[Freelance] Me and My Husband (Chapter 11)

Me and My Husband 9 Me, and My Husband 11

 

Me, And My Husband (Chapter 11)

Author             :  _agrn

Main Cast        : Yoona, and Sehun

Other Cast       : Seohyun, EXO K,

Genre              : Romance, Marriage Life, Friendship, Family

Rate                 : PG 16

Length             : Multichapter

A/N                 : Hai kalian semuanya~ aku balik lagi setelah sekian lama~ makasih banget buat yang mau nungguin, aku seneng banget ><

FF ini sebentar lagi bakal selesai, dan aku bakal bikin yang baru, semoga kalian suka ya J

DON’T LIKE DON’T READ, Happy Reading

oOoOoOo

Yoona menghela nafasnya. Saat ia bangun tadi pagi, ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Sehun di rumah. Dan ketika ia tanya pada Ahn Ahjumma, dia bilang bahwa Sehun tidak pulang ke rumah.

“Eonni”

Yoona menatap Seohyun yang duduk di hadapannya. Begitu melihat bangku disebelah Seohyun yang berarti bangku Kai, Yoona semakin khawatir pada Sehun. Ia menatap bangku yang ada disebelahnya dengan pandangan miris.

“Eonni, Sehun pasti baik-baik saja”ujar Seohyun berusaha menenangkan.

“Tidak Seohyun-a. Aku tidak yakin. Dia tidak pulang semalam dan sekarang dia tidak ada disekolah. Aku khawatir, sangat khawatir”ujar Yoona sambil menghela nafasnya sekali lagi.

“Jangan berpikiran buruk dulu Eonni, apa kau sudah mencoba menghubunginya?”

“Aku sudah mencoba meneleponnya dan mengiriminya pesan, tapi tak ada satupun yang diangkat atau dibalasnya”jawab Yoona.

“Dia mungkin sibuk. Sepertinya masalahnya sangat serius”ucap Seohyun.

“Apa mungkin karena kelakuanku pada Jung Hyemi?”tanya Yoona lebih pada dirinya sendiri.

“Tidak mungkin Jung Hyemi bisa menghancurkan perusahaan Sehun. Justru sebaliknya, Sehunlah yang bisa menghancurkan Jung Hyemi, Eonni. Lagipula anak itu sepertinya kapok. Kau tidak perlu khawatir soal dia.”Seohyun kembali menenangkan Yoona. “Cobalah menghubunginya dan berdoalah agar semuanya baik-baik saja. Minta persetujuan Ayahmu untuk membantunya. Well, aku yakin Ayahmu akan membantu”

Yoona menghela nafas lagi. Ia tidak menjawab Seohyun. Sejujurnya ia ragu. Kalau Ayahnya mau, dia pasti sudah langsung membantu Sehun setelah ia mendengar kabarnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi dan dia memang harus memastikannya. Ia akan pergi ke rumahnya dulu, Ayah dan Ibunya pasti ada disana.

Bel berbunyi dan segelintir anak yang masih ada di luar langsung masuk ke dalam kelas. Mereka duduk di bangkunya dan mengobrol dengan teman-teman mereka. Kai masuk, dan langsung duduk di bangkunya tanpa memperdulikan sapaan-sapaan para penggemarnya, kebiasaan yang tak bisa Kai ubah. Namja itu duduk disamping Seohyun lalu menelungkupkan kepalanya diantara dua tangannya. Posisi nyaman untuk tidur.

Yoona menghela nafas entah untuk yang keberapa kalinya. Apa ia juga tidak bisa mendapat klu dari Kai? Yoona melirik bangku yang ada disebelahnya dan mengelus mejanya. “Kuharap kau hadir disini”batinnya.

Ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ia mengetikkan beberapa kata dan mengirimnya ke nomor Sehun.

“Apa kau tidak melupakan sarapanmu? Jangan sampai kau lupakan. Sarapan itu sangat penting. Aku tidak ingin kau sakit. Semoga masalahmu cepat selesai”

Begitulah isi pesan Yoona, dan Yoona segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia tidak bisa berbohong bahwa ia tidak menantikan balasan Sehun, tapi ia akan berusaha tidak menantikan jawaban Sehun karena ia harus fokus pada pelajaran.

Tepat ditengah-tengah pelajaran, ponsel Yoona bergetar tanpa suara dan Yoona segera mengambilnya. Ia menahan nafasnya ketika melihat nama siapa yang tertera di layarnya. Oh Sehun. Wajahnya memerah dan matanya terasa pedih. Yoona membukanya tanpa peduli jika gurunya akan menyita atau memarahinya. Ia yakin sekali guru itu tidak akan berani padanya. Bukannya ia sombong, ia sedang mengatakan fakta sekarang.

“Aku melewatkannya, tapi aku akan mencari makan setelah ini. Kuharap masalah ini juga selesai dengan cepat.”

Begitulah balasan Sehun, dan Yoona tak bisa menahan dirinya untuk membalas pesan Sehun.

“Cepat carilah makan. Apa kau lelah?”

Tak butuh waktu lama bagi Yoona untuk merasakan getaran tanda pesan masuk pada ponselnya. Ia kembali menemukan nama Oh Sehun pada layarnya. Senyumnya mengembang. Sepertinya ia tidak akan memperhatikan pelajaran. Ia lebih akan memperhatikan setiap balasan dari Sehun.

“Aku memang sedikit lelah. Apa kau tidak sekolah?”

“Aku sekolah. Aku akan membuatkan catatan untukmu.”

“Bagaimana kau akan membuatnya jika kau terus membalas pesanku?”

“Apa aku tidak boleh membalasnya? Aku bisa merangkum catatan Seohyun”

“Aku merindukanmu”

Yoona membelalak dan sekali lagi menahan nafasnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat membaca dua kata tersebut. Sehun merindukannya. Sehun merindukannya walau belum tepat 1 hari dia tidak bertemu dengan Yoona.

“Aku juga. Aku juga merindukanmu”

Sehun, kau tak tahu bagaimana tangan Yoona bergetar ketika membalas pesanmu. Kau tidak tahu bagaimana Yoona berusaha menahan tangis bahagianya karena 2 kata-kata sihirmu itu.

“Perhatikanlah papan tulis dan buatkan aku catatan. Jangan merangkum milik Seohyun, aku ingin yang benar-benar hasilmu.”balas Sehun kemudian.

“Dasar cerewet”

Dan Sehun tak membalasnya lagi. Mungkin ia sedang makan atau sedang mengerjakan sesuatu. Tidak apa, Yoona tidak marah. Ia sudah cukup bahagia karena obrolan singkatnya dengan Sehun tadi. sekarang ia harus menyelesaikan tugas dari suaminya itu.

Membuatkan catatan.

oOoOoOo

Seperti yang sudah Yoona rencanakan tadi, dia pergi ke rumahnya. Rumah kedua orang tuanya tepatnya. Ia masuk dan segera menemukan Ayah dan Ibunya sedang berbincang di ruang keluarga. Keduanya terkejut dan berdiri. Yoona tahu keduanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

“Kau ternyata Yoona-a… kau tidak bilang akan pulang.” Ibunya mendekatinya dan memeluknya penuh rasa sayang. Tapi Yoona masih yakin Ibunya menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin membuatnya curiga.

“Aku hanya ingin meminta sesuatu pada Ayah”ujar Yoona dan memandang Ayahnya. Harus ia akui, ia sedikit takut ketika menghadapi kontak mata dengan laki-laki yang ia panggil Ayah itu.

“Apa kau akan meminta bantuan untuk perusahaan Oh?”tanya Ayahnya sembari duduk kembali. Nada Ayahnya memang terdengar santai, tapi masih terasa kesan intimidasi dan tegas disana. Memang khas Ayahnya.

Yoona duduk tak jauh dari Ayahnya diikuti Ibunya. Memang tidak sopan bicara sambil berdiri seperti itu. Apalagi ini pembicaraan yang cukup serius. “Ne, aku ingin meminta Ayah membantu mereka. Aku yakin Ayah sudah mendengar beritanya”

“Tidak”

Yoona membelalak ketika satu kata itu keluar dari bibir Ayahnya. Tidak? “Kenapa? Kenapa tidak Ayah? Perusahaan Oh yang sedang kesulitan. Perusahaan yang memiliki hubungan dengan kita. Perusahaan suamiku Ayah..”ucap Yoona lirih. Entah kenapa kalimat terakhir itu meluncur keluar dari bibir Yoona tanpa rasa canggung.

Sang Ayah menatap Yoona dalam. “Kami menjodohkanmu agar perusahaan kita semakin kuat. Agar kita menjadi perusahaan terkuat didunia ini. Namun, jika mereka hancur seperti itu, tidak perlu lagi aku menjodohkanmu dan anak mereka. Tak ada guna lagi aku membantu mereka. Lebih baik kalian bercerai saja dan kau bisa saja dijodohkan dengan anak dari perusahaan Wu”

Yoona mengepalkan tangannya erat. Ia menatap Ayahnya dengan mata yang telah terasa pedih, menahan rasa sedih dan sakit hatinya. “Jadi Ayah melakukannya hanya demi uang? Hanya demi kekuasaan? Apa Ayah tahu kelakuan Ayah itu membuatku seperti alat untuk mewujudkan keinginan Ayah itu? Tega sekali… Ayah menjalin hubungan dengan perusahaan Sehun lalu membuang mereka seperti sampah saat mereka hancur?!”nada Yoona semakin naik seiring dengan emosi yang menguasainya.

“Yoona.. tenanglah”Ibunya menggenggam tangan Yoona, berharap anaknya itu kembali duduk. Namun Yoona menepisnya.

“Aku selalu menuruti kehendak Ayah, selalu melakukan yang terbaik agar Ayah bangga dan senang terhadapku. Bahkan ketika Ayah menjodohkanku aku mengatakan iya agar Ayah senang! Aku menjalani kehidupan dengan Sehun yang awalnya sama sekali tidak kusukai! Bahkan aku pernah berpikir untuk bercerai dengannya! Tapi saat aku sudah mencintainya, saat aku ingin selalu bersamanya, Ayah ingin memisahkan kami? Apa Ayah tidak memikirkan hatiku?”ujar Yoona lagi.

“Jangan bicara omong kosong Yoona. Kau masih terlalu muda untuk membicarakan cinta! lagipula kau tidak hamil, jadi itu tidak masalah”jawab sang Ayah santai.

“Jadi apakah aku harus hamil dulu baru Ayah tidak akan memisahkan kami?”tanya Yoona dengan nada datar yang tidak pernah ia tunjukkan pada Ayah dan Ibunya, membuat kedua orang tuanya terkejut dan mendengarnya.

“Aku akan membunuh Oh Sehun beserta keluarganya jika dia berani menghamilimu Yoona”ucap sang Ayah dengan nada rendah yang berbahaya.

Namun Yoona menghadapinya dengan raut santai dan justru memberikan senyuman sinis yang mengejek. “Ayah terlambat.” Yoona mengelus perutnya pelan. “Disini… sudah ada calon cucumu Ayah. Maka dari itu angan coba-coba membunuh keluarga Oh Ayah, apa Ayah ingin cucu Ayah hidup tanpa Ayah, dan Anak Ayah menderita karena tak memiliki suami? Aku juga tidak akan melakukan aborsi Ayah. Aku terlalu mencintai calon anakku ini”

Kedua orang tuanya membelalak dan menggumamkan ketidak percayaan mereka. Yoona kembali memperjelas smirknya dan membalikkan badan menuju pintu.

Sebelum ia meninggalkan ruang keluarga, ia berbalik lagi sambil tetap memberikan smirknya. “Jangan berani membunuh keluarga Sehun Ayah, atau mungkin kau akan kehilangan aku, beserta calon cucumu ini.”

Kemudian ia kembali berjalan meninggalkan rumahnya. Yoona menghela nafasnya. Ia tidak tahu apa keputusan yang ia ambil ini benar, namun ia sudah membulatkan tekadnya. Ia harus mengambil tindakan ini. Semua ini demi Oh Sehun dan dirinya sendiri.

oOoOoOo

Sehun membuka pintu rumah dan tidak menemukan siapapun disana. Tidak ada Yoona, tidak ada Ahn Ahjumma. Aneh, ini sudah lewat jadwalnya Yoona pulang dari sekolah dan sampai ke rumah. Tapi kemana dia?

Sehun menatap meja di ruang tamu tempat favoritnya sekarang, dan menatap sebuah diary dan sebuah buku catatan yang terselip diantara bantal-bantal di sofa.

Sehun mengeryitkan alis. “Apa Yoona baru saja dari sini?”batinnya. I duduk di sofa dan mengambil buku yang ada di sofa. itu buku catatan. Kimia, pelajaran pertama untuk hari ini dan ia yakin inilah buku catatan Yoona untuknya. Sehun membuka lembar pertamanya dan segera mengeryit heran lagi.

Basah. Lembar itu basah dengan tetes-tetes air. Saat itu, Sehun menarik kesimpulan, bahwa Yoona menangis. Ia menghela nafasnya. Ia yakin Yoona sudah mendengar kabar dari orang tuanya juga.

Sehun tadi sudah mendengar dari orang tuanya tentang permintaan cerai dari orang tua Yoona. Tanpa ditanya alasannya, Sehun sudah tahu. Ia tadi berharap agar Yoona tidak mendengarnya, ia tidak mau Yoona menangis, tapi ternyata…

Sehun menutup buku yang ia pegang dan beralih pada diary yang ada di meja. Sejauh yang ia tahu, Yoona tidak akan meninggalkan diary-nya sembarangan. Mungkin tadi dia buru-buru pergi dan lupa membawa catatan ini serta diary-nya.

Sehun membawa diary itu ke kamarnya. Ia duduk di tempat tidurnya dan mengambil sebuah kunci dari laci mejanya. Kunci yang ia temukan saat akan menyelamatkan Yoona dulu. Kunci diary Yoona. Mungkin Yoona memiliki kunci lain, tapi setidaknya Sehun memiliki kunci yang sama.

Seperti yang Sehun duga. Gemboknya terbuka dan Sehun mulai membaca isinya.

 

Oh Sehun sialan, selama pesta ia meninggalkanku dan orang tua-orang tua bodoh itu. Belum lagi saat aku sampai di rumah ini, dia ternyata sudah enak-enakan tidur. Sialan!

Dan apa ini?! Lemariku penuh dengan benda menjijikkan bernama lingerie? Ibu benar-benar membuatku gila.

 

Sehun tertawa ketika mengingat kejadian-kejadian itu. Apalagi ketika ia tahu alasan Yoona memakan potongan kain kekurangan bahan itu. Sehun membolak-balik halamannya dan menemukan halaman yang ia menurutnya cukup menarik.

 

Oh, ternyata dalang dari 3 yeoja itu Jung Hyemi ini. Tak heran mereka bertiga konyol, ternyata atasannya juga konyol. Aku bingung kenapa Oh Sehun begitu tahan berada di dekat yeoja ini. Yeoja itu sangat manja dan aku sampai ingin muntah melihat kelakuannya.

Tapi sepertinya Oh Sehun biasa-biasa saja, apa dia menyukai Jung Hyemi? Entahlah, tapi aku merasa tidak enak ketika mengatakannya. Ada apa ya?

 

Sehun terkekeh. Jadi mulai dari sini Yoona merasa cemburu atas Hyemi. Sehun membolak-balik halamannya hingga sampai ke halaman terakhir. Dihalaman terakhir, Sehun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak merasakan sakit juga.

 

Ottokhae? Ayah begitu tega membuatku harus berpisah dengannya. Tak tahukah dia seberapa aku mencintai Sehun? Tak tahukah dia betapa aku ingin selalu berada disamping Sehun? Siapa sebenarnya yang pertama memulainya? Siapa yang membuatku bertemu dengan Oh Sehun?

Aku tidak tahu apakah keputusan yang kubuat tepat. Kurasa aku harus menanyakannya pada Seohyun. Tapi keputusanku memang sudah bulat, ini demi aku dan Sehun.

Sehun-a, saranghae.

oOoOoOo

Seohyun menatap mobil milik Yoona yang sudah menjauh dari halaman depan rumahnya. Seohyun menghela nafas dan duduk di kursi belajarnya.

“Aku tidak pernah menyangka ia akan melakukan hal senekat ini”gumam Seohyun lalu berdoa “Semoga Eonni bisa mendapatkan yang terbaik. Semoga mereka berdua tetap bersama”

Ponsel Seohyun tiba-tiba berbunyi dan bergetar, membuat Seohyun segera menoleh dan mengangkat telepon yang masuk tanpa melihat siapa yang menelepon. “Ne? Yoboseo?”ujar Seohyun.

“Ini aku, Seohyun-a. Sedang apa?”

Seohyun menahan nafasnya dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ini Suho. Entah kenapa, ia selalu seperti ini saat Suho berbicara atau meneleponnya. Bahkan pesan dari Suho pun membuat wajahnya memerah.

“A..Aku sedang belajar. Oppa sedang apa?”jawab Seohyun. Ya, dia memang tak belajar, tapi dia memang berniat belajar.

Suho sepertinya terkekeh disana. “Aku ada di depan kamarmu”

Seohyun membelalak. Ia segera berdiri dan membuka jendelanya. Benar saja, ia langsung dapat melihat Suho bersender pada tembok tetangga depannya sambil menatapnya dengan ponsel ditelinganya.

“T..tunggu aku. Aku akan kesana”ujar Seohyun sambil berlari keluar kamarnya. Ia tak lupa mengenakan jaket dan menuruni tangga. Ia berseru pada keluarganya bahwa ia akan menemui temannya yang ada di luar, lalu keluar dari rumah.

Ia berhenti didepan Suho yang tersenyum menatapnya. “A..Ada apa malam-malam datang kemari?”tanya Seohyun.

Suho kembali menyunggingkan senyuman malaikatnya. “Kau bisa menjauhkan dulu ponselmu Seohyun-a”

Seohyun tersentak dan baru sadar kalau dia masih menempelkan benda itu ke telinganya. Ia langsung menjauhkannya. “Mianhamnida…”

“Sudah kubilang, jangan terlalu formal padaku Seohyun-a”ucap Suho lagi. Senyumnya masih tersungging.

Seohyun semakin merasa bersalah saat ia membandingkan senyum itu dan senyumannya saat itu.

FLASHBACK

“Aku… pasti akan menjagamu dan selalu membuatmu tersenyum. Aku… aku menyukaimu, Seo Joo Hyun”

Seohyun membelalak mendengar penuturan Suho padanya. Ia tahu ia sudah berniat melupakan Yonghwa, tapi, tak tahukah Suho? Pulih dari cintamu yang hancur pada seseorang itu sulit. Dan sekarang… kenapa dia justru nekat mengatakan hal yang akan membuat beban Seohyun bertambah?

“Aku tahu ini mendadak dan aku sangat nekat mengatakannya, tapi… bisakah kau mempertimbangkanku?”tanya Suho sekali lagi.

Seohyun menggigit bibir bawahnya, lalu memegangi dadanya yang semakin sakit saja. Bebannya sungguh berat sekarang, ia butuh Yoona yang pasti akan membantunya. “M..Mianhae Oppa… a..aku..”

“Sssh… sudah. Tidak usah kau lanjutkan lagi. Kau pasti merasa berat kan? Aku memang salah sudah menambah berat bebanmu sekarang Seohyun-a, maafkan aku…”ujar Suho dengan senyumnya. Ia mulai menjauh dari Seohyun dan berniat pergi.

Namun Seohyun justru semakin sakit ketika melihat senyum Suho yang begitu dipaksakan dan Seohyun bisa merasakan kekecewaan dan kesedihan disana. Entah kenapa, Seohyun justru berlari dan menahan lengan Suho, membuat namja itu membalikkan badannya dan menatap Seohyun bingung.

“Ada apa Seohyun-a?”tanyanya sedikit khawatir melihat raut Seohyun yang makin kacau saja.

“M..mungkin sekarang aku belum bisa membuat keputusan… namun… bisakah kau membantuku?”tanya Seohyun sambil menatap Suho dengan tatapan memohon.

Suho tersenyum, senyum yang memang menenangkan layaknya senyum malaikat. Namja itu memeluk Seohyun lagi. “Ya, aku akan membantumu”

FLASHBACK Off

Sejak saat itu, mereka berdua semakin dekat. Mereka sering berkirim pesan dan menelpon. Mereka juga sering makan berdua, bahkan jalan-jalan pada hari libur. Harus Seohyun akui, dia sangat senang dengan semua itu. dari Suho dia bisa mengetahui apa yang belum ia ketahui, ia juga bisa lebih dewasa dari biasanya.

“Jadi, apakah tadi mobil Yoona yang baru saja dari sini?”tanya Suho.

“Ya, dan dia mengambil keputusan yang paling aneh yang pernah kudengar”jawabnya.

“Maksudmu?”

Seohyun menatap Suho lekat-lekat. “Orang tua Yoona meminta mereka berdua cerai karena perusahaan Sehun sedang berada dalam ambang kehancuran. Tentu saja Yoona tidak akan menyetujuinya. Ayahnya bilang itu tidak masalah karena mereka masih muda dan belum melakukan hubungan suami isteri. Namun Yoona justru nekat…”

“Nekat apa yang kau maksudkan Seohyun-a?”tanya Suho lagi dengan raut khawatir.

“Ia berbohong, sebelum ia pergi dari sana, ia berkata bahwa ia hamil. Padahal Ayahnya sudah bilang ia akan membunuh Sehun jika namja itu berani menyentuh Yoona. Tapi ia mengancam kedua orang tuanya agar tidak membunuh Sehun. Ia bilang dia akan mati bersama calon anaknya jika Sehun terbunuh”ujar Seohyun lagi tanpa menatap Suho.

“Kenapa dia berani melakukan kebohongan separah itu”gumam Suho.

Seohyun menghela nafas. “Ya, dan aku yakin kau pasti tahu apa keputusan yang ia ambil…”

Suho menatap Seohyun dengan mata membelalak. “Apa dia…”

oOoOoOo

Sehun menghela nafas dan membuka pintu rumahnya. Setelah tadi siang, ia baru kembali malam harinya dari kantor. Ternyata masalahnya merambat hingga cabang-cabang lainnya. Dan cabang yang berada di cina adalah yang paling parah.

Sehun dapat mencium aroma yang begitu wangi yang berasal dari lantai 2. Tepatnya berasal dari kamar mereka berdua. Kamar Sehun dan Yoona. Ia yakin yang menyalakan lilin aromaterapi itu adalah Yoona. Siapa lagi. tapi, untuk apa yeoja itu menyalakannya? Ia ingat sekali, lilin itu adalah lilin yang disiapkan orang tuanya untuk malam pertama mereka waktu itu. Ada-ada saja.

Sehun mengetuk pintu kamar itu. “Yoona? Kau didalam?”

“Ya, aku didalam”Sehun mendengar jawaban Yoona. Sehun membuka pintunya dan dia bisa melihat beberapa lilin aromaterapi memang menyala di sudut kamarnya. Yoona sendiri sedang berbaring di tempat tidurna dengan selimut yang menutupi hingga dagunya. Ia berbaring membelakangi Sehun. Dari pintu masuk pun, Sehun tahu kalau Yoona kedinginan karena badannya yang gemetar.

Sehun berjalan menuju tempat tidur dan duduk disana. Ia mengguncang tubuh Yoona “Kau tidak apa-apa? Kau kedinginan”ujarnya.

Yoona tak menjawab, namun ia tetap gemetar. Sehun merasa de javu. Saat pertama kali mereka tidur disini, Yoona juga gemetar karena ia hanya memakai sepotong kain. Sehun membelalak. “Jangan katakan apa yang kupikirkan ini benar”batinnya.

“Im Yoona. Apa kau…”

Perkataan Sehun terpotong saat tiba-tiba Yoona bangun dari tidurnya, berbalik, lalu menangkup wajah Sehun. Detik berikutnya bibir Yoona telah menempel di bibir Sehun. Membuat namja itu kembali membelalak untuk beberapa detik dan kembali sadar saat Yoona menggigit bibirnya. Sehun mendorong Yoona dengan kedua tangannya namun tangannya tetap berada di bahu Yoona, menjaga agar Yoona tak terjatuh.

“Ada apa dengan…”

Sekali lagi Yoona melumat bibir Sehun penuh nafsu, dan sekali lagi Sehun menjauhkan Yoona darinya.

“Ada apa denganmu, Im Yoona!!!”seru Sehun. Ia memasati Yoona yang tidak menatapnya, dan baru sadar bahwa Yoona memang memakai lingerie. Potongan kain yang sama. Potongan kain yang membuat tubuhnya terekspos dengan jelas, membangkitkan nafsu Sehun yang untungnya berhasil Sehun tahan.

“Kau.. kau tidak seperti ini. Ada apa denganmu?”tanya Sehun lagi.

Kali ini Yoona menatap mata Sehun. “Aku hanya ingin melakukannya. Aku ingin melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh Suami dan Istri. Aku ingin kau dan aku menjadi satu. Aku ingin mempunyai bayi lucu yang dapat menghiburku”jawab Yoona.

“Jangan bercanda. Kita masih sekolah, dan aku tidak akan membiarkanmu mengandung!”balas Sehun dengan nada yang ia tinggikan.

“Apa aku tidak cukup Oh Sehun?”

Pertanyaan tiba-tiba Yoona membuat Sehun diam dan berkata “Apa?” untuk meminta pengulangan.

“Apa aku tidak cukup untuk memuaskanmu? Apa dengan baju ini aku tidak cukup untuk membangkitkan hasratmu agar kau menyentuhku?”Yoona menyentuh tangan Sehun yang berada di bahunya. “Sentuh aku sekarang, Oh Sehun. Kumohon…”

Sehun menggigit bibir bawahnya. Yoona tidak tahu Sehun sudah mati-matian untuk tidak menyerangnya saat itu juga. Baju itu terlalu mengekspos tubuhnya. Dan itu sangat membangkitkan nafsu Sehun. “Jangan berbohong lagi Yoona, katakan padaku, apa alasanmu sebenarnya untuk memintaku melakukannya? Kau bukan orang yang akan melakukan ini sebelum waktunya bukan?”

Yoona tak bisa menahan air matanya lagi. Air matanya tumpah mengingat ia telah membohongi kedua orang tuanya dan memaksa Sehun untuk melakukan hal itu dengannya. “A..Aku.. Aku hanya ingin melakukannya Sehun… aku ingin agar kau menjadi milikku seutuhnya…”gumamnya diantara isakannya.

Sehun merasa sakit saat melihat Yoona menangis. Dan ini karenanya, lagi-lagi karenanya. Sehun menangkup wajah Yoona. “Yoona, dengarkan aku… tatap aku”

Yoona menatapnya dan Sehun kembali melanjutkan kata-katanya dengan nada yang lebih lembut. “Beri tahu aku, apa alasan sebenarnya, dan apa keputusanmu? Apa yang akan kau lakukan agar kau dan aku tetap bersama?”

“Aku… Aku bilang pada Ayah, bahwa aku hamil. Agar Ia tidak membuatmu dan aku bercerai. Aku mengancamnya, aku bilang aku akan bunuh diri jika dia membunuhmu dan keluargamu. Aku melakukannya agar kau dan aku tetap bersama…”ucap Yoona pelan dan kecil.

Sehun menghela nafas mendengar keputusan ceroboh yang diambil oleh Yoona. “Maka dari itu kau ingin aku melakukannya sekarang? Agar kau benar-benar hamil dan Tuan Im tidak membunuhku?”

Yoona mengangguk dengan pasti. “Kumohon Sehun-a, lakukanlah. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Jika itu masalah sekolah, itu bisa kuatasi. Aku bisa sekolah di rumah, dan tentang kuliah, aku bisa menunda kuliahku. Aku juga tidak keberatan kuliah sambil mengandung. Kumohon lakukanlah sekarang Sehun-a”

Sehun mendorong Yoona ke tempat tidurnya, membuat Yoona berbaring dan Sehun berada diatasnya. “Kau yakin? Apa kau tidak akan menyesal?”

Yoona menggeleng dan menyunggingkan senyum tipis. “Ya, aku tidak akan menyesal.”

oOoOoOo

Sehun bangun di pagi harinya dan menemukan seorang yeoja masih berada di pelukannya. Ia tersenyum tipis mengingat kejadian semalam dan mengelus pipi yeoja itu.

“Yoona, bangunlah”ujarnya lembut.

Yoona mengerang lemah dan memeluk Sehun lebih erat, membuat namja itu terkekeh. Mungkin Yoona mengiranya sebagai guling. “Dasar, sejak kapan kau berubah lebih manja huh?”

Yoona membuka matanya dan menatap Sehun. “Selamat pagi”gumam Yoona lalu menutup matanya lagi, berusaha tidur kembali.

“Ya! Jangan tidur lagi, apa kau tidak sekolah?”tanya Sehun sambil mengelus rambut Yoona penuh kasih sayang.

“Kau pikir aku bisa sekolah dengan tubuh yang sakit semua seperti ini, kau bermain kasar”ujar Yoona mengejek Sehun. Ia melepas pelukannya dan berbalik memunggungi Sehun.

Sehun kembali terkekeh. “Lain kali aku akan bermain lebih lembut, chagi”Sehun memeluk Yoona dari belakang dan mencium tengkuk Yoona, Sehun menatap tanda-tanda kepemilikan yang ia buat semalam dan kembali tersenyum.

“Arraseo. Sekarang keluarlah, aku akan mandi lalu membuatkan sarapan. Hari ini ahjumma tidak datang.”Yoona mendorong dorong tubuh Sehun.

“Ya! Kenapa kau tidak pergi ke kamar mandi saja sekarang, tidak usah malu. aku juga sudah melihat keseluruhannya kok.”Sehun menyunggingkan smirknya.

Yoona menatap Sehun tajam lalu melemparkan bantal padanya. “Dasar namja yadong”

Sehun tertawa, namun dia segera mengambil celananya, memakainya dan keluar dari kamar itu. mau bagaimana pun, ia akan menghargai martabat Yoona.

Yoona sendiri menghela nafas dan terkekeh pelan. Sehun sudah mulai ceria, dan semoga saja masalah itu tidak lagi membuatnya stress.

Yeoja itu bangkit dari tempat tidurnya, mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi. Setelah itu ia merapikan tempat tidur dan juga kamar itu. Ketika kamar sudah rapi Yoona melirik kearah seprai yang semalam ia pakai. Ada bercak darah disana. Senyum Yoona mengembang. Ia mengelus perutnya. “Semoga kau tumbuh disana…”

“Yoona”panggil Sehun dari luar kamar.

“Ya?”jawab Yoona. Ia membuka pintu dan menatap kearah Sehun.

“Ahn Ahjumma datang, dia bilang dia akan membuatkan makanan dan pulang. Ia tidak ingin kita tidak makan katanya”ujar Sehun.

Yoona mengerucutkan bibirnya. “Padahal aku ingin membuatkanmu makanan…”

Sehun mengacak rambut Yoona dan tersenyum. “Kita bisa melakukannnya kapan-kapan Yoona”hiburnya lalu membimbing Istrinya itu kearah dapur, tempat dimana makanan sudah tersaji.

“Sehun-a, ayo makan di ruang keluarga saja. Di depan televisi. Aku ingin menonton drama yang diputar pagi-pagi. Aku jarang menontonnya. Kau tidak pergi ke kantor hari ini kan?”tanya Yoona.

Sehun menggeleng. “Aku tidak ke kantor. Tunggulah disana dan aku akan membawakan makanan untukmu.”

Yoona mengangguk patuh dan berjalan keluar dapur. Sehun menghela nafas. Ia harus menemani Yoona seharian ini, karena mulai besok, ia tidak akan bisa menemani yeoja ini lagi.

Sehun membawakan nampan dengan makanan menuju ruang keluarga. Yoona sudah duduk di sofa dengan tenang dan menonton drama yang tadi ia sebutkan. Sehun meletakkan nampan itu di meja dan memperhatikan raut Yoona yang sangat serius. Sepertinya yeoja itu tidak sadar akan kehadirannya.

Sehun terkekeh lalu mengambil sesendok nasi. Ia langsung menyumpalkannya kedalam mulut Yoona yang terbuka karena drama tersebut, membuat sang pemilik mulut terkejut dan menatapnya dengan marah.

“Ya!!!!”seru Yoona. Ia mengambil bantal dan memukul-mukuli Sehun. “Panas! Kenapa kau tidak meniupnya dulu Sehun-a”lanjutnya sambil mengipas-ngipas lidah.

Sehun tertawa. “Makanya, makanlah dulu. Atau kau bisa makan sambil menonton drama itu”tegur Sehun lalu menyerahkan mangkuk nasi Yoona.

Yoona mengambilnya sambil tersenyum. Ia senang dengan tingkah manis dan tingkah perhatian Sehun padanya. “Kau juga, makanlah”

Sehun menggeleng, membuat Yoona bingung. “Suapi aku”

“Kau tadi memintaku makan tapi kenapa sekarang kau memintaku menyuapimu hah?”tanya Yoona.

“Kau bisa makan sambil menonton dan menyuapiku juga kan. Aku tidak akan makan jika kau tidak menyuapiku”Sehun mengatakannya tanpa niat bercanda sedikitpun. Ia bersandar pada sofa dan membaca buku yang ada di meja.

Yoona menghela nafas lalu tersenyum. Ia juga suka sifat manja Sehun. Ia mungkin sudah sangat menyukai apapun yang ada pada diri Sehun. “Buka mulutmu”ujar Yoona saat ia sudah menyiapkan sesendok nasi dengan lauk.

Sehun membuka mulutnya tanpa melepaskan pandangannya dari buku. Ia ingin sekali tersenyum saat Yoona menyuapkan nasi tersebut padanya.Yoona terus menyuapi Sehun sambil memakan makanannya sendiri. Ia melakukannya seperti sudah sering melakukannya. Membuat Sehun senang dan ingin sekali melakukannya tiap pagi.

Yoona memandangi televisi itu dan berseru kecil saat ada adegan yang menarik baginya dalam drama itu. sementara itu Sehun justru memandangi wajah Yoona yang lebih menarik dari apapun di dunia ini baginya.

“Sehun-a”panggil Yoona sambil tersenyum kearah Sehun. Sehun menatapnya tanda mengiyakan. “Aktor dan aktris itu cocok ya.”

Sehun menatap layar televisi yang sedang menampilkan yeoja dan namja yang saling berpelukan dan sang namja mencium kening sang yeoja.

“Cocok apanya. Itu karena mereka sedang mesra saja”kilah Sehun.

“Tidak, mereka memang cocok kok”bantah Yoona.

Sehun mendekat kearah Yoona dan memeluk Yoona dari samping. Ia membuat kepala Yoona bersandar pada bahunya. “Kalau kita juga begitu, kita akan terlihat jauh lebih cocok”

Yoona menoleh untuk membantah, namun itu justru membuat Sehun memiliki kesempatan untuk mencium keningnya dan itu tidak disia-siakan Sehun. Namja itu mencium kening Yoona dengan sayang, membuat yeoja itu diam.

Yoona merona dan memukul dada Sehun pelan. “Kau ini…”

Keduanya saling tatap lalu tertawa bersama. Sehun memeluk Yoona lebih erat dan Yoona pun membalas pelukannya. “Bagaimana kalau jalan-jalan hari ini Sehun-a?”

“Baiklah, kita akan jalan-jalan seharian ini”

“Aniya, aku masih lelah, aku tidak ingin jalan-jalan seharian. Kita bisa melanjutkannya hari Minggu nanti kan?”tanya Yoona.

Sehun menatap Yoona dan menggenggam tangannya “Aku tidak bisa”

“Kenapa tidak?”tanya Yoona

“Untuk beberapa bulan ke depan, aku akan pergi ke Cina. Masalah itu berawal dari sana dan perusahaan disana berada di ambang kehancuran. Mereka yang terparah dan Ayah mempercayaiku untuk mengaturnya. Jadi… untuk sementara aku tidak akan bisa berada didekatmu…”jelas Sehun.

“Tak bisakah aku ikut? Aku bisa membantumu disana”

Sehun menggeleng. “Ayahmu bisa marah besar. Dia belum sepenuhnya menuruti keputusanmu bukan? Lagipula, Ayahmu mengira kau hamil, jika kau ikut aku, kau bisa dicurigai. Kau tunggulah disini, disini kau akan baik baik saja. Ada Seo Joo Hyun dan teman-temanku yang bisa membantumu. Arraseo?”

Yoona menghela nafas. Ia tahu kalau Sehun hanya menginginkan yang terbaik untuknya dan dia menghargai itu. “Aku akan kesepian”ujarnya lalu memeluk Sehun.

Sehun membalas pelukan Yoona. “Aku akan merindukanmu Yoona. Kau akan ditemani teman-temanmu, jadi kau tidak akan kesepian…”

Yoona mengangguk. Ia hanya ingin memeluk Sehun lebih erat agar ia terus mengingat betapa hangatnya berada di pelukan Sehun. Ia juga ingin memeluk Sehun agar ia mendapat kekuatan untuk menjalani hari-hari tanpa namja itu.

“Saranghae Sehun-a”

“Nado saranghae” Sehun melepas pelukan itu dan mengecup kening Yoona dengan penuh kasih sayang.

TBC

Gantung? Banget. Next chap bakal jadi chapter terakhir nih’-‘ aku gabakal banyak bacot deh, thanks for reading~ RCL Yo

155 thoughts on “[Freelance] Me and My Husband (Chapter 11)

  1. Aaa hampir nangis baca cerita dari awal. Feelnyaa bener2 dapet banget >< suka banget sama jalan ceritanya. Tapi pleasee buat akhirnya bahagia yah yah ^o^ Lanjut yg cepet dong thor, hwaiting! Kalo bisa yg paling panjang dibandingin lainnya yah^^

  2. Pingback: FanFictions | Infinitely A

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s