemuas? Yang benar saja. Apa sebegitu rendahnya aku sekarang? Jika dulu aku sangat berkuasa hingga aku bisa memesan 100 yeoja untuk bercinta denganku kalau aku mau, sekarang akulah yang menjadi pemuas seorang yeoja yang ia panggil Nona Choi? Jangan membuatku tertawa.

“Aku tidak berniat membuatmu tertawa”

Sial, aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku. “Tapi… apa kau serius?”

Yoona membentangkan sayapnya dan menatapku dengan pandangan datarnya. “Kastamu adalah yang terendah sekarang. Malaikat baru dengan status budak. Mungkin aku tidak pantas mengatakannya, tapi itu benar”

Oh, sepertinya yeoja ini juga malaikat tingkat rendah. Terbukti dari dia yang menyampaikan berbagai hal dan mengantar jiwa-jiwa sepertiku sekarang.

“Nona Choi adalah malaikat maut tingkat tinggi. Dia berada di kasta yang tinggi yang sangat dihormati. Dia adalah malaikat yang sangat disukai para tetua dan merupakan malaikat yang lebih berharga dari 100 malaikat”

Nona Choi itu sangat istimewa. Mungkin ini kehormatan bagiku untuk bisa menjadi budaknya. Ah. Kata budak terlalu kasar, mungkin ada baiknya kuubah menjadi pelayan.

“Kau benar, ini suatu kehormatan bagimu”ucapnya lalu bersiap terbang. “Lakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya. Mungkin, jika kau melakukannya, kau bisa menjadi malaikat biasa”

Aku terperangah sesaat sebelum tersenyum. Jadi, jika aku melayaninya dengan baik dan benar, aku bisa menjadi malaikat biasa? Aku tidak akan jadi budak lagi? Mungkin itu pilihan baik. Derajatku tidak akan rendah seperti sekarang.

“Ya! Kau yang disana! Cepat kesini!”

Aku tersentak dan menatap pintu yang bahkan masih tertutup. Astaga. Nona Choi mungkin sangat pemarah dan sering berteriak. Bahkan aku bisa mendengar teriakannya dengan sangat jelas meski aku jauh dari pintu yang tertutup itu.

“N..Ne! aku kesana!”ujarku.

Aku memasuki ruangan serba putih dengan bau obat-obatan dan bau bau aneh lain yang tidak kuketahui apa asalnya. Aku melongo seperti orang dungu hingga akhirnya lamunanku dihentikannya.

“Pakai jas steril disana”Nona Choi lewat disampingku dengan kacamatanya dan beberapa larutan dalam gelas ukur yang dia bawa. “Dan bawakan aku buku berwarna hitam disana”

Aku tetap tidak paham namun aku melaksanakan perintahnya. Memakai jas steril lalu membawa buku hitam yang ada di.. tunggu. Dimana? Dia bahkan tidak menjelaskan ‘disana’ yang ia maksudkan itu dimana. Untungnya, aku bisa melihat satu-satunya buku hitam yang ada di rak.

Buku hitam itu tebal dan berat. Aku bahkan sampai hampir terjatuh dan harus menaruhnya di meja dulu. Aku menatap cover depannya dan kembali melongo. Tulisan apa itu? itu bukan alphabet apalagi hangul.. namun tiba-tiba saja rentetan kata itu berubah menjadi hangul. Membuatku dapat membacanya. Buku itu adalah buku tentang segala jenis ramuan yang ada di muka bumi ini. Apa ada ramuan agar Jessica mencintaiku?

Sadarlah Byun Baekhyun. Kau sudah mati, dan Jessica masih hidup. Kalian tidak bisa bersatu dan lagi, Jessica-lah yang membunuhmu.

“Apa kau bodoh?! Atau kau tuli?!”

DEG

Aku membelalak dan langsung berbalik menatap sang pemilik suara yang tadi membentakku. Saat aku berbalik… aku terperangah. Apa semua malaikat memang begitu mempesona? Atau hanya aku yang terlalu cepat tertarik dengan mereka?

Dulu Jessica adalah yeoja paling mempesona dan aku tidak pernah bisa menemukan orang yang sama mempesonanya dengan Jessica, bahkan Krystal, adik Jessica pun kurasa kurang mempesona. Namun sekarang, Aku dengan mudahnya terpesona oleh 2 malaikat maut yang baru kutemui.

Nona Choi sungguh cantik. Dia tinggi dan kulitnya yang sedikit pucat itu menambah daya tariknya. Jas steril berwarna putih itu membuat gaun hitam selutut yang ia pakai sedikit tertutupi, namun justru menegaskan kaki jenjangnya.

“Apa yang kau lihat?”

Aku kembali kaget mendengar suara itu. Itu bukan suara Nona Choi. Suara itu terlalu berat untuk yeoja. Aku masih terbingung-bingung sampai aku sadar bahwa Nona Choi menatap kearah belakangku.

“Kau tidak seharusnya asal masuk begini”ucap Nona Choi. Nadanya lebih santai. Senyuman juga terlihat walaupun hanya sekilas.

Aku menolek kebelakangku dan mendapati seorang namja berkulit cokelat yang sepertinya lebih muda dariku. Ia terkekeh kecil lalu langsung memasang raut datarnya lagi. aku bingung, apa seluruh malaikat memiliki raut datar?

“Aku sudah beribu kali masuk kesini bahkan tanpa permisi. Ini sudah termasuk rumahku”ujarnya lalu menatapku dengan mata tajamnya. Aku bahkan sampai merinding pada awalnya.

“Siapa dia?”tanyanya, dengan nada tak suka. Oh, apa dia kekasih Nona Choi? Apa malaikat bisa menjalin hubungan seperti itu?

Nona Choi menatapku. “Ah, dia malaikat baru kelas rendah.” Entah kenapa aku merasa namja hitam itu akan meremehkanku, namun ternyata tidak.

“Dia budakmu sekarang?”tanyanya. Nona Choi mengangguk.

“Ya, dia budakku. Hei kau, taruh buku itu di meja kerjaku, lalu buatkan aku minum”ujar Nona Choi. Aku mengangguk, namun segera balik bertanya.

“M..Minuman apa? Aku bahkan tidak tahu minuman apa yang seharusnya kau minum, minuman apa saja yang ada disini…”

Nona Choi menghela nafasnya. “Seharusnya aku mendapat budak yang sudah professional, bukan yang seperti ini.” Ayolah, apa dia tidak bisa bicara lebih kecil? aku mendengarnya!

“Kau mau aku tukar dia?”tanya namja hitam dengan nada datar. Jangan, tolonglah jangan. Kemungkinan aku akan jadi malaikat biasa akan makin tipis!

Nona Choi diam sebentar lalu menggeleng. “Jangan, aku malas kalau harus berurusan dengan orang luar, Kai”

Namja bernama Kai itu terkekeh. “Kau tidak boleh begitu Sooyoung Noona” Oh, nama Nona Choi adalah Choi Sooyoung.

Nona Choi menatapku lalu mengambil sebuah ramuan yang entah ramuan apa, yang jelas berwarna biru terang dan terlihat seperti soda. Ia menyerahkannya padaku. “Ini yang bisa membantumu beradaptasi. Tetua Kim pernah memintaku membuatnya dan untunglah masih tersisa. Dengan ini kau bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan ini. Kalau cocok, mungkin kau akan bisa memahami segala hal termasuk cara membuat makanan dan minuman”

Aku mengangguk-angguk setelah sedikit melongo mendengar penuturan panjang Nona Choi. Kutatap gelas yang sudah berada ditanganku ini. Gelas itu berisi cairan yang tadinya ada di tabung reaksi. Aku menelan salivaku dengan susah payah dan menunjukkan keraguanku. Aku menatap Kai dan namja itu menatapku balik dengan pandangan datar. namun sinar matanya menyuruhku meminum minuman ini.

“Kenapa? Kau ragu dengan ramuanku?”tanya Nona Choi.

Aku segera menggeleng dan reflek langsung meminum minuman itu. Benar perkiraanku, rasanya pahit, dan memang sedikit ada rasa soda. Ada juga rasa-rasa seperti apel busuk. Namun entahlah, masih terasa enak di lidah. Setelahnya tidak ada yang terjadi, namun aku merasa pikiranku lebih ringan.

“Nah, pergilah ke dapur dan buatkan aku minum”ucap Nona Choi lagi. Akupun mengangguk, lalu masuk ke tempat yang ia sebut dapur.

oOoOoOo

Pil yang diberi oleh Nona Choi ternyata memang berkhasiat. Aku salah sempat meragukannya. Sehari setelah pil tersebut kuminum, aku sudah bisa membaca tulisan-tulisan aneh disini (yang anehnya tidak berubah menjadi hangul lagi), aku mengetahui berbagai macam sajian makanan, perilaku dan tata krama disini. Sopan santun harus selalu dijaga kalau tidak ingin sayapmu dicabut.

“Baekhyun, ambilkan larutan yang ada disana”

Aku menoleh pada Nona Choi yang masih mengerjakan ramuannya. Entahlah, Nona Choi memang terlihat selalu seperti ini sejak Baekhyun datang. Bekerja, dengan pakaian lusuh dan rambut kusut. Beruntung dia cantik, dia tetap menawan.

Aku berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil larutan berwarna merah muda yang dimaksud. Tanpa sengaja, mataku menangkap sebuah bingkai foto dengan foto 4 orang disana. Ada Nona Choi dan namja bernama Kai. Nona Choi tersenyum manis disana, harus kuakui, Nona Choi sangat cantik. Namja hitam bernama Kai itu dicubit pipinya oleh seorang yeoja yang berambut blonde. Aku terkekeh, smirk yang mungkin seharusnya terlihat keren itu menjadi lucu. Dan satu lagi adalah yeoja yang paling mungil diantara mereka, dengan rambut pendek dan senyum kecilnya, terlihat cantik dan berwibawa.

“Baekhyun apa yang sedang… oh”

Aku tersentak dan segera meletakkan bingkai foto itu pada tempatnya. “M..Maafkan saya Nona Choi”Aku segera membungkukkan badanku. Astaga, jika Nona Choi sampai marah, aku pasti tidak akan bisa naik kasta!

Nona Choi menghela nafas. Ia menatap bingkai foto itu lalu tersenyum kecut. “Mereka… adalah orang-orang yang kusayangi…”Ucapan Nona Choi menggantung “dan kucintai”

Aku menatapnya yang sekarang mengambil dan mengusap kaca bingkai tersebut.

“Dia, bernama Kim Hyoyeon. Dia gadis periang, polos dan baik hati walaupun dia sangat ceroboh dan boyish.”Kurasa dia adalah yeoja berambut blonde itu. “Yang ini Lee Sunny. Dia yang paling tua diantara kami berempat. Dia juga yang paling bijaksana. Dia berasal dari kasta tinggi, sama sepertiku. Hyoyeon sendiri berasal dari kasta menengah.” Lee Sunny pastilah yang bertubuh mungil.

“Kai… adalah yang termuda. Dia adalah adik angkat Lee Sunny, dan kastanya berubah menjadi kasta menengah. Kami berempat selalu bersama dan saling menyayangi. Tapi… aku justru memiliki perasaan lebih pada Kai”

Benar dugaanku. Nona Choi memang mencintai Kai. “Lalu… kemana Nona Lee dan Nona Kim sekarang?”

Senyum Nona Choi pudar dan tergantikan senyum terpaksa dan sedih. “Hyoyeon… menghilang… sayapnya dicabut karena dia telah mengingat masa lalunya. Sunny… kastanya turun menjadi malaikat maut biasa dan sangat jarang berkumpul dengan kami. Lalu Kai…”

Ucapan Nona Choi kembali tergantung. “Ada apa dengan Kai? Bukankah dia ada didekatmu?”

Nona Choi terdiam. Lalu membuka mulutnya “Dia… aku takut dia melakukan hal yang sama… aku takut dia meninggalkanku…”

Kurasa, kalau malaikat maut bisa menangis, Nona Choi pasti sudah menangis sejak tadi. “Kai… ditugaskan ke bumi?”

Nona Choi mengangguk lalu menatapku dengan pandangan tajam dan serius. “Jawab aku jujur Byun Baekhyun. Kau ingin menjadi malaikat menengah bukan? Kau ingin naik kasta bukan?”

Aku terbelalak mendengar perkataannya lalu akhirnya mengangguk mengiyakan.

“Baekhyun-a. aku akan mengabulkannya. Aku akan mengurus kenaikan kastamu, dan aku akan mengurus tugas pertamamu. Asal kau mau melaksanakan tugas terakhir dariku.”ujarnya lagi, semakin membuatku membelalak.

“A..Apa itu?”tanyaku sedikit terbata.

“Ketika turun ke bumi, ketika kau mengawasi orang yang akan kau cabut nyawanya… aku mohon, intai Kai. Beri tahu aku apa yang ia lakukan setiap hari melalui telepati tiap malam. Bisa?”

Aku menimbang-nimbang, lalu mengangguk kembali. “Aku berjanji akan melakukan yang terbaik, Nona Choi.”

Baekhyun’s POV Off

oOoOoOo

Seorang yeoja sedang sibuk memandangi gadget ditangannya. Ia terlihat begitu bahagia saat menatap layar gadget tersebut. Senyumannya tambah melebar dan tambah manis saat sebuah video akhirnya direlease. Ia menunggu dan menunggu, lalu akhirnya video tersebut menampilkan sosok yeoja berkulit sedikit gelap dan sudah lama menjadi idolanya. Tepat saat itu juga, yeoja itu mengetuk tombol pause.

“Aaaa! Kwon Yuri cantik sekali!!!!”

“Taeyeon-a, jangan berteriak-teriak seperti itu. Kau bisa mengganggu pasien lain. Suaramu itu melengking sekali”nasihat Ibunya yang sedang mengupas apel.

“Percuma menasihatinya Eomma, Taeyeon memang begitu. Dia selalu berteriak jika melihat Kwon Yuri”komentar kakaknya, Luhan.

Taeyeon mencibir. “Dia bertalenta. Cantik dan pintar menari juga menyanyi. Dia sosok yang pantas disanjung bukan?”

“Ya, ya, ya. Aku mengerti kau sangat memujanya. Aneh saja melihatmu yang mengidolakan Kwon Yuri dibandingkan dengan yeoja-yeoja lain yang kebanyakan membencinya”ujar Luhan

Taeyeon cemberut dan mem-pause video itu sekali lagi. “Mereka yang aneh. Kenapa mereka membenci Yuri? Karena dia terlibat skandal dengan banyak namja? Itu tuntutan pekerjaan! Karena gayanya yang dingin? Bukankah itu sifatnya? Lagipula dia masih terlihat ramah.”ujar Taeyeon panjang sambil sesekali menghela nafas.

“Sudahlah, tidak usah mendebatkan hal yang tidak penting”Sang Eomma menengahi.

“Well, aku lebih suka partnernya yang sekarang, Jung Krystal”ucap Luhan lalu mengelap gelas yang ada disamping adiknya.

“Itukan karena Jung Krystal mirip dengan Yoona Eon…”Taeyeon menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu menatap Luhan.

Ia tahu Luhan sangat sensitive dengan nama itu. Taeyeon tahu Luhan sangat-sangat merindukan orang tersebut, dan Taeyeon tahu seberapa tabu nama itu setelah kejadian tersebut. Bahkan sekarang Luhan menghentikan kegiatannya. Namja itu menghela nafas lalu meletakkan gelas yang sudah ia lap ke meja kecil disamping Taeyeon.

“Lu Oppa, mi-”

“Sudahlah. Istirahat lalu makanlah apel yang dikupaskan Eomma”

Taeyeon diam dan menatap Luhan yang meninggalkan kamar rawatnya dengan raut dingin. Ia menghela nafas dan mengucapkan kata maaf dengan kecil. Hingga hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang ia sebutkan.

“Kau harus menjaga mulutmu Taeyeon-a. Kau pasti mengerti perasaan Luhan bukan?” Taeyeon mengangguk, lalu mengambil potongan apel yang diberi oleh Ibunya.

“Kuharap Luhan menemukan pengganti Yoona secepatnya”ujar Ibunya sendu.

Taeyeon menatap kebawah dengan pandangan lesu. “Kurasa… itu tidak mungkin.”

oOoOoOo

Baekhyun menapakkan kakinya ke sebuah batang pohon dengan hati-hati. Walaupun ia sudah meminum sebutir lagi pil adaptasi dari Sooyoung, dia masih sedikit sulit melakukan ini. Ia menghilangkan sayapnya dan menatap kearah kamar rawat tersebut.

Seorang yeoja berambut pirang dan bertubuh mungil sedang memakan apelnya sambil menonton televisi. Ia sendirian, dan mungkin ini cara aman bagi Baekhyun untuk muncul karena hanya yeoja itu yang bisa melihatnya. Kasihan yeoja itu yang akan dianggap gila apabila ada orang melihatnya berbicara sendiri.

Baekhyun melompat ke jendela yang terbuka dan otomatis mengagetkan yeoja itu. Apel yang ia makan pun terjatuh dan dia menahan jeritannya. “S..Siapa… ah. a..apa kau ini?!”serunya.

Baekhyun menatap yeoja itu sejenak. “Kau ternyata biasa-biasa saja. Jauh sekali dibandingkan Nona Choi atau Im Yoona”gumam Baekhyun. Well, sebenarnya yeoja itu cantik untuk ukuran manusia (atau bahkan memang benar-benar cantik bahkan untuk malaikat sekalipun) mungkin karena Baekhyun terlalu sering melihat yeoja-yeoja yang amat sangat cantik seperti Sooyoung dan Yoona, maka Kim Taeyeon terlihat biasa saja di matanya.

Taeyeon membelalak dan berseru “Apa maksudmu hah?! Aku bahkan tidak tahu apa kau, siapa kau… dan kau tiba-tiba masuk ke kamarku lalu mengejekku?!”

“Kim Taeyeon, 15 hari lagi. Karena kanker. Aku akan mengawasimu dan mengabulkan 3 permintaan terakhirmu sebelum mati”ujar Baekhyun, menghiraukan pertanyaan Taeyeon.

“Apa maksudmu?!”

“Kau tidak mengerti?! Kau akan mati 15 hari lagi karena kanker bodoh! Kau ini sudah biasa biasa saja bodoh pula!”seru Baekhyun lagi.

Kali ini Taeyeon diam. Ia mengepalkan tangannya dan tak ia sangka air matanya mengalir. “Aku… akan mati…”gumamnya kecil, lalu tenggelam dalam tangisannya. Ia menelungkupkan diri dalam selimut dan menangis perlahan.

Baekhyun sendiri hanya dapat menatap Taeyeon. Sooyoung bilang, semua orang akan mendapatkan pesan kematian dari malaikat mautnya sendiri. Tapi dia tidak pernah tahu,tepatnya lupa, siapa malaikat mautnya.

Apa dia juga menangis? Apa dia takut?

Baekhyun menggeleng cepat. Ia tidak boleh memikirkan masa lalunya. Sekarang ia harus fokus pada Taeyeon yang merupakan tanggung jawabnya dan Kai yang merupakan salah satu misinya di bumi ini.

“Aku akan pergi, tenangkanlah dirimu. Aku akan kembali besok”

oOoOoOo

Baekhyun menatap Kai dari kejauhan. Ia menggunakan matanya yang entah kenapa semakin tajam sejak ia mati dan menjadi malaikat maut. Ia bahkan bisa melihat Kai dari jarak yang sangat jauh. Kai sedang menjelaskan sesuatu pada seorang yeoja yang berkulit kecokelatan. Sejauh yang ia lihat, tidak ada yang mencurigakan.

“Baguslah. Jika kau membutuhkanku panggil saja namaku”

Baekhyun mengangguk-angguk mendengar jawaban Kai. Yeoja itu bertanya dan Kai menjawab, lalu tiba-tiba Kai menghilang. Baekhyun terkejut. “Sial, kemana dia?”

“Aku disini bodoh”Kai menjitak kepala Baekhyun dari belakang hingga namja itu terjatuh.

“Ah! Sialan kau Kai. Aku tidak memukulmu bukan?”gerutu Baekhyun.

“Tidak, tapi kau memata-mataiku huh?”gumam Kai. Hubungan Baekhyun dan Kai sudah baik dan mereka menjadi teman yang baik. Itulah alasan kenapa Baekhyun bisa bicara dengan santai pada Kai.

“Aku tidak memata-mataimu, aku Cuma memperhatikan bagaimana caramu melakukan tugas itu”tutur Baekhyun. Dia berbohong, demi misinya.

“Ah ya, ini tugas pertamamu. Sejak kapan kau diangkat menjadi malaikat menengah huh?”

“Sejak… kemarin?”jawab Baekhyun polos.

“Diangkat kemarin dan menjalankan tugas hari ini? Hebat sekali kau ini. Jangan-jangan kau titisan Dewa”ucap Kai asal-asalan.

“Jangan asal sebut kau. Kau bisa dihukum!”Baekhyun menimpali.

“Aku bercanda bodoh”

“Berhenti memanggilku bodoh”

“Kau memang bodoh”

“Sialan”

Lalu mereka tertawa bersama.

oOoOoOo

Taeyeon kembali terkejut ketika bayangan hitam itu masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka. Seharusnya ia menutupnya tadi. Ia tidak ingin menatap namja itu. ia jadi ingat dengan hari kematiannya saja.

“Mau apa kau datang kesini?”tanya Taeyeon sedikit tidak ikhlas.

“Melaksanakan tugas”jawab Baekhyun. Ya, dia memang menjalankan tugasnya, mengawasi Taeyeon dan berusaha bertelepati dengan Sooyoung.

Menurut Kai, semua malaikat bisa bertelepati. Memang susah pada awalnya, dan pasti tidak akan bisa jika kita tidak mencobanya. Untuk pemula, lebih baik bertelepati di ruangan yang hening agar bisa lebih berkonsentrasi.

Baekhyun pikir, mungkin tempat ini tepat. Ia duduk disudut ruangan, mengatur nafasnya lalu mulai berkonsentrasi. Sementara Taeyeon memandangi Baekhyun dengan bingung.

“Ada apa dengannya?”gumam Taeyeon kecil. Dia mengedikkan bahu lalu menatap gadgetnya lagi.

Baekhyun berusaha lebih berkonsentrasi lagi. Ia sampai berkeringat dan akhirnya, ia berhasil mengirimkan telepatinya.

“Nona Choi, Nona Choi”

“Ada apa? Kau sudah mendapatkan apa tentang Kai?”

Baekhyun tersenyum saat Sooyoung membalas telepatinya. Itu berarti dia benar-benar sudah berhasil. Selanjutnya ia juga harus berhasil.

“Tidak ada masalah Nona Choi. Kai menjelaskan apa yang harus dijelaskannya dengan baik. Sejauh yang kulihat dia tidak tertarik dengan yeoja itu. Tapi…”

Baekhyun terlihat diam saat mengingat ekspresi Kwon Yuri kala itu. Ia ragu, apakah ia memang harus mengatakannya atau tidak. Setelah ia mengatakannya, Sooyoung pasti lebih khawatir lagi.

“Tapia pa Baek? Katakan padaku”

“Aku tidak yakin, tapi dia merona saat menatap Kai. Bisa jadi dia tertarik pada Kai.”

Sooyoung menghela nafas disana. “Kau melakukan tugasmu dengan baik. Aku akan menunggu telepati darimu untuk 6 hari mendatang. Terimakasih”

Baekhyun tersenyum. “Ya, kembali kasih Nona Choi”ujarnya, tanpa sadar dia tidak melakukan telepati lagi.

Taeyeon menatap Baekhyun dengan pandangan bingung lalu terkekeh. “Kau sedang menghubungi kekasihmu?”

Baekhyun menoleh dan menunjukkan raut bingungnya. “Kekasih? Siapa?”

“Orang yang kau panggil Nona Choi. Ah, kalian romantis sekali. Kau sampai memanggilnya dengan margamu. Apa kalian akan menikah?”

Baekhyun menghela nafas. “Kau ini sudah bodoh, tampang biasa saja, sok tahu pula”

“Ya! Aku tidak bodoh! Wajahku memang biasa saja, tapi setidaknya masih enak dipandang. Lagipula, aku hanya menunjukkan hipotesaku, bukannya sok tahu!”Taeyeon membela dirinya.

“Hipotesamu salah besar bodoh! Namaku saja Byun Baekhyun! Nona Choi bukan kekasihku atau semacamnya!”jelas Baekhyun singkat sambil merubah posisinya menjadi duduk di udara.

“Lalu dia siapa? Majikanmu?”

Baekhyun diam. Taeyeon benar, Sooyoung memang majikannya. Tapi entah kenapa, dari nada Taeyeon, Baekhyun merasa benar-benar rendah sekarang. Padahal dia sudah naik kasta, tapi dia masih merasa rendah. Ah tidak, ia tidak boleh berpikir negatif seperti itu. Dia bukannya rendah, tapi Sooyoung lah yang terlalu tinggi.

Bicara tentang tinggi, entah kenapa ia jadi ingat pada Sooyoung yang memakai heels. Dia telihat sangat tinggi.

“Ya, dia majikanku”jawab Baekhyun singkat dan terdengar tidak ikhlas sama sekali.

Taeyeon terkekeh lalu tertawa “Hahaha… memang dari awal aku merasa tampangmu itu adalah tampang bawahan… ternyata benar”

“Ya! Kau tidak perlu berkata begitu! Lagipula aku yakin derajatku lebih tinggi dibandingmu manusia!”

“Siapa bilang? Sesuai yang kupelajari, Manusia adalah makhluk dengan derajat yang tertinggi. Itu berarti kau juga bawahanku, hahahaha”balas Taeyeon lagi.

Baekhyun dongkol. Sangat dongkol. Sepertinya nasibnya sungguh sial saat harus berhadapan dengan manusia semacam Taeyeon. Bodoh, berisik, sok tahu dan jelek (ya, Baekhyun menetapkan tampang Taeyeon dalam kategori jelek).

“Taeyeon-a? Kenapa tertawa sendiri?”ujar Luhan yang baru saja masuk. Ia menenteng sebuah kantong plastik berisi buah-buahan kesukaan Taeyeon.

“Eh, aku tidak bicara sendirian. Ada namja bodoh itu disana”Taeyeon menunjuk Baekhyun, sementara Baekhyun menyunggingkan seringaian.

“Namja apa Taeyeon-a. kau jangan melantur begitu”ucap Luhan lalu meletakkan kantong plastik itu di meja yang sedikit jauh dari tempat Taeyeon berbaring.

Taeyeon terlihat bingung lalu menatap Baekhyun. Ia mengusap matanya dan menatap Baekhyun lagi. “Dia masih terlihat…”

“Kau melihat apa? Hantu?”tanya Luhan

Baekhyun terkekeh melihat Taeyeon yang terlihat begitu dongkol. Ia diledek habis oleh kakaknya setelah itu. Baekhyun tertawa saat Taeyeon dijitak kakaknya dan dipaksa tidur karena hari sudah malam.

“Rasakan itu, jangan coba-coba meledekku lagi”ucap Baekhyun lalu melanjutkan tawanya. Sementara Taeyeon menghela nafas dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, lalu menyumpal telinganya dengan earphone. Ia akan semakin kesal jika terus mendengar tawa Baekhyun.

“Malaikat sialan”

oOoOoO

Taeyeon mengerjapkan matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah mata seseorang. Yang ia pertama rasakan setelah bangun tidur juga hembusan nafas seseorang.

“Ani, mata ini bukan mata Luhan. Mata Luhan seperti rusa, dan ini bukan matanya. Lalu siapa?”batin Taeyeon.

“Hei kerbau, bangun. Sisa hidupmu adalah 14 hari lagi”

Hening beberapa detik sebelum

“AAAAAAAAA!!!!!!!!”

Teriakan melengking itu mengejutkan semua orang. Luhan yang baru saja datang ke rumah sakit dan mendengar teriakan itu segera panik dan berlari menuju kamar adiknya disertai beberapa perawat yang khawatir.

“Taeyeon-a!!”seru Luhan begitu telah membuka pintu kamar adiknya. Disana, ia melihat Taeyeon yang duduk tenang sambil menatap layar televisi. Ia menghela nafas, mengira dia tidak apa-apa.

Padahal yang terjadi sebenarnya adalah, Baekhyun sedang membekap mulut Taeyeon, mencegah Taeyeon menjerit lagi. “Diam bodoh! Kau telah membuat semua orang datang. Kau pikir apa yang terjadi jika kau berteriak? Kau akan dianggap gila karena sekali lagi berteriak tentang sesuatu yang tidak bisa orang lain lihat!”seru Baekhyun sambil menahan emosinya.

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan matanya. Benar yang dikatakan Baekhyun. Astaga, kenapa tidak ia pikirkan… sudah cukup Luhan yang menganggapnya gila karena peristiwa kemarin. Jangan sampai semua orang juga menganggapnya gila sebelum kematiannya.

“Taeyeon-a, gwenchana?”tanya Luhan seraya mendekati adik yang sangat ia sayangi itu.

“G…Gwenchana”jawab Taeyeon kecil.

“Benarkah? Kenapa kau berteriak tadi?”

“Ah, itu..”Taeyeon berpikir keras agar dia bisa mencari alasan yang kuat. “Tadi aku melihat CF baru Kwon Yuri dan disana dia sungguh cantik… aku tidak sadar kalau aku berteriak”ujarnya sambil tertawa.

Luhan dan perawat-perawat itu menghela nafas. Alasan Taeyeon berhasil. Toh itu memang hal yang selalu ia lakukan, jelas semua orang akan percaya. Setelah itu Luhan dan Taeyeon sama-sama membungkuk, meminta maaf pada perawat tersebut.

“Kau ini… dasar!”Luhan menjitak adiknya.

“Ah!! Jangan menjitakku seperti itu!”balas Taeyeon sambil mempoutkan bibirnya lucu.

Luhan tertawa. “Kau akan rindu dengan jitakanku jika suatu saat aku bekerja di luar negeri”

Taeyeon diam. Luhan memang bercita-cita untuk bekerja di luar negeri agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga mereka lebih baik lagi, dan tentunya untuk membiayai biaya rumah sakit Taeyeon. Dan jelas, Taeyeon akan sangat merindukan saat-saat seperti ini jika ia sudah tidak ada di dunia ini lagi.

Ah, ia jadi ingat perkataan Baekhyun. Waktunya tinggal 14 hari lagi. Setelah itu, ia tidak akan bisa memeluk Ibunya lagi, tidak akan bisa memukul Luhan lagi dan tidak bisa merasakan ciuman Ayah di kening ketika ia tidur.

“Taeyeon-a… kenapa kau menangis?”

Taeyeon baru sadar bahwa air matanya menetes saat Luhan mengatakannya. Ia meraba pipinya dan mendapati air disana, yang berarti ia benar-benar menangis. Saat ia menyadarinya, ia justru semakin ingin menangis. Ia menangis lebih keras lagi sambil menutupi wajahnya dengan dua tangannya.

“Taeyeon-a… ada apa?”tanya Luhan kaget. Ia memeluk Taeyeon dengan erat, menenangkan adiknya.

“A..Aku… aku…”ucap Taeyeon terbata.

“Ada apa?”tanya Luhan lagi, dengan nada yang lebih lembut.

“Aku… akan merindukanmu… saat aku sudah pergi nanti…”gumam Taeyeon kecil.

“Kim Taeyeon!”seru Luhan. Ia melepas pelukannya. “Kau tidak boleh berkata begitu! Sekali lagi kau berkata begitu aku akan menyita seluruh gadgetmu!”

“T..Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian… pikirkan kami yang mendengarnya Taeyeon-a. Pikirkan Eomma dan Appa”

Dan keduanya pun terdiam. Bahkan Baekhyun terdiam. Ia menatap keduanya dengan pandangan kosong, karena otaknya sedang berpikir keras.

Apa dulu dia juga begitu? Apa dulu ada orang yang mencegahnya mati? Apa ada orang yang peduli padanya?

Entah kenapa… Baekhyun ingin sekali mengetahui tentang semua itu.

Baekhyun menghela nafas dan meninggalkan mereka berdua untuk waktu privasi mereka. Ia pun memutuskan untuk melaksanakan misi keduanya.

Baekhyun menatap Kai yang sedang memperhatikan Kwon Yuri dari jarak dekat. Mungkin seharusnya Kai mengawasinya dari jauh. Kwon Yuri terlihat tidak bisa berkonsentrasi karenanya. Mungkin karena debu dari sayap Kai? Entahlah.

Baekhyun dapat melihat sang sutradara memarahi Kwon Yuri dan Kwon Yuri hanya dapat membungkuk sambil minta maaf. Setelah sutradara itu pergi, Kwon Yuri pun ikut beranjak dari sana menuju mobilnya. Dari sikapnya saja, Baekhyun tahu Kwon Yuri sangat kesal. Mungkin ia akan meledak-ledak dan biasanya yeoja yang tertarik pada seorang namja tidak akan membentak namja itu seperti yang Kwon Yuri lakukan sekarang.

Tunggu. Keduanya terdiam dan Kai menatap tajam kearah Kwon Yuri dan… Baekhyun yakin Kwon Yuri sedang merona. Hipotesanya kemarin mungkin benar.

Mereka bercakap-cakap kembali, dan setelahnya Baekhyun melihat Kai yang menghela nafas dan mengembangkan sayapnya. Ia pun terbang dan sepertinya akan pergi ke suatu tempat.

Baekhyun menyadari bahwa ia harus melaporkan ini pada Sooyoung. Baekhyun berdiam diri dan berkonsentrasi. Sepertinya latihannya berguna. Ia lebih mudah berkonsentrasi daripada kemarin.

“Nona Choi”

“Ya? Ada apa Baekhyun-a? Apa yang membuatmu menghubungiku tidak pada waktunya?”balas Sooyoung dengan santai.

“Aku baru saja memata-matai Kai. Dan sepertinya Kwon Yuri sudah meminta sesuatu dari Kai. Sekarang mungkin Kai akan pergi ke tempatmu”

Sooyoung tidak mengiyakan dan telepati mereka terputus. Pasti Kai sudah berteleportasi kesana. Baekhyun menghela nafas. Sekarang apa yang harus dia lakukan…?

Baekhyun mengepakkan sayapnya dan kembali terbang menuju kamar Taeyeon. Mungkin ia harus lebih banyak mengawasi Taeyeon. Bukankah itu juga tugasnya?

oOoOoOo

Taeyeon sedang memakan makan siangnya ketika Baekhyun datang ke kamarnya. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan Baekhyun yang sering datang lewat jendelanya. “Oh, kau datang lagi”ujar Taeyeon singkat lalu kembali makan.

“Tentu saja kembali. Kau adalah tanggung jawabku selama 15 hari terhitung dari kemarin”balas Baekhyun lalu duduk dikursi dekat tempat tidur Taeyeon.

Taeyeon mengedikkan bahu tak peduli lalu kembali memakan makanannya sambil menonton variety show Kwon Yuri dan Jung Krystal itu. Baekhyun juga ikut menatapnya dan sedikit kaget melihat wajah Kwon Yuri disana.

“Itu Kwon Yuri?”tanya Baekhyun.

Taeyeon menatap Baekhyun kaget. “Makhluk sepertimu pun tahu Kwon Yuri? Astaga, Kwon Yuri memang hebat, aku bangga menjadi penggemarnya”

Baekhyun ingin berkata bahwa ia mengetahui Kwon Yuri karena Kai adalah malaikat kematiannya. Atau, Baekhyun bisa berkata bahwa Kwon Yuri akan mati. Namun Baekhyun masih berbaik hati karena ia tahu Taeyeon pasti kaget dan sedih jika tahu.

“Seandainya dia akan mati sebentar lagi, apa yang akan kau lakukan?”Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Baekhyun.

Taeyeon diam dan menghentikan kegiatannya. Ia menoleh pada Baekhyun sambil memegang dadanya yang terasa begitu sesak. “Entah kenapa… setelah mendengarmu, aku jadi semakin takut dengan firasatku”

“Firasat apa?”tanya Baekhyun.

“Entah kenapa, mungkin karena aku terlalu menyukainya, dia sudah seperti bagian dariku. Belakangan ini, aku merasa dia akan pergi, dia akan hilang. Dan ketika kau bicara begitu… firasat itu justru semakin kuat…”jelas Taeyeon sendu.

Baekhyun diam, namun ia mengiyakan dalam hati. Kwon Yuri memang akan mati. Ia salut pada Taeyeon. Ia begitu menyayangi Kwon Yuri walau Kwon Yuri sendiri tidak mengenalinya. “Lalu, kalau itu benar, kau akan melakukan apa?”

“Aku… mungkin akan menemuinya… atau apa aku bisa meminta agar aku mati di hari yang sama dengannya?”ucap Taeyeon, tak terdengar bercanda di telinga Baekhyun.

“Kau bisa menemuinya, namun jika kau meminta mati di hari yang sama, kau akan dihitung bunuh diri”ujar Baekhyun.

“Bunuh diri? Kenapa?”tanya Taeyeon bingung.

“Kau dijadwalkan mati 14 hari lagi, dan jika kau mati dengan cara apapun itu, baik kau meminta mati, atau bunuh diri dengan menggunakan senjata yang malaikat maut miliki..”Baekhyun menunjukkan belati yang diberikan Sooyoung. “Sebelum hari ke 14 itu, kau akan dihitung bunuh diri dan langsung akan dimasukkan ke kategori malaikat maut paling rendah”jelas Baekhyun.

“Apa? Bukankah seharusnya setiap manusia masuk surga?!”seru Taeyeon kaget.

“Kau pikir dosa itu tidak ada hah? Manusia dengan dosa yang banyak jelas akan masuk neraka, manusia dengan dosa yang sedikit akan masuk surga. Namun manusia yang terpilih, atau yang mati karena dibunuh atau bunuh diri akan menjadi malaikat maut. Kau mengerti?”jelas Baekhyun sekali lagi.

Taeyeon ber-oh ria. Kemudian dia tersentak. “Tunggu. Aku meminta mati dihari yang sama dengan Kwon Yuri, dan kau tadi berkata bahwa itu dihitung bunuh diri. Berarti…”Taeyeon menatap Baekhyun dengan pandangan tak percaya. “Berarti Kwon Yuri akan mati sebelum aku mati?!”

Baekhyun mengerjapkan matanya kaget. Shit. Dia sudah mengatakannya secara tidak langsung. “Entahlah, aku juga tidak tahu”jawab Baekhyun asal.

“Ya! Jawab aku! Kau ini!!!”Taeyeon menjitak kepala Baekhyun dengan kuat, sehingga Baekhyun terjatuh dari kursi.

“Ya! Kau tidak perlu memukulku!”seru Baekhyun. Ia menatap Taeyeon dengan pandangan kesal. “Dasar gadis kasar!”

“Yak! Kau ini, jangan panggil aku gadis kasar, bodoh atau semacamnya! Aku punya nama! Kim Taeyeon! Kim Taeyeon!”umpat Taeyeon kesal.

“Aku tahu bodoh! Dari awal bertemu aku sudah menyebutkan namamu!”balas Baekhyun tak mau kalah

“Kalau begitu sebutkan namaku dengan benar!”

Baekhyun mendengus. Ia sudah terlalu kesal dan tidak ingin lagi membalas perkataan Kim Taeyeon. Ia memunculkan sayapnya lalu pergi terbang melalui jendela. Pemikirannya untuk pergi kesini salah. Seharusnya tadi dia berkeliling kota saja.

Baekhyun mendengus lalu terbang mencari Kai, dan untungnya, ia menemukan Kai disebuah restoran tepat dibawahnya. Ia mendarat sedikit jauh dari restoran itu dan mulai mengawasi gerak-gerik Kwon Yuri dan Kai.

Kai terlihat memakan makanannya dengan sedikit rakus, sementara Yuri memakannya dengan tenang. Baekhyun menggeleng-geleng. Kai terlihat seperti bocah saja. Kai dan Yuri mulai berbicara dan tiba-tiba Kwon Yuri mengelap bibir Kai dengan tisu.

Baekhyun membelalak ketika ia melihat pipi Kai yang merona merah. “Astaga, apa dia mulai tertarik dengan Kwon Yuri?”gumam Baekhyun tak percaya.

Mereka berbincang lagi dan tak lama kemudian Kai terlihat tersenyum tipis namun tulus pada Kwon Yuri. Astaga, Baekhyun tahu Kai sangat jarang menunjukkan senyum. Yang sering ia tunjukkan adalah smirk.

Ia memang harus melaporkan ini pada Sooyoung. Walau ia yakin Sooyoung pasti akan merasa sakit, khawatir dan marah.

oOoOoOo

“Hei”Taeyeon memanggil Baekhyun yang terlihat sangat berbeda pagi itu. Baekhyun terlalu sering melamun. “Gwenchana?”

“Gwenchana… tidak… ani. Gwenchana”jawab Baekhyun.

“Jawaban macam apa itu? Apa kau sedang stress?”tanya Taeyeon.

Baekhyun menghela nafas. “Entahlah. Hei, ini adalah hari ketiga. Waktumu tinggal 13 hari lagi. apa kau tidak mau mengajukan permintaan?”

Taeyeon berpikir sejenak. “Hmm… aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Bagaimana kalau aku meminta tambahan 100 permintaan?”

“Jangan bercanda”ujar Baekhyun sambil menghela nafas lagi.

Taeyeon mencibir. Malaikatnya ini tidak bisa diajak bercanda hari ini. Taeyeon menghela nafas dan menatap layar tv. Tiba-tiba dia membelalak. “Ah! Aku tahu apa permintaanku!”

Baekhyun menoleh, “Apa?”

“Baiklah, sebelumnya siapa namamu?”tanya Taeyeon.

“Apa itu permintaanmu?”tanya Baekhyun lagi.

“Tentu saja bukan”jawab Taeyeon dengan kesal.

Baekhyun terkekeh sedikit ketika melihat wajah kesal Taeyeon. “Byun Baekhyun. Lalu?”

“Baiklah, Byun Baekhyun. Hari ini aku ingin sehat. Aku ingin membeli merchandise Kwon Yuri, menonton shownya, berjalan-jalan diluar, aku ingin makan di restoran dan semua hal yang tidak boleh kulakukan selama aku sakit.”ujar Taeyeon.

Baekhyun tersenyum. “Keinginanmu adalah permintaan bagiku”ujar Baekhyun seperti Jin di film Aladdin

Taeyeon terkekeh. “Jangan membuatku tertawa.”

“Haha, baiklah, permintaanmu tinggal 2. Esok hari, kau akan langsung merasa fit”ucap Baekhyun.

“Tapi.. aku tidak akan dibolehkan pergi walau aku bilang aku sangat sehat…”gumam Taeyeon kecil.

“Kau tidak perlu bingung, aku akan mengurusnya”

oOoOoOo

Sesuai perkataan Baekhyun, Taeyeon memang sangat merasa sehat pagi itu. Ia bahkan bisa berlari lari mengelilingi kamar rawatnya sebanyak 15 putaran dan dia sama sekali tidak merasa lelah. Ia jadi bersemangat begitu ingat ia akan keluar rumah sakit hari ini. Ia mengambil baju terbaiknya yang ada di lemari dan memakainya.

Seperti yang ia perkirakan, Baekhyun datang dari jendelanya beberapa menit kemudian. “Kau siap?”

“Ya, aku siap.”ucap Taeyeon dengan senyum manisnya.

Baekhyun mengangguk-angguk. “Baiklah, setelah kau keluar dari sini, semua orang di rumah sakit ini akan mengira kau sedang tidur. Jadi cepatlah”

Taeyeon mengangguk. “Kau tidak ingin menjadi manusia dan menemaniku?”tanya Taeyeon.

Baekhyun terdiam, mengingat apa pesan Sooyoung saat ia bertelepati semalam. “Sebaiknya kau tidak menuruti permintaan untuk menjadi manusia. Kalau ia memintamu, lebih baik kau mengalihkan pembicaraan”

“Kau ingin cepat pergi atau tidak? Waktu berjalan”ujar Baekhyun, mengalihkan pembicaraan. Taeyeon mengangguk kembali, lalu mengambil tasnya.

Suasana kota yang sudah lama tak Taeyeon lihat. Udara kota yang sudah lama tak Taeyeon hirup. Ia merasa senang karena bisa keluar dari rumah sakit itu meski hanya sehari. Pertama-tama, ia masuk ke toko merchandise khusus untuk Kwon Yuri dan Jung Krystal. Disana Taeyeon membeli sebuah gelang dan jaket yang akan membuatnya merasa hangat.

“Kenapa kau tidak membeli yang berwarna biru saja?”tanya Baekhyun.

“Biru adalah simbol Jung Krystal. Sedangkan yang merah adalah simbol Kwon Yuri.”jelas Taeyeon singkat lalu mengambil yang berwarna biru. “Apa aku beli saja untuk Luhan Oppa?”

“Kurasa itu bukan ide yang buruk”saran Baekhyun.

Taeyeon diam sesaat dan menghela nafas. “Tidak, itu ide buruk”

“Kenapa?”tanya Baekhyun lagi.

“Biru adalah simbol Jung Krystal. Dan sebelumnya adalah simbol yang dipakai oleh partner Kwon Yuri sebelumnya yang juga tunangan Luhan Oppa. Im Yoona”ucap Taeyeon.

Baekhyun membelalak. Im Yoona. Yoona? Yoona yang itu? Yoona yang membawanya ke alam ini, yang mengantarnya ke Sooyoung? Astaga, kenapa dunia begitu sempit?

“Baiklah, aku akan membayarnya, setelah ini kita akan pergi membeli makanan ringan dan makan di restoran. Shownya dimulai sebentar lagi”Taeyeon berjalan menuju kasir, meninggalkan Baekhyun yang masih termangu memikirkan Yoona.

“Apa yang terjadi pada Yoona-ssi sampai-sampai dia bisa ada di kasta yang paling bawah?”gumam Baekhyun.

“Baekhyun?”Baekhyun beralih pada Taeyeon yang ada dihadapannya.

“Ya?”jawab Baekhyun kecil.

“Kurasa kita harus langsung pergi ke shownya. Ini sudah jam 12 dan shownya dimulai sebentar lagi”

Baekhyun mengiyakan, namun pikirannya masih terpaku pada Yoona dan penyebabnya berada di kasta paling bawah dan tidak menjadi budak. Bahkan saat Taeyeon bertepuk tangan untuk para artis yang sudah menyelesaikan aksi panggung mereka, bahkan saat suara yang begitu besar membuatnya sulit mendengar dan berkonsentrasi, ia masih memikirkannya karena dia sangat penasaran.

“Ya!! Byun Baekhyun!”seru Taeyeon diantara kebisingan.

Baekhyun menoleh namun tidak berhenti memikirkan Im Yoona.

“Itu Jung Krystal dan Kwon Yuri”tunjuk Taeyeon dengan senyum manis yang merekah di wajahnya.

Baekhyun terbang agar dapat melihat lebih jelas dan mendapati 2 orang yeoja di atas panggung. Yang satu berambut merah dan yang satu lagi berambut cokelat. Ia mengenali Kwon Yuri dan entah kenapa ia merasa melihat Yoona disebelah Yuri. Ah, memang sepertinya Jung Krystal mirip dengan Yoona.

Tunggu.

Jung Krystal.

DEG!

Jantung Baekhyun seperti berhenti sejenak lalu rasa sakit menyerang kepalanya. Rasa sakit itu membuatnya berteriak dan tangannya bergerak mencengkram rambut rambutnya dengan kuat, berusaha mengurangi rasa sakit itu meski itu sangat sia-sia.

Di tengah-tengah rasa sakit yang sedang ia rasakan, ia ingat perkataan Sooyoung yang yeoja itu ingatkan padanya setiap saat.

“Saat kau merasa sakit, atau saat kau merasa aneh dan butuh pertolongan. Sebutkan nama Kai dan saat itu juga dia akan datang dan membawamu padaku”

“K..Kai…”

TBC for This Part

Hai para readers-_- sepertinya part BaekYeon bakal panjang banget, aku sengaja bikin 2 part biar gak terlalu panjang.

Seperti biasa, yang ini maksa banget ya alurnya? Wkwkwk, tapi kuharap kalian suka.

Soal plagiarisme yang terjadi… aku turut prihatin. Dan well, rada kesel juga. Aku gak tau siapa si plagiat itu, tapi sumpah demi Tuhan, aku gak pernah ngeplagiat, paling terinspirasi doang’-‘

Buat yang nungguin me, and my husband, aku seneng banget nih ada yang nungguin. Kamsahamndia~ setelah ini, aku bakal ngelanjut yang itu kok… tungguin yah..

RCL~

63 thoughts on “[Freelance] Tales of The Death Angels – Baekyeon (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s