[Freelance] Between Two Options (Chapter 6)

5bto5d20between20two20options

Title : Between Two Options (Chapter 6)

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG 17

Genre : romance, family, comedi

Main Cast : Taeyeon

Sehun

Luhan

Kris

Other Cast : Lihat sendiri yah J

Author Note : Annyeong readers, kali ini aku nggak akan basa- basi. Jadi, aku Cuma mau ngucapin terima kasih kepada kalian yang udah mensuport aku J.

 

. . . . . . . .

Taeyeon berjalan menuju ruang Mr. Kangta. Ia terus saja mengomel sepanjang perjalanan, sepertinya berbicara dan mengomel sendiri adalah hobinya #plak.  “Memang dia fikir dia siapa? Seenaknya mencium orang sembarangan. Apakah dia fikir dia adalah raja? Mengapa dia mengambil keputusan secara sepihak? Apa dia fikir aku mau menjadi yeojachingunya?”

Untung saja pada saat ini adalah jam dimana pelajaran berlangsung. Setidaknya taeyeon tidak menjadi pusat perhatian seperti biasanya. Taeyeon sudah sampai di depan ruangan songsaenim kang, dengan sopan ia mengetuk pintu.

“Masuk “ terdengar suara songsaenim mempersilahkan.

Dengan malas taeyeon membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu, “Annyeong songsaenim” taeyeon membungkuk malas, ia masih saja memasang wajah masamnya di depan Mr. Kangta.

Mr. kangta yang melihat ada keganjilan pada taeyeon, segera meletakkan dokumen yang sedang ia baca, “Duduk taeyeon” taeyeon duduk di kursi yang telah tersedia di depan meja Mr. kang. “Apa yang terjadi?” Tanya songsaenim khawatir. Sikap Mr. kangta saat berhadapan dengan taeyeon sangat berbeda ketika berhadapan dengan murid lainnya. Entah kenapa setiap melihat taeyeon hatinya seakan luluh.

Taeyeon menatap songsaenim sendu, “Tidak songsaenim, aku hanya sedang jengkel kepada sehun” jawab taeyeon jujur.

Mr. Kang mengerutkan keningnya bingung, “Memang kenapa dengan sehun?”

Taeyeon memukul meja keras yang membuat Mr. Kang kaget, “ Dia telah merebut first kissku tanpa meminta persetujuan dariku. Dan sekarang ia bilang aku adalah yeojaChingunya, padahal ia belum memintaku menjadi pacarnya. Aku hanya ingin seperti drama romantic yang menyatakan cinta dengan manis, tetapi sepertinya sehun bukan orang yang romantic”

Mr. Kang hanya terkekeh mendengar pengakuan taeyeon yang menurutnya terlalu jujur. Dia perlahan bangkit dari kursinya, “Sabar taeyeon, sekarang kamu duduk kembali” Mr. kang memegang bahu taeyeon agar kembali duduk. “Jadi intinya kau menyukai sehun juga kan?” taeyeon hanya membalas pertanyaan Mr. kang dengan anggukan singkat.

“Padahal aku ingin menjodohkanmu dengan anakku. Tapi, sepertinya sudah terlambat” ucap songsaenim yang sukses membuat taeyeon kaget tingkat tinggi (?). melihat ekspresi taeyeon yang terbilang berlebihan songsaenim hanya tersenyum lembut, “ Kau jangan heran seperti itu, semua orang tua pasti ingin anaknya mendapatkan calon istri yang terbaik. Dan menurutku kaulah yang terbaik, kau sangat cantik dan polos, anakku saja sudah menyukaimu”

Taeyeon menunduk malu mendengar pernyataan dari songsaenim, namun ia tiba- tiba memikirkan sesuatu, suatu kata dari Mr. Kang yang masih mengganjal pikirannya. “Anak songsaenim menyukaiku ? dari mana dia mengenalku? “ Tanya taeyeon bingung.

“Aku juga masih bingung, katanya dia mengenalmu” taeyeon masih ingin bertanya namun songsaenim terlanjur meneruskan ucapannya, “Tunngu sebentar disini aku akan mengambil sesuatu”

Taeyeon melihat seisi ruangan, seperti kebanyakan ruangan guru ruangan songsaenim juga tidak jauh berbeda. Hanya saja, ruangan Mr. kang lebih bersih dan rapi. Terlihat ada beberapa dokumen yang tersusun rapi di meja dan da beberapa foto juga yang terletak di samping dokumen yang terletak di meja Mr. kangta.

Taeyeon perlahan mengambil bingkai foto itu dan memperhatikan gambar yang terdapat di foto itu lekat- lekat, ‘Sepertinya aku pernah melihatnya’

“Itu Park chanyeol putraku yang aku maksud tadi” taeyeon tersentak mendengar suara songsaenim yang sekarang hendak duduk di kursinya. Taeyeon yang merasa bersalah segera berdiri dan meminta maaf atas kelancangannya.

“Maaf songsaenim sejak tadi saya sudah lancang dan tidak sopan” taeyeon tertunduk merasa bersalah, setelah mengingat kejadian semenjak ia masuk keruangan Mr. kang dia memang bertingkah sangat tidak sopan. Bahkan ia sempat memukul meja di depan songsaenim. Dia sekarang hanya bisa menggerututi kebodohannya sendiri.

Songsaenim hanya terkekeh melihat ekspresi taeyeon yang lucu seperti biasanya, “Sudahlah jangan bersikap cangung kepadaku. Ini bukan dalam jam pelajaran, jadi bersikaplah seolah- olah aku adalan temanmu. Duduklah” mendengar ucapan songsaenim taeyeon duduk dan tersenyum manis kepada songsaenim. Yah walaupun dari matanya masih terlihat perasaan bersalah, dan tentu saja songsaenim merasakan kecanggungan taeyeon.

“Ini berikan kepada orang tuamu” songsaenim menyerahkan sebuah amplop yang taeyeon tidak tahu apa isi dari amplop tersebut.

Taeyeon sebenarnya bingung namun tetap meraih amplop itu dari tangan songsaenim, “Ini apa?”

“Itu surat permohonan izin kepada orang tuamu” kata songsaenim, taeyeon masih bingung dengan jawaban songsaenim yang terkesan abstrak. Namun belum saja ia sempat bertanya lebih jauh lagi songsaenim sudah menjawab seluruh peretanyaan yang sejak tadi susah payah taeyeon fikirkan. “Kau ditunjuk sebagai perwakilan sekolah utuk mengikuti Training Outbound. Setiap sekolah yang ada di seoul akan mengirim satu perwakilan.”

Taeyeon terlihat masih bingung dengan penjelasan songsaenim, “Training Outbound itu apa ? dan kalau setiap sekolah hanya satu perwakilan nanti aku akan sendiri dong disana” taeyeon mengerucutkan bibirnya.

Untung saja songsaenim termasuk orang yang sabar dalam menghadapi tingkah taeyeon yang kekanak- kanakan. Kalau saja tidak, mungkin ia sudah sejak tadi murka kepada taeyeon. Songsaenim hanya tersenyum tipis, “Training outbound itu adalah salah satu metode pembelajaran modern yang memanfaatkan keunggulan alam. Nanti disana akan banyak kegiatan yang melatih nyali seseorang, jadi nantinya kamu akan lebih disiplin dan lebih berani menghadapi tantangan yang nyata. Terus kalau misalnya peserta trainingnya dari sekolah ini semua mereka kan sudah saling mengenal, jadi kemampuan beradaptasinya akan kurang.”

Taeyeon hanya mengangguk seolah mengerti dengan penjelasan dari songsaenim, padahal sebenarnya otaknya yang tergolong Pentium 1 itu sedang berusaha untung mencerna kata- kata dari songsaenim.

“Nanti kau akan pergi selama tiga hari, dan segeralah pulang untuk bersiap- siap karena besok kau sudah harus berangkat” sambung songsaenim.

Taeyeon hanya mengangguk patuh lalu membungkuk hormat kepada songsaenim, “Kalau begitu saya permisi songsaenim”

 

 . . . . . . . . . . .

“Mwo ? kau ditunjuk jadi perwakilan sekolah mengikuti outbound?” Tanya sunny ketika mendengar cerita taeyeon.

Taeyeon tersenyum manis, “Ne, aku akan mengikutinya selama tiga hari. Pasti akan sangat menyenangkan” taeyeon membayangkan kegiatan- kegiatan yang akan ia lakukan pada saat outbound, “Pasti akan sangat menyenangkan”

“Aku harus ke toilet dulu” kata tiffany tiba- tiba, taeyeon dan sunny bingung melihat tiffany yang Nampak berbeda. Padahal tadi waktu taeyeon kembali ke kelas dia masih seperti biasa. Tetapi setelah taeyeon menceritakan tentang outbound ia menjadi pendiam secara tiba- tiba.

Yoona yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, tersenyum penuh arti. Perlahan ia bangkit dari kursinya dan menyusul tiffany ke toilet, sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu.

“Sunny- ssi apakah tiffany mempunyai masalah?” Tanya taeyeon bingung.

Sunny hanya mengangkat kedua bahunya, “Aku tidak tahu, tapi sepertinya ia iri padamu”

“Iri? Itu tidak mungkin” jawab taeyeon menolak pernyataan sunny yang menurutnya tidak masuk akal.

“Kau tahu, sebelum kau pindah ke sekolah ini tiffany adalah anak yang aktif di segala bidang. Ia mempunyai banyak fanboy di sekolah karena ia cantik. Dan juga selalu menjadi perwakilan sekolah disegala kegiatan berkat kepandaiannnya.” Taeyeon masih bingung dengan penjelasan sunny, sunny yang melihat ekspresi taeyeon hanya mendengus kesal, “Jadi sejak kau datang semua fanboynya sibuk menanyakanmu kepadanya, tapi ia tidak pernah memprmasalahkan itu. Sampai hari ini kau yang ditunjuk sebagai peerwakilan sekolah, mungkin ia merasa tersaingi olehmu” Jelas sunny panjang lebar, ia berharap taeyeon bisa mengerti penjelasannya.

“Ahh, aku masih tidak mengerti. Apa hubungannya aku dengan semua itu?” taeyeon sepertinya kali ini benar- benar lemot tingkat dewa. Sunny yang mendengarnya hanya menghembuskan nafas kasar, ia seperitnya mulai frustasi dengan kelemotan taeyeon.

“Sudahlah tidak usah dibahas lagi, karena walaupun aku menjelaskannya padamu sampai mulutku berbusa otakmu ini tidak akan bisa mencernanya kim taeyeon” sunny menjitak kepala taeyeon.

“Ya, sunny” taeyeon mengusap kepalanya yang lumayan sakit karena jitakan sunny. Sunny yang melihatnya hanya tersenym penuh kemenangan, karena akhirnya kejengkelannya kepada taeyeon tadi bisa sedikit terbalaskan.

 

Kring . .  kring . . .

“Sudahlah jangan cemberut terus, suara bel sudah berbunyi berarti saatnya pulang. Kau tidak maukan terlambat berbenah untuk besok” ucap sunny merangkul pundak taeyeon.

Taeyeon hanya memutar bola matanya, “Kalau begitu ayo kita pulang” Taeyeon menarik tangan sunny, namun yang ditarik hanya diam ditempatnya.

“Mian taeyeon aku menunggu tiffany, dan lagi pula kaukan dijemput sama KRIS” ucap sunny memberi penekanan pada kata kris, ia bermaksud menggoda taeyeon. Namun sepertinya usahanya sia- sia melihat ekspresi taeyeon yang biasa saja, tentu saja taeyeon tidak menyadari dirinya tengah digoda.

“Ya sudah kalau begitu aku duluan, by sunny” taeyeon melambaikan tangannya. Sedangkan sunny hanya menatapnya kesal.

“Kenapa dia sangat tidak peka”

 

. . . . . . .  . . .

“Tiffany, kau tidak boleh iri kepada sahabatmu sendiri” tiffany berbicara kepada bayangannya di cermin.

“Sekarang kau sudah menyadarinya kan?” ucap yoona yang tiba- tiba berdiri di samping tiffany.

“Mau apa kau? Dan apa maksudmu berbicara seperti itu?” tiffany menatap yoona jengkel sekaligus heran. Tidak biasanya yoona mendekatinya apalagi berbicara dengannya.

“Aiss, tiffany kau sepertinya mulai tertular penyakit bodoh dari teman barumu itu” ucap yoona mengejek, tentu saja yang ia maksud adalah taeyeon.

Tiffany meneggepal tangannya kuat, ia sangat tidak suka sahabatnya dihina, “Jaga bicaramu” ucapnya dengan nada suara yang ditinggikan.

“Ck, kau benar- benar sangat menyayanginya, tapi sayang dia hanya memanfaatkanmu”

Tiffany benar- benar sudah tidak tahan, andaikan saja saat ini ia tidak berada di sekolah mungkin yoona sudah tidak selamat, “Jangan pernah menjelekkan sahabatku dihadapanku”

“Kau jangan terlalu naïf, aku yakin pasti kau iri padanya. Semenjak dia datang, kau seperti kehilangan segalanya.” Ucap yoona seraya menunjukkan smirk diwajah cantiknya.

Fikiran tiffany berkecamuk, jujur apa yang difikirkan yoona ada di fikirannya juga. Namun ia segera menggelengkan kepalanya, “Kau jangan coba- coba menghasutku karena itu tidak akan mempan”

Yoona mendekatkan wajahnya ke telinga tiffany, “Lihat saja, pasti dia akan merebut semua orang yang kau cintai” tiffany hanya terdiam sementara yoona tersenyum penuh kemenangan, “Ingat kata- kataku tiffany” yoona berjalan meninggalkan tiffany yang masih mematung ditempatnya.

‘Aku tidak boleh terhasut oleh wanita sepertinya, aduh tiffany mengapa kau meragukan teman sebaik dan sepolos taeyeon. Tidak mungkin kan yeoja sepolos taeyeon bisa memanfaatkan orang’ Tiffany berusaha menguatkan dirinya, padahal sebenarnya lubuk hatinya yang paling dalam membenarkan perkataan yoona. Bukan perkataan yang mengatakan bahwa taeyeon memanfaatkannya karena itu tidak mungkin. Namun, tentang taeyeon yang merebut segalanya darinya? Sepertinya menurutnya itu bukan pendapat yang salah.

 

. . . . . . . .  . . .

Taeyeon berjalan melewati koridor sekolah yang mulai ramai karena siswa- siswi yang hendak pulang kerumahnya masing- masing, siswa yang berpapasan dengan taeyeon tidak henti- hentinya memberikan senyuman kepada taeyeon, dan tentunya dibalas oleh taeyeon dengan senyuman termanisnya.

Tidak sedikit namja yang loncat kegirangan (?) ketika taeyeon tersenyum kepadanya, dan tentu saja taeyeon hanya memandangnya dengan tatapan polos, ‘Mengapa mereka sangat senang?. Apakah mereka telah menang undian berhadiah?’ tetap saja ia berfikiran yang aneh- aneh.

“Hy changi, apakah kau ingin pulang?” Taeyeon kaget melihat seorang namja tengah berdiri disampingnya.

“Ya, bisakah kau tidak mengagetkanku” teriak taeyeon yang lagi- lagi sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian.

“Usss, bisakah kau sehari saja tidak menjadikan dirimu pusat perhatian bagi para siswa” Ucap sehun setengah berbisik.

Taeyeon melihat sekelilingnya dan tersenyum kaku ketika melihat puluhan pasang mata tengah menatapnya intens.

“Tidak usah memperhatikan mereka, sekarang apakah kau ingin pulang?” Sehun mengulang kembali pertanyaannya.

Taeyeon menatap tajam sehun, “Mengapa kau terus menanyakan pertanyaan konyol seperti itu? Ini sudah waktunya pulang tentu saja aku mau pulang.”

Sehun yang mendengarnya hanya tertawa terbahak- bahak yang semakin membuat taeyeon bingung, “Ck, apakah kau tidak sadar bahwa selama ini kau yang terus membuat pertanyaan yang super konyol” sehun memegangi perutnya yang sudah sakit akibat tertawa.

Taeyeon benar- benar kesal, dan juga dia sudah malas bertengkar dengan sehun. Apalagi dia harus berkemas untuk keberangkatannya besok. Ia meninggalkan sehun yang masih tertawa, namun tawa sehun berhenti ketika melihat amplop yang jatuh dari tas ransel pink taeyeon. Ia memungut amplop itu dan betapa terkejutnya dia ketika membuka isi dari amplop itu.

Taeyeon terus saja berjalan tanpa dosa, namun langkahnya terhenti ketika dua lengan kekar kini melingkar di pinggangnya, “Mengapa kau tidak bilang akan meninggalkanku?” Ucap sehun singkat sambil mengecup puncak kepala taeyeon. Untuk saja guru- guru saat ini sedang rapat tentang training outbound dan tidak melihat kejadian ini, kalau tidak mungkin mereka berdua sudah diskorsing.

Siswa yang berada disitu saja kaget setengah mati melihat kejadian itu, termasuk taeyeon yang seolah susah menghirup oksigen saking kagetnya, “Se s sehun a apa yang kau lakukan” taeyeon berusaha melepas dekapan sehun, namun percuma saja sehun malah semakin mempereratnya.

Taeyeon sekarang hanya bisa pasrah, sedangkan sehun hanya memejamkan matanya menikmati aroma rambut taeyeon. “Kau sangat jahat padaku. Aku ini namjachingumu kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau akan mengikuti outbound?”

“Dari mana kau tahu?” Tanya taeyeon, sehun hanya diam tidak menjawab pertanyaan taeyeon. Ia malah semakin mempererat kontaknya dengan taeyeon.

“Sehun- ssi anak- anak memperhatikan kita”

“Tidak udah fikirkan mereka”

“Tapi, ini sungguh tidak nyaman” sehun hanya terdiam mendengar ocehan taeyeon.

“Apa kau malu menjadi yeojachinguku?” Tanya sehun dengan suara yang diimut- imutkan.

“Bukan begitu aku hanya YAAA “ Taeyeon kaget ketika tubuh mungilnya sudah terangkat, “SEHUN- SSI TURUNKAN AKU” teriak taeyeon, sementara sehun hanya tersenyum penuh kemenangan. Kalau siswa disitu tidak usah ditanya lagi, sekarang mereka hanya bisa menganga melihat kejadian ini.

“Bukankah kau tidak nyaman berada disini? Ayo kita cari tempat sepi, aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu changi”

Mendengar itu wajah taeyeon memanas dan bersemu merah, seperti biasa kalau taeyeon tengah malu pada sehun ia akan menyembunyikan wajahnya di dada sehun. “Aku malu”

“Ck, kau sangat manis” ucap sehun mengecup kepala taeyeon lagi yang sukses membuat taeyeon semakin menenggelamkan wajahnya di dada sehun karena semakin malu.

Sehun terus berjalan membawa taeyeon entah kemana, mereka tidak menyadari yoona sedari tadi menatap mereka dengan api yang menyala- nyala sampai ke ubun- ubunnya . “Kau tidak akan bisa tersenyum lagi taeyeon, tunggu saja” aura menakutkan kini memancar lagi dari wajah yoona.

Sehun dan taeyeon sudah sampai di tempat yang sehun inginkan, ternyata sehun membawa taeyeon ke taman samping sekolah. jam segini memang taman sangat sepi karena siswa yang lebih memilih pulang ke rumah mereka dibandingkan hanya duduk ditaman.

“Taeyeon kita sudah sampai” ucap sehun, namun tidak ada jawaban dari taeyeon. Yeoja itu masih menenggelamkan kepalanya di dada sehun, “Taeyeon . . “sehun agak sedikit mendorong kepala taeyeon dengan dadanya agar ia bisa melihat wajah taeyeon. Ia manarik bibirnya keatas membentuk bulan sabit ketika mengetahui yeoja yang yang dicintainya itu tengah bermain di alam mimpinya.

Ia duduk di bangku taman sedangkan taeyeon ia letakkan dipangkauannya dalam keadaan menyamping. Sehun memeluk taeyeon sehingga kepala taeyeon bersandar di bahunya, “Andai kau tahu kalau aku sangat mencintaimu. Mengapa kau sangat polos changi? Aku hanya ingin kau peka akan perasaanku, aku hanya ingin kau bersikap seperti layaknya yeojachinguku. Aku menyukai sikapmu yang kekanak- kanakan, namun terkadang kau membuatku sakit akan sikapmu karena kau tidak pernah bisa mengerti perasaanku. Aku bahkan tidak tahu apakah kau banar- benar mencintaiku. Karena sikapmu kepada semua orang tidak jauh berbeda dengan sikapmu kepadaku” sehun mengeratkan pelukannya.

Sumgyeo do twinkle eojjeona?
Nune hwahk ttwi janha
Beire ssayeo isseodo
naneun twinkle tiga na

Taeyeon terbangun dari tidurnya mendengar suara HPnya. Ia perlahan menjauhkan kepalanya dari punggung sehun dan tersenyum manis ke namja yang ada dihadapannya. Ia mengambil HPnya dari kantongnya dan matanya membulat sempurna ketika melihat nama dilayar HPnya, “Omo! Oppa” taeyeon berdiri kaget dari pangkuan sehun, sejujurnya sehun lagi lagi sangat kecewa.

“Annyeong oppa”

“ . . . . “

“Mianhae oppa, lima menit lagi aku kesana” ucap taeyeon yang sukses membuat mata sehun membulat. Bagaimana mungkin taeyeon ingin pergi secepat itu, mengingat hari ini adalah hari terakhir untuk bertemu dengannya sebelum tiga hari kedepan.

“ . . .  . “

“Sanranghae”

Taeyeon menutup handphonenya dan menatap sehun, “Mian sehun, oppa siwon menungguku” ucap taeyeon lalu berlalu meninggalkan sehun. Namun lagi- lagi sehun menahanya dengan kedua lengannya.

“Tidak bisakah kita sebentar lagi bersama?” Tanya sehun lembut, setelah berhasil memeluk taeyeon dari belakang. Persis dengan apa yang ia lakukan tadi di koridor sekolah.

Taeyeon tersenyum tipis, ia lalu membalikkan tubuhnya menghadap sehun. Sehun sangat kaget ketika taeyeon memeluknya, namun itu tidak berlangsung lama karena detik berikutnya sehun sudah membalas pelukan taeyeon. “Aku akan kembali sehun, jangan seolah- olah kau akan kehilangan aku selamanya” ucap taeyeon disela- sela pelukan mereka.

Taeyeon merenggangkan pelukannya dan memegang wajah sehun. Sehun saat ini seperti ingin melompat kegirangan mendapat perlakuan manis dari taeyeon, “Aku harus pergi sekarang, kasian oppa siwon sudah menungguku”

Sehun menggenggam tangan taeyeon lalu menciumnya, ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkannya di tangan taeyeon, “Ini milikmu, tadi terjatuh”

“Pantas saja kau tahu kalau aku akan pergi” taeyeon tersenyum manis, “Ya sudah aku pergi yah, dah sehun” taeyeon melambaikan tangannya dan perlahan menghilang dari pandangan sehun.

“Kuharap kau akan terus bersikap manis seperti ini changi.”

 

. . . . . . . .  .

“Oppa” taeyeon berteiak gembira ketika melihat oppanya sedang bersandar di motor tengah menunggunya.

Siwon hanya menatap ke arah taeyeon sekilas, lalu kembali sibuk dengan handphonenya yang sukses membuat taeyeon mengerucutkan bibirnya. “Oppa, apakah oppa marah ? ayolah oppa aku hanya terlambat . . “ taeyeon menggantungkan kata- katanya seraya melihat jam tangannya, lalu tersenyum kuda menatap siwon, “Hanya satu jam, hehehe”

Siwon mendengus kesal, “Taeyeon sayang kau tahu aku sudah meninggalkan jam pada mata kuliah terakhirku untuk menjemputmu. Dan sekarang kau malah mencampakanku” taeyeon hanya menunduk menahan air matanya. Yah walaupun siwon hanya jengkel kepadanya tetap saja ia terasa seperti dicambuk.

“Mian oppa, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Taeyeon masih menunduk. Siwon terkekeh melihat sikap adiknya yang merasa bersalah itu sangat lucu baginya. Siwon memang hanya bercanda, namun taeyeon yang terlalu lelet dalam berfikir tentu saja berfikiran kalau oppanya benar- benar jengkel kepadanya.

Senyum siwon luntur ketika melihat setetes Kristal putih yang jatuh dari mata indah adik yang sangat ia cintai. “Kau menangis?” siwon memegang dan mengangkat dagu taeyeon agar menghadapnya. Dan benar saja sekarang taeyeon benar- benar kebanjiran air mata, “Taeyeon- ah aku hanya bercanda” siwon memeluk taeyeon merasa bersalah.

“Aku tidak mau oppa marah padaku” taeyeon berucap disela- sela isakannya. Siwon merenggangkan pelukannya lalu menghapus air mata taeyeon.

“Aku tidak marah dan tidak akan pernah marah kepada adikku yang manis ini” siwon mencubit pipi taeyeon imut. Taeyeon yang mendengar penuturan siwon hanya tersenyum lebar.

Namun, mata siwon tiba- tiba terarah pada sesuatu di tangan taeyeon, “Apa itu?”

Taeyeon melihat amplop ditangannya, “Oh ini ? ini surat permohonan izin”

Siwon mengerutkan dahinya bingung, “Izin untuk apa?”

Taeyeon mendengus kesal karena siwon yang terlalu porotektif menurutnya saat ini. Ia kemudian berfikir keras, karena sebenarnya ia juga lupa tentang penjelasan dari Mr. kangta. Padahal baru saja beberapa jam yang lalu songsaenim menjelaskan panjang lebar padanya.

“Ya oppa” suara taeyeon agak meninggi setelah siwon menarik amplop di tangannya.

“Sudahlah jangan protes, karena sampai kiamatpun aku menunggu penjelasnmu tetap saja otakmu yang terlalu cerdas ini tak bisa menemukan jawabannya” siwon mendorong pelan jidat taeyeon dengan jari telunjuknya.

Taeyeon hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal, ia memegang jidatnya yang sebenarnya tidak sakit itu, yah seperti biasa taeyeon selalu saja lebay. “Tapi surat itu bukan untukmu, kata songsaenim aku harus meminta izin kepada orang tuaku bukan kakakku yang benjengkelkan ini” taeyeon menunjuk siwon.

“Tapi sayangnya appa sedang keluar negeri jadi saat ini tanda tanganku sangat berharga untukmu” siwon mengelus kepala taeyeon, tapi bukan elusan kasih sayang lebih tepatnya mengejek.

Taeyeon lagi- lagi mengerucutkan bibirnya, namun detik berikutnya ia tersenyum lebar kearah siwon, “Tapi oppa akan mengezinkanku kan?” taeyeon mengedip- ngedipkan matanya imut.

Siwon mendengus kesal, “Tunggu sebentar oppa harus memeriksa isi surat ini” siwon membuka surat itu, lalu ia tersenyum yang membuat taeyeon gembira karena mengira siwon mengizinkannya, “Ohhh, outbound” tayeon mengangguk semangat. “Tidak boleh” siwon menatap tajam taeyeon yang membuat adiknya itu mendengus kesal.

“Oyolah oppa, hanya tiga hari saja” taeyeon menggoda oppanya seraya menunjukkan aegyo andalannya.

“Sekali tidak boleh tetap tidak boleh” siwon melipat tangannya didadanya.

“Oyolah oppa sekali ini saja”

“Oppa bilang tidak boleh”

Taeyeon mendengus kesal, namun itu hanya berlangsung sebentar, “Baiklah oppa, aku akan mengabulkan permintaan oppa jika membiarkanku pergi”

Siwon menatap taeyeon, sepertinya ia mulai luluh. “Jinjja?”

Taeyeon mengengguk tanpa beban.

Siwon Nampak berfikir, sedangkan taeyeon tengah berdebar- debar menunggu jawaban dari siwon, “Baiklah”

Taeyeon melompat kegirangan lalu memeluk oppanya, “Gomawo oppa”

Siwon hanya tersenyum melihat sikap taeyeon, walaupun taeyeon sudah berulang kali bersikap seperti itu tapi tetap saja itu menjadi hiburan yang menarik baginya. “Sudahlah, ayo kita pulang, kau tahu disini hanya ada kita berdua”

Taeyeon mengangguk senang, namun sebelum ia menaiki motor yang dibawa oppanya ia merasa mengenali motor itu, “Oppa bukankah ini motor milik Kris?”

Siwon menaiki motor itu lalu memakai helmnya, “Ia, kris sedang sibuk mengurus sekolahnya jadi oppa yang menjemputmu menggunakan motornya”

“Oh” taeyeon mengangguk mengerti.

“Tapi oppa aku tidak bisa menaiki motor ini menggunakan rok sependek ini” taeyeon melirik roknya yang ikut dilirik oleh siwon juga.

“Benar juga” siwon melepas jaketnya lalu memberikanya kepada taeyeon, “Pakai ini” taeyeon mengambil jaket dari siwon lalu mengikatnya dipinggangnya

‘Biasanya Kris yang memakaikannya’ taeyeon menaiki motor itu.

Sepanjang perjalanan baik taeyeon maupun siwon hanya diam tak ada yang berniat membuka pembicaraan sampai akhirnya taeyeon ingin menanyakan sesuatu, “Oppa mengapa oemma dan luhan sangat kompak tak ada yang mau mengangkat telponku? Padahal aku sangat merindukan mereka.”

“Itu karena mereka tak merindukanmu” jawab siwon santai.

“Oppa” taeyeon memukul punggung siwon pelan. “Oppa belakangan ini sangat menjengkelkan. Sepertinya oppa sudah terpengaruh dengan penyakit changmin dan ryeowook oppa”

“Sorry, oppa tidak seperti mereka”

Taeyeon mengerucutkan bibirnya, siwon yang melihatnya dari kaca spion hanya terkekeh pelan. Sebenarnya siwon memang sengaja membuat taeyeon kesal, karena sebentar lagi akan ada kejutan besar untuk adiknya tersayang itu.

“Oppa bukankah oppa sudah berjanji akan membantuku menghubungi luhan” taeyeon membuka pembicaraan lagi.

“Hmmm”

Taeyeon mendengus kesal merasa tidak puas dengan jawaban siwon, “Oppa”

“Taeyeon kau mau kita mati konyol sekarang? Jangan terlalu banyak bertanya. Setelah pulang dari sini kau langsung saja hubungi luhan kalau dia masih tidak mengangkat kau tinggal bilang pada oppa nanti oppa yang akan menghubunginya” siwon pura- pura kesal pada taeyeon.

Taeyeon memeluk siwon, “Oppa sangat berbeda” sebenarnya siwon ingin sekali memeluk taeyeon saat ini namun ia khawatir rencana yang telah ia susun akan gagal.

 

. . . . . . . . . . .

Setelah selasai mandi dan membereskan perlengkapannya untuk besok taeyeon hanya duduk disamping jendela kamarnya, “oemma sedang apa disana? Apakah oemma tidak merindukanku? Aku sangat merindukan oemma saat ini. Oemma tahu aku sangat bahagia bisa ketemu dengan oppa dan appa lagi. Tapi semuanya belum lengkap tanpa oemma ditengah- tengah kami.” Taeyeon meneteskan air matanya.

“Oppa hari ini sangat berbeda oemma. Padahal aku hanya ingin menceritakan kerinduanku terhadap oemma kepada oppa, tapi oppa malah mengacuhkanku” taeyeon menangis lagi, “Bahkan sekarang appa keluar negeri tanpa memberitahukan dulu padaku”

Taeyeon terus saja menangis, itulah taeyeon seperti biasanya ia selalu ceria didepan teman- temannya di depan sehun dan didepan oppa dan appanya. Padahal ia masih menderita menahan kerinduan kepada oemmanya yang selalu memberi kasih sayang ketika oppa dan appanya meninggalkannya.

Taeyeon melihat bulan dari jendela kamarnya, “Baby, apakah kau juga tidak merindukanku? Biasanya kau yang selalu menghiburku kalau aku sedang sedih seperti sekarang. Biasanya kau yang menghapus air mataku, kau tahu aku sangat menderita karena menindukamu.”

Taeyeon lagi- lagi menangis, jujur saja selama ini juga ia selalu merindukan ‘adiknya’. Luhan yang selalu membuatnya tersenyum, luhan yang selalu sukses membuatnya lupa akan kerinduannya kepada siwon, luhan yang bahkan menurutnya sangat penting dihidupnya. Ia sangat menyayangi luhan seperti ia menyayagi siwon.

“Baby, aku tahu aku salah tidak pamit untuk meninggalkanmu. Tapi jujur saja aku tidak sanggup untuk melihatmu sebelum aku pergi, aku takut aku tidak bisa meninggalkanmu. Kau sangat penting di hidupku aku tidak mau berpisah denganmu tapi aku juga sangat merindukan siwon oppa. Dan aku tidak ada pilihan lain saat itu” taeyeon memeluk lututnya seraya mengenggam erat kalung sari siwon.

Siwon yang berada semenjak tadi didepan pintu kamar taeyeon kini tersungkur ke lantai, ia sangat merasa bersalah pada taeyeon. Tapi, sekali lagi ia tidak mau menghancurkan rencana yang telah ia susun, ‘Maafkan oppa sayang’

Taeyeon menghapus air matanya lalu beranjak menuju kasurnya. Matanya kini benar- benar bengkak karena terlalu banyak menangis. Ia perlahan meraih HPnya yang berada di atas meja kecil samping kasurnya.

‘Semoga kali ini oemma mengangkat telponku’ harap taeyeon. Namun sia- sia ia sudah menelpon oemmanya namun tetap saja nyonya kim tidak mengangkat telpon dari putrinya.

Taeyeon sudah putus asa dan lagi- lagi air mata membanjiri wajah cantiknya.

‘Baby aku mohon angkat telponmu kali ini saja’

“Hallo my darling” suara itu, suara yang sudah sangat taeyeon rindukan. Taeyeon tidak bisa lagi berkata apa- apa. Sekarang hanya air matanya yang bisa menjawab seluruh kerinduanya terhadap luhan.

Luhan yang menyadari taeyeon sedang menangis segera mencoba menghibur manita yang sangat dicintai itu, “Dear jangan menangis lagi. Kaukan tahu aku paling tidak suka melihatmu menangis, bukankah kau telah bertemu dengan oppamu kenapa kau masih menangis?”

Taeyeon hanya terdiam satu katapun saat ini tak bisa keluar dari mulutnya, “Dear, kalau kau tidak mau menjawabku aku akan tutup telponnya”

“Ya Xi Luhan kau memang orang paling jahat didunia, kau tahu betapa kerasnya aku mencoba menelponmu, tapi apa kau malah tidak mengangkatnya, bahkan sekarang kau mau menutup telponnya. Apakah kau tidak menrindukanku, hahahaha” taeyeon menangis sekencang- kencangnya, untung saja siwon telah pergi dari depan kamarnya, kalau tidak pasti siwon saat ini sudah sangat khawatir.

‘Aku sangat merindukanmu baby, bahkan kerinduanku lebih besar darimu’ luhan akhirnya meneteskan air mata yang semenjak tadi ia tahan. “Wajahmu pasti saat ini sangat jelek karena menangis” canda luhan menutupi kesedihannya.

Taeyeon mengerucutkan bibirnya, “Bahkan disaat seperti ini kau masih bisa berbicara seperti itu”

Luhan hanya diam untuk menstabilkan emosinya, “Baby aku merindukanmu, sangat merindukanmu” suara taeyeon mulai parau.

Luhan hanya tersenyum ditengah tangisnya, “Aku juga merindukanmu, tapi kau tidak boleh menangis lagi. Apakah kau mau berjanji untuk tidak menangis lagi?”

Taeyeon mengangguk, “Aku janji tidak akan menangis lagi” taeyeon menghapus air matanya.

Kau sangat menyedikan luhan bahkan kau tidak bisa berjanji pada dirimu sendiri untuk tidak menangis’ Luhan hanya tersenyum miris melihat keadaannya sendiri.

Mereka terus mengobrol melepaskan kerinduan, taeyeon yang mulai mengantuk telah tertidur. Sedangkan luhan dengan setia mendengarkan setiap nafas taeyeon dalam tidurnya. Bahkan ia terkadang terkekeh mendengar igauan taeyeon.

. . . . . . . .  . .

Taeyeon terbangun dari tidurnya, ia meraih HP yang masih berada ditelinganya, “Wah aku semalam tidak mematikannya, apakah luhan sudah menutup telponku” taeyeon melihat layar HPnya dan ternyata luhan sudah menutupnya. Sebenarnya luhan baru saja mematikan HPnya sewaktu mendengar suara taeyeon terbangun dari tidurnya, karena sejak semalam ia tidak tidur hanya untuk mendengarkan suara taeyeon.

Taeyeon telah selesai mandi dan membawa seluruh perlengkapannya kebawah. Ia sangat kerepotan membawa barang- barangnya, bayangkan saja ia harus membawa dua koper besar berwarna pink, tas ransel yang tentunya juga berwana pink dan tas samping yang tentunya berwarna pink.

Pelayan dirumah itu langsung saja menyerbu (?) taeyeon untuk membawakan barang- barangnya. “Gomawo” taeyeon tersenyum manis kepada pelayang yang telah membantunya membawakan barangnya.

“Kau mau pergi tiga hari atau satu tahun taeyeon?” suara siwon menghentikan langkah taeyeon.

“Oppa aku harus membawa semua perlengkapanku, kalau tidak nanti aku akan kesusahan disana” ucap taeyeon berbalik ke arah siwon yang tadi berada dibelakangnya.

“Tapi taeyeon kau akan pergi outbound jadi kau tidak boleh membawa banyak perlengkapan. Outbound itu juga mengajarkan tentang kemandirian, inilah salah satu alasan oppa kemarin tidak mengizinkanmu karena kau masih terlalu manja taeyeon” siwon mendekati taeyeon lalu mengelus kepalanya.

“Baiklah oppa aku hanya akan membawa tas ransel ini” taeyeon tertunduk, siwon langsung memeluk taeyeon.

“Jaga dirimu disana, dan kau akan berangkat bersama kris”

Taeyeon kaget, “Kris?”

“Ia, kau kira oppa akan membiarkanmu pergi kemarin seandainya oppa tidak tahu kalau kris pasti akan menjagamu karena dia juga akan ikut. Dan juga yang menyelenggarakan acara ini adalah teman kampus oppa, jadi nanti kalau ada yang menyakitimu bilang saja bahwa kau adalah adik oppa, ne?”

Taeyeon memeluk oppanya lagi, “Wow pasti ini akan sangat menyenangkan.” Taeyeon melepas pelukannya, “Kalau oppa merindukanku call me call me” taeyeon mencium pipi kanan siwon lalu berlari pergi, “By oppa, dan bibi tolong kembalikan kopernya ke kamarkku yah”

Taeyeon membuka pintu rumahnya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat kris sudah ada di depan rumah menunggunya, “Hi taeyeon”

“Hi kris” taeyeon ingin memeluk kris namun ia melihat sehun sekilas di depan gerbang rumahnya.

Kris yang merasa aneh dengan sikap taeyeon segera bertanya, “Ada apa?”

Taeyeon tersenyum menatap kris, “Kris- ssi tunggu aku sebentar ne?”

Kris hanya mengangguk sebagai jawaban, sementara taeyeon berlari keluar dari pintu gerbang tentu saja untuk menemui sehun. Kris yang mengetahui itu hanya menghembuskan nafas kasar.

Taeyeon melihat sehun yang akan memasuki pintu rumahnya segera berlari dan memeluk sehun dari belakang. Sehun sedikit kaget namun ia membalikkan badan lalu menatap taeyeon, “Kau kenapa kesini bukankah kau akan berangkat bersama kris?”

Taeyeon tersenyum, “Bukankah kemarin kau mengatakan bahwa aku yeojachingumu? Tentu saja aku harus pamit kepadamu” sehun hanya tersenyum menatap taeyeon,  lalu membawa taeyeon kedalam pelukannya.

“Aku pasti akan merindukanmu”

“Aku juga”

Cukup lama mereka berpelukan sampai taeyeon merenggangkan pelukannya, “Sehun- ssi kalau begitu aku pergi sekarang, ne?”

Sehun hanya mengangguk, taeyeon segera berlari meninggalkan sehun, ‘Hidupku pasti akan sepi tanpamu kim taeyeon’

 

. . . . . . . . . .

Seorang namja yang sangat imut tengah berdiri dengan kacamata hitamnya di bandara. Senyum dari bibirnya tak pernah hilang semenjak ia menginjakkan kaki dibandara itu, ‘Seoul’

Namja itu menarik kopernya menuju mobil yang sudah menunggunya, “Anyyeong tuan” terlihat seorang namja parubaya membungkuk hormat padanya.

“Annyeong, bisakah kau sekarang mengantarku ketempat tujuanku sekarang?”

“Ne tuan” namja parubaya itu mengambil koper namja itu lalu memasukkannya ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan namja itu terus tersenyum menatap jalan, namun tiba- tiba mobilnya seperti menabrak sesuatu.

“Mian tuan, sepertinya saya menabrak seseorang” Namja parubaya itu menuruni mobil.

Ternyata benar saja mobil mewahnya telah menabrak seoarang yeoja yang sedang membawa belanjaannya. Dan belanjaannya itu sukses berhambuaran di jalan.

“Kau harus bertanggungjawab” yeoja itu berdiri menatap namja parubaya itu,

“Mian nona, tapi tuan saya sedang terburu- buru”

“Aku tidak peduli, suruh tuanmu menemuiku”

“Aku ada disini” Namja tampan itu turun dari mobil dan sukses membuat jantung yeoja itu berdetak tiga kali lebih cepat.

Yeoja itu hanya terdiam, “Apa yang perlu kami pertanggungjawabkan?” Tanya namja itu.

“Tidak usah, saya tadi Cuma bercanda” jawab yeoja itu seraya tersenyum manis.

“Baiklah kalau begitu, saya sedang teburu- buru” Namja itu memasuki mobilsnya.

“Mian nona” namja parubaya  itu menyusul.

“Namaku tiffany” teriak yeoja itu, ‘Aku jatuh cinta padamu pada pandanan pertama. Siapa yah namanya?’

 

. . . . . . . .  . .

Kris dan taeyeon telah sampai di depan hotel berbintang menggunakan motor kris. Taeyeon melihat sekeliling lalu merdecak kagum, “Wow oppa pasti akan menyenangkan. Ternyata outbound itu menginap di hotel aku kira kita akan menginap di tenda”

Taeyeon berbinar menatap hotel dihadapannya, sementara kris hanya tersenyum tipis, “Taeyeon, aku hanya akan memarkir motorku disini, kita akan training outbound ditempat lain”

Taeyeon mengerucutkan bibirnya, “Aku kira kita akan menginap disini”

“Sudahlah sekarang kita harus berkumpul dengan yang lainnya disana” kris menarik taeyeon.

Taeyeon dan kris sudah bergabung dengan beberapa utusan dari sekolah lain. Mereka dikumpulkan disebuah taman samping hotel itu.

“Baiklah adik- adik sekalian perkenalkan nama saya sing hye sung, kalian bisa memanggil saya hyesung” seorang yeoja cantik memperkenalkan diri.

“Kalau saya Kim jong woon biasa di panggil yesung”

“HAHAHAAHA “ taeyeon tertawa terbahak- bahak mendengar perkenalan diri dari yesung.

“Kau kenapa tertawa?” Tanya seorang yeoja yang sepertinya seangkatan dengan hyesung dan yesung.

“Yesung oppa sangat lucu. Nama lengkap dan panggilannya sangat tidak nyambung, ck” taeyeon masih melanjutkan aktifitas tertawanya. Sementara seluruh peserta training terdiam karena takut melihat tatapan yeoja yang baru saja bertanya kepada taeyeon.

“Kau fikir itu lucu?” Tanya yeoja itu tajam kepada taeyeon.

Taeyeon yang tidak mengerti arti dari pertanyaan itu hanya mengangguk polos, “Sangat lucu”

“Kau ini” yeoja itu mengangkat tangannya seperti ingin memukul taeyeon, namun hyesung menghalanginya.

“Sudahlah jangan diperpanjang, kasian dia, dia masih terlalu kecil”

“Benar itu, lagi pula menurutku dia sangat lucu” yesung menambahkan.

Taeyeon hanya bersembunya dibelakang kris, “Apakah aku melakukan kesalahan?” Tanya taeyeon setengah berbisik.

Kris hanya tersenyum menatap taeyeon, ‘Kau benar- benar polos’

“Baiklah namaku Im yoo ra kalian bisa memanggilku yoora” yeoja yang bernama yoora itu langsung menatap taeyeon tajam, sedangkan taeyeon hanya bersembunyi di belakang kris yang sangat jauh lebih tinggi darinya, “Kami mahasiswa dari university of seoul, jadi kami yang akan membimbing kalian. Dan ingat jangan ada yang banyak tingkah”

“Ne” jawab peserta outbound serentak.

“Bailah adik- adik kita akan segera berangkat menggunakan bus ketempat outbound. Dan sekarang busnya sudah ada di depan jadi sekarang kami akan membagi kalian menjadi lima kelompok dan masing- masing beranggotakan lima orang” kata hyesung lembut, dan tentunya sangat berbeda dengan cara bicara yoora yang terkesan kasar.

Pembagian kelompok dibagi oleh yesung. Taeyeon dan kris sangat beruntung karena mereka berada di kelompok yang sama. Karena satu kelompok terdiri dari lima orang, di kelompok taeyeon ada dua laki- laki dan tiga perempuan yang tentunya mereka belum saling kenal kecuali kris dan taeyeon.

Seluruh peserta outbound menuju lokasi menggunakan bus, sedangkan ketiga kakak yang membimbing mereka menggunakan kendaraan pribadi. Taeyeon dan kris juga terpisah karena bus perempuan dan laki- laki dipisahkan.

Taeyeon bahkan sekarang telah banyak disukai oleh teman- temannya karena sikapnya yang selalu membawa hal- hal yang lucu bagi setiap orang. Bahkan kebanyakan dari mereka yang bingung dengan yoora yang tega memarahi yeoja sepolos taeyeon.

Setelah sampai dilokasi yang tepatnya dipadang rumput yang cukup luas dengan banyak pohon rindang. Seluruh peserta training dikumpulkan lagi untuk mendapat pengarahan.

Kris yang melihat taeyeon langsung meraih tangan taeyeon, “Kau tidak apa- apa?” tanyanya khawatir.

“Tidak kris, memang siapa yang akan menyakitiku?”

Kris hanya tersenyum melihat taeyeon yang lagi- lagi memberinya pertanyaan konyol.

“Baiklah kita akan melaksanakan outbound dibelakang bukit itu” yoora menunjuk bukit yang berada lumayan jauh, “Jadi kalian harus mengerahkan tenaga kalian untuk berjuang sampai kesana”

Taeyeon yang melihat bukit itu langsung saja mengeluh keras yang membuatnya menjadi pusat perhatian, “Jauhnya” taeyeon menerucutkan bibirnya.

Yoora yang mendenagarnya langsung saja mencibir, “Makanya anak mami tidak boleh ikut kegiatan ini”

Taeyeon yang bingung dengan ucapan yoora langsung saja menjawab, “Memang ada manusia yang bukan anak oemmanya?”

Yoora benar- benar geram dengan sikap taeyeon, namun taeyeon harus berterima kasih kepada hyesung dan yesung yang sudah menyabarkan yoora.

“Baiklah adik- adik sekarang mulailah berjalan” ucap yesung. “Mulai dari kelompok satu yah, nanti kalian jalannya berjejer, ikuti saya saja”

Yesung mulai berjalan dan diikuti oleh kelompok satu, dua dan seterusnya sampai dengan kelompok lima. Karena taeyeon dan kris adalah kelompok lima jadi mereka berjalan paling belakang.

“Apakah tadi aku melaukukan kesalahan lagi?” Tanya taeyeon kepada kris yang berada dibelakangnya.

“Tidak taeyeon, menurutmu kau tidak melakukan kesalahan, tapi menurut orang lain kau melakukan banyak kesalahan.” Jelas kris dia sangat berharap taeyeon akan mengerti untuk saat ini saja, tapi tentu saja taeyeon tidak akan mengerti.

“Maksudnya?”

Kris mendengus kesal, “Taeyeon intinya kau tidak usah banyak bicara di depan orang- orang” taeyeon hanya mengangguk mendengar penjelasan dari kris.

Mereka sudah jauh berjalan dan taeyeon jatuh tersungkur karena sudah tidak kuat lagi.

“Gwenchana?” Tanya kris khawatir.

“Gwenchana kris” taeyeon berusaha berdiri tapi terjatuh lagi, mereka sudah keluar dari rombongan karena taeyeon yang tidak sanggup berjalan cepat.

“Naiklah kepunggungku” Kris memindahkan tas ranselnya kedepan dan berjongkok didepan taeyeon.

“Tapi . “

“Ayolah taeyeon, sebelum kita tertinggal” baru saja taeyeon ingin naik tapi HPnya tiba- tiba berbunyi.

“Annyeong oppa”

“ . . . . “

“Jinjja oppa? “ teriak taeyeon yang membuat kris khawatir.

“ . . . .”

Taeyeon menangis, “Ne oppa” taeyeon menutup telponnya.

“gwenchana?” Tanya kris

Taeyeon memeluk kris, “Appa kecelakaan” taeyeon menangis sejadi- jadinya.

Kris hanya mengusap kepala taeyeon berusaha menenangkannya.

“Apa yang terjadi?” suara hyesung mengalihkan pandangan mereka. Hyesung memang mencari mereka karena takut kalau saja taeyeon dan kris tersesat.

“Appa taeyeon kecelakaan, bolehkah kami pulang?” Tanya kris

Hyesung cukup kaget tapi segera menguasai dirinya, “Baiklah pergilah, dan ini kunci motorku. Kalian boleh menggunakannya.”

Kris mengambil kunci itu, “Gomawo”

Kris langsung menggendong taeyeon. Jujur saat ini dia sangat kerepotan karena harus membawa dua tas ransel dan juga taeyeon apalagi hari sudah mulai malam dan juga perjalanan yang sangat jauh. Tapi, jika melihat air mata taeyeon rasanya ia tidak merasakan semua beban itu lagi.

. . . . . . . . . .

Mereka sudah berada di depan rumah taeyeon. Mata taeyeon yang bengkak benar- benar membuat hati kris hancur berkeping- keeping, ‘Ku mohon jangan menangis’

Taeyeon menatap kris sendu, “Kembalilah kris”

“Tapi . . . “

“Aku mohon, kembalilah” air mata taeyeon mengalir lagi dan tentu saja kris tidak tega melihatnya.

“Baiklah, jaga dirimu” Kris mengusap kepala taeyeon lalu pergi.

Seperninggal kris taeyeon langsung berlari memasuki rumahnya,”Appaaa . . “ Teriak taeyeon. Entah kenapa rumahnya sangat sepi, bahkan penjaga gerbang saja tidak ada.

Taeyeon membuka pintu rumahnya sangat gelap, namun tiba- tiba lampu menyala dan . . .

 

^^TBC^^

Hi readers maaf yah karena sepertinya aku akan hiatus, soalnya aku harus focus ke Ujian. Tapi, tenang aja kok nanti aku akan berusaha nulis di waktu luangku. . . .

And makasih buat gingers posternya yah . . .

Semoga kalian senang dengan karya- karyaku . . .

56 thoughts on “[Freelance] Between Two Options (Chapter 6)

  1. Ne, Annyeong Haseyo!
    Vini Imnida, salam kenal new reader here but i like your ff dan cerita nya gk membosankan, slalu ada kejutan di setiap chapnya mianhae gk comment di prev chap dan untk di next part saya pasti comment
    so, ppali next chapnya!

  2. Kyaaaa thor nexttt
    Jgn lama2 udh gk sabar nunggu kelanjutannya
    Kayanya nanti pada ngerebutin taeyeon#so tau
    kkk~

    Fighting thor buat chapter selanjutnya

  3. waahh kejutannya luhan nihh kayaknya ,semoga aja akhirnya klo ga sama sehun ya sama Luhan ,, bagus thor bikin penasarn lanjutannya, lanjut cepet yaa >.<

  4. Huntae moment’ya itu lohh kyaaaa so sweet aduh tiffany jgan terpengaruh dehh sma yoona cs huh dia suka am luhan psti nanti bakaln ad msalah deh ama taeng tiff secara luhan kan syang bgt am taeng,,, kris perjuanganmu hebat dehhh… Ad chaenyol dsni tp knapa cuman bntar makin seruu dehhh next dlanjut scepatnya

  5. Aaiiiisssss
    TBC…TBC….TBC…
    Wah luhan dan yampe seoul makin seru nih
    author yang cepet ya lanjutinya.ff ini adalah salah satu ff yang selalu kutunggu kelanjutanya
    so..
    fightink ^_^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s