Morning Habits (Vignette)

Morning Habit copy

Morning Habits

written by Summer

Main Cast: EXO-K’s Park Chanyeol and SNSD’s Choi Sooyoung || Genre: Romance and Fluff || Length: Vignette || Rating: PG-13 || Disclaimer: Inspired by my life and a picture ||

[]

[]

Can you be my coffee in my morning ?

 

Pukul tujuh pagi, hujan gerimis membuka hari pertama di musim semi. Musim dingin baru saja berakhir, tapi sisa-sisa salju masih tersisa di kanan kiri jalan. Kabut-kabut yang muncul karena dinginnya pagi melayang-layang pelan dan terkadang berhenti di balik jendela. Gerimis-gerimis tipis yang turun membuat embun dan air hujan hampir tak bisa dibedakan. Sama sama menempel di atas daun.

Pukul tujuh pagi dan Park Chanyeol masih bertahan untuk berdiri di sisi meja pantry miliknya. Ia tak melakukan apapun. Hanya berdiri dan mengamati air bercampur bubuk kopi kasar di dalam french pressnya. Chanyeol masih mengamatinya, seolah ia ingin mengajak benda mati itu bicara. Namun nyatanya, alat penyeduh kopi itu hanya diam dan berdiri diatas meja tanpa gerakan.

Chanyeol menyerah dan memilih untuk memanggang roti di dalam toaster. Ekspresi wajahnya berantakan dan ada warna kehitaman di bawah matanya. Ia kurang tidur. Tadi malam ia berusaha untuk menyelesaikan gambar rancangan bangunan milik kliennya yang sudah hampir tenggat waktu. Ia tak tahu sampai jam berapa ia masih bertahan hingga akhirnya tertidur diatas meja. Yang ia ingat adalah, sensasi pening yang aneh ketika ia terbangun karena mendengar suara hujan yang mengguyur tanah.

Sesekali Chanyeol menggerutu pelan dan cepat. Di pagi hari, kabut tebal masih menutupi jalan dan matahari masih tersembunyi di balik awan. Ini sudah musim semi tapi sepertinya udara masih sedingin saat salju turun. Kaos panjang Armani yang ia kenakan bahkan sudah dilapisi jaket rajutan warna abu-abu tua. Harusnya itu sudah cukup hangat. Tapi nyatanya tidak, Chanyeol masih merasa dingin, hingga tangannya seperti membeku.

Chanyeol memasukkan dua potong roti tawar di dalam lubang toaster sementara satu tangannya memijat-mijat leher dengan wajah lelah. Lehernya pegal dan punggungnya sakit karena harus tidur dengan posisi yang salah untuk beberapa jam lamanya. Ia bergumam dan berfikir untuk tidur lagi nanti jika ada waktu. Jika ada waktu.

 

Chanyeol mengahabiskan dua belas menit tiga puluh dua detik waktunya untuk berfikir. Sebenarnya bukan hal yang sangat penting, tapi entah mengapa sepertinya topik yang ia pilih kali ini terlihat menarik. Ia berfikir mengapa hari ini ia memilih untuk membuka paginya dengan secangkir kopi arabica dan bukannya kopi robusta seperti biasa. Mungkinkah karena Minho (juniornya di kantor yang kelewat kaya hingga rasanya sia-sia saja ia bekerja sebagai arsitek) yang memberikannya sebagai oleh-oleh sepulang dari Brazil ? Atau mungkin karena ia sudah muak dengan kopi robusta yang ia minum tiap pagi ? Mungkin.

Lelaki berambut coklat gelap itu tak bersuara dan memilih duduk dengan tangan menopang dagu. Awalnya ia berusaha menghitung berapa banyak tetesan hujan yang mengenai pipa-pipa saluran di sisi apartemen sebelum akhirnya menyerah karena merasa pusing di hitungan ke dua puluh sembilan. Melupakan hitungannya, Chanyeol malah melamunkan hal-hal abstrak yang terus berubah tiap beberapa detik seperti saluran televisi yang rusak.

Hal terakhir yang ia lamunkan adalah tentang perginya seorang gadis yang melenggang sempurna di bandara. Seorang gadis yang fotonya terpampang di atas meja kamar Chanyeol. Dan sebelum lamunan itu berganti lagi, toasternya mengeluarkan suara ‘ting’ yang keras sekali. Ia tergagap dan berdiri cepat-cepat.

 

Rotinya sudah matang.

*****

Chanyeol membawa sepiring roti panggang dan secangkir kopi ke ruang tamu. Ia memutuskan untuk sarapan dengan kaya toast (roti panggang yang diolesi selai kaya). Sarapan yang sama dengan yang ia makan saat di Singapura seminggu yang lalu.

Ia menyelonjorkan kakinya yang panjang di bawah meja dan mulai menyalakan televisi. Kopi dan roti panggangnya bersisian diatas meja dan sama-sama mengeluarkan asap tipis yang membumbung sebentar lalu menghilang, begitu seterusnya. Seakan mereka berusaha mencapai atap meski pada akhirnya gagal. Aroma kopi yang bertemu dengan aroma manis roti panggang menggelitik indra penciumannya. Ia masih merasa pusing karena tidur dengan sangat tidak nyaman. Namun aroma-aroma itu sanggup mengurangi rasa sakitnya.

Pukul tujuh lebih empat puluh lima menit. Tiga perempat jam waktu yang ia butuhkan untuk membuat sebuah sarapan sederhana. Tiga perempat jam itu adalah waktu yang ia ingin cepat ia habiskan sebelum akhirnya ia menuju sisa dari waktu itu.

 

Lima belas menit lagi.

 

Chanyeol menyesap kopinya pelan dengan cuping hidung yang melebar ketika aroma pahit dan asam yang wangi itu menyesak rongga pernafasannya. Rasanya hangat ketika cairan hitam itu melewati tenggorokannya yang dingin. Chanyeol memijit tombol remote televisinya dengan geram. Ia sedang berusaha mencari acara menyenangkan yang dapat menemaninya di pagi hari dan bukannya acara sialan macam gosip artis-artis di dunia hiburan. Bah, apa pentingnya hal macam itu untuk seorang Park Chanyeol yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan gambar-gambar gedung ?

Lima menit Chanyeol melakukan senam diatas remote televisi dan kemudian ia menyerah. Hari ini sepertinya dunia sedang tidak ingin berpihak padanya. Ia melempar remotenya ke atas sofa dan (dengan sangat terpaksa) menonton apa yang orang-orang sebut dengan berita ringan di pagi hari.

Ia menggigit pinggiran roti panggangnya dan menonton televisi tanpa minat. Chanyeol tidak menyukai acara televisi macam ini dan ia bisa saja mematikan televisinya sekarang. Tapi sejujurnya, ia hanya ingin membunuh waktu dengan menyalakan televisi tanpa benar-benar berniat menontonnya. Setidaknya itu membuat apartemennya tidak terlihat begitu suram. Diantara suara giginya yang berusaha menghabiskan roti dan suara sang pembawa acara di televisi, tiba-tiba sebuah berita berhasil menarik perhatian Chanyeol dari pikirannya.

 

Supermodel Choi Sooyoung, menjadi salah satu model perwakilan dari Korea untuk New York Fashion Show tahun ini !

 

Bola mata Chanyeol tak bergerak. Ia menatap televisinya dengan pandangan khidmat. Seolah televisinya baru saja memberi tahu tentang penemuan besar hasil karya manusia. Well, untuk sesaat Chanyeol melupakan cangkir kopinya yang tinggal separuh dan potongan rotinya yang belum selesai dimakan.

Siaran itu berlangsung tak lebih dari satu menit. Menampilkan foto dan video wawancara dengan supermodel yang disebut-sebut sebagai supermodel dengan honor paling mahal tahun ini. Bahkan sudah digadang-gadang bakal menjadi salah satu model utama Victoria’s Secret untuk musim depan.

Seorang supermodel, dengan wajah yang sama persis dengan wajah yang terpampang di foto yang ada di kamar Chanyeol. Bahkan wajah yang sama dengan beberapa foto yang tersimpan di ponselnya. Dan nama itu bahkan tertulis jelas di balik sebuah album foto yang tersimpan di atas meja kecil di sudut ruangan.

 

Two Years Anniversary. Park Chanyeol and Choi Sooyoung.

 

Berita itu berakhir dan digantikan dengan berita lain. Namun berakhirnya berita itu membawa dampak lain untuk Park Chanyeol. Untuk entah keberapa kalinya, Park Chanyeol kembali melihat jam dindingnya di atas televisi. Sudah pukul delapan. Sisa seperempat jamnya tadi sudah ia habiskan. Lima belas menitnya sudah habis dan bahkan sekarang menuju menit selanjutnya. Hal kedua yang dilakukan Chanyeol adalah menyalakan ponselnya dan tak mendapati apapun disana. Belum ada apapun yang masuk ke dalam ponselnya.

 

Park Chanyeol semakin gelisah.

 

Detik-detik bergerak menuju ke menit-menit sesuai dengan jarum jam yang bergerak. Chanyeol terus menenggerakkan kepala. Mengamati jam kemudian mengamati ponselnya. Mengamati jam dan kemudian mengamati ponselnya. Begitu seterusnya hingga ia merasa kepalanya seakan lepas. Padahal satu jam yang lalu ia sempat mengeluhkan tentang leher dan punggungnya yang pegal karena salah tidur.

Pukul delapan lebih lima menit dan Chanyeol masih tak mendapati apapun. Ia frustasi dan hampir menyenggol kopi dan piring berisi rotinya. Ia butuh jam delapannya. Ia butuh sesuatu untuk masuk kedalam ponselnya. Atau kalau tidak, ia tak akan melanjutkan paginya.

 

Ia butuh.

 

Ini mirip dengan kebutuhan primer yang ia pelajari di pelajaran ekonomi saat ia masih remaja dulu. Penting. Harus dipenuhi sekarang juga atau ia tak akan bisa hidup. Dan hebatnya, kebutuhannya saat ini tidak bisa digantikan dengan hal lain dan tidak dapat ditunda. Ia butuh. Sekarang juga.

Chanyeol sempat berfikir untuk memulainya lebih dulu. Ibu jarinya sudah berada di atas layar ponsel. Hanya butuh satu sentuhan tapi ia mengurungkannya dan meletakkannya kembali diatas sofa. Tapi ia butuh hal itu sekarang juga. Untuk kedua kalinya ia kembali mencoba dan lagi-lagi perasaan aneh menahannya. Untung saja hal itu tak berlagsung lama. Lima detik setelah Chanyeol mengerang frustasi dan menyenderkan kepalanya di bantalan sofa, ponselnya berbunyi nyaring sekali. Tak perlu melihat nama yang terpampang disana. Tangannya langsung menyambar ponsel dan meletakkanya di sebelah telinga.

“Morning . . .”

Nada suara seseorang mengalun melalui sambungan telepon. Bukan sembarang suara. Itu suara seorang gadis yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Gadis itu hanya mengucapkan satu kata dalam bahasa asing. Hanya satu kata dan langsung membawa dampak yang spektakuler. Kerutan di kening Chanyeol seketika langsung menghilang digantikan dengan lengkungan di sudut bibirnya. “Hai . . .” desahnya lega betulan.

“Kau sudah bangun ?”

Suara lembut itu bertanya dari ujung dunia entah dimana. Dan Chanyeol bersumpah bahwa suara itu adalah melodi paling indah yang pernah ia dengar. “Yeah, aku bangun fajar tadi.” Chanyeol berdehem untuk menjernihkan suaranya.

“Kau sakit ?” Nada suaranya terdengar khawatir. “Apa kau kena flu lagi ?”

Chanyeol menggeleng cepat-cepat dan kemudian tersadar bahwa orang itu pasti tak bisa melihat. Sekali lagi ia berdehem pelan. “Tidak, hanya kurang minum saja.” Chanyeol bisa menduga bahwa gadis itu akan bertanya lagi. Maka dari itu cepat-cepat ia mencegah dengan berbalik memberi pertanyaan. “Jam berapa sekarang di New York ?”

Gadis itu langsung menjawab dengan cepat. Seolah lupa kalau tadi ia sedang bertanya kepada Chanyeol. “Sudah hampir tengah malam.”

Chanyeol mendengar suara-suara berisik orang-orang berlalu lalang di belakang sana. Mungkinkah gadis itu masih di jalan ? “Apa kau sudah sampai di hotel ?” tanyanya dengan nada suara yang sedikit lain.

Ini sudah sampai di depan pintu,” balas gadis itu menenangkan. Sepertinya gadis itu tak berbohong. Karena tak lama Chanyeol seperti mendengar kenop pintu yang diputar. “Kau sudah sarapan ? Aku belum makan malam sejak tadi,” gumam gadis itu mengeluh.

“Apa Si Rubah Tua itu melarangmu untuk makan ?” sentak Chanyeol begitu mendengar penjelasan gadis itu.

Gadis itu tertawa. Mendengar Chanyeol menyebut designernya dengan sebutan Si Rubah Tua, mau tak mau membuatnya geli. “Tidak, tentu saja tidak,” dendangnya. “Aku yang salah. Fashion show membuatku lupa waktu dan lupa makan,” tambahnya masih tertawa.

“Makanlah yang banyak dan jangan khawatirkan jika Rubah Tua memarahimu. Kau harus makan untuk menggantikan energimu yang hilang.” Tiba-tiba Chanyeol memperlihatkan perhatian dan kekhawatirannya.

Gadis itu kembali tertawa. “Ya, aku akan makan banyak. Lagipula tak ada orang yang sanggup menandingi nafsu makanku,” ujarnya bangga.

Ucapannya berhasil membuat sudut-sudut bibir Chanyeol terangkat, meski ia masih tak tertawa. Tentu saja, mana ada supermodel yang sanggup mengalahkan porsi makan seorang Choi Sooyoung ? “Aku tak meragukan itu.” Selama dua menit Chanyeol mendengarkan cerita gadis itu tentang dinginnya udara di New York dan pekik kegirangannya ketika ia bertemu dengan Miranda Kerr disana. Chanyeol hanya mendengarkan, sesekali memberi tanggapan singkat. Dia tak perlu banyak bicara, hari ini adalah hari Choi Sooyoung untuk bercerita.

Sepertinya gadis itu sudah lelah bercerita dan kecepatan bicaranya mulai memelan. Chanyeol menyadari itu dan menggunakan kesempatan itu untuk bicara. “Kapan kau akan pulang ?” tanyanya di sela-sela menggigit roti yang tadi sempat ia lupakan.

“Mungkin empat hari lagi,” jawab gadis itu. “Aku masih ada pemotretan dengan salah satu majalah fashion. Memangnya kenapa ?”

Chanyeol terdiam sebentar. Berusaha memilih kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan berusan. Ia berdehem sebentar. “Musim semi sudah datang.”

Hanya itu yang bisa dibalas oleh Chanyeol. Ia tak berharap untuk Sooyoung mengerti. Bahkan akan lebih baik kalau Sooyoung tak memahami perkataannya barusan. Tapi sepertinya ia melupakan sesuatu. Choi Sooyoung sudah dua tahun ada di kehidupannya. Dan gadis itu sudah mengenal baik kebiasaan-kebiasaan Chanyeol. Bahkan untuk urusan tebak-menebak macam ini.

Dan Sooyoung sudah tahu jawaban apa yang harus ia berikan. “Jangan khawatir, musim semi akan berlangsung lambat dan pelan.”

Chanyeol tersenyum lebar, menampilkan sebarisan giginya yang putih bak aktor yang sering tampil di iklan-iklan pasta gigi. Chanyeol mungkin bukan laki-laki yang biasa mengatakan segala sesuatu dengan gamblang. Chanyeol mungkin bukan seorang pria yang mudah menunjukkan perasaannya di depan umum. Namun seperti apa adanya Chanyeol, Sooyoung menerimanya tanpa pernah menuntut.

 

Musim semi sudah datang (Cepatlah pulang, aku merindukanmu).

 

Jangan khawatir, musim semi akan berlangsung lambat dan pelan. (Tunggu aku, aku pasti segera pulang. Aku juga merindukanmu).

 

Chanyeol sebenarnya hanya orang biasa yang menjalani kehidupan yang biasa pula. Yang berbeda adalah bagaimana ia harus memulai paginya sebelum menjalani hidup yang menanti di luar sana. Ia hanya butuh tiga hal. Tiga hal mutlak yang harus ia dapatkan di pagi hari atau kalau tidak ia akan mati.

 

Secangkir kopi

 

Sepotong roti

 

 

Dan jam delapan paginya . . . .

 

Suara Choi Sooyoung.

 

THE END

 

Well, silahkan timpuk saya dengan apapun. Menerima segala timpukan terutama uang dan Kris (atau Lay juga boleh kekeke). Maaf banget karena baru bisa update sekarang dan update dengan FF yang ancur nan absurd. Awalnya sih ga berniat buat bikin FF ini, tapi gara-gara liat foto diatas, jadi kepikiran buat sesuatu deh. Maaf banget buat yang udah gigit jari nungguin slipped part selanjutnya. Kemaren-kemaren saya ga bisa update soalnya harus persiapan buat lomba. Sukur, sekarang udah selesai. Tapi masalahnya saya masih ada diklat dan harus ngejar materi pelajaran kelas yang belum saya dapet selama pembinaan. Mungkin slipped bakal di post minggu depan. Tapi ini masih mungkin. Inget, mungkin.

Silahkan yang mau marah-marah, curhat, ataupun mau ngambek sama saya, silahkan tulis di komentar bawah. Dan makasih buat @sharigala yang udah ngasih ucapan selamat lewat dm. Well, aku tersentuh lho :’)

 

At last,

 

Pai-pai :3

 

 

29 thoughts on “Morning Habits (Vignette)

  1. SWEEEEEETT BANGEEETT LUCUU ;_____;
    BAHASANYA SUKA BANGET THORRR KEREN
    BIKIN YANG GENRE FLUFF LAGI DONG THORR PLISSS SUKA BANGET BAHASA AUTHOR SUMPAH GABOONG AAAAK LAFYU THOOR ;~;

  2. huaaaaa…
    hubungan jarak jauh…
    semoga langgeng dan makin sweet ya…
    suatu saat kalian akan punya momen manis,
    huuu…
    jadi sirik deh punya pacar setia kayak chanyeol >o<
    keep writing ya, tulisanmu bagus banget!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s