TETRAGON [THREE]

TERTAGON

[CHAPTER 3]

Poster - Tetragon

 [Oh, ini yang namanya Park Chanyeol? Tidak buruk. Lumayan. Tidak. Dia tampan]

[ Length: Chaptered – Rating: G – Cast: Chanyeol & Sooyoung – Genre: Angst ]

 [Author:  Genie ]

Musim semi telah tiba. Dedaunan meninggalkan ranting pohon, mereka jatuh ke tanah. Menumpuk disana bagai lautan. Bola mathari bertengger malas di atas langit, sinarnya tidak terlalu menusuk panas dikulit. Jongin dan Kris duduk dibangku pinggir lapangan. Sebenarnya Jongin sedang menunggu kelas Yoona selesai sedangkan Kris waktu latihan basketnya dimulai beberapa menit lagi.

 

Semenjak lulus SMA ketiganya mendaftar dikampus yang sama meskipun berbeda jurusan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali Jongin dan Kris duduk berdua, berbagi cerita mengenai hari-hari mereka.

 

“Sooyoung apa kabar?”

 

“Yoona meminta temannya di Seoul  membantu Sooyoung beradaptasi  disana. Jadi aku pikir dia pasti melewatinya dengan baik”

 

“baguslah kalo begitu. Sepupumu itu sangat kikuk masalah beradaptasi dengan lingkungan baru kan? aku takut dia tidak punya teman sama sekali disana sampai kalian harus terbang ke Seoul demi  mencarikan sahabat untuknya” canda Kris menghasilkan suara tawa kecil meluncur dari mulutnya juga Jongin.

 

you knew her well, Kris. Kau sendiri bagaimana? Sudah menemukan kekasih baru?”  ada jeda cukup lama diantara keduanya akibat pertanyaan Jongin barusan.

 

“Dia tidak akan kembali padamu, kau tahu akan hal itu” kata-kata Jongin itu mungkin terdengar kasar, tetapi Jongin lebih baik mengatakan jujur menyakitkan dari pada bahagia atas sebuah kebohongan. Dia tidak mau memberi harapan yang jelas-jelas sudah tidak ada  untuk Kris. Sooyoung dan Kris tidak pernah bisa kembali menjadi sepasang kekasih. Itu adalah kenyataan yang tidak terelakan.

 

Bila mungkin, terjadipun itu hanya akan membuat Kris patah hati lagi. Sooyoung tidak pernah mencintai Kris sebesar lelaki tinggi itu mencintai Sooyoung. Alasan mereka sempat menjalin hubungan adalah Kris ada disaat Sooyoung benar-benar lelah dipermainkan oleh Sehun.

 

Jika harus dijabarkan lebih jelas, Kris hanyalah pelarian bagi Sooyoung.

 

“aku tahu, Jongin, aku tahu. Sangat tahu. Hanya belum menemukan seseorang yang cocok, itu saja”

 

“butuh bantuan? Yoona punya banyak teman jomblo untuk dijodohkan denganmu”

 

“aku tidak semenyedihkan itu, Kim Jongin” Kris sengaja memasang wajah datar tanpa ekpresinya. Membuat tawa meluncur dari mulut Jongin untuk yang kedua kalinya.

 

“JONGIN-AH!!!” keduanya menoleh bersamaa ke arah sumber suara.

 

“sudah selesai?” Jongib bangkit dari duduknya, melempar kaleng minuman yang sudah kosong masuk tepat kedalam tong sampah alumunium tidak jauh dari tempatnya berdiri lalu mengambil tumpukan buku tebal dari dekapan Yoona.

 

“Yup dan maaf terlambat, profesor Cho tidak mau melepaskanku sampai papper selesai. Halo Kris! masih ada kuliah? Tanya Yoona.

 

“tidak. Cuma mau latihan basket sebentar lagi”

 

“Oke, kami pulang duluan kalo begitu” pamit Yoona melambaikan sebelah tangan ke arah Kris.

 

“sampai jumpa, Kris” kata Jongin yang dibalas Kris melalui sebuah anggukan kecil. Kemudian sepasang kekasih itu melangkah pergi.

 

“OH!” Yoona tiba-tiba berhenti, tubuhnya berputar menghadap Kris yang masih berdiri memandang kearah keduanya. Jarak mereka masih belum terlalu jauh.

 

“nanti kami mau skype bersama Sooyoung, ingin aku mengatakan sesuatu untuknya?” tanya Yoona. Butuh beberapa detik sampai akhirnya Kris menjawab pertanyaan Yoona.

 

“sampaikan pada Sooyoung untuk mengingat jalan-jalan di Seoul dengan benar agar dia tidak tersesat”

 

“itu saja?”

 

Dan aku akan selalu mencintainya.

 

“Itu saja” tandas Kris bersamaan seulas senyum kecil memenuhi wajah.

 

“Oke, akan aku sampaikan” keduanya mulai melangkah lagi, semakin jauh hingga seutuhnya hilang dari pandangan Kris diujung lorong. Meninggalkan dia dibelakang, banyak kata yang ingin disampaikan sebenarnya. Namun Kris sadar, dia cuma punya satu kesempatan dan kesempatan tersebut telah lama hilang darinya.

 

Hidup sungguh tidak adil, setiap manusia  katanya memiliki kesempatan kedua, kenapa dia tidak?

***

“Sampi jumpa besok, Sooyoung. Ingat aku jemput jam 8 tepat” kata Jessica dari balik kemudi mobil.

 

“oke, Jessica. Hati-hati dijalan”

 

bye, Sooyoung” itu Tiffany dan Taeyeon bersamaan. Sooyoung melangkah masuk menuju gedung apartement ketika mobil Jessica sudah melaju pergi. Sesampainya dikamar apartementnya, dia langsung menuju kamar mandi. Menghabiskan hampir satu jam penuh disana, dia keluar dari dalam mengenakan setelan piyama tidur berwarna peach bercorak bunga dandelion besar-besar.

 

Dia merangkak naik keatas kasur berseprai hijau tua membawa serta laptopnya. Kemudian, sambil menunggu laptop menyala dia meraih ponsel diatas meja kecil disamping kasur. Ada beberapa pesan baru nampak dilayar dan Sooyoung berdecak kecil membaca isinya.

From: Jongin Kim

Dimana kau?

From: Jongin Kim

Hei, kami berdua sudah dirumah. Cepat aktifkan skype-mu.

From: Jongin Kim

Aku serius, Choi Sooyoung. Lima menit lagi kau tidak mengaktifkan skype-mu maka aku tidur. Jangan harap ada Sykpe hingga akhir bulan.

From: Jongin Kim

Maksudku AKHIR BULAN DEPAN.

Alih-alih membalas pesan dahulu Sooyoung malah meletakan ponsel kembail keatas meja, jemari-jemari panjangnya bergerak lincah diatas keyboard lapotp, membuka skypenya lalu men-gklik “call” di akun Jongin. Baru dua kali dering dia sudah bisa mendengar suara serta melihat wajah Jongin memenuhi layar laptopnya.

 

“ini sudah lewat satu jam, Sooyoung”

 

“dan kau masih menjawab panggilanku, Jongin”

 

“tentu saja, Yoona tidak mau tidur sampai kau menghubungi” kata Jongin kemudian menguap lebar. Tipikal Jongin sekali. Mana mau dia mengaku bahwa sebenarnya sedari tadi dia sedikit khawatir menunggu panggilan Sooyoung.

 

Soalnya, Sooyoung tidak pernah mengingkari janji kalo bukan sesuatu darurat atau kejadian buruk menimpanya dan Kim Jongin benci membayangkan hal buruk terjadi pada sepupu kesayangannya ketika mereka berada dibeda negara seperti ini.

 

“sepertinya disana matahari masih bersinar, Kim Jongin.  Mana Yoona?” tanya Sooyung tidak mendapati sosok Yoona.

 

“Im Yoona!” Jongin setengah berteriak. Hanya butuh beberapa detik bagi Sooyoung  bisa mendengar derap langkah berlari mendekat sampai sosok Yoona muncul disisi kiri Jongin. Sedikit menggeser tubuh Jongin yang sebelumnya mendominasi layar.

 

“halo, Sooyoung! Kau baru pulang? Bagaimana kampus? Apakah Jessica mengenalkanmu pada orang lain?” Yoona melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus dalam satu kalimat.

 

“Hei, satu-satu Im Yoona. Kau terdengar seperti ibu yang khawatir melepas anak gadisnya pergi kuliah seorang diri dinegara antah-berantah” timpal Jongin datar. Dia mendapati sebuah jitakan kecil dikepala akibat kata-katanya itu.

 

“lebih baik dari pada kau yang malah mengomelinya” balas Yoona menatap Jongin tajam. Sooyoung tertawa kecil melihat kelakuan keduanya.

 

“kampus sudah selesai sedari tadi, Jessica, Tiffany dan Taeyeon mengajakku makan diluar dulu. Kampus cukup menyenangkan untuk hari pertama. Jessica banyak membantuku beradaptasi”

“benarkah? Aku akan menelponnya nanti” jawab Yoona, kedua bola matanya nampak berbinar. Obrolan ketiganya terus mengalir seiring malam semakin pekat di Seoul sedangkan di London matahari baru beranjak turun. Tergantikan oleh bulan dan hamparan bintang memenuhi langit.

 

“Aku hubungi besok lagi”

 

“Ah, Sooyoung aku hampir lupa. Tadi kami bertemu Kris dia berpesan agar kau mengingat jalan-jalan Seoul dengan benar. Jangan sampai tersesat katanya” Sooyoung mengulum senyum mendengarnya.

 

“sampaikan pada Kris, untuk tidak terlalu sering minum susu juga melompat waktu main basket. Dia sudah terlalu tinggi, tahu”

 

“akan aku sampaikan” sahut Yoona setengah tertawa.

 

“Jaga dirimu, Sooyoung. Jangan terlalu pendiam, sedikit ramahlah pada lingkungan jadi tidak ada yang merasa canggung memulai obrolan dan mau menjadi temanmu” celetuk Jongin. kepalanya jatuh dipundak Yoona dengan kedua mata tertutup.

 

“wah barusan itu kalimat terpanjang yang kau ucapkan malam ini, kau tahu?” goda Sooyoung.

 

goodnight, Sooyoung-ah” kalimat itu mengakhiri panggilan.

***

Jessica benar-benar datang menjemputnya jam 8 pagi setelah sebelumnya mengirimi Sooyoung beberapa pesan yang membuat dia tidak menyangka bahwa Jessica gadis yang selalu memasang tampang cuek diwajah cantiknya memiliki kepribadian sedikit— katakanlah unik.

07:15 am

Sooyoung baru bangun tidur.

From: Jessica Jung

Sooyoung-ah! aku mau mandi sekarang. Ingat jam 8 tepat aku sudah ada bawah apartemenmu.

07:30

Sooyoung baru selesai mandi.

From: Jessica Jung

Sooyoung-ah! aku sudah didalam mobil, sebentar lagi aku berangkat. Ingat jam 8 tepat aku sudah ada bawah apartemenmu.

07:50

Sooyoung sudah rapi tinggal menyantap roti bakar selesai blueberry.

From: Jessica Jung

Sooyoung-ah! sebentar lagi aku tiba disana. Tinggal satu belokan, lurus daaan tada! Ingat jam 8 tepat aku sudah ada bawah apartemenmu.

07:59

Sooyoung bersiap meninggalkan apartemennya.

From: Jessica Jung

Sooyoung-ah! Ingat jam 8 tepat aku sudah ada bawah apartemenmu.

Dan beberapa detik kemudian Sooyoung mendengar bunyi klakson dari bawah. Tidak perlu menengok dahulupun dia tahu kepada siapa nyaring klakson itu diperuntukkan, melihat jarum pendek diarlojinya berada diangka delapan.

***

Susana kampus tidak terlalu ramai waktu mereka tiba. Lapangan Parkir sendiri masih terlihat lenggang hanya ada beberapa mobil terparkir. Kedunya bertemu Tiffany dan Taeyeon dilorong mengarah kelas mereka dilantai 3 gedung A kampus.

 

Sesampainya dikelas, Taeyeon menyeret langkah kecilnya masuk kebagian pojok kelas. Dibangku ketiga dari belakang. Tempat Byun Baekhyun—kekasihnya duduk berdua Kim Jongdae. Menyadari sosok Taeyeon mendekat, Baekhyun langsung berdiri, sebelah tangan tersembunyi dibelakang tubuh kecilnya.

 

Morning Sunshine” sapanya lembut ketika berhadapan Taeyeon. Jarak mereka tinggal terpaut beberapa inci. Senyum manis segera terbentuk diwajah Taeyeon mendengar Baekhyun memanggilnya seperti itu.

 

Oh, Taeyeon sudah tidak marah lagi pada Baekhyun ternyata.

 

“Ini agar matahariku bersinar lebih terang” tambahnya menyelipkan sebuah bunga mawar yang sedari tadi dia sembunyikan dibalik tubuh ke daun telinga kanan Taeyeon. Sekarang, semburat merah mulai nampak mewarnai kedua pipi sang gadis.

 

“Baekhyun, tolong. Ini masih terlalu pagi merusak mood melihat kelakuan gombalmu” kata Jessica mengganggu moment dua sejoli tersebut.

***

Setengah jam kemudian kelas sudah penuh, seorang dosen laki-laki berusia tiga puluhan awal berdiri tegap didepan kelas. Mengenakan celana jeans berwarna biru laut dipadu kemeja putih polos, kedua lengan kemeja dilipat hingga atas siku serta satu kancing atas terbuka. Terlihat formal tetapi juga santai disaat bersamaan.

 

Taeyeon tentu saja duduk berdua Baekhyun dibangku pojok, ketiga dari depan. Diseberang tempat duduk ada Jessica dan Sooyung dan dibelakang mereka duduk manis Jongdae bersama lelaki tinggi yang kemarin mendapat hukuman bernyanyi akibat terlambat dari profesor Boa—Sooyoung tidak tahu siapa namanya, atau dia sudah tapi tapi lupa? entahlah.

 

“Halo, aku Choi Siwon. Kalian bisa memanggilku profesor Choi. Dosen pendamping mata kuliah fotografi. Kelas ini akan menghabiskan lebih banyak waktu diluar ruangan. Praktek mulai minggu depan, tempatnya Namsan Tower. Kalian aku bagi menjadi beberapa kelompok dan nantinya setiap kelompok harus mengumpulkan lima foto berbeda dari sudut maupun keindahan Namsan Tower”  profesor Choi beralih pada buku absen kelas, mulai membagi mahasiswa dalam kelompok kecil secara acak.

 

“dia dosen baru ya? aku belum pernah melihatnya” tanya Tiffany, sepasang bola matanya menatap profesor Choi intens.

 

“kau itu mahasiswa baru Tiffany Hwang. Gaya bicaramu seakan-akan kau mengenal semua dosen kampus —dan berhenti menatap profesor Chois seperti itu!” suara Jessica agak naik pada kalimat terakhir.

 

“memangnya kenapa? dia kan tampan”

 

“dia profesormu, Tiffany”

 

“lalu?”

 

“lalu? Astaga Hwang Tiffany kau—YA! dia—“ Jessica tidak menyelesaikan kalimat protesnya karena suara profesor Choi menyebut nama Tiffany. Membuat gadis target amukan Jessica beralih ke teman kelompoknya, Kim Jongdae.

 

“Selanjutnya Park Chanyeol, Choi Sooyoung dan terakhir Kim Taeyeon, Byun Baekhyun dan Jessica Jung” nah, sekarang berkumpul bersama teman kelompok kalian, diskusikan mengenai Namsan Tower minggu depan. Oh! Juga aku minta tiap kelompok buat artikel melengkapi gambar yang nantinya kalian ambil. Anggap diri kalian seorang fotografer majalah pariwisata. Pastikan gambar dan artikel semenarik mungkin agar menarik minat pembaca mau datang ke Namsan Tower. Ada pertanyaan?

 

“Profesor!” itu suara Kim Jongdae, dia mengacungkan tangannya kelewat tinggi. Persisi seperti murid TK yang kalo menjawab benar pertanyaan gurunya mendapat hadiah lolipop.

 

“masalah kamera, harus kamera profesional?”

 

“sayangnya—ya. Kalian harus membawa DSLR karena inilah guna kelas fotografi. Membantu kalian yang tidak bisa mengopersikannya menjadi bisa. Tidak harus beli, pinjam saja pada teman, keluarga atau kalian bisa menyewa. Dikampus ini ada kan tempat penyewaan DSLR?”  Jongdae menganggukkan kepalanya—tanda mengerti.

 

“ada pertanyaan lagi? Manik mata profesor Choi bergulir keseluruh mahasiswa kelas. Tidak ada yang bersuara atau sekedar mengacungkan tangan lagi.

 

“baiklah, kalian bisa mulai diskusinya. Berkumpul dengan teman kelompok” perintahnya segera dituruti menyebabkan kelas sedikit gaduh, mahasiswa berjalan kesana kemari, menarik kursi meja mencari posisi nyaman guna memulai sesi diskusi mereka.

 

“Taeyeon-ah kita satu kelompok” Baekhyun tersenyum lebar.

 

“aku juga satu kelompok denganmu, Byun bodoh Baekhyun” suara datar Jessica seketika memudarkan senyuman Baekhyun. Dia memutar tubuh menghadap langsung ke Jessica yang baru saja duduk dibangku depannya.

 

“Kau—Baekhyun hendak membalas kalimat  yang mengatainya ‘Byun bodoh Baekhyun’ tetapi Jessica mendahului, bahkan sebelum Baekhyun sempat memulai kalimatnya.

 

“Iya Baekhyun bukan hanya kau yang tidak suka dengan kelompok ini. Uh, sebenanrnya jauh lebih baik jika hanya ada aku dan Taeyeon tapi mau gimana lagi? Terima saja, oke? Jangan mulai bersikap menyebalkan, kerjakan saja bagian kita masing-masing. Aku jamin tidak ada yang terluka. Kau mengerti?

***

Sooyung hanya duduk dibangkunya ketika yang lain sibuk mencari teman kelompoknya. Dia tidak tahu harus kemana soalnya….. Dia tidak tahu mana yang namanya Park Chanyeol.

 

“Sooyoung?” suara yang memanggil namanya terdengar berat—sedikit serak, mungkin. Sooyoung menoleh kesisi kiri tempat Jessica tadi duduk. Ada seorang lelaki tinggi—nyaris setinggi Kris  mengenakan kemeja hijau daun berdiri, memandangnya dengan pandangan memastikan—apakah nama barusan benar atau salah.

 

Sooyoung mengerjapkan kelopak mata satu kali “ya?” dia balas menatap sang lelaki.

 

“kau Sooyoung? Choi Sooyoung?” walau tidak yakin Sooyoung menganggukan kepala sebagai jawaban pertanyaan.

 

“aku teman kelompokmu” nada suaranya terdengar riang sambil bergerak duduk dibangku kosong samping Sooyoung.

 

Oh, ini yang namanya Park Chanyeol? Tidak buruk. Lumayan. Tidak. Dia tampan.

 

“Park Chanyeol” suaranya terdengar lagi kali ini sebelah tangan terlurus lurus kearah Sooyoung dilengkapi seulas senyuman.

 

“Choi Sooyoung” katanya sambil menyambut uluran tangan Chanyeol. Menggengamnya sedikit.

 

“Senang berkenalan denganmu, Sooyoung”

***

Satu hal yang paling Oh Sehun benci dari wanita adalah sikap cemburu—posesif yang teralu berlebihan. Dari dulu dia tidak pernah mau menjalani hubungan bersama wanita posesif. Baru menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih saja sudah berani mengaturnya untuk tidak melakukan ini-itu. Apalagi kalo sudah menjadi sepasang suami-istri? Bisa-bisa ada rantai melingkar dilehernya. Hanya saja, kali ini takdir mempermainkannya.

 

Oh Sehun jatuh cinta pada Lee Sunny. Gadis paling posesif yang pernah ada dialam semesta.

 

Dia sedang mengemudi mobil—hendak mengantar Sunny pulang kerumah. Pandangannya lurus kedepan jalan raya, namun fokusnya tidak disana. Tidak pula pada gadis manis disisinya yang masih saja setengah berteriak. Sehun sampai tidak mendengar jelas lagi apa yang sebenarnya sedang Sunny katakan. “YA! Oh Sehun! lihat aku kalo aku sedang bicara padamu!” Lee Sunny pasti sudah gila. Sehun sedang mengemudi dan gadis ini mau dia mengengok padanya? Dia mau mereka berdua mati konyol? Astaga.

 

Noona, aku sedang mengemudi” jawabnya setenang mungkin—tanpa sadar memperkuat pegangan pada setir mobil yang sekarang tengah berhenti dibelakang lampu merah.

 

“kau itu tidak bisa ya kalo tidak menggoda adik kelasmu sekali saja? Kau pasti merasa tampan sekali kan, Oh Sehun?” kepala Sehun seketika mau meledak mendengar pertanyaan Sunny. Akar masalah mengapa Sunny berteriak tak terkendali seperti ini padanya hanya karena tadi dikafe waktu Sunny lagi kekamar mandi ada adik kelas Sehun­—seorang wanita ya—memang manis mengahampirinya. Obrolan mereka tidak terlalu penting, Sehun tahu adik kelasnya itu suka padanya tetapi dia sama sekali tidak tertarik. Dia punya Sunny.

 

Sayangnya Sunny yang tiba-tiba datang memandang adegan didepan matanya lain. Sehun tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan, tiba-tiba saja Sunny menarik tasnya lalu bergegas lari keluar kafe.

 

Maka disinilah mereka, sejak dari Sehun menghidupkan mesin mobilnya diparkiran kafe tadi hingga sekarang masih saja membahas masalah sama. Sehun tahu betul sekalipun dia mengatakan hal yang sebenarnya Sunny tidak mau mengerti. Yang gadis itu mau hanya menyalahkan Sehun atas sikap yang tidak dia lakukan.

 

Astaga Oh Sehun, kenapa bisa sih kau suka gadis seperti Sunny?

 

Sehun sada dari lamunannya begitu mendengar suara self-belt dan pintu mobil terbuka. Dia menoleh kesisi kanan dan dia terhenyak bersamaan pintu mobil tertutup dari luar. Sunny yang melakukannya dia turun tanpa aba-aba.

 

NOONA!!!” teriak Sehun frustasi. Dia baru mau membuka daun pintu disisinya juga namun suara nyaring klakson dari belakang menghentikannya. Dia mendongak mendapati warna lampu sudah berubah hijau. Sehun sekali lagi berteriak frustasi sebelum mulai menjalankan mobilnya, perlahan berhenti ditepi jalan lalu keluar tergesa-gesa.

 

Mengedarkan pandangan sejauh matanya bisa demi mencari sosok mungil Sunny tetapi sia-sia. Kekasihnya itu tidak tampak dimana-mana. Sehun kembali kedalam mobil, memukul setir keras. Meluapkan emosinya.

 

Kenapa?! kenapa dia bisa jatuh cinta pada gadis yang memiliki sifat yang paling dia benci? Kenapa?! kenapa dia tidak bisa marah pada Sunny sekalipun gadis itu selalu bersikap posesif padanya? Menyalahkan Sehun atas hal-hal kecil? Tidak pernah mau mendengarkan semua penjelasannya? Lama-lama Sehun bisa gila dibuatnya.

 

Jatuh cinta tidak pernah membuatnya sesengsara ini. Dulu ketika masih menjalani hubungan dengan Sooyoung mana pernah Sehun merasa bodoh dan tidak berguna begini—ah Sooyoung  ya? Sehun mengelurkan ponsel dari saku celana seragammnya, menekan layar beberapa kali kemudian dia dekatkan kedaun telinga. Menunggu seseorang disebrang menjawab panggilannya. Sudut-sudut bibirnya terangkat mengingat apa yang sedang otaknya pikirkan.

***

Seusai kuliah Jessica setuju menemani Sooyoung ketoko kamera membeli DSLR karena dia sendiri belum punya. Jadi disinilah sekarang mereka, tidak hanya ada Jessica dan Sooyoung tetapi juga Jongdae, Tiffany, Baekhyun Taeyeon dan Chanyeol. Semuanya mau membeli kamera DSLR kecuali Baekhyun. Dia sudah punya dan dia juga paham mengenai kamera. Anggap saja dia disini membantu kekasihnya dan teman-temannya memilih kamera yang sesuai.

 

“Kau tidak pernah mengoperasikan DSLR, Sooyoung?” Chanyeol tau-tau saja muncul disamping Sooyoung yang tengah asik melihat berbagai macam lensa kamera.

 

“pernah dulu waktu masih tinggal di London” Jongin punya satu. Sooyoung tidak tahu apa mereknya yang pasti Jongin punya berbagai macam lensa yang menunjang hasil maksimal setiap karyanya. Makanya, Jongin langsung cerewet kalo Sooyoung mulai tertarik dengan kamera dan lensa-lensanya.

 

“jangan sembarangan pegang, Choi Sooyoung! Bersihkan tanganmu! Itu Mahal! Kubunuh kau sampai lensanya kotor”

 

“kau punya DSLR?”

 

“sepupuku. Kau sendiri?”

 

“DSLR? Tidak pernah. Hanya kamera digital” keduanya merajut langkah kesisi lain toko, ke etalase dimana berbagai jenis DSLR berbaring. Sooyoung tidak menutupi rasa terkejutnya melihat harga benda tersebut.

 

Pantas saja Jongin cerewet begitu.

 

“Sooyoung-ah, mengenai Namsan Tower. Kita mau memotrait apa?” Chanyeol bertanya lagi sambil bola mata bergulir disepanjang etalase. Memilah kamera jenias apa yang sekiranya cocok untuknya.

 

“ah masalah itu, Chanyeol aku—kau tahu kan aku baru saja pindah dari London?” Sooyoung menggerakan tubuh menghadap Chanyeol. Yang sedang diajak bicara ikut memutar tubuh sehingga kini keduanya berdiri berhadapan. Terpaut jarak hanya beberapa inci.

 

“aku tidak pernah ke Namsan Tower” tambah Sooyoung sedikit berbisik, ekspresi wajahnya terlihat malu-malu. Mau gimana lagi? Dia mungkin lahir di Seoul namun sejak kecil dia sudah menghirup udara London. Kalo bukan karena profesor Choi kemungkinan sampai sekarang dia tidak tahu apa itu Namsan Tower.

 

Chanyeol tidak langsung berekasi. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, kepalanya sedikit miring kekanan, dahinya menampilkan beberapa lipatan yang menurut Sooyoung terlihat—lucu. “AH!” lalu Chanyeol setengah berteriak.

 

“kau benar. Maaf, aku lupa kau tinggal di London ya?” Chanyeol melemparkan tawa kecil, yang terdengar tidak kecil karena suara beratnya.

 

“begini saja, aku cetak dulu beberapa foto dari Namsan Tower terus kita bahas lagi. Nanti aku akan jelaskan sedikit tentang Namsan Tower. Gimana?” sepasang iris coklat Chanyeol tampak bersinar ketika dia bicara, seperti baru menyelesaikan soal matematik yang paling sulit. Mau tidak mau Sooyoung mengulum senyum melihat kelakuannya.

 

“tidak buruk”

 

“oke! Besok aku bawa ya!”

 

“terima kasih Chanyeol”

 

“tidak masalah, kita kan teman kelompok!” kali ini Chanyeol mengangkat sebelah tangan keudara, senyumannya berubah menjadi semakin lebar. Menunjukkan deretan gigi putih rapinya.

 

“kelompok” balas Sooyoung cepat menerima tawaran high-five Chanyeol. Tangan keduanya saling menggenggam—menggantung diudara. Menatap satu lain sambil tertawa. Hingga tiba-tiba nada dering ponsel Sooyoung terdengar. Memaksa kedua tangan yang sempat menyatu terpisah.

 

Sooyoung menarik keluar ponsel dari saku belakang celana, menekan tanda ‘yes’ tanpa melihat nama yang tertera dilayar.

 

“halo” katanya kembali menatap ke manik mata Chanyeol yang masih menatap miliknya. Suasana hati Sooyoung sedang bagus, senyuman tidak tinggal diwajah tirusnya.

 

“noona?” namun seketika senyumannya hilang, seluruh sistem syarafnya dibuat berhenti bekerja mendengar suara dari seberang ponsel. Waktu tidak akan pernah bisa membuat Sooyoung lupa siapa pemilik suara itu.

 

“noona? Ini aku Oh Sehun”

—TBC—

A/N: fyuuuh akhirnya chapter ini selesai juga daaan ga nyangka kalo bakal sepanjang ini.aku tahu bahkan di chapter ini momen chanyeol-sooyoung ga banyak…. maaf ;-; diusahakn chapter selanjutnya lebih banyak! Sama makasih buat kalian yg masih setia nungguin tetragon walau aku kelewat lama updatenya hehehe by the way it’s unedit underline ma mistake, i’ll fix it later ^-^ – Genie.

32 thoughts on “TETRAGON [THREE]

    • huaaaaah maafin akuh ;-; soalnya udah mulai kuliah lagi, aku aktif komunitas dan ukm kampus jadi waktu banyak kesita disana
      huhuhu diusahain cepet ya cuma sebulan sekali aku pasti update kok, JANJI!
      thanks by the way! ^-^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s