[Oneshoot] Kim Family

kim-family-asriwljng

Title : Kim Family

Author : asriwljng

Length : Oneshoot(5.312 words)

Rating : PG-16

Genre : Tragedy, Action, SCI-FI, Family, Sad

Main Cast :

–          Kim Taeyeon

–          Kim Hyoyeon

–          Kim Junmyeon a.k.a Suho

–          Kim Jong In a.ka Kai

Other Cast :

–          Kris Wu as Agent Wu

–          Oh Sehun as Agent Oh

–          Jessica Jung as Agent Jung

–          Tiffany Hwang as Agent Hwang

–          Seo Joo Hyun as Seohyun

–          Choi Junhong as Zelo

–          Zhang Yi Xing as Yi Xing

–          And others.

Disclaimer : FF ini asli punyaku, jika ada kesamaan alur cerita dengan FF lain itu karna tidak kesengajaan

Author Note : Dimohon untuk liat author note diakhir cerita. Terima kasih 😀

BEWARE OF THE TYPO(s) GUYS!

 

***

Author POV

Taeyeon berjalan dengan cepat menuju kamar orang tuanya, langkahnya dia percepat karna feelingnya mengatakan hal yang buruk. Karna orang tuanya sampai jam 7 pun belum bangun dari tidur malamnya. Dan biasanya, jam 7 pagi seperti ini Taeyeon dan orang tuanya beserta adik – adiknya sudah berada di ruang makan, sedang sarapan pagi bersama dengan canda tawa.

Taeyeon membuka pintu kamar orang tuanya, tangannya agak bergetar. Entahlah, Taeyeon sendiri pun tidak tau artinya apa. Saat baru sedikit membuka pintu kamar orang tuanya, bau anyir darah sudah tercium menusuk indra penciumannya. Feelingnya makin tidak enak.

“IBU!!!! AYAH!!!!!!” Taeyeon menjerit kencang melihat keadaan ibu dan ayahnya. Air mata mengalir dengan deras menuruni kedua pipi mulusnya. Tanpa jijik, Taeyeon memeluk ibu dan ayahnya kencang. Suara ketukan sepatu dengan kramik berbunyi di luar kamar orang tuanya.

“Astaga!” Jong In atau yang biasa di panggil Kai menutup kedua hidungnya karna bau anyir darah benar – benar membuatnya ingin muntah sekarang juga. Air matanya pun langsung mengalir begitu saja melihat pemandangan yang berada di hadapannya sekarang. Taeyeon dan Suho mendekati Taeyeon. Dan air mata mereka pun mengalir juga dengan deras melihat keadaan ayah dan ibunya.

Kai menatap kakak – kakaknya dengan sedih, lalu berjalan mendekati mereka dan mengikut untuk memeluk jasad kedua orang tua mereka yang berlumuri darah. Kai bersumpah dalam hati, jika dia menemukan siapa pembunuh orang tuanya, dia akan meletukkan senjatanya tepat di kepala sang pembunuh. Tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya dalam kehidupannya nanti.

***

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai berdiri di ambang pintu kamar orang tuanya masih dengan keadaan yang sama, masih menangis karna kepergian orang tua mereka yang sangat cepat. Suho merangkul badan mungil Taeyeon, mengelus pundak kakaknya dengan sayang untuk menyuruhnya tidak bersedih lagi walaupun itu tidak akan mungkin. Kai pun juga begitu, merangkul Hyoyeon dan menyenderkan kepala Hyoyeon di pundaknya.

Beberapa agent FBI yang sedang memeriksa tempat kejadian sedang berada di dalam kamar orang tuanya, ada beberapa papan yang berguna untuk menandai beberapa tempat dan benda sebagai barang bukti atau barang yang di pakai sang pembunuh yang tertinggal di kamar orang tuanya.

“Maaf, Taeyeon-ssi. Tapi kami sama sekali belum menemukan sidik jari dari sang pembunuh. Saya yakin pembunuhnya adalah pembunuh profesional, yang tidak sekedar hanya membunuh saja tanpa memikirkan dirinya setelah membunuh korban.” Ucap ketua agent untuk kasus ini dengan panjang lebar. Taeyeon mengusap airmatanya dengan pelan, lalu mengangguk pada ketua agent itu.

“Apa kami bisa meng-introgasi kalian sehabis pemeriksaan tempat kejadian ini selesai?” tanya ketua agent itu hati – hati. Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai mengangguk. Ini semua demi orang tua mereka. Apapun akan mereka lakukan untuk mengetahui siapa pembunuh orang tua mereka.

***

Ruang Introgasi, 12.30 KST

Taeyeon berdehem untuk menetralkan suaranya yang serak sehabis menangis, dia menunduk karna bingung apa yang harus ia lakukan selama agent tadi yang akan mengintrogasinya belum datang juga. Suara pintu terbuka, muncullah pria tinggi, berambut pirang dengan wajahnya yang dingin namun ramah. Ketua agent tadi. Perempuan cantik mengikuti di belakang ketua agent tadi sambil membawa berkas – berkas yang di perlukan saat mengintrogasi anak dari Tuan Kim dan Nyonya Kim.

“Siang, Taeyeon-ssi.”

“Siang.”

“Jadi, bisakah kami mengintrogasi mu sekarang?”

“Silahkan.”

Dilain tempat yang Hyoyeon, Suho, dan Kai sendiri tidak tau guna tempat itu mereka sedang menunggu giliran mereka yang akan di introgasi nanti. Hyoyeon duduk di antara adik – adik lelakinya yaitu Suho dan Kai. Matanya sangat sembab sehabis menangisi kepergian orang tua mereka tadi pagi.

“Aku masih tidak percaya ibu dan ayah meninggalkan kami secepat ini.” Ucap Hyoyeon sambil menatap kosong kedepan. Suaranya yang serak membuat Kai dan Suho meringis mendengar kakaknya yang begitu terpuruk dengan kepergian orang tua mereka.

“Aku yakin ini semua berhubungan dengan bisnis mereka.” Ucap Suho datar. Wajah putihnya yang memang pucat semakin bertambah pucat karna kejadian ini. Matanya memerah karna menahan tangisnya untuk sekarang ini. Kai mengangguk mendengar ucapan hyung tertuanya, “Ya. Pasti ini semua karna bisnis.”

“Tapi tidak dengan cara membunuh, kan? Aku rela kami kehilangan harta daripada harus kehilangan ibu dan ayah!” teriak Hyoyeon frustasi. Tangannya terkepal kuat, menahan amarah dan kesedihannya yang kini bercampur menjadi satu di dalam tubuhnya.

“Noona, tenanglah.” Ucap Suho memeluk Hyoyeon. Kai mengelus pundak Hyoyeon dengan sayang. Ingin menangis saat ini juga, namun dia tau pasti ini akan membuat Suho kewalahan karna 2 orang yang berada disekitarnya menangis dan tidak bisa di kendalikan.

“Ini semua sudah terjadi, noona. Kita tidak bisa memutar waktu kembali kepada hari kemarin.” Ucap Kai dengan suara yang serak karna mencoba menahan tangisnya.

“Apa kau tidak sedih karna ibu dan ayah pergi untuk selamanya, hah?” tanya Hyoyeon emosi terhadap Kai. Lalu kemudian tangisannya pecah. Kai memejamkan matanya, mengepalkan tangannya dengan kuat. Berusaha menahan emosinya untuk tidak berteriak pada noonanya. Suho hanya diam dan tetap memeluk Hyoyeon tambah erat agar Hyoyeon tidak sedih lagi walaupun hanya untuk hari ini saja.

***

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai sudah berada di dalam mobil mereka. Kini mereka dalam perjalan kembali ke rumah mereka yang membuat mereka semakin ingin menangis karna terus mengingat kedua orang tua mereka. Supir pribadi mereka-Lee, ahjussi, memandang Taeyeon, Hyoyeon, dan Kai yang berada di belakang dari kaca spion dalam mobil mereka. Lee ahjussi menghela nafas, dia tau betul seluk beluk keluarga Kim karna dia sudah bekerja di rumah keluarga Kim sebelum Taeyeon lahir. Dan tentu saja dia tau semua sifat – sifat dari anggota keluarga Kim. Lee ahjussi juga tau bahwa mereka tidak mempunyai masalah apapun karna mereka adalah keluarga yang sangat ramah menurut Lee ahjussi.

Lee ahjussi di buat bingung oleh kepergian Tuan Kim dan Nyonya Kim. Dia juga tau kalau bisnis keluarga Kim sangat sukses dan membuat pembisnis yang lain akan merasa iri karna ke sukses-an keluarga Kim. Namun Lee ahjussi berpikir bahwa membunuh bukan cara yang tepat untuk memuaskan diri mereka yang iri oleh bisnis keluarga Kim.

“Lee ahjussi, bisa antarkan aku ke tempat biasa kami latihan menembak?” Tanya Taeyeon. Suho, Hyoyeon, dan Kai menatap Taeyeon khawatir. Khawatir kakaknya akan melakukan hal yang aneh – aneh di tempat latihan itu.

“Tenang saja, aku tidak akan menyusul ibu dan ayah.” Ucap Taeyeon datar menenangkan adik – adiknya yang memandangnya khawatir.

“Aku ikut.” Ucap Kai.

“Aku bi–“

“Aku juga ingin berlatih disana, noona. Kita akan berbeda tempat. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan noona.” Ucap Kai memotong tolakkan dari Taeyeon. Taeyeon mendesah kesal, lalu menyenderkan badannya di jok mobilnya.

“Lalu apa Taeyeon dan Kai jadi ke tempat latihan menembak?” tanya Lee ahjussi memastikan. Kai hanya menangguk dan Lee ahjussi segera memutar arah menuju tempat dimana anak dari keluarga Kim biasa melakukan latihan menembak mereka.

***

“Hyoyeon noona, kau ikut tidak?” tanya Suho. Hyoyeon menggeleng pelan. Lalu Suho mengangguk dan menyuruh Lee ahjussi kembali menjalankan mobilnya dan membawa Suho dan Hyoyeon kembali ke rumah mereka.

Kai dan Taeyeon berjalan memasuki tempat latihan mereka. Wajah mereka yang dingin itu membuat semua orang memandang mereka kaget. Kaget karna mereka sudah ke tempat latihan ini saja karna orang tua mereka yang baru saja pergi untuk selama – lamanya. Taeyeon dan Kai memandang beberapa orang yang melihat mereka dengan tatapan kasian dengan tatapan dingin mereka berdua, dan tentu saja itu langsung membuat nyali mereka hilang karna tatapan Taeyeon dan Kai.

“Kudengar orang tua mu meninggal, ya?” tanya Zelo saat sudah berada di samping Kai, berjalan bersama menuju tempat latihan mereka. Kai mengangguk tanpa berniat untuk mengeluarkan suaranya.

“Aku turut berduka karna kepergian orang tuamu.” Ucap Zelo dan hanya di jawab anggukkan lagi oleh Kai. Walaupun Kai hanya menanggapinya datar dan dingin seperti itu, namun di dalam hatinya dia ingin menangis karna seseorang membahas ini lagi.  Zelo menepuk pundak Kai untuk membuat Kai tidak bersedih lagi. Kai berterima kasih karna memiliki sahabat sebaik Zelo di dunia ini.

***

Suho dan Hyoyeon berjalan bersama memasuki rumah mereka. Beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka menunduk sopan. Lalu Park ahjumma mendatangi mereka dengan membawa kertas yang Suho dan Hyoyeon tak tau apa isi dari kertas itu.

“Annyeong, Suho, Hyoyeon.” Sapa Park ahjumma lalu menunduk dengan sopan pada mereka berdua. Suho dan Hyoyeon hanya membalasnya dengan senyuman tipis mereka. Park ahjumma menyerahkan kertas tadi kepada mereka berdua.

“Tolong di baca, tapi pihak penyelidikan menyuruh memegangnya langsung dengan tangan kalian. Dengan kain atau mungkin sarung tangan untuk tidak menghilangkan sidik jari tersangka di kertas ini.” Jelas Park ahjumma dengan panjang lebar. Suho mengambil kertas tadi menggunakan tissue yang sedari tadi juga Park ahjumma gunakan untuk memegang kertas itu.

Kami puas telah membunuh orang tua kalian. Dengan begini perusahaan kami tidak akan tersaingi lagi. Kami terpaksa harus melakukannya dengan cara pembunuh.

“Yeah, ini semua karna bisnis. Apa arti hidup mereka jika tidak ada uang, huh?” ucap Suho kesal dan memberikan kertas itu kembali pada Park ahjumma, lalu berjalan dengan lemas menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Hyoyeon meminta kertas itu kembali lalu membacanya. Hyoyeon mendekatkan kertas itu pada matanya, memastikan bahwa tulisan itu di tulis dengan apa. Karna itu berbeda dengan pensil atau pen lainnya. Ini berwarna merah, merah darah, “Well, sepertinya aku dapat sidik jari pelakunya.”

***

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai menyantap makanan mereka dengan malas. Pemandangan ini tentu saja membuat semua pelayan di rumah mereka sedih. Setiap makan bersama dan masih ada ibu dan ayah mereka, tentu saja rumah ini penuh canda dan tawa. Namun kini rumah ini seperti di tutupi awan gelap karna kesedihan mereka semua. Sangat berbeda dengan biasanya.

Hyoyeon membersihkan sekitar mulutnya sehabis makan menggunakan tissue, “Sepertinya kita akan tau siapa pembunuh ibu dan ayah.”

Are you kidding?” tanya Taeyeon kaget.

“Kau tau darimana, noona?” tanya Suho bingung, karna kemarin dia dan Hyoyeon berada di rumah. Tidak pergi kemana – mana. Jadi mana mungkin Hyoyeon akan tau siapa pembunuhnya?

“Noona dapat bukti seperti apa?” tanya Kai penasaran.

“Yeah, kemarin Park ahjumma memberika surat dari pembunuh itu. Dan surat itu tertulis dengan darah. Saat aku melihatnya lebih dekat lagi, sepertinya aku mendapat sidik jari dari sang pelaku.” Jelas Hyoyeon kepada Taeyeon, Suho, dan Kai.

“Lalu surat itu ada dimana?” tanya Kai lagi dengan sedikit tidak sabar.

“Kau bisa memintanya pada Park ahjumma.” Jawab Hyoyeon sambil tersenyum senang. Semua tersenyum. Namun senyuman mereka berbeda, bukan senyuman yang biasa mereka tunjukkan. Namun ini seperti seringaian jahat.

Mungkin karna mereka semua bersaudara, mereka mengucapkan janji di dalam hati mereka yang mengatakan bahwa mereka akan membunuh langsung pelaku yang membunuh orang tuanya, dan bertempat tepat di jantungnya.

***

“Agent Wu!” Kai berteriak memanggil Agent Wu yang hampir masuk kedalam mobilnya. Agent Wu membalikkan badannya ke arah Kai dan tersenyum. Kai berlari kecil menghampiri Agent Wu dan langsung memberikan kertas yang tadi pagi sudah ia minta pada Park ahjumma.

“Ini surat dari pembunuh yang sengaja meninggalkannya di kamar ibu dan ayah. Salah satu anak buah mu sengaja masih meninggalkannya di kami untuk kami membacanya. Lalu noona ku melihatnya lebih dekat lalu menemukan sedikit sidik jari. Kurasa itu bisa membantu kalian untuk menemukan pembunuh itu.” Jelas Kai panjang lebar. Agent Wu menerima kertas itu yang kini sudah berada di dalam plastik transparan.

“Yeah, aku juga melihat sidik jari di kertas darah ini. Terima Kasih, Kai-ssi.” Ucap Agent Wu setelah melihat kertas itu lebih dekat lagi.

“Kris hyung, cepatlah masuk. Seohyun noona sudah menelfon.” Sehun memunculkan kepalanya dari dalam mobil.

“Sepertinya aku harus kembali ke kantor. Mungkin Seohyun sudah menemukan beberapa hasil yang sudah ia teliti. Annyeong, Kai-ssi.” Ucap Agent Wu lalu menunduk pada Kai, Kai balas menunduk lalu segera menjauh dari tempat itu dan kembali ke dalam mobilnya yang terparkir agak jauh.

Seseorang memperhatikan Kai dari jauh, penampilannya yang tertutup itu mungkin membuat semua orang curiga jika melihatnya. Namun tempatnya sekarang sangat tertutup dan tidak di ketahui oleh orang – orang. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu menempelkan telfonnya di telinganya.

“Sepertinya sebentar lagi kita akan ketahuan.”

Kai beberapa kali menengok kebelakang. Dia merasakan ada seseorang di belakangnya yang sedang memperhatikannya sejak tadi, bahkan sejak dia berbicara dengan Agent Wu. Kai mempercepat jalannya menuju mobilnya, lalu segera masuk ke dalam mobilnya dan meminta Lee ahjussi segera menjalankan mobilnya kembali ke rumah.

***

Agent Wu segera membawa kertas tadi ke laboratorium milik Seohyun yang berada di lantai paling dasar. Dia memegang kertas itu dengan erat dan berjalan dengan cepat karna Seohyun yang sudah menunggunya sedari tadi.

“Well, apa yang kau temukan?” tanya Agent Wu saat sudah sampai di laboratorium Seohyun. Seohyun dengan baju lab putih miliknya yang panjang berbalik ke arah Agent Wu dengan wajah yang sangat gembira.

“Jadi aku sudah menemukan pistol yang pembunuh itu pakai, dan jenis peluru yang berada di dalam tubuh Tuan dan Nyonya Kim juga sudah ku cocokkan dengan peluru dari jenis pistol itu. Semuanya cocok. Lalu aku sudah menyuruh Jessica untuk mencari orang yang membeli jenis pistol mahal itu selama 2-4 bulan terakhir. Dan mencari seseorang yang mungkin dekat dengan keluarga Kim dari daftar nama itu nanti.” Jelas Seohyun panjang lebar. Agent Wu mengangguk dan menepuk pundak Seohyun pelan. Seohyun tersenyum tipis lalu melihat plastik berisi kertas yang sedari tadi Agent Wu pegang.

“Kris, apa itu?” tanya Seohyun sambil menunjuk plastik tadi. Agent Wu mengangkat kertas itu dan menyerahkan pada Seohyun.

“Ini barang bukti yang sengaja pembunuh itu tinggal di kamar Tuan dan Nyonya Kim. Dan tolong selidiki kertas itu.”

“Baiklah. Ini hanya sebentar. Tetaplah disini.” Ucap Seohyun lalu mulai bergulat dengan komputer canggih miliknya itu. Seohyun memfoto kertas tadi lalu hasil foto itu sudah muncul di layar komputernya. “Kris, aku dapat sidik jarinya.”

Seohyun segera mencari DNA dari sidik jari itu. Lalu munculah profile seseorang yang tidak berkepentingan, namun memiliki catatan kriminal yang banyak. Agent Wu membaca profile itu dengan teliti, dan dapat ia simpulkan bahwa orang ini adalah pembunuh bayaran.

“Okay, thanks, Seohyun.” Ucap Agent Wu cepat dan meninggalkan laboraturium Seohyun dengan terburu – buru. Sepanjang jalannya menuju kembali ke meja kerjanya dan timnya, dia menghafalkan nama orang itu agar tidak segera lupa.

***

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai duduk melingkar di taman belakang rumah mereka. Semenjak kejadian meninggalnya orang tua mereka karna terbunuh, rumah mereka lebih di jaga lagi dengan ketat oleh beberapa petugas dan bahkan ada juga polisi yang ikut menjaga rumah mereka. Taeyeon menghela nafas dan memijat pelipisnya.

“Lalu nanti yang akan mengurus perusahaan ayah siapa, huh?” tanya Taeyeon frustasi. Dari pagi sejak ia bangun pikiran ini terus berada di otaknya karna dia tidak akan membiarkan perusahaan ayahnya di lepas begitu saja karna mengingat ayahnya yang mengurus perusahaan keluarganya dengan kerja keras yang tidak pantas untuk ditinggal begitu saja.

“Mungkin Suho atau Kai.” Ucap Hyoyeon datar dan menaikkan bahunya tidak tau.

“Aku bersedia mengurus perusahaan ayah. Aku tidak akan mengecewakan ayah. Dia juga sudah meminta ku untuk mengurus perusahaannya jika dia sudah tidak sanggup lagi.” Jelas Suho. Kai menghela nafas karna beruntung bukan dia yang akan mengurus perusahaan besar itu sendiri.

“Kau senang karna tidak terpilih untuk mengurus perusahaan ayah?” tanya Hyoyeon karna mendengar helaan nafas Kai. Kai mengangguk dengan semangat disertai dengan senyuman polosnya. Hyoyeon meninju pelan lengan Kai lalu mengusap kepala adiknya dengan sayang.

“Noona, pukulan mu sakit, asal kau tau.” Rengek Kai dengan manja. Taeyeon memandang Kai jijik karna rengekkan manja dari adik bungsunya. Suho tertawa karna melihat wajah aneh Taeyeon.

“Asal kau tau, Kai. Rengekkan manjamu menjijikan. Sangat tidak cocok dengan wajahmu yang sangat poker face itu!” omel Taeyeon dan memukul kepala Kai pelan. Kai meringis kesakitan karna ulah kedua noona-nya yang sangat kejam padanya.

Dalam hati Kai bersyukur karna dengan begini semua kakaknya bisa tersenyum dan tertawa lagi seperti tidak ada beban dalam hidup mereka. Kai tersenyum dan memandang kakak – kakaknya bergantian.

***

Agent Wu, Agent Oh, Agent Jung, dan Agent Hwang kini berada di sebuah restoran besar yang menyediakan khusus makanan Italian. Mereka semua memencar. Agent Wu yang berada di pojok restoran, Agent Hwang yang berada di tengah restoran, Agent Jung yang berada di bangku dekat toilet, dan Agent Oh yang berada di dekat pintu masuk restoran. Mereka semua kini tengah sibuk menjalankan misi mereka. Mereka sudah dapat sidik jari dari sang pembunuh yang ternyata memang benar pembunuh bayaran.

Pintu restoran terbuka dan membunyikan lonceng kecil yang berada di atas pintu masuk. Agent Oh segera mengalihkan pandangannya dari ponsel menuju pintu masuk, dan orang yang mereka tunggu kini sudah datang dan mengambil duduk tepat di depan Agent Hwang.

“Hyung, tersangka sudah tiba.” Ucap Agent Oh sambil menekan sesuatu di telinganya. Agent Oh melihat Agent Wu yang berada di pojok restoran ini yang sedang mengangguk padanya.

“Jessica noona, Tiffany noona. Tersangka sudah tiba. Bersiaplah sebelum Kris hyung menyuruh kalian bersiap.” Ucap Agent Oh lalu melirik Jessica dan Tiffany yang sedang mengangguk pelan pertanda merespon ucapannya tadi.

Tersangka berdiri dari duduknya saat sudah selesai memesan makanan. Pelayan tadi pergi dari tempat dimana tersangka duduk dan menuju dapur restoran ini. Tersangka berjalan menuju toilet dan otomatis berjalan melewati Jessica. Saat tersangka sudah masuk ke dalam toilet. Agent Wu, Agent Jung, Agent Hwang, dan Agent Oh berdiri dari duduknya dan berjalan menuju toilet tadi.

Mereka semua sudah memulai memegang senjata mereka masing – masing. Mereka berdiri di samping pintu masuk toilet pria. Sudah mulai mengeluarkan senjata mereka saat pintu toilet pria itu terbuka dan munculah seseorang yang mereka cari – cari.

“Zhang Yi Xing, kau tertangkap atas pembunuhan Tuan dan Nyonya Kim 2 hari yang lalu.” Ucap Agent Wu tajam pada Yi Xing. Yi Xing menatap mereka berempat dengan tatapannya yang pura – pura bodoh.

Agent Oh segera memborgol tangan Yi Xing dan membawanya keluar dari restoran ini. Beberapa pengunjung menatap mereka takut. Jessica segera mengeluarkan surat yang menunjukkan bahwa mereka adalah agent resmi.

Keep calm. Fegeral agent.” Ucap Agent Jung dengan bahasa Inggrisnya yang pandai. Dia berjalan dengan terburu di belakang Agent Wu dan menyamakan langkahnya dengan langkah panjang Agent Wu. Semua pengunjung mengangguk mengerti namun tetap memandang mereka berlima sampai akhirnya mereka keluar dari restoran itu.

***

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai berjalan mengikuti Agent Hwang menuju ruang introgasi yang waktu itu mereka juga sempat berada di ruangan itu. Langkah mereka terdengar sangat terburu – buru karna sudah tidak sabar ingin melihat pembunuh ayah dan ibunya.

“Kalian bisa masuk kesini.” Ucap Agent Hwang sambil membuka pintu dengan ruangan gelap dan ada beberapa komputer di dalamnya.

Mereka berempat bisa melihat dengan jelas siapa pembunuh orang tua mereka yang sedang di introgasi oleh Agent Wu dan Agent Oh.

“Agent Hwang, apa kami disini terlihat oleh pelaku?” tanya Hyoyeon polos pada Agent Hwang. Agent Hwang tertawa dan menggleng kepada Hyoyeon.

“Tidak. Hanya di ruangan ini yang bisa melihatnya tanpa di ketahui. Dan di dalam ruangan introgasi itu pelaku hanya melihat pantulan dirinya di cermin besar yang berukuran sama dengan tembok pembatas ruangan ini dengan ruangan introgasi.” Jelas Agent Hwang pada mereka berempat. Mereka hanya mengangguk mengerti dan mulai mendengarkan dan melihat acara di hadapan mereka.

“Kenapa kau mau membunuh Tuan dan Nyonya Kim?” tanya Agent Wu sambil bersender di tembok yang membatasi ruangan introgasi dan ruangan dimana mereka berempat dan Agent Hwang berada.

“A-aku tidak membunuh mereka,” jawab Yi Xing berbohong.

“Oh ya? Lalu kenapa ada sidik jarimu di surat darah yang kau tinggalkan di kamar Tuan dan Nyonya Kim?” tanya Agent Oh menjebak.

“Aku tidak membunuhnya!” sangkal Yi Xing berteriak pada Agent Wu dan Agent Oh. Agent Wu mengambil duduk di hadapan Yi Xing.

“Ayolah tidak usah berbohong.” Ucap Agent Wu mulai kehabisan kesabaran. Agent Oh berdiri disamping Agent Wu dan mulai mengeluarkan beberapa foto tempat kejadian 2 hari yang lalu.

“Orang ini, tempat ini, dan surat ini! Apa kau masih bisa berbohong, hah?” tanya Agent Wu sambil menunjuk 3 foto yang menjadi bukti. Tubuh Yi Xing bergetar takut karna Agent Wu membentaknya karna kebohongannya.

“Jawab saya!” teriak Agent Wu lagi.

“Iya aku membunuh mereka! Namun itu karna suruhan!”

“Siapa yang menyuruh mu, hah?”

***

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai menyuruh Lee ahjussi untuk segera membawa mereka ke tempat latihan menembak yang biasa mereka datangi. Dengan sekejap aura di dalam mobil menjadi tidak enak dan Lee ahjussi dapat menebak bahwa sesuatu terjadi lagi dan membuat mood mereka berempat menjadi buruk.

Lee ahjussi hanya menuruti permintaan mereka dan mulai menjalankan mobilnya menuju tempat latihan itu. Setelah 30 menit dalam perjalan akhirnya mereka telah sampai di tempat latihan menembak. Mereka berempat keluar dari mobil dan menutup pintu mobil itu dengan kencang. Lagi – lagi beberapa orang yang berada di sekitar mereka menatap mereka berempat dan sesekali berbisik tentang mereka.

“Hai, Kai!” sapa Zelo riang. Dia melambai pada Kai dan mendekat pada lelaki itu.

“Hai.” Jawab Kai pendek. Zelo menatap Kai bingung dan Kai tetap melanjutkan jalannya bersama dengan kakak – kakaknya masuk menuju tempat itu. Zelo tidak mengikuti Kai dan mulai berpikir dengan cemas. Yeah, mungkin Kai dan kakak – kakanya sudah tau yang sebenarnya.

***

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai mulai menekan pelatuk mereka. Suara ledakkan dari pistol itu sangat keras dan bisa membuat siapa saja pusing mendengarnya. Penutup telinga dan kaca mata khusus juga sudah mereka pakai. Mungkin hanya cara ini saja yang bisa membuat mereka bisa meredakan mood mereka. Pelatih yang sedari tadi berjalan di belakang mereka masing – masing menatap belakang mereka dengan sedih.

Tentu saja pelatih itu tau bagaimana perasaan mereka berempat. Mereka sudah mulai latihan di tempat ini sekitar 3 tahun yang lalu dan mereka sudah sangat dekat dengan pelatih mereka. Suho melepas penutup kupingnya dan kaca matanya, lalu meletakannya kembali di tempat asalnya itu. Keringat yang hampir membasahi bajunya itu terus keluar dari tubuhnya. Wajah Suho memerah karna menahan emosi dan kesedihannya.

Suho mengamgil botol minuman yang sudah di sediakan. Diteguknya minuman itu sampai tak tersisa sedikitpun. Suho duduk bangku kayu yang berada di ruangan itu. Chanyeol–nama pelatih mereka, mendekati Suho dan mengambil tempat duduk di samping Suho.

“Aku turut berduka, Suho.” Ucap Chanyeol pelan dan menepuk pundak Suho. Suho mengangguk pelan dan tersenyum miris menanggapi ucapan Chanyeol.

Kai menyudahi latihannya. Dia meletakkan pistol dan peralatan lainnya di samping rak milik Suho. Kai mengambil minum miliknya dan meneguknya setengah. Matanya terpejam erat lalu dia menyenderkan badannya di tembok dingin ruangan ini. Tanpa sadar air matanya mengalir dan membasahi kedua pipinya. Beruntung ruangan ini gelap jadi kemungkinan tidak ada yang melihatnya menangis.

“Kai, kau baik – baik saja?” Kai tersentak dan menghapus air matanya segera. Taeyeon segera memeluk Kai dengan erat. Kai merasakan pundak kanannya basah karna air mata. Noonanya menangis. Kai mengelus punggung Taeyeon sampai noonanya bisa meredakan tangisannya.

“Astaga kenapa aku menangis lagi, haha.” Ucap Taeyeon melepaskan pelukannya dengan Kai. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

Taeyeon dan Kai menghampiri Chanyeol, Suho, dan Hyoyeon yang kini sedang berbincang – bincang. Taeyeon mengambil minuman milik Hyoyeon yang sedang di genggam oleh adiknya itu.

“Unnie, itu milikku!”

“Biarlah.” Jawab Taeyeon tidak peduli dan kembali meneguk minuman Hyoyeon hingga tidak tersisa. Hyoyeon mendengus kesal dan mengambil botol minuman baru yang berada di bawah bangku yang ia duduki.

“Baiklah Chanyeol. Sepertinya kami akan segera pulang.” Pamit Taeyeon pada Chanyeol.

***

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai bersiap untuk mendatangi pengadilan tentang pembunuhan orang tua mereka. Mereka berpakain dengan rapi dengan warna serba hitam. Taeyeon menguncir rambutnya setengah dan Hyoyeon hanya menggeraikan rambutnya. Suho dan Kai hanya memakai jas hitam yang pas dengan tubuh mereka yang membuat tubuh mereka terbentuk jelas, serta jeans hitam sebagai bawahannya.

“Well, jika kita membunuh keluarga Choi kita pasti akan terpenjara, kan?” ucap Hyoyeon tiba – tiba. Mereka bertiga mengangguk pelan. Terdengar suara helaan nafas dari Kai.

“Tapi kita harus tetap membunuhnya, noona. Aku tidak peduli jika aku akan di penjara.” Ucap Kai tetap pada pendiriannya.

“Tapi Suho nanti yang akan mengurusi perusahaan keluarga, jika kita membunuhnya, bagaimana dengan perusahaan keluarga kita, Kai?” tanya Taeyeon pasrah. Tiba – tiba saja rencana mereka menjadi rumit ketika kata ‘penjara’ terbesit di pikiran mereka masing – masing.

“Kita bilang saja pada Agent Wu kalau kita ingin membunuh keluarga Choi. Pasti mereka mengerti kok alasan kita apa.” Ucap Suho yang sedari tadi diam. Hyoyeon memandang Suho ragu, namun dia setuju dengan ucapan Suho tadi.

“Yeah, aku setuju dengan saran mu, hyung.” Ucap Kai menyutujui saran Suho. Kai menyeringai. Namun Taeyeon dan Hyoyeon masih bimbang dengan saran Suho.

***

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai duduk di paling belakang di ruang pengadilan ini. Beberapa orang memandang mereka dengan tatapan berbeda – beda. Mereka tidak peduli dan tetap terus mendengarkan keputusan hakim tentang pembunuh orang tua mereka. Agent Wu, Agent Jung, Agent Hwang, dan Agent Oh mengambil duduk di baris kedua dari paling depan.

Hakim mengetuk palunya tiga kali, “Dengan ini saya nyatakan Zhang Yi Xing bersalah dan mendapat hukuman 20 tahun penjara.”

“Hanya 20 tahun?” ucap Taeyeon pada adik – adiknya tidak terima. Saat Taeyeon ingin berdiri dan mengatakan ketidak setujuannya, Suho segera menahan Taeyeon agar kembali duduk.

“Biarlah, noona. Yang terpenting dia sudah mendapat hukuman yang pantas.” Uacp Suho, Taeyeon mengangguk dengan pasrah. Hyoyeon dan Kai mengangguk setuju dengan ucapan Suho.

Saat semua orang sudah keluar dari ruangan pengadilan ini. Taeyeon segera menghampiri Agent Wu dan anak buahnya yang lain. Hyoyeon, Suho, dan Kai mengikuti langkah Taeyeon dari belakang.

“Agent Wu, kenapa Yi Xing hanya diberi hukuman 20 tahun penjara? Asal kau tau, aku kurang setuju.” Taeyeon melipat kedua tangannya di depan dada. Agent Jung tersenyum pada Taeyeon.

“Itu sudah keputusan, Taeyeon-ssi. Sebenarnya saya juga tidak setuju.”

“Lantas, kenapa Agent Jung tidak protes pada ketua jaksa?”

“Itu tidak boleh. Kami hanya bertugas sebagai pemecah masalah. Jika sudah berada di ruangan ini. Hanya pengacara saja yang bisa protes.” Balas Agent Hwang ramah pada Taeyeon. Taeyeon mendengus sebal, lalu membungkuk sopan pada para Agent.

“Terima kasih atas kerja kalian. Annyeong.” Ucap Taeyeon sambil tersenyum ramah pada mereka dan menjabat tangan para Agent bergantian. Lalu Taeyeon dan adik – adiknya meninggalkan ruangan itu tanpa berbicara apapun.

“Kenapa keluarga Choi tidak datang? Secara tak langsung mereka bersalah.” Ucap Kai dan mengarahkan pandangannya ke segala tempat.

“Tidak tau. Mungkin mereka takut di salahkan.” Jawab Suho asal dan menaikkan bahunya tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah pembunuh orang tuanya sudah tertangkap dan sudah mendapat hukuman yang pantas.

“Yeah, bisa jadi.” Hyoyeon menganggukkan kepalanya setuju.

***

1 bulan kemudian

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai mulai menyiapkan peralatan mereka. Pakaian hitam yang melekat pada tubuh mereka itu membuat mereka tidak dapat di kenal oleh siapapun. Hanya bagian mata saja yang terbuka, selebihnya tertutup. Di bagian dada depan dan belakang baju mereka sudah terpasang besi anti peluru yang akan menjaga mereka saat beraksi nanti. Dinginnya udara malam tidak membuat mereka goyah.

Jam sudah menunjukkan waktu pukul 2 dini hari dan kini mereka mulai melangkahkan kaki mereka keluar dari rumah memalui pintu belakang rumah mereka. Semua latihan sudah matang dan itu membuat mereka yakin akan berhasil dengan aksi mereka nanti.

Semua mulai mengambil duduk masing – masing didalam mobil. Suho yang akan mengendalikan mobil seda hitam ini. Suara mobil yang halus tidak menimbulkan suara yang akan membuat penjaga rumah mereka terbangun dari tidurnya. Mereka terus menjalankan mobilnya agar segera sampai rumah dari keluarga Choi.

Singkat cerita, setelah memakan waktu selama 30 menit, mereka berempat sudah sampai di kediaman keluarga Choi yang berada di kota Gangnam dan berada di dalam sebuah kompleks elit yang di isi dengan rumah mewah dan pastinya, besar.

“Diam atau kau akan mati.” Ucap Taeyeon mengancam penjaga rumah keluarga Choi yang terbangun dari tidurnya. Penjaga itu ingin berteriak namun Kai sudah membekap penjaga rumah itu dengan sapu tangan yang sudah di taburi dengan bubuk yang langsung membuat seseorang pingsan jika menghirupnya lama.

Sukses dengan rencana satu mereka yang membuat pingsan penjaga rumah, mereka segera berlari untuk memasuki rumah keluarga Choi yang sepi. Mereka membuka pintu utama rumah itu yang terkunci menggunakan jepitan kecil yang memang sudah mereka siapkan. Hyoyeon membukanya dengan teliti dan mencoba untuk tidak menimbulkan suara yang berisik.

“Siapa kau?” tanya dua orang sambil menodongkan pistol mereka ke Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai. Sebut saja Sulli dan Zelo. Anak dari keluarga Choi. Zelo yang berstatus sebagai sahabat Kai.

“Tebak saja diriku, Junhong-ssi.” Ucap Kai dan membuat Junhong atau biasa di panggil Zelo itu menurunkan pistolnya dengan tangan gemetar. Zelo tau, hal ini pasti akan terjadi. Cepat atau lambat. Sulli menatap adiknya–Zelo, dengan tatapan bertanya. Karna Sulli tidak kenal siapa pun anak dari keluarga Kim.

“Kai, kau ingin membunuh ayah dan ibu kan? Lebih baik kau bunuh aku saja daripada ibu dan ayah. Aku rela!” ucap Zelo dengan mata yang mulai berkaca – kaca. Kai tersenyum sinis di balik masker yang menutupi bagian mulutnya.

“Membunuh mu? Itu bukan rencana kami.” Ucap Kai dan diakhiri dengan tawa sinisnya.

“Sekarang rubah rencana mu dan bunuh aku!” balas Zelo pasrah dan menjatuhkan senjatanya. Sulli mulai menangis tak bisa berkata apapun. Mungkin sebentar lagi dia akan kehilangan adik atau orang tuanya karna ulah ke empat orang yang dia tidak kenal ini.

“Kenapa pelayan tidak ada yang bangun, hah?” tanya Sulli pada dirinya sendiri dan mulai berjalan menuju dapurnya. Hyoyeon segera berlari menyusul Sulli dan membekap gadis itu hingga pingsan dan terkulai lemas di lantai dingin ini. Hyoyeon menyeretnya hingga sampai di sofa yang ada di ruangan ini.

“Dan sekarang noona-ku pingsan. Bunuh saja aku!” ucap Zelo lagi. Taeyeon berjalan mendekati Zelo, lalu segera membekapnya hingga pingsan sama seperti Sulli tadi. Taeyeon menyeret Zelo hingga ke sofa yang berada di samping Sulli dengan bantuan Hyoyeon.

“Rencana terakhir?” tanya Hyoyeon misterius. Mereka mengangguk dan mulai mengambil senjata masing – masing. Berjalan mengendap – endap sampai di depan pintu kamar Tuan dan Nyonyai Choi yang berada di lantai dua.

Suho membuka pintu kamar itu dengan sangat pelan. Terlihat Tuan dan Nyonya Kim tertidur sangat pulas. Mereka berempat segera masuk tanpa menimbulkan suara yang bisa membangunkan Tuan dan Nyonya Choi. Suho menutup kembali pintu berwarna putih gading itu.

Tuan Choi terbangun dari tidurnya dan segera menondongkan pistol yang sudah ia siapkan di bawah bantal tidurnya. Posisi tidur Tuan Choi yang memang menghadap pintu kamar itu membuatnya lebih mudah melihat siapa yang datang ke kamarnya, dan ternyata yang datang ke kamarnya adalah orang asing yang tidak dia kenal sama sekali.

“Siapa kau?” tanya Tua Choi mulai ketakutan. Nyonya Choi mulai bergerak dan tak lama matanya terbuka sempurna.

“Kalian siapa?” tanya Nyonya Choi takut dan berlindung di balik tubuh suaminya.

Taeyeon, Hyoyeon, Suho, dan Kai mulai membuka masker yang menutupi wajah mereka. Tuan dan Nyonya Choi makin ketakutan karna melihat siapa yang kini datang ke rumah mereka dan membawa senjata api yang sangat membahayakan.

“K-kalian tidak membunuh Jinri dan Junhong, kan?” tanya Nyonya Choi lagi.

“Menurut mu?” tanya Hyoyeon dengan senyuman sini terukir dibibirnya. Taeyeon tertawa sinis dan mulai menodongkan pistolnya kearah Tuan Choi.

“Ku mohon jangan bunuh mereka. Bunuh saja aku!” mohon Tuan Choi dan matanya kini mulai berkaca – kaca.

“Tapi Zelo menyuruh kami untuk membunuhnya.” Ucap Kai membuat Tuan dan Nyonya Choi makin ketakutan. Suho tertawa dan kini dia juga menodongkan pistolnya pada mereka berdua.

“Kenapa kau membunuh ibu dan ayah, hah?” ucap Hyoyeon yang kesabarannya sudah habis. Tangannya sudah terangkat dan kini pistolnya sudah ia todongkan pada Tuan dan Nyonya Choi. Mereka berdua tidak berani menjawab dan makin ketakutan.

“Kau takut dengan kami? Usia kami jauh dibawah kalian berdua. Seharusnya kalian tidak bersikap seperti ini! Jawab pertanyaan Hyoyeon noona sekarang!” gertak Suho. Rasanya dia sudah ingin sekali menarik pelatuk pistol itu agar Tuan dan Nyonya Kim terbunuh dengan segera.

“K-karna bisnis.” Jawab Tuan Choi dengan suara pelan.

“Bisinis? Kau pikir kau akan mati jika bisnis mu tidak sukses, huh?” tanya Taeyeon. Taeyeon berpindah tempat menjadi di samping tempat tidur disisi Nyonya Choi dan diikuti Kai di belakangnya.

“Kami iri. Sudah itu saja!” jawab Tuan Choi cepat dan berteriak karna takut. Nyonya Choi makin berlindung di balik tubuh suaminya dan mulai menangis terisak karna nyawanya kini mungkin sudah ingin terancam.

Suho menatap Taeyeon, Hyoyeon, dan Kai dengan tatapan yang tidak bisa di baca. Mereka mulai bersiap dan sudah meletakkan tangan mereka di pelatuk pistol masing – masing.

“Kalian orang terbodoh yang perbah kami temui.” Ucap Kai pada Tuan dan Nyonya Choi pelan. Suara ledakan pistol terdengar di kamar ini. Darah yang berasal dari kedua orang paruh baya di hadapan mereka kini mengalir membasahi tempat tidurnya. Mereka tertawa miris dan segera meninggalkan rumah ini dengan cepat sebelum ada seseorang yang menyadarinya.

Kini, mereka sudah merasa puas karna sudah membunuh musuh dari orang tua mereka. Dan mereka berharap tidak ada lagi yang menganggu kehidupan keluarga mereka hanya karna masalah bisnis karna menurut mereka hal itu sangat bodoh dan tidak ada gunanya. Sukses itu berasal dari diri sendiri, dan harus di capai oleh diri sendiri. Tidak dengan cara curang. Seperti membunuh.

END

Yeah hahahahah! Akhirnya ff ini selesai dalam waktu 1 minggu ayeeeeay! Dan ini adalah ff pertama yang aku buat dengan genre seperti ini guysss!:’) Genre yang ada action dan sci-fi yang sangat2 gagal total wkwkwk. Beberapa adegan ada yang aku ambil dari serial tv NCIS. Mungkin yang suka nonton film yang penyelidikan gitu tau film itu hahahaha.

DAAAAAAAAAAAN, untuk ff ku yang ‘Why?’ part 7, atau ending. Mungkin kalian bakal nunggu lama karna aku lg ga ada mood buat lanjutin ff itu. Semangatin aku makanya-_-)9

So, makasih banget yang udah baca ff ini walaupun ceritanya ga jelas huhuhu:’) I need your like and comment!!! 😀

Advertisements

25 thoughts on “[Oneshoot] Kim Family

  1. Wah ff nya seru banget aku suka genre yg gini thor yg berbau(?) action 😄 ff nya daebak deh aku suka thor! ditunggu karya selanjutnya ya~

  2. DAEBAAAAKKKK!!!!! Suka banget sama fanfic ini!! Keren!! Eh, ruang introgasinya mirip kaya di film ‘Now You See Me’ ya thor? Aku suka banget lho sama film itu *gak ada yang nanya*, yang belom nonton harus nonton, keren tau film nya *kedip kedip* #plaakk *kok jadi promosi? ._.*

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s