Take A Drink Together (Chapter 11A – Tiffany’s Sider Story)

take-a-drink-together-stephanie

Take A Drink Together:
Tiffany’s Sider Story

Written by pearlshafirablue

Main Cast: GG’s Tiffany | Minor Cast: SJ’s Leeteuk (Dennis Park), BEG’s Narsha | Genre: Action, AU, Psycho, Suspense (a bit different with the original story) | Length: Multichapter (11:Sider Story/?) | Rating: PG-17

“All of the characters belong to God and themselves. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this. I only own the poster and the storyline.”

Previous Chapter
Prolog . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 . 8 . 9 . 10

Inspired by Frea © Thee & Rien

{Like father, like daughter—karena buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya}

notes: chapter 11 divided into 2 parts; A & B. the 1st part is this (Tiffany’s sider story) and the 2nd one is the original part—back to the real story

Take A Drink Together © 2013

Los Angeles, California, 1994

Her name is Stephanie Hwang. She is Dominique’s daughter.”

Seorang gadis kecil berambut cokelat kemerahan memamerkan sederet gigi putihnya, dihiasi oleh sebuah eyesmile kecil yang nampak sangat memesona.

Hello, Monsieur,” sapanya dengan suara khas anak-anak. Binar kebahagiaan terpendar dari mata sipitnya. Sangat signifikan bahwa dirinya bukanlah kelahiran USA asli.

Dominique’s…?” pria bercelana ketat yang tengah disapanya menaikkan alis. “Why did you brought her here?

Terdengar helaan napas panjang dari lawan bicaranya. Gadis yang berumur sekitar seperempat abad itu mendekat dan menarik lengan si Celana Ketat perlahan, meninggalkan gadis berambut cokelat itu sendirian di sebuah ruang tamu gaya Eropa klasik tersebut. Gadis berkacamata bulat itu nampak tengah membisikkan sesuatu di telinga si Celana Ketat. Dan belum sempat si Gadis menyelesaikan kalimatnya, pria celana ketat itu sudah tergopoh kaget.

Gadis kecil tadi memperhatikan mereka.

Are you fucking kidding me? She is his daughter! He cannot do that to her—

Stop. Don’t talk to me. Talk to him,” gadis berkacamata bulat itu menginterupsi. Matanya bertemu pandang dengan mata gadis kecil tadi.

Unnie? What’s happening?” tanyanya dengan riang. Anak-anak rambutnya bergerak lucu ditiup angin yang berembus melewati celah-celah jendela rumah tersebut.

Mau tak mau gadis yang dipanggil unnie itu tersenyum. “Nothing’s happened, dear,” ujar gadis berkacamata tersebut. “But you have to stay here with Professor Dennis for a while.”

Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya, alisnya juga mengkerut natural—membuat wajahnya terlihat sangat menggemaskan. “Then, where will Unnie go?

I will come back after a few days, to visit you and bring a lot of food soon,” jawab gadis itu dengan lembut.

Promise, Unnie?” gadis itu menyodorkan jari kelingking manisnya.

Gadis berkacamata itu tertegun sesaat. Matanya beralih ke arah Profesor Dennis. Lelaki itu membalasnya hanya dengan tatapan pasrah.

Ia kembali menghela napas, “yeah. Promise.”

-o0o-

Winter, 1995

Where is daddy? Where is Unnie? I miss them,” ujar Tiffany dengan suara parau.

Profesor Dennis menarik gadis berusia 6 tahun itu dalam dekapannya. Cuaca hari ini memang cukup dingin. Kristal-kristal es sudah mulai nampak berjatuhan mengubur bumi.

Sudah 2 musim dingin dilewati Tiffany tanpa ayah dan unnie-nya. Padahal, ia sangat ingat bahwa tahun lalu sang Unnie berjanji untuk kembali dan membawakan banyak makanan untuknya. Ia sangat menyukai pie apel buatan unnie-nya itu. Dan yang terparah adalah mereka berdua—sang Ayah dan Unnie—tidak mengabari atau hanya sekadar meneleponnya sama sekali. Kesehariannya hanya diisi oleh kesibukan lelaki yang kini merawatnya.

Well, mungkin mereka berdua masih sibuk, dear. Percayalah pada uncle kalau sebentar lagi unnie-mu akan datang.”

Tiffany buru-buru membalikkan badannya. Ia menatap orang yang sudah dikenalnya sebagai paman itu dengan antusias. “Kau bisa berbicara bahasa Korea, Uncle?”

Profesor Dennis tersenyum penuh misteri. Ia mengusap puncak kepala Tiffany dengan tenang. “Tentu saja, uncle lahir di Korea! Bahkan sebenarnya nama uncle bukanlah Dennis Park, melainkan Leeteuk Park.”

Tiffany membulatkan bibirnya. Matanya memancarkan bias kekaguman yang mendalam. “Itu artinya uncle pernah tinggal di Korea?”

Exactly. Uncle tinggal di sana kira-kira sekitar 10 tahun,” jelas pria paruh baya itu, menambah kekaguman pada diri Tiffany.

“Berarti—”

Good evening!

Sebuah suara menginterupsi obrolan Tiffany dan Profesor Dennis. Seorang gadis berjaket cokelat tua dengan syal merah yang melingkar di lehernya tersenyum ke arah mereka. Tak lupa kaca mata bulat yang sudah terlihat lapuk nampak begitu familiar di mata mereka berdua.

“Narsha Unnie!”

My baby, Tiffany!

Keduanya saling berpelukan hangat. Profesor Dennis buru-buru berdiri. Ia mendekat ke arah  mereka sambil tersenyum lirih.

Hey,” Narsha melepas pelukannya dengan Tiffany dan menaikkan pandangannya ke arah Profesor Dennis.

Hey,” balas Profesor Dennis masih dengan senyum. “Apa kabar?”

I’m okay.” Narsha balas tersenyum.

Unnie! Where have you been? I miss you so much! You lied!” gerutu Tiffany kesal. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Narsha mencubit pipi tembamnya, “don’t be angry, sweetie. I have a lot of jobs nowadays, sorry for leaving you.

“Apa yang akan kauperbuat di sini?”

Pertanyaan dalam bahasa Korea yang keluar dari mulut Profesor Dennis menghentikan kegiatan Narsha. Gadis itu terperangah. Bola matanya bergerak-gerak gelisah.

“Tentu saja untuk mengunjungi kita, Uncle!” semprot Tiffany polos.

Tapi Profesor Dennis pun Narsha tahu persis bukan hanya hal itu yang membuat gadis itu datang kemari.

“Uhm, well…” peluh mulai membasahi pelipis Narsha. “Ah! Tiffany, bagaimana jika kau pergi keluar? Unnie membeli sesuatu untukmu!”

Mata Tiffany melebar. Tanpa banyak bertanya anak itu langsung melesat ke arah pintu depan.

Hanya tersisa Narsha dan Profesor Dennis di ruang api unggun.

“Jadi? Bagaimana?” Professor Dennis memulai pembicaraan.

Narsha termenung sesaat. Ia menyangga kepalanya dengan jemari. Gadis itu menaikkan ujung kacamatanya dengan telunjuk. “Aku harus mengambil sampel hari ini.”

So… that bastard is serious.” Professor Dennis mendesis. Matanya membiaskan kemarahan yang amat besar.

“Apa menurutmu efek sampingnya akan berpengaruh besar, Dennis?” tanya Narsha getir.

“Seingatku,” Profesor Dennis duduk di kursi goyang sementara tangan kanannya sibuk mengelus janggut tipisnya, “mungkin sekarang efeknya tidak akan benar-benar tampak. Tapi beberapa tahun atau bisa jadi beberapa bulan lagi dampaknya akan sangat terasa.”

“Dominique benar-benar tidak berpikir,” tutur Narsha serak. Angin semilir meniup jaketnya hingga tersingkap sedikit.

Profesor Dennis menggeleng, mengindikasikan bahwa pendapat Narsha salah. “Bukannya tidak, justru ia berpikir terlampau banyak.

-o0o-

Fall, 2006

Daddy, are you okay?”

Suara Tiffany terdengar bergetar lewat telepon. Gadis itu merapatkan mantelnya yang sedikit tersingkap.

Tidak usah memikirkan Ayah. Bagaimana perkembanganmu, Sayang? Kau rutin meminum obat yang ayah berikan ‘kan?” jawab Dominique Hwang dengan lembut.

“Ya, Daddy. Aku baik-baik saja—aku juga rutin meminum obatnya.” Tiffany menelan salivanya. “Daddy, bolehkan aku bertanya?”

Tentu saja, Sayang. Go ahead.”

“A-apa yang akan terjadi bila aku berhenti untuk minum obat?” tanya Tiffany ragu-ragu. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

Hening.

Da-Daddy?” panggil Tiffany. Dan sama sekali tidak terdengar jawaban dari seberang. “Daddy! Daddy! Dad—”

“Tiffany! Ada apa?” tiba-tiba Narsha muncul dari balik pintu kamar gadis itu. Tiffany menoleh. Bulir-bulir air mata menggenang di pelupuknya.

Unnie…

Oh my lord, what’s happening?” Narsha buru-buru mendekat dan menarik Tiffany dalam dekapannya.

“Baru saja aku dapat telepon dari Daddy, aku senang sekali. Tapi baru beberapa menit tiba-tiba saja koneksinya terputus,” isak Tiffany.

He called you?” Narsha terperangah. “B-but how can—

“Tadi Daddy bertanya soal obat yang harus kuminum itu,” jelas Tiffany lagi. “Suaranya terdengar serak. Kelihatannya ia tidak baik-baik saja.”

Narsha menggigit bibir. “Kenapa tidak kau telepon lagi?”

“Nomornya diproteksi. Aku tidak mengerti bagaimana cara meneleponnya,” tutur gadis itu lagi. Ia menenggelamkan wajahnya di dalam mantel.

“Baiklah, lebih baik sekarang kau istirahat. Tidak usah pikirkan Daddy karena Unnie yakin dia akan baik-baik saja. Dia hanya sedang sibuk bekerja. Terlalu banyak hal yang harus ia urusi. Jadi kau jangan cemas.” Narsha mengelus pipi Tiffany dengan perlahan. Sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya.

Tiffany kecil hanya mengangguk. Ia melepas mantelnya dan meringkuk di atas tempat tidur. Narsha segera mematikan lampu dan mengunci pintunya.

“Ada apa? Apa gejalanya kambuh lagi?” Profesor Dennis muncul dari balik pantry saat Narsha sudah berada di luar.

“Tidak. Tadi Dominique meneleponnya,” tuturnya seraya mengusap wajahnya frustasi.

“Dominique? Kenapa?” tanya Profesor Dennis sembari mengaduk kopi panasnya.

“Entahlah. Kata Tiffany ia bertanya soal penawar itu,” jawab Narsha sekenanya.

“Oh ya! Soal penawar itu…” Profesor Dennis berbalik dengan cepat dan melesat ke arah laci kecil di bawah buffet, “dua sampai tiga hari lagi akan habis.”

Narsha membuang napas panjang. “Kita harus menghubungi Dominique lagi.”

Profesor Dennis hanya mengangguk. Pembicaraan mereka resmi berhenti ketika Narsha mulai menyalakan televisi, membiarkan suara vokalis band Rolling Stone mengisi ruang hampa di antara mereka.

Tirai jendela di dapur yang mereka pijak sedikit tersingkap. Teralis-teralis besi yang dipasang vertikal dan horisontal di atas bingkai jendela rupanya tak kuat untuk menahan semilir angin yang kini mulai menerobos masuk, membuat api unggun di ruangan itu beringsut ke mana-mana. Menambah kesan hening dalam ruangan berukuran 7 x 7 meter tersebut.

“Narsha.” Tiba-tiba suara Profesor Dennis memecah keheningan. Narsha menoleh dengan ragu, memperhatikan lelaki yang berumur 32 tahun itu dengan seksama.

“Ada apa?” jawab gadis itu pada akhirnya.

“Apa yang terjadi jika Tiffany tidak meminum obat itu?”

Deg.

Narsha terkesiap. Bola matanya membesar, pupilnya begerak-gerak liar. Jantungnya berdegup lebih kencang, membuat napasnya seratus kali lebih berat dari biasanya.

“Narsha?” Profesor Dennis kembali bersuara. Narsha meneguk salivanya dengan berat.

“Bu-bukankah dia akan kejang-kejang seperti biasanya?” jawab Narsha berusaha tak keliatan gugup.

“Ayolah, Narsha. Aku seorang profesor. Bagaimanapu juga aku tahu bahwa tak hanya itu. Ada sesuatu yang lebih buruk dibanding ini kan?” desak Profesor Dennis.

“Sebenarnya…” Narsha menggigit jarinya, “Dominique memang pernah berkata sesuatu tentang hal ini. Tiffany sangat dituntut untuk minum penawar tersebut. Bahkan Dominique sampai memintaku untuk bersumpah agar ia menghabiskannya. Dominique tidak berkata apapun soal efek sampingnya, dan yang kita tahu Tiffany akan kejang-kejang jika terlewat meminumnya. Dominique hanya berkata, jangan pernah membiarkan Tiffany lupa meminumnya, percayalah padaku… sesuatu yang buruk akan terjadi setelahnya.”

Profesor Dennis tersentak.

“Jadi… aku benar-benar tidak bisa bilang apapun,” lanjut Narsha seraya menunduk. “Do you have any idea?

Profesor Dennis menggeleng. “Tidak. Sehebat apapun aku dalam dunia genetika dan filogeni, aku tidak pernah ambil andil dalam kasus kloning.”

-o0o-

Rupanya matahari sudah berganti posisi dengan bulan sedari tadi. Kini jam klasik di kamar Tiffany menunjukkan pukul 01.00 AM—tepat tengah malam. Bunyi gemeletuk kayu yang dimakan api terdengar begitu jelas dari ruang perapian. Tak urung burung-burung hantu bersuara bersahut-sahutan, menambah suasana kelam pada malam dingin itu.

Mata Tiffany membuka tiba-tiba. Pupilnya bergetar. Suhu di kamarnya yang cukup rendah tidak menghalau peluh yang terus mengaliri setiap inci wajahnya.

Gadis itu menyingkap selimut beludru yang membungkus tubuhnya. Ia berpegangan pada nakas, sementara tangan lainnya sibuk mencari-cari benda di lemari buku yang ditanam di atas tempat tidurnya.

Sebuah tabung plastik kecil menyentuh pori-pori tangannya.

Tiffany menghela napas kasar.

Gadis itu membuka tutup tabung plastik itu dengan paksa. Di dalamnya ada beberapa tablet putih kecil yang terus membentur dinding plastik tabung tersebut.

Tuk… tuk… tuk…

Tablet-tablet kecil itu berjatuhan ke lantai, membuat Tiffany dengan cepat membungkuk ke bawah.

Bak singa kelaparan, gadis itu meraup satu persatu tablet itu dengan kasar. Beberapa butir lagi rupanya menggelinding ke kolong tempat tidur—membuat Tiffany mendecak dengan kesal.

“Akh… hhh… hhh…” napasnya keluar tak beraturan. Oksigen seakan direnggut paksa darinya. Gadis itu menjambak rambutnya kuat-kuat. Ada rasa sakit aneh yang seolah menyerang paru-paru kecilnya.

Tiffany menjatuhkan diri di lantai kayu kamarnya. Rambutnya berantakan, matanya merah, wajahnya sembab dan bibirnya memucat. Gadis berambut cokelat kemerahan itu memejamkan mata.

Suasana hening seketika. Tidak ada suara yang terdengar selain suara dari perapian dan detakan jarum jam. Bahkan burung hantupun nampaknya bungkam.

Tolong…

Tiffany kembali membuka mata. Sebuah suara asing menyambangi gendang telinganya. Laksana serigala, tanpa berpikir gadis itu melompat ke jendela—dengan posisi jongkok yang aneh.

Setelah meyakinkan bahwa suara yang didengarnya berasal dari salah satu rumah penduduk, gadis itu melompat dari jendela. Berlari dengan kencang ke arah sebuah losmen bobrok di pinggir hutan. Suaranya terdengar semakin jelas.

Ada perampokan.

Tiffany menajamkan mata. Segalanya terlihat jelas. Ada 5 perampok bersenjata, dan terdapat 8 orang penduduk—2 orang pemilik losmen tersebut dan sisanya adalah penyewa kamar.

Tiffany berdecak.

Kemudian ia berlari tanpa suara ke arah pintu utama. Telinganya kembali mendengar suara-suara aneh yang tak pernah didengar sebelumnya. Suara teriakan pilu.

Sekonyong-konyong sesosok manusia berbungkus pakaian serba hitam muncul di depannya.

“Siapa ka—”

BRRAAK!

Tiffany menabrak sosok itu—membuatnya terjatuh dengan keras di lantai teras losmen dan pisau besar yang awalnya terselip di genggamannya lepas dan terlempar beberapa meter ke tanah.

Tanpa ragu gadis itu duduk di atas tubuh sosok tersebut, mengunci lengan dan kakinya agar tidak bisa bergerak. Matanya tiba-tiba menangkap sesuatu. Pecahan ubin lantai.

“Apa yang—”

Belum sempat sosok—yang diperkirakan laki-laki—itu menyelesaikan kalimatnya, dengan beringas Tiffany menancapkan pecahan ubin tadi di atas kulit leher lelaki tersebut, membuat darah merah kehitaman terpancur ke mana-mana—mengemuli wajah gadis itu.

Lelaki itu tak memberontak pun bersuara lagi.

Tiffany tersenyum.

Ia lantas berdiri, meninggalkan jasad lelaki yang dibunuhnya tadi dan melesat dengan cepat ke dalam ruang utama losmen. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sebuah ruangan tampak menarik perhatiannya.

Jelas saja menarik perhatian, seperempat ruangan itu sudah dilahap api rupanya.

Tapi ada yang lebih menarik dari kompor yang terus mengeluarkan api dan membakar nyaris seluruh kitchen set. Mata tajam gadis itu menangkap bayangan seorang lelaki berpakaian hitam sedang berusaha melakukan tindakan asusila kepada seorang gadis tak berpakaian.

Bastard.” Tiffany mendesis.

Lelaki pun gadis tadi menoleh serempak ke arahnya. Separuh rambut si Gadis terbakar habis. Wajahnya benar-benar pucat. Matanya bengkak bahkan bibirnya mengeluarkan darah.

“To… long…” Gadis itu berbisik lirih.

Dengan cekatan Tiffany meraih sebuah panggangan roti di atas pantry. Ia memutar kabelnya dan melempar panggangan dari logam itu tepat mengenai dahi lelaki tersebut.

Brruk…

Lelaki itu terjemap ke lantai. Api mulai melucuti stocking hitam yang membungkus kepalanya. Hanya dengan sekali tendang tubuh pria itu sudah masuk ke dalam api dengan sempurna.

Tiffany melirik ke arah gadis naked tadi.

“Di mana yang lainnya?” tanya Tiffany tenang.

“D-di-di loteng,” jawab gadis itu sambil memungut pakaiannya. “Te-terima… terima kasih.”

“Terimakasih untuk apa? Aku telah menghancurkan panggangan rotimu,” jawab Tiffany sambil menarik sudut bibirnya. “Lebih baik kau pergi sekarang. Sejauh mungkin. Cari bala bantuan,” tambahnya sebelum berlalu dari hadapan gadis itu.

“Tunggu sebentar!”

Tiffany menoleh. Matanya menatap gadis itu tajam. “Apa?”

“Siapa kamu?”

Tiffany menyeringai.

“Panggil saja aku Absinth.”

-o0o-

Seoul, South Korea, 2 days later

“Apa yang kaulakukan di sini, Dennis?” seorang lelaki yang berumur sekitar setengah abad memandang takjub ke arah Profesor Dennis yang memaksa masuk ke dalam ruangan kantornya.

“Apa kau sudah gila, Dominique? Aku tidak mau menampung monster pembunuh di rumahku!” bentak Profesor Dennis tanpa basa-basi.

Pria tua yang dipanggil Dominique itu terperanjat.

“Apa kau tahu? Anakmu membunuh 5 orang perampok di desa tempat tinggalku!” lanjut Profesor Dennis dengan mata berkilat-kilat.

“Duduklah, Dennis.” Dominique menunjuk sebuah kursi di depan meja kerjanya. Suaranya terdengar rendah dan lirih.

Profesor Dennis mengatur napasnya. Ia duduk di kursi yang ditunjuk Dominique sementara tangannya sibuk membenarkan dasi.

“Jadi… kau sudah tahu?” Dominique kembali bersuara.

“Bagaimana tidak! Dua malam yang lalu gadis itu pulang tengah malam dengan wajah dan pakaian berlumuran darah! Bahkan aku bisa melihat jelas ada secuplik kulit manusia menempel di kukunya,” jelas Profesor Dennis berkoar-koar. “Dan besoknya sebuah headline di koran lokal memuat kasus pembantaian perampok di sebuah losmen di tempat tinggalku. Nyaris saja Tiffany ditangkap jika aku tidak segera membawanya ke sini.”

“Jadi dia ada di sini?!” Dominique kembali terkejut. Ia meremas jarinya. “Tiffany bisa mengacaukan rencanaku.”

Kali ini Profesor Dennis yang terperangah. “Apa?! Kau masih memikirkan kelancaran rencanamu sementara putrimu yang berkepribadian ganda itu membunuh orang-orang awam di luar sana?! Proyek gelap kita bisa ketahuan!” bentak Profesor Dennis menggebrak meja. “Lupakan saja soal rencanamu, Dom! Kembalikan seluruh aset tubuh milik Tiffany sebelum dia berubah menjadi anak yang sangat mengerikan!”

BRRAAK!

Dominique menggebrak meja—lebih keras dibanding yang dilakukan Profesor Dennis sebelumnya. Mereka berdua saling melempar tatap. “Kau tidak mengerti apa-apa, Dennis. Proyek ini akan sukses. Kita hanya butuh menunggu sebentar.”

“Membuat perusahaan pengkloningan manusia bukan satu-satunya cara untuk mendapatkan dunia, Dom! Apalagi percobaan awalnya menggunakan serum milik putri semata wayangmu! Lupakan saja, Dom! Terlalu banyak risiko yang harus kau tanggung!” urai Profesor Dennis lagi.

“Tidak bisa, Dennis. Perusahaan bir saja tidak cukup untuk membuatku berhasil. Proyek sudah setengah jalan. Aku yakin ini akan sukses. Bersabarlah, ini hanya sebagian kecil dari efek sampingnya. Lagipula Tiffany tidak akan membunuh lagi jika ia meminum obatnya secara rutin,” balas Dominique tenang. Terbesit ide brillian untuk mencekik Dominique di benak Profesor Dennis. “Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana caranya meminimalisir efek samping dari pengambilan sampel di tubuh Tiffany sehingga ia tak akan melakukan hal di luar akal sehat lagi.”

“Kau bisa memasungnya dan mengasingkannya di kota terpencil—bukan di rumahku,” ketus Profesor Dennis. Kini ia sudah tidak punya belas kasihan lagi kepada Tiffany. Gadis itu jelas menghancurkan kepercayaannya—yang menyatakan bahwa Tiffany adalah anggota keluarga Hwang yang paling normal—kendati penyebab hal ini terjadi bukan berasal dari diri gadis itu sendiri.

“Tidak. Aku tidak ingin menghancurkan masa-masa indah anakku sendiri. Aku ingin ia hidup normal. Belajar, bermain, dan berkencan seperti remaja-remaja normal pada umumnya,” jawab Dominique lirih.

“Jelas sekali saraf otak Tiffany sudah terganggu, Dom! Kini dirinya tidak lagi sama dengan remaja-remaja lain. Kau yang membuat hidupnya berantakan seperti ini!” hardik Profesor Dennis. Akhirnya ia berdiri dari kursi, “berusahalah sendiri, Dominique. Aku sudah tidak ingin ikut campur dalam masalah ini. Kutinggalkan Tiffany di lobby.” Ujarnya sebelum berlalu.

-o0o-

 “Dad, kau akan membawaku ke mana?” Tiffany melirik ayahnya dengan ragu. Tangannya digenggam erat oleh beliau, membuat gadis itu merasa aman.

Sudah seminggu lebih semenjak kembalinya Tiffany ke Korea. Dominique terlalu sibuk bekerja hingga baru saat ini mereka bisa mengobrol tanpa harus diganggu oleh pekerjaannya.

Daddy akan mengembalikan kehidupan normalmu, Honey.” Dominique tersenyum.

“Memangnya selama ini aku tidak normal?” kilah Tiffany mengerucutkan bibirnya.

“Tidak, Sayang. Kau normal. Hanya saja, Daddy akan berusaha mengembalikanmu ke tempat yang lebih normal.”

Tiffany tertegun.

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam laboratorium bawah tanah rumah keluarga Hwang di daerah Gangnam. Sebuah pintu kaca terbuka otomatis saat Dominique menempatkan telapak tangannya di atas panel sensor. Tiffany berdecak kagum saat melihat ruangan serba putih di depannya. Tabung-tabung kaca, gelas reaksi, panel komputer besar, semuanya nampak suci dan tak tersentuh.

“Wah! Kenapa Daddy tidak pernah mengajakku ke sini sebelumnya?” tanya Tiffany sambil menyebar pandang ke sekeliling ruangan.

“Kau baru setahun tinggal di Korea, Sweetheart. Itupun ketika kau kecil. Tidak mungkin Dad membawa bayi ke dalam laboratorium.” Dominique mengulas senyum.

Dominique meminta Tiffany duduk di atas sebuah kursi tinggi di tengah ruangan sementara dirinya tengah meracik sesuatu dengan tabung reaksi. Sesekali pria itu berseliweran di depan Tiffany, mengambil beberapa toples kaca yang berisikan cairan-cairan kimia yang terletak di atas rak di ujung ruangan.

Setengah jam kemudian akhirnya Dominique kembali dengan sebuah suntikan berisi cairan di tangannya. Wajahnya berkeringat, sampai-sampai membasahi jas lab yang dikenakannya.

“Kemari, Sweetheart. Daddy akan menyuntikkan obat penenang terlebih dahulu,” ujar Dominique mengulurkan tangan.

Tiffany mencermati sebuah suntikan di tangan ayahnya dengan hati-hati. Dan mendadak kilat matanya berubah. Gadis itu meninggikan dagunya. “Obat penenang? Untuk apa? Kenapa aku perlu ditenangkan?” tanyanya sedikit sinis.

“Bu-bukan itu maksud Daddy,” kilah Dominique gugup. “Hanya saja, Daddy harus melakukan sesuatu dengan tubuhmu. Kau tahu ‘kan Daddy seorang ilmuwan, jadi kau tidak perlu taku—”

“Kalau begitu kenapa Daddy tidak bisa membedakan antara obat penenang dan kalium sianida?”

Dominique tercengang.

“Apa kau ilmuwan bodoh? Itu bukan obat penenang. Itu sianida. Racun yang mengandung siano dan membunuh dengan cara menahan sel-sel darah agar tidak mengikat oksigen, membuat kematian perlahan bagi siapa saja yang meminumnya.”

Tiffany tersenyum sarkastis. Ia turun dari kursi, melangkahkan kaki jenjangnya mendekati Dominique dengan tenang.

“Berhenti di sana, Stephanie Hwang! Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!” hardik Dominique keras. Pria bertubuh bulat itu melangkah mundur perlahan.

“Aku tahu, Dominique. Aku tahu. Aku tahu kau akan membunuhku, ‘kan? Anakmu sendiri?” Tiffany menyerang Dominique secara membabi buta. Untung saja Dominique berhasil menghindar. Tapi sayangnya Tiffany dengan cekatan menubruknya, membuat pria itu harus menahan rasa sakit karena kepalanya terbentur cukup keras.

Terjadi pergulatan sengit di antara mereka berdua. Suntikan yang berisi kalium sianida masih digenggam erat oleh Dominique. Pria yang sudah berumur itu dengan susah payah mempertahankan nyawanya. Ia tidak sudi mati karena putrinya sendiri. Ia menyesal tidak mendengarkan Profesor Dennis sejak awal.

BRRAAK!

“Jawab aku, Jean Dominique Hwang! Kenapa kau akan membunuh anakmu sendiri?!” bentark Stephanie seraya mencekik leher besar Dominique.

Bibir pria itu mulai berubah warna, sementara dadanya kembang kempis tak keruan. Ia nyaris mati.

“Kau monster, Stephanie! Kau monster!” desis Dominique di sela-sela napasnya.

“Biar kutunjukkan apa artinya monster.”

Tiffany dengan lincah memutar paksa tubuh Dominique yang semula ia duduki. Terdengar gemeratak aneh yang disusul oleh pekikan keras. Rupanya Tiffany berhasil mematahkan tulang rusuk pria itu—ayahnya sendiri.

“Siapa yang telah menciptakan monster ini, Daddy sayang?”

Tiffany mencabut paksa suntikan di tangan Dominique. With no doubt, akhirnya gadis itu mengakhiri hidup ayah kandungnya sendiri dengan sebuah jarum suntik racun tertancap di punggung beliau.

.

.

.

Dan sejak saat itu, hidup Tiffany berubah.

-o0o-

Satu per satu karyawan Anheuser-Busch corp. hilang dengan tidak wajar. Ya, insiden ini terjadi setelah CEO perusahaan yang berpusat di St. Louis, AS itu mati karena keracunan sianida. Dengan cepat pihak perusahaan memalsukan kematian tersebut, sehingga yang terdengar di telinga masyarakat adalah Jean Dominique Hwang meninggal karena serangan jantung.

Semua bukti mengenai kejahatannya, proyek kloningnya, dipindahkan jauh-jauh dari Korea. Mahkluk pertama percobaan kloningnya bahkan dikubur 20 meter dari permukaan tanah di salah satu pekarangan rumah tak bertuan di St. Louis, AS.

Empat hari berikutnya, Dennis Park—pria yang dikenal sebagai analis kimia di perusahaan pemasok bir itu—ditemukan tewas di rumahnya, di Los Angeles. Begitu juga dengan sekretaris direktorat yang kebetulan tengah menginap di sana, Narsha Kim yang tewas dengan tubuh terkoyak di kamar mandi rumah kartu tarot Anheuser-Busch corporation.

Sampai akhirnya setelah tragedi mengenaskan ini berlalu, kabar mengenai perusahaan bir Budweiser terbesar di AS itu sudah tidak terdengar lagi. Perusahaan itu dinyatakan bangkrut oleh masyarakat setempat.

Dan cerita mengenai Anheuser-Busch corporation tidak berhenti sampai sini saja. Tiga tahun kemudian, seorang gadis yang mengaku putri semata wayang CEO Anheuser-Busch corporation muncul dan mendirikan perusahaan baru di atas perusahaan yang sudah runtuh. Gadis bernama Stephanie itu memulai semuanya dari nol, dibantu oleh Kim Hyoyeon dan Huang Zi Tao—kerabat jauh gadis itu yang rupanya tinggal di Cina.

Semuanya berjalan lancar. Uang terus mengalir deras mengisi tabungan gadis berkebangsaan Amerika-Korea itu. Perusahaannya membuka cabang di mana-mana. Menduduki peringkat tertinggi sebagai perusahaan bir paling sukses di Asia.

Dan rupanya, hal ini tidak membuat gadis itu puas. Berdirilah sebuah sindikat gelap di samping perusahaan warisan ayahnya itu. Sindikat pemasok gin dan vodka ilegal dan produsen racun paling besar di Asia. Dan rupanya, baru-baru ini sang CEO akan menggarap proyek baru.

Pengkloningan manusia.

Dan untuk yang satu ini gadis itu tak mau bersusah payah mengulang dari awal. Ia menyuruh kaki tangannya untuk mencari keberadaan sisa-sisa sindikat gelap ayahnya. Ia yakin bahwa mahkluk yang diciptakan ayahnya dari serumnya itu disembunyikan di suatu tempat, di Amerika.

Tak sampai sebulan mencari, orang suruhannya menemukan bukti-bukti sisa proyek pengkloningan manusia Jean Dominique Hwang di St. Louis—tempat yang benar-benar retoris.

Kini, ia hanya membutuhkan ilmuwan handal yang mau membantunya melanjutkan proyek tersebut. Seorang—atau lebih—ilmuwan yang mau mengabdi padanya dengan bayaran yang lebih tinggi daripada gaji presiden Korea.

Who are them?

Do Myeongsu and Do Cheonsa. They were scientists in a big modified company in England. They had a child. And their child is smart as hell. Do Myeongsu and Cheonsa inherited their knowledge to that child.

What’s that child’s name?

His name is…

.

.

.

—Do Kyungsoo.

tbc.

P/S
HUALOOO CEMANCEMAAAAN! HAHAHAHA AKHIRNYA AKU BERHENTI DIHANTUI MIMPI BURUK PADA READERS YANG NAGIHIN TADT MULU DI CHATTANGO(?)😆
Ini aku post 11A dulu yaa! Semoga udah cukup panjang:”))) aku buru-buru nih ngetiknya, soalnya aku udah janji sama si saeng dumaiku Mauriel supaya ngepost hari ini:”DD
Aku tahu banget ceritanya makin lama makin ngaco. Aku buat Sider Story rencananya cuma buat memperjelas peran Tiffany di sini. Maaf kalo yang nunggu adegan TaeSoo-nya:”)) nanti di chapter lain semoga lebih banyak adegan mereka! Dan yang kupost diblogku itu Chapter 11B, yang nantinya akan di post disini juga kook^^
I MADE THIS WITH HEART. PLEASE COMMENT WITH HEART TOO!

68 thoughts on “Take A Drink Together (Chapter 11A – Tiffany’s Sider Story)

  1. Pingback: Take A Drink Together (Chapter 12 – Bleeding Truth) | EXOShiDae Fanfiction

  2. Ternyata keturunan Hwang emang monster *diceritaini*
    aku bahkan pas baca chapter2 sebelumnya selalu bertanya2 “kenapa kyungsoo gak bunuh Tiffany aja, pake pistol gitu” tapi aku selalu lupa buat komen ini hehehe.
    tapi akhirnya pertanyaan aku terjawab disini…
    gimanaaa coba caranya ngebunuh monster.. ckckckckck

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s