Friend Zone

Friendzone01

Tittle                      : Friend Zone

Author             : Liimeey transformed from J.M.A

Main Cast            : Tiffany Hwang (Snsd) & Kim Suho (EXO)

Other Cast          : Choi Sooyoung (Snsd) & Lee Sunny (Snsd)

Length                  : Oneshoot (2.280 word)

Genre                   : Romance, Friendship, & Sad.

Rating                   : PG-13

Note                      : Annyeong Jasmine comeback^^. Kali ini Jasmine muncul dengan drabble gaje yang bercast SuFany hehe. Mianhae kalo banyak typo, alur ceritanya gaje, ga dapet feel, dan lain-lain.

Don’t be SILENT READERS, Don’t Bash, Don’t PLAGIARISM,& Don’t forget to RCL ^^. Mianhae banyak bacot langsung aja HAPPY READING! ^o^

Warning               : Fanfic ini murni hasil buatanku, terinpirasi dari beberapa lagu, fanfic,dan khayalan gaje Jasmine. Do not like the cast? DON’T READ THIS FANFIC!

Summary             :

Aku tak pernah menyesal memiliki perasaan padanya, walau ada sedikit rasa kecewa akanku jadikan biasa.

Tiffany Hwang

Perasaan cinta akan tumbuh karena terbiasa dan karena selalu bersama.

– Choi Sooyoung

 

Tiffany POV

Cinta?

Mengapa harus ada cinta di dunia ini? Aku heran bagaimana bisa aku jatuh cinta pada lelaki itu? Lelaki yang selalu berada di dekatku, ya sepertinya aku mulai jatuh dalam pesonanya. Tapi mengapa perasaan ini datang secara tiba-tiba?

Aku benci ketika aku tidak bisa lagi berada di dekatnya berlama-lama, memandang wajahnya, atau melakukan percakapan dengannya karena detak jantungku yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Aku hanya ingin seperti dulu sebelum aku memiliki perasaan padanya, salahkah aku bila memendam perasaan pada sahabatku Kim Suho?

Terkadang aku sedikit kecewa ketika ia sedang bersama teman sekelasnya yang bernama Lee Sunny, mereka terlihat sangat akrab. Tapi aku tak pernah menyesal memiliki perasaan padanya, walau ada sedikit rasa kecewa akanku jadikan biasa.

Seperti saat ini aku berada dikantin seorang diri, biasanya Suho akan menemaniku tapi hari ini dia tidak bisa. Dan dia bilang padaku bahwa ‘minggu depan aku ada ujian jadi aku harus mencari materinya dahulu bersama Sunny’, mengapa harus bersama Sunny? Mengapa tidak bersamaku? Apakah seorang Lee Sunny lebih pantas untukmu dibandingkan aku Kim Suho?

Yak! Mengapa kau terlihat sangat lesu hari ini Tiffany Hwang?”, ucap seorang perempuan bertubuh jangkung, dan membuatku berhasil kembali ke dunia nyata.

Eoh? Aani, mungkin itu hanya perasaanmu saja Choi Sooyoung.”, ucapku bohong dan kembali memakan sandwich pesananku. Kemudian Sooyoung duduk di kursi yang berada di hadapan Tiffany.

Aigoo! Miyoung kau tidak akan pernah bisa berbohong padaku. Jujurlah, apa kau lesu karena seorang Kim Suho lagi?”, ucap Sooyoung sambil mengangkat sumpitnya ke depan wajahku. Aish, mengapa aku bisa memiliki sahabat seperti Sooyoung. Tidak bisa kupungkiri bahwa Sooyoung adalah sahabat kecilku, jadi tidak heran bahwa ia bisa membaca isi pikiranku walau hanya melihat dari gelagatku atau ekspresi wajahku atau mataku.

Aish, mengapa kau selalu benar Summer?”, ucapku pada Sooyoung atau yang biasa kupanggil Summer sebagai nama panggilan akrab kami sebagai sahabat dari kecil, dan Sooyoung akan memanggilku dengan Miyoung.

Sooyoung hanya terkekeh mendengar ucapanku, kemudian ia meminum sedikit air mineralnya. “Tanpa kau beritahu pun, aku sudah tahu alasannya bukan? Kkk~.”, aku hanya cemberut mendengar jawabannya.

“Tapi Summer-ah, apa aku salah jika aku memendam sebuah perasaan yang bernama cinta itu padanya?”, tanyaku pada Sooyoung, yang kutanya hanya melihatku dengan pandangan heran kemudian tersenyum lembut. Senyuman dari seorang sahabat yang selalu membuatku tenang disaat tengah bimbang.

“Itu hal yang wajar Miyoung-ah, perasaan cinta akan tumbuh karena terbiasa dan karena selalu bersama.”, ucap Sooyoung sambil melahap kembali gimbapnya.

“Tapi jika aku menyatakan perasaanku padanya, aku tidak ingin merusak persahabatanku dengannya Summer-ah. ”

“Apa kau lebih suka memendam perasaanmu terus? Dan membiarkan rasa cemburu mengisi hatimu ketika melihat Suho dengan orang lain?”, ucapan Sooyoung membuatku terdiam beberapa saat.

“Lebih baik kau pikirkan matang-matang keputusanmu, aku akan selalu mendo’akanmu yang terbaik. Miyoung-ah fighting!”, lanjut Sooyoung sambil mengepalkan kedua tangannya memberi semangat padaku.

Thank you so much Summer-ah! You’re the best dear! Ne, fighting!”, ucapku sambil mengepalkan kedua tanganku dan memberikan eye smileku pada Sooyoung.

*****

Sudah 2 hari ini aku belum melakukan contact dengan Suho, biasanya ia akan segera menelponku atau memberi sebuah pesan singkat jika aku tidak memberi kabar padanya. Tapi sekarang? Tidak ada satu pun telpon atau sebuah pesan singkat darinya, sebenarnya ada apa dengan dia?

Waktu 3 hari kemarin ia seperti menghindar dariku dan terus bersama Sunny, apa dia sudah mengetahui tentang perasaanku padanya? Tapi hanya Sooyoung yang tahu perasaanku padanya, aku menjadi ragu kembali mengingat perasaanku dan statusku dengan Suho. Dan seminggu kemarin beredar gosip kalau Suho dan Sunny menjalin hubungan sepasang kekasih.

Sungguh aku tidak ingin merusak persahabatanku dengannya yang sudah terjalin sejak kelas 1 junior high school, dan mengapa pula aku dan Suho harus terjebak dalam friend zone?

Tiba-tiba handphoneku bergetar menandakan sebuah panggilan masuk, aku segera mengangkat telpon itu tanpa melihat id si-penelepon terlebih dahulu. “Yeoboseyo?”

Good evening Fany-ah, how are you?”, ucap seseorang di sebrang sana, pemilik suara ini adalah seseorang yang sangat kutunggu sejak tadi.

Good evening Suho-ah, i’m fine and you?”

“I’m fine too, by the way long time not see you in campus dear. I miss you so much Fany-ah.”, ucap Suho di sebrang sana, apa benar kau merindukanku Suho? Aku tidak ingin itu hanya omong kosong belakamu, aku tidak ingin terlalu berharap padamu. Karena itu akan membuatku semakin terluka.

“Ah, miss you too Suho-ah. Hmm Suho-ah.”

Yes, what happen Fany-ah?”

“Uh nothing, what are you doin now?”

Just read a book and talking with my beauty best friend.”

Who’s that Suho-ah?”

That’s you Fany-ah, and what are doin now?”

Just talking with you haha, hm Suho-ah sorry i should to sleep now.”

Okay, see you soon in campus Fany-ah! Sleep well, good night.”

Good night.”, dan percakapan singkat itu pun berakhir. Jika Suho merindukanku mengapa tidak dari kemarin ia memberi kabar padaku? Why love very confused?

*****

3 days later

“Tiffany-ssi!”, panggil suara seorang perempuan dari arah belakangku.

Aku pun menolehkan kepala kearahnya yang sedang berjalan kearahku. “Ne, wae Sunny-ssi?”

“Tadi Suho menitipkan pesan untukmu, katanya hari ini ia tidak bisa menemanimu membeli buku karena ia harus melakukan survey untuk skripsinya. Jadi dengan terpaksa kau pergi sendiri ke toko bukunya.”, ucap Sunny sambil membaca pesan dari Suho di handphone-nya. Mengapa ia harus memberitahunya lewat Sunny? Mengapa tidak langsung memberitahunya padaku?

“Uhm baiklah, gomawo atas pesannya Sunny-ssi.”, ucapku sambil mengulum senyum tipis padanya.

“Ne, aku ingin ke kantin dulu Tiffany-ssi. Annyeong.”, “Annyeong Sunny-ssi.”, sepeninggalannya Sunny aku segera melangkahkan kakiku menuju taman kampus yang sejuk.

Aku pun mendudukan diriku dibawah pohon mapple yang rindang, angin sejuk berhembusan menerbangkan beberapa helai rambutku. Apa anak jurusan ekonomi sesibuk itu? Dan mengapa waktuku untuk bersama Suho semakin berkurang? Aku merindukan suaranya, tawanya, candanya, keisengannya, yang jelas aku merindukan semua tentangnya.

Apa dengan berkurangnya waktu kebersamaan kami, itu menandakan bahwa aku dan Suho bukanlah jodoh? Aku harap masih ada kesempatan untukku, ya aku harus berusaha agar bisa mendapatkan hati Suho.

“Mengapa kau tadi lesu sekarang senyam-senyum sendiri, like an idiot people Miyoung-ah?”, ucap Sooyoung yang entah sejak kapan sudah duduk disebelahku sambil mengunyah permen karet.

“Sejak kapan kau berada di situ Summer-ah?”, tanyaku balik.

“Aku yang bertanya terlebih dahulu, mengapa kau melontarkan pertanyaan lagi dan bukan menjawab pertanyaanku?”, ucap Sooyoung sambil memukul kepalaku dengan gulungan kertas.

Yak! Appo! Mengapa kau memukulku dengan gulungan kertas itu?”

“Karena kau tidak menjawab pertanyaanku Mrs. Hwang.”

“Aish, aku tadi memikirkannya lagi. Aku kira dengan semakin berkurangnya waktu kami bersama, itu menandakan bahwa kita bukan jodoh.”

“Mengapa kau mengambil kesimpulan seperti itu Miyoung-ah?”

“Bukankah katamu cinta akan tumbuh karena terbiasa dan karena selalu bersama? Kini aku sudah tidak terlalu biasa lagi dengan kehadirannya di sampingku dan waktu kita bertemu saja sudah berkurang.”

“Mungkin saja Tuhan sedang memberimu ujian dalam hal ini, rahasia Tuhan siapa yang tahu bukan? Percaya saja Miyoung-ah, aku yakin bahwa kau dan Suho memang jodoh.”, ucap Sooyoung sambil menepuk pundakku.

“Ne, gomawo Summer-ah. Apa kau lapar?”

“Sangat! Bagaimana jika kita makan di cafe dekat sini saja? Aku malas ke kantin.”

“Tapi kau yang traktir ne?”

Mwo? Dua hari yang lalu aku yang mentraktirmu, kini giliranmu yang mentraktirku Miyoung-ah. Jebal~.”, ucap Sooyoung sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan memasang tampang puppy eye yang menurutku gagal namun lucu.

Aish, baiklah. Kajja.”, ucapku sambil membantu Sooyoung untuk berdiri, dan kami pun berjalan menuju cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus ini.

Tapi tanpa mereka sadari ada seseorang yang duduk di balik pohon mapple itu, dan orang itu juga mendengar semua percakapan Tiffany dan Sooyoung. “Apa semua itu benar Tiffany?”

*****

“Miyoung-ah apa hari ini kau tidak ada kegiatan?”, ucap Sooyoung di sebrang sana. Kali ini kami sedang melakukan percakapan melalui saluran telpon.

“Hm kurasa tidak ada, memang ada apa Summer-ah?”, jawabku sambil masih memeluk guling.

“Temani aku membeli sesuatu di mall ne? Mau ya? Please~.”, ucap Sooyoung sambil bernada memelas disebrang sana.

“Baiklah, asalkan kau membayarku dengan membeliku makan siang, bagaimana?”

“Permintaan diterima Mrs. Hwang, tunggu aku sekitar 30 menit aku akan menjemputmu.”

Ne, bye.”, setelah percakapan singkat itu selesai aku segera mengganti pakaianku untuk jalan-jalan dengan Sooyoung, hitung-hitung refreshing kkk~.

Kini aku dan Sooyoung telah tiba di mall yang di maksud Sooyoung, sejak tadi kami sudah memutari beberapa lantai di mall ini namun belom ada satu pun barang yang kami beli. Tiba-tiba aku merasakan perasaan yang aneh. Entah perasaan apa itu, lebih baik aku mengabaikan perasaan itu.

“Miyoung-ah apa kau lapar?”, tanya Sooyoung sambil melihat-lihat etalase toko yang kami lewati.

Ne, ayolah kita beli makan dahulu. Aku sudah sangat lapar dan terlalu lelah menemanimu yang belum juga menemukan barang yang kau cari.”

Arraseo, kajja kita isi perut kita kkk~.”, ucap Sooyoung sambil menarik tanganku menuju sebuah restoran bernuansa French.

“Kau ingin memesan apa Miyoung-ah?”, ucap Sooyoung sambil memberikanku buku menu restoran tersebut.

“Aku pesan Souffle Cheesecake-Green Tea Swirl dan Green Smoothie, kau Summer-ah?”

“Aku pesan Pear-Fennel Soup dan Green Smoothie saja.”, ucap Sooyoung sambil memberikan buku menunya pada pelayan yang menulis pesananku dan Sooyoung.

“Baiklah tunggu sekitar 20 menit, permisi.”, ucap pelayan kemudian hilang dari hadapan kami.

“Tumben sekali kau mengajakku ke restoran bernuansa French, biasanya restoran America hahaha.”

“Hanya mencoba nuansa baru hahaha, oh ya Miyoung-ah. Apa ada kemajuan antara hubunganmu dan Suho?”

“Hhh, tidak ada. Aku sudah berusaha untuk menelponnya namun tidak pernah diangkat dan ketika di kampus ia seolah-olah menjauh dariku. Dan kelihatannya Sunny dan Suho terlihat semakin akrab, sepertinya gosip itu memang benar Summer-ah.”

Jinjja? Kau tidak boleh patah semangat Miyoung-ah! Fighting!”, ucap Sooyoung sambil menepuk bahuku. Namun terdengar suara kaget dari Sooyoung.

Oh my, Miyoung-ah bukankah itu Suho dan Sunny?”, tanya Sooyoung sambil menatap satu titik, aku pun mengikuti arah pandang Sooyoung namun tidak menemukan apa-apa.

Eodi Summer-ah?”

“Itu di toko perhiasan apa kau tidak melihatnya?”, ucap Sooyoung sambil menunjuk sebuah toko perhiasan di sebrang restoran ini. Kebetulan aku dan Sooyoung duduk di tempat yang dekat dengan kaca restoran ini.

“Y-ya aku melihatnya Summer-ah.”, ucapku lesu, disana rupanya Suho dan Sunny mereka terlihat sangat bahagia. Suho seperti memesan sebuah cincin dan kemudian cincin itu dipasang di jari manis Sunny. Sangat menyakitkan bukan?

“Miyoung-ah, are you okay?”, tanya Sooyoung yang melihat perubahan ekspresi wajahku.

“Hm i’m not okay dear, aku hanya ingin cepat pergi dari tempat ini. It’s really hurt Summer-ah.”

“Tapi Miyoung-ah kita sudah memesan makanan, lagi pula lebih baik kau makan dulu biar perutmu terisi dan bisa menangis sepuasnya nanti.”, ucap Sooyoung yang sebenarnya berusaha untuk menghiburku. Aku juga jadi merasa tidak enak juga bila tidak memakan makanan yang dibayar oleh Sooyoung tadi, sungguh sahabat macam apa aku ini?

“Baikalah, gomawo Summer-ah.”

*****

Sepulang dari mall tadi aku segera merebahkan diriku diatas kasurku yang empuk, dan menangis sejadi-jadinya. Ya Tuhan apa aku dan Suho memang jodoh? Mengapa rasanya sangat sakit seperti ini bila melihatnya dengan orang lain? Sebelumnya aku tidak pernah sesakit ini bila melihatnya dengan orang lain.

Jam dindingku sudah menunjukan pukul setengah 12 malam, namun mata ini belum bisa terpejam. Disaat aku hampir menutup mataku, bel apartemenku berbunyi.

Aish, siapa yang bertamu jam segini? Sungguh menganggu.”, ucapku memaki orang yang memencet bel tersebut, setibanya di depan pintu aku segera membuka pintu tersebut dan terlihat postur seorang lelaki yang sedang membelakangiku.

Mianhae, nuguseyo?”, ucapku sambil menepuk bahu lelaki itu, akhirnya lelaki itu memutar badannya sehingga aku bisa melihat wajahnya.

“Suho? Ada apa malam-malam datang ke apartemenku?”, tanyaku heran padanya, dia hanya tersenyum menjawab pertanyaanku. Mengapa dia harus menunjukan senyum manisnya dan itu membuat jantungku berdetak tidak normal.

“Ada yang ingin aku sampaikan padamu.”, ucap Suho sambil tetap tersenyum.

“Mengapa harus sekarang? Dan ini sudah malam Suho-ah, lebih baik kau sampaikan itu besok saja ne? Sekarang pulanglah.”, ucapku sambil mendorong tubuhnya kearah lift.

Ani, aku ingin menyampaikannya sekarang Tiffany-ah.”

“Hhh, baiklah kau ingin menyampaikan apa memang Suho-ah?”

“Maukah kau menjadi kekasihku?”, ucap Suho spontan dan itu membuatku sangat kaget.

M-mwo? Apa kau sedang mabuk Suho-ah?”, ucapku sambil menepuk pipinya pelan.

Ne, aku sedang mabuk karena cintamu Tiffany-ah.”

“Kau semakin aneh Suho-ah.”

“Aku serius Tiffany-ah, maukah kau menjadi kekasihku?”, ucap Suho sambil bersimpuh lutut dan memegang tanganku. Aku masih tidak percaya ini sungguhan.

“T-tapi bukankah kita hanya sepasang sahabat?”

“Aku sudah mengetahui semuanya Fany-ah, selama ini aku menghindar darimu karena jantungku berdetak dua kali lebih cepat bila berada disampingmu, melihat wajahmu, bahkan ketika mendengar suaramu. Jadi apa kau mau menjadi kekasihku atau tidak?”

Aku terdiam sejenak, sebelum menganggukan kepalaku dan menjawab. “Ya, aku mau menjadi kekasihmu Suho-ah.”

Mendengar itu Suho segera memelukku dan mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya, yang tidak lain adalah cincin.

“Bukankah itu cincin yang kau belikan untuk Sunny Suho-ah?”, ucapku ragu pada Suho, dia hanya menatapku heran kemudian tersenyum.

“Aku membeli cincin ini memang bersama Sunny, karena ukuran tangan kalian sama. Bukan berarti cincin untuk Sunny, Fany-ah.”, ucapnya sambil memakaikan cincin itu di jari manisku. Aku pun langsung memeluk Suho.

Gomawo Suho-ah kau sudah membalas perasaanku, saranghae.”

“Nado saranghae Fany-ah.”

“Tapi darimana kau tahu semuanya Suho-ah?”, tanyaku pada Suho.

“Apa kau ingat ketika kau dan Sooyoung sedang duduk dibawah pohon mapple di taman kampus?”

“Aku ingat, lalu?”

“Aku juga sedang berada disana saat itu, namun kau duduk diarah yang berlawanan denganku. Otomatis semua perbincanganmu dan Sooyoung dapat di dengar olehku Fany-ah.”

Mwo? Jadi kau mendengar semuanya? Dasar penguntit.”, ucapku sambil memukul bahu Suho.

“Tapi aku senang, perasaanku selama ini terbalaskan olehmu Fany-ah.”

“Hahahaha aku juga Suho-ah.”

“Aku tak menyangka kalian sangat manis sekali, seperti yang berada di dalam drama-drama betulkan Sunny-ah?”, ucap Sooyoung sambil keluar dari tempat persembunyian-nya.

Ne, Kau benar Sooyoung-ah , mereka sangat serasi dan manis.”, jawab Sunny pada Sooyoung ikut keluar dari tempat persembunyiannya.

Yak! Kalian sejak kapan berada disitu?”, tanya Tiffany yang tidak menyangka bahwa temannya berada di tempat tersebut.

“Sejak tadi, chukkae. Akhirnya kalian dapat bersatu kkk~.”, ucap Sunny pada Suho dan Tiffany.

“Chukkae uri Miyoung akhirnya menjadi kekasih Suho, kutunggu traktirannya kkk~.”, ucap Sooyoung sambil terkekeh.

Mwo? Kau ini aish!”

-End-

Hallo readers, apa kabar? Long time not see you ya hehehe.

Btw ffnya gimana nih? Gaje, aneh, hancur, absurd atau gimana? Jujur aja ini ff asli ngarang banget, tadinya mau sad ending eh malah jadi happy ending.

Jasmine juga mau minta maaf kalo banyak salah-salah kata alias typo dan kurang dapet feelnya, ditunggu ya commentnya hehe ^^

13 thoughts on “Friend Zone

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s