[Freelance] Promise (Chapter2/END)

cats (1)

Judul: Promise

Author: Jung Eun Gi

Rating: T

Length: Twoshoots (chapter 2/End)

Genre: romance,angst,family

Main cast: Jessica Jung, Luhan

Support cast: Krystal Jung,Tiffany Hwang

Disclaimer: The story is officially mine. DON’T BE A PLAGIATOR, thanks.

Author’s note: Anyeong!!! Ini dia lanjutan dari Promise, ff pertamaku hehe mohon kritik dan sarannya y semua ^^ hope you like it! Sblmnya, makasih y atas responsenya di chapter pertama, they’re very meaningful for me. Mian for typo, imperfection is human. Enjoy ^^

Also posted on my own wordpress with different cast ^^

http://jungeungi.wordpress.com/

 

Previous

“Sicca-ya, kenapa kau bisa sakit seperti ini? Maafkan aku”, kata Luhan.

Jessica hanya bergeming dan tidak membalas kata-kata Luhan. Luhan hanya menarik napas dan menyalakan lampu di meja lalu mematikan lampu di kamar itu dan berkata, “Tidurlah yang nyenyak,Sicca-ya. Istirahatlah” lalu mengecup kepala gadis itu pelan.

***

Keesokan paginya Jessica membuka kelopak matanya perlahan dan membalikkan badannya. Ia meregangkan badannya sebentar dan mengucek-ngucek kedua matanya dengan kedua tangan. Cahaya matahari masuk menembus celah-celah jendela rumah sakit yang dilapisi hordeng. Jessica tengah mengamati ruangan kamarnya itu dan ia merasa sepertinya ada sesuatu yang hilang.

Luhan. Ah benar juga, kemarin malam bukankah ada Luhan di sini? Pikir Jessica. Ia pun masih mengingat kecupan yang diberikan laki-laki itu padanya kemarin malam. Secara tidak sadar, ia mengusap-usap kepalanya yang dicium Luhan semalam dan tersipu.

Jessica segera mengenyahkan pikirannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Apa-apaan aku ini? Aku kan sedang bertengkar dengannya. Ngomong-ngomong, kemana orang itu?, Tanya Jessica dalam hati.Matanya menyusuri ruangan itu dan tidak mendapati Luhan di sana. Ia melihat sebuah post-it yang ditempelkan di meja sebelah tempat tidurnya dengan tulisan yang sudah ia kenali dan membacanya,

 

Sicca-ya, aku akan keluar sebentar. Aku ada urusan mendadak dan mungkin aku akan menjengukmu lagi nanti malam. Jangan marah ya? Semoga cepat sembuh

Luhan

 

 Ke mana orang itu? Urusan mendadak apalagi? Pertanyaan Jessica pun terjawab tidak lama kemudian. Ponselnya bergetar dan suara dering ponselnya memenuhi ruangan itu yang menyentakkan Jessica dari lamunannya. Ia melirik layar ponselnya dan mendapati nama Luhan yang tertera di situ. Ia terlihat sedang menimbang-nimbang akan menjawab panggilan tersebut atau tidak berhubung ia sedang marah padanya. Ia pun memutuskan untuk mengangkat telpon itu.

 

“Sicca-ya,kau sudah bangun?”

 

“Luhan? Kau ada dimana?”

“Aku sedang di Everland. Kau sudah makan? Minum obat?”

 

“Apa?  Everland? Sedang apa kau di Everland? Kau di sana sendirian?”,sahut Sicca yang lagi-lagi mengabaikan pertanyaan Luhan yang perhatian itu.

 

Luhan tersenyum tipis mendengar pertanyaan Jessica yang bertubi-tubi itu. Entah mengapa hanya mendengar suara gadis itu bisa membuatnya senang. Ia pun menjawab,”Aku sedang bersama Tiffany. Maafkan aku Sicca-ya, aku meninggalkanmu begitu saja karena aku sudah berjanji pada Fanny untuk menemaninya ke sini. Ia pernah bilang padaku ingin mengunjungi tempat ini begitu sampai di Korea. Tidak apa-apa kan?”

Apa? Tiffany? Jadi ia sedang berkencan dengan gadis itu sedangkan aku sendirian di sebuah kamar rumah sakit yang membosankan ini?  Kepala Jessica tiba-tiba berdenyut begitu memikirkan Luhan dan Tiffany sedang bersama dan reflex ia memijit keningnya pelan.

“Baiklah. Semoga kau menikmati kencanmu itu,Luhan-ssi”, balas Jessica singkat dan langsung memutuskan sambungan telepon. Ia kecewa dengan Luhan yang meninggalkan dirinya di rumah sakit seorang diri demi menemani gadis itu ke taman bermain.

 

Jessica masih menggenggam ponselnya dan duduk termenung ketika ponselnya bergetar tanda sms masuk. Dari Krystal, ia pun membuka sms itu dan membacanya,

 

Eonni anyeong! Kau sudah baikan? Aku akan mengunjungi mu lagi nanti malam. Aku baru keluar kampus jam 3 sore lalu aku akan segera pulang ke rumah, membereskan ini itu dan menyiapkan beberapa barang untuk dibawa ke rumah sakit untukmu. Tunggu aku! Jangan lupa minum obat,makan yang banyak dan juga banyak istirahat!

 

            Great!  Itu artinya sepanjang sisa siang ini akan menjadi sangat membosankan, pikir Jessica.

 

***

            Luhan masih menatap layar ponselnya sambil bersandar di tembok tengah menunggu seseorang. Ia bertanya-tanya kenapa Jessica memutuskan sambungan teleponnya secara tiba-tiba. Dari nada suaranya, ia bisa menyimpulkan bahwa gadis itu kesal? Marah? Entahlah. Tiba-tiba sebuah gagasan konyol terlintas di pikirannya. Apakah Jessica cemburu? Cemburu karena ia pergi berdua dengan Tiffany ke sebuah taman bermain itu? Secara tidak sadar, ia mengembangkan senyuman di wajahnya itu.

 

Oppa!” panggil seseorang menyadarkan lamunannya.

 

“Fanny-a, kau sudah datang? Ayo!” ajak Luhan semangat karena memikirkan Jessica yang sedang cemburu itu.

 

***

Jessica membuka kedua matanya perlahan dan mendapati sosok seorang gadis yang tengah membereskan barang-barang bawaanya. Ia mendudukkan tubuhnya dan mengucek-ngucek matanya.

 

“Krystal? Kaukah itu?”

 

“Eonni! Kau sudah bangun?”, jawab Krystal sambil menolehkan kepalanya ke arah kakaknya itu sambil tetap membereskan barang-barang bawaannya.

 

“Mmm. Kau sudah datang dari tadi?” Tanya Jessica sambil menengok ke arah jam dinding. Pukul 6 lewat 15 menit.

 

“Tidak juga. Aku baru saja sampai dan mendapatimu sedang tidur pulas lalu aku segera membereskan barang-barang bawaanku. Kau memang harus mendapat istirahat yang panjang makanya aku sengaja tidak membangunkanmu. So,how’s your day?”, Tanya Krystal riang.

 

“Sangaaaat membosankan. Kau tahu apa saja yang aku lakukan hari ini? Nonton tv, makan,minum obat,tidur. Begitu seterusnya! Bosan sekali. Aku benci rumah sakit. Krystalya, kapan aku bisa pulang? Ayo bawa aku pulang!” rajuk Jessica dengan bibir yang dimanyunkan.

 

“Apa? memangnya Luhan oppa tidak menemanimu? Aku pikir ia menemanimu sepanjang hari! Pantas saja aku tidak melihatnya sejak aku datang ke sini. Kasihan sekali kau, eonni. Pasti kau merasa bosan setengah mati. Tapi kau kan jadi bisa banyak beristirahat. Ada bagusnya juga bukan?” Krystal merasa kasihan dengan kakaknya itu.

 

Ia tahu Jessica paling tidak menyukai yang namanya sakit apalagi minum obat. Makanya ia khawatir apakah kakaknya itu meminum obat-obatnya dengan patuh atau tidak. Menyuruh Jessica minum obat menurutnya sama saja dengan membuat matahari bersinar di tengah malam!

 

“Entahlah. Ia sedang sibuk berkencan dengan gadis menyebalkan itu”,jawabnya asal.

 

“Apa? Siapa?”, Tanya Krystal polos sambil menghentikan kegiatannya begitu menyadari topic pembicaraan yang menarik dari mulut kakaknya.

 

“Siapa lagi kalau bukan Tiffany? Adik tirimu itu? Kau sudah mengetahuinya bukan? Aku yakin Luhan sudah menceritakannya padamu. Apa kau sudah pernah bertemu langsung dengan orangnya?”

 

Krystal melangkah mendekati Jessica dan duduk di samping tempat tidur. Ia menatap kakak yang sangat disayanginya itu dan menjawab,”Sebenarnya aku sudah berbicara dengan mereka ketika kau belum sadarkan diri. Eonni, kau belum mengetahui cerita yang sebenarnya. Bisakah kau membuka sedikit hatimu itu dan mendengarkan penjelasan dari Fany? Berilah ia kesempatan,Eonni”

 

            Jessica mendengus begitu mendengar kata-kata Krystal. “Jadi kau juga membela wanita itu, Krystal Jung? Memangnya penjelasan apalagi yang harus aku dengar? Kehadirannya hanya membuat hidupku tambah sulit dengan dramanya itu”

 

Eonni, aku tahu kau sakit hati dengan ibu dan Tiffany. Tapi tidakkah kau mempunyai keinginan untuk mengetahui yang sebenarnya? Tidakkah kau tahu bahwa ibu selalu mencoba menemui kita tapi selalu dilarang oleh kakek dan nenek? Cobalah untuk mengerti,Eonni. Jangan menyalahkan mereka sepenuhnya”,jawab Krystal sabar.

 

“Apa? Jadi kau menyalahkan kakek dan nenek juga? Jangan konyol, Krystal”, sahut Jessica sinis sambil menyipitkan kedua matanya itu.

 

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul Luhan bersama seorang perempuan yang sudah tak asing lagi bagi Jessica, Tiffany. Mereka sepertinya menyadari situasi yang tengah terjadi antar Krystal dan Jessica saat itu dan berjalan mendekat ke arah Jessica. Ia pun membuang muka dan melipat kedua tangannya di depan dada.

 

Luhan menghela napas dan angkat bicara,”Krystal benar,Sicca-ya. kau harus mendengar penjelasan orang lain terlebih dahulu baru dapat menyimpulkan sesuatu. Sampai kapan kau akan bersikap keras kepala seperti ini?”

 

“Baiklah. Aku sudah mendengar penjelasan tentang ibu dari Krystal. Jadi, apa mau kalian?”,sahut Jessica dingin.

 

Eonni, tidak bisakah kau menerimaku dan ibu? Ibu merindukanmu dan Krystal eonni juga. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi tidak mengenakkan seperti ini. Bisakah kau menerimaku dan ibu ke dalam kehidupanmu? aku mohon jangan..”

 

Sebelum Tiffany bisa menyelesaikan kalimatnya, Jessica menyambar gelas yang ada di meja sebelah tempat tidur dan menumpahkan isinya di wajah Tiffany sambil berkata,”Hentikan. Aku sudah muak”

 

Tiffany terlalu terkejut untuk berkata-kata ketika sebuah suara nyaring mengisi ruangan itu.

 

“YA!! JESSICA JUNG!!!”

***

Luhan terengah-engah karena emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun sehabis membentak Jessica. Ia tidak percaya ia melakukan ini,namun ia tidak terima begitu saja ketika Jessica melakukan itu! dimana manner gadis itu? tidakkah ia diajari sopan santun sejak kecil? Tiffany sudah ia anggap adiknya sendiri dan tidak ingin melihatnya terluka secara batin seperti ini. Ia sudah mengenal Tiffany dari kecil dan ia tahu seberapa banyak Tiffany ingin bertemu dengan Jessica dan Krystal sejak dulu. Sudah bertahun-tahun ia mengenal Jessica namun baru pertama kali ia melihat Jessica melakukan hal seperti ini terlebih pada saudara tirinya sendiri.

“Di mana tata kramamu,Jessica Jung? Kau ini benar-benar egois dan keras kepala. Ayo kita pulang, Fany,Krystal”,kata Luhan dengan rahang yang mengeras menahan emosi.

 

Jessica hanya bisa diam. sebaliknya,hatinya terasa nyeri sekali. sejak dulu, Luhan tidak pernah membentaknya seperti itu meskipun jika mereka sedang berantem hebat sekalipun. Ia tidak rela Luhan lebih membela gadis itu dibanding dirinya.

 

Luhan memegang kedua bahu Tiffany dan membantunya berdiri. Ketika ia melangkahkan kakinya,ia diam di tempat dan menolehkan kepalanya ke arah Krystal,menunggunya-yang saat itu masih berdiri mematung di hadapan Jessica.

 

Jessica mendongakkan kepalanya ke arah Krystal dan menatap kedua mata adiknya itu,berharap bahwa adik satu-satunya itu akan menemaninya malam ini di rumah sakit.

 

Namun, Krystal hanya menatap kakaknya itu dengan tatapan iba dan berkata,”Luhan oppa benar, kau keterlaluan. Pikirkanlah baik-baik, eonni” lalu berjalan menyusul Luhan dan Tiffany yang tengah menunggunya dari tadi.

 

Luhan menatap Jessica lama sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu bersama Krystal dan Tiffany. Jessica terdiam cukup lama. Otaknya tidak dapat berpikir terlebih dengan hatinya yang terasa nyeri sejak tadi. Dibentak Luhan sudah membuatnya sakit hati terlebih dengan perlakuan Krystal yang lebih memilih Luhan dan Tiffany dibanding dirinya. Satu-satunya anggota keluarga yang ia sayangi bahkan meninggalkannya di saat ia sedang sedih seperti ini. Sulit dipercaya.

 

Tiba-tiba, ia bangkit dari tempat tidurnya dan mencabut infuse dari tangannya yang disusul dengan ringisan pelan. Ia mengambil asal baju dan celana panjang yang telah dibawakan Krystal untuknya dan berjalan keluar dari kamar itu secara diam-diam.

 

***

 

Jessica menyandarkan dagunya di atas kedua tangannya pada pagar yang membatasi sungai Han dengan jalan. Ia menatap air sungai Han yang tenang sambil melamun. Kemudian, ia menyusuri jalan setapak di pinggir sungai itu perlahan sambil berpegangan pada pagar pembatas erat-erat seperti hanya pagar itulah yang mampu membantunya berdiri dan berjalan saat ini.

 

Jessica terus melangkahkan kakinya dan tanpa sadar,kedua kakinya itu membawanya ke tempat yang tidak asing baginya. Tempat yang selama ini sering ia kunjungi, tempat yang membuatnya nyaman ketika ia sedang banyak masalah. Tempat yang mengisahkan kenangan manis bersama Luhan. Taman itu, saat SMA ia sering mengunjungi taman itu sehabis pulang sekolah bersama Luhan hanya untuk berbagi cerita atau saling berdiam diri menikmati semilir angin yang menerpa wajah mereka saat masih sekolah dulu.

 

Namun kali ini terasa berbeda. Jessica seorang diri di sana ditemani dengan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang dan karena ia terburu-buru keluar dari rumah sakit, ia tidak mengenakan mantel apapun. Ia hanya mengenakan kaos yang di-double  dengan sweater merah dan celana jeans panjang serta sepatu boots cokelatnya padahal saat itu jalanan sudah tertutup dengan salju. Ia merapatkan sweater merahnya dan melangkah gontai ke arah ayunan dan duduk di situ dalam diam lalu menghela napas lelah yang menghasilkan uap di udara.

 

Ia memutar ulang semua kejadian yang baru terjadi di dalam kepalanya dan rasa sakit kembali menjalar ke hatinya. Tanpa sadar, ia meremas sweaternya di bagian dada karena teringat rasa sakit yang ia rasakan saat Luhan membentaknya dengan ekspresi marah yang mengerikan dan saat Krystal meninggalkannya. Ia tidak pernah melihat Luhan dalam keadaan marah yang seperti itu apalagi sampai membentak dengan kasar seorang wanita, terlebih lagi dirinya. Hatinya sakit mengetahui dua orang terpenting dalam hidupnya pergi meninggalkan dirinya dan lebih membela saudara tirinya,Tiffany.

 

Tanpa disadari, butir pertama air mata Jessica jatuh mengalir di pipinya bersamaan dengan jatuhnya butiran salju dari langit yang mendarat di pipinya. Beberapa detik kemudian pipinya sudah basah oleh air mata yang tidak kunjung berhenti mengalir dan terus terisak di sana.

 

Tiba-tiba Jessica merasa punggungnya menjadi hangat karena mantel yang diletakkan di atas kedua bahunya. Ia mendongakkan kepalanya untuk mengetahui siapa si pemilik mantel itu masih sambil dalam keadaan terisak dan ia mendapati Luhan berdiri di belakangnya. Kemudian,Luhan berjalan memutari Jessica yang sedang duduk di bangku ayunan taman dan berhenti di hadapan gadis itu lalu berlutut di hadapannya. Ia meraih kedua tangan Jessica dan menggenggam tangan Jessica yang terasa sangat dingin dan berusaha untuk menghangatkannya.

 

Kedua mata Luhan terpaku pada sosok gadis di hadapannya yang daritadi terus menangis tanpa henti. Hatinya sakit melihat gadis itu terus menangis. Ia memang sudah lama mengenal Jessica dan ia benci melihatnya menangis seperti itu. dari dulu ia tidak suka melihat Jessica sedih dan menangis. Rasanya ia ingin terus melindungi gadis itu dan ingin menghajar siapapun yang membuat Jessica sedih. Saat ini, ia lebih merasa bersalah lagi karena ia tahu Jessica menangis karena dirinya. Karena ia sudah mennyakiti hati Jessica dan pergi begitu saja sambil membawa Krystal padahal ia tahu bahwa Krystal sangat berharga untuk Jessica. Ia tidak dapat memaafkan dirinya sendiri yang sudah membuat Jessica seperti ini.

 

Tiba-tiba Luhan berdiri dan memeluk Jessica erat lalu berbisik di dekat telinga gadis itu,”Maafkan aku,Sicca-ya. Maafkan aku”. Ia pun membiarkan gadis itu menangis di dalam pelukannya selama beberapa menit sampai gadis itu berhenti meneteskan air matanya.

 

***

            Setelah air matanya berhenti keluar,Jessica menarik dirinya dari pelukan Luhan dengan terpaksa dan berdiri dalam diam sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangan Luhan mendekap pipi Jessica supaya Jessica mau menatapnya lalu mengusap kedua pipinya dengan lembut yang masih basah karena air mata. Jessica kaget dengan sentuhan Luhan di pipinya karena saat itu juga pipinya menghangat. Mereka saling bertatapan yang membuat jantung Jessica berjumpalitan karenanya. Ia memang sering bertatapan dengan Luhan namun baru kali ini ia mendapati muka serius yang seperti itu pada Luhan.

 

“Sicca-ya, dengarkan aku. Kau harus membuka hatimu untuk mendengarkan kisah menurut sudut pandang mereka, ibumu dan Tiffany maksudku. Siapa yang tahu mungkin mereka punya penjelasan sendiri. Kau tahu? Kadang, kata-kata itu sulit untuk di ungkapkan. Cobalah untuk menerima mereka. Aku tahu kau lelah dan merasa tersakiti karena ini semua tapi aku ingin kau tahu,aku akan selalu mendukungmu”,kata Luhan.

 

“Aku tahu. Aku telah memikirkan itu dari tadi. Akan kucoba”,sahut Jessica lemah.

 

Luhan tersenyum simpul mendengar hal itu dan memeluk gadis itu lagi lalu berkata,” Sicca-ya, aku benar-benar minta maaf membuatmu menangis seperti ini. Aku janji aku tidak akan membuatmu sedih lagi apalagi sampai membentakmu seperti tadi. Aku..sangat menyesal. Maafkan aku. Tolong jangan benci aku karena aku masih ingin terus bersamamu”

 

Jessica hanya bergeming dalam pelukan Luhan lalu melepaskan diri dari pelukan itu dan menatap kedua mata Luhan. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu selama beberapa detik. Luhan mendekatkan kepalanya ke arah Jessica dan mendekap kedua pipi gadis itu dan hal itu terjadi begitu saja. Ia mengecup bibir Jessica pelan dan mendalam.

 

Awalnya Jessica kaget dan ia takut Luhan dapat mendengar detakan jantungnya yang semakin cepat. Ia pun memejamkan kedua matanya, melingkarkan kedua tangannya di leher Luhan dan larut dalam ciuman itu, ciuman pertamanya dengan Luhan yang pertama kali di bawah butiran salju. Meskipun angin bertiup dingin, namun Jessica merasa hangat hanya karena ada Luhan di sisinya dan itu sudah cukup.

 

Meskipun tidak rela, Luhan melepaskan bibirnya dari gadis di hadapannya dengan napas yang sedikit terengah-engah. Ia tersenyum pada Jessica dan Jessica segera membuang muka, menolak menatap Luhan karena ia yakin mukanya pasti sudah berubah semerah apel saat itu.

“Ayo pulang. Kau kan belum boleh keluar dari rumah sakit apalagi dingin sekali malam ini. Aku akan menemanimu di rumah sakit malam ini”,kata Luhan sambil menggenggam erat tangan Jessica, mengajaknya kembali ke rumah sakit.

 

Jessica menurut saja dan masuk ke dalam mobil Luhan. Ia pun tertidur karena lelah selama perjalanan dan Luhan menggendongnya sampai ke kamar. Ia merebahkan tubuh Jessica di tempat tidur dan menyelimutinya. Ia duduk di bangku yang menghadap ke tempat tidur sambil memandang wajah Jessica dan mengelus-elus pipi gadis itu dengan punggung tangannya perlahan sambil tersenyum. Ia pun tertidur di sebelah gadis itu dengan posisi sebelah tangan yang masih menggenggam tangannya.

 

***

            Cahaya matahari menembus masuk ke dalam ruangan itu, menyilakukan mata yang bahkan masih terpejam sehingga memaksa kedua kelopak mata untuk membuka perlahan. Luhan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan hampir terjungkal dari tempatnya karena terlonjak kaget mendapati dua orang gadis yang sedang tersenyum jahil penuh arti padanya. Krystal dan Tiffany? Apa yang mereka lakukan di pagi hari seperti ini? Pikir Luhan dan ia baru sadar bahwa ia menggenggam tangan Jessica semalaman.

 

“Krystal? Tiffany? Kalian sudah datang?”,Tanya Jessica tiba-tiba yang menyentakkan Luhan dari lamunannya. Jessica baru saja bangun dari tidurnya dan mendapati ruangan itu sudah ramai dengan kehadiran kedua adiknya, yah, bisa dibilang begitu.

 

Krystal dan Tiffany saling melirik satu sama lain dan langsung heboh menceritakan bagaimana Luhan tidur sambil menggenggam tangan Jessica. Jessica hanya tersipu malu mendengar celoteh dari kedua adiknya itu.

 

Eonni, terima kasih sudah memberiku dan eomma kesempatan”,kata Tiffany tiba-tiba dan segera memeluk Jessica.

 

“Apa? Kau tahu dari mana? Luhan yang memberitahumu ya? Fany-a, maafkan aku juga yang selama ini sudah kasar terhadapmu”, sahut Jessica sambil tersenyum.

 

“Eonni, maafkan aku juga karena sudah meninggalkanmu kemarin malam dan sudah membuatmu sedih. Aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi”,sahut Krystal sambil memeluk kakak tersayangnya itu.

 

“Dan karena kita semua sudah berbaikan, aku sudah memesan tiket untuk kita bertiga”,kata Krystal sambil melepaskan pelukannya dan menyengir lebar.

 

“Apa? Tiket? Tiket untuk apa? Memangnya kita mau kemana?”,Tanya Jessica. Kadang, ia memang sering dikejutkan oleh tingkah laku adiknya itu yang tiba-tiba.

 

“Kita akan ke San Fransisco bulan depan! Untuk mengunjungi eomma, tentu saja! Aku sudah mengajak Luhan oppa tapi ia tidak bisa karena sibuk dengan kuliahnya”

 

Jessica hanya menganga mendengar gagasan gila dari adiknya itu lalu berkata,”Baiklah. Atur saja,Krystal-ya”

 

“Okay! Tenang saja. Makanya kau harus menjaga kesehatanmu, eonni. Kau harus cepat sembuh,mengerti?”

 

“Iya,iya. Kau bawel sekali”,sahut Jessica.

 

Eonni, aku lapar. Kita cari makanan keluar yuk! Sekaligus membelikan Luhan oppa makanan juga, bagaimana?” ajak Tiffany pada Krystal.

 

“Ayo! Oppa, Eonni kita pergi beli makan dulu ya?”pamit Krystal sambil menatap Luhan jahil penuh arti.

 

Mereka meninggalkan Luhan dan Jessica berdua di ruangan itu yang menjadi hening sepeninggalan Krystal dan Tiffany. Mereka berdua terlihat canggung dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Karena merasa tidak nyaman dengan suasana itu, Jessica memulai percakapan,”Bagaimana tidurmu? Apa badanmu pegal-pegal semua? Maafkan aku,Luhan-ah”

 

“Tenang saja, ini belum seberapa. Kau tidak usah khawatir”,sahutnya garing.

 

“Luhan-ah”,panggil Jessica.

 

“Ada apa?”,sahut Luhan sambil berjalan mendekat ke arah Jessica dan duduk di pinggir tempat tidur sambil menatapnya.

 

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Tiffany? Kau….menyukainya?”,Tanya Jessica hati-hati.

 

Bukannya menjawab, Luhan malah tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya dengan kedua tangan.

 

“Luhan-a, kenapa malah tertawa? Jawab aku”,kata Jessica tidak sabar.

 

“Kau berpikir seperti itu,Siccca-ya? jadi itu salah satu penyebab juga kau menagis tanpa henti kemarin malam?”,sahut Luhan di sela ketawanya.

 

“Entahlah. Aku merasa,well cemburu mungkin? Apalagi saat kau bilang padaku bahwa kau pergi berdua dengannya ke Everland. Lagipula sepertinya hubungan kalian dekaaat sekali. Kau tahu? Aku sering membaca novel maupun menonton tv yang sering bercerita tentang pertemanan masa kecil seseorang dan akhirnya berubah menjadi cinta di kemudian hari. Mungkinkah hal itu berlaku juga bagimu?”, Logat Inggrisnya keluar begitu saja saat ia sedang gugup seperti sekarang ini yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan di mata Luhan.

 

Luhan berhenti ketawa begitu mendengar penjelasan dari gadis di hadapannya dan mendekatkan kepalanya ke arah Jessica sambil menyengir lebar.”Benarkah? Benarkah itu Jessica Jung? Kau cemburu?”

 

Jessica hanya berdeham saja mendengar pertanyaan itu lalu menundukkan kepalanya dan merasakan kedua pipinya memanas.

 

Luhan menyentuh dagu gadis itu dan mengangkat kepala gadis itu agar saling bertatapan dengannya. “Kau pikir kenapa aku menciummu kemarin jika bukan karena aku suka padamu? Kau ini bodoh atau apa?”,sahutnya jahil sambil mengetuk pelan kepala Jessica. Berada sedekat itu dengan Luhan lagi-lagi membuat otaknya buntu karena jantungnya yang berdetak semakin cepat, ia pun hanya bisa menatap Luhan dalam diam.

 

“Aku dan Tiffany hanya sebatas teman. Kita sudah berteman sejak kecil dan bisa dibilang lumayan dekat. Tapi kita tidak saling menyukai. Kita hanya murni berteman, itu saja. Ayahnya adalah teman baik ayahku jadi kita saling mengenal. Sudahlah, kau tidak perlu khawatir tentang itu. lagipula aku akan tunjukkan padamu janjiku yang waktu itu. kau masih ingat?”

 

“Janji yang mana? Kau kan sudah membuat banyak janji padaku”,sahut Jessica bingung.

 

“Janji yang kubuat waktu kita masih SMA,kau ingat? Aku pernah berjanji padamu bahwa aku akan selalu berada di sampingmu”

 

Jessica masih terlihat sedang berpikir dan tiba-tiba Luhan berkata dengan cepat sambil terlihat seperti salah tingkah yang membuatnya terlihat menggemaskan di mata Jessica,”Sicca-ya,aku mencintaimu”

 

“Aku tahu kita masih kuliah tapi aku janji setelah aku lulus kuliah,aku akan segera melamarmu. Bagaimana? Kau mau? Sampai saat itu, tunggulah aku dan jangan berpaling pada laki-laki lain”,lanjut Luhan sambil menatap mata Jessica kali ini dengan tempo napas yang tidak beraturan.

 

Jessica tercengang mendengar kata-kata Luhan lalu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Luhan ingin melamarnya? Ini sungguh di luar dugaan! Jessica berusaha mengatur napas dan juga jantungnya yang berdetak tidak karuan lalu menjawab,”Kau serius Luhan-ah? kau bersungguh-sungguh dengan perkataanmu barusan?”

 

“Tentu saja. Aku tidak akan main-main dengan komitmen terhadap seorang wanita”,jawab Luhan tegas.

 

Jessica tersenyum mendengar jawaban Luhan dan segera memeluknya erat dan berkata,”Aku juga mencintaimu,Luhan-ah. sampai kapanpun akan kutunggu lamaranmu itu”

 

Luhan merasa lega bukan main mendengar jawaban dari bibir Jessica. ia melepaskan pelukannya dan mengecup bibir gadis itu. tiba-tiba pintu kamar rumah sakit itu terbuka dan muncullah Krystal dan Tiffany dari balik pintu dengan cengiran lebar di wajah mereka yang berjalan masuk sambil menenteng makanan. Luhan melepaskan bibirnya dari bibir Jessica dan menjadi salah tingkah,begitu pula dengan Jessica yang tidak berani mendongakkan kepalanya karena ia yakin pipinya sudah berubah warna menjadi merah.

 

***

 

 

 

Epilog

 

“Maafkan aku, Luhan-ah. gara-gara aku, kau jadi harus ikut pulang malam seperti ini,” kata Jessica tiba-tiba sambil berjalan dengan kepala yang tertunduk.

 

Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah meskipun matahari sudah terbenam daritadi. Mereka di hukum untuk membantu pegawai perpustakaan untuk merapikan perpustakaan karena sering mengobrol dan bermain-main saat pelajaran.  Mau tak mau, mereka membantu merapikan perpustakaan yang berantakan itu sampai malam.

 

“eyy, kau ini bicara apa. Sudahlah ini kan kesalahan kita berdua. Bukan sepenuhnya salahmu,”sahut Luhan ringan sambil menepuk-nepuk kepala Jessica pelan.

 

Mereka pun berjalan kaki beriringan dalam diam. “Luhan-a, sudahlah kau pulang duluan saja. Sudah malam. Kau tidak perlu mengantarku sampai rumah. Aku bisa pulang sendiri”, kata Jessica tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya dan menghadap Luhan.

 

“Apa katamu? Tidak,tidak. Sudahlah tak apa-apa. Aku akan mengantarmu sampai depan rumahmu. Tidak baik bagi seorang wanita untuk berjalan sendirian malam-malam begini, kau tahu? Apalagi gadis remaja yang masih berpakaian seragam sekolah sepertimu”,balas Luhan sambil melirik Jessica dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia pun kembali berjalan dan mau tak mau, Jessica mengikutinya sambil memonyongkan bibir bawahnya.

 

Luhan yang melihat itu terkekeh pelan dan berkata,”Sudahlah, lagipula aku kan sudah berjanji akan selalu melindungi dan menemanimu. Kau jangan cerewet”.

 

“Apa? Kapan kau pernah berjanji seperti itu? Sepertinya kau tidak pernah berjanji seperti itu padaku. Memangnya kau mau melindungiku terus sampai kapan? Aku kan tidak sedang dalam keadaan bahaya atau apa. Lagipula kau kan bukan ayahku atau eh, pacar. Jadi untuk apa kau melindungiku?”, balas Jessica panjang lebar.

 

“Sudah kubilang jangan bawel. Lihat saja,Jessica Jung. Aku akan melindungi dan  menemanimu terus sepanjang hidupku. Ingat itu”,jawab Luhan sambil menatap mata gadis itu dengan sungguh-sungguh.

 

“Apa? Baiklah, baiklah akan kuingat itu”,balas Jessica sambil nyengir, mengiyakan perkataan melantur dari Luhan. Luhan pun tersenyum lalu menggenggam sebelah tangan gadis itu dan berjalan pulang.

 

END

15 thoughts on “[Freelance] Promise (Chapter2/END)

  1. Hhuhhuu ini bagus.! Udah kalo luhan-sica pasti feelsnya dapet banget :3
    Mereka emang cocok dah dipasangin dan dikasi peran yg kaya gini, manis2 kaya gula wkwkwkk
    sukaaaa! Udah gitu aja :v

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s