[Freelance] Hurt (Chapter Four)

rs-sequel (1)

Title : Hurt (Chapter Four) || Author : Tiffany Tania || Genre : Sad, Angst, Married Life || Length : Chaptered

Cast by “Im Yoona GG’s – Park Chanyeol EXO-K’s”

Note : This is just a fanfic, dont think to much. All of the cast its belong to God, themselves, theirparents and also SM.Entertaimet but the storyline its pure mine.

POV can changed in every chaptered,
So, please enjoy!^-^

—-

Preview~

Jessica tersenyum, “Tidak apa – apa, sudah jelas Yoong lelaki mana yang mau menikahi wanita yang tidak bisa memberikan keturunan?”

“Kau tak boleh berbicara seperti itu.. masih ada yang mau denganmu”

“Siapa?”

Yoona menatap kebelakang, “Chanyeol”

“Apa – apaan kau Yoong?” ucap Chanyeol menarik paksa lengan Yoona. Yoona hanya tersenyum, “Kau menyayangiku?”

“Tentu saja.. aku sangat mencintaimu Yoona!”

“Baiklah.. kalau begitu nikahi Jessica”

Chanyeol mengerjap tak percaya, “Kau ini apa – apaan Yoona? Kau bercanda!”

“Aku tak bercanda, jika kau menyayangi Jessica nikahi dia” ucap Yoona mengelus pelan lengan Chanyeol, “Demi aku.. kumohon” lanjutnya sambil menggenggam erat lengan Chanyeol.

Jessica terhenyak mendengarkan pernyataan yang terlontar dibibir delima gadis itu, air matanya semakin menyeruak. Chanyeol mengacak rambutnya frustasi.

“Kau gila Im Yoona! Kau gila!”

 

.

.

Author POV

Jessica tersentak, dia memegang lengan Yoona. “Yoong?”

“Gwenchana..” ucap Yoona tersenyum dan berlalu pergi kedalam kamar. Terlihat dengan jelas raut frustasi dari Chanyeol, Jessica berjalan kearahnya. “Aku baik – baik saja Chanyeol, tak apa jika kau tak mau menikahiku sudah jelas alasannya” ucap wanita berambut blonde itu tersenyum sambil menahan air mata.

Chanyeol semakin frustasi saja, jujur melihat air matanya mengalir entah mengapa hatinya merasa sakit begitu saja. Ingin rasanya dia menahan lengan Jessica dan memeluknya erat saat itu juga, tapi apa daya.

“Maaf.. aku tak bisa menjemput Nicole” ucapnya berbalik lalu pergi lagi.

“Aiiiiish… molla” ucap Chanyeol meninju tembok sekali pukul. Dia meraih kunci mobil dan berniat menjemput Nicole pada saat itu juga. Tak butuh waktu lama mobil Chanyeol sudah terparkir rapi dipekarangan sekolah anaknya itu.

Dilihatnya Nicole yang sedang berbincang dengan teman lelakinya, Byun Baekhyun. Lantas saja Chanyeol menuruni mobil dan menghampiri Nicole.

Daddy?” ucap Nicole tak percaya.

Chanyeol hanya tersenyum, Nicole pamit pada temannya. “Baekhyun, sampai jumpa besok ya? Bye” dan berlari kearahku. Dia memelukku. “Daddy, mengapa daddy yang menjemput Nicole? Kemana aunty?” ucapnya celingukan mencari sosok Jessica.

Aku mencubit hidung nya gemas, “Aunty sedang ada pekerjaan jadi ayah yang menjemputmu”

Mommy dimana?”

Chanyeol terdiam ketika anaknya itu menanyakan keadaan ibunya. Nicole mengerutkan dahinya, “Are you okay dad?”

“A..ah ne, kajja kita pulang!”

Nicole menarik lengan Chanyeol, “Daddy, behgopah~” ucapnya mengelus perut dengan ekspresi wajah yang cukup lucu itu. Chanyeol tersenyum dan menggendong Nicole, “Baiklah.. kita mampir dulu untuk makan okey?”

Nicole tersenyum riang, “Daddy, you’re the best! Dae~~~bak!” sambil tak lupa mencium pipi ayahnya. Yang dicium hanya terkekeh pelan, “Ah.. kyeopta!”

Yoona terduduk di sisi ranjang, air mata yang sedari tadi dia tahan tumpah begitu saja. Saking sakit hati dia sampai meremas sprei kasurnya gemas. “Im Yoona kuat… Im Yoona harus kuat.. Im Yoona seseorang yang rela berkorban demi orang lain..”

‘Tapi apa aku rela membagi rasa sayangku pada Chanyeol dengan Jessica? Gadis yang sangat membenciku?’ umpatnya dalam hati.

Dia menggeleng keras, “Kau yang menjadi benalu di hubungan mereka Im Yoona.. sebaiknya kau mengalah”

Berbeda dengan Yoona, Jessica kini tengah mengendarai mobil sambil menangis. Beberapa kali dia mengusapnya dengan lengan kanannya, hatinya terasa tercabik – cabik ketika Yoona harus mengungkit kekurangannya yang selama ini dia sembunyikan.

Itulah kelemahan seorang Jessica Jung, wanita yang selama ini dinilai jahat, buruk, tak berhati, dan dingin. Sesungguhnya dalam hati kecilnya dia masih mempunyai nurani, wanita mana yang tidak sakit hati jika sudah divonis tak dapat mengandung? Apa masa depannya akan terjamin?

Hanya lelaki bodoh dan tolol yang mau padanya.

CKIT!

Dia mengerem sekaligus mobilnya, dan memukul stir mobil beberapa kali. Dia membenamkan wajahnya pada stir mobil itu. Air matanya tumpah disana.

Ayo GG! Sijakhae bolkka~ OMO!

Suara dering ponsel Jessica masih juga tak menyadarkan dia. Dia sama sekali tak menghiraukan dering ponselnya. Beberapa kali bunyi ponsel itu terdengar, pada nada keenam dia meraih ponsel itu.

“Hallo?”

“Jessie, where are you?”

“I’am at home. Why?”

“I miss you…

Suara lirih itu semakin membuat air mata Jessica luruh seketika, dia menggigit bibir bawahnya kuat – kuat. “I.. I miss you too”

Tut..Tut..Tut..

Jessica memutuskan sambungan telepon secara sepihak, tangisannya semakin mengencang. “Maafkan aku Kris.. aku berbohong padamu”

—-

Nicole melahap habis makanan dihadapannya, apalagi makanan favoritnya selain spagethi bolognese itu?

Chanyeol yang berada dihadapannya hanya memesan secangkir white coffee. Chanyeol tersenyum senang, setidaknya dengan melihat senyum Nicole dia bisa melupakan sedikit sakit hatinya. Ya, sedikit karena buktinya kini yang ada difikirannya tak hanya Yoona melainkan Jessica juga merebut seperempat fikirannya itu.

Nicole membuka suara, “Daddy.. Nicole rindu masakan mommy…” ucapnya sambil menunduk lemah.

“Nicole juga rindu Ibu yang selalu menjemput Nicole saat pulang sekolah.. Sangat rindu”

Chanyeol tertegun mendengar penuturan bidadari kecil nya itu. “Ayah juga rindu sayang.. ah, ayo pulang Ibu pasti sudah menunggu dirumah”

“Baiklah…”

.

.

Yoona POV

Aku mendengar dengan jelas suara mesin mobil, ah mungkin itu Chanyeol. Aku berjalan dan sedikit mengintip dibalik gorden kamarku, benar saja. Dia datang bersama Nicole. Langsung saja aku menghapus air mataku dan memakai kacamata.

Aku keluar kamar dan menyambut kedatangan Nicole, aku memeluk Nicole sangat erat. “Bagaimana dengan sekolahmu? Apa menyenangkan?”

Nicole tak menjawab, justru dia melepas kacamataku. “Mommy, habis menangis ya?”

“Aniya.. Ibu tidak menangis hanya sakit mata saja hehe” kekehku pelan. Nicole mengalihkan pandangan terus menerus dia menatapku dan Chanyeol secara bergantian. “Nicole kenapa?” kini suara berat Chanyeol yang menginterupsi.

“Apa daddy dan mommy bertengkar?”

Aku dan Chanyeol bertatapan sejenak, langsung saja aku mendekat kearah Chanyeol dan tersenyum. “Ani.. kita tidak bertengkar iya kan Chanyeol-ah?”

“Ne, kami tidak bertengkar”

“Kalau begitu peluk daddy..”

Astaga.. Nicole menyuruhku untuk memeluk Chanyeol? Ah, baiklah aku memeluknya. “See?”

Senyum Nicole mengembang, dia berlarian kearah kami. Lantas kami mensejajarkan posisi dengannya. “Daddy.. Mommy.. apa kalian tahu kalau Nicole menyayangi kalian?”

“Tentu saja…” ucap kami berbarengan.

Nicole mulai memeluk kami, dia berbisik. “Jangan sampai berpisah ya? Nicole sayang kalian berdua”

Hening… Tak ada yang mau bersuara saat itu juga.

Nicole melepas pelukannya, “Ya sudah.. Nicole masuk kamar ya? Bye daddy.. Bye mommy.. I love you

I love you too, dear”

“I love you too”

Sesudah itu keadaan menjadi hening kembali. Mataku bertemu pandang dengan bola matanya, aku menghindarinya. “Apa kau sudah makan?” tanyaku memecah keheningan. Chanyeol menjawab, “Belum..”

“Baiklah akan ku buatkan”

“Tak usah.. kau istirahat saja, kasihan bayi kita” ucapnya mendekat dan mengelus pelan perutku. Aku tertegun melihatnya, mata kami bertemu pandang lagi. Matanya menyiratkan luka yang begitu dalam tak berbeda jauh denganku.

“Apa kau serius dengan keputusanmu?” tanyanya yang membuat hatiku terasa nyeri lagi. Aku tersenyum, “Ya, jika itu yang terbaik. Aku tak tega melihat Jessica menderitanya seperti itu”

“Tapi..”

Aku berbalik, “Aku hanya mencintaimu Yoong. Aku tak bisa mencintainya”

“Aku tahu.. tapi aku yang menjadi benalu dihubungan kalian. Jadi, aku yang harus merelakan kau Chanyeol-ah”

.

.

Chanyeol POV

“Apa kau serius dengan keputusanmu?” kutatap matanya kali ini namun dia hanya tersenyum seolah dia rela melepasku. “Ya, jika itu yang terbaik. Aku tak tega melihat Jessica menderita seperti itu”

Terbaik? Ini bukan yang terbaik, mencintainya pun tidak. Bagaimana bisa dia mengatakan jika ini yang terbaik? Aku tahu perasaannya pasti sakit..

Kucegah dia, “Tapi… Aku hanya mencintaimu Yoong. Aku tak bisa mencintainya” ucapku meyakinkan Yoona agar merubah keputusannya.

“Aku tahu.. tapi aku yang menjadi benalu dihubungan kalian. Jadi, aku yang harus merelakan kau Chanyeol-ah” ucapnya dan berlalu pergi.

Benalu? Kau bukan benalu Yoong, aku yang memilihmu. Hati ini yang melabuhkan perasaanku padamu.

Hatiku terasa begitu sakit ketika harus melihat punggungnya semakin menjauh dan perlahan menghilang dari pandanganku.

Jessica POV

Aku mendatangi rumahnya, rumah sahabatku pada saat SMA. Ya, Tiffany Hwang. Apa kabarnya dia? Aku merindukan suaranya yang nyaring ketika berteriak, aku rindu senyuman yang membuat matanya ikut membentuk bulan sabit.

Kuketuk daun pintu itu beberapa kali, pada ketukan keenam pintu terbuka. Senyuman hangatnya menyambut kedatanganku.

“Hai.. apa kabarmu? Ayo masuk”

Akhirnya aku melangkahkan kakiku seiring dengan langkah kaki Tiffany. Dia terduduk di sofa, menuntut ku untuk mengikutinya. Aku menerawang ke seluruh ruangan rumah ini, masih sama nampaknya.

Hanya saja di ruang tengah kini terpampang jelas foto prawedding nya bersama Sehun. Membuatku tersenyum miring.

“Jessie, kau kenapa? Sakit?”

Aku menggeleng pelan, “No, i’m fine Fany”

“You’re lie. I know it”

Seketika itu juga aku memeluk Tiffany dan menangis sejadinya di bahu sahabat ku satu – satunya itu. Tiffany mengelus pelan punggungku. “Ssst.. tenanglah Jess. Aku mengerti”

Air mataku semakin ingin mengalir ketika mendengar Tiffany, lantas aku semakin memeluknya erat. “Aku mencintainya Fany… aku mencintainya”

.

.

Author POV

Chanyeol meregangkan otot – ototnya perlahan ketika sudah selesai mengerjakan berkas project terbarunya dengan Kris. Dia menutup laptop kerjanya dan mulai melepas kacamatanya itu.

Dia berjalan ke arah dapur dan meneguk air minum. Dia kehausan. Sesaat setelah itu, Chanyeol terdiam. Dia terduduk dibawah lantai dan memandang gelas itu kosong.

“Haruskah aku menikahi Jessica?”

Pertanyaan itu terus saja berputar – putar di kepala Chanyeol. Perlahan kepingan masa lalunya bersama Jessica terputar jelas di kepalanya. Setitik air mata mengalir ketika Chanyeol menyadari kesalahan terfatalnya.

Ketika dia memutuskan wanita itu.

“Mengapa perasaanku jadi seperti ini? Apa mungkin aku jatuh cinta lagi kepadanya?”

Yoona belum tertidur, dia berjalan ke arah dapur ketika dia melihat Chanyeol terduduk dan menangis dia terdiam di balik lemari. “Dia menangis?”

Tak kuasa melihat suaminya, Yoona menghampiri suaminya yang sedang terduduk sambil membenamkan wajahnya diantara lututnya itu. Yoona ikut terduduk, mensejajarkan posisinya dengan Chanyeol. Chanyeol belum sadar, Yoona ingin sekali mengelus rambut halusnya itu. Tapi…

Chanyeol mendongak. Terlihat dengan jelas air mata yang terus saja menuruni pipinya itu,

TES…

Tetesan air mata itu menetes tepat di lengan Yoona yang sedang memegang lututnya. Yoona tak kuasa menahan tangis, “Why are you cry?”

Chanyeol menggeleng, di peluklah Chanyeol oleh Yoona. “Menangislah sayang.. menangislah” ucap Yoona mengelus punggung pria bermata bulat itu. Dia menangis sesenggukan dipelukan Yoona.

‘Ya Tuhan, apakah beban hidupnya seberat ini? Apa aku membebaninya?’ batin Yoona berkecamuk saat itu juga. “Hei tenanglah.. dont cry baby!” ucap Yoona melepas pelukan dan menghapus buliran bening di pelupuk mata Chanyeol itu.

Yoona tersenyum, dia mencium kedua mata Chanyeol. “Jangan menangis lagi ya?”

.

.

Author POV

Keesokan paginya Chanyeol masih terlelap, sedangkan Yoona sudah bangun sejak tadi. Yoona terus saja memperhatikan setiap centi lekuk wajah orang yang dia sayangi ini. Perlahan senyum Yoona mengembang ketika dia melihat bibir tipis milik Chanyeol.

Yoona mengecup bibir Chanyeol sekilas, dia menarik selimut untuk menutupi seluruh badan Chanyeol. Mungkin dia kelelahan akibat menangis semalam, untung saja hari ini hari Minggu jadi Chanyeol bisa beristirahat.

Yoona mengikat rambutnya seperti biasa dan keluar kamar. Terlihat Nicole yang sudah sibuk dengan film kesukaannya, Barbie.

“Apa kau lapar sayang?”

Nicole berbalik, “Mommy.. ya, aku lapar. Sangat lapar”

“Baiklah akan ibu buatkan sandwich. Tunggu sebentar”

Nicole mengangguk mengerti dan melanjutkan aktivitas menontonnya itu.

Suara bel rumah berbunyi, Yoona terheran siapakah yang bertamu sepagi ini? Ucapnya dalam hati. Pada saat hendak membukakan pintu Nicole menahannya. “Mommy biar Nicole yang membukanya”

“Oh… baiklah”

Sesaat itu Yoona kembali ke aktivitasnya, sedangkan Nicole sibuk berlari kecil untuk membuka pintu. Dia sedikit berjinjit karena tinggi pintu belum sebanding dengan tingginya itu.

Pintu terbuka. Nicole mengenyit heran karena sebelumnya dia tak pernah bertemu dengan lelaki dihadapannya ini.

“Nicole.. apa Ibu ada dirumah?”

“Kau siapa? Mengapa mengenal ibuku?” ceplos Nicole polos yang membuat pria itu terkekeh pelan. Suara Yoona tiba – tiba menginterupsi, “Nicole.. siapa yang-

Yoona POV

“Chanyeol dimana?’ tanyanya sambil menyesap kopi buatanku. Matanya nampak berkantung, kekurangan tidur sepertinya.

“Kau baik – baik saja…. Kris?”

Kris mengangguk, “Apa kau melihat Jessica?”

“Jessica?”

“Ya.. Jessica”

‘Dia mencari Jessica? Apa Jessica menghilang?’

Kris menghela nafas kasar, “Jessica menghilang.. dan aku tak tahu dia berada dimana sekarang”

“HAH? DIA MENGHILANG?”

“Siapa yang hilang?” suara berat itu terdengar diantara perbincangan kami.  Aku berbalik dan nampak Chanyeol yang masih belum sepenuhnya sadar. Namun matanya terbelalak, tanda dia sangat cemas.

Chanyeol terduduk disebelahku dan menatap Kris intens. “Siapa yang hilang Kris? Jawab pertanyaanku!” ucapnya dengan nada setengah meninggi.

“Jes.. Jessica.. Dia sudah tiga hari menghilang dan tak ada kabar sama sekali” ucap Kris gusar. Mata Chanyeol semakin membelalak, dia terhenyak kaget.

‘Pantas saja sudah beberapa hari ini aku tak menemuinya’

“Kau sudah menelepon Tiffany?”

“Sudah. Dia bilang bahwa memang tiga hari lalu dia Jessica mengunjunginya namun sampai sekarang dia tak tahu”

Chanyeol menghentakkan kakinya, “Sial!”

Dia berlari kearah kamar dengan ponsel dan kunci mobil digenggamannya. Aku terdiam. Sepeduli itukah dia terhadap Jessica?

Chanyeol mengecup pelan keningku dan berpamitan. “Aku akan mencari Jessica.. kau jaga rumah dan Nicole okay?”

Chanyeol berbalik, “Dan kau Kris.. kau jaga istriku disini”

Kris mengangguk mengerti, perlahan punggungnya semakin menjauh dari pandanganku. Aku terdiam mematung.

Sebegitu berarti kah Jessica bagimu Chanyeol?

Sepanik itukah kau kepada Jessica?

Apa kau akan melakukan hal yang sama jika aku yang menghilang?

Kurasa tidak. Aku meremas bagian ujung dadaku. Rasa nyeri itu perlahan muncul kembali. “Mengapa rasanya sakit sekali ya?”

*TBC*

5 thoughts on “[Freelance] Hurt (Chapter Four)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s