Unpredictable!!

Unpredictable

Tittle           : Unpredictable

Author        : NtaKyung (@NtaKyung)

Art Poster   : NtaKyung

Main Casts  : Tiffany Hwang, Oh Sehun and Other Casts (Find By Yourself)

Genre           : AU (Alternate Universe), Romance, School Life

Length        : Oneshot

Rated           : PG-13

Disclaimer  : Segala hal yang berada di dalam Fanfiction ini, Murni adalah imajinasi saya! So, DONT Copy-Paste or BASHING!! Don’t Like? Don’t Read!!

©Unpredictable©

Tiffany Hwang, -gadis berambut ikal panjang dengan warnanya yang sedikit hitam kecokelatan itu-, terlihat berjalan dengan sedikit perasaan was-was. Di tariknya topi yang sedari tadi di kenakannya hingga menutupi sebagian dari wajahnya dan gadis ini sesekali terlihat melirik ke arah kanan dan kirinya sembari mempercepat langkah kakinya.

Sret!

Seseorang tiba-tiba saja berdiri tepat di hadapannya dan hal ini sontak membuatnya menghentikan langkah kakinya. Tiffany memperhatikan kedua kaki orang tersebut dan gadis ini langsung mengumpat pelan saat menyadari siapa yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya ini.

“Hey, Tiffany. Apa yang kau lakukan dengan topi itu, eoh?” Suara berat yang tentu saja berasal dari pria yang kini berdiri di hadapan Tiffany ini, jelas saja membuat Tiffany meringis kecil sambil perlahan mendongakkan wajahnya.

“Tidak ada. Hanya berusaha menjaga wajahku dari terik matahari yang panas.” Ujar Tiffany sambil melepaskan topinya dan berusaha memasang tampang yang terlihat se-datar mungkin.

Pria yang tak lain bernama lengkap Oh Sehun itu, mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah langit yang justru terlihat sedikit mendung sekarang.

“Aku tidak melihat matahari muncul.” Sahutnya. Terdengar santai memang, tetapi Tiffany sadar betul jika pria itu tengah menyindirnya saat ini.

Tiffany mendengus kesal sambil menatap tajam pada Sehun.

“Itu bukan urusanmu!” Balasnya dengan nada sengit, kemudian gadis ini pun pergi meninggalkan Sehun.

Sehun tertawa geli melihat reaksi Tiffany yang menurutnya terlihat sangat kekanak-kanakan itu.

©Unpredictable©

Tiffany sedikit menghentakkan langkahnya dengan kesal. Mulutnya terus berceloteh tanpa lelah, seolah gadis ini tengah menumpahkan kekesalannya pada diri sendiri.

“Ish, kenapa aku harus bertemu dengan pria itu?! Ini pagi yang buruk! Benar-benar sangat buruk!” Keluhnya sambil memasukkan topi yang sempat di kenakannya ke dalam tas.

“Dan kenapa pria itu harus selalu muncul di hadapanku?! Dasar menyebalkan! Apa dia tak tahu itu?!” Keluh gadis ini lagi.

Ya, sejak awal pertemuannya dengan pria bernama Oh Sehun itu. Tiffany memang tidak pernah menyukainya. Meski, Sehun adalah salah satu mahasiswa terpopuler di kampus ini. Namun, bukan berarti Tiffany akan jatuh cinta pada pesona pria ini, sebagaimana para mahasiswi lainnya yang begitu tergila-gila pada Oh Sehun.

Tiffany justru membenci pria ini setengah mati. Bagaimana tidak? Pria ini membuat Tiffany di jauhi oleh seluruh mahasiswi di kampus ini. Dan ini semua berawal dari kejadian di hari pertama ia masuk kampus ini.

<Flash Back Start>

Tiffany berlari secepat mungkin menuju lapangan kampus. Hari ini merupakan hari pertama dia di kampus ini, dan gadis ini telat di hari pertamanya!

“Sunbae, maafkan aku.” Tiffany membungkuk dalam di hadapan sunbae-nya.

Kris Wu, pria yang tak lain adalah wakil pemimpin dari panitia ospek ini. Melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil memperhatikan Tiffany.

“Apa yang membuatmu terlambat?”

Tiffany terdiam sejenak, ia teringat akan alasannya ia datang terlambat dan gadis ini pun meringis pelan.

“Err… itu… aku… aku telat bangun.” Ungkap Tiffany jujur, kedua matanya menutup rapat karena takut dan kepalanya masih tertunduk dalam.

“Apa kau telat bangun?! Ck! Bagaimana bisa kau menjadi mahasiswi yang baik jika bangun saja kau harus telat!” Cibir Kris sembari melemparkan tatapan tajam pada gadis di hadapannya itu.

Tiffany kembali meringis pelan dan dengan takut gadis ini pun membungkuk lagi.

“M-m-maafkan aku.” Sesal Tiffany dengan suara terbata-bata.

Well, sebenarnya Kris tidak benar-benar marah padanya. Hanya saja, semenjak awal kedatangan Tiffany beberapa menit yang lalu, gadis ini langsung berhasil menarik puluhan pasang mata yang tengah berkumpul di lapangan itu.

Ia seketika menjadi pusat perhatian para mahasiswa baru di sana, dan tak terkecuali para panitia ospek juga. Gadis berparas cantik ini memang telah berhasil menarik perhatian mereka karena kehadirannya itu.

Para panitia wanita yang ada di sana serta para mahasiswi baru, jelas saja cemburu dengannya. Mereka langsung merasa terabaikan begitu saja oleh para pria di sana. Dan itu benar-benar membuat mereka kesal pada Tiffany.

Terlebih lagi, para panitia pria yang tak lain merupakan pria terpopuler di kampus ini pun terlihat begitu tertarik pada Tiffany.

Lihat saja sekarang, Kris Wu bahkan terlihat berpura-pura marah pada Tiffany agar dia bisa lebih berlama-lama mengobrol dengan gadis cantik itu. Belum lagi, tepat di belakang pria itu, terlihat Kim Jongin, Park Chanyeol, Xi Luhan dan Oh Sehun yang juga merupakan pria terpopuler di kampus ini.

Sepertinya, mereka menikmati pemandangan ini. Seolah mereka merasa gemas pada tingkah Tiffany yang terlihat gugup dan sedikit kekanak-kanakan itu.

“Well… aku harus memberimu hukuman kalau begitu!” Seru Kim Jongin, atau yang lebih biasa di sapa Kai itu.

Tiffany mendongakkan kepalanya dengan cepat dan kedua bola mata hitamnya pun nampak melebar. “Hu-hukuman?!” Pekiknya tertahan.

Sungguh, para pria di sana begitu merasa gemas saat melihat kepanikan di wajah cantik Tiffany itu.

“Yeah… hukuman yang berat tentunya! Karena kau sudah terlambat lebih dari satu jam!” Timpal Park Chanyeol.

Tiffany semakin melongo dan gugup saat mendengar kata ‘hukuman’.

“Jadi… hukuman apa yang pantas untukmu?” Kini giliran Xi Luhan yang menggoda gadis itu dan semakin membuat Tiffany kehilangan kata-katanya.

“Hm… biar aku pikirkan.” Sahut Kris kembali.

Tiffany hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya, tak tahu harus menjawab apa. Lagipula, bukankah dia memang salah? Namun, gadis ini tak menyadari tatapan geli para sunbae-nya itu.

“Aku tahu!” Tiba-tiba suara seruan pria bernama Oh Sehun itu terdengar. Dia tak lain adalah pemimpin dari panitia ospek ini.

Ia lantas berjalan mendekati Tiffany dengan kedua tangannya yang di lipat tepat di depan dadanya. “Kemarilah!” Sehun menggerakkan satu jarinya, memberi isyarat pada Tiffany untuk mendekat padanya.

Tiffany terdiam sejenak, tetapi karena tatapan Sehun yang tajam. Tiffany jadi merasa tak berani menolak dan akhirnya memilih untuk melangkah mendekati Sehun.

‘Aish… apa yang akan dia lakukan padaku? Hukuman apa yang akan aku terima? Huft… aku memang sedang tidak beruntung sekarang!’ Tiffany bergumam panik dalam hatinya.

“Lebih dekat lagi!” Ujar Sehun lagi sambil menggerakkan jarinya lagi.

Tiffany terpaksa mengikuti perintah Sehun, dan pria itu masih tetap berdiri di sana tanpa melakukan apapun.

“S-Sunbae… sebenarnya… h-hu-hukuman apa yang akan ku.. terima?” Tanya Tiffany was-was.

“Jangan banyak bicara, sekarang lihat aku! Aku tidak suka berbicara dengan orang yang menundukkan wajahnya dan tidak menatapku!”

“N-ne?”

“Tatap aku!”

Tiffany lagi-lagi menggerutu dalam hatinya, sungguh, dia tak berharap mendapat hukuman yang terlalu berat. Sudah cukup memalukan bagi dirinya karena harus berdiri di hadapan para panitia ospek dan di perhatikan oleh sebagian besar para mahasiswa-mahasiswi baru.

“Hey, kau dengar aku tidak?!” Seru Sehun sekarang.

Tiffany buru-buru mengangguk cepat dan segera mendongakkan wajahnya. Tetapi, pada detik selanjutnya, Tiffany merasakan dagunya di tarik dengan gerakan cepat dan kini, Sehun telah mendaratkan bibirnya tepat di sudut bibir Tiffany, nyaris mengenai bibir Tiffany sepenuhnya.

Kedua bola mata Tiffany membulat saat ia menyadari semua ini. Tapi anehnya, dia tak bisa memberontak ataupun mendorong tubuh Sehun agar menjauh secepatnya dari dirinya, ia hanya tetap diam mematung dengan kedua matanya yang melebar.

Suara riuh para mahasiswa yang terlihat kecewa dengan kejadian itu langsung saja terdengar memenuhi lapangan terbuka itu. Sementara itu, para mahasiswi dan gadis lainnya nampak terkejut dan kecewa di saat yang bersamaan. Ada rasa iris yang jelas terpancar di mata para gadis itu.

Kris, Jongin, Chanyeol dan Luhan pun nampak mendengus kesal dan memutar bola mata mereka.

“Ck! Dia mendahului kita semua! Dasar licik!” Ujar Jongin kemudian.

“Seharusnya aku melakukan itu lebih dulu!” Timpal Chanyeol sambil mendengus kesal untuk kedua kalinya.

“Yeah, bocah itu memang selalu begitu! Dan kita tidak mungkin merebut gadis itu darinya kan?! Dia jelas-jelas telah mendahului start!” Seru Kris terlihat kesal juga.

“Jelas saja, seorang Oh Sehun takkan pernah melepaskan apa yang di inginkannya! Dan kita tentu saja harus menyerah pada gadis cantik ini!” Lanjut Luhan sembari melirik ke arah Sehun dan Tiffany.

Tiffany masih mematung di tempatnya, ia sama sekali tak mendengar obrolan ke-4 pria tampan ini. Ia benar-benar tak dapat berfikir jernih sekarang.

Sehun menjauhi Tiffany dengan seulas seringaian kecil di wajahnya.

“Nah, itu hukuman yang pantas untukmu!” Bisik Sehun sembari mengusap bibirnya itu. Lalu ia tersenyum, “Dan aku yakin… jika itu adalah ciuman pertamamu kan?” Ia mengedipkan sebelah matanya pada Tiffany.

Gadis itu tak mampu berkata-kata. Kerongkongannya terasa kering sekarang dan tubuhnya pun seolah sulit untuk di gerakkan.

“Hey… kau baik-baik saja?” Tanya Kris kemudian saat melihat Tiffany yang terus saja terdiam sejak tadi.

Tiffany masih tetap terdiam, namun sedetik kemudian gadis ini langsung berteriak dengan histeris. “AAAAAAAAAAAAAA!!”

<Flash Back End>

©Unpredictable©

Kedua kelopak mata Tiffany terbuka dengan perlahan. Ia melihat ke sekelilingnya dan kelasnya ini masih nampak ramai oleh para mahasiswa-mahasiswi yang belum juga beranjak dari tempat duduk mereka.

Tiffany perlahan menghela nafas panjang, ia tadi bermimpi tentang awal pertemuan dirinya dengan Sehun lagi. Dan sungguh, ia benar-benar merasa kesal setengah mati karena harus mengingat hal yang sesungguhnya memang takkan pernah dapat ia lupakan itu.

“Dari sekian banyak mimpi indah yang dapat kumimpikan, kenapa harus kejadian itu yang muncul dalam mimpiku?!” Tiffany mendesah frustrasi.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara ribut di luar sana. Bahkan, suara bising itu dapat mengalahkan volume pada Ipad Tiffany. Gadis ini menggerutu, merasa kesal karena ketenangannya terusik.

Ia lantas melepaskan headset yang sedari tadi di pasang di kedua telinganya dan ia pun menoleh pada arah pintu. Suatu kesalan yang fatal karena gadis ini menoleh ke arah sana. Rupanya, Sehun tengah berdiri di sana sambil menatap ke arahnya dan ia pun buru-buru memalingkan wajahnya.

“Oh ya tuhan! Semoga dia tidak datang kemari! Bisa jadi bencana jika sampai para gadis itu melihat pria menyebalkan itu mendatangiku lagi!” Gumamnya pelan, ia berdoa dalam hatinya, berharap jika Sehun tak menghampirinya.

Namun rupanya, keberuntungan seolah tak berpihak padanya. Dapat ia rasakan jika seseorang duduk di sampingnya, dan saat mendengar suara seseorang memanggil namanya, Tiffany mendesah kecewa. Ia tahu siapa pemilik suara itu.

“Jadi, kau selalu tidur di kelas selama jam kuliahmu kosong?” Ujar Sehun sembari menatap geli ke arahnya.

“Itu bukan urusanmu!” Balas Tiffany sengit, tak berniat sedikitpun melirik pada pria yang duduk di sampingnya itu.

“Aigo… gadisku ini memang manis sekali!” Seru Sehun gemas, tangannya bergerak mengacak-acak rambut panjang Tiffany yang terurai.

“Haish, YA!!” Tiffany reflex menepis tangannya dan berbalik padanya. Ia tak sadar sama sekali jika teriakannya itu membuat perhatian semua orang di kelas itu segera saja tertuju padanya.

Sehun bertingkah seperti terkesiap kaget, namun sebenarnya dia sudah sudah tahu jika reaksi Tiffany akan seperti ini. Sementara itu, Tiffany baru saja menyadari jika kini dia sudah menjadi pusat perhatian seluruh kelas. Baik itu wanita maupun pria.

Tiffany meringis pelan dan langsung mengangguk meminta maaf pada mereka. Ada yang kembali tak mempedulikan mereka, ada juga yang langsung berbisik-bisik dan menatap tajam pada Tiffany, terlebih mereka yang tak lain adalah para ‘penggemar’ pria bermarga Oh itu.

“Aissh!” Tiffany menggeram kesal sembari menatap garang pada Sehun, sedangkan yang di tatap malah membalas dengan senyuman lebar yang menampakan deretan giginya yang putih.

“Ikut denganku!”

Dengan segera, gadis itu menarik tangan Sehun dan membawa pria itu keluar dari dalam kelasnya. Sejenak, terdengar teriakan mengeluh dan menyindir yang tentu saja hanya di tujukan pada Tiffany.

Tapi sungguh, gadis ini benar-benar tidak peduli! Yang dia harus lakukan sekarang hanyalah berbicara dengan Oh Sehun!

“Ada apa?” Tanya Sehun santai.

Kini, mereka berdua sudah berada di halaman belakang kampus yang lumayan sepi.

“Jangan berpura-pura lagi! Kau jelas tahu alasanku membawamu kemari!” Tiffany melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Apa?” Tanya Sehun polos. “Aku tidak tahu apa-apa.”

“Ya! Oh Sehun! Berhentilah bertingkah seolah-olah kau tidak tahu apapun!” Teriak Tiffany frustrasi. “Berhentilah bertingkah seperti kau dekat denganku! Dan jangan bersikap seakan-akan kau adalah kekasihku! Kau bukan siapa-siapaku dan aku tak ingin menjadi bahan sorotan para ‘penggemar’ gilamu itu! Tidakkah kau mengerti?!”

“Memangnya kenapa? Aku tidak menemukan sesuatu yang salah dengan hal itu.”

“Kau memang tidak menemukannya! Tapi aku yang merasakannya!” Tiffany lagi-lagi menjerit kesal. “Kau membuatku tidak memiliki teman di kampus ini! Dan lagi para ‘penggemarmu’ itu berfikir jika aku adalah kekasihmu!”

“Lalu?”

“Tentu saja kau harus menghentikan semua ini! Bukankah tadi sudah kukatakan jika kau harus menghentikan semua ini! Kau harus menjauhiku, kau paham?!”

Sehun terdiam sejenak, ia memasang wajah datarnya seperti biasa dan beberapa saat kemudian pria itu menggedikan kedua bahunya.

“Tidak. Aku tidak mau.” Ujarnya singkat dan sukss membuat kedua mata Tiffany melebar dalam seketika.

“Apa?! Ya! Oh Sehun!!”

Sehun menutup telinganya dengan kedua tangannya, membuat gadis yang berada di hadapannya itu jelas saja semakin kesal kepadanya.

“Ada alasan kuat kenapa aku tidak mau melakukannya.” Ujar Sehun dengan santai, “Pertama, seperti yang kukatakan tadi. Aku tidak merasa ada yang salah dengan hal ini. Aku mendekatimu karena aku menginginkanmu dan aku tidak peduli dengan tanggapan para gadis-gadis itu.” Lanjut Sehun kemudian.

Mulut Tiffany terbuka lebar, kedua bola matanya masih membulat dan ia benar-benar di buat melongo dengan pengakuan Sehun yang dapat terbilang terlalu jujur itu. Pria ini tidak malu untuk mengakui jika dirinya memang tertarik pada Tiffany.

“Dan alasan keduaku, karena aku tidak bisa menerima alasanmu yang mengatakan jika kau tidak memiliki teman hanya karena aku!” Sehun menunjuk dirinya sendiri. “Jika memang mereka tidak mau berteman denganmu, maka… bukankah kau masih bisa bersamaku? Aku dengan senang hati akan selalu menemanimu, Tiff…”

Sejenak Tiffany terdiam mendengar rentetan kata yang baru saja di lontarkan Sehun. Tetapi, sedetik kemudian ia menggeleng cepat dan langsung bergidik.

“Kau gila!” Hardiknya cepat.

Bukannya tersinggung akan ucapan Tiffany, Sehun malah tersenyum tipis.

“Sepertinya.” Jawabnya dengan acuh. “Lagipula… mungkin aku seperti ini karena gadis yang kusukai ini terus saja menghindariku.” Lanjutnya sambil mengerling jail pada Tiffany.

Lagi, Tiffany di buat bergidik ngeri dengan ucapan Sehun tadi.

Ia lantas menghentakkan kakinya dan merapatkan jaket yang di kenakannya. Lalu ia pun berbalik, berniat meninggalkan Sehun tanpa mengatakan apapun.

“Hey, Tiffany!” Seru Sehun tiba-tiba, membuat Tiffany menghela nafas berat dan ia pun terpaksa menghentikan langkahnya lalu menoleh padanya.

“Ada apa lagi?!”

Sekilas, Tiffany dapat melihat ada sebuah seringaian kecil yang terukir di wajah pria itu. Tetapi Tiffany berusaha menepis perasaan anehnya itu dan memilih untuk tetap menatap Sehun dengan tatapan kesal.

“Mau bertaruh denganku?”

“Bertaruh?” Kening Tiffany terlihat mengkerut dalam sekarang.

Dan Sehun langsung mengangguk singkat. “Ya. Ayo kita bertaruh!” Ujarnya dengan seulas senyuman penuh arti.

Tiffany nampak berfikir sejenak. Awalnya dia tidak berniat mengikuti taruhan ini. Ia pikir, pasti ini hanyalah taruhan konyol dan tak berarti banyak untuk dirinya. Malah mungkin, efeknya akan berakibat buruk pada dirinya.

Tapi… Tiffany tidak mau terlihat lemah di hadapan Sehun. Jika sampai ia menolak taruhan ini, Sehun pasti berfikir jika dia takut pada pria itu.

Tidak! Tiffany tidak mau Sehun berfikir seperti itu tentangnya! Takkan pernah!

“Baiklah, memangnya kau ingin taruhan apa denganku?!” Tantang Tiffany dengan dagunya yang sedikit terangkat ke atas.

Senyum di wajah Sehun makin merekah dan dalam sorot matanya, tersirat jelas jika pria ini memiliki sebuah rencana yang takkan pernah terpikirkan oleh Tiffany. Dan dia memang sudah yakin jika Tiffany akan menerima taruhan ini.

“Taruhannya adalah… selama satu minggu ke depan ini, kau tidak boleh muncul di hadapanku ataupun  menemuiku-”

“Itu memang yang kumau!” Cibir Tiffany.

“Aku belum selesai bicara!” Seru Sehun sambil melipat kedua tangannya.

Tiffany memutar kedua bola matanya dengan jengah. “Baiklah, baiklah. Lanjutkan!”

“Nah, jika kau dapat melakukan itu selama satu minggu ke depan. Aku berjanji jika aku takkan mengganggumu lagi. Dan aku bersumpah, kau takkan pernah melihatku lagi di kampus ini.”

Tiffany yang pada awalnya terlihat setengah hati mendengarkan ocehan Sehun itu, langsung terlihat antusias dan senang.

“Benarkah?!” Jeritnya tanpa sadar.

“Tentu saja.” Sehun mengangguk dengan mantap.

Gadis ini hampir saja menjawab ‘ya’. Tapi, mengingat akan sikap jail Sehun selama ini. Tiffany jadi merasa ragu dan sedetik kemudian, kedua matanya telah menyipit dan gadis itu pun menunjuk ke arahnya.

“Kau.. bersungguh-sungguh dengan hal ini? Kau tidak akan tiba-tiba mencariku dan membuatku gagal melakukan taruhan ini kan? Bukankah jelas-jelas selama ini kau yang selalu mencariku dan selalu berhasil menemukanku?” Tanya Tiffany curiga.

“Aku serius, Tiff. Aku juga tidak akan mencarimu selama satu minggu ini. Karena itu, jika selama taruhan ini berlangsung… setiap kali kau melihatku kau harus segera menjauhi diriku. Dan aku pun tidak akan menghampirimu jika memang aku tidak menyadari kehadiranmu tentunya.” Jelas Sehun kemudian.

“Kau serius?” Tiffany masih nampak ragu.

“Aku serius!”

Tiffany kembali terdiam, memikirkan taruhan ini. jika di pikir-pikir, taruhan ini tak buruk juga, lagipula dengan cara seperti ini lah dia akan dapat terlepas dari pria di hadapannya ini dan Tiffany tak akan lagi menjadi pusat perhatian seluruh penghuni di kampus ini.

“Lalu… bagaimana jika aku gagal melakukannya? Bisa saja kan kita bertemu tanpa di sengaja dan kita berdua tidak menyadari kehadiran masing-masing.” Ujar Tiffany kemudian.

“Maka kau gagal dalam taruhan ini, dan aku memenangkan pertaruhannya!”

“Dan apa yang akan kau dapatkan jika aku sampai kalah dalam taruhan ini.”

“Kau harus mau menjadi kekasihku!”

Sejenak, Tiffany nampak mencerna setiap kata demi kata yang baru saja di lontarkan Sehun tadi. Tetapi sesaat kemudian, dia membuka mulutnya dan menjerit histeris.

“APA KATAMU?!”

Sehun reflex kembali menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. “Aish… jangan berteriak seperti itu. Kau membuat telingaku sakit!” Keluhnya.

Tiffany merenggut kesal. “Ini sungguh tidak adil! Kenapa aku harus jadi kekasihmu jika aku kalah dalam taruhan ini?!” Tuntutnya tak terima.

Namun, Sehun hanya mengangkat kedua bahunya lalu berkata, “Menurutku ini adil untuk kita berdua. Jika kau menang, kau takkan melihatku lagi. Tapi jika kau kalah, kau harus menjadi kekasihku. Bukankah ini sama-sama menguntungkan untuk kita berdua?” Jelas Sehun dengan kalem.

Tiffany berniat mengelak penjelasan Sehun tadi. Namun, setelah gadis ini pikir-pikir kembali, ternyata apa yang di katakan pria ini ada benarnya juga. Dan lagi, hanya ini satu-satunya kesempatan untuk Tiffany agar bisa lepas dari pria ini.

“Bagaimana?” Tanya Sehun kemudian, membuyarkan lamunan Tiffany.

Tiffany lantas mengangguk dengan sedikit ragu. “Baiklah.”

“Apa? Aku tidak dengar! Coba katakan sekali lagi!” Pria ini jelas berbohong pada gadis di hadapannya ini. Ia hanya berniat untuk menggodanya saja.

Tiffany menghela nafas berat sembari memutar kedua bola matanya lagi untuk yang kesekian kalinya.

“Aku bilang… baiklah! Kau puas?!”

Sehun menyeringai lebar. “Sangat puas.” Sahutnya riang.

Dan setelah itu pun, Tiffany segera berbalik pergi meninggalkannya. Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulut gadis itu, dia hanya pergi begitu saja.

Sementara itu, Sehun nampak memperhatikan Tiffany dengan lekat. Senyum tipis di wajahnya lama-lama berubah menjadi sebuah seringaian licik yang penuh makna.

“Aku tidak akan melepaskanmu, Tiffany Hwang.” Gumamnya dengan sangat pelan. Namun, dalam kata-katanya itu, seolah tersirat sebuah janji yang tak akan mampu terelakkan. Bahkan, Tiffany pun takkan mampu melakukannya.

©Unpredictable©

Apa yang di katakan Sehun saat itu, ternyata benar. Pria itu tak lagi muncul ataupun berusaha mencari dirinya. Dan saat, Tiffany sesekali melihat dirinya di lingkungan kampus, maka gadis itu pun akan berusaha untuk melarikan diri sejauh mungkin. Dia tak ingin sampai kalah taruhan dan selalu bersikap waspada, takut jika sampai dia akan bertemu dengan Oh Sehun.

Sekarang, sudah hari ke-6 dari perjanjian taruhan mereka itu. Hanya tinggal sehari lagi saja ia harus bertahan dan tetap menghindari pria itu, maka dia akan menang dalam taruhan ini dan pada akhirnya dia akan terbebas dari pria itu!

Tiffany benar-benar tidak sabar menunggu hari itu datang. Setiap menitnya gadis ini selalu membayangkan betapa senangnya dia nanti jika sampai dia bisa terbebas dari Oh Sehun, salah satu pria terpopuler di kampus ini.

©Unpredictable©

Saat itu, Tiffany tengah berjalan di lorong kampusnya yang terbilang cukup ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi lainnya yang baru saja keluar dari kelasnya.

Tak ada tatapan mengintimidasi seperti biasanya dan tak ada juga yang berbisik-bisik saat Tiffany melewati mereka semua. Seolah-olah, berita mengenai hubungan Tiffany dan Sehun selama ini, lenyap begitu saja.

Tiffany tersenyum lebar di balik kupluk hoodies yang di kenakannya saat itu.

“Oh… aku benar-benar tidak sabar untuk menunggu hari besok! Selama 6 hari ini saja aku sudah merasa sangat bebas karena bisa terlepas dari pria menyebalkan itu! Dan bayangkan jika aku bisa merasakan hal ini setiap hari! Oh, aku pasti akan sangat senang!” Soraknya riang dalam hati.

Namun, walau begitu. Anehnya, Tiffany terkadang merasa sedikit ada yang aneh dengan semua ini. Dia tak lagi melihat Sehun selama empat hari kebelakang ini dan anehnya, gadis ini malah sempat memikirkan Sehun saat itu.

“Tidak! Aku tidak mungkin memikirkannya, mungkin… aku hanya terlalu senang karena akhirnya aku bisa terlepas dari pria itu.” Tiffany selalu berkata seperti itu setiap kali ia mengingat Sehun.

Tiffany terus saja berjalan melewati lorong kampus yang ramai itu. namun, gadis ini tak menyadari, jika seorang pria yang berdiri tak jauh darinya saat ini, terlihat tengah memperhatikannya dengan lekat.

Ya, pria itu tak lain adalah Oh Sehun. Dan kemudian, pria itu pun berbalik pergi dari tempat itu, tak ingin jika sampai Tiffany menyadari kehadirannya.

©Unpredictable©

Tiffany nampak merenggut kesal sekarang. Pasalnya, di hari terakhir taruhannya ini Tiffany di paksa kedua orang tuanya untuk ikut ke sebuah acara amal. Awalnya gadis ini tentu saja menolak dan beralasan jika sedang tidak enak badan, tapi tetap saja orang tuanya itu memaksa.

Padahal, tadinya Tiffany berniat merayakan hari kemenangannya. Ya, gadis ini telah berhasil menghindari Sehun selama 7 hari penuh! Bahkan, sampai sore tadi dia tidak melihat batang hidung pria itu sedikitpun.

Tapi, lihatlah dirinya sekarang. Tepat pada pukul 7 malam ini. Tiffany malah justru ‘terdampar’ di sebuah acara amal yang menurutnya membosankan dan hanya di penuhi oleh sekelompok orang tua kaya yang jelas sekali senang sekali untuk memperkenalkan anak mereka dan membanggakan mereka.

Sama seperti apa yang di lakukan orang tuanya saat ini. “Tidakkah bisa mereka tak membawaku ke acara membosankan ini?!” Rutuk gadis ini dalam hati.

“Oh, ayolah Tiff… jangan pasan wajah cemberut seperti itu! Kau akan terlihat lebih cantik jika tersenyum sayang…” Ny.Hwang memegang kedua pipi Tiffany dan tetap berusaha memaksa anak gadis semata wayangnya itu untuk tersenyum.

Tiffany hanya mendengus kesal dan melipat kedua tangannya, menandakan jika gadis ini tengah marah besar pada Ibunya itu.

“Ck!” Ny.Hwang berdecak kesal. “Kau ini keras kepala! Apakah kau tidak dapat tersenyum untuk satu menit saja?! Aku sudah mengizinkanmu hanya mengenakan pakaian yang casual dan bukanlah gaun yang sudah ku siapkan! Tapi kenapa kau tidak bisa tersenyum juga, eoh?!” Keluh Ny.Hwang.

“Eomma yang sudah memaksaku kemari! Jadi jangan salahkan aku!” Balas Tiffany seadanya, benar-benar tak berniat untuk mengoceh lebih lama dengan Ibunya itu.

Ny.Hwang baru saja akan mengatakan sesuatu, tetapi tertahan kala terdengar suara Tn.Hwang yang memanggilnya dan datang menghampirinya.

“Sayang… perkenalkanlah, ini adalah tuan Oh dan isterinya. Mereka berdua adalah temanku semasa kuliah dulu…” Ujar Tn.Hwang sambil berjalan dengan seorang pria paruh baya yang seumuran dengannya.

Tiffany memilih tak mempedulikan Ayahnya dan memilih untuk melihat ke arah lain. Sementara itu, Ny.Hwang tersenyum hangat pada sepasang suami-isteri itu.

“Ah iya… perkenalkan juga, dia adalah anak kami…” Ujar Ny.Oh kemudian.

Ia menarik salah satu tangan dari arah belakang tubuhnya dan muncullah seorang pria yang memakai pakaian casual sama halnya seperti Tiffany.

“Annyeong haseyo…” Sapa pria itu ramah, ia membungkuk dalam di hadapan Tn dan Ny.Hwang.

“Aigo.. kau tampan sekali. Kau juga ramah, kedua orang tuamu pasti sangat bangga memiliki anak seperti dirimu.” Puji Ny.Hwang dengan tulus.

“Tentu saja, siapa dulu Ayah dan Ibunya.” Balas Tn.Hwang sambil menoleh ke arah Tn dan Ny.Oh lalu tertawa lepas bersama.

“Oh iya… kudengar kalian juga membawa anak gadis kalian.” Ujar Tn.Oh.

“Ya. Kami membawanya.” Sahut Ny.Hwang sambil tersenyum enggan. Ia lantas menoleh ke arah Tiffany yang masih nampak acuh dan membuang muka.

Ia kemudian mencubit pelan pinggang gadis itu hingga membuatnya meringis pelan dan berbalik pada Ibunya. Ny.Hwang nampak memelototkan matanya dan segera menarik tubuh Tiffany ke depan.

“Perkenalkan, dia anak kami…” Ujar Ny.Hwang kemudian.

Tiffany merutuki Ibunya dalam hati. Tetapi ia tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum juga dan membungkuk sopan di hadapan Tn dan Ny.Oh.

“Annyeong haseyo… naneun Tiffany Hwang Imnida.” Sapanya dengan nada suara yang selembut mungkin.

“Aigo… anakmu juga cantik sekali.” Puji Tn dan Ny.Oh saat melihat Tiffany.

Tiffany hanya tetap memperlihatkan senyum terpaksanya itu. Tiffany belum sadar akan keberadaan sosok pria yang tak lain adalah anak dari sepasang suami-isteri itu.

“Annyeong Tiffany.” Sapa pria itu kemudian dan reflex membuat Tiffany menoleh cepat ke arahnya karena gadis ini sudah merasa tak asing lagi akan suaranya.

Dan di saat detik itu juga, Tiffany tersentak dan membelalakan kedua matanya. Pria itu nampak memperlihatkan senyum menawannya pada Tiffany, ia benar-benar memperlihatkan ekpresi yang jauh berbeda dengan Tiffany.

“Kau?!” Pekik gadis itu tertahan. Gadis ini nyaris tak percaya dengan apa yang tengah di lihatnya saat ini.

“Ya. Ini aku.” Balas pria itu sekenanya.

Tiffany mematung di tempatnya, benar-benar terkejut dengan kemunculan pria itu.

Ya, jelas saja gadis ini terkejut. Pria yang kini tengah berdiri di hadapannya adalah Oh Sehun! Pria yang tak lain adalah pria yang mengajaknya bertaruh untuk tidak bertemu selama satu minggu!

“Omo! Jadi kalian sudah saling mengenal?” Tanya Ny.Hwang bingung.

Ke-empat orang tua itu, memperhatikan kedua anak mereka yang kini tengah saling bertukar pandang tanpa melakukan apapun. Mereka tak menyadari perbedaan dari raut wajah mereka.

“Sehun-ah… kau mengenal Tiffany?” Tanya Ny.Oh kemudian, memecah keheningan yang sempat terjadi untuk beberapa detik itu.

Sehun lantas menoleh pada Ibunya lalu menatap satu persatu pada orang tuan yang lainnya. Kemudian pria ini pun mengangguk, “Ya… aku mengenalnya.” Sahutnya dengan kalem. “Sebenarnya… Tiffany adalah kekasihku, Eomma…” Lanjutnya dan sukses membuat ke-empat orang tua itu terkejut namun senang di saat yang bersamaan.

Berbeda halnya dengan Tiffany, dia semakin menatap kaget pada Sehun. Namun pria itu malah merangkulnya dengan erat dan sontak membuat kata-kata Tiffany ntah kenapa hilang begitu saja.

Ia benar-benar terlalu kaget sampai-sampai tidak bisa berkata-kata.

“Benarkah itu? Omo… aku tidak menyangka jika kalian berdua telah berpacaran! Benar-benar berita yang mengejutkan sekaligus membahagiakan bukan?!” Seru Tn.Oh dan langsung di balas anggukan semangat dari yang lainnya.

“Ya… begitulah. Dua ini memang sempit… iya kan, Tiffany-ah?” Sahut Sehun sambil menatap Tiffany dengan tatapan penuh kemenangan.

Tiffany sesaat masih melongo di tempatnya, namun sedetik kemudian dia langsung menarik tangan Sehun dan membawa pria itu keluar dari tempat tersebut. Gadis ini bahkan tak sempat mengucapkan pamit pada kedua orang tuanya maupun Tn dan Ny.Oh.

©Unpredictable©

“Kau licik! Kau jelas merencanakan semua ini, iya kan?!” Tiffany menuduh Sehun dengan nada sengit dan tatapan yang begitu tajam.

“Tidak sama sekali.” Sahut Sehun sembari mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu jika kita akan bertemu di tempat ini.” Lanjutnya.

“Pembohong! Aku tahu kau pasti merencanakan semua ini!”

“Aku benar-benar tidak tahu, Tiff…”

Tiffany menatap Sehun dengan curiga, ia berusaha mencari kebohongan dari sorot mata pria itu. Namun nyatanya ia tak menemukannya, ia bahkan merasa jika apa yang di katakan Sehun itu memang benar adanya, dia memang jujur.

“Sial! Sial! Kenapa Eomma dan Appa harus mengajakku kemari?! Kenapa aku harus bertemu denganmu?! Aaaaa!!!” Tiffany menggerutu kesal sambil menjerit frustrasi.

“Mungkin kita memang berjodoh.”

“Diamlah!” Tiffany mendelik tajam pada Sehun. “Aaaaaaaaa!!”

“Sudahlah, terima saja… kau sudah kalah taruhan dariku!” Ujar Sehun kemudian.

“Tidak!” Pekik Tiffany tak terima. “Tidak! Tidak! Tidaaaaaak!!!!”

“Hey.. berhentilah berteriak seperti orang gila! Kau membuat semua orang sekarang melihat pada kita tahu!”

“Aku tidak peduli! Pokoknya aku tidak terima ini! Kau benar-benar curang, Oh Sehun!!!”

“Sudah kukatakan aku tidak curang! Bukankah taruhannya memang seperti ini? dan kau juga sudah menyetujuinya!”

“Tidak! Tidaaak!! Aaaaa!!”

“Haish!!”

Sret!

Kedua bola mata hitam Tiffany nampak melebar nyaris melompat keluar. Tubuhnya terasa menegang dan pembuluh darahnya pun seolah tak lagi mengalirkan darah ke otak serta jantungnya.

Di rasakannya bibir Sehun bergerak di atas bibirnya, melumatnya dengan gerakan sangat perlahan namun dapat membuat seluruh otot-otot syaraf dalam tubuh Tiffany tak lagi berfungsi dengan baik.

Sehun perlahan melepaskan ciuman singkat itu. Ia menatap Tiffany dengan tatapan lekat dan penuh dengan rasa cinta. “Kau tahu, Tiff? Kau telah kalah dalam taruhan ini… dan itu berarti… mulai sekarang… kau akan menjadi milikku untuk selama-lamanya.” Bisik Sehun.

Ia lantas kembali merengkuh tubuh Tiffany dengan erat dan menciumnya dengan penuh perasaan. Merasakan kembali rasa manis dalam bibir gadis itu.

Sementara itu, Tiffany masih terlalu terkejut dengan semua ini. Ia hanya tetap diam tanpa mampu berkutik sedikitpun, dan pada akhirnya ia pun memilih untuk pasrah dan menutup kedua matanya.

Mungkin, ini sudah menjadi jalan takdirnya yang tak terkira. Dan karena kesalahan dirinya jugalah, Tiffany akhirnya harus menerima kekalahannya dan pasrah dengan apa yang di inginkan Sehun. Dan tentu saja menjadi kekasih pria itu mulai dari sekarang, lagipula dia memang sudah tidak bisa mengelak perjanjian itu lagi.

The End…

©Unpredictable©

Extra Story :

Knock… Knock… Knock…

“Masuklah!” Seru pria dari dalam ruangan itu.

Cklek!

Pintu terbuka dan muncullah sesosok pria muda berwajah tampan yang tak tentu saja tak lain adalah Oh Sehun. Ia melihat Ayahnya yang tengah sibuk beberapa file yang ada di atas meja kerjanya.

“Appa… Eomma sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Dan kuharap kau bisa turun ke bawah sekarang juga, karena aku tidak mau mendengar omelannya lebih lama lagi.” Seru Sehun sembari menghampiri meja kerja Tn.Oh.

Tn.Oh mendongakkan kepalanya dan tertawa kecil saat mendengar gerutuan anak pria semata wayangnya ini. “Sebentar lagi, Sehun-ah…” Ujarnya sambil beralih menatap layar komputernya kembali.

Sehun mengangguk singkat dan melirik ke sebuah map yang dimana itu adalah beberapa deretan tamu undangan yang akan hadir pada acara amal nanti, acara yang tak lain akan di adakan oleh keluarganya.

“Bukankah ini daftar nama-nama para tamu undangan yang akan hadir ke acara amal nanti?” Tanya Sehun penasaran.

“Ya.” Tn.Oh mengangguk singkat tanpa mengalihkan tatapannya.

Sehun memperhatikan daftar nama tamu tersebut. Dan tatapan matanya pun segera tertuju pada satu nama yang tak asing lagi untuknya, dia sangat hapal nama ini.

Nama keluarga Hwang. Ya, di sini terpampang nama Tn.Hwang yang tak lain adalah nama Ayah Tiffany.

Tn.Oh menoleh padanya dan menyadari tatapan Sehun yang tetap terfokus pada daftar nama para tamu undangan acara amal itu. “Ada apa, Sehun-ah? Tidak biasa sekali kau tertarik pada hal-hal itu… biasanya kau menghindari acara seperti ini.” Ujar Tn.Oh kemudian.

“Eoh?” Sehun tersadar dari lamunannya, kemudian ia pun menggeleng sembari tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Hanya… ingin melihat saja.” Jawabnya singkat.

“Ah…” Tn.Oh mengangguk. “Ya sudah, ayo kita turun ke bawah. Appa sudah selesai dengan semua ini dan Appa tidak juga tidak mau mendengar celotehan Ibumu itu.” Ajaknya sembari beranjak dari duduknya.

Sehun tertawa mendengar ucapan Ayahnya itu dan ia pun akhirnya mengikuti langkah ayahnya untuk pergi ke ruang makan.

The End…

Note : Kyaaaaaa… ff apa ini??? Aaaah… mian ya semuanya jika ff ini terlalu gaje dan gak sebagus ff author yang lain. Hehehehe, maklum… masih amatir! Kekekeke

Oh iya… FF ini juga saya publish di wp pribadi saya All About Tiffany Hwang Fanfiction, jika ada yang berniat untuk berkunjung silahkan… tapi ffnya masih terbilang sedikit dan rata-rata ff re-post-an. Dan jangan lupa yaaa… kalau baca ff yang aku posting, komentarnya sangat-sangat di tunggu… ^^ Hehehehehe

Advertisements

41 thoughts on “Unpredictable!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s