[Freelance] Jangnan Aniya! (Sequel For God’s Sake)

Jangnan Anniyaaa

Title
Jangnan Anniya! (Sequel For God’s Sake)

 

Author
L’Cloud

 

Length
Vignette

 

Rating
T

 

Genre
Romance

Angst

 

Main Cast
Im Yoon Ah

Kai

Suho

 

Other Cast

Seo Joo Hyun

 

Disclaimer
The storyline is made by my self. The casts are owned by God, their parents, and their selves.

 

Author Note

This is sequel for my another Fanfic “For God’s Sake”

So many typos. Sorry for annoying story.

Thanks before.. ^^

***

Kakiku melangkah begitu berat hari ini. Jangnan Anniya! Ini benar-benar melelahkan. Aku tak bisa menggerakkan kakiku lagi. Seharian ini aku hanya memutar-mutar takdirku di Seoul tanpa henti.

 

Ada beberapa alasan mengapa aku begitu sebal.

 

Pertama, Suho sudah menikah.

Kedua, dia menikah dengan Seohyun.

Ketiga, seminggu yang lalu aku bilang saranghaeyo pada SUHO.

 

SARANGHAEYO.

 

Aku harus malu. Benar-benar harus malu. Menutup wajahku dan tak membolehkan seorangpun memandangnya lagi. Yea, rasanya aku ingin bumi menelanku bulat-bulat seperti ular python yang pernah kulihat di televisi tengah menelan mangsanya bulat-bulat. Aku ingin pindah ke Zimbabwe di mana tak ada seorangpun di sana yang mungkin mengenalku.

 

“Hey, jika kau tak bisa membayar uang sewa, jangan menyewaa!!!”,tiba-tiba sebuah suara nyaring menyambar gendang telingaku.

 

Di depan mataku, seorang berpenampilan kumal tengah di maki-maki oleh nyonya tua yang tampaknya adalah seorang pemilik rumah sewaan.

 

‘Uh, mereka menghancurkan lamunanku.’, aku memutar bola mataku.

 

“Siapa bilang tak bisa bayar?! Aku kan sudah bilang akan bayar nanti jika gajiku kuterima!! Dasar nyonya tua gemuk pelit!”,suara itu muncul dari lelaki kumal tadi.

“Apa katamu? Gemuk?! Tua?! Pelit?!! Dasar lelaki tak tahu malu! Kau bilang jika gajimu sudah kau terima?! Apa aku ini bodoh, ha?! Mana mungkin orang sepertimu punya pekerjaan?! Masih bisa hidup saja sudah terlalu bagus untukmu!!”,aku menahan tawaku mendengar kalimat itu.

 

Menarik. Akhirnya setelah seharian ini, aku bisa menemukan tontonan menarik di depan mataku.

 

“Pergi kau yang jauh! Jangan kembali!”,nyonya tua itu mengusir lelaki itu.

“Baik! Aku akan pergi. Lagipula apa enaknya tinggal di rumahmu yang berantakan dan sempit ini! Lihat saja nanti! Aku akan pamer apartemenku di Cheongdam! Dasar nyonya tua!”,lelaki itu endak melangkah ke dalam rumah.

“Apa yang kau lakukan?! Kau bilang kau akan pergi?!”

“Aku akan mengambil baju-bajuku dulu!”

“Tidak tidak. Pergi! Baju-baju baumu itu, anggap saja sebagai bayaran atas tunggakanmu selama 4 bulan ini. Sekarang, cepat pergi! Pergi!!”,nyonya tua itu mendorong lelaki di depannya hingga lelaki itu terjatuh. Kemudan ia memasuki rumahnya dengan memabnting pintu.

 

“DASAR NYONYA TUA GENDUT PELIT SINTING!!!”, maki lelaki itu.

 

Lelaki itu berdiri beranjak. Ia membersihkan bajunya kemudian menatap ke depan. Ke arahku yang sejak tadi menikmati pemandangan konyol itu.

 

“Apa yang kau lihat?!”,bentaknya padaku.

 

Aku tidak takut. Justru terkejut.

 

“KAI?!!!”,ucapku setengah berteriak.

“Uh, kau mengenalku? Astaga?! Uh, I..im Yoon Ah??! Kau?! YOONA?!!”

 

***

Mari lupakan sejenak tentang pertemuanku dengan lelaki kumal bernama Kai itu. Hari ini aku tengah relaks di depan televisi yang mati sembari mendengarkan musik-musik jazz kesukaanku hingga suara bel berdenting.

 

“Ah, kuharap hari mingguku bisa tenang.”,aku menghembuskan nafasku sebal.

 

Kulangkahkan kakiku penuh rasa malas menuju pintu rumah yang sebenarnya tak begitu jauh dari ruang televisi.

 

‘Cklek..’, knop pintu sudah kuputar dan pintu itu kubuka perlahan.

 

Jantungku berdesir. Kenangan-kenanganku mendadak terputar kembali. Kenangan perpisahan. Kenangan atas rasa maluku. Kenangan yang memuakkan itu. Catat, tidak menyedihkan, karena aku orang paling bahagia di muka bumi ini.

 

SUHO.

 

Good Morning Im Yoona!”,senyum itu membuatku ingin kabur secepat kilat.

 

‘JEDAARRRR!!!’,pintu itu sukses kubanting dengan sekuat tenaga.

 

Aku berlari ke dalam kamarku dan menyembunyikan kepalaku di balik bantal tak peduli apa reaksi Suho saat ini. Aku hanya ingin menyembunyikan wajahku dan menyelamatkan harga diriku yang tersisa. Selain ingin menyelamatkanku dari rasa grogi atas ketampanan Suho juga. Baik, abaikan yang satu itu. Kepalaku sedang benar-benar pening karena mengumpulkan harga diriku yang sempat kubuang sia-sia dengan satu kalimat. Saranghaeyo.

 

Jangnan Anniya, tak bisakah Tuhan membuatku amnesia saat ini?

 

***

 

“Jadi Kai, aku harus bagaimana?”,tanyaku pada Kai setelah mengakhiri ceritaku.

“Entahlah, tapi jika kau membelikanku satu mangkok ramyun dan minuman apa saja untukku saat ini, aku jadi akan lebih mudah berfikir.”,jawab Kai asal.

“Oh ayolah, dasar makhluk kelaparan. Aku akan mentraktirmu makan apa saja yang biasa di makan orang-orang di Cheongdam. Tapi kau harus menyelamatkanku dari rasa malu.”,aku memohon dengan wajah menyedihkan.

“Eww, sangat menyedihkan. Baiklah. Biar kupikirkan.”

“Hemh. Berpikirlah sampai ketemu jalan keluarnya.”,ucapku sebal sembari meletakkan kepalaku di atas meja.

 

Kai, lelaki ini adalah kawanku di SMA. Dari semua aspek yang paling kusuka darinya karena ia memiliki kesamaan sifat denganku. Semuanya. Kami suka menggila. Kami sama-sama pemberani. Dan kami membenci sifat girly, meskipun aku adalah perempuan.

 

“Jadi, nona Im..”,Kai angkat suara.

“Hemh? Mwo?”

“Bagaimana bila kau..”,Kai menarik nafas sesaat.

“Katakan.”,ucapku ketus.

“Mmmm, menikah saja denganku.”,ia membuang muka keluar jendela rumahku.

“K..kk..kau GILA?!”,aku terkejut hingga terjatuh dari dari kursi.

“Aku tak gila.”,ucapnya tiba-tiba dingin.

“Kalau begitu kau pasti bercanda kan tuan KIM JONG IN! Hahahaha. Ini tidak lucu!”,aku melambai-lambaikan tanganku mencoba menetralisir suasana.

“Tidak lucu, karena aku tidak bercanda. Jangnan anniya!”,ia meninggikan suaranya.

“Tapi, Kai, bagaimana mungkin kau mengajukan saran yang tak masuk akal seperti itu. Yea, kau tau kan, kita sama-sama tidak saling menyukai.”

“Salah. Nona Im Yoon Ah, kau benar-benar salah. Aku menyukaimu. Hanya saja kau yang tak pernah mencintaiku. Kau memilih pria cantik bernama Suho itu.”,ia menurunkan suaranya dengan lesu.

“Kai..”,terbersit perasaan bersalah dalam hatiku.

“Apa kau tak bisa merasakannya Yoong. Semua yang kuberikan padamu.”

“Kupikir karena kita teman, jadi mana mungkin kita saling mencintai. Aku, minta maaf. Aku benar-benar tak menyadarinya.”,ucapku pelan.

“Kau takkan pernah menyadarinya Yoong. Karena di depan matamu kau menemukan cinta yang lebih berkilau. Kau tak pernah melihat sekelilingmu dengan baik. Tapi, apa gunanya juga kau menyadari cintaku. Bukankah kau tetap akan memilih Suho?”,Kai turun dan mundur perlahan dari kursinya kemudian meninggalkanku yang tak tahu harus berbuat apa.

 

Jangnan Anniya. God, I can’t stand anymore.

 

***

 

Flashback…

 

Saat itu, saat malam itu, aku melangkah pulang setelah baru saja memutuskan hubunganku dengan Suho. Kakiku menuntunku menuju rumah Kai.

 

“Aku sudah tidak ada hubungan dengan Suho.”,ucapku kala kami sudah berhadap-hadapan.

“Benarkah?”,Kai sedikit tak percaya.

“Ne. Kau bisa melihat sendiri mata sembapku.”

“Ah. Benar. Jika kalian memang saling mencintai, mengapa kau tak lanjutkan saja hubungan kalian?”, nadanya berubah menjadi sangat bijak.

“Tidak bisa.”,jawabku.

“Apa kau sudah tak mencintainya?”

“Bukan begitu. Sungguh, aku masih sangat mencintainya.”

“Oh. Lalu?”

“Aku akan pergi ke Jepang untuk waktu yang tak bisa kutebak. Aku akan kuliah.”

 

Flashback end.

 

“Apa kau sudah tak mencintainya?”

 

Kalimat itu, baru kusadari saat ini, setelah 5 tahun berlalu, ada nada penuh harapan dari kalimat pertanyaan itu. Tapi, aku benar-benar baru menyadarinya saat ini.

 

Aku termangu di sebuah Coffee Shop yang cukup sepi karena di luar sudah malam dan gerimis tengah membasuh kotaku ini.

 

“Yoong.”,seseorang memanggilku.

“S..S..suho?!”,tiba-tiba aliran darahku berhenti, dan justru melawan arus nadiku.

“Jangan menghindariku, ku mohon.”,ucapnya memelas.

“Aku.. Aku. Maa.. Maaf, aku harus pamit!”,saat itu juga aku berlari keluar untuk menghindari lelaki bernama Suho itu.

 

Aku belum benar-benar mengumpulkan 100% harga diriku untuk menatap lelaki itu lagi. Jadi, aku akan tetap menjaga jarak seperti ini dulu.

***

 

“Mengapa ia tak menjawab teleponku. Astaga?! Apa dia semelankolis itu?”,rutukku sembari menatap handphoneku.

 

Entahlah sudah berapa hari aku tak menemukan Kai. Sangat sulit mencari dia, terlebih ia tak memiliki rumah tetap. Ya, kau tau sendiri bukan, lelaki pengangguran yang hidup nomaden.

 

“Astaga, itu Seo!”,kulangkahkan kakiku lebih cepat. Bisa gawat jika ia melihatku.

 

Kakiku, melangkahlah lebih cepat. Lebih cepat. Ayolah, lebih cepat lagi! Ah, tak bisakah kau berlari saja?!

 

Aku menghembuskan nafasku kasar sembari menatap belanjaan di tanganku. Dengan kantong-kantong berisi makanan yang begitu banyak ini, mana mungkin aku bisa berlari.

 

Tidak, untuk saat ini aku belum bisa bertemu dua orang bernama Suho dan Seohyun itu. Tidak bisa!! Aku berhenti di sebuah gang sempit. Kuharap gadis itu tak melihatku.

 

“Hey, bersembunyi membuatmu terlihat seperti buronan.”,sebuah suara muncul di belakangku.

“Aaa?! Astaga?! Kau nyaris membuatku mati jantungan!! Uh? Kai?!!”,aku melepas semua barang belanjaanku dan memeluk tubuh di depanku.

“Yoo..yoo..na? Kau..”

 

Aku melepaskan pelukanku.

 

“Mengapa kau jadi semelankolis ini?! Jika kau belum punya rumah, kusarankan jangan pernah menghilang! Aku bisa gila jika harus memutari Seoul untuk mencari gelandangan sepertimu!”,ucapku sembari memukul lengannya pelan.

“Huh, aku tak memintamu mencariku. Aku lapar. Yoong..”

“Heem? Apa?”

“Belikan aku makanan.”,ucap Kai tanpa tahu malu.

 

Itulah Kai, beberapa hari yang lalu, ia terlihat sangat marah, dan sekarang seolah tak ada apapun yang terjadi.

 

Aku tak tahu apa yang di namakan cinta. Tapi jika cinta adalah ketika aku bahagia bersama seseorang, maka aku telah mencintai pria kumal dan bau di depanku ini, sejak bertahun-tahun yang lalu.

 

***

 

Aku menatap gaun pengantin di depanku. Mataku berbinar-binar.

 

“Jika yang kau mau seperti ini, aku tak bisa membelikannya. Terlalu mahal. Untuk membeli ramyun instan saja aku tak bisa.”,ucap Kai padaku menghancurkan suasana.

“Ssssstts, jangan mempermalukanku! Aku akan membelinya dnegan uangku sendiri. Kau cukup melihat acaranya berjalan lancar saja.”,aku menutup mulut Kai.

“Kenapa harus gaun ini? Apa tidak bisa jika gaun biasa saja, atau menggunakan hanbok saja? Aku masih menyiman hanbok ibuku di rumah kakakku. Jika begitu kan lebih murah.”

“Aaak, kau ini diam saja! Mana ada gadis yang mau menikah dengan hanbok lusuh? Bagaimana kau gunakan otakmu itu? Ish!”,aku memukulnya pelan.

 

“Aww! Kau! Ah! Seharusnya kau tahu bahwa harga diri seorang pria adalah jika ia bisa di andalkan. Mana mungkin aku membiarkan pengantin wanitanya yang mengeluarkan segala biaya pernikahan?! Kau seharusnya mengerti perasaanku! Kalau begitu menikah saja dengan Suho mu yang kaya itu! Menyebalkan!”,Kai melangkahkan kakinya meninggalkan butik yang kami masuki.

 

Sigh. Aku sepertinya sudah berlebihan. Apa mungkin ia menjadi tidak percaya diri hanya karena aku lebih kaya darinya?

 

“Maaf, bisa kau simpan gaun ini untukku? Aku akan datang lagi ke sini nanti.”,ucapku kemudian lari secepat yang kubisa untuk mengejar Kai.

 

Hosh.. hosh.. hosh..

 

“Kenapa kau ini pergi meninggalkanku?”,tanyaku padanya saat aku sudah berhasil mengejarnya.

“Aku? Uh.”

“Kai! Kau ini, menyebalkan!”,ucapku penuh rasa benci.

“Aku memang menyebalkan! Mengapa kau mau menikah denganku? Aku lelaki yang tak punya masa depan. Bagaimana mungkin gadis sepertimu memutuskan menghabiskan hidup denganku? Aku tak bisa membayangkan masa depanmu ikut hancur sepertiku! Kau mau menjadi berandalan? Aku juga tak percaya ayahmu yang proffesor itu mengijinkanmu menikah denganku! Astaga! Aku bisa gila!!”,tiba-tiba hatiku luruh mendengar perkataan itu.

“Kai.. mengapa kau tiba-tiba seperti ini? Bukankah kita sudah saling mengenal satu sama lain? Bukankah kau juga tahu bahwa yang terpenting bagi keluargaku bukanlah status dan harta? Kau hanya nervous. Aku tak masalah menghabiskan hidupku denganmu. Masa depanmu adalah masa depanku. Siapa bilang masa depanmu hancur? Kita akan memabngunnya bersama. Jadi, ku mohon berhentilah bertingkah bodoh.”,aku menggenggam tangannya.

“Kau tak mengerti Yoong. Berat bagiku menepis kenyataan bahwa aku tak pantas bagimu.”

“Ya, bukankah kita sudah bersama sejak lama? Hanya terpisah lima tahun saja sudah membuatmu merasa tak pantas bagiku? Yang terpenting adalah kita saling melengkapi satu sama lain bukan?”

 

God, selalu ada jalan bukan?

***

 

“Aku tak peduli Seo! Kau harus menjelaskan semuanya!”,sebuah suara membangunkanku di pagi hari.

“Iya, iya. Aku akan menjelaskan segalanya. Keep Calm Oppa, you shouldn’t be that worried! Everything is gonna be okay. Right?”,kali ini terdengar suara gadis menyahut.

 

Kubuka mataku lebih lebar. Kulangkahkan kakiku ke arah asal suara. Tepat di depan pintu rumahku.

 

‘Cklek..’, kubuka pintu dengan cepat karena sebal.

 

“Ada apa ribut-ribut?!”,bentakku.

“Annyeong Yoong!”,dua orang penyebab keributan itu serempak menyapaku.

“Aa..aastaga! Seo? Suho?!”,aku nyaris saja menutup pintu jika bukan karena Suho menahan pintu itu terlebih dahulu.

 

“Aku boleh masuk kan? Baiklah, terimakasih.”,ucap Seohyun sembari memasuki rumahku.

 

Kami bertiga duduk di sofa dengan suasana yang kikuk. Terkecuali Seohyun. Ia terus-terusan menatap berang-barang di rumahku.

 

“Jadi, apa yang ingin.. kk..kkalian bicarakan?”,ucapku gugup.

“Ah, itu Yoong..”,ucapan Suho terputus.

“Biarkan aku yang menjelaskan!”,potong Seohyun.

 

“Jadi..”

 

Flashback..

“Yoong!”,seseorang memanggil namaku dan aku membalikkan badanku menuju asal suara itu.

“Ah! Ke mana saja kau ini? Bukankah ku minta kau tunggu di sini. Yoona kau masih ingat dia?”,tanya Suho padaku.

“Tentu saja! Seobaby bukan? Jadi, kalian datang berdua menjemputku?!”,jawabku penuh semangat.

“Berdua? Bertiga! Lihatlah Yoong, ini anak kami, panggil dia Joon. Joon, lihatlah, itu kawan Eomma dan Appa. Yoong, diia lucu bukan? Chagiya, cepat bukakan pintu, sepertinya Joon kecil kita tidak sanggup berlama-lama di bawah terik matahari.”,Seohyun menimang-nimang bayi di pelukannya.

 

Tubuhku membeku. Rahangku mengeras. Senyumku hilang seperti tersapu badai. Chagi? Anak? Eomma? Jadi..

 

Jadi Suho sudah menikah? Tidak, aku tidak sedang sakit hati. Tidak juga patah hati dan sebagainya. Satu-satunya yang kupikirkan kini adalah.

 

Seminggu yang lalu apa yang kukatakan padanya? Saranghaeyo? Lalu apa yang kuharapkan darinya? Memulai cinta lama kami? Astaga!

 

FOR GOD’S SAKE! YA TUHAN, AKU BENAR-BENAR MALU! I’M GONNA GO CRAZY!!! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK~!

 

Hari itu, jam itu, menit itu, detik itu, rasanya aku ingin terbang lagi ke Jepang.

 

Flashback end..

 

“.. sebenarnya, aku hanya bercanda. Aku tak benar-benar menikah dengannya. Itu anak dari sepupu Suho, Taeyeon. Lagipula mana mungkin aku menikah dnegan Suho, bagaimanapun kami masih ada hubungan saudara. Kau tahu kan? Kau ingat, kami juga masih sepupu. Okay, untuk itu, sebagai rasa penyesalan atas candaanku, aku akan membiarkan kalian bersama saat ini. Bye!”,ucap Seohyun menjelaskan kemudian ia meninggalkan kami berdua begitu saja.

 

Suasana di antara kami sepi.

 

“Jadi, Yoong, aku tidak menikah dengannya. Aku masih menunggumu sejak lima tahun yang lalu. Aku juga.. masih mencintaimu.”,ucap Suho membuatku lemas.

 

“Yoona, semoga ini tak terlambat. Maukah kau menikah denganku?”,ucapnya sembari menyodorkan kotak merah berisi cincin emas putih yang bermahkotakan berlian yang begitu indah.

 

Aku menyandarkan tubuhku lemas. Aku hampir hilang kesadaran. Jadi, Suho dan Seohyun tak ada hubungan apa-apa? Jadi, mereka tak menikah? Jadi, Suho juga masih mencitaiku? Ia bahkan ingin menikah denganku.

 

Aku ingin berkata, iya. Iya, aku juga ingin menikah denganmu. Iya, aku ingin menghabiskan hari-hari tuaku bersamamu.

 

Tapi..

 

Tiba-tiba ingatanku melayang melintasi beberapa rumah mewah di Cheongdam, menembus gedung-gedung agency besar negara ini, menyelami sungai han yang mengalir tenang dan sampai pada gaun pengantin yang belum sempat ku beli kemarin.

 

***

“Jika kau ingin membatalkan pernikahan denganku itu tak jadi masalah.”,ucap Kai lembut padaku di depan sungai Han.

 

Aku bernafas berat. Terkadang aku iri pada sungai han. Aku iri karena ia bisa mengalir begitu saja. Aku merutuki semua jalan kehidupanku. Kelelahan yang kurasakan pada semua jenis hambatan yang pernah kualami. Aku tak pernah sesedih ini seumur hidupku. Ya, aku adalah gadis paling bahagia di dunia ini. Seharusnya begitu.

 

Aku menatap ke arah Kai dan tersenyum.

 

“Tak bisakah kita tak membicarakan hal ini terlebih dahulu? Ini berat bagiku.”,aku menelungkupkan mukaku dalam dekapan Kai dan menangis sesenggukan di dada Kai.

 

God, ini menyakitkan, Jangnan Anniya. Really hurts me.

****

End.

Well, meskipun ini Sequel, jatuhnya di nggantung lagi. Maklum ya, aku ini selalu nggak tega bikin ending. Aku membebaskan kalian milih ending. Apakah jadinya YoonKai atau YoonHo. ^^ aku sih YoonKai aja. Mwehehehe..

31 thoughts on “[Freelance] Jangnan Aniya! (Sequel For God’s Sake)

  1. boleh juga sih kalo yoonkai
    tapi kasian suhonya dong, soalnya gantengan suho kkk
    nunggu 5 tahun pula
    yoonho ajalah yayaya😀
    yoonho yoonho yoonho

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s