[Freelance] The Cursed Angel (Chapter 4)

The Cursed Angel

Author             :  _agrn

Main Cast        : Tiffany,Yoona, Jessica, Taeyeon, Seohyun
Suho, Luhan, Baekhyun, Kris, Sehun.

Genre              : Romance, Fantasy, Family, Angst, Friendship.

Rate                 : PG 15

Length             : Multichapter

A/N                 : Haihai~ I’m back~ masih adakah yang menunggu ff ini? Wkwk, Italic berarti suara Taeyeon atau Tiffany yah. Aku ga akan banyak omong deh, silahkan baca. Happy reading DON’T LIKE DON’T READ ya

oOoOoOo

Tubuh Taeyeon diam, begitu juga dengan batinnya. Keduanya seakan terbius oleh ucapan seorang Byun Baekhyun.

“Hei, gwenchana?”Baekhyun melambaikan tangannya didepan wajah Taeyeon, membuat yeoja itu mengerjapkan matanya sejenak

Tubuh Taeyeon sepertinya masih merasakan shock dengan perasaan tadi. Ia masih terdiam sambil memegangi kedua pipinya. Sementara batin Taeyeon sibuk meyakinkan dirinya kalau dia tidak merasakan hal itu pada Baekhyun.

“Tidak, aku tidak jatuh cinta pada Byun Baekhyun. Tidak mungkin”

“Apa dia baik-baik saja?”

Keduanya menoleh pada Kris yang baru saja datang dengan jas yang ia sampirkan di bahunya. Raut wajahnya terlihat lelah. Taeyeon tahu Kris berusaha keras untuk meladeni para orang tua menyebalkan itu.

“Ge…”Tubuh Taeyeon bergerak kearah Kris. Yeoja itu menatap Kris khawatir. Oh, mungkin tubuh Taeyeon memang sangat khawatir dengan Kris. Well, batin Taeyeon juga begitu.

Kris tersenyum simpul, lalu beralih menatap Baekhyun. “Apa dia tidak nakal?”

“Nakal apanya? Dia justru sangat manis. Dia mendengarkan ceritaku dengan baik, dan dia juga menyanggupinya dengan baik. Berbeda dengan Jessica yang jarang sekali ingin mendengarkan ceritaku. Dia menganggap semua cerita fiksiku hanya omong kosong. Dasar terlalu realistis”gerutu Baekhyun pada akhirnya.

“Sayangnya aku setuju dengan adikmu. Kau memang terlalu sering berfantasi Baekhyun-a”ujar Kris.

“Cih, dua orang yang terlalu realistis”ejek Baekhyun. “Yang penting kau tidak Taeyeon-a”Kali ini ia mengatakannya sambil tersenyum.

Deg!

Sekali lagi, jantung Taeyeon berhenti sedetik dan tubuhnya menahan nafasnya. Senyum itu membiusnya, sekali lagi membuatnya tidak bisa bergerak dan jantungnya berdetak sangat cepat.

“Taeyeon-a? Kenapa kau mematung begitu?”tanya Baekhyun lagi. Namun Taeyeon tetap tidak bisa bergerak. Benar yang dikatakan Baekhyun. Dia mematung. Mematung karena tidak kuasa menahan debaran jantungnya sendiri.

“Gwenchanayo?”Kini Kris menepuk pipinya pelan dan menatapnya khawatir.

Tubuh Taeyeon langsung menggeleng dan menunduk. Malu dengan semburat merah di pipinya. Astaga, sekarang Taeyeon yakin tubuhnya sedang merasa tersipu.

Baekhyun melirik jam tangannya lalu menatap Kris. “Aku permisi pulang dulu. Kasihan Jessica sendiri dirumah.”

Begitu Baekhyun hampir membuka pagar taman untuk keluar, tubuh Taeyeon bergerak untuk menahan lengannya hingga Baekhyun berhenti berjalan lalu menatapnya.

“Waeyo?”

Tubuh Taeyeon terdiam, bingung bagaimana ia harus mengatakannya. Akhirnya ia mengambil kapur yang biasa ia sembunyikan dibawah bangku taman. Ia mengambil batu lalu melukis sesuatu disana. Sementara Kris dan Baekhyun diam dan memperhatikan yeoja itu melukis.

Setelah beberapa menit, yeoja itu selesai melukis, lalu menunjukkan hasilnya pada Baekhyun dan Kris. Ia melukiskan seorang yeoja dan seorang namja yang tersenyum di sebuah taman. Dari pakaian yang dikenakannya, dapat diketahui bahwa mereka adalah Taeyeon dan Baekhyun.

Baekhyun terkekeh. “Kau mau aku datang bermain kesini lagi?”

Tubuh Taeyeon mengangguk polos. Baekhyun tersenyum lagi, membuat darah Taeyeon berdesir. “Aku akan datang lagi bersama Jessica lain kali. Kau senang bukan?”

Taeyeon mengangguk-angguk. Kemudian Baekhyun mengacak rambutnya pelan lalu pamit. Taeyeon terdiam lalu kembali melukis di batu-batu. Sementara Kris menatap Taeyeon dengan raut yang begitu serius. Rautnya begitu datar, tidak ada yang bisa membacanya. Namun semua orang pasti tahu, hal yang dipikirkannya pasti menyangkut sang adik. Taeyeon.

oOoOoOo

“Seohyun-a, ini sudah waktunya untuk…”

“Harus berapa kali kukatakan, aku tidak akan menerima wawancara atau apapun itu selama satu minggu ini!!”

“Tapi…”

“Apa kau bodoh?! Apa kau tuli?! Aku tidak akan menerimanya!”

Seohyun menutup sambungan telepon dan melemparkannya ke sembarang tempat. Ia menghela nafas frustasi. Ini sudah masuk tengah bulan dan seperti biasanya, pendengarannya mulai tidak jelas, dan alat bantunya rusak. “Kutukan sialan”

“Ada apa?”

Seohyun mendongak, menatap Sehun yang kini sedang duduk dihadapannya sambil meletakkan segelas teh di meja. Well, mereka memang ada di satu hotel, dan Sehun sedang ‘mengungsi’ di kamar Seohyun karena para orang agensinya sedang berdiskusi di kamarnya.

“Seperti kau tidak tahu saja Sehun-a.”balas Seohyun acuh sambil menyesap tehnya. Ia tidak mendengar Sehun dengan jelas, tapi ia bisa mendengar sedikit.

“Telingamu bermasalah lagi? Kau selalu begitu di tengah bulan. Apalagi saat bulan purnama”ujar Sehun. Seohyun menatap gerak bibir Sehun

“Ya, Orang tua sialan itu yang membuatku jadi begini”gumam Seohyun kecil. Sangat kecil hingga hanya dia yang tahu apa yang ia katakan.

“Hei Seohyun-a”Sehun berujar. Butuh waktu yang sedikit lama baginya hingga Seohyun mengerti apa yang dikatakannya. Padahal ia hanya memanggil yeoja itu. “Siapa yeoja yang ada bersamamu waktu itu?”

Kali ini Seohyun menghela nafas kasar “Aku tidak bisa membaca gerak bibirmu! Tuliskan saja dan aku akan menjawabnya”

Sehun menghela nafas. Ia menuliskan perkataannya tadi dan menunjukkannya pada Seohyun. Seohyun mengangguk-angguk. “Maksudmu Yoona? Dia sahabat baikku. Kenapa? Apa kau memiliki perasaan untuknya?”

Sehun menjitak kepala Seohyun. “Bodoh, mana mungkin aku memiliki perasaan untuknya! Kau tau sendiri aku sudah punya perasaan untuk seseorang”

Seohyun mencibir. “Kau ini… memang siapa orang itu?”

“Aku tidak akan memberitahukannya pada yeoja kasar”balas Sehun lalu memainkan ponselnya, sementara Seohyun mencibir setelah dapat membaca apa yang Sehun katakan.

“Sehunnie… siapa yeoja itu? Tell me please??”Sehun menaikkan alisnya, menatap Seohyun yang tiba-tiba bersifat manis. Terlalu manis.

“Kau memakai aegyo yang biasa kau tunjukkan itu? Aku sudah bosan melihatnya”

Seohyun menghela nafas kasar. Sehun sepertinya tidak berniat memberitahunya. Aegyo-nya gagal. “Yasudah, terserah kau.”

Sehun tersenyum tipis ketika melihat Seohyun masih sibuk mencibir dan mempoutkan bibirnya. Yeoja itu memang tidak peka. Padahal Sehun sudah sering menunjukkan bahwa ia menyukai Seohyun. Yeoja kasar namun manis itu tetap saja tidak mau memperhatikannya.

Tiba-tiba saja bel kamar Seohyun berbunyi. Seohyun tidak mendengarnya, beruntung Sehun mendengarnya. “Seo-a, ada orang diluar, aku akan membuka pintunya”Sehun menyodorkan tulisannya, dan Seohyun mengangguk-angguk.

“Itu pasti Luhan Oppa”

Sehun mengangguk-angguk lalu berjalan menuju pintu. Benar saja, ketika membukanya, ia mendapati Luhan yang sedang tersenyum ramah. “Hai Sehun-a. Dimana Seohyun?”

“Dia ada didalam, masuk saja”ujar Sehun.

“Oh, tunggu sebentar”Luhan menengok kebelakangnya. “Yoong, eodiga? Cepatlah”

Sehun mengerutkan alisnya saat Luhan memanggil seseorang bernama Yoong, yang ia kenal sebagai Yoona. Kalau tak salah, ia pernah mendengar Luhan memanggil Yoona dengan sebutan Yoong.

Tak lama kemudian, sosok yeoja datang sambil meraba-raba dinding disampingnya. Sehun membelalak. “Hyung! Kau tidak menuntunnya?! Dimana anjingnya?”

“Anjingnya tidak boleh masuk ke hotel. Dan aku tadi menuntunnya sampai lift. Kami bermain truth or dare, dan dia memilih dare. Aku menyuruhnya berjalan sendiri sambil mengikuti suaraku”jelas Luhan sambil terkekeh.

Sehun menghela nafas. “Kau ada-ada saja Luhan Hyung, tapi daremu itu berbahaya” Sehun berjalan keluar dan mendekati Yoona.

“Yoona-ssi, kau masih ingat suaraku?”

Yoona menoleh kearah suara “Sehun-ssi?”

Sehun mengangguk walau tahu Yoona tidak akan melihatnya. “Ne. Kau mau kubantu?”

“Aniya, tidak usah. Aku lebih suka fair play”Yoona segera berjalan, namun tetap meraba dinding disebelahnya. Sehun tersenyum tipis, ia suka sifat Yoona yang ini. Ia menatap Yoona dan memperhatikannya hingga Yoona sampai di depan ruangan Seohyun.

Yoona berkonsentrasi dan berusaha menemukan tempat Luhan dengan sedikit meraba-raba udaranya. Begitu ia menyadari dimana Luhan, ia segera menjitak kepala namja itu di tempat yang tepat hingga namja itu mengaduh.

“Aaa! Kau kenapa Yoong?!”

“Aku hanya kesal.”jawab Yoona singkat. “Sehun-ssi? Kau ada disana?”tanya Yoona.

“Ya, aku disini”ujar Sehun. Ia berada disebelah Yoona. “Kau ingin tahu dimana Seohyun?”

Yoona mengangguk dengan raut yang khawatir. Ini tengah bulan dan Seohyun pasti sedang tidak bisa mendengar. Ia khawatir akan keadaan Seohyun. Tapi ia tahu, Seohyun akan baik-baik saja. Walaupun Seohyun adalah yang paling muda diantara mereka berlima, Seohyun justru termasuk yang paling dewasa.

“Dia ada didalam. Kau tahu tentang masalah telinganya bukan?”tanya Sehun. Yoona kembali mengangguk. “Akan kuantar kedalam.”Sehun meraih lengan Yoona dan menuntunnya ke dalam.

Luhan menatap mereka dan melepaskan raut kesakitannya. Ia merubah rautnya menjadi raut serius, namun dapat dilihat raut bingung disana. Sehun, baru mengenal Yoona tak lama ini, dan kenapa namja itu terlihat seakan telah mengenal Yoona lebih lama dari Luhan?

Tunggu, bukankah Sehun pernah bilang ia menyukai Seohyun? Lalu kenapa ia begitu perhatian pada Yoona? Kenapa Yoona? Kenapa harus Yoona? Padahal ada Seohyun yang seorang aktris disampingnya.

Luhan tahu, kharisma Yoona sangat kuat. Walaupun dia buta dan membutuhkan Han disampingnya, kecantikannya, kewibawaannya, sifat cerianya dan kharismanya tetap tidak bisa luntur.

“Luhan Hyung? Kau mau masuk atau tidak?” Luhan tersadar dari lamunannya dan menatap Sehun yang ada didepannya.

“Ah, ya.”

Seohyun’s POV

Aku merasakan seseorang menyentuh bahuku. Aku menatapnya dan langsung tersenyum begitu melihat Yoona Eonni disana. Aku merindukannya, aku memeluknya “Bogoshippeo Eonni-ya”

Yoona Eonni sepertinya terkekeh dan membalas dengan menuliskan sesuatu pada kertas yang sudah ia siapkan. Yoona Eonni memang hebat, dia buta, namun dia bisa menulis, bahkan ia bisa mengetik pesan di ponselnya.

“Nado. Kau seperti sudah lama tidak melihatku saja”Begitu ia menulisnya.

Aku balas terkekeh, lalu membisikkan sesuatu padanya “Kakek tua itu menyusahkanku saja. Aku tidak bisa mendengar sekarang. Sama sekali tidak bisa”

Yoona Eonni mengangguk pertanda mengerti. “Sabar saja, sebentar lagi kau pasti bisa mendengar lagi. Kau beruntung punya alat canggih untuk membantumu. Aku tidak punya”Ia kembali menulis dan aku membacanya.

“Tidak punya bagaimana? Kau bisa mencari donor bukan?”

Ia menggeleng. “Tidak akan ada yang cocok. Sepertinya Tetua itu sangat marah karena aku pernah memperalat anaknya”Setelah menulisnya ia menghela nafas. Kemudian ia menatapku dengan tatapan kosongnya. “Kau beruntung, para tetua menyukaimu walaupun kau sama-sama nakal sepertiku. Maka dari itu kau diberi kemudahan. Sama seperti Jessica.”

Aku tidak bisa membaca gerakan mulutnya. Aku hanya menangkap Kau beruntung dari perkataannya. “Maksudmu? Aku tidak bisa mendengarnya, kau tahu kan.”

Yoona Eonni menggeleng pelan. Kemudian ia terdiam. Aku pun terdiam.

“Kau tidak bawa makanan Hyung? Aku lapar”Tiba-tiba Sehun datang dan mengucapkan hal itu. kali ini aku bisa membaca gerakan bibirnya.

Senyumku mengembang ketika mendapati Luhan Oppa disana. Bukan berarti aku menyukainya, aku hanya ingin menjadikannya target terbesarku, toh dia juga sudah masuk kedalam hidupku dari sejak… entah kapan. Yang penting sudah lama. Bukannya terlalu percaya diri. Tapi dia pasti punya perasaan lebih padaku dan aku akan memanfaatkannya.

“Aku bawa”Luhan Oppa mengucapkannya dan memberikan kantung plastik itu pada Sehun. Sehun melihat isinya dan tertawa senang. Mungkin itu makanan favoritnya.

Luhan Oppa tersenyum padaku, lalu duduk disamping Yoona Eonni. Namja itu terkekeh kecil lalu menjulurkan lidahnya pada Yoona Eonni, mengejeknya. Tentu saja Yoona Eonni tidak melihatnya. Aku yang melihatnya hanya tersenyum kecil.

“Luhan, aku tahu kau sedang melakukan hal-hal tidak mengenakkan padaku”ucap Yoona Eonni tiba-tiba.

“Aku tidak melakukan apa-apa”kilah Luhan Oppa

“Deru nafas dan kekehanmu terdengar jelas olehku bodoh! Seo-a, apa yang dilakukan namja ini tadi?”

“Dia menjulurkan lidahnya padamu, dia mengejekmu Eonni”jawabku, menghiraukan perintah Luhan untuk tidak mengatakannya.

Entah bagaimana, Yoona Eonni berhasil memukul kepalanya. Eonni memarahinya dan mengatainya bodoh. Dibalas tak kalah sengit pula oleh Luhan Oppa. Aku suka melihat mereka dekat.

Tapi… ada juga rasa tidak enak dan tidak senang di hatiku. Entah apa namanya.

Seohyun’s POV Off

oOoOoOo

Suho melirik kedua yeoja yang sedang bercengkrama dengan asyiknya di bangku taman. Well, mungkin hanya Jessica sendiri, Tiffany hanya tertawa dan sesekali menuliskan sesuatu di kertas yang ia pegang. Ia sendiri sedang memperhatikan mereka dari jauh. Ia mengukir senyum tipis. Mereka berdua terlihat seperti sahabat karib yang sudah lama bersama, bukannya baru bertemu. Sepertinya yeoja-yeoja itu memanglah sahabat Tiffany.

Tapi, Suho merasakan firasat buruk. Firasat bahwa Fany akan menjauhinya ketika ia ingat semuanya. Ia akan berubah. Dan dia tidak ingin Tiffany berubah. Ia tidak ingin ingatan Tiffany membuat yeoja itu menjauhinya. Namun dia tidak boleh egois. Tiffany sangat ingin ingatannya kembali, dan ia sangat ingin berteman dengan orang-orang itu. Suho tidak boleh menjauhkan Tiffany dari mereka, dan tidak boleh melarangnya mendapatkan ingatannya kembali.

Suho menghela nafas dan melirik jam tangannya. Ini sudah siang, Tiffany harus makan dan menemui bibinya. Mereka diminta berkunjung semalam.

Suho berjalan mendekati mereka “Fany-a, kita harus mengunjungi bibimu”ucap Suho pada Tiffany.

Tiffany mengerucutkan bibirnya “Padahal aku sedang asyik mendengarkan Jessica.”Tulis yeoja itu pada kertas yang sedang ia pegang. Suho harus menahan dirinya untuk mencium Tiffany saat yeoja itu mengerucutkan bibirnya.

Jessica terkekeh. “Pergilah Tiff, aku bisa melanjutkannya kapan-kapan. Lagi pula Yoona dan Seohyun bisa menceritakannya padamu…”

Tiffany mengangguk lalu berdiri, ia melambai pada Jessica setelah meminta Jessica untuk berjanji untuk menemuinya lagi. Suho menggandeng tangan Tiffany lalu bertanya pada yeoja itu. “Kalian membicarakan apa?”

“Jessica menceritakan tentang malaikat-malaikat yang kutemui dalam mimpiku. Dia seperti salah satu dari mereka.”Tulis Tiffany.

Suho mengerutkan keningnya. Apa maksud Jessica? Kenapa ia justru bercerita? bukannya membantu Tiffany dengan mengingatkan hal-hal di masa lalu? Lagi pula, cerita tentang malaikat? Ia tahu Tiffany sangat suka dengan malaikat, dan dia selalu cemberut ketika Suho menolak menceritakan sesuatu tentang malaikat. Tentu saja, malaikat itu hanya mitos, itu adalah yang Suho percayai dan dia tidak ingin mengada-ngada.

“Tapi anehnya, aku mengingat hal-hal kecil di masa laluku setelah mendengarnya…”

Suho terdiam setelah membaca tulisan Tiffany berikutnya. “Tiffany”panggilnya lalu menghentikan langkahnya. Dia menatap Tiffany lekat-lekat. “Kau… tidak akan meninggalkanku bukan?”

Tiffany terkekeh pelan lalu menggeleng. Tiffany memeluk Suho, dan Suho tahu ketika Tiffany memeluknya, itu adalah cara Tiffany untuk mengatakan ia tidak akan berpisah dari Suho.

Suho balas memeluknya dan membisikkan kata-kata yang sudah setiap hari ia katakan. “Saranghae Fany-a”

Tiffany melepas pelukan itu lalu tersenyum manis. Satu lagi, Suho tahu Tiffany berusaha mengucapkan “Nado Saranghae”

Namja itu balas tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada Tiffany. Ia menutup matanya bersamaan dengan Tiffany yang menutup matanya. Kemudian, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghapus jarak diantara mereka dengan tautan bibir mereka.

Ciuman manis yang biasa mereka lakukan. Hanya kecupan ringan dengan perasaan sayang didalamnya. Tiffany dan Suho sama-sama menyukainya. Namun entah kenapa, Suho merasakan hal lain dalam ciuman itu. Seakan Tiffany tidak seharusnya melakukan ini.

oOoOoOo

Jessica menatap Tiffany dan Suho yang sedang berciuman dengan mesranya. Ia merasa sakit di hatinya. Ia tahu Tiffany tidak seharusnya melakukannya. Tapi dia juga tahu, Tiffany yang sekarang sangat mencintai Suho. Dan dia juga tahu Suho adalah cinta sejatinya, orang yang harus Tiffany manfaatkan agar bisa kembali menjadi malaikat.

Jessica takut ingatan Tiffany akan membuat Tiffany sakit hati. Ia takut Tiffany tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia harus meninggalkan Suho. Tiffany pasti tidak akan rela meninggalkan Suho, dan Jessica tidak mau Tiffany kembali mendapat hukuman dan menjadi manusia.

Ia menghela nafas dan menatap langit. Seharusnya mereka tidak boleh melakukan kesalahan itu. seharusnya mereka lebih rendah hati dan menjaga sikap. Kalau saja mereka tidak melakukannya, mereka tidak akan dihukum seperti ini.

“Jessica-ssi?”

Jessica menoleh kaget ke asal suara, begitu tahu siapa yang memanggilnya tadi, Jessica menghela nafas lega. “Kris-ssi… ternyata kau. Mengagetkanku saja”gumamnya kecil lalu kembali menatap kearah Tiffany dan Suho yang sedang tertawa bersama.

Kris berdiri disamping Jessica. “Kau pergi dengan siapa?”ujarnya berbasa-basi.

“Tadi dengan Tiffany. Tapi aku tidak ingin mengganggu mereka berdua”Tanpa Jessica sadari, Jessica tersenyum melihat betapa bahagia Tiffany dan Suho. Sesaat kemudian, ia kembali merasakan perasaan takut yang tadi ia alami sehingga raut wajahnya pun berubah.

Kris menatap Jessica dan bertanya “Kau cemburu?”

Jessica balik menatap Kris “Cemburu?”ulangnya bingung.

“Kau cemburu pada yeoja itu? Kau menyukai namja itu?”tanya Kris sedikit panjang. Entah kenapa dia sedang dalam mood yang baik hingga ingin memulai percakapan yang panjang.

“Tentu saja tidak”Jessica menjawab dengan cepat. “Aku… tidak akan mencintai seorang namja. Tidak akan pernah”

“Termasuk Baekhyun?”

Jessica diam. Ia tidak menjawab Kris karena ia sendiri tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan. Ia tidak bisa menjawab ya, karena ia memang tidak boleh mencintai seorang namja pun di dunia ini. Jika ia bilang tidak, ia akan membuat Kris bingung dan namja itu akan bertanya pada Baekhyun.

Kris menganggap Jessica tidak ingin menjawabnya karena tidak mood. Jadi namja itu menghela nafas dan kembali bertanya “Kau mau pulang dengan apa?”

Jessica tersentak. Ia kaget, bagaimana ia pulang? Rumahnya lumayan jauh dan dia tidak sanggup menggerakkan kursinya pulang. “Ottokhae?”gumamnya kecil namun Kris masih dapat mendengarnya.

“Mau menemaniku mengobrol?”

oOoOoOo

Jessica menghirup aroma tehnya sekali lagi, menyeruputnya pelan lalu menghela nafas. Tubuhnya benar-benar sangat membutuhkan secangkir teh untuk memulai hari dan hari ini ia lupa meminumnya. Setelah meminum teh ia sudah tenang.

“Apa yang ingin kau obrolkan?”tanya Jessica.

“Banyak, bagaimana kalau kita mulai dari obrolan ringan?”

Jessica menatap Kris sejenak lalu kembali menyeruput tehnya. “Aku tahu kau mempunyai topik utama. Aku tidak suka basa-basi, jadi langsung saja”

Kris menyunggingkan smirk. “Kau memang sangat berbeda dengan Baekhyun”

“Aku sering mendengarnya”timpal Jessica.

“Kadang aku ingin teman yang seperti dirimu ini, tapi kurasa aku akan cepat bosan. Baekhyun memang yang terbaik”

“Baekhyun orang yang menyenangkan”

“Kau tidak memanggilnya Oppa?”

“Apa itu masalah?”Kini Jessica menatap Kris dengan pandangan datar. namja yang sepertinya dingin itu banyak bicara hari ini. Pasti ada yang diinginkannya.

“Tidak, hanya bertanya saja”jawab Kris ringan lalu memakan makanannya. “Makanlah”

Jessica diam sejenak. Ia memperhatikan Kris yang makan dengan tenang, seakan tidak mempunyai masalah. Tapi Jessica tahu, Kris menyembunyikan sesuatu.

Yeoja itu memakan makanannya dengan perlahan sambil menunggu Kris mengucapkan apa yang sebenarnya ingin ia ucapkan. Namun hingga makanan serta minumannya habis, Kris hanya mengobrolkan hal-hal sepele.

“Sebenarnya apa maumu?!”tanya Jessica sedikit menaikkan suaranya. Ia tidak ingin menghabiskan banyak waktunya disini.

Kris menghela nafas. Tahu bahwa Jessica memang bukan tipe orang yang sabar dan suka berbasa-basi. “Kalau begitu aku akan mengatakan yang sebenarnya”

Kris menatap Jessica. “Aku butuh bantuanmu untuk mencegah Taeyeon dan Baekhyun… saling mencintai.”

TBC

Jjeng Jjeng~ aku balik lagi. untuk chapter ini aku lumayan gak stress ngemikirinnya-_- hwhwhw, at last, RCL ya

79 thoughts on “[Freelance] The Cursed Angel (Chapter 4)

  1. Pingback: FanFictions | Infinitely A

  2. Author lanjut dong. Aku ngebut baca lima chapternya lho hari ini ><
    Maaf, saking senengnya aku ga peduli sama typo. Tolong update secepatnya yaa🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s