[Freelance] In The Rain

In The Rain

Tittle                : In The Rain
Author             : Kim Minchan (@wiwitcho)
Length             : Vignette
Rating             : General
Genre              : Friendship, fluffy
Cast                 : Seo Joo Hyun, Park Chanyeol
Poster ff          : by LeeYongMi @cafeposterart.wordpress.com
Disclamer        : Fanfic ini memiliki alur maju-mundur yang tanpa terlihat jelas/?. Storyline milik saya, sedikit terinspirasi dari beberapa adegan di drama I Miss You. Untuk cast, mereka milik Tuhan dan Orang Tua mereka.

Enjoy the Story, please!

 

KIM-MIN-CHAN ®STORYLINE

Gemuruh petir terdengar setelah sedetik sebelumnya sebuah kilat menyambar. Langit-langit yang sedari tadi gelap kini semakin gelap, tanpa sang surya yang enggan untuk berhenti bersembunyi dari balik awan. Suara air hujan yang jatuh membasahi bumi serta aroma tanah yang dibasahi air hujan membuat Joohyun tersenyum.

Matanya yang sebelumnya fokus menatap pada lapangan hijau di bawah – dimana para siswa terlihat berlari berhamburan untuk segera pulang – kini perlahan terpejam. Ia mulai menghirup aroma tanah ‘kesukaannya’ dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Sungguh menyenangkan!” pekiknya. Berlanjut dengan kedua tangannya yang terjulur ke depan, membiarkan jari-jari lentiknya terkena rintisan hujan yang semakin lama terasa bahwa hujan tersebut semakin turun deras.

Baiklah, mungkin kalian akan menatapnya aneh setelah tahu apa yang ia lakukan saat ini. Di saat orang lain tengah bermuram durja karena hujan yang turun – entah itu mungkin bisa menggagalkan rencana mereka atau yang lainnya – dia, Joohyun malah menyukainya.

Pasti akan terasa menyenangkan jika saat ini ia pulang dengan payung putih kesayangannya, menembus buliran air hujan yang mencoba membasahinya. Lalu ia bisa dengan mudah membiarkan air hujan itu mengenai telapak tangannya seperti yang sudah biasa ia lakukan.

Tapi sekarang, . . .  sepertinya ia tak bisa melakukan hal itu.

Tentu saja karena payung putih kesayangannya tak lagi ada di sisinya. Yang akhir-akhir ini menemaninya dari awal musim penghujan datang.

Bukan karena ia yang lupa membawa payungnya atau bahkan payungnya rusak, namun payung itu saat ini sedang berada di tangan orang lain. Ah – entahlah, ia tidak bisa memastikannya. Dengan kenyataan yang cukup membuatnya sedih saat ini.

Joohyun tentu saja bisa menagih payungnya pada ‘orang itu’. Namun sebuah kenyataan yang sudah diketahui ‘orang itu’ membuat ia enggan untuk melakukannya. Joohyun cukup tahu diri, ‘orang itu’ pasti tak mau lagi berbicara dengannya.

Sama dengan teman-temannya juga lakukan padanya.

Selama ini.

“Seo Joohyun si putri seorang pembunuh. Jangan coba-coba mendekatinya, atau nyawa kalian bisa melayang!”

.

.

.

Bel pertanda pelajaran dimulai sudah berdering lima menit yang lalu, tapi para siswa dari suatu kelas masih saja berdiri di depan ruang memasak – karena mereka hari ini akan praktik – beberapa dari mereka terlihat kesal, menatap seorang gadis yang berada disana. Sudah siap dengan celemek serta peralatan memasaknya.

Seorang wanita yang adalah seorang guru dari mata pelajaran tersebut datang, menatap heran siswanya yang masih saja berada di depan kelas.

“Bagaimana kami bisa masuk, putri si pembunuh itu ada di dalam sem.”

“Lihat betapa menyeramkannya dia dengan pisau yang ia pegang. Tidak ‘kah sem berfikir bahwa ia bisa saja menusuk kami?”

Joohyun yang tentu saja bisa mendengar dengan jelas perkataan yang dilontarkan tentangnya lalu melepaskan celemeknya. Bagaimanapun, ia masih saja belum bisa ‘kebal’ dengan perilaku teman-teman padanya yang menghindarinya. Melontarkan kata-kata buruk tentangnya.

Para siswa yang berdiri di depan kelas dengan gerak refleks menghindar, ada juga yang menyudut ke sisi tembok seakan memberikan jalan untuk gadis itu lewat. Bisa ia dengar pekikan senang dari teman-temannya itu. Oh, apa begitu hinanya ‘kah dia? Ikut menanggung kesalahan yang Ayahnya perbuat setahun yang lalu.

Sepasang sepatu hitam yang dilihatnya – Joohyun yang memang sudah terbiasa berjalan sambil menunduk – mendapati sepasang sepatu hitam yang berdiri dihadapannya. Menghalangi jalannya.

Sudah hampir semenit, namun pemilik sepasang kaki itu tak juga pergi dari hadapannya. Perlahan Joohyun mengangkat kepalanya, satu hal yang tak asing ia lihat dari laki-laki  di hadapannya itu. Payung putih yang dibawanya. Seperti. . .miliknya?

“Seo. . .Joo. . .hyun.”

Sepasang mata lentik itu menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk ia artikan. Tapi Joohyun bisa menangkap ekspresi kaget dari laki-laki itu.

Park Chanyeol.

“Kau. . .”

Oh, Tuhan. Sekarang laki-laki itu sudah tahu tentangnya.

“Chanyeol-ah. . .”

Chanyeol lalu memundurkan langkahnya ketika gadis di hadapannya ini satu langkah maju untuk mendekatinya. Masih dengan mulutnya yang terbuka, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui.

Joohyun mendesah kecil, ia harus tahu diri. Chanyeol sudah tahu tentangnya, jadi apa lagi yang ia inginkan? Laki-laki itu sekarang sudah sama seperti teman-temannya, mengucilkannya. Dan pertemanan mereka dua hari yang lalu kini sudah berakhir.

 Joohyun melangkah cepat meninggalkan laki-laki itu sendirian di lorong sekolah, pandangannya hanya fokus menatap marmer putih yang sedang dipijaknya.

Semilir angin menerpa wajahnya, tepat pada saat itu cairan bening mengalir di pipi tirusnya.

“Tidak, aku tidak menangis. Ini karena angin yang menerpa wajahku dan membuat mataku berair.” Ujarnya sembari mencoba tersenyum –  paksa, menegakkan wajahnya dan menghapus air matanya dengan satu kali gerakan.

.

.

.

Chanyeol berdiri di sisi sebuah tembok, seorang gadis bersurai coklat di hadapannya kini tengah menjadi fokus penglihatannya.

Terkadang bibirnya tertarik keatas membentuk senyuman tipis ketika gadis yang berada dihadapannya itu memejamkan kedua matanya, lalu menjulurkan tangannya hingga tetesan air hujan membasahi telapak tangannya. Menikmati saat-saat hujan turun. Dan dahi Chanyeol sempat mengernyit ketika cairan bening membasahi pipi tirus milik gadis itu, lalu mengatakan

“Tidak, aku tidak menangis. Itu karena angin yang menerpa wajahku dan membuat mataku berair.”

Sebenarnya ia sangat ingin pulang saat ini walau dengan cara hujan-hujanan sekalipun. Tapi payungnya. . .ah, pemilknya yang menjadi alasan untuknya tak pulang saat ini.

Sejak kejadian kemarin ia selalu saja terpikiran pada gadis bernama Seo Joohyun. Mengetahui tentang gadis itu kemarin entah membuatnya merasa takut atau justru sedih atas hal itu.

Tatapan Seo Joohyun padanya saat itu. . .membuat hatinya terasa sakit.

Seo Joohyun, dia memanglah gadis populer.

.

.

.

Chanyeol menatap bingung gadis yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Menyodorkan sebuah payung putih kearahnya. Padahal ia atau tepatnya mereka belum mengenal. Kenapa gadis ini. . .

“Pakailah.”

“Apa?”

“Pakailah atau kau akan kebasahan.”

Dahi Chanyeol mengernyit, “Kenapa bukan kau saja yang memakainya? Kau bahkan lebih basah dariku.”

Ia kemudian menunjukkan tubuhnya yang masih tak begitu basah karena ia yang berlindung dibawah permainan perosotan.

“Tidak, aku sudah terlanjur basah. Jadi pakai saja.”

Chanyeol lalu meraih payung putih itu. Ia memang sedang membutuhkan payung untuk segera pulang tanpa membuat tubuhnya kebasahan. Bisa-bisa Ibu akan memarahinya.

“Terima kasih, eum. . .”

“Apa? Kau tak tahu aku?”

Chanyeol mendelik sebal. “Memang kenapa? Aku pindahan dari Busan kemarin. . .”

Ia lalu menatap gadis dihadapannya dari atas hingga bawah. “. . .Apakah kau gadis yang populer?”

“Ti-tidak!”

“Lalu maksudmu apa? Ah, kau seorang ratu di sekolahmu?”

“Ti-tidak!”

“Eiy. . .jadi apa alasanku untuk tidak mengenalmu? Bilang saja kau seseorang yang populer bukan?” sudut Chanyeol.

“Tidak, sungguh. Aku bukan dari yang kau fikirkan.” Sanggah gadis itu. Perlahan, tanpa Chanyeol sadari gadis itu diam-diam tersenyum.

“Aku Park Chanyeol, dan kau gadis populer?”

Walau sempat mendesah kecil, gadis itu lalu membalas uluran tangan Chanyeol. “Seo Joohyun.”

“Senang berteman denganmu kawan.”

“Apa?”

“Kenapa? Aku hanya mengatakan senang  berteman denganmu. Apa itu salah?”

.

.

.

Joohyun tersenyum kecil. Ia jadi mengingat awal pertemuannya dengan Park Chanyeol. Di taman bermain, malam yang saat itu tengah hujan deras.

Tentu saja itu salah ketika ia mengatakan kata ‘berteman’ padanya. Jika saja laki-laki itu tahu yang sebenarnya saat itu, ia tak akan mau untuk mengatakan hal itu. Sejak ditahun pertama  bersekolah disini, tak pernah Joohyun dengar ajakan itu dari beberapa siswa terhadapnya.

“Kau sudah terlalu berharap Seo Joohyun.” Ucapnya, seakan mengingatkannya pada dirinya sendiri. Sempat berfikir bahwa laki-laki itu akan menjadi teman pertamanya – sejak masalah yang diperbuat Ayahnya. Membuatnya ikut merasakan dampak dari hal tersebut. Terkucilkan dari kehidupannya sehari-hari.

“Aku suka hujan. Saat rintik-rintik kecilnya jatuh membasahi telapak tanganku.”

 “Apa itu alasanmu menyukai hujan?”

Joohyun menolehkan kepalanya ke sebelahnya, dimana kini seorang laki-laki bertubuh lebih tinggi darinya berdiri. Menatap lurus ke arah depan.

“Jangan pergi, Seo Joohyun.” Ucap Chanyeol ketika Joohyun mencoba untuk meninggalkannya. Tangannya menggenggam erat sebelah tangan milik gadis itu. “Bisakah kita berbicara sebentar? Kumohon.”

Tak ada penolakan yang dilakukan Joohyun. Membuat Chanyeol mendesah lega.

“Aku. . .eum. Kejadian kemarin, aku minta maaf. Bukan maksduku untuk menghindarimu Joohyun, hanya saja aku. . .”

“Kau merasa takut ‘kan padaku? Karena aku adalah putri dari seorang pembunuh, Chanyeol.”

“Ti-tidak! Ah – baiklah, awalnya aku memang merasa takut padamu. Tapi sekarang? aku malah mendekatimu bukan?”

“Itu karena aku percaya padamu, Joohyun. Menurutku kau adalah gadis yang baik, lagi pula yang melakukan hal itu Ayahmu. Kau tak ikut berkomplotan dengan Ayahmu ‘kan?”

“Tentu saja tidak!” sanggah Joohyun cepat. Chanyeol tersenyum kecil, “Nah, jadi apa alasanku untuk menghindari gadis populer sepertimu heum?”

Joohyun terdiam, terpaku dengan ucapan laki-laki dihadapannya. Air matanya kembali keluar bersamaan dengan semilir angin yang berhembus.

“Kau menangis?”

Joohyun dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak menangis. Itu karena angin yang menerpa wajahku dan membuat mataku berair.”

Chanyeol terpaku, ucapan Joohyun tadi adalah ucapan yang selalu gadis itu ucapkan ketika ia menangis. Membuat Chanyeol bisa menyimpulkan bahwa gadis dihadapannya ini adalah sosok gadis yang tegar. Kau hebat Joohyun, batinnya.

“Kalau begitu ayo kita pulang, kita ‘kan bertetangga. Bolehkah aku menumpang di payungmu?”

“Eh?” Joohyun masih dengan ekspresi bingungnya. Membuat laki-laki itu mendelik kesal, “Ada apa denganmu sih? Ayo kita pulang bersama Seo Joohyun, si gadis populer!”

Pipi tirus Joohyun memerah, bak kepiting rebus karena mendengar panggilan Chanyeol untuknya, ‘gadis populer’. Walaupun pada awalnya Joohyun menolak, namun sekarang entah mengapa Joohyun menyukai panggilan itu. Karena hanya Park Chanyeol yang memanggilnya dengan sebutan itu.

Chanyeol lalu membuka payung putih yang berada dalam genggamannya sejak awal. Menarik tangan Joohyun untuk mendekatinya, membuat keduanya bersama-sama berada dibawah payung putih itu. Melawan guyuran hujan ketika mereka sudah keluar dari gedung sekolah.

“Kau tahu Joohyun, kau sukses membuatku seperti orang bodoh semalaman saat hujan turun dengan derasnya.”

“Eh? Kenapa bisa seperti itu?” tanya Joohyun kaku, masih belum terbiasa dengan suasana akrab diantara mereka. Langkah Chanyeol perlahan memelan, lalu kemudian terhenti. Membuat Joohyun mau tak mau ikut menghentikan langkahnya, menatap tubuh laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya dengan tatapan polosnya.

“Karena setiap hujan turun, aku memikirkanmu. Saat angin berhembus, aku juga memikirkanmu. Bahkan saat kau ada disampingku. . .aku juga memikirkanmu, Seo Joohyun.”

Entah sudah berapa kali  Chanyeol sukses membuat pipi Joohyun bersemu merah. Ia merasa kedua pipinya menghangat saat ini, reaksi aneh bak beberapa kupu-kupu yang tengah berterbangan di perutnya. Ditambah lagi debaran jantungnya ketika laki-laki disampingnya mengatakan,

“Aku akan menjadi temanmu satu-satunya. Dan aku juga tak menampik, bahwa sejak awal aku sudah tertarik padamu. Aku ingin lebih tahu tentangmu lagi Seo Joohyun, bisakah?”

Tenggorokan Joohyun tercekat, sulit untuk mengucapkan sepatah kata. Pikirannya pun kosong. Namun satu hal yang ia tahu, bahwa ia merasa bahagia ketika laki-laki bermarga Park mengatakan hal itu padanya. Jadi ia hanya bisa menganggukkan kepalanya kecil, atas ucapan Chanyeol.

Siang ini, saat hujan turun semakin deras, Joohyun tak akan pernah melupakannya. Saat untuk pertama kalinya ia memiliki teman di sekolah, atau mungkin juga saat pertama kali dalam hidupnya ia merasakan reaksi aneh pada tubuhnya ketika sedang bersama dengan seorang laki-laki – Park Chanyeol – disisinya.

Dan Joohyun berdo’a dalam hati, semoga laki-laki itu bisa selalu ada disisinya.

.

.

.

FIN

Jangan segan-segan beri komentar dan masukan untuk fanfic absurd ini yaJ /nge-bow bareng joonmyun/

11 thoughts on “[Freelance] In The Rain

  1. prokprokprok #Tepuktangan..
    Aku suka gaya bahasamu thor..
    Meresapi banget..ditambah dengerin lagu2 solo dr joo hyun..
    Etdahhhh…menghayati bgt bacanya

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s