[Freelance] Goodbye Summer

Goodbye Summer by fydiamond

Genre : song fic, hurt, romance | Rated : general | Length : Oneshot

Cast : Exo-K Kris and Jessica (OC)

Please no silent readers and plagiarize. Comments are very welcome🙂

I remember when we were yelled at for talking in the halls
I don’t know why it was so fun even when we were being punished
After that day (yeah yeah) we always (yeah yeah)
Stuck together like the Astro twins, you were me and I was you

 

Jessica berdiri di lorong depan kelasnya yang sepi. Ia menyesal karena telah membuat dirinya sendiri dihukum seperti ini. Ia berdiri di sana dengan sebelah kaki di angkat dan kedua tangannya yang memegangi telinga. Mulutnya tak henti-henti menggerutu. Tak lama kemudian Jessica mendengar suara pintu kelasnya digeser dan memperlihatkan sosok laki-laki bertubuh kurus dan tidak terlalu tinggi berdiri di ambang pintu. “Kris, silahkan berdiri di sudut lorong sebelah sana dan jangan coba-coba mendekat” titah Mister Cho. Lelaki yang bernama Kris pun menuruti titah sang guru. “Lakukan seperti yang Jessica lakukan dan jangan ulangi kesalahan kalian pada pelajaran saya lain waktu” ujar Mister Cho yang kemudian menutup pintu kelas mereka.

Senjata makan tuan, itulah kalimat yang cocok untuk Kris. Awalnya ia ingin mengerjai Jessica dan membuat Jessica dihukum, tapi apa daya. Kris juga ikut terseret dan ikut dihukum. “Ini semua salahmu, bodoh! Kris bodoh! Bodoh, bodoh!” ujar Jessica. Kris yang mendengar itu hanya berdecak pelan. “Kau lebih bodoh, bodoh!” teriak Kris tak mau kalah. Berkali-kali mereka saling melempar ejekan. Bahkan tak jarang Mister Cho keluar untuk mengingatkan mereka bahwa kegiatan belajar-mengajar masih berlangsung.

Kris tertawa kecil. Ia tak pernah menyangka bahwa saling melempar ejekan ternyata sangat menyenangkan. Kris cukup populer di kalangan wanita seantero sekolah. Ia baik, ramah, senyumannya menawan, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Kris-lah yang berjasa menghadiahkan sebuah piala kaca tahun lalu pada olimpiade matematika tingkat nasional. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Jessica. Kris menoleh. “Ternyata bercanda denganmu sangat menyenangkan” ujar Kris berterus terang.

Jessica hanya tersipu, tapi ia juga tak memungkiri bahwa ia merasakan hal yang sama. Ia juga senang bisa bercanda dengan Kris.

Sejak hari itu, Kris dan Jessica terlihat selalu bersama. Banyak cibiran yang diberikan pada Jessica. Namun entah bagaimana caranya, Kris selalu berhasil membuat Jessica percaya. Tidak akan ada yang berani mengganggu Jessica. Mereka selalu bersama, layaknya anak kembar yang saling mengerti satu sama lain. Jessica tahu jika Kris sedang dalam masalah, begitupun sebaliknya.

Prestasi Jessica tidak buruk. Namun Jessica sangat buruk dalam bidang keahlian Kris—matematika. “Bukan, bukan yang ini rumusnya tapi yang ini, nah jika kau bisa mengalikan ini dengan ini dan membaginya dengan dua maka akan ketemu hasilnya” jelas Kris. Jessica hanya menganggukkan kepalanya saat Kris sedang menjelaskan deretan-deretan angka padanya. Sebenarnya Jessica sudah mengerti, hanya saja ia ingin Kris yang menjelaskannya untuknya. Bagi Jessica, wajah Kris saat memberi penjelasan sangat tampan. Kris terlihat berkharisma pada saat menjelaskan.

“Aku lelah Jess” ujar Kris yang kemudian berbaring.

Jessica mengerutkan keningnya. “Apa yang membuatmu lelah?”

Demi Tuhan! Jessica hampir melompat melihat wajah Kris saat ini. Kris terlihat begitu…. Tampan. Wajahnya terlihat sangat serius, dan berkharisma. Rambut hitamnya yang tertimpa sinar matahari menambah kesan tampan di dirinya.

“Aku lelah mengajarimu yang terlalu bodoh dan sulit mengerti” gumam Kris yang langsung mendapatkan hadiah jitakan di kepalanya.

Baik Kris maupun Jessica memandangi langit. Fikiran mereka melayang jauh entah kemana. Ujian kelulusan sebentar lagi, dan tidak ada waktu untuk bermain.

Waktu mereka untuk bersama akan makin sedikit. Dan mereka menyesali itu.

You cried so much on the day before graduation
You held it in firmly since you’re a guy
Just like that hot summer when we couldn’t say what we wanted, goodbye

 

Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Jessica hari ini. Hari ini ia tidak bertemu Kris untuk pertama kalinya. Apa Kris begitu sibuk? Oh, pastinya. Kris pasti sibuk dengan pidatonya, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan besok. Jessica menempelkan dahinya ke jendela. Airmatanya turun begitu saja bahkan tanpa seijin Jessica. Tidak ada alasan yang jelas kenapa Jessica menangis saat ini.

Besok adalah hari kelulusan mereka. Bukannya Jessica tidak senang, tidak. Jessica sangat senang karena akhirnya ia lulus. Tapi ada sebuah perasaan yang mengganjal hatinya.  Perasaan tidak ingin kehilangan. Tidak ingin kehilangan Kris. Jessica tersenyum dalam tangisnya. Akankah Jessica mampu mengucapkan selamat tinggal kala lidahnya terasa kelu?

Kris. Ingatan Jessica melayang ke masa di mana ia dihukum oleh Mister Kris setahun yang lalu. Ketika ia masih kelas dua. Jessica tak menyangka jika ia dan Kris bisa berteman oh tidak, bersahabat mungkin adalah kata yang tepat.

Kris. Entah sejak kapan ia merasakan ada sesuatu yang lain pada lelaki itu. Kris begitu istimewa di mata Jessica. Bukan, bukan istimewa seperti pandangan gadis-gadis lain pada umumnya. Jessica tidak mengerti, apa yang membuat Kris begitu tergila-gila pada matematika dan fisika yang menurutnya sangatlah tidak bersahabat.

Kris. Lelaki yang selalu mengejeknya dengan ejekan-ejekan yang terkadang ada benarnya. Kris yang selalu mengejeknya lamban, tulalit, dan sebagainya. Jessica hanya merasa sesak. Sesak mengetahui jika kebersamaan mereka tidak akan lebih lama lagi. Udara pagi seharusnya menyejukkan. Tetapi bagi Jessica ini semua lebih terasa seperti menyesakkan.

Kris. Satu nama yang membuatnya merasa aneh hari ini.  Jessica tidak mengerti pada perasaannya untuk Kris. Jessica merasakan ada sesuatu yang lain pada Kris. Karena ketika Jessica berjarak dekat dengan Kris, detak jantungnya di atas normal. Seolah ada ratusan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.

Keesokan harinya, Jessica bangun dengan garis hitam di bawah matanya. Efek kebanyakan menangis, mungkin? Kemudian dengan langkah gontai Jessica mempersiapkan dirinya untuk hari ini. Jessica meyakinkan dirinya semua akan baik-baik saja. Seusai mematut diri dan merasa cukup, Jessica melangkahkan kakinya ke bawah untuk menemui orangtuanya yang sudah menunggunya.

—–

Kris merasakan keringat dingin menuruni pelipisnya. Ia merasakan sepenggal semangat dan rasa percaya dirinya menguap entah kemana. Ia jadi tidak bersemangat lagi hari ini. Apakah pidatonya akan berjalan seperti yang semestinya? Entahlah, bahkan Kris pun tidak merasa baik. Begitu Kris mengarahkan pandangannya ke arah pintu, secercah semangat di hatinya. Jessica berdiri di sana dengan kedua orangtuanya. Kaki-kaki kurus Kris bergerak dengan sendirinya ke arah pintu aula.

“Halo nona, selamat datang” gurau Kris. “Kau terlihat sangat cantik hari ini” lanjut Kris. Jessica hanya tersenyum dan tanpa membalas perkataan Kris, Jessica berjalan ke arah kursi yang tertera pada undangannya. Meninggalkan Kris dengan berbagai pertanyaan yang timbul dalam otaknya. “Apa aku punya salah padanya?” tanya Kris pada dirinya sendiri.

Tidak jauh berbeda dengan Jessica, Kris juga merasakan hal yang aneh pada dirinya. Ia tidak bersemangat, dan tidak tertarik dengan apapun. Seharusnya dengan melihat sosok Jessica perasaannya membaik. Seharusnya. Tetapi Jessica malah mengabaikannya, seolah menjauh. Kris tidak mengerti dengan hal-hal seperti ini. Ia lebih senang bekerja dengan otak kiri dibandingkan dengan otak kanan—memainkan imajinasinya—karena siapa pun tahu, Kris tidak berbakat dengan itu. Kris hanya memilih diam dan berharap ia bisa melakukan pidatonya dengan baik.

The friend label is a label that I got to hate
The feelings I’ve hidden still remain as a painful secret memory
The photos that can’t define our relationship is a heartbreaking story
I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

Kris menempelkan wajahnya ke meja. Sejak hari kelulusan, ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Semangat untuk menjalani hari-harinya menjadi berbeda. Apa karena ia merasa kehilangan sosok Jessica? Mungkin itu ada benarnya. Kris pun membenarkan hal itu. Namun entah kenapa, Kris tidak berani untuk menemui Jessica. Mengingat ia hanyalah teman Jessica. Tidak ada alasan khusus yang bisa ia utarakan pada Jessica jika Jessica bertanya nantinya.

Perasaan yang tersembunyi di balik kerasnya hati seorang Do Kyung Soo. Bahkan foto  dirinya berdua dengan Jessica saat musim panas tahun lalu pun masih menjadi wallpaper ponselnya hingga sekarang. Bahkan foto itu tidak bisa menjelaskan rumitnya hubungan mereka. Teman? Mungkin ya, atau mungkin juga tidak. Perasaan ini juga begitu rumit.

Jessica itu musim panas bagi Kris. Musim favoritnya di mana Kris bisa menikmati matahari yang terbenam dengan semburat oranyenya yang begitu menawan. Kris menyukai musim panas, sebanyak ia bisa menghabiskan banyaknya jus jeruk di siang hari pada hari itu. Sebanyak ia bisa menghabiskan waktunya untuk bermain video game hingga sore hari.

Musim panas dan Jessica tidak berbeda. Mereka sama-sama cerah. Bedanya musim panas cerah karena mataharinya, sedangkan Jessica cerah dengan semua yang ada pada dirinya. Dan itu semua hampir membuat Kris menjadi gila. Kris benci kenyataan ini, tetapi ia merindukan Jessica. Ia membutuhkan Jessica. Rasanya segala sesuatu yang ia lakukan terasa tidak benar dan tidak pada tempatnya karena Jessica tidak berada di sisinya.

What do I say, we didn’t have to play no games
I should’ve took that chance, I should’ve asked for you to stay
And it gets me down the unsaid words that still remain
The story ended without even starting

“Jadi, kau merindukanku, hm?” tanya Jessica sambil menyeruput jus mangga yang baru saja ia pesan tadi. Kris mengelus-elus leher bagian belakangnya. “M-mungkin, atau y-ya, kurasa ya” jawab Kris tergagap. Jessica tertawa keras melihat ekspresi Kris yang seperti anak kecil berusia tiga tahun. “Aku mengenalmu, Kris” gumam Jessica di akhir tawanya.

Mereka berdua berjalan beriringan dan bergandengan tangan. Apa sahabat melakukan ini? Mungkin tidak. Tak ada yang percaya jika mereka hanya bersahabat. Ya, tidak ada yang percaya jika melihat pemandangan seperti ini, kan? Baik Kris maupun Jessica juga tidak bisa mendefinisikan hubungan mereka. Hanya satu kata yang mereka jawab, teman. Selalu dengan jawaban yang sama.

“Apa kau ada waktu?” tanya Kris di sela-sela kegiatan memakan es krimnya. Jessica tampak menimbang-nimbang. “Ya, sepertinya ada, memangnya kenapa?” jawab Jessica kemudian. Kris sedang bergulat dengan pikirannya. Kris menggigit bibir bawahnya. Baru saja Kris membuka mulutnya, terdengar dering ponsel milik Jessica. “Ya, halo bu, ada apa? Sekarang? Ngg” Jessica melirik Kris sekilas. “Emm baiklah, aku pulang sekarang” suara Jessica terdengar putus asa. “Maaf Kris, ibuku menyuruhku pulang sekarang” ujar Jessica dan kemudian pergi meninggalkan Kris yang masih mematung.

“Memangnya kau mau kemana?” tanya Kris lagi, kali ini ia sudah menyamakan langkahnya dengan Jessica. Jessica melupakan fakta tentang kaki-kaki Kris yang panjang dan melangkah lebar dapat menyusul langkahnya dengan cepat.

“Ke butik” jawab Jessica singkat.

Kris terdiam.

“Memangnya kenapa?” tanya Jessica.

Kris tersenyum. “Mau kuantar?”

“Tidak usah. Tidak perlu, ada rancangan gaun pengantin yang harus kuselesaikan dengan cepat. Jadi sampai jumpa Kris”

Your song on the last day of the school festival, the flickering summer sea
Our feelings that were precious because we were together
Like the deepening night sky, goodbye

Kris dan Jessica bertemu lagi di tempat yang sama. Hanya untuk melakukan perbincangan kecil dan tanpa arti khusus. Walau pun dalam hati mereka ingin mengutarakan sesuatu yang telah mereka simpan, dan mereka kunci rapat sejak lama. Cinta yang tersembunyi di balik hati-hati yang keras bagaikan batu karang.

“Jess, kau tahu lagu Avril Lavigne yang judulnya When You’re Gone?”

Jessica mendengus. “Tentu saja”

“Nyanyikan bait intronya untukku, kumohon” ujar Kris dengan nada memelas.

Sejujurnya, Jessica ingin menumpahkan jus jeruknya dan tertawa terbahak melihat ekspresi Kris saat ini. Wajahnya lebih terlihat seperi bocah berusia empat tahun yang ingin dibelikan permen.

“Ah sebaiknya bagian ini saja. When you walked away I count the steps that you take, did you see how much I need you right now? When you’re gone the pieces of my heart are missing you. When you’re gone-“

“Ah sudah sampai situ saja, suaramu sangat bagus. Ternyata aksen Bahasa Inggrismu masih keren”

How dare you Kevin Wu”

I’m sorry that this is a monologue
Oh, actually, I love you, yeah
If only our long-time hidden secrets were revealed
I would hold you in my arms

Kris menatap nanar sepucuk surat undangan berwarna coklat keemasan dengan foto dua orang yang sangat ia kenal sebagai sampulnya. Sebuah undangan pernikahan Jessica dengan Donghae. Donghae adalah senior Kris semasa SMP dahulu. Seandainya saja Kris berani mengungkapkan perasaan yang sudah ia sembunyikan sejak SMA dulu. Mungkin ini adalah undangan Jessica dengan dirinya. Mungkin.

Berjuta penyesalan yang meluas bak samudera itu menenggelamkan seluruh perasaannya. Segala yang telah ia persiapkan luluh lantak hanya karena sepucuk surat undangan. Sekarang Kris terlihat lemah karena terduduk di bawah ranjang tempat tidurnya. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, Kris terlihat rapuh. Terlalu rapuh untuk lelaki yang mendapatkan julukan Ice Prince ini.

Kini Jessica sudah terlalu jauh untuk Kris gapai. Kris sepenuhnya sadar bahwa ini adalah salahnya. Salahnya yang tidak berani menjelaskan perasaannya yang sesungguhnya pada Jessica. Bahkan Jessica tidak pernah bercerita padanya perihal rencana pernikahannya. Apa ini adil baginya? Disaat Kris sudah berhubungan kembali dengan Jessica, dan berniat untuk mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya. Jessica berada di sudut yang sangat jauh. Bahkan terlalu jauh untuk Kris gapai.

Kris kehilangan matahari musim panasnya.

Di hari terakhir musim panas Kota Seoul.

Bersamaan dengan datangnya berjuta penyesalan yang singgah di hatinya.

Kelam….. Itulah yang Kris rasakan. Musim panas tahun ini tak seindah tahun lalu. Di mana ia bisa menghabiskan waktunya dengan Jessica. Saling melempar ejekan. Saling berbagi canda tawa. Ketika Jessica tertidur di bahunya. Semua memori-memori itu bermunculan bagaikan slide photo.

Penyesalannya menggunung. Cintanya ditenggelamkan oleh perasaan bersalah, kecewa, sedih, dan menyesal. Kris benci ini. Dirinya terlihat begitu lemah dan menyedihkan. Tapi kenyataannya, cintanya untuk Jessica memang sangat besar. Bahkan lebih besar daripada Piramida di Mesir atau Candi Borobudur di Indonesia. Tidak. Ini lebih dari itu. Jika diibaratkan, Kris seperti sebuah sendok yang kehilangan garpunya dan langsung terbelah dua begitu di patahkan. Sangat menyakitkan.

Seandainya Kris memiliki mesin waktu seperti yang pernah ia lihat di anime Jepang, Doraemon. Kris sangat ingin memutar waktunya ke masa SMA tiga tahun yang lalu. Di mana ia bia mengutarakan perasaannya. Di mana ia bisa memeluk Jessica. Ketika Jessica bersandar di bahunya dan menikmati matahari terbenam bersamanya. Kris sangat ingin melakukannya. Namun itu hanya fantasi-fantasi belaka, dan yang ia yakini tidak akan berhasil.

The friend label is a label that I got to hate
A heartbreaking story, I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

“Selamat atas pernikahanmu ya, aku turut senang”

Aku yang berduka, di sini

“Terimakasih Kris, aku senang kau datang” ujar Jessica seraya memeluk Kris. “Maaf, tapi aku mencintaimu” bisik Jessica pelan. Berusaha sepelan mungkin agar Donghae tak mendengarnya.

Mata Kris yang awalnya bulat, semakin membulat dengan lebar. Jessica pun melepas pelukannya, dan tersenyum pada Kris. Senyum palsu yang terlihat sempurna.

Kris tak pernah menyangka jika Jessica memiliki perasaan yang sama dengannya. Penyesalan Kris berubah menjadi lebih besar. Kris menyesal. Sangat. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Dan akhirnya, ia menyakiti dua hati. Hatinya, dan juga hati Jessica.

Terakhir sebelum ia berpamitan untuk pulang. Kris menghampiri Jessica dan berbisik.

Goodbye my summer”

Bersamaan dengan senyum Jessica yang benar-benar terlihat rapuh dan menyedihkan. Kris meninggalkan cintanya yang telah bertemu cinta lain. Kris merasa begitu bodoh, dan linglung. Bagaikan orang yang kehilangan akalnya, Kris berjalan tanpa arah. Dengan airmata yang membasahi wajahnya, juga rasa sakit yang menjadi teman setianya.

Di hari terakhir musim panas Kota Seoul, Kris mengucapkan kalimat itu sekali lagi sambil menatap nanar gedung tempat acara pernikahan Jessica dan Donghae.

Goodbye my summer, wish you a better life with your new love”

END

24 thoughts on “[Freelance] Goodbye Summer

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s