C.I.N.T.A

CINTA

CINTA

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Tiffany Hwang [GG] – Kim Joonmyun [EXO K]

Oneshoot | Teen | Life – Romance – Drama

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation. 

 

C untuk Cerita

Lampu sorot aula itu bergerak menuju tengah panggung. Seketika para penonton terdiam. Lelaki itu berdiri di depan sana. Dengan membawa gitar akustik di tangannya. Jarinya mulai bergerak memetik gitar—menciptakan sebuah melodi indah. Mulutnya terbuka, mulai menyayikan lirik lagu yang sangat romantis. Lagu yang diciptakannya hanya untuk sang gadis pujaan.

 

You’re perfect

You’re perfect girl

Oooh

You’re my perfect girl
Here I am,

Sitting outside your door

In the rain,

In the pain it’s worth it

You are my lifeI won’t lie

But I’ve never seen a girl so fine

Since I’ve been alive
You’re perfect

I know it

You’re perfect girl
I will do anything to be with you

There’s nothing, in the world

To make me, give up girl

I will do anything to be with you

If that’s what it takes, whatever it takes

I’ve got what it takes

 

(Cody Simpson – Perfect)

Para penonton telah menunjukkan mata terkesimanya pada sang lelaki. Namun tidak dengan lelaki itu, dia hanya memfokuskan matanya pada sang gadis pujaannya – yang juga tengah menatapnya. Petikan gitar akustik itu tidak membuat berganti fokus. Hanya gadis itu. Gadis berambut hitam legam yang menggunakan bando sebagai pemanis. Gadis yang dapat membuat seluruh tubuhnya meleleh hanya dengan melihat matanya yang juga ikut tersenyum saat bibir pinknya melengkung indah.

 

Lirik lagu berakhir seiring dengan tepukan riuh dari pada penonton. Tak sedikit bahkan yang memberikan standing applause . Namun lelaki itu tak peduli. Dia tak beranjak dari tempatnya. Terlalu terpesona dengan senyum riang gadis itu yang juga ikut memberikan standing applause baginya. Otaknya terasa miring seketika, langkahnya mundur beberapa langkah. Terasa ajaib dengan apa yang dilakukan gadis itu.

 

Kim Joonmyun menarik nafasnya tak percaya. Beberapa detik kemudian, dia kembali melangkah mendekati mic, menggenggamnya – dengan perasaan gugup. Campur aduk perasaannya.
“Tiffany Hwang, saranghae…”

 

I untuk Impian

 

Gadis itu hanya menunjukkan wajah terkesimanya ketika kakak kelasnya menyumbangkan suara indahnya untuk konser tahunan sekolahnya. Tiffany Hwang menggigit bibir gugup ketika dia mengetahui sang kakak kelas – yang sangat dia sukai itu – menatapnya dengan matanya yang sangat indah. Kakak kelasnya yang sangat luar biasa, bagi dirinya.

 

Tiffany menghela nafas. Jantungnya sudah berpacu dengan cepat karena lagu romantis dari sang kakak kelas. Kim Joonmyun namanya. Dan dia adalah ketua OSIS di sekolahnya. Perangai dan setiap tingkah laku Joonmyun selalu dapat membuat Tiffany melting. Lelaki itu sangat sempurna.

 

Petikan gitar itu berakhir seiring dari para penonton yang bertepuk tangan dengan riuhnya. Terlalu hebat permainannya untuk ditolak, sehingga tak sedikit juga yang memberikan standing applause bagi sang kakak kelas yang sangat sempurna itu. Termasuk dirinya. Tiffany tak dapat menahan seluruh tubuhnya untuk tidak memuja betapa hebatnya penampilan Joonmyun hari ini.

 

“Oppa, kau hebat…” gumam Tiffany kagum. Suara Joonmyun indah sekali. Ah, andaikan tadi dia membawa tape recorder, pasti sudah dia rekam lagu yang dinyanyikan Joonmyun itu.

 

Namun keningnya berkerut sedikit ketika melihat Joonmyun yang tampak … ehm, terkesima? Lebih – lebih lelaki itu menatapnya lagi – membuat Tiffany canggunng minta ampun. Wajah Joonmyun tampak seperti terkejut luar biasa. Namun beberapa detik kemudian, tiba – tiba lelaki itu maju ke tempatnya semula, menggenggam mic dengan tangan yang sedikit gemetar.

 

Tiffany bertanya tak mengerti dalam hatinya. Ada apa dengan sang kakak kelas pujaan?

 

“Tiffany Hwang, saranghae…”

 

Tiffany terpaku. Tepukan riuh yang semula memenuhi auditorium berganti dengan keheningan yang cukup panjang. Tak sedikit yang masih harus mencerna maksud kalimat yang diucapkan Joonmyun dalam kecepatan yang bagaikan kilat itu. Termasuk Tiffany. Lelaki itu tadi… menyebut namanya? Joonmyun menyebut namanya dan… menyatakan cinta?

 

“Tiffany! Joonmyun oppa menyatakan cinta padamu!” Dia baru tersadar saat Taeyeon memekik kegirangan di sebelahnya. Sahabatnya itu sudah meloncat – loncat senang seakan dirinyalah yang menjadi Tiffany. Ah tidak juga, Taeyeon seperti itu karena dia sudah sangat tahu mengenai perasaan Tiffany yang terpendam selama ini. Dan sekarang… perasaan sahabatnya itu terbalaskan, bukan?

 

“Aku…?” Tiffany masih bergumam tak mengerti. Matanya memandang lurus pada Joonmyun yang berdiri di atas panggung dengan raut wajah cemas – menanti jawaban dari sang gadis. “Joonmyun oppa suka padaku…?”

 

“Tiffany…” Suara Joonmyun terdengar lagi. Gadis itu cepat mendongak dan menatap Joonmyun lebih dalam. “Aku menyukaimu—ani, aku mencintaimu, Tiffany. Ya, aku jatuh cinta padamu, adik kelas. Maaf membuatmu terkejut. Tapi inilah aku. Aku adalah Kim Joonmyeon yang sudah jatuh cinta pada adik kelasku yang pernah terkena lemparan bola basket dua tahun yang lalu…”

 

N untuk Nama

[Flashback]

 

“Aww~!”

 

Joonmyun terkesiap ketika teriakan seorang gadis memecah indera pendengarannya. Lamunannya buyar seketika saat itu juga. Lelaki itu segera berbalik dan melihat seorang gadis berperawakan tidak terlalu tinggi dan berambut hitam legam duduk di tepi lapangan sambil memegang kepalanya – yang sepertinya terkena lemparan bolanya tadi.

 

“Aigoo.. Siapa yang melempar sih?!” Gadis itu menggerutu sebal. Wajahnya terlihat lucu dengan bibir pinknya yang mengerucut seperti anak kecil. Penampilannya juga sangat mendukung kata ‘seperti anak kecil’ itu – dia bahkan mengucir rambutnya dua seperti yang biasa dilakukan anak – anak TK.

 

Tanpa sadar Joonmyun malah tersenyum geli. Kakinya kemudian melangkah pada gadis itu yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya. Pasalnya Joonmyun dari tadi hanya men-dribble bola basket di sudut lapangan. Namun sepertinya tanpa sadar dia malah memantulkan bola itu dengan kuat sehingga terlempar dan membentur kepala gadis manis itu.

 

“Apa sakit sekali?” Joonmyun membuka suara dan cukup membuat gadis itu terkejut. Gadis itu segera berbalik ke samping – ke arah Joonmyun.

 

Dan Joonmyun dapat melihat mata gadis itu yang berubah bulat – kaget. “Oh! Kau… oh, Joonmyun sunbae!” Gadis itu berdiri mendadak dan memandang Joonmyun dengan kikuk. Bahkan  dia tampak sedikit merapikan seragamnya. “Annyeonghaseyo sunbae” sapa gadis itu – tampak sekali jika dia gugup.

 

Joonmyun tertawa kecil, “Kau menyapaku? Astaga, padahal akulah yang melempar bola basket itu”

 

“Eh?” Gadis itu memandang Joonmyun tak mengerti. Oh, dia begitu gugup di depan Joonmyun. “Oh. Begitu ya. Ah, tak apa kok sunbae. Aku tidak apa – apa juga. Hehe” lanjut gadis itu pada akhirnya. Senyum lebar terukir di wajah manisnya dan membuat jantung Joonmyun tanpa sadar berpacu cepat.

 

“Oh. Baiklah. Tapi.. kau benar tak apa kan?’

 

Gadis itu mengangguk polos. “Hm, sunbae, a—aku pamit dulu ya” Tiba – tiba gadis itu merapikan buku – buku yang semula berserakan di kursi. Kemudian – seperti terburu – buru – dia pergi setelah memberi hormat.

 

“Kalau sunbae yang melempar, aku malah senang” Tanpa sadar Joonmyun mendengar suara itu. Suara yang diyakininya milik gadis yang sudah berjalan tak terlalu jauh darinya. Gadis itu berjalan pelan – seperti sedang mengkhayal. Beberapa kali juga dia mendongak pada langit – seolah langit dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan di benaknya.

 

Joonmyun tersenyum.

 

“Oi, adik kelas!” teriak Joonmyun tiba – tiba. Tentu saja ditujukan pada gadis itu, karena jam sekolah telah usai. Dan tidak banyak murid yang berlalu lalang di koridor. Hanya satu dua orang saja.

 

Gadis itu menghentikan langkahnya – seperti terkejut karena Joonmyun memanggilnya. Sesaat dia berbalik, kemudian menunjuk dirinya, “Aku?”

 

Joonmyun mengangguk, “Siapa lagi selain kau?” Lalu dia tertawa, namun tidak dengan gadis itu yang malah tersenyum kikuk.

 

“Oh, ne. Ada apa, sunbae?”

 

“Siapa namamu?”

 

“Eh?” Gadis itu terlihat shock dengan pertanyaan Joonmyun. Demi Tuhan, benarkah indera pendengarannya ini? Seorang Kim Joonmyun bertanya nama seorang adik kelas yang tidak populer sama sekali? Dia benar – benar tak percaya.

 

Joonmyun mengernyit, namun dia mengulang pertanyaan lagi – pertanyaan yang sama dengan nada bicara yang sama, “Siapa namamu?”

 

Gadis berambut hitam itu  menahan nafas ketika mata Joonmyun menusuk indera penglihatannya. Tampak tak percaya, namun mulutnya bergerak menjawab,

 

“Tiffany Hwang. Namaku Tiffany Hwang, sunbae”

 

Dan Joonmyun tampak bahagia mendengarnya.

 

T untuk Tanda Cinta

 

“Surat cinta lagi, hm?” Joonmyun hanya tertawa ketika Yixing meledek lokernya yang – selalu saja penuh dengan yang namanya surat cinta, cokelat, ataupun bunga. Ah, seorang ketua OSIS yang nyaris sempurna itu memang memiliki segudang fans di sekolah ini. Dan sudah menjadi rutinitas rutin apabila setiap dia membuka loker, pastilah yang pertama kali keluar adalah surat – surat yang berjatuhan di lantai.

 

“Kau selalu jadi idola di sekolah ini, ya…” Yixing mencibir – sembari membantu Joonmyun mengangkat dan merapikan surat – surat yang berjatuhan di lantai itu. Beruntung sekali yang menjadi fans Joonmyun. Lelaki itu sangat sopan. Setiap surat yang dikirim untuknya, pasti dibacanya satu per satu lalu diberi surat balasan. Kata – kata surat balasannya pun sangat sopan, seperti ‘Terima kasih ya sudah menjadi penggemarku/Terima kasih sudah menyukaiku’. Jika ada yang menembaknya – hal yang sangat biasa, akan dibilangnya ‘Kita masih sekolah. Jadi ada baiknya kita berteman saja ya. Semoga kau tak kecewa. Mari berteman baik! ^^’.

 

Sopan sekali.

 

Yixing mengernyit ketika dia melihat sebuah kotak berbungkus kertas cokelat yang tertata rapi dalam loker. Kotak yang asing baginya. “Hey, sepertinya kau punya penggemar baru”

 

Joonmyun ikut menoleh dan melihat kotak itu. Segera diambilnya kotak berukuran sedang itu dan membukanya. Tampak di dalam kotak terdapat sebuah surat dan… kalung? Joonmyun meraih surat itu dan segera membacanya,

 

‘Annyeong sunbae…

 

Ehm, ini pertama kalinya aku mengirim surat padamu. Sebenarnya aku sangat malu. Wajahku sudah sangat merah saat menulisnya, jadi… maaf ya sunbae kalau suratku ini aneh.

Oh ya, sunbae… Sunbae mendapat kalung itu kan?

Kalung itu aku beli berpasangan. Dan, sunbae – maaf kalau aku lancang – maukah kau menggunakan kalung itu? Aku menggunakannya juga. Jadi aku rasa aku akan sangat senang jika sunbae bersedia.

Sunbae, aku menyukaimu.

 

                  -SH-‘

Joonmyun mengukir senyum geli ketika membaca surat itu. Tampak bekas penghapus di kertas berwarna pink itu yang berarti si pengirim surat ini sudah mengoreksi kata – kata suratnya berulang – ulang kali.

 

SH…

 

Hm, jarang sekali ada pengggemarnya yang mengiriminya surat dengan inisial nama seperti ini. Mereka pasti selalu memberi nama mereka dengan lengkap tanpa rahasia seperti itu. Yeah, mereka terkadang begitu spontan padanya.

 

Dan otaknya mulai berpikir – mencari tau. Sebagai seorang ketua OSIS, setidaknya dia tau nama – nama siswa  siswi di sekolah ini. Tidak semua, tapi mungkin dia akan merasa tidak asing.

 

SH…?

 

“Eung? Kau tau pengirimnya siapa?” Yixing menginterupsi. Dia ikut membaca surat itu rupanya. Joonmyun menoleh sedikit dan menggeleng – tanda dia tak tau siapa. “Entahlah”

 

“Oh, ya sudah. Ayo temani aku ke kantin. Perutku sudah lapar~” rengek Yixing – yang mengundang tawa Joonmyun. Lelaki itu menarik – narik tangan Joonmyun dan kemudian menyeretnya pergi. Aih, dia bertingkah seperti seorang anak kecil kalau sudah saat seperti ini.

 

Kantin tampak ramai saat itu. Beberapa kursi terisi penuh. Suara ribut juga tak lepas dari keadaan kantin saat ini. Ah, Joonmyun sebenarnya sedang tak ingin untuk pergi ke kantin sekarang. Lagipula dia belum terlalu lapar. Ini semua karena Yixing – sahabatnya itu.

 

Beberapa saat, Joonmyun tampak bosan menunggu. Sedangkan Yixing masih sibuk mengantri disana. Bosan rasanya. Sesaat, dia teringat akan kalung yang diberikan secret admirernya itu. Kalungnya terbawa olehnya tadi, kalau tidak salah.

 

Joonmyun pun segera merogoh kantung celananya. Sumringah ketika mendapati kalung silver itu memang ada di kantungnya. Lelaki itu tersenyum ketika mengingat isi surat dari sang pengirim kalung ini. Dengan satu kali gerakan, kalung itu sudah tergantung dengan sempurna di lehernya.

 

“Joonmyun-ah!” Suara Yixing membuatnya menoleh. Tampak sahabatnya itu sedikit kerepotan membawa dua piring makanan sekaligus. Apalagi dengan dua orange juice yang juga dipenggangnya. “Ppali! Bantu aku!” suruh Yixing dengan wajah seram.

 

“Ah, nde” Joonmyun segera berdiri – menghampiri sahabatnya dan mengambil satu piring makanan juga satu gelas orange juice.

 

Namun…

 

“Sunbae, kalungnya bagus” Langkah kedua lelaki itu terhenti. Serentak mereka mendongak dan tampak adik kelas – yang dikenali Joonmyun sebagai Tiffany – berdiri di hadapan mereka. Gadis itu tersenyum … riang? – ketika melihat kalung silver yang digunakan Joonmyun.

 

Yixing dan Joonmyun melongo. Sedangkan Tiffany sudah terlebih dahulu berlalu dari mereka.

 

Kalungnya bagus?

 

Mungkinkah…?

 

[END FLASHBACK]

 

A untuk Awal

 

“Tiffany…”

 

Suara Joonmyun terdengar lagi. Menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Rasanya masih tak percaya kalau memang selama ini sunbae yang selalu menjadi idolanya menyatakan cinta padanya.

 

Gadis itu mendongak. Menatap wajah Joonmyun yang – masih saja – tampak cemas menunggu jawaban Tiffany. Lelaki itu gugup sekali saat Tiffany mulai membuka mulutnya,

 

“… Apa yang harus aku jawab, sunbae?” Suaranya lirih. Namun terdengar jelas dalam auditorioum yang sangat sepi itu. Banyak orang yang lebih memilih mendiamkan mulutnya – untuk mendengar setiap jawaban dari Tiffany dengan jelas. Joonmyun adalah idola sekolah itu, dan setiap yang terjadi padanya pasti adalah bahan pembicaraan yang sangat baik.

 

“…Aku – bingung harus menjawab apa, sunbae… Karena—“

 

Joonmyun menahan nafasnya. Tiffany terlalu menggantungkan perasaannya sekarang.

 

“—Karena seharusnya kau sudah tau apa jawabanku,sunbae…”

 

Dia menolakku. Itu yang terpikir oleh Joonmyun saat itu juga. Wajah Tiffany tampak bimbang – memperkuat pendapatnya bahwa Tiffany menolaknya. Runtuh sudah tembok kekuatannya. Cintanya menolak dirinya.

 

Joonmyun menunduk dalam. Rasanya ingin menangis saat itu juga. Dia sudah benar – benar tidak kuat menahannya. “Oh, baiklah. Aku mengerti” suara Joonmyun terdengar sedikit serak. Lelaki itu berusaha menahan isak tangisnya.

 

Bodoh memang. Seharusnya dia tidak menangis. Dia seorang pria. Dia adalah idola. Menangis hanya dapat membuat imejnya sebagai lelaki perfect hilang begitu saja. Itu memalukan dirinya.

 

Tapi sekali lagi… dia seorang manusia. Dan dia punya perasaan juga tingkat kesensitifan.

 

Lelaki itu melangkahkan kakinya menjauhi tengah panggung – menuju samping backstage. Langkahnya tampak lesu. Tak bersemangat.

 

“Sunbae…” Suara Tiffany menginterupsinya. Joonmyun berbalik – matanya menangkap wajah Tiffany yang tampak khawatir. Oh tidak, Tiffany, jangan perlihatkan wajah itu. Wajah penuh iba yang akan membuat dirinya semakin menyedihkan.

 

“Gwenchana, Tiffany-ssi” bisik Joonmyun pelan. “Nae gwenchana…” Lalu dia kembali melangkah sambil menyeret gitarnya. Lemah rasanya. Beberapa langkah lagi sosoknya akan lenyap dari balik tirai panggung. Joonmyun, tenanglah…

 

“Sunbae… nado saranghaeyo!” Tiffany tiba – tiba berteriak. Wajahnya merah seketika seakan malu yang dirasanya sangat mendalam. Rasanya malu sekali berteriak seperti itu di auditorioum seperti ini. Tapi err.. dia tidak mau membuang kesempatan yang selalu dicarinya itu. Joonmyun menyatakan cinta padanya, dan mereka harus bersatu, karena dia juga mencintai kakak kelasnya itu.

 

Langkah Joonmyun terhenti. Dia membatu.

 

“Nado saranghae, Joonmyun sunbae. Nado” ulang Tiffany lagi dengan penuh penekanan. Sesaat dia menelan ludahnya gugup. Sedangkan Joonmyun sudah membelakakan matanya di tempat – tak percaya dengan apa yang didengarnya baru – baru ini. “Ayo kita pacaran, sunbae” lanjut Tiffany dengan nada polos. Beberapa orang bahkan tertawa mendengar pernyataannya ini.

 

“Aku memang – ani, dari dulu.. aku adalah penggemar sunbae”

 

Perlahan Joonmyun berbalik. Wajahnya masih tampak tak percaya, namun secara perlahan senyum itu terukir. Tanpa menunggu, lelaki itu segera menuruni tangga ke bawah dan menghampiri Tiffany. Tiba di hadapan gadis itu, Joonmyun serta merta hanya tersenyum dengan riangnya. “Kita pacaran?” Lagi – lagi yang lain hanya tertawa.

 

Pasangan ini terlalu frontal dan polos.

 

Tiffany mengangguk dengan polos – yang mengundang tawa gemas dari Joonmyun. Gadis itu menggemaskan, dan Joonmyun tidak dapat lagi menahan dirinya untuk segera menarik gadis itu dan memeluknya di hadapan orang banyak itu.

 

“Aku mencintaimu, Tiff” bisik Joonmyun – sembari mengeratkan pelukannya. Dalam pelukan itu pun mereka saling tersenyum satu sama lain. Menikmati hangatnya kasih sayang yang tercurah hebat dalam hubungan itu. Inilah awal hubungan mereka.

 

Haha, geli rasanya mendengar kata pacaran itu. Tetapi terserah. Setidaknya Joonmyun dan Tiffany tau mereka kini adalah sepasang kekasih. Joonmyun adalah kekasih Tiffany, dan Tiffany pun sebaliknya. Namun berdasar semua itu, adalah cinta. Cinta yang menjadikan semua itu. Hubungan yang harmonis, langgeng, dan sempurna…. semua itu berdasarkan satu kata saja. Cinta.

 

Jadi, apa kau percaya dengan ‘CINTA’ ini?

 

Kalau aku,…

 

Aku percaya.

 

END

Note:

Ya ampuuun >< Aduh aku malu banget pas buat adegan akhir itu. Sebenarnya pengen sih hilangin kata yang mengganggu banget itu tapi, errr… menurutku itu lebih gimana gitu kalau ada kata – kata kayak gitu xD

Sorry ya kalau fanfic yang ini hancur banget. Romantisnya hilang. Feelnya hilang. Semua hilang. Ini semua karena data – dataku yang pada hilang-___- Jadi aku harus buat ulang deh.. oh so tragic~

28 thoughts on “C.I.N.T.A

    • Maaf ya sebelumnya, tapi aku ketawa lho pas kamu bilang FF aku bermutu dan err ya… kamu copas ini.

      Thanks banget karena pas aku cek di blogmu, kamu nggak ganti namaku sebagai pembuatnya, tapi kenapa kamu ganti castnya? Dan ok, aku jujur, aku ketawa karena kamu ganti dengan Yixing yang sebenarnya adalah cowok.

      Dan satu lagi, aku berterima kasih karena kamu mau baca FF aku yang sebenarnya kamu bilang nggak bermutu. Tapi aku lumayan gak suka karena kamu sudah memposting fanficku, padahal aku belum kasih persetujuan untuk dicopas. Oh, terima kasih sudah membuatku emosi.

      Akhir kata, plis… jangan buat rusuh di sini. Ini blog khusus EXOShidae, dan sudah ada rule untuk jangan nge-bash. Jadi tolong dihargai itu.

      Thanks.

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s